• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Iwan Saputra - ADOC.PUB (Halaman 71-82)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

tapi saya bersama perakat Nagari serta pemuka masyarakat sudah berupaya mengatasinya, setiap kasus yang kami hadapi kami selalu berusaha mencari jalan keluarnya dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik. Ada dengan cara diskusi/musyawara, negosiasi dan ada juga dengan cara jalan tengah untuk mencari solusinya”.

Begitu juga yang di ungkapkan ketua KAN (Bapak Sudirman Ts, 23 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Sebenarnya apapun masalah yang terjadi, termasuk masalah tambang emas. Kita harus cermati masalah tersebut kemudian baru kita cari upaya apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikanya. Kalu masalah yang terjadi di nagari kita ini bisa jadi dengan mencari jalan tengah, diskusi maupun musyawara itu tergantug kepada kita mencermatinya”.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik tambang emas yaitu dengan cara mencermati terlebih dahulu masalahnya kemudian baru dicari penyelesaianya dengan cara mempertemukan kedua pihak yang bertikai dan melakuakan musyawarah yang dimediatori oleh pemuka adat.

Merupakan kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama dan terbentuk karena munculnya kelompok kepentingan.

Demikian yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling, bahwa penyebab terjadinya konflik pertambangan emas di Kenagarian tersebut disebabkan karena adanya kepentingan dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang inggin menguasai serta mencari keuntungan dari pertambangan, makanya sulit bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah pertambangan tersebut.

b. Kelompok kepentingan

Terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas, kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta anggotanya yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam masyarakat.

Demikian yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling, sebagian besar mayarakat mengatakan bahwa konflik yang terjadi disebabkan karena adanya kepentingan dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang inggin menguasai, serta mencari keuntung dari hasil pertambangan, bahkan pihak penguasa tersebut akan mengunakan segala cara dan tindakan demi mewujutkan keingginanya, tanpa memperdulikan kerugian yang diderita pihak lawan. Seperti yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling yaitu terjadinya konflik diantara masyarakat dengan pihak investor karena masyarakat menolak lahannya digarap dan masalah ganti

rugi yang tidak sesui dengan keinginan masyarakat, hingga memicu pada tindakan anarkis berupa tindakan brutal.

 Paksaan (Coercion)

Paksaan ialah penyebab terjadinya pertikaian dengan menggunakan paksaan fisik ataupun psikologis. Bila paksaan psikologis tidak berhasil, dipakailah paksaan fisik. Pihak yang biasa menggunakan paksaan adalah pihak yang kuat, pihak yang merasa yakin menang, bahkan sanggup menghancurkan pihak musuh. Pihak inilah yang menentukan syarat- syarat untuk menyerah dan berdamai yang harus diterima pihak yang lemah.

Demikian yang terjadi di Kenagarian Lubuk Ulang Aling, masyarakat merasa, bahwa adanya paksaan dari pihak penguasa (investor) yang inggin menguasai pertambangan emas, dan pada akhirnya masyarakat terpaksa menyerahkan lahan berupa sawah/perkebunan kepada pihak investor. Walaupun dalam hal ini pihak investor menganti kerugian kepada pihak pemilik lahan, tapi secara tidak langsung ini suda merupakan paksaan secara pisikologis yang dilakukan pihak investor demi mewujutkan keingginanya untuk menguasai pertambangan, dan mengalah yang harus dilakukan pihak pemilik lahan.

2. Kendala-Kendala Masyarakat Dalam Menyelesaikan Konflik

Kendala disini berati Faktor-faktor yang menjadi penghambat terhadap penyelesaian konflik, Menurut Wirawan (2010:135-137) faktor- faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

a. Kepribadian Individu

Penyelesaian konflik seorang individu dapat diprediksi dari karakteristik-karakteristik intelektual dan kepribadiannya. Mereka menemukan bahwa subjek dengan skor intelektual yang rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi konflik. Sebaliknya subjek dengan skor intelektual yang tinggi lebih cenderung untuk menggunakan gaya-gaya penyelesaian konflik yang membuat konflik melunak.

Sesuai dengan temuan penelitian bahwa yang menjadi kendala bagi masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling, terhadap penyelesaian konflik adalah kebanyakan masyarakat belum paham terhadap penyelesain yang di lakukan perangkat Nagari maupun pemuka adat.

Dalam menyelesaikan konflik pertambangan, kebanyakan dari masyarakat masih mengemukakan egonya masing-masing sehingga permasalahan yang terjadi sulit untuk diselesaikan.

b. Situasional

Aspek situasi yang penting antara lain adalah perbedaan struktur kekuasaan, lingkungan sosial dan pihak ketiga. Apabila satu pihak memiliki kekuasaan lebih besar terhadap situasi konflik, maka besar kemungkinan konflik akan diselesaikan dengan cara dominasi oleh pihak yang lebih kuat posisinya.Termasuk dalam aspek lingkungan sosial adalah norma-norma sosial dalam menghadapi konflik dan iklim sosial yang mendukung melunaknya konflik atau justru mempertajam konflik.

Sedangkan campur tangan pihak ketiga yang memiliki hubungan buruk dengan salah satu pihak yang berselisih dapat menyebabkan membesarnya konflik. Sebaliknya, hubungan baik pihak ketiga dengan pihak-pihak yang berselisih dapat melunak- kan konflik karena pihak ketiga dapat berperan sebagai mediator.

Sesuai dengan temuan penelitian bahwa yang menjadi kendala bagi masyarakat kenagarian Lubuk Ulang Aling, terhadap penyelesaian konflik pertambangan emas adalah kurang baiknya situasi dilokasi pertambangan, situasi disini maksudnya yaitu terjadinya kesalah pahaman antara masyarakat dengan pihak investor karena tidadak menerima lahanya berupa ladang pinang terkenak imbas dari tambang emas yang dikelolah pihak investor tersebut, dan pada akhirnya masalah ini diselesaikan secara musyawarah yang dilakukan pemuka adat sebagai mediatornya.

c. Interaksi

Pendekatan dengan mencari pemahaman akan perilaku sosial dianggap mempunyai manfaat yang terbatas. Pendekatan yang lebih dominan dalam menerangkan perilaku sosial adalah interaksi dan saling mempengaruhinya.

Sesuai dengan temuan penelitian bahwa yang menjadi kendala bagi masyarakat kenagarian Lubuk Ulang Aling, terhadap upaya penyelesaian konflik pertambangan emas adalah kurang harmonisasi hubungan antara

pemuka masyarakat dengan masyarakat, serta terjadinya kesenjanagan sosial dalam kehidupan masyarakat.

d. Isu Konflik

Tipe isu tertentu kurang mendukung resolusi konflik yang konstruktif dibandingkan dengan isu yang lain. Tipe isu seperti ini mengarahkan partisipan konflik untuk memandang konflik sebagai permainan kalah-menang. Isu yang berhubungan dengan kekuasaan, status, kemenangan, dan kekalahan, pemilikan akan sesuatu yang tidak tersedia substitusinya, adalah termasuk tipe-tipe isu yang cenderung diselesaikan dengan hasil menang kalah. Tipe yang lain yang tidak berhubungan dengan hal-hal di atas dapat dipandang sebagai suatu permainan yang memungkinkan setiap pihak yang terlibat untuk menang.

Sesuai dengan temuan penelitian maka kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling berbagai macam, yaitu: pendidikan masyarakat yang rendah, terjadinya kecemburuan sosial karena iri melihat perkembangan ekonomi saudaranya, sampai kepada masalah perizinan pertambangan yang belum terselesaikan.

3. Upaya Masyarakat Dalam Menyelesaikan Konflik

Upaya disini berarti usaha untuk mencapai suatu maksud, memecahkan suatu persoalan, mencari jalan keluar dari suatu masalah yang dihadapi, menurut Hendropuspito (1989:250-252) upaya menyelesaikan konflik ada beberapa macam yaitu:

a. Konsiliasi (conciliation)

Pengendalian semacam itu terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan-keputusan diantara pihak-pihak yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.

Sesuai dengan temuan penelitian, bahwa upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik pertambangan emas adalah dengan cara diskusi untuk mencapai kesepakatan demi terciptanya kenyamanan dan kerukunan dari beberapa pihak yang berkonflik.

b. Mediasi (mediation)

Dimana kedua belah pihak yang bersengketa bersama-sama bersepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang akan memberikan nasehat- nasehatnya tentang bagaimana mereka, sebaliknya walaupun penyelesaian darai pihak ketiga tersebut bertantangan, namun cara pengendalian ini kadang-kadang menghasilkan penyelesaian yang cukup efektif oleh karena itu cara ini memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengurangi irasionalitas yang biasanya timbul di dalam setiap konflik, memungkinkan pihak-pihak yang bertentangan menarik diri tanpa harus kehilangan mungka, mengurangi pemborosan yang dikeluarkan untuk membiayai pertentangan dan sebagainya.

Sesuai dengan temuan penelitian, bahwa upaya yang di lakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik

pertambangan emas yaitu dengan cara mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik yang di lakukan oleh pemuka adat sebagai mediator dan mencari solusinya secara adat berjenjang naik bertangga turun atau melalui jalan musyawara dan mufakat.

Selain itu Pickering (2001:40-47) menampilkan beberapa upaya umtuk menyelesaian konflik yaitu:

c. Kolaborasi (kerjasama)

Gaya menangani konflik dengan tingkat keasertifan dan kerja sama yang tinggi. Tujuanya adalah untuk mencari alternatif dasar bersama dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua bela pihak yang terlibat konflik.

Gaya kalaborasi merupakan upaya bernegosiasi untuk menciptakan solusi yang sepenuhnya memuaskan pihah-pihak yang terlibat konflik. Upaya tersebut saling meliputi, saling memahami permasalahan konflik atau saling memahami ketidak sepakatan.

Sesuai dengan temuan penelitian, bahwa upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik pertambangan emas adalah dengan cara membuat surat perjanjian kerjasama antara kedua pihak (masyarakat pemilik lahan dan pihak investor) dengan tujuan supaya tidak terjadi kesalah pahaman diantara mereka, dan Surat perjanjian tersebut ditandatangani oleh kedua pihak di atas Materai tanpa ada paksaan dan dalam keadaan sadar, serta dengan disaksikan oleh 2 orang Notaris, bilamana di kemudian hari terdapat

kesalahan dalam kerjasama ini, maka akan diselesaikan dengan jalan Musyawarah.

d. Kompromi

Gaya ini berorientasi jalan tengah, karena setiap orang punya sesuatu untuk ditawarkan dan sesuatu untuk diterima. Keahlian bernegosiasi dan tawar menawar adalah pelengkap dari gaya kompromi.

Sesuai dengan temuan penelitian, bahwa Upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik tambang emas yaitu dengan cara mencermati terlebih dahulu masalahnya kemudian baru dicari penyelesaianya dengan cara mempertemukan kedua pihak yang bertikai dan melakuakan musyawarah yang dimediatori oleh pemuka adat.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian yang telah penulis kemukakan pada BAB terdahulu tentang “Resolusi konflik pertambangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling Kecamatan Sangir Batang Hari Kabupaten Solok Selatan” dapat diambil kesimpulan yaitu:

1. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik pertambangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling. Adapun faktor penyebab konflik tersebut sebagai berikut:

a. Terjadinya ketidak harmonisan hubungan (masyarakat dengan pihak investor) sehinga memicu terjadinya konflik.

b. Timbulnya kecemburuan sosial terhadap perubahan sosial yang terjadi diantara masyarakat sehinga berakibat terjadinya konflik.

c. Ketidak harmonisan hubungan mamak dengan kemenakan serta rusaknya hubungan silaturahmi antara suku dan berakibat kepada terjadinya konflik.

2. Kendala-kendala yang dihadapi masyarakat dalam menyelesaikan konflik pertambanagan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling yaitu sebagai berikut:

a. Masih kurangnya pendidikan/pemahaman masyarakat trerhadap penyelesaian konflik serta terjadinya kecemburuan sosial oleh pihak

yang kontra atau pihak yang menolak diteruskannya penambangan di Kenagarian lubuk ulang tersebut.

b. Rusaknya hubungan kekerabatan antara masyarakat di Kenagarian Lubuk Ulang Aling sehingga perlu adanya sosialisasi terbuka baik dari pihak pemerinta Nagari atau dari pemuka Adat yang memberikan arahan kepada masyarakat tentang bagai mana penyelesaian terbaik terhadap konflik pertambangan tersebut.

c. Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap penyelesaian konflik pertambangan, sehingga menyebabkan terjadinya konflik terbuka dalam kehidupan masyarakat.

3. Adapun upaya penyelesaian konflik yang dilakukan Masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling sebagai berikut:

a. Diutamakan penyelesaian secara adat yang dilakukan antara pemerintah Nagari dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) serta pihak- pihak yang merasa berhubungan dengan permasalahan ini secara bermusyawarah dan mufakat dalam bentuk perdamaian dengan mempertemukan masing-masing pihak yang bermasalah untuk menemukan titik temu dalam menyelesaikan permasalahan diantara masyarakat yang sedang bermasalah.

b. Serta melakukan pola diskusi bersama agar permasalahan ini tidak berlarut-larut dan tidak merugikan salah satu pihak yang sedang bermasalah di Kanagarian lubuk ulang aling tersebut.

B. Saran

1. Hendaknya Wali Nagari beserta unsur yang terkait dalam hal ini KAN dan petinggi adat lebih mencermati permasalahan yanag terjadi dan mencarikan solusinya.

2. Hendaknya pihak investor lebih memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan agar setiap pihak tidak ada yang dirugikan.

3. Hendaknya dari pihak masyarakat yang melakukan penambangan lebih memperhatikan dapak yang akan di timbulkan dari tambang emas tersebut.

4. Agar masalah yang muncul tidak menjadi konflik terbuka, maka dapat dilakukan Resolusi konflik dengan mempertemukan kedua belah pihak (masyarakat dan investor) untuk memusyawarahkan harapan yang diinginkan yatu mencari jalan keluar dengan mendahulukan kepentingan yang lebih dominan dengan mengenyampingkan kepentingan yang kurang dominan sehingga tidak ada pihak yang dikorbankan dalam permasalahan yang terjadi di Kanagarian Lubuk Ulang Aling.

5. Hendaknya dari pihak masyarakat yang berkonflik memiliki kesadaran akan pentingnya hubungan keselarasan dan keharmonisan, agar tidak menimbulkan permasalahan yang besar di antara kedua belah pihak yang berkonflik, sehingga dapat menjalin hubungan yang baik kembali diantara sesama masyarakat di Kanagarian lubuk ulang aling.

DAFTAR PUSTAKA

a. Acuan Buku

Abdul Syani. 1987. Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial. Jakarta: Fajar Agung

Collins Patricia.1990. Teori Konflik dan Perkembangan Sosiologi Makro. Jakarta:

Rajawali Pers.

George Ritzer. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Hartono. 2007. Jelajah bumi dan alam semesta. Bandung: Citra Praya Hendropuspito. 1989. Sosiologi Sistematik. Yogyakarta: Kanisius.

HS. Salim. 2005. Hukum Pertambangan di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Lexi J. Moleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Lexi J. Moleong. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rusdakarya

Miles dan Huberman. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta:UI Press

Pickering Pec. 2001. How To Manage Conflict (Kiat Menangani Konflik). Jakarta:

Erlangga

Robby Candra. 1992. Konflik dalam Hidup Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.

Soerjono Soekanto. 1982. Teori Sosiologi tentang Pribadi dalam Masyarakat.

Jakarta: Ghalia Indonesia.

Soerjono Soekanto. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali Soerjono Soekanto dan Ratih Lestarini. 1988. Fungsionalisme dan Teori Konflik

dalam Perkembangan Sosiologi. Jakarta: Sinar Grafika.

Syamsir, dkk. 2003. Buku ajar pengantar sosiologi. Padang : Jurusan Ilmu Hukum FIS UNP.

Wirawan. 2010. Konflik dan manajemen konflik. Jakarta: Salembah Humanika.

Wila Huky. 1985. Pengantar Sosiologi Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional.

b. Skripsi

Delmaria Lina. 2009. Dampak usaha penambangan biji besi tehadap potensi konflik sosial di Kenagarian Pinggu Kecamatan Ix Koto Sungai Lasi Kabupaten Solok. Padang: Skripsi. ISP FIS UNP.

c. Peraturan Pemerintah

PP No. 23 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara.

UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara d. Website

Ridwan.2012.Konflik tambang. Online diambil darai. http://ridwan- invisible.blogspot.com/2012/11/konflik-tambang.html. (diakses tanggal 15 desember 2012)

Pedoman Wawancara

1. Pedoman wawancara untuk wali Nagari

a. Upaya apa saja yang bapak lakukan untuk menyelesaikan konflik tambang emas di kanagarian lubuk ulang aling ?

b. Apa saja kendala yang dihadapi dalam menyelesaikan konflik pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ?

c. Apakah ada dari masyarakat yang melapor kepada bapak terkait dengan masalah pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ? d. Apakah sudah ada izin dari pemerintah terkait dengan masalah

pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ? 2. Pedoman wawancara untuk ketua KAN

a. Menurut bapak, apa hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan konflik pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ? b. Menurut bapa upaya apa saja yang harus di lakukan untuk

menyelesaikan konflik pertambangan emas di kangarian lubuk ulang aling ?

c. Menurut bapak, apa yang menyebabkan terjadinya konflik

pertambanga pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ? 3. Pedoman wawancara untuk investor

a. Apa saja upaya yang telah bapak lakukan untuk mengatasi konflik pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ?

b. Apakah dari pihak bapak sudah pernah memberikan solusi terkait konflik pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ? 4. Pedoman wawancara untuk kepala jorong

a. Apakah upaya yang telah dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan konflik pertambngan emas di kangarian lubuk ulang aling ?

b. Apakah dalam musyawara yang dilakukan masyarakat berjalan dengan lancar ?

5. Pedoman wawancara untuk tokoh masyarakat

a. Apa upaya yang telah bapak lakukan dalam menyelesaikan masalah pertambanagan emas di kangarian lubuk ulang aling ?

b. Menurut bapak apakah ada dari masyarakat yang berkerja sama dengan investor dalam pengelolahan usaha pertambangan emas di kanagarian lubuk ulang aling ?

c. Menurut bapak, bagai mana situasi yang terjadi dilapangan, apakah ada terjadi keributan ?

d. Menurut bapak apa yang menyebabkan terjadinya konflik di kanagarian lubuk ulang aling ?

6. Pedoman wawancara untuk ketua pemuda

a. Apa tindakan yang sudah dilakukan masyarakat terhadap keberadaan tambang emas di kanagarian lubuk ulang aling ?

b. Dan Upaya apa saja yang sudah dilakukan masyarakat ? 7. Pedoman wawancara untuk masyarakat

a. Sebagai pemilik lahan, apa tindakan yang ibuk lakukan terhadap kerusakan yang di akibatkan alat berat berupa escapator ?

b. Suda berapa lama bapak berkerja sama dengan investor dan bagai mana hasilnya ?

c. Sebelum berkerja sama deng investor apakah ada kesepakatan yang bapak lakukan ?

Dalam dokumen Iwan Saputra - ADOC.PUB (Halaman 71-82)

Dokumen terkait