BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS PENELITIAN
D. Persepsi Masyarakat Terhadap Calon Kepala Desa Yang Berstatus
Dalam kajian ini peneliti akan menjelaskan tentang persepsi atau pandangan masyarakat, pandangan atau persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu tersebut dapat menyadari dan mengerti tentang apa yang diinderanya. Sedangkan dalam perspektif psikologi persepsi diartikan sebagai sejenis aktivitas pengelolaan informasi yang menghubungkan seseorang dengan lingkungannya, persepsi sosial individu merupakan proses pencapaian pengetahuan proses berfikir tentang orang lain dalam menetapkan, memungkinkan dan mampu mengelola dunia sosialnya.
Pandangan atau persepsi tersebut dapat diwujudkan masyarakat salah satunya dengan ikut serta berpartisipasi politik aktif melalui pemberian suara
secara demokratis dalam penelitian ini peneliti telah melakukan observasi sebagai berikut
Dalam observasi penelitian masih banyak masyarakat yang terpengaruh dengan calon-calon yang hanya mengandalkan status ekonominya apalagi anak- anak mudah jaman sekarang sangat mudah terpengruh dengan politik uang karna dalam pikirannya yang penting dia bisa merokok dan bersenang-senang dengan uang yang diberikan tetapi dia tidak memikirkan bagaimana perubahan pembangunan desa kedepannya, bagi calon yang memiliki kekayaan lebih sangat mudah mendapatkan suara misalkan calon ini hanya turun ke warung-warung kopi atau kah kelompok-kelompok masyarakat, karna biasa orang-orang tua atau sebagian masyarakat biasa berkumpul diwarung kopi saling bercengkrama dengan masyarakat lainnya, apa lagi kalo dia mendengar ada calon yang datang dengan membagikan uang atau menggratiskan apa yang dikonsumsi diwarung situ dan biasanya juga masyarakat lebih memilih calon yang sering membagikan uang dan juga melihat dari segi ekonomi calon kepala desa.
Mengapa hal ini masih sering terjadi di kalangan masyarakat karna sebagian besar penduduk Desa Paraikatte adalah petani dan jumlah pendapatan ekonominya masih rendah, menengah kebawah jadi sangat mudah tergiur dengan calon kepala desa yang mengiming-imingkan uang. Dengan kekayaan calon kepala desa mereka bisa bebas dan berkuasa.
Menurut Dams, Errill III, dan Rofman 355", ada tiga sudut pandang yang bisa digunakan ilmuan politik untuk memahami perilaku pemilih, yakni model spatial para pemilih termotivasi akibat serangkaian kebijakan yang ditawarkan, sedang, dan atau dijalankan kandidat", model behavioral, keputusan para pemilih tidak hanya dipengaruhi faktor kebijakan tetapi dipengaruhi juga oleh faktor identifikasi partai politik, karakteristik sosio demografis, persepsi pemilih terhadap kondisi ekonomi, ealuasiretrospektif pemilih terhadap kinerja incumbent".
Model party competition perilaku pemilih dipengaruhi faktor loyalitas kepada calon politik, kemampuan pemilih menganalisis program-program yang ditawarkan kandidat, dan persepsi bahwa tidak ada kontestan pemilihan umum
yang atraktif. Argumentasi Dams, errill III, dan Rofman 355 memiliki kelemahan serius jika ingin digunakan untuk memahami relasi politik calon kepala desa dengan para pemilih. Model party competition tidak bisa diterapkan karena pencalonan seseorang dalam pilkades tidak melalui partai politik. Hanya model spatial dan model behavioral yang bisa diterapkan meski dengan sangat hati-hati. Sebab, dalam kasus model behavioral, tidak seluruh variabel dalam model ini bisa diaplikasikan karena kurang relevan. Sebagai contoh, model ini menganggap persepsi pemilih terhadap kondisi ekonomi merupakan salah satu determinan para pemilih. Dalam konteks pilkades, variabel ini kurang relevan karena faktanya kondisi perekonomian desa lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor ekternal misalnya, kebijakan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten kota.
Namun dalam prakteknya yang sudah diatur oleh perundang-undangan pemerintah untuk saat ini sangat sulit terselenggara dengan lancar dan berkualitas karena bermainnya faktor-faktor politik, kepentingan ingin berebut kekuasaan ketimbang hakikat yang diingini oleh pilkades yaitu pemerintah desa yang legitimate. Calon kepala desa yang memiliki harta yang lebih mereka sangat mudah berkuasa dengan uang yang banyak mereka sangat mudah mendapat suara dan biasanya juga calon yang memiliki kekayaan sangat mudah dikenal di daerahnya
Berdasarkan hasil wawancara penelitian informan mengemukakan pendapatnya dengan berbeda-beda maka dari itu saudara Dg Nai selaku informan masyarakat setempat ia mengatakan bahwa :
“kalo saya setuju saja kalau orang yang ekonominya bagus masuk jadi calon kepala desa tidak jdi masalah yang penting bisa memimpin tidak hanya orang-orang yang kalangan atas atau yang berekonomi keatas tetapi siapa saja asalkan dia mampu memimpin masyarakat dan dapat dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin sebuah desa”
Dari pendapat informan diatas bahwa calon kepala desa tidak hanya orang orang yang kalangan atas atau yang status sosial ekonominya yang lumayan baik tidak jadi masalah maju jadi calon kepala desa asalkan bisa memimpin sebuah desa jadi saya mengambil kesimpulan bahwa ini bisa menjadi modal untuk maju jadi calon kepala desa karna untuk bisa maju jadi calon kepala desa juga membutuhkan biaya yang cukup banyak. Karna dimulai pendaftaran calon kepala desa hingga kampanye atau sosialisasi ke masyarakat membutuhkan juga dana yang banyak dan inilah yang punya banyak modal saya kira bisa jadi kesempatan untuk maju jadi calon kepala desa.
selanjutnya hasil wawancara bersama Ibu Hj. Ida ia berpendapat bahwa
“saya tidak setuju karena calon ini ingin terpilih jadi kepala desa dengan cara yang tidak baik dan tidak baik untuk dicontoh karena sama saja menyogog dan dapat merusak pemilihan desa yang jujur, kita ingin kepala desa yang baik dan yang jujur”
Dari hasil wawancara bersama saudari bahwa ia tidak setuju apabila ada Calon yang hanya memanfaatkan cara-cara yang tidak baik dia ingin terpilih sebagai kepala desa dengan cara yang tidak baik dengan cara membagi bagikan uang kepada masyarakat sehingga dia bisa terpilih untuk menjadi kepala desa.
dari cara inilah yang tidak patut untuk dicontoh apabila ada seorang calon yang hanya mengandalkan kekayaannya dari pada kredibilitasnya. Masyarakat menginginkan kepala desa yang betul-betul serius untuk bisa membangun desa yang lebih baik.
Sementara itu saudari Suriyani sebagai anggota masyarakat juga berpendapat bahwa
“Biasanya calon ini lebih mengandalkan hartanya dibanding kualitasnya karena faktor pertama yaitu keuanganya yang cukup baik jadi bisa membagi-bagikan uang dan ditambah lebih ingin berkuasa”
Faktor-faktor yang sering terjadi apabila ada pemilihan-pemilihan kepal desa jangankan pemilihan kepala desa Pemilihan-pemilihan apa saja kita masih sering mendapatkan pemilihan kepala daerah yang tidak jujur karena biasanya calon ini membagikan uang atau sumbako untuk dipilih jadi kepala desa. dalam hal ini sebagai masyarakat yang cerdas kita harus betul-betul melihat kepribadian calon dan kualitas dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga nantinya pemerintah dalam hal ini kepala desa bisa membawa perubahan di desa.
Dari hasil wawancara bersama saudara Supriadi ia berpendapat bahwa
“kalo dilihat dari kriteria calon kepala desa apakah dia status sosialnya dimasyarakat baik dan berpendidikan dan saya melihat dari beberapa calon ini kalo dibilang dia masuk semua dan semuanya sama-sama berpengalaman”
Dari pendapat informan diatas bahwa calon kepala desa ini semuanya baik dan sudah berpengalaman dalam memimpin desa, kepala desa memang tidak harus berpendidikan yang tinggi cukup dengan bagaimana status sosialnya dimasyarakat
kepala desa harus siap berbaur ditengah-tengah masyarakat dan harus memperhatikan apa-apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Pemilihan kepala desa adalah sarana pelaksanaan azas kedaulatan rakyat bedasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepala Desa sebagai pemimpin formal di desa harus dipilih secara demokratis oleh masyarakat desanya sendiri. Sifat demokratis harus ada dan dipertahankan, bukan semata mata karena sendi-sendi kehidupan demokratis dapat menjamin terselenggaranya pembangunan desa, akan tetapi pembangunan desa memerlukan dukungan dari masyarakat.
E. Persepsi Masyarakat Terhadap Calon Kepala Desa dalam aspek