• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS PENELITIAN

F. Pembahasan

kabupaten, propinsi hingga pusat. Usaha untuk mencapai pemerintahan yang baik ini melahirkan peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan pemerintahan di Desa. Salah satunya adalah peraturan pemerintahan tahun 2006 tentang Desa, dalam peraturan pemerintah nomor 27 tahun 2006 tentang Desa, pada pasal 5 dan pasal 6 mengemukakan bahwa tugas dan kewajiban yang paling utama untuk kepala Desa adalah memimpin penyelenggaraan pemerintahan Desa.

hak pilih maupun sebagai hak untuk dipilih. Adanya persamaan hak diantara warga masyarakat akan menimbulkan persaingan sosial untuk memperoleh kekuasaan yang di inginkan dengan berbagai cara dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut.masing-masing calon akan melakukan pendekatan tersendiri terhadap masyarakat dengan maksud untuk menarik perhatian dan simpati warga.

Dengan demikian calon tersebut mengharapkan suara warga untuk mendukung dan memilihnya. Person sebagai calon kepala desa yang juga sebagai bagian dari warga desa tertentu dituntu untuk menjalin komunikasi dan hubungan yang baik terhadap warga yang lain, yang terdiri dari individu, kelompok sosial, lembaga sosial, norma-norma sosial, dan lapisan-lapisan sosial atau stratifikasi sosial.

Dengan memulai dari lingkungan keluarga dan kerabat terdekat sebagai kekuatan politik yang pertama.

Pemilihan kepala desa sebagai sebuah proses terdiri dari beberapa tahapan- tahapan dan memerlukan waktu sesuai dengan tahapan yang ada mulai dari rapat yang dihadiri oleh kepala desa, lembaga musyawarah desa dan camat dua bulan sebelum berakhirnya masa jabatan setelah itu rapat dipimpin oleh kepala desa untuk menyusun kepanitiaan pencalonan dan pelaksanaan pilkades selanjutnya membahas hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan misalnya pembiyaan.

Pemilihan kepala desa merupakan praktek demokrasi didaerah pedesaan yang menyangkut aspek kekuasaan dan aspek penentuan kekuasaan sehingga akan mengundang kompetisi dari golongan minoritas untuk merebut jabatan kepala desa untuk mendapatkan jabatan kepala desa tersebut dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat yang pada hakekatnya merupakan suatu kewajiban pada

masyarakat itu sendiri dalam pemilihan kepala desa. mengingat fungsi aperatur pemerintahan desa yang sangat menentukan maka calon kepala desa yang terpilih seharusnya bukan saja sekedar seorang yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan, akan tetapi disamping memenuhi syarat yang cukup dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat juga mampu melaksanakan tugas pemerintahan, pembangunan sebagai pembina masyarakat serta berjiwa panutan dan suri tauladan bagi warga desanya untuk itu harus benar-benar seorang pancasialis sejati yang penuh dedikasi dan loyalitas yang cukup tinggi.

Jenis - Jenis Pemilih 1. Pemilih rasional

Pemilih diutamakan kemampuan ini memiliki orientasi yang tinggi terhadap policy-problem-solving dan berorientasi rendah untuk faktor ideologi. Pemilih

dalam hal ini lebih mengutamakan kemampuan partai politik atau calon peserta pemilu dengan program kerjanya yang ditawarkan sang calon dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang terjadi.

2. Pemilih kritis

Proses untuk menjadi pemilih ini bisa terjadi melalui 2 hal yaitu pertama, jenis pemilih ini menjadikan nilai idiologis sebagai pijakan untuk menentukan kepada partai atau kontenstan pemilu mana mereka akan mengkritisi kebijakan yang akan atau yang telah dilakukan. Kedua, bisa juga terjadi sebaliknya dimana pemilih tertarik dulu dengan program kerja yang ditawarkan sebuah kontestan baru kemudian mencoba memahami nilai-nilai dan faham yang melatar belakangi pembuatan sebuah kebijakan.

3. Pemilih tradisional

Pemilih jenis ini memiliki orientasi ideologi yang sangat tinggi dan tidak terlalu melihat kebijakan pasrtai politik atau seorang kontestan sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan. Pemilih tradisional sangat mengutamakan kedekatan sosial budaya, nilai, asal usul, paham dan agama sebagai ukuran untuk memilih seorang calon kebijakan seperti yang berhubungan dengan masalah ekonomi, kesehjahteraan, pendidikan dll, dianggap sebagai prioritas kedua.

4. Pemilih skepsis

Pemilih jenis ini tidak memiliki orientasi ideologi yang cukup tinggi dengan seorang calon pemilih ini juga tidak menjadikan sebuah kebijakan menjadi suatu hal penting. Kalaupun mereka berpartisipasi dalam pemilu biasanya mereka melakukan secara acak, mereka berkeyakinan bahwa siapapun menjadi pemenang dalam pemilu hasilnya sama saja, tidak ada perubahan yang berarti yang dapat terbagi bagi kondisi daerah.

Pemilihan Kepala Desa Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa :

a. BPD memproses pemilihan kepala desa, paling lama 4 (empat) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan kepala desa.

b. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk desa dari calon yang memenuhi syarat; Pemilihan Kepala Desa bersifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil; Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan melalui tahap pencalonan dan tahap pemilihan.

3. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Desa, BPD membentuk Panitia Pemilihan yang terdiri dari unsur perangkat desa, pengurus lembaga kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat.Panitia pemilihan melakukan pemeriksaan identitas bakal calon berdasarkan persyaratan yang ditentukan, melaksanakan peinungutan suara, dan melaporkan pelaksanaan pemilihan Kepala Desa kepada BPD.

4. Panitia pemilihan melaksanakan penjaringan dan penyaringan Bakal Calon Kepala Den sesuai persyaratan;Bakal Calon Kepala Desa yang telah memenuhi persyaratan ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa oleh Panitia Pemilihan.

5. Calon Kepala Desa yang berhak dipilih diumumkan kepada masyarakat ditempat-tempat yang terbuka sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

6. Calon Kepala Desa dapat, melakukan kampanye sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat; Calon Kepala Desa yang dinyatakan terpilih adalah calon yang mendapatkan dukungan suara terbanyak; Panitia Pemilihan Kepala Desa melaporkan hash pemilihan Kepala Desa kepada BPD; Calon Kepala Desa Terpilih sebagaimana dirnaksud pada ayat; ditetapkan dengan Keputusan BPD berdasarkan Laporan dan Berita Acara Pemilihan dari Panitia Pemilihan.

7. Calon Kepala Desa Terpilih disampaikan oleh BPD kepada Bupati/Walikota melalui Camat untuk disahkan menjadi Kepala Desa Terpilih.

8. Bupati/Walikota menerbitkan Keputusan Bupati/ Walikota tentang Pengesahan Pengangkatan Kepala Desa Terpilih paling lama 15 (lima belas) hari terhitung tanggal diterimanya penyampaian hasil pemilihan dari BPD.

9. Kepala Desa Terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lama 15 (lima belas) hari terhitung tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota.

10. Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pelantikan dan dapat dipilih kembali hanya untuk sate kali masa jabatan berikutnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pemilihan kepala desa (pilkades) merupakan proses untuk memilih atau dipilihnya orang yang mampu untuk memimpin jalannya roda pemerintahan diwilayah desa tertentu sesuaia dengan aturan dan ketentuang yang berlaku.

Proses sosial ini tentunya memberikan kesempatan dan hak yang sama kepada warga masyarakat desa untuk menunjukkan partisipasi politiknya, baik sebagai hak pilih maupun sebagai hak untuk dipilih. Adanya persamaan hak diantara warga masyarakat akan menimbulkan persaingan sosial untuk memperoleh kekuasaan yang di inginkan dengan berbagai cara dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut.masing-masing calon akan melakukan pendekatan tersendiri terhadap masyarakat dengan maksud untuk menarik perhatian dan simpati warga.

Dengan demikian calon tersebut mengharapkan suara warga untuk mendukung dan memilihnya.

Pemilihan kepala desa merupakan praktek demokrasi didaerah pedesaan yang menyangkut aspek kekuasaan dan aspek penentuan kekuasaan sehingga akan mengundang kompetisi dari golongan minoritas untuk merebut jabatan kepala desa untuk mendapatkan jabatan kepala desa tersebut dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat yang pada hakekatnya merupakan suatu kewajiban pada masyarakat itu sendiri dalam pemilihan kepala desa. mengingat fungsi aperatur pemerintahan desa yang sangat menentukan maka calon kepala desa yang terpilih seharusnya bukan saja sekedar seorang yang mendapat suara terbanyak dalam

pemilihan, akan tetapi disamping memenuhi syarat yang cukup dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat juga mampu melaksanakan tugas pemerintahan, pembangunan sebagai pembina masyarakat serta berjiwa panutan dan suri tauladan bagi warga desanya untuk itu harus benar-benar seorang pancasialis sejati yang penuh dedikasi dan loyalitas yang cukup tinggi.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :

1. Bagi masyarakat hendaknya partisipasi politik yang dilakukanya atas dasar hati nurani dengan pemahaman dan penilaian yang dirasa dapat mewakili

aspirasinya.

2. Bagi masyarakat pada umumnya, hendaknya dapat dan menjalankan partisipasi politik dengan bersih guna terwujudnya nilai dari demokrasi. Dengan demikian

diharapkan politik tidak hanya dijadikan perebutan kekuasaan untuk kepentingan kelompok tertentu, tetapi politik merupakan alat kekuasaan guna mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Demokrasi merupakan cita- cita bersama sebagai wadah bagi berjalanya aspirasi masyarakat,sehingga akan menciptakan masyarakat yang adil dan makmur,kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai manakala politik hanya dijadikan alat perebutan kekuasaan guna kepentingan golongan tertentu. Dengan jalannya reformaasi diharapkan bangsa Indonesia akan mampu merubah tatanan kehidupan politik sesuai dengan etika politik yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Abe, Alexander. 2001. Perencanaan Daerah: Memperkuat Prakarsa Rakyat dalam Otonomi Daerah, Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Abidin, Said Zainal, 2008, Strategi Kebijakan dalam Pembangunan dan Ekonomi Politik, Jakarta: Suara Bebas.

Awza, R. (2012). Kredibilitas, Daya Tarik, dan Kewenangan Pimpinan Sebagai Komunikator Terhadap Etos Kerja Karyawan. Jurnal Ilmu Komunikasi,2

Arif Budiman. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga Gramedia. Jakarta.

Arinanto, Satya, 2003, Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia, Jakarta: Pusat Studi Tata Hukum Negara Fakultas Hukum Tata Negara, Universitas Indonesia.

Berotha, I Nyoman, 1982. Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Dwi Siswoyo. Dkk. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Mauna, Binti. 2016. Pendidikan dalam perspektif struktural fungsional. Cendekia, (2016), 10(2): 159-178.

Mattulada, Masyarakat Desa di Sulawesi Selatan, Ujung Pandang : Lephas/Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.

M.Iqbal Hasan, 2002, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Penerbit Ghalia Indonesia : Jakarta.

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2006. Yang Mengatur Tata Cara

Pencalonan Pemilihan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa.

Prof.Dr.H. Syamsir Salam,Ms. Sosiologi Pembangunan Pengantar Studi

Pembangunan Lintas Sektoral, Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta.

UIN Pers, Hal 16.

Rifmanly Lahansang Vicri. 2014. Peranan Kepala Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat di Desa Binalu Kecamatan Siau Timur Selatan.

Sapari Imam Asy’ari.Sosiologi Kota dan Desa : Usaha Nasional Surabaya, Indonesia.

Sadu Wasistiono (2006 : 32) Tentang Pemilihan Desa

Setyamidjaja, Djoehana. Landasan Ilmu Pendidikan. Universitas Pakuan Bogor:

Bogor.

Soekanto Soerjono 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soesabdo Marmo Soedjono, Pemerintahan Desa ( Undang-Undang No.5 Tahun 1979 ), Jakarta : Bina Aksara.

Sukardjo,M dan Komaruddin Ukim, 2009. Landasan Pendidikan. Rajawali Pers.

Jakarta.

Suwasono. 2000. Perubahan Social dan Pembangunan LP3ES. Jakarta.

Tirtarahardja dan La Sulo.2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Penerbit Renika Cipta.

Walgito, Bimo. (2010). Bimbingan dan Konseling Studi & Karir. Yogjakarta:

Winkel, WS & Hastuti, Sri. (2004). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogjakarta: Media Abadi.

Wiriaatmadja, Soekandar, Pokok-Pokok Sosiologi Pedesaan, Jakarta : CV.

Yasaguna.

LAMPIRAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221

PEDOMAN WAWANCARA

A. Identitas

1. Nama :

2. Umur :

3. Jenis Kelamin :

4. Pekerjaan :

B. Daftar Pertanyaan

1. Bagaimana pendapat anda terhadap calon kepala desa yang bersatus sosial ekonomi ?

2. Apakah anda setuju apabila calon kepala desa yang hanya mengandalkan ekonominya dibanding kualitas untuk bisa terpilih ?

3. Apakah calon kepala desa ini sudah sesuia dengan kriteria anda ?

4. Faktor-faktor apa saja sehingga calon lebih mengandalkan politik uang dibanding kualitasnya ?

5. Menurut anda apakah pendidikan penting bagi calon kepala desa ? 6. Pemimpin yang seperti apa yang dibutuhkan untuk desa ini ?

7. Manakah yang lebih anda pilih calon kepala desa yang berstatus ekonomi atau calon kepala desa yang berpendidikan ?

8. Apakah ada pengaruh tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi terhadap calon kepala desa ?

DAFTAR NAMA INFORMAN

NO NAMA L / P UMUR PEKERJAAN

1 Muhammad Nur L 42 Pemerintah Setempat

2 Muh Dahlan,SE L 38 Pemerintah Setempat

3 Nasri Dg Situru L 35 Pemerintah Setempat

4 H. Muslimin L 67 Tokoh Masyarakat

5 Hj Ida P 39 Anggota masyarakat

6 Suriyani P 35 Anggota masyarakat

7 Supriadi L 31 Anggota masyarakat

8 Dg Nai L 45 Anggota masyarakat

DATA HASIL PENELITIAN

NO NAMA INFORMAN UMUR PEKERJAAN KETERANGAN

1 Muhammad Nur 42 Sekdes Pendidikan sangat penting

bagi para calon kepala desa kita ingin kepala desa yang berkualitas yang mampu bersaing dan bisa memunculkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru untuk majunya pembangunan desa yang dapat dirasakan semua masyarakatDesa Paraikatte”

2 Muh Dahlan,SE 38 Kepala Dusun Kita butuh pemimpin yang jujur, hebat dan pintar yang bisa menyatu bersama masyarakat dan juga tingka lakunya yang bisa dicontoh oleh masyarakat,dan kita butuh sosok kepala desa yangbenar-benar

Mengedepankankepentingan masyaraakat karena kepala desa banyak-banyak

berhadapan dengan

masyarakat.

3 Nasri Dg Situru 35 Kaur Desa “Pendidikan juga bisa berpengaruh terhadap kualitas calon kepala desa tetapi tergantung juga dari calon itu sendiri bagaimana dia di kenal dimasyarakat setempat tetapi biasa juga orang-orang yang kaya masuk jadi calon lebih dikenal oleh masyarakat,

jadi menurut saya sama- sama berpengaruh”

4 H. Muslimin 67 Tokoh

masyarakat

Sebenarnya tidak ada masalah ji apakah dia berstatus sosial, ekonominya dan pendidikan, menurut saya tidak jadi masalah yang

penting dia bisa

mengedepankan

kepentingan masyarakat dan dapat memimpin desa selama 6 tahun kedepan

5 Hj Ida 39 Anggota

Masyarakat

saya tidak setuju karena calon ini ingin terpilih jadi kepala desa dengan cara yang tidak baik dan tidak baik untuk dicontoh karena sama saja menyogog dan dapat merusak pemilihan desa yang jujur, kita ingin kepala desa yang baik dan yang jujur”

6 Suriyani 35 Anggota

Masyarakat

Biasanya calon ini lebih mengandalkan hartanya dibanding kualitasnya karena faktor pertama yaitu keuanganya yang cukup baik jadi bisa membagi- bagikan uang dan ditambah lebih ingin berkuasa

7 Supriadi 31 Anggota

Masyarakat

kalo dilihat dari kriteria calon kepala desa apakah dia

status sosialnya dimasyarakat baik dan berpendidikan dan saya melihat dari beberapa calon ini kalo dibilang dia masuk semua dan semuanya sama- sama berpengalaman

8 Dg Nai 45 Anggota

Masyarakat

kalo saya setuju saja kalau orang yang ekonominya bagus masuk jadi calon kepala desa tidak jdi masalah yang penting bisa memimpin tidak hanya orang-orang yang kalangan atas atau yang berekonomi keatas tetapi siapa saja asalkan dia mampu memimpin masyarakat dan dapat dipercaya oleh

masyarakat untuk

memimpin sebuah desa.

Foto wawancara dengan bapak Muhammad Nur dan Muh Dahlan selaku Sekretaris Desa Paraiaktte dan Kepala Dusun.

Foto wawancara dengan Nasri Dg Situru

Foto wawancara dengan Ibu Hj.Ida selaku anggota masyarakat

Foto wawancara dengan Ibu Suriyani sebagai anggota masyarakat

Foto wawancara dengan saudara Dg Nai

Rapat Pembentukan Panitia Pemilihan Calon Kepala Desa

RIWAYAT HIDUP

Zul Qadri Musbaryanto lahir di Ambon pada tanggal 03 Agustus 1994, Anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan suami istri Mustakim dan Batrianah.

Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 2000 di SDN Lonrong dan tamat pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP N 2 Bajeng dan tamat pada tahun 2009. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMK N I Limbung mulai dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis melanjutkan studi dan diterima di Jurusan Sosiologi Program Studi Kependidikan (Strata Satu) FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

vii ABSTRAK

Zul Qadri Musbaryanto. 2016. Tingkat Kredibilitas Calon Kepala Desa Dalam Aspek Status sosial Ekonomi dan Pendidikan Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hj. Roslaenya Babo. dan Pembimbing II Kaharuddin.

Kredibilitas sering di kaitkan dengan sesuatu yang menyangkut nama baik, reputasi, kehormatan dan keberadaan sebuah lembaga atau seorang sosok yang menonjol di antara komunitasnya, di mana hal tersebut akan di pandang sebagai sebuah nilai jual yang memiliki nilai positif dan selalu menjadi nilai lebih bagi pemiliknya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kredibilitas calon kepala desa terhadap aspek status sosial ekonomi dan pendidikan yang seterusnya, apakah masyarakat lebih menilai calon kepala desa yang berstatus sosial ekonominya ataukah pendidikannya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data malalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deskriptif. Analisis ini dilakukan dengan cara menyusun dan mereduksi data, mendisplay data yang dikumpulkan dari berbagai pihak dan kemudian memberikan verifikasi untuk disimpulkan.

Dari hasil penelitian didapatkan dari masyarakat yang ternyata lebih dominan merespon calon kepala desa yang status ekonominya lebih tinggi dibandingkan status pendidikannya. Walaupun demikian, namun masih terdapat juga masyarakat yang lebih melihat dari aspek pendidikan.

Kata kunci : Kredibilitas, Status sosial, Pendidikan

Dokumen terkait