BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
5) Evaluasi Keperawatan
4.2 Pembahasan
4.2.1 Nyeri Kronis Berhubungan Dengan Ketidakseimbangan Neurotransmitter.
Saat pengkajian didapatkan data klien mengeluhkan rasa nyeri di daerah tengkuk leher, nyeri seperti tertindih beban berat, nyeri hilang timbul, klien terlihat memegangi tengkuk dan merasa tidak nyaman, tekanan darah 160/100.
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat, seperti memposisikan pasien senyaman mungkin, menghitung tekanan darah, memberikan kompres hangat, mengajarkan teknik manajemen nyeri dan memberikan obat.
Data tersebut sesuai dengan teori menurut Amin (2015), gejala yang timbul karena penyakit Hipertensi berbeda pada setiap orang, beberapa dari mereka bahkan tidak memiliki gejala. Secara umum gejala yang dirasakan orang yang mengalami Hipertensi adalah sebagai berikut : Sakit kepala, rasa pegal, kaku dan tidak nyaman pada tengkuk, berdebar atau detak jantung terasa cepat, telinga berdengung, lemas dan kelelahan, gelisah mual, muntah, epistaksis, kesadaran menurun.
Berdasarkan data yang telah didapat, penulis berasumsi bahwa nyeri tenguk pada penderita Hipertensi sesuai dengan teori diatas, karena pada penderita Hipertensi pembuluh darah cenderung kaku kan menyempit dimana hal tersebut dapat menghambat aliran darah, sehingga suplai oksigen ke otot berkurang dan
menyebabkan kekakuan serta nyeri. Saat dievaluasi pada hari terakhir kedua klien mengatakan nyeri sudah berkurang dan klien dapat mengontrol nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri, tekanan darah klien 1 adalah 150/80 mmHg dan pada klien 2 adalah 140/80 mmHg. Penulis menyimpulkan bahwa masalah keperawatan nyeri kronis teratasi.
4.2.2 Gangguan Memori Berhubungan Dengan Proses Penuaan.
Saat pengkajian pada klien 2 didapatkan data klien mengatakan mudah lupa, klien mengatakan dapat mengenal wajah orang namun tidak dapat mengingat namanya, klien mengatakan kurang mampu dalam mengingat sesuatu, dalam pengkajian tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan SPMSQ, jumlah jawaban salah adalah 5 atau tergolong dalam kerusakan intelektual ringan.
Data tersebut sesuai dengan teori Dariah (2015) Bentuk-bentuk permasalahan yang dihadapi oleh lansia adalah sebagai berikut : Demensia,stress, skizofrenia, gangguan atau penurunan nafsu makan, gangguan kecemasan, gangguan psikomatik, gangguan penggunaan alkohol dan zat lain serta gangguan tidur atau insomnia.
Berdasarkan data yang di dapat penulis berasumsi bahwa masalah gangguan memori yang diderita oleh klien 2 disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perbedaan usia, klien 2 terpaut usia 9 tahun lebih tua dibandingkan dengan klien 1, kemudian pada klien 1 rajin mengisi teka-teki silang sehingga melatih fungsi otak sedangkan pada klien 2 tidak pernah melakukan kegiatan seperti mengisi
teka-teki silang. Dari beberapa faktor inilah yang menyebabkan gangguan memori pada klien 2.
Saat dilakukan evaluasi pada hari terakhir klien mengatakan sudah dapat mengenal nama mahasiswa dan dapat mengenali lingkungannya, saat ditanya nama mahasiswa klien dapat menjawab dengan benar.
4.2.3 Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Penurunan Kekuatan Otot.
Saat pengkajian didapatkan data Klien mengatakan tidak kuat berjalan jauh, klien mengatakan tidak kuat berdiri lama, klien terlihat berjalan dengan pelan, klien didampingi, kekuatan otot menurun dan dibantu oleh mahasiswa saat berjalan jauh. Setelah dilakukan tindakan keperawatan seperti mendampingi dan membantu klien saat mobilisasi, memberikan alat bantu jika klien memerlukan, dan menjelaskan bagaimana cara merubah posisi.
Data tersebut sesuai dengan teori Hastini (2016) perubahan normal akibat penuaan ini paling jelas terlihat pada system muskuluskeletal berupa penurunan otot secara keseluruhan pada usia 80 tahun mencapai 30%-80%. Perubahan ini menyebabkan hambatan mobilitas fisik pada lansia. Dampak fisik dari hambatan mobilitas fisik paling jelas terlihat pada system muskuluskeletal berupa penurunan kekuatan dan ketangkasan otot, kontraktur yang membatasi mobilitas sendi, kekakuan dan nyeri pada sendi.
Penulis berasumsi bahwa data yang didapat di atas sesuai dengan teori, kedua klien mengalami penurunan kekuatan otot sehingga menghambat klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Saat dievaluasi pada hari terakhir klien mengatakan sudah memahami cara merubah posisi dan dapat memperagakannya.
4.2.4 Defisit Nutrisi Berhubungan Dengan Kurangnya Asupan Makanan.
Saat pengkajian pada klien 2 didapatkan data klien mengatakan makan jarring habis, klien mengatakan jika makan hanya dengan sayuran saja, klien alergi terhadap ikan tongkol, berat badan 47 kg, tinggi 153 cm, frekuensi makan 3x sehari dan mengabiskan ½ porsi makanan. Kemudian dilakukan tindakan keperawatan seperti melakukan penilaian adanya alergi makanan, memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi, menghitung jumlah nutrisi, menyarankan klien untuk meningkatkan intake zat besi, mengajarkan cara membuat catatan makanan harian, dan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan klien.
Data tersebut sesuai dengan teori Dariah (2015) Bentuk-bentuk permasalahan yang dihadapi oleh lansia menurut adalah sebagai berikut : Demensia,stress, skizofrenia, gangguan atau penurunan nafsu makan, gangguan kecemasan, gangguan psikomatik, gangguan penggunaan alkohol dan zat lain serta gangguan tidur atau insomnia.
Penulis berasumsi bahwa defisit nutrisi umunya sering terjadi pada lansia beberapa penyebabnya seperti pada lansia biasanya terjadi peunurunan nafsu makan karena indra perasa dan penciuman yang semakin sensitive mencium bau
makanan, selain itu masalah lainnya yang menyebabkan malnutrisi adalah berkurangnya kemampuan tubuh untuk mengenali rasa lapar dan haus serta berbagai kondisi yang dialami oleh lansia seperti kesulitan mengunyah dan menelan makanan.
Saat dievaluasi pada hari terakhir klien mengatakan memahami pentingnya nutrisi atau makanan bagi tubuh, klien mengatakan hari ini lumayan banyak menghabiskan makan dan hariini klien menghabiskan ¾ porsi makanan (nasi dan lauk).
4.2.5 Defisit Pengetahuan Berhubungan Dengan Kurang Terpaparnya Informasi.
Saat pengkajian didapatkan data klien mengatakan pernah dijelaskan namun lupa, klien sering mengkonsumsi makanan dan sering menambahkan garam kedalam makanannya. Setelah dilakukan tindakan keperawatan seperti menjelakan tanda dan gejala yang muncul pada penyakit, menyediakan informasi tentang penyakit yang dialami dan memberikan pendidikan kesehatan.
Deficit pengetahuan klien dipicu oleh tingkat pendidikan yang rendah, faktor usia, hal ini menurut penelitian Putro (2012) pasien Hipertensi akan menimbulkan dampak secara langsung pada penderita seperti pengetahuan, sikap, persepsi, motivasi, niat, referensi dan soaial budaya. Pendidikan kesehatan yang diberikan bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit Hipertensi selain mendapat informasi dari baik dari berbagai media cetak maupun elektronik.
Saat dievaluasi klien mengatakan sudah mengerti tentang penyakitnya, apa penyebabnya, bagaimana tanda dan gejala yang dialami serta bagaimana cara mengontrolnya. penulis berasumsi bahwa masalah keperawatan deficit pengetahuan pada kedua klien sesuai dengan teori yakni fator usia dan tingkat pendidikan yang rendah serta tanda-tanda penuaan seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berfikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental.
4.2.6 Resiko Jatuh Dibuktikan Dengan Usia ≥ 65 tahun.
Saat dilakukan pengkajian didapatkan data diagnosa sekunder klien lebih dari 1 diagnosa, klien berjalan dengan berpegangan pada benda-benda sekitar dan kemampuan berjalan klien lemah serta skor skala Morse adalah 55, setelah dilakukan tindakan keperawatan seperti menilai perilaku dan faktor yang mempengaruhi resiko jatuh, menyarankan klien untuk menggunakan tongkat atau alat bantu berjalan dan mengamati kemampuan klien dalam berpindah dari tempat tidur ke kursi roda atau sebaliknya.
Data tersebut sesuai dengan teori Deniro (2017) usia tua akan mengalami penurunan dalam kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, sehingga fleksibilitas yang dimiliki akan semakin menurun dan menyebabkan resiko jatuh yang lebih besar.
Setelah dilakukan evaluasi pada hari terakhir klien mengatakan tidak ada kejadian jatuh. Penulis berasumsi teori tersebut sesuai dengan keadaan klien, dimana
kedua klien mengalami penurunan dalam kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus Asuhan Keperawatann Lansia Dengan Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda Kalimantan Timur di wisma Bugenvil dan wisma anggrek tahun 2019, penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Hasil pengkajian yang didapatkan dari kedua kasus menunjukkan adanya tanda dan gejala yang sama oleh kedua klien. Umumnya keluhan yang dirasakan klien 1 dirasakan juga oleh klien 2. Tanda dan gejala yang muncul dan dirasakan oleh kedua klien yaitu adanya nyeri didaerah tengkuk, sakit kepala dan rasa kaku pada leher. Hal ini menunjukkan jika seseorang terdiagnosa Hipertensi memiliki kemungkinan akan muncul masalah dan keluhan yang sama yang akan dirasakan oleh penderita.
5.1.2 Diagnosa keperawatan yang muncul pada kedua klien umumnya sama.
Namun ada dua diagnosa yang berbeda diantara kedua klien. Kedua klien sama-sama memiliki diagnosa yakni nyeri kronis berhubungan dengan agen pencedera biologis, gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi. Namun, klien kedua memiliki satu diagnosa yang tidak diderita oleh klien satu, diagnosa itu adalah gangguan memori berhubungan dengan proses penuaan. Diagnosa ini muncul pada kedua
81
klien disebabkan oleh adanya tanda dan gejala serta keluhan yang sama yang dirasakan oleh klien.
5.1.3 Intervensi yang disusun penulis disesuaikan dengan diagnosa yang di angkat. Kedua klien memiliki beberapa diagnosa yang sama seperti nyeri kronis, gangguan mobilitas fisik, deficit pengetahuan dan resiko jatuh.
Dari diagnosa yang sama tersebut tidak ditemukan intervensi yang berbeda antara klien 1 dan klien 2. Yang membedakan hanya pada bagian implementasi ada beberapa intervensi yang tidak dapat dilaksanakan pada salah satu klien.
5.1.4 Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan tindakan yang telah penulis susun. Implementasi keperawatan yang dilakukan pada beberapa diagnosa seperti Nyeri kronis, gangguan memori, gangguan mobilitas fisik dan defisit pengetahuan dalam proses implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana yang dibuat dan penulis tidak menemukan adanya perbedaan antara intervensi yang dibuat dengan implementasi yang dilakukan.
5.1.5 Hasil evaluasi yang dilakukan oleh penulis pada kedua kasus dilakukan selama 4 hari perawatan oleh penulis. Hasil evaluasi yang dilakukan oleh penulis pada kedua klien menunjukkan tanda dan gejala yang sama.
Kedua klien mengatakan merasa lebih nyaman setelah dilakukan tindakan kompres hangat untuk mengurangi rasa nyeri pada tengkuk. Kedua klien mendapat diagnosa yang sama, namun yang membedakan pada klien 2 terdapat diagnosa gangguan memori berhubungan dengan proses penuaan
dan defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan, sedangkan pada klien 1 tidak terdapat diagnosa tersebut.
5.2Saran
1. Bagi Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda diharapkan adanya perhatian khusus seperti penyediaan pegangan pada sekitar dinding agar mempermudah klien dan mencegah klien dari jatuh.
2. Bagi Perawat, dalam melakukan asuhan keperawatan pada gerontik hendaknya menggunakan pendekatan proses keperawatan secara komprehensif dengan melibatkan peran serta klien sehingga dapat mencapai sesuai dengan tujuan. Serta dalam menentukan masalah keperawatan, diharapkan juga memperhatikan masalah psikologis klien.
3. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan referensi untuk peneliti selanjutnya yang akan melakukan asuhan keperawatan lansia dengan Hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Aspiani, R.. (2016). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskuler:
Aplikasi NIC & NOC. Jakarta: EGC.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI (2018). Hasil Riskesdas 2018. http://www.depkes.go.id/resources/ download/info...2018/
Hasil% 20Riskesdas%202018.pdf. Diunduh pada 27 November 2018.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI (2013.).
Riskesdas 2013. http://www.depkes.go.id/resources/download/general/
Hasil%20Risk esdas%202013.pdf. Diunduh pada 15 November 2018.
Dariah, E. (2015). Hubungan Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Lansia di Posbindu Anyelir Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Ilmu Keperawatan. Volume III, No.2, September 2015.
Deniro, Agustin Junior (2017). Hubungan antara Usia dan Aktifitas Sehari-hari dengan Resiko Jatuh Pasien Instalasi Rawat Jalan Geriatri. Volume 4, No 4, Desember 2017.
Dinarti dan Mulyanti (2017). Dokumentasi Keperawatan. http://www.
bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wpcontent/uploads/2017/11/PRAKTI KA-DOKUMEN–KEPERAWATAN-DAFIS.pdf. diunduh pada tanggal 11 Desember 2018.
Fatmawati (2018). Asuhan Keperawatan Pada Klien Lansia Hipertensi Dengan Nyeri Tengkuk Di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana puri Kota Samarinda.
Ghofar (2018). Jumlah Penyakit Tidak Menular di Kaltim Meningkat.
https://kaltim.antaranews.com/berita/46631/jumlah-penyakit-tidak- menular-di-kaltim-meningkat. Di akses pada 2 Desember 2018.
Hastini, Hermina Desiane (2016). Latihan Range of Motion berpengaruh terhadap Mobilitas Fisik pada Lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Unit Abiyoso Yogyakarta. Volume 4, No 3, September 2016.
Kholifah, SN. (2016). Keperawatan Gerontik. http://bppsdmk.kemkes.go.id/
pusdiksdmk /wp content/uploads/2017/08/Keperawatan-Gerontik-Kom prehensif.pdf. diunduh pada tanggal 18 Desember 2018.
Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta:EGC.
Novianti (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Lansia Dalam Mengikuti Senam Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas. Volume I, No.2, Januari-Juni 2018.
Nugroho, W. (2012). Keperawatan Gerontik dan Geriatrik Edisi 3. Jakarta:EGC.
Nurarif, A dan Hardhi Kusuma (2015). Nanda Nic-Noc Jilid 2.
Jogjakarta:MediAction.
Peraturan Gubernur No. 17 Tahun 2009 Tentang Organisasi dan Tata Kerja UPTD pada Dinas Sosial Prov Kaltim.
PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta:DPP PPNI.
Priharjo, R. (2013). Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi 2. Jakarta: EGC.
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2014). Hipertensi. Jakarta:
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Rajca, A et all (2018). Pravalence of Hypertension Among Chronic Smokers:
Findings From The Early Lung Cancer Detection Programme Moltest Bis. Arterial Hypertens, 2018, volume 22, No. 2.
Sari, R. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Klien Lansia Hipertensi Dengan Masalah Keperawatan Kecemasan Di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda.