• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Kajian Teori

2. Teori ketergantungan

c. Humanistik

Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk ,memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi- potensi yang ada dalam diri mereka.

Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapah psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan belajar. Secara singkat pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif.

hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Aspek penting dalam kajian sosiologi adalah adanya pola ketergantungan anatara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya dalam kehidupan berbangsa didunia .

Teori dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara pinggiran, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.

Teori ketergantungan (Dependency Theory) dikembangkan pada akhir tahun 1950-an oleh Raul Presibich (Direktur Economic Commission for Latin America, ECLA). Dalam hal ini Raul Presbich dan rekannya bimbang terhadap

pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tumbuh pesat, namun tidak serta merta memberikan perkembangan yang sama kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin. Bahkan dalam kajiannya mereka mendapati aktivitas ekonomi di negara-negara yang lebih kaya sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin.

Lahirnya teori dependensi juga merupakan jawaban atas krisis teori Marx ortodoks di Amerika Latin menurut Marxsis ortodoks, Amerika harus melihat tahap revolusi industri “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialisasi proletar.

C. kerangka Pikir

Pembangunan sumber daya manusia baik dari segi kualitas (kemampuan, tingkat pendidikan, sikap dan kariernya) dan kesejahteraannya. Berbagai diklat perlu ditata rapi dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata. Demikian pula sistem

pembinaan karier, termasuk sistem rekrutnya promosi dan sebagainya. Perilaku aparatur perlu dibenahi agar berorientasi pada produktifitasnya dan pembangunan sumber daya manusia baik dari segi kualitas (kemampuan,tingkat pendidikan, sikap dan kariernya) dan kesejahteraannya.

Kepala Desa yang merupakan kepala pemerintahan ditingkat Desa diharapkan mampu menjalankan pemerintahan dengan performa yang baik dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sehingga apabila aparat pemerintah pada tingkat Desa menunjukkan kinerja yang bagus dalam menyelenggarakan pemerintahan. Maka akan berpengaruh pada kinerja pemerintah pada tingkat kabupaten, propinsi hingga pusat. Usaha untuk mencapai pemerintahan yang baik ini melahirkan peraturran yang mengatur tentang pelaksanaan pemerintahan di desa. dapat dilihat dikerangka pikir.

Gambar bagan kerangka pikir kredibilitas

Calon Kepala Desa Status Sosial

Ekonomi

Tingkat Pendidikan

Pending

Hasil aa

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan menggambarkan secara mendalam tentang tingkat kredibilitas calon kepala desa dalam aspek status sosial ekonomi, dan pendidikan di Desa Paraikatte Kabupaten Gowa. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Dengan memilih penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dapat mengungkap fakta, keadaan atau fenomena yang terjadi saat penelitian berjalan atau memaparkan data dan menafsirkan data sesuai dengan situasi yang terjadi, Bogdan dan Taylor (1992 : 21-22).

B. Lokasi Penelitian

Dengan uraian diatas, maka penelitian ini di maksud untuk mengetahui tingkat kredibilitas calon kepala desa dalam aspek status sosial ekonomi, dan pendidikan, bagi masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang keberadaannya sebagai ruang sosial dan budaya bagi masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

C. Informan Penelitian

Kriteria informan dalam penelitian saya adalah beberapa masyarakat yang tinggal di Desa Paraikatte yang menjadi pemilih dan pemerintah setempat. Dan

yang lebih jelasnya untuk mengetahui lebih jauh data, serta lebih dikenal dengan sampel yang penulis ingin capai. Saya tidak menjadikan jumlah masyarakat yang menjadi pemilih sebagai patokan sebab yang paling utama disini adalah

bagaimana kontribusi masyarakat dalam memilih calon kepala desa.

Penentuan informan di tetapkan dengan penarikan sample secara jatah (Quota Sampling), yaitu teknik sampling ini dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Biasanya yang dijadikan sample penelitian adalah subjek yang mudah ditemui sehingga memudahkan pula proses pengumpulan data, Sugiyono (2001:60).

D. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini , saya menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang bermaksud untuk mendapatkan gambaran umum tentang bagaimana kontribusi masyarakat dalam memilih calon kepala desa dalam aspek status sosial ekonomi dan pendidikan di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Deskriptif yang di maksud disini adalah dengan menuturkan dan menggambarkan data yang diperoleh secara apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti barulah kemudian peneliti bisa menarik kesimpulan, yakni memaparkan pengaruh tingkat kredibilitas calon kepala desa terhadap aspek status sosial ekonomi di Kabupaten Gowa dan menggambarkan pengaruh tingkat kredibilitas calon kepala desa terhadap aspek pendidikani di Kabupaten Gowa.

E. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian Kualitatif peneliti menggunakan alat-alat bantu untuk mengumpulkan data seperti handpone sebagai kamera, alat perekam dan daftar pertanyaan. Tetapi kegunaan atau pemanfaatan alat-alat ini sangat tergantung pada peneliti itu sendiri.

Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat bantu, yakni : a). Pedoman observasi lapangan.

b). Pedoman wawancara/catatan lapangan.

c). Handphone untuk dokumentasi laporan.

F. Jenis Data

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung oleh peneliti dilapangan yaitu dari masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yaitu data yang dikumpulkan untuk melengkapi data primer yang diperoleh dari pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan penelitian dalam hal ini masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

G. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a). Observasi/Pengamatan

observasi atau pengamatan adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti yakni, masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

b). Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilakukan secara mendalam terhadap informan langsung guna mendapatkan informasi- informasi yang berguna untuk memperdalam data. Wawancara mendalam juga dilakukan guna melengkapi serta menggali informasi sebanyak mungkin dari masyarakat yang berkaitan dengan data yang diperlukan dalam masalah penelitian tanpa terkait dengan pedoman. Adapun langkah-langkah wawancara yang dilakukan, yaitu sebagai berikut :

1). Menetapkan informan dalam hal ini masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dan pihak-pihak yang berkaitan.

2). Menyiapkan pokok-pokok masalah dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi bahan pembicaraan.

3). Mengawali atau membuka alur wawancara, yang akan di lakukan di sini adalah melakukan pendekatan kepada informan sebelum melakukan wawancara terhadap informan.

4). Melangsungkan alur wawancara, setelah melakukan pendekatan kepada informan (masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa) peneliti mulai melakukan wawancara terhadap masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa yang dijadikan informan.

5).Mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara yang telah dilakukan pada masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, setelah peneliti melakukan intisari dari hasil wawancara peneliti mengakhiri wawancara.

6).Selanjutnya peneliti menuliskan hasil wawancara yang di dapat dari informan kedalam catatan lapangan.

7). Setelah merangkumkan hasil wawancara peneliti melakukan identifikasi dari masalah-masalah yang telah didapatkan dari hasil wawancara terhadap masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa sebagai informan.

c). Observasi Partisipasi (participant Observation)

Teknik ini disebut juga pengamatan berperan serta peneliti melakukan pengamatan secara langsung kepada informan, dan ikut serta dalam aktivitas informan. Berkaitan dengan permasalahan yang diteliti, teknik observasi diterapkan untuk mengamati secara langsung kondisi objektif di lapangan.

Seperti kondisi lokasi penelitian, kondisi masyarakat Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

d). Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah pengumpulan data dengan mempelajari data-data yang ada seperti : peraturan daerah, buku atau laporan ilmiah, majalah, bulletin, foto-foto, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan objek penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian telah dianalisis secara kualitatif dimana data yang diperoleh di lapangan dan diolah kemudian disajikan dalam bentuk tulisan. Dalam penelitian ini kami menggunakan 3 teknik analisis data yaitu dengan cara :

1. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti yakni, masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

2. Wawancara

Wawancara merupakan wawancara yang dilakukan secara mendalam terhadap informan langsung guna mendapatkan informasi-informasi yang berguna untuk memperdalam data. Wawancara juga dilakukan guna melengkapi serta menggali informasi sebanyak mungkin dari masyarakat yang berkaitan dengan data yang diperlukan dalam masalah penelitian dan menyiapkan beberapa pertanyaan terlebih dahulu.

3. Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah pengumpulan data dengan mempelajari data- data yang ada seperti : peraturan daerah, buku atau laporan ilmiah, foto- foto, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan objek penelitian.

I. Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena tanpa pengapsahan data yang diperoleh dari lapangan maka akan sulit peneliti untuk mempertanggung jawabkan hasil penelitiannya.

Dalam hal pengabsahan data, peneliti menggunakan metode trigulasi yang diartikan sebagai pengecekan data dari sumber yang kribel atau berbagai cara yang relevan dan berbagai waktu yang tepat sesuai dengan prinsip efektifitas dan efisiensi data penelitian. Kedua trigulasi itu dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Trigulasi Sumber

Trigulasi data merupakan pengujian data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh dari beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen lainnya, kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa sumber yang ada dan telah terjamin keabsahan dan kredibilitasnya 2. Trigulasi Waktu

Yaitu pengujian data dengan cara melakukan observasi dan diskusi kembali terhadap data yang diperoleh secara lebih mendalam dan di ulangi pada waktu yang berbeda sehingga di dapatkan data yang valid dan krelibilitasnya.

J. Reduksi Data

Reduksi data dalam analisis data penelitian kualitatif , menurut Miles dan Huberman (1992:16) sebagai mana ditulis Malik diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabsahan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.

Reduksi data berlangsung terus menerus selama proyek yang berorientasi penelitian kualitatif berlangsung. Antisipasi akan adanya reduksi data sudah tampak waktu penelitiannya memutuskan (acapkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan pendekatan pengumpulan data mana yang dipilihnya. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, membuat memo). Reduksi data/transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun.

Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

Dengan reduksi data peneliti tidak perlu mengartikannya sebagai kualifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan transformasikan dalam aneka macam cara, yakni : melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkannya dalam satu pola yang lebih luas dsb. Proses analisis data mestinya dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai

sumber setelah dikaji, langkah berikutnya adalah membuat rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan informan. Dalam merangkum data biasanya ada satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan yang tidak dipisahkan ini disebut membuat abstraksi, proses dan persyaratan yang berasal dari responden tetap dijaga.

K. ETIKA PENELITIAN

Etika penelitian saya mencakup norma untuk berperilaku, memisahkan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan, etika penelitian meliputi:

1. Kejujuran

Jujur dalam pengumpulan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan metode yang dilakukan. Hargai rekan peneliti, jangan mengklaim pekerjaan yang bukan pekerjaan saya.

2. Tidak melakukan diskriminasi.

3. Keterbukaan

Saya melakukan penelitian secara terbuka, saling berbagi data, informasi, hasil, ide dan sumber daya penelitian. Terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.

BAB IV

GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat Kabupaten Gowa

Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada dibawah Kabupaten Gowa dan daerah sekitarnya yang dalam bingkai negara kesatuan RI dimekarkan menjadi Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap Belanda yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang berasal dari Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Tapi perang ini bukan berati perang antar suku Makassar - suku Bugis, karena di pihak Gowa ada sekutu bugisnya demikian pula di pihak Belanda-Bone, ada sekutu Makassarnya. Politik Divide et Impera Belanda, terbukti sangat ampuh disini. Perang Makassar ini adalah perang terbesar Belanda yang pernah dilakukannya di abad itu.

Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), sayang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik

damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya.

Abad ke-16 Tumapa’risi’ Kallonna Memerintah pada awal abad ke-16, di Kerajaan Gowa bertahta Karaeng (Penguasa) Gowa ke-9, bernama Tumapa’risi’ Kallonna.Pada masa itu salah seorang penjelajah Portugis berkomentar bahwa “daerah yang disebut Makassar sangatlah kecil”. Dengan melakukan perombakan besar-besaran di kerajaan, Tumapa’risi’ Kallonna mengubah daerah Makassar dari sebuah konfederasi antar-komunitas yang longgar menjadi sebuah negara kesatuan Gowa. Dia juga mengatur penyatuan Gowa dan Tallo kemudian merekatkannya dengan sebuah sumpah yang menyatakan bahwa apa saja yang mencoba membuat mereka saling melawan (ampasiewai) akan mendapat hukuman Dewata.

Sebuah perundang-undangan dan aturan-aturan peperangan dibuat, dan sebuah sistem pengumpulan pajak dan bea dilembagakan di bawah seorang syahbandar untuk mendanai kerajaan. Begitu dikenangnya raja ini sehingga dalam cerita pendahulu Gowa, masa pemerintahannya dipuji sebagai sebuah masa ketika panen bagus dan penangkapan ikan banyak. Dalam sejumlah penyerangan militer yang sukses penguasa Gowa ini mengalahkan negara tetangganya, termasuk Siang dan menciptakan sebuah pola ambisi imperial yang kemudian berusaha ditandingi oleh penguasa-penguasa setelahnya di

abadl ke-16 dan ke-17. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan oleh Tumapa’risi’

Kallonna diantaranya adalah Kerajaan Siang, serta Kerajaan Bone, walaupun ada yang menyebutkan bahwa Bone ditaklukkan oleh Tunipalangga.

2. Kondisi Geografi Dan Iklim Daerah Penelitian

Kabupaten Gowa berada pada 12°38.16' Bujur Timur dari Jakarta dan 5°33.6' Bujur Timur dari Kutub Utara. Sedangkan letak wilayah administrasinya antara 12°33.19' hingga 13°15.17' Bujur Timur dan 5°5' hingga 5°34.7' Lintang Selatan dari Jakarta. Kabupaten yang berada pada bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini berbatasan dengan 7 kabupaten/kota lain, yaitu di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba, dan Bantaeng.Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian Barat berbatasan dengan Kota Makassar dan Takalar.

Luas wilayah Kabupaten Gowa adalah 1.883,32 atau sama dengan 3,01 % dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan definitif sebanyak 167 dan 726 Dusun/Lingkungan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, di Kabupaten Gowa hanya dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim kemarau

dimulai pada Bulan Juni hingga September, sedangkan musim hujan dimulai pada Bulan Desember hingga Maret. Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan, yaitu Bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Curah hujan di Kabupaten Gowa yaitu 237,75 mm dengan suhu 27,125°C. Curah hujan tertinggi yang dipantau oleh beberapa stasiun/pos pengamatan terjadi pada Bulan Desember yang mencapai rata-rata 676 mm, sedangkan curah hujan terendah pada Bulan Juli - September yang bisa dikatakan hampir tidak ada hujan.

Dari total luas Kabupaten Gowa, 35,30% mempunyai kemiringan tanah di atas 40 derajat, yaitu pada wilayah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya, Bontolempangan dan Tompobulu. Dengan bentuk topografi wilayah yang sebahagian besar berupa dataran tinggi, selebihnya berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan Bontonompo Selatan wilayah Kabupaten Gowa dilalui oleh 15 sungai besar dan kecil yang sangat potensial sebagai sumber tenaga listrik dan untuk pengairan. Salah satu diantaranya sungai terbesar di Sulawesi Selatan adalah sungai Jeneberang dengan luas 881 Km2dan panjang 90 Km.

Di atas aliran sungai Jeneberang oleh Pemerintah Kabupaten Gowa yang bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, telah membangun proyek multifungsi DAM Bili-Bili dengan luas + 2.415 Km2yang dapat menyediakan air irigasi seluas + 24.600 Ha, komsumsi air bersih (PAM) untuk masyarakat Kabupaten

Gowa dan Makassar sebanyak 35.000.000 m3dan untuk pembangkit tenaga listrik tenaga air yang berkekuatan 16,30 Mega Watt.

Gambar 1.1 Peta Wilayah Kabupaten Gowa

B. Gambaran Khusus Lokasi Penelitian 1. Kondisi Obyektif daerah Penelitian

Desa Paraikatte merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. di Desa Paraikatte terdapat 5 Dusun yaitu Dusun Lonrong, Dusun Sileo I, Dusun Sileo II, Dusun Te’ne Pa’mai dan Dusun Pattunggalengang. Di Desa Paraikatte yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah salah satu wilayah yang ada di kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Ditinjau dari batas-batasnya :

Sebelah Utara :Berbatasan dengan Desa Julupa’mai Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Bontoramba Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Pabbentengang Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Maccini Baji

Gambar 1.2 Peta Wilayah Desa Paraikatte Kec.Bajeng Kab. Gowa

2. Keadaan Penduduk

Berdasarkan data pada tahun 2015, penduduk di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa berjumlah 2.995 jiwa.Dimana penduduk yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 1.465 jiwa dan penduduk yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 1.530 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Kondisi Penduduk Desa Paraikatte Jenis Kelamin Jumlah Jiwa Jumlah (KK)

Laki-Laki 1.465

859

Perempuan 1.530

Jumlah 2.995 859

Sumber : Kantor Desa Paraikatte, 2015

Data diatas menunjukkan bahwa penduduk di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng pada tahun 2015 berjumlah 2.995 jiwa dan 859 Kepala Keluarga (KK). Berdasarkan tabel diatas sangat jelas terlihat bahwa penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibanding dari jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki.

3. Mata Pencaharian

Masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa mempunyai keanekaragaman mata pencaharian.Kesibukan masyarakat mewarnai suasana keseharian penduduk di Desa Paraikatte, apalagi di hari- hari kerja. Penduduk di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng mayoritas dari kalangan menengah kebawah. Sehingga mayoritas penduduk di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng bekerja sebagai petani.

4. Agama

Masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa mayoritas beragama Islam. Masyarakat di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng dikenal sebagai masyarakat yang religious dalam menjalankan keagamaannya. Hal ini juga ditunjang dengan sarana dan prasarana ibadah yang cukup memadai sebagai tempat beribadah. Sebagai gambarannya bahwa di Desa Paraikatte terdapat 8 masjid

5. Sistem Kebudayaan

Sebagaimana halnya masyarakat Kabupaten Gowa pada umumnya masih memegang teguh tata cara dari adat istiadat setempat. Masyarakat Gowa dalam aktivitas sehari-harinya masih terkait dengan aturan-aturan yang

Dokumen terkait