• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Berdasarkan pembahasan mengenai temuan yang ditemukan dalam penelitian, yaitu tentang wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng dan Wujud kesantunan tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng di kabupaten Bantaeng.

Penelitian tersebut dipertegas oleh pendapat Aslinda dan Syafyahya (2007:34) menyatakan apabila seseorang ingin mengemukakan sesuatu kepada orang lain, maka apa yang ingin dikemukakannya itu adalah makna atau maksud kalimat. Namun untuk menyampaikan makna atau maksudnya itu orang tersebut harus menuangkannya dalam wujud tindak tutur. Wujud adalah kegiatan komunikasi yang merupakan sebuah bentuk tindak tutur yang di dalamnya terdapat tuturan konkret.

Wujud tindak tutur yaitu bentuk tuturan yang digunakan penutur untuk menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Menurut Putrayasa (2009: 19) wujud tuturan berdasarkan modus (isi atau amanat) yang ingin disampaikan dibedakan menjadi tiga, yaitu Deklaratif, Interogatif, Imperatif.

Temuan mengenai wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng yang dipakai oleh masyarakat setempat yang berkontruksi imperatif, deklaratif, dan inetrogatif yaitu tindak tutur Perintah, tindak tutur Suruhan, tindak tutur permohonan atau harapan, tindak tutur ajakan, tindak tutur larangan, tindak tutur permintaan, Wujud

tindak tutur pembiaran, tindak tutur ucapan selamat. Sedangkan Temuan mengenai Wujud kesantunan tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng di kabupaten Bantaeng yaitu imperatif, deklaratif, dan ineterogatif. Temuan wujud tindak tutur yang berkonstruksi imperatif yang ditemukan oleh peneliti sebagai berikut: (i) Wujud kesantunan tindak tutur suruhan konstruksi imperatif; (ii) Wujud kesantunan tindak tutur perintah konstruksi imperatif; (iii) Wujud kesantunan tindak tutur permintaan konstruksi imperatif; (iv) Wujud kesantunan tindak tutur permohonan konstruksi imperatif; (v) Wujud kesantunan tindak tutur bujukan konstruksi imperatif; (vi) Wujud kesantunan tindak tutur ajakan konstruksi imperatif;

(vii) Wujud kesantunan tindak tutur larangan konstruksi imperatif. Temuan wujud tindak tutur yang berkonstruksi deklaratif yaitu sebagai berikut: (i) Wujud kesantunan tindak tutur suruhan konstruksi deklaratif; (ii) Wujud kesantunan tindak tutur perintah kontruksi deklaratif; (iii) Wujud kesantunan tindak tutur permohonan atau harapan konstruksi deklaratif; ( iv) Wujud kesantunan tindak tutur larangan konstruksi deklaratif; (v) Wujud kesantunan tindak tutur ajakan konstruksi deklaratif. Sedangkan Temuan wujud tindak tutur yang berkonstruksi interogatif yaitu sebagai berikut: (i) Wujud kesantunan tindak tutur perintah konstruksi interogatif; (ii) Wujud kesantunan tindak tutur permintaan konstruksi interogatif;(iii) Wujud kesantunan tindak tutur permohonan konstruksi interogatif; (iv) Wujud kesantunan tindak tutur ajakan konstruksi interogatif; (v) Wujud

kesantunan tindak tutur larangan konstruksi interogatif;(vi) Wujud Kesantunan tindak tutur Persilaan Konstruksi Interogatif.

Kesantunan berbahasa frekuensi pemakaiannya cukup tinggi. Hal ini didukung oleh situasi dan kondisi masyarakat dalam percakapan di lingkungan masyarakat Kabupaten Bantaeng. Kesantunan berbahasa ini hampir setiap saat muncul dalam beragam situasi. Hampir setiap aktivitas percakapan tersirat makna dengan berbagai macam situasi sehingga dapat dikatakan bahwa, semua jenis tersebut cukup mayoritas kemunculannya dalam komunikasi atau percakapan sehari-hari masyarakat Bantaeng.

Realisasi kesantunan berbahasa paling banyak terjadi dalam tindak tutur. Kesantunan merupakan ciri yang melekat pada tindak tutur. Tindak tutur merupakan tindakan yang mengharuskan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Tujuan tindak tutur tersebut berpeluang menciptakan perselisihan atau pemaksaan terhadap salah satu pihak dalam pertuturan. Untuk itu, pemilihan tuturan yang santun dapat dijadikan alat guna menghindari atau menghilangkan hal negatif yang dapat timbul dalam tindak tutur. Berdasarkan analisis di atas dapat dikatakan, kesantunan berbahasa tersebut cukup membuktikan bahwa kesantunan berbahasa sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengungkapkan pesan dan kesan, gagasan dalam percakapan. Hal ini berdasarkan realitas penggunaannya dalam masyarakat.

Beberapa penelitian kesantunan berbahasa cenderung menitikberatkan pada jenis tindak tutur. Hasil temuan wujud kesantunan dipertegas oleh Gunarwan (1992) mengkaji persepsi kesantunan bahasa Indonesia dalam beberapa kelompok etnik di Jakarta. Temuan dari penelitiannya mengungkapkan bahwa ketidaklangsungan dalam sebuah tuturan belum dapat dipastikan sebagai bentuk kesantunan berbahasa.

Ketiga, strategi merealisasikan kesantunan bersifat bebas. Artinya, penutur dapat mengkreasikan bahasa untuk mencapai kesantunan berdasarkan kemampuan berbahasa dan kebudayaan yang dimilikinya.

Faktor kebahasaan bertumpu pada kemampuan memilih kata yang tepat Di sisi lain, faktor budaya bertolak dari sifat-sifat kebudayaan tertentu. Apa yang dianggap santun dalam pendukung budaya tertentu belum tentu dianggap santun oleh pendukung budaya lainnya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap data hasil penelitian wujud Tindak Tutur Bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng yaitu Wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng berkonstruksi imperatif, deklaratif dan interogatif. Dan wujud kesantunan tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng dapat diwujudkan dengan konstruksi imperatif, konstruksi deklaratif dan konstruksi interogatif.

Penelitian ini bertujuan Mendeskripsikan wujud tindak tutur dan wujud kesantunan tindak tutur berbahasa Indonesia dalam kontruksi Imperatif, deklaratif, dan Interogatif dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng.

Kesantunan berbahasa lazim digunakan dalam tindak tutur. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menyertai proses komunikasi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat tersebut. Misalnya, faktor tujuan pembicaraan, topik pembicaraan, situasi pembicaraan, dan lingkungan percakapan di mana komunikasi tersebut berlangsung. Hal ini dapat dipahami dengan jelas bahwa kedua faktor tersebut saling menunjang sehingga saling kait-mengait ketika menyertai tuturan.

Dari hasil temuan pada data menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa cukup difungsikan oleh masyarakat ketika melakukan aktivitas percakapan atau komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa kesantunan berbahasa tersebut merupakan salah satu bagian dari kesaharian masyarakat Kabupaten Bantaeng. Topik-topik pembicaraan yang dimunculkan oleh masyarakat turut mendukung munculnya jenis kesantunan berbahasa.

Dalam penelitian ditemukan beberapa wujud tindak tutur dan wujud kesantunan berbahasa maka dapat disimpulkan bahwa dialek Kabupaten Bantaeng terdapat berbagai macam tindak tutur dan kesantunan berbahasa maka dengan penelitian inilah menununjukkan bahwa dialek Bantaeng adalah salah satu dialek yang juga memiliki kesantunan berbahasa yang ada di Indonesia .

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap data hasil penelitian wujud Tindak Tutur Bahasa Indonesia dialek Bantaeng Kabupaten Bantaeng maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng berkonstruksi imperatif, deklaratif dan interogatif. Wujud tindak tutur tersebut memiliki bagian-bagian seperti wujud tindak tutur perintah, wujud tindak tutur suruhan, wujud tindak tutur permohonan atau harapan, wujud tindak tutur ajakan, wujud tindak tutur larangan, wujud tindak tutur permintaan, wujud tindak tutur pembiaran, wujud tindak tutur ucapan selamat. Dilihat dari tindak tutur ketiga konstruksi tersebut maka yang berkontruksi imperatif memiliki nilai kesantunan yang lebih rendah jika dibanding dengan tindak tutur yang berkonstruksi deklaratif dan interogatif. Hal ini menyebabkan tindak tutur berkonstruksi deklaratif dan interogatif memiliki nilai kesantunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tuturan berkonstruksi imperatif.

2. wujud kesantunan tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng dapat diwujudkan dengan konstruksi imperatif, konstruksi deklaratif dan konstruksi interogatif. wujud kesantunan tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng terbagi menjadi:

142

(a) Wujud kesantunan berkonstruksi imperatif bahasa Indonesia dialek Bantaeng terbagi menjadi: (i) Tindak tutur suruhan, (ii) Tindak tutur perintah, (iii) Tindak tutur permintaan, (iv) Tindak tutur permohonan, (v) Tindak tutur bujukan, (vi) Tindak tutur ajakan, (vii) Tindak tutur larangan.

(b) Wujud kesantunan berkonstruksi Deklaratif bahasa Indonesia dialek Bantaeng terbagi menjadi: (i) Tindak tutur suruhan, (ii) Tindak tutur Perintah, (iii) Tindak tutur Permohonan, (iv) Tindak tutur ajakan, (v) Tindak tutur Larangan.

(c) Wujud kesantunan berkonstruksi Interogatif bahasa Indonesia dialek Bantaeng terbagi menjadi: (i) Tindak tutur Perintah, (ii) Tindak tutur permintaan, (iii) Tindak tutur permohonan, (iv) Tindak tutur ajakan, (v) Tindak tutur larangan, (vi) Tindak tutur persilaan.

B. Saran

Saran yang dapat penulis berikan sehubungan dengan penelitian ini adalah sebahai berikut.

1. Peneliti mengharapkan agar peneliti berikutnya mengenai penelitian terhadap wujud tindak tutur dan wujud kesantunan bahasa Indonesia dialek Bantaeng perlu dikaji lebih mendalam dan lebih luas karena masih banyak hal-hal lain yang belum terungkap temuan hasil penelitian tindak tutur ini dapat ditindaklanjuti dengan penelitian yang sama dalam skala lebih besar.

2. Disarankan agar peneliti lain mengkaji secara rinci wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng dengan menggunakan teori yang berbeda dan melakukan pengkajian selanjutnya seperti aspek interpersonal lainnya sehingga hasil yang didapat lebih bervariasi.

Dengan diadakannya penelitian yang berkaitan dengan masalah ini diharapkan dapat membuka wawasan mengenai bahasa Indonesia dialek Bantaeng, sehingga pengetahuan terhadap bahasa Indonesia dialek Bantaeng tidak hanya terfokus pada masalah yang peneliti yang dikaji ini. Melalui penelitian yang serupa juga dapat menggali nilai-nilai budaya yang terdapat pada masyarakat Bantaeng, karena bahasa merupakan cermin budaya dan menjadi salah satu ”jendela” untuk mengenal lebih jauh budaya yang ada pada etnis tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, 2002. Kesantunan Bentuk Imperatif Masyarakat Arab di Kota Surakarta Jawa Tengah: Studi Pragmatik, Kesantunan Imperatif dalam Bahasa Jawa Dialek Surabaya: Analisi Pragmatik. Tesis.

Surabaya: Universitas Airlangga.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 1998. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Aslinda dan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik.

Bandung:PT. Refika Aditama.

Austin, J.L. 1962. How to Do Thing with Words. London: Oxford University Press.

Bloomfield,Leonard.1933.Language.New York:Holt,Rinehat and Winston.

BPS. 2010. Kabupaten Bantaeng. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan.

Brown, Penelope dan S.C. Levinson. 1978. ‘Universals in Language Usage: Prolinteness phenomena’, dalam N. Goody (ed.) Questions and Politiness. Cambridge: Cambridge University Press.

Chaer, Abdul. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dewi, A.C.Kusuma dkk. 2013. Tuturan Remaja di Kalangan Pelajar Anak Multietnis (Indonesia-Asing) pada SMP Swasta Se-Kecamatan Kuta, Badung : Sebuah Kajian Kesantunan dalam Tindak Tutur.

Journal. Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Djajasudarma, Fatimah T. 2006. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung : Refika Aditama.

145

Fishman, Joshua. 1975. Sociolinguistics, A Brief Introduction.

Massachusetts: Newbury House Publishers.

Fraser, B. 1978. Acqiring Social Competence in a Second Language.

RELC Journal.

Gazdar, Gerald. 1979. Pragmatics: Implikature. Presupposition and Logical Form. New York: Academic Press.

Grice, Paul H. 1975. ‘Logic and Conversation’ dalam Cole Peter dan J Morgan (ed.) Syntax and Semantics: Speech Acts. New York:

Akademi Press.

Gumperz, J.J. 1971. Language in Social Groups. Stanford: Standford University Press.

Gunarwan, Asim. 1992. Persepsi Kesantunan Direktif di dalam Bahasa Indonesia di antara /Jeberapa Kelompak Etnis di Jalc.arta. Di dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.). PELLIJA 5: Bahasa Budaya. 179- 215. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Alma Jaya.

Gunarwan, Asim dkk. 1994. Pragmatik: Pandangan Mata Burung dalam Mengiringi Rekan Sejati Festschrift: Buat Pak Ton. Jakarta: Unika Atma Jaya.

Hambali. 2002. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Diktat. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Halliday, M.A.K. 1972. Explorations in the Function of Language. London:

Edward Arnold.

Jamilatun. 2011. Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif pada Rubrik Kriing Solopos (Sebuah Tinjauan Pragmatik. Tesis. Fakultas Sastra dan seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ainurrahma, Isti. 2013. Ragam Bahasa dan Strategi Tindak Tutur Pedagang Asongan di Terminal Minak Koncar Kabupaten Lumajang. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Kridalaksana, Harimurti. 2008.Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Labov, William. 1972. Sosiolinguistik Patindak tuturerns. Oxford: Basil Blackwell.

Lakoff, Robin. 1972. ’Language in Context’. New York: Harper and Row Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Diterjemahkan oleh

M.D.D. Oka; Pendamping Setyadi Setyapratama. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia ( UI-Press).

Levinson, Stephen C. 1997. Pragmatics. Great Britain: Cambridge University Press.

Lyons, John (ed.). 1970. New Horizons in Linguistics. Harmondsworth:

Penguin Books Ltd.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Muhajir, Noeng. 1996. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:

Rakesarasin.

Mujiyono Wiryationo.1996. Implikatur Percakapan Anak Usia Sekolah Dasar. Malang: IKIP Malang.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya).

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Mengembangkan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.

Pranowo. 1998. Fungsi Komunikatif Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam Konteks Kedwibahasaan Kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta. Disertasi. Malang: IKIP.

Putrayasa, Ida Bagus. 2009. Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia.

Bandung: PT Refika Aditama.

Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia, Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.

Rohmadi, Muhammad. 2004. Pragmatik: Teori dan Analisis. Yogyakarta:

Lingkar Media.

Rostina. 2008. Dindak Tutur dalam Interaksi Sosial di Pasar Tradisional Aksara.Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press.

Sitindaon. 1984. Pengantar Linguistik dan Tata Bahasa Indonesia.

Bandung: Pustaka Prima.

Sperber, dan Deidre Wilson. 1989. Relevance: Communication and Cognition. Oxford: Basil Blackwell.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Suyono. 1990. Pragmatik, Dasar-dasar dan Pengajarannya. Malang:YA3 Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to

Pragmatics. London/New York: Longman.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik.

Yokgyakarta: Pustaka Pelajar

Yule, George. 1996. Pragmatik. Oxford: Oxford University Pres.

Yule, George.2006. Pragmatik. (Terjemahan Indah Fajar Wahyuni).

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

DI KABUPATEN BANTAENG

Rekaman 1

(Talle Desa Bonto Tappalang, 10 April 2014)

Hadi :“Tidak ada orangkah disini di rumahyya? Ruangan seperti kapal pecah saja, berantakan. Percuma ji ada anak perempuan, kalau aku jie kerjai semuana

Ika : Pulangmaki, m’ma?

Hadi : Apanu kerja semua?

Ika : tidak ada ji.

Hadi : “Bersihkangi juga rumayya! Panci, piring semuana na.”

Hasni : kenapami m’makku e marah-marah terus

Rekaman 2

(Talle Desa Bonto Tappalang, 15 April 2014)

A.Mardani : Dhila ambilkansaika sapu di dalam di dapurka Dhila : Nontonka ma’

A.Mardani : cepatmi

Rekaman 3

(Talle Desa Bonto Tappalang, 15 April 2014)

A.Odang (Ayah) : Minungi obat ta! Supaya cepat ki sembuh. Cepat sehat main-main lagi sama teman Ta.

Zulfikar (Anak) : Pahit dee tidak mauja.

Dhila (Sepupu) : Ka pahit memang kalau obat itu ia pintar tapi cepat ki sembuh.

Fika (Anak) : ki ambil mi pale’

Rekaman 5

(Talle Desa Bonto Tappalang, 21 April 2014)

Ibu Uni : Tidak sakit itu matanu lihat sampah? Kan bisa ji kalian buang sampahna ke tempat sampah. Enaki to nu lihat kalau bersih i.

Siswa : “Iya Bu”

Rekaman 6

(Talle Desa Bonto Tappalang, 23 April 2014)

A.Abd.Malik (Kades) : “Jam 09.00 ada rapatku di Rujab. Apa ada surat mau ditandatangani?”

Sekdes :“Tunggumi pak saya antar ke ruangan ta.”

Rekaman 7

(Talle Desa Kaloling, 23 April 2014)

Hera : Sakit perutku...

Ria : “Coba ki minum obat yang dikasih dokter! Pasti sakit perut ta sembuh i.”

Neni : Begitu memang kalau cacingangi orang.

Rekaman 8

(Benteng Bola Desa Bonto Tappalang, 23 April 2014)

Kasmi : “Makanma ki! Anggaplah rumah ta sendiri ji!”

Ani : iya bu sinimaki juga makan.

Hayati : Nanti pi de ka sibuka nde’

Ika : Kalau hari lebarangi pale nanti, sempatkangi waktu ta na datang ke rumahku nde’

Rekaman 10

(Talle Desa Bonto Tappalang, 27 April 2014)

Ridwan : Sakit gigi ta Pak? Yang ku tahu itu saya ada dijual di apotik, obat sakit gigi bagus dapat meringankan sakit gigi tapi ada ji juga ituiyya dijual di rumahna H. Mansur .

Sanneng : iya sakit ki ini.

Rekaman 11

(Talle Desa Bonto Tappalang, 29 April 2014)

Ibu Ani (Guru) : Ini anak e nakal mentong na kasih menangis lagi temannya ku kasi tau lasso bapakmu.

Ikka’ (Siswa) : “Saya mohon Bu, janganki laporka di orang tua ku. Nanti na marahika.

Rekaman 12

(Talle Desa Bonto Tappalang, 29 April 2014) Ida : kenapai Fira?

Jumra : Sakit ki perutna dari tadi malam ji Ida : sudahmi diobati?

Jumra : Iye. Mudah-mudahan cepat jie sembuh

Udding : Sinimaki saya boncengki.

Rekaman 14

(Kantor Desa Bonto Tappalang, 1 Mei 2014)

Sukma : Ika, Maaf nde’ teamanisaika bersihkangi ruanganga. karena untuk kita juga jie.”

Ika : Ayo mi de

Rekaman 15

(Pamanca Desa Bonto Tappalang 1 Mei 2014) Cucu (Hasni) : “Lapar sekalima!”

Kakek (Sanin) : Makanma ki nak

Hasni : Daeng, makan e! Sudah laparma saya nde’.

Iwan (cucu) : Makan duluanmako kalau laparmako.

Rekaman 16

(Kota Bantaeng, 1 Mei 2014)

Sinar : Ayo e di panggilmi itu mobilka de!”

A.Asseng : panggilmi pae supaya cepatjaki sampai dirumah.

Rekaman 17

(Banyorang, 1 Mei 2014)

Ramlah : “Daeng, mau ki makan baksona mas tapa?”

Isra : Janganmi de ka kenyang ja ini nde’

Rekaman 18

(Talle Desa Bonto Tappalang 2 Mei 2014)

A.Mardani (Tante) : Janganmaki bawa itu tas! Sayamo bawaki!”

Tenri : Biarmi Etta saya bawaki bisaja

lagi ditunda nde’ pergi menagi pajak.

Adi : Siapa seng bilang mau berakhirmi? Na desa Balumbung belumpi ada menagi ia

Ani : Kenapa na Balumbung mau diliat tidak malu-malu ki kalau kita peringkat terakhir setor di BRI.

Rekaman 20

(Talle Desa Bonto Tappalang 3 Mei 2014)

A.Asseng : Dek, janganki main-main api di sana! Nanti kebakaran Fira : Tidak jie

Rekaman 21

(Talle Desa Bonto Tappalang 3 Mei 2014)

Hadi (Ibu) : Baruko pulang kenapa nulama sekali Ika : Baru jam 9 ini

Hadi (Ibu) :Tidak baik itu do’ kalau anak perempuan ke luar rumah kalau larut malangi.

Rekaman 22

(Talle Desa Bonto Tappalang 5 Mei 2014)

Odding (Sopir) :Siapa-siapa mau pergi antar pengantin? Naikmaki di mobilka.

Pengantar pengantin : Ia Tunggumi

Rekaman 23

(Benteng Bola Desa Bonto Tappalang 5 Mei 2014)

Sanneng : “Ndik, bisaki antarka ke terminal Banyorang? Mauka ke kantor pertanian haruska cepat,baru motorku rusaki

Aco’ : Iye bisa ji ki tunggumi pergika dulu ambil jaketku

anakku belumpi kubelikan baju. Tolong e usahakangi dulu uangku yang kau pinjam.”

Asri : Bagaimana itu di tidak adapi uangku Ua’(panggilan kemenakan kepada paman/kakek)

Rekaman 25

(Talle desa Bonto Tappalang 7 Mei 2014)

Ibu Rohani : Disampaikan kepada kelas ini siapa berani tidak nakerja tugasna, nanti tahu rasa

Siswa : Ia Bu.

Rekaman 26

(Talle desa Baruga, 7 Mei 2014)

Echa (Istri) : “Bisa ki antarkan do’ ke rumahna nenek sebentar jie ? Adi (Suami) : Ayo mi ma’

Rekaman 27

(Talle desa Bonto Tappalang, 7 Mei 2014)

Jummi : Tidak bisami lagi ditundakah tante? nanti lusa baru ku bantukin nde.

tante kulupai betul ki bilang mauki pergi panen jagung

Rahma : Biarmi pergimako dulu pulangpako dari sana baru ke rumah

Rekaman 28

(Kelurahan Campaga, 7 Mei 2014)

(Suami): “Ada uang ta Ndik? Tidak ada uang kecilku untuk beli rokok.”

Muharni : Ini

A. Fira : Sini biarmi sayapi bantuki bawaki!

Rekaman 30

(Talle Desa Labbo 8 Mei 2014)

Baco’ (Tukang Ojek) : “Biarmi Bu! Nanti sayapi yang bawakan ki tas ta.”

Andi Ani : Makasih pae’

Rekaman 31

((Talle desa Bonto Tappalang 8 Mei 2014)

Rahma : Ika, ada mau nu pergi i?

Ika : iye, tidak ji

Rahma : Antarsaika ke terminal Banyorang!

Rekaman 32

(Talle desa Bonto Tappalang 8 Mei 2014)

A.Mardani (Ibu) : “Dimana semuai pisau?”

Dhila : “Tunggumi Mak, ku ambilkan ki!”

Rekaman 33

(Talle desa Bonto Tappalang 11 Mei 2014)

Ika : “Apa yang mau dimakan ini nde’? Cobana ada yang bawa sesuatu, kan enak juga di.”

Ani : Besokpi ku bawa dodol kacang pintar. Kemarin sudah buat mamaku di rumah .

pulang ki na!

Nita : Insya Allah

Rekaman 35

(Lalijangan desa Bonto Tappalang 11 Mei 2014)

Jumra : Inimi ini merokok lagi

Idil : “Bu, janganki laporka di orang tua ku. na marahik nanti nde’.

Rekaman 36

(Benteng Bola desa Bonto Tappalang 13 Mei 2014)

Awal : Ira,ada jie kakek di rumah? sampaikangi na ucapan selamatku sama beliau

Ira : Ada ji kak, iye nanti kusampaikangi

Rekaman 37

(Talle desa Bonto Tappalang 17 Mei 2014)

Ida (Ibu) : Maaf di nak, bisaki bantuka do’ Bersihkangi juga rumayya!

Pekarangan sama kolonga.

Fika (anak) : Ada kukerja mama

Rekaman 38

(Talle desa Bonto Tappalang 17 Mei 2014)

Ridwan : Selamat na atas kejuaraan ta kemarin!

A.Awal : Iya, Makasih saudara

pergi di pantai marina.

Dhila : Seriuski mama?

Ibu : Ia seriuska tapi kasih habis dulu nasi Ta

Rekaman 40

(Talle desa Bonto Tappalang 21 Mei 2014)

Jaharia : “Janganki dulu duduk! ku bersihkangi dulu.”

Andri : kenapaika?

Jaharia : kotorki nanti baju ta

Rekaman 41

(Talle desa Bonto Tappalang 21 Mei 2014)

A.Abd.Malik :Tenangi itu kerja orang de kalau bersih i tempat kerjayya diliat, Seperti kata orang tua (pepatah) Kebersihan adalah separuh dari iman.

Henri : Ia pak nanti sebentar disiram racun

Rekaman 42

(Talle desa Bonto Tappalang 22 Mei 2014)

Hasni (Kemenakan) : Besok mau sekalika pergi di rumah Ta de tante bermalam

Isra (Tante) : tidak adaji melarang datang saja Hasni (Kemenakan) :Tungguika pale besok

mamaku ke Dampang.”

Ridwan : Pergimako ambil ki kuncina di rumayya ada jie itu dimeja

Rekaman 44

(Talle desa Bonto Tappalang 26 Mei 2014)

Uni : Ki matikan mi lampua do’ terang jie Saeda : Ia die

Rekaman 45

(Talle desa Bonto Tappalang 26 Mei 2014)

A.Nanna : Berat itu! Nanti jatuh ki

Zul : Siapa bilang jatuhka na tidak ji

Rekaman 46

(Talle desa Bonto Tappalang 11 Juni)

Ismail : Hore Goool

Na’ing : Siapa saja yang pemenanna sebentar? Selamat nah Ilham : Nakke Argentina tetap andalanku.

Rekaman 47

(Talle desa Bonto Tappalang 13 Juni 2014)

Ika : “Siapa mau pergi?ada pameran di pantai Seruni lasso, ada bede artis besok malam mau datang, Wali. Tapi malaska de pergi tidak ada kutemani de.”

Hayati: “mau pergika saya mauki ikut, baku boncengmaki pintar”.

Ika : “Seriusjaki ka?”

Hayati: Ia nde’ seriusja.

Dalam dokumen Wujud Kesantunan Tindak Tutur Bahasa Indonesia (Halaman 153-158)

Dokumen terkait