BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Proses Pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan Pada Mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo
Sebagaimana isi dari tujuan proses pembelajaran Mata Kuliah Etika Profesi Keguruan mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo yakni membekali mahasiswa dengan konsep dasar etika profesi guru, etika profesi keguruan, dan konsep etika keguruan, hakikat dan kedudukan
28Lihat Transkrip Wawancara 04/W/25-01/2023
guru, serta kompetensi guru.Dengan demikian data tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya proses pembelajaran mata kuliah etika profesi keguruan ini diharapkan mahasiswa mampu menjadi guru professional dan dapat menghindari kesalahan yang sering dilakukan guru. Melalui mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu mengaktualisaikan peran guru dalam pembelajaran dan ketrampilan dasar mengajar yang bertujuan membimbing keberhasilan peserta didik serta meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penjabaran proses pembelajaran tersebut berdasar pada teori proses pembelajaran yang dijelaskan oleh Tim LPP Universitas Muhammadiyah Yogjakarta dan Idrus L dalam jurnalnya, terdapat rumusan yang berorientasi masa ke masa, proses pembelajaran harus bisa menentukan perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi. Konsep proses pembelajaran yang disarankan oleh Tim LPP Universitas Muhammadiyah Yogjakarta dan Idrus L diantaranya:29 Perencanaan ialah Rancangan Pembelajaran Semester (RPS). Pembelajaran Semester (RPS) merupakan susunan rencana proses pembelajaran dalam kegiatan belajar satu semester ke depan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dibebankan pada modul.
Pelaksanaan melalui beberapa tahap yakni pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran serta manajemen waktu pembelajaran. Evaluasi ialah pengukuran atau proses dalam mengetahui sejauh mana capaian keberhasilan yang telah dicapai mahasiswa dalam
29Tim Lembaga Pengembangan pembelajaran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LPP), Panduan Penyusunan Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) (Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2016), 4.
materi yang telah disampaikan, sehingga dengan adanya evaluasi ini pembelajaran terlihat akurat.
Kemudian ada teori yang berkaitan dengan penejelasan di atas.
Seperti yang sudah dibahas dalam bab II, dalam bukunya Siswanto mengutip pendapat Kattsoff bahwa etika pada dasarnya berkaitan dengan nilai bennar atau salah. Namun dalam pembahasan lain dan lebih khusus dijelaskan bahwa etika ini membahas tentang sebab seseorang bisa dikatan baik/sousila/sopan.30Kemudian makna profesi menurut Horby sebagaimana dikutip olehArif Setiawan Mbahwa secara leksikal profesi memiliki kandungan dua arti. Yang pertama, profesi menunjukkan dan mengungkapkan suatu rasa percaya dan yakin terhadap kredibilitas seseorang. Yang kedua profesi merujuk pada sebbuah pelayanan yang menuntut sebuah kemahiran, loyalitas dan tanggung jawab.31Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, profesi keguruan adalah pendidikan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.32
Dengan adanya temuan data serta relevansi teori-teori dari tokoh di atas dapat mendukung bahwasannya proses pembelajaran mata kuliah etika profesi keguruan pada mahasiswa PAI Angkatan 2019 setidaknya menerapkan proses pembelajaran yang jelas dan terarah. Apa yang ingin
30Siswanto, Etika Profesi Guru Pendidikan Agama Islam (Surabaya: Pena Salsabila, 2013), 12.
31 Arif Setiawan Masyhud, Profesi & Etika Keguruan (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2021), 2.
32Masyhud, Profesi & Etika Keguruan, 4-5.
dicapai pada proses pembelajaran mata kuliah etika profesi keguruan harus dilaksanakan sesuai dengan aturan proses pembelajaran mata kuliah tersebut dengan memulai dari proses perencanaan yang di dalamnya termaktub pemahaman mahasiswa pada RPS yang telah disiapkan oleh dosen mata kuliah. Kedua, pelaksanaan proses pembelajaran oleh mahasiswa jurusan PAI angkatan 2019. Ketiga, evaluasi yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan PAI Angkatan 2019 beserta dosen mata kuliah etika profesi keguruan setelah proses pembelajaran dilaksanakan.
Dengan demikian, jika dikaitkan dengan teori tersebut penjabaran proses pembelajaran mata kuliah etika profesi keguruan memang direncanakan dan bertujuan guna meningkatkan kompetensi mahasiswa calon guru PAI untuk mengajar, membimbing mahasiswa serta kualitas pembelajaran.
Jika dikaitkan proses pembelajaran mata kuliah etika profesi keguruan pada mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo, berikut analisis data yang didapat oleh peneliti meliputi:
a. Pada proses pembelajaran mata kuliah Etika Profesi Keguruan diawali dengan dosen membuat perencanaan sesuai dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Perencanaan tersebut dosen mata kuliah etika profesi keguruan memberikan kesempatan mahahasiswa untuk bertatap muka selama proses perkuliahan dibagi menjadi enam belas pertemuan. Dengan rincian pertemuan pertama adalah masa perkenalan mahasiswa dengan mata kuliah etika profesi keguruan.
pertemuan ke dua sampai ke tujuh adalah materi ajar bagi mahasiswa
kemudian di selang pertemuan ke-8 adalah UTS. Setelah itu dilanjutkan kembali pertemuan sembilan sampai lima belas dilanjutkan materi ajar kembali oleh mahasiswa sampai pada pertemuan enam belas adalah UAS. Adapun komponen penilaian yang dilakukan oleh dosen mata kuliah etika profesi keguruan dengan rincian antara lain adalah kehadiran dengan bobot 10%, powerpoint (kelompok) 20%, keaktifan/ partisipasi diskusi 15%, UTS 25% dan UAS 30%. Dari powerpint kelompok dan partisipasi mahasiswa bersumber dari pemberian tugas kelompok yakni adalah membuat makalah dari RPS sesuai dengan bahan ajar mata kuliah etika profesi keguruan. Jadi total keseluruhan komponen penilaian adalah 100%.
b. Pada proses pembelajaran kedua adalah pelaksanaan. Pada proses pelaksanaan pembelajaran perkuliahan mata kuliah ini, dosenjuga mengacu pada rencana pembelajaran semester (RPS) yang dilaksanakan secara daring. Pertemuan pertama bentuk perkuliahan menggunakan yakni presentasi, ceramah, diskusi dan tanya jawab.
Pertemuan kedua bentuk perkuliahan menggunakan jigsaw, ceramah dan tanya jawab. Pertemuan ketiga bentuk perkuliahan menggunakan presentasi dan everyone is a teacher. Pertemuan keempat bentuk perkuliahan menggunakan diskusi panel, tanya jawab dan ceramah.
Pertemuan kelima menggunakan bentuk perkuliahan active, knowledge dan sharing. Pertemuan keenam bentuk perkuliahan menggunakan presentasi dan tanya jawab. Pertemuan ketujuh bentuk perkuliahan menggunakan problem based learning dan diskusi panel.
Pertemuan kesembilan bentuk perkuliahan menggunakan presentasi.
Pertemuan kesepuluh bentuk perkuliahan menggunakan jigsaw.
Pertemuan kesebelas bentuk perkuliahan menggunakan presentasi dan curah pendapat. Pertemuan kedua belas bentuk perkuliahan menggunakan diskusi panel. Pertemuan ketiga belas bentuk perkuliahan menggunakan presentasi, ceramah dan tanya jawab.
Pertemuan keempat belas bentuk perkuliahan menggunakan active debate dan diskusi panel. Pertemuan kelima belas bentuk perkuliahan menggunakan presentasi, tanya jawab dan ceramah. Untuk pertemuan depalan digunakan untuk UTS dan pertemuan enam belas digunakan untuk UAS.
c. Pada proses pembelajaran ketiga adalah evaluasi. Pada proses evaluasi sesuai dengan RPS dosen Etika Profesi Keguruan menggunakan bentuk tes atau ujian yang tertuang pada Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) sebagaimana bentuk ujian ini dilakukan untuk mengetahui sekaligus mengevaluasi pemahaman mahasiswa PAI angkatan 2019 tentang materi-materi Etika Profesi Keguruan yang sudah disampaikan oleh dosen mata kuliah. Proses evaluasi pada mata kuliah etika profesi keguruan ini juga dengan memperhatikan keaktifan atau partisipasi diskusi oleh mahasiswa PAI angkatan 2019.
2. Peran Dosen Etika Profesi Keguruan Sebagai Pendidik, Panutan Serta Pembimbing Dalam Membina Etika Berpakaian Islami Pada Mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo
Seorang dosen Etika Profesi Keguruan memiliki tugas pokok yakni mengajar. Selain mengajar dosen bertanggung jawab terhadap mahasiswa yang menimba ilmu di IAIN Ponorogo. Dosen tidak hanya mengawasi perilaku, kedisiplinan, kerapian, sopan santun, kebersihan serta akhlak siswa dalam menggunakan pakaian, namun juga memberikan contoh terhadap masiswa agar dapat mencontoh guru yang berpakaian secara baik dan sesuai dengan syari’at
Dosen Etika Profesi Keguruan juga harus pandai dalam memainkan peran keguruannya yakni tugas utamanya adalah mengajar. Penjabaran tugas utama mengajar bagi seorang dosen Etika Profesi Keguruan tersebut berdasar pada teori milik Ali Mudlofir dalam bukunya yang berjudul
“Pendidik Profesional”. Dosen harus berperan dan menjalankan fungsinya dalam bertugas. Saat menjlankan tugas, dosen memiliki tugas utama yakni mengajar dimana hal tersebut memerlukan tanggung jawab yang cukup besar. Keberhasilan siswa sangat bergantung dari tanggung jawab seorang dosen dalam melakukan tugasnya. Gugru merupakan perantara yang diberi amanat dari orang tua untuk mendidik anaknya, sehingg memiliki tangung jawab atas hal tersebut.33
Adapun isi dari peran dosen Etika Profesi Keguruan yakni mengarahkan pada mahasiswa untuk berpakain sesuai dengan norma
33Ali Mudlofir, Pendidik Profesional (Jakarta: Rajawali Pres, 2013), 60.
kesopanan yang ada dimasing-masing tempat. meskipun tolak ukur kesopanan juga berbeda-beda. yang penting mahasiswa bisa berpakaian yang dianggap pantas oleh masyarakat sesuai dengan kondisi.Dengan demikian data tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya peran dosen Etika Profesi Keguruan bertujuan untuk mengarahkan mahasiswa untuk berpakaian sesuai dengan norma kesopanan.
Penjabaran peran dosen Etika Profesi Keguruan tersebut berdasar pada teori milik Hosaini dalam bukunya meliputi dosen sebagai pendidik yakni adalah dosen diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang disiplin ilmu yang harus diampu untuk transfer kepada mahasiswa. Dosen sebagai panutan adalah dosen diharapkan mampu menjadi sosok panutan yang memiliki nilai moral dan agama yang patut ditiru dan diteladani oleh mahasiswa. Dosen sebagai pembimbing adalah dosen diharapkan mampu memberikan arahan dan pembinaan karier mahasiswa sesuai dengan bakat dan kemampuan mahasiswa.
Mahasiswa jurusan PAI angkatan 2019 ini dalam hal berpakaian juga diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Etika berpakaian dikampus khususnya pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dijunjung tinggi dan diperhatikan etika dalam berpakaiannya. Selain mahasiswa bapak dan ibu dosen juga memeperhatikan cara berpakaian yang baik serta sesuai dengan syariat Islam. Ada macam-macam cara berpakaian orang serta cara berpakaian tersebut ada tempatnya sendiri- sendiri. Berpakaian juga seperti perlengkapan pribadi masuk dalam kategori penting dalam menunjukkan ekspresi seseorang.
Sebagaimana beberapa hal yang dapat dikaitkan dengan peran dosen etika profesi keguruan dan selanjutnya agar dapat di padukan antara teori dengan hasil penelitian seperti yang sudah dibahas pada bab II, dalam membina mahasiswa jurusan PAI di kampus, maka sepantasnya dosen etika profesi keguruan mengajarkan dan memberi suri tauladan mengenai cara berpakaian Islami kepada mahasiswa jurusan PAI dari mengenakan pakaian yang bertentangan dengan aturan di dalam agama Islam.
Membiasakan mahasiswa menggunakan pakaian yang lengkap serta menutup aurat, juga memberikan pemahaman terhadap rasa malu kepada mahasiswa apabila keluar rumah tidak menutup aurat. Melatih mahasiswa dan membiasakan mahasiswa dengan pakaian yang sesuai syariat islam.
Selain itu juga mengajarkan mahasiswa adab berpakaian dengan mndahulukan bagian kanan lalu membukanya dengan mendahulukan bagian kiri.34
Dengan begitu seorang dosen harus memainkan peran dan fungsinya dalam menjalankan tugas sebagai dosen. Jika dikakitkan dengan peran Dosen Etika Profesi Keguruan sebagai pendidik, panutan serta pembimbing dalam membina etika berpakaian islami pada mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN Ponorogo, berikut analisis data yang di dapat peneliti meliputi:
a. Dosen sebagai pendidik dalam membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa
34Muhammad Suwaid Ibn Hafidh, Cara Nabi Mendidik Anak, disertai dengan contoh- contoh Aplikatif dari Kehidupan Salafush Shalih dan Ulama Amilin, terj. Hamim Thohari (Jakarta:
AlI‟tishom, 2004), 403.
Data yang ditemukan penulis pada peran dosen Dosen Etika Profesi Keguruan sebagai pendidik tentu saja sebagai modal awal dosen dalam mentrasfer ilmu etika berpakaian Islami kepada mahasiswa. Dosen sudah menguasai materi tentang etika berpakaian Islami dan aturan etika berpakaian mahasiswa/i saat di kantor.
Kemudian, dosen juga mengimplementasikan dengan mengolaborasikan strategi dan metode mengajar yang akan digunakan dalam menyampaikan materi tersebut serta melaksanakan evaluasi dengan melaksanakan UTS dan UAS.
b. Dosen sebagai panutan dalam membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa
Data yang ditemukan penulis pada peran Dosen Etika Profesi Keguruan sebagai panutan adalah peran inti yang mana pada hal ini sikap dan perilaku dosen sangat berpengaruh pada mahasiswa. Sikap dosen dalam hal berpakaian tentunya menjadi role model yang akan digugu dan ditiru oleh mahasiswanya. Dengan demikian, hendaknya dosen wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam dan sesuai dengan aturan yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo sehingga mahasiswa memiliki rasa kurang percaya diri jika pakaian yang ia kenakan tidak sesuai atran yang ada di agama Islam sekaligus aturan yang ada di kampus.
c. Dosen sebagai pembimbing dalam membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa
Data yang ditemukan penulis pada peran Dosen Etika Profesi Keguruan sebagai pembimbing yakni dosen mampu memberikan arahan pada mahasiswa tentang bagaimana cara berpakaian Islami sesuai dengan aturan yang ada di agama Islam dan juga aturan yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo.
Kemudian dosen juga memberikan dorongan yang mampu membuat mahasiswa berbenah dan sadar diri tentang pakaian yang mereka kenakan baik di dalam kampus maupun di luar lingkungan kampus.
3. Problematika Dosen Etika Profesi Keguruan Dalam Pembinaan Etika Berpakaian Islami Mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo
Sebagaimana isi dari problematika Dosen Etika Profesi Keguruan problemnya adalah mahasiswa belum menyadari bahwa berpakaian secara sopan itu adalah perintah agama dan itu yang akan ditiru oleh anak didik. Mahasiswa belum menyadari sepenuhnya bahwa dirinya itu adalah pendidik masa depan yang harus menyiapkan diri dari sekarang.Dengan demikian dari data tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa belum memiliki rasa akan kesadaran dirinya menjadi seorang calon guru PAI yang mana etika berpakian mereka menjadi panutan bagi peserta didiknya.
Penjabaran problematika Dosen Etika Profesi Keguruan tersebut berdasar pada etika berpakaian mahasiswa Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Ponorogo. Dalam aturan berpakaian di FTIK ada larangan berpakaian mahasiswa saat di kelas atau di kantor untuk
mahasiswa laki-laki antara lain adalah memakai kaos oblong, baju sobek, sarung, topi dan sandal, memakai celana jeans atau denim, Berambut panjang dan mengecat rambut, Memakai aksesoris perempuan seperti gelang, anting, giwang, kalung dan ikat rambut, Memakai pakaian olahraga. Tidak hanya mahasiswa laki-laki saja, akan tetapi ada juga larangan berpakaian mahasiswa saat di kelas atau di kantor untuk mahasiswa perempuan meliputi: menggunakan celana jeans yang cukup ketat, menggunakan busana yang tembus pandang, memakai kaos serta beralas kaki tidak menggunakan sepatu.35
Dari sekian banyaknya mahasiswa jurusan PAI Angkatan 2019, tentunya banyak bentuk penyimpangan dalam berpakaian. Saat ini, banyak yang masih beranggapan bahwa busana Islami hanya sekedar menutup aurat saja, dan menganggap style dengan pakaian yang mengundang lirikan mata, celana pensil atau ketat dan jeans adalah biasa sehingga dianggap sudah menutup aurat. Kemudian banyak yang beranggapan bahwa dengan menutup aurat sudan berbusana islami.
Bahkan, pada saat ini banyak kejadian atau fenomena yang memperlihatkan penampilan kepala ditutupi, namun dada, pusar dan paha tetap dipamerkan atau berjilbab namun masih memperlihatkan lekuk tubuhnya atau bisa dibilang berpakaian tapi telanjang.
Beberapa kesalahan atau penyimpangan yang sering terlihat pada mahasiswa jurusan PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo walaupun mereka
35 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Etika Berpakaian Mahasiswa Saat Di Kelas/Kantor, tarbiyah.iainponorogo.ac.id.
telah mengaku bahwa dirinya telah berpakaian secara islami, namun sebenarnya mereka masih dalam kategori orang yang tidak menutup aurat karena masih memperlihatkan lekuk tubu, menggunakan pakaian yang tipis, warna yang mencolok, wewangian yang menyengat sehingga membuat orang lain tertarik untuk memandang..36
Melatih dan membiasakan mahasiswa dengan pakaian yang melambangkan syariat Islam memang adalah tugas berat bagi seorang dosen. Dosen Etika Profesi Keguruan terus menerus memotivasi mahasiswa jrursan PAI agar dapat berpakaian Islami seperti apa yang sudah diajarkan pada agama Islam. Selain itu bapak ibu dosen etika profesi keguruan juga mengajarkan pada mahasiswa batasan aurat untuk kaum laki-laki yang mana menurut Imam malik, Syafi’i dan Abu Hanifah, ketiga imam ini memberikan pendapatnya baahwa bagian aurat lelaki yang tidak diperbolehkan untuk dilihat adalah dari pusar sampai lutut. Pernyataan ini seharusnya sudah dijadikan landasan bagi lak-laki di kehidupan sehari-hari dalam beribadah maupun bersosialisasi dengan oranglain37
Selanjutnya bapak dan ibu dosen Etika Profesi Keguruan juga mengajarkan batasan aurat untuk kaum perempuan yang mana di dalam ilmu fiqih banyak ulama yang menyetujui bahwa aurat seorang wanita adalah seluruh anggota tubuh yang wajib ditutup kecuali wajah dan telapak tangan. Ini sudah menjadi kesepakatan oleh para ulama’. Tetapi ada yang
36Dayah Nurul Ilmi Aceh Besar, “Kontribusi Guru Pai Dalam Pembinaan Etika Berpakaian Islami Siswa Sman Kota Sabang,” Islam Futura, 14 (2015), 276.
37Muhammad Ulul Azmi, “Pengaruh Pembelajaran Akidah Akhlak Materi Akhlak Berpakaian Terhadap Etika Berbusana Muslim siswa Kelas XI MA Qodiriyah Harjowinangun, Dempet Demak Tahun 2019/2020,” Skripsi IAIN Kudus, 2020, 28.
berpendapat ulama Abu Bakar bin Abdurrahman dan Imam Ahmad mengemukakan bahwa seluruh anggota badan perempuan harus wajib ditutup.38
Dari data yang sudah dipaparkan di atas penulis dapat menganalisis bahwa aturan etika bepakaian yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo sudah sangat baik tetepi masih ada mahasiswa yang begitu tidak memperhatikan dan tidak mentaati aturan-aturan tersebut. Ada dua kategori mahasiswa yang melanggar etika berpakaian Islami pertama masih dijumpai mahasiswa yang melanggar dengan sengaja etika berpakaian Islami yang ada dikampus. Kedua, mahasiswa yang tidak menggunakan etika berpakaian Islami karena tidak mengetahui aturan etika berpakaian yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo. Mahasiswa PAI yang notabenya adalah calon guru agama Islam seharusnya sudah paham bagaimana cara berpakain sebagai guru PAI sebagaimana yang sudah diajarkan pada mata kuliah etika profesi keguruan pada materi tata cara berpakaian sebagai pendidik.
Peran dosen Etika Profesi Keguruan selain mengajar juga mempunyai tugas untuk mengarahkan mahasiswa apabila ada yang tidak sesuai dengan aturan yang ada di kampus salah satunya dalam hal etika berpakaian, sebagai dosen Etika Profesi Keguruan yang turut andil dalam membimbing mahasiswa dalam hal berpakaian, mereka memberikan motivasi pada mahasiswa PAI angkatan 2019 melaui diskusi dan
38Muhammad Ulul Azmi, “Pengaruh Pembelajaran Akidah Akhlak Materi Akhlak Berpakaian Terhadap Etika Berbusana Muslim siswa Kelas XI MA Qodiriyah Harjowinangun, Dempet Demak Tahun 2019/2020,”, 29.
memberikan contoh-contoh problem di dunia kependidikan, misalnya rendahnya etika siswa, kemudian menarik benang merah yaitu faktor- faktor penyebabnya, dan mengerucut pada peran guru yang merupakan tauladan. Untuk menjadi tauladan perlu pembiasaaan sejak menjadi mahasiswa jurusan PAI di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Sehingga mahasiswa dapat terpanggil hatinya untuk melakukan refleksi diri dan merencanakan perubahan-perubahan yang nantinya akan mereka lakukan ketika menjadi seorang guru.
Selayaknya peran dosen Etika Profesi Keguruan tentunya mereka berusaha menjauhkan mahasiswa dari pakaian yang bertentangan dengan aturan yang ada di agama Islam. Karena menurut Islam tidak diperbolehkan memakai pakaian yang tembus pandang dan lain sebagainya. Di lingkungan IAIN Ponorogo khususnya di FTIK juga tidak cocok mahasiswa memakai pakaian yang tembus pandang karena kampus tersebut adalah kampus yang Islam negeri yang berada di bawah naungan kementrian agama serta kampus tersebut juga berbau pondok yang biasa disebut mahad.
95
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang peran dosen etika profesi keguruan dalam membina etika berpakaian Islami pada mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN Ponorogo, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran mata kuliah Etika Profesi Keguruan pada mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN Ponorogo diawali dengan dosen membuat perencanaan sesuai dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Perencanaan tersebut dosen mata kuliah etika profesi keguruan memberikan kesempatan mahahasiswa untuk bertatap muka selama proses perkuliahan dibagi menjadi enam belas pertemuan. Dengan rincian pertemuan pertama adalah masa perkenalan mahasiswa dengan mata kuliah etika profesi keguruan. pertemuan ke dua sampai ke tujuh adalah materi ajar bagi mahasiswa kemudian di selang pertemuan ke-8 adalah UTS. Setelah itu dilanjutkan kembali pertemuan sembilan sampai lima belas dilanjutkan materi ajar kembali oleh mahasiswa sampai pada pertemuan enam belas adalah UAS. Adapun komponen penilaian yang dilakukan oleh dosen mata kuliah etika profesi keguruan dengan rincian antara lain adalah kehadiran dengan bobot 10%, powerpoint (kelompok) 20%, keaktifan/ partisipasi diskusi 15%, UTS 25% dan UAS 30%. Dari powerpint kelompok dan partisipasi mahasiswa bersumber dari pemberian tugas kelompok yakni adalah membuat makalah dari RPS sesuai dengan bahan ajar mata kuliah
etika profesi keguruan. Jadi total keseluruhan komponen penilaian adalah 100%.
2. Peran dosen Etika Profesi Keguruan dalam membina etika berpakaian mahasiswa PAI Angkatan 2019 IAIN Ponorogo dikatakan berhasil melalui lima peran dosen Etika Profesi Keguruan meliputi: dosen sebagai pendidik adalah modal awal dosen dalam mentrasfer ilmu etika berpakaian Islami kepada mahasiswa. Dosen sebagai panutan sebagai role model bagi mahasiswa/i dosen dapat mencontohkan sikap berpakaian Islami sesuai dengan aturan yang ada di agama Islam dan aturan yang ada di FTIK. Dosen sebagai pembimbing dosen mampu memberikan arahan pada mahasiswa tentang bagaimana cara berpakaian Islami sesuai dengan aturan yang ada di agama Islam dan juga aturan yang ada di FTIK. Dari ketiga peran dosen Etika Profesi Keguruan tersubut tentunya saling berkaiatan satu sama lainnya. Dengan begitu dosen Etika Profesi Keguruan mempunyai peran yang begitu penting dalam pembinaaan etika para mahasiswa baik dalam berucap, berperilaku, maupun berpakaian.
3. Problematika dosen Etika Profesi Keguruan dalam membina etika berpakaian islami mahasiswa PAI angkatan 2019 IAIN ponorogo antara lain pertama masih dijumpai mahasiswa yang melanggar dengan sengaja etika berpakaian yang ada dikampus dengan alasan kepentingan trend fashion dan life style; kedua, mahasiswa yang tidak menerapkan etika berpakaian Islami disebabkan karena tidak mengetahui aturan etika berpakaian yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo dan juga dikarenakan minimnya sosialisasi dari pihak kampus terkait etika berpakaian.