BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Wujud Tindak Tutur Bahasa Indonesia Dialek
makna pragmatiknya, yaitu makna yang demikian dekat dengan konteks situasi tutur yang melatarbelakangi munculnya tindak tutur. Pembahasan mengenai wujud kesantunan berbahasa Indonesia yaitu wujud kesantunan yang menyangkut tindak tutur yang terdapat di dalamnya.
Berikut ini adalah pembahasan kedua masalah tersebut.
1. Wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng
Wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng yang dimaksud di sini adalah realisasi maksud tindak tutur dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng dikaitkan dengan konteks situasi tutur yang
79
melatarbelakanginya. Oleh karena itu makna pragmatik tuturan yang seperti ini sangat ditentukan oleh konteksnya.
Wujud tindak tutur berbahasa Indonesia dialek Bantaeng tidak selalu berkontruksi imperatif. Dengan kata lain wujud tindak tutur dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng dapat berupa konstruksi imperatif dan nonimperatif. Wujud tindak tutur yang berkonstruksi nonimperatif di sini adalah wujud tindak tutur berkonstruksi deklaratif dan interogatif. Dari data yang terkumpul pada penelitian ini diketahui ada beberapa macam makna tindak tutur pada bahasa Indonesia dialek Bantaeng. Makna tindak tutur tersebut adalah suruhan, perintah, permintaan, permohonan/harapan, bujukan, ajakan, dan larangan. Makna tindak tutur tersebut dapat diwujudkan dengan kontruksi imperatif maupun tuturan nonimperatif.
Disebut kontruksi imperatif karena tindak tutur tersebut diwujudkan dengan konstruksi imperatif. tindak tutur yang berkonstruksi imperatif ini disebut juga dengan imperatif langsung, sedangkan tindak tutur yang tidak diwujudkan dengan konstruksi imperatif disebut tindak tutur nonimperatif.
tindak tutur ini diwujudkan dengan konstruksi deklaratif dan interogatif.
tindak tutur nonimperatif makna pragmatiknya dapat diketahui melalui konteks situasi tutur yang melatarbelakanginya. Pembuktikan makna yang terkandung dalam tuturan menggunakan teknik parafrasa yang lazim digunakan dalam analisis linguistik. Teknik parafrasa adalah perubahan bentuk wujud dari konstruksi imperatif menjadi konstruksi deklaratif dengan tanpa merubah makna. Penggunaan teknik ini dikarenakan
konstruksi imperatif mempunyai kesamaan atau kesejajaran dengan konstruksi deklaratif dan interogatif. Berikut ini adalah uraian mengenai wujud tindak tutur bahasa Indonesia dalam dialek Bantaeng.
a. Wujud Tindak Tutur Perintah
Wujud Tindak Tutur Perintah adalah tuturan yang digunakan oleh penutur untuk Suruhan mitra tutur agar melakukan sesuatu. Dalam wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng tindak tutur perintah ada yang berkonstruksi Imperatif dan ada berkonstruksi deklaratif dan Interogatif. Wujud tindak tutur perintah konstruksi Imperatif dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng terdapat pada Tindak Tutur tuturan berikut.
1) “Bersihkangi juga rumayya! Panci, piring smuana na.” (BTP, 15 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang Ibu kepada anaknya. Pada saat Ibu pulang dari kebun, ia melihat rumahnya dalam keadaan berantakkan. Ia merasa kesal karena sang anak hanya nonton TV saja.
2) “Dhila ambilkansaika sapu di dalam di dapurka” (BTP, 15 April 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh Ibu rumah tangga kepada anaknya saat melihat sampah di teras rumah
3) “Minungi obat ta! Supaya cepat ki sembuh. Cepat sehat main-main lagi sama teman ta” (BTP, 15 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan seorang ayah kepada anaknya yang mengeluhkan sakit kepala agar sang anak minum obat dan cepat sembuh.
4) “Antarsaika ke terminal Banyorang!” (BTP, 8 Mei 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang remaja kepada tetangga rumahnya yang sedang mangkal di persimpangan jalan.
Ketiga tindak tutur tersebut adalah bagian dari wujud tindak tutur bahasa Indonesia dialek Bantaeng wujud tindak tutur perintah berkonstruksi imperatif ini dapat diketahui dengan memperhatikan konteks situasi tutur yang melatarbelakangi tuturan. Sedangkan Untuk membuktikan bahwa tindak tutur ketiga tuturan tersebut adalah wujud tindak tutur perintah berkonstruksi imperatif, maka digunakan teknik parafrasa. Teknik parafrasa di sini adalah merubah konstruksi imperatif menjadi konstruksi deklaratif, sehingga tindak tutur di atas berubah menjadi sebagai berikut.
(1) Seorang Ibu memerintahkan anaknya untuk membersihkan rumah.
(2) Seorang Ibu memerintahkan anaknya untuk ambil sapu di dapur (3) Seorang Ayah memerintahkan anaknya untuk minum obat agar
cepat sembuh.
(4) Seorang remaja memerintahkan temannya untuk mengantarkannya keterminal Banyorang.
Perubahan konstruksi imperatif menjadi deklaratif ternyata tidak terdapat perubahan makna.
Tuturan (1) pada intinya mengandung makna bahwa ada seorang Ibu yang memerintahkan kepada anaknya untuk membersihkan rumah.
Tuturan (2) mengandung makna adanya seorang Ibu memerintahkan anaknya untuk ambil sapu di dapur.
Tuturan (3) mengandung makna tentang adanya Seorang Ayah memerintahkan anaknya untuk minum obat agar cepat sembuh.
Tuturan (4) mengandung makna tetang adanya Seorang remaja memerintahkan temannya untuk mengantarkannya keterminal Banyorang.
Hal ini membuktikan bahwa tuturan tersebut adalah wujud tindak tutur perintah berkontruksi Imperatif. Dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng, terdapat pula tindak tutur wujud perintah yang tidak diwujudkan dengan konstruksi imperatif tetapi diwujudkan dengan kontruksi nonimperatif. Tuturan seperti ini disebut dengan tindak tutur berkontruksi deklaratif dan interogatif. Makna tuturan ini dapat diketahui dengan memperhatikan konteks situasi tutur yang melatarbelakangi tuturan.
Berikut ini adalah wujud tindak tutur perintah berkonstruksi deklaratif dan interogatif dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng.
5) “Tidak sakit itu matanu lihat sampah? Kan bisa ji kalian buang sampahnya ke tempat sampah. Enak to melihatnya jika bersih.” (BTP, 21 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang guru kepada siswa ketika melihat ruangan kelas kotor.
Tindak tutur bagian (5) tidak berkontrusi imperatif melainkan berkonstruksi interogatif dan deklaratif, namun tuturan ini adalah wujud tindak tutur perintah. Hal ini dapat diketahui dengan melihat situasi tutur.
Tuturan ini disampaikan oleh seorang guru kepada siswa pada saat ia
melihat keadaan kelas yang kotor. Guru mengatakan bahwa sampah yang ada di ruangan kelas sebenarnya dapat dibuang di tempat sampah. Jika hal ini terjadi, maka mata akan menjadi terasa enak melihat kelas karena kelas bersih.
Dengan memperhatikan situasi tutur, maka tuturan ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah perintah dari seorang guru kepada siswanya agar membuang sampah di tempat sampah. Salah satu penyebab kelas menjadi kotor adalah karena sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.
Seharusnya sampah dibuang di tempat sampah.
Jika tuturan (5) dituturkan pada situasi tutur kelas yang bersih maka tuturan ini bukan bermakna tindak tutur perintah, melainkan hanya berupa pertanyaan seorang guru kepada muridnya mengenai keadaan mata mereka jika melihat sampah tidak dibuang pada tempatnya, informasi dari guru bahwa sampah harus dibuang di tempat sampah dan informasi bahwa ruangan kelas yang bersih akan enak dipandang mata.
6) Tidak ada orangkah disini di rumayya? Ruangan seperti kapal pecah saja, berantakan. Percuma ji ada anak perempuan, kalau aku jie kerjai semua.”(BTP, 10 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang ibu kepada anak-anak gadisnya yang ada di rumah. Tuturan ini terjadi ketika pada sore hari sang ibu baru pulang dari kebun. Ia merasa kesal karena rumahnya berantakan. Padahal ia mempunyai beberapa anak gadis yang seharusnya dapat membersihkannya.
Tindak tutur bagian (6) juga tidak berkonstruksi imperatif, tetapi interogatif dan deklatatif, namun tuturan ini adalah wujud tindak tutur
perintah. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan situasi tutur.
Tuturan ini disampaikan oleh seorang ibu yang sedang kesal kepada anak gadisnya. Kekesalan ibu disebabkan karena ketiga anak gadisnya tersebut membiarkan rumahnya berantakan dan kotor tidak ada satupun dari mereka yang mau membereskan rumah tersebut. Padahal sudah sepantasnya jika seorang anak gadis membantu orang tua untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Salah satu pekerjaan rumah itu adalah membersihkan. Dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat ditafsirkan tuturan ini sebagai sebuah suruhan dari seorang ibu kepada anak gadisnya untuk membersihkan rumah. Namun perintah ini disampaikan secara tidak langsung.
7) Kepala desa : “Jam 09.00 ada rapatku di Rujab. Apa ada surat mau ditandatangani?” (BTP, 23 April 2014)
Sekdes :“Tunggumi pak saya antar ke ruangan ta.”
Informasi Tuturan:
Dituturkan kepala desa kepada para staf di kantornya yang belum mengantarkan surat-surat yang harus ia tandatangani.
Tindak tutur yang dituturkan oleh kepala desa berkonstruksi deklaratif dan interogatif. Tuturan ini berisi pemberitahuan kepala desa kepada para staf kantornya bahwa pada pukul sembilan ia akan menghadiri rapat yang diadakan di rumah jabatan dan pertanyaan mengenai ada atau tidaknya surat-surat yang harus ia tandatangani.
Sebenarnya tuturan ini adalah wujud tindak tutur perintah. Hal ini dapat
terjadi jika tuturan ini dihubungkan dengan situasi tutur yang melatarbelakangi tuturan.
Situasi tutur yang melatarbelakangi munculnya tuturan ini adalah bahwa para staf kantor desa yang merupakan bawahan dari kepala desa belum mengantarkan surat-surat yang harus ditandatangai oleh kepala desa. Padahal pada pukul sembilan kepala desa akan menghadiri rapat di Rujab. Dengan memperhatikan situasi tutur, maka tuturan ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah perintah dari kepala desa kepada para staf di kantor selaku bawahannya untuk segera mengantarkan surat-surat yang harus ia tanda tangani.
b. Wujud Tindak Tutur Suruhan
Wujud tindak tutur suruhan adalah tuturan yang digunakan ketika penutur tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi Suruhan mencoba atau mempersilakan mitra tutur agar sudi untuk berbuat sesuatu. Pada bahasa Indonesia dialek Bantaeng wujud tindak tutur suruhan ada yang berkonstruksi imperatif dan berkonstruksi Interogatif dan deklaratif. Wujud tindak tutur suruhan yang berkontruksi imperatif pada bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut.
8) “Coba ki minum obat yang dikasih dokter! Pasti sakit perut ta sembuh i.” (Kaloling, 23 April 2014)
Informasi Tuturan:
Tuturan seorang ibu kepada anaknya yang mengeluh sakit perut. Anak tersebut tidak mau minum obat yang diberikan oleh dokter ketika pagi tadi mereka ke rumah sakit.
9) ”Makanma ki! Anggaplah rumah ta sendiri!” (BTP, 23 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh sesorang kepala rumah tangga kepada temannya yang hadir pada acara syukuran yang diadakan dirumahnya.
10) “Kalau hari lebarangi nanti, sempatkan waktu ta na, datang ke rumah nde’!” (BTP, 25 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang gadis kepada temannya ketika mereka akan berpisah. Sebelumnya mereka terlibat dalam percakapan yang mengasikkan selama perjalanan.
Untuk mengetahui secara pasti kebenaran tuturan tersebut merupakan wujud tindak tutur suruhan maka tuturan di atas diparafrasakan. Hasil parafrasa tuturan di atas adalah sebagai berikut.
(8) Seorang ibu Suruhan anaknya yang sedang sakit perut untuk mencoba meminum obat yang diberikan oleh dokter.
(9) Seorang kepala rumah tangga Suruhan teman-temanya yang hadir pada acara syukuran di rumahnya untuk makan dan mengganggap seperti sedang berada di rumahnya sendiri.
(10) Seorang gadis hendak berpisah dengan temannya tetapi sebelum berpisah dia Suruhan temannya untuk datang ke rumah pada hari Raya.
Hasil dari pemparafrasaan ketiga tuturan tersebut tidak ditemukan perubahan makna. Dengan kata lain perubahan konstruksi tuturan tidak merubah makna yang terkadung di dalamnya.
Tuturan (8) mengandung makna tentang adanya seorang ibu Suruhan anaknya yang sedang sakit perut untuk mencoba meminum obat yang diberikan oleh dokter.
Tuturan (9) mengandung makna sebagai sebuah suruhan dari seorang kepala rumah tangga Suruhan teman-temanya yang hadir pada acara syukuran di rumahnya untuk makan dan mengganggap seperti sedang berada di rumahnya sendiri.
Tuturan (10) mengandung makna tentang adanya seorang seorang gadis hendak berpisah dengan temannya tetapi sebelum berpisah dia Suruhan temannya untuk datang ke rumah pada hari Raya.
Hal ini membuktikan bahwa tindak tutur tersebut adalah wujud tindak tutur suruhan berkontruksi Imperatif. Wujud tindak tutur suruhan berkonstruksi deklaratif dan interogatif dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut.
11) “Sakit gigi ta Pak? ada itu dijual di apotik, obat sakit gigi bagus ki dapat meringankan sakit gigi tapi Ada ji juga ituiyya dijual di rumahna H. Mansur .” (BTP, 27 April 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang pemuda kepada tetangganya yang terlihat sedang memegang pipinya yang sedang bengkak.
Tindak tutur dalam tuturan “ada itu dijual di apotik, obat sakit gigi yang bagus dapat meringankan sakit gigi tapi Ada ji juga ituiyya dijual di rumahna H. Mansur”. bukan imperatif tetapi berkonstruksi deklaratif.
Namun di dalamnya terkandung tindak tutur Suruhan. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan situasi tutur yang melatarbelakangi tuturan ini. Tanpa memperhatikan situasi tutur, tuturan ini bermakna sebuah pemberitahuan penutur kepada mitra tutur bahwa di apotik,
menjual obat yang dapat menyembuhkan sakit gigi. Tuturan ini disampaikan kepada seseorang yang terlihat sedang memegang pipinya yang sedang bengkak, maka dapat ditafsirkan bahwa si penutur secara tidak langsung Suruhan kepada tetangganya yang sedang sakit gigi untuk mencoba membeli obat di rumah H. Mansur. Memegang pipi atau menempelkan tangan pada pipi adalah salah satu cara si penderita sakit gigi agar rasa nyerih berkurang. Jika tangan ditempelkan seseorang pada bagian pipi maka dapat ditafsirkan bahwa orang tersebut sedang berupaya untuk menyembuhkan sakit giginya..
Jika tuturan (11) disampaikan kepada seseorang yang tidak sedang memegang pipinya yang sedang bengkak maka tuturan ini bukan tindak tutur suruhan tapi hanya sebuah informasi saja bahwa di apotik ada dijual obat yang manjur untuk menyembuhkan sakit gigi. Tuturan (11) disampaikan kepada seseorang yang sedang memegang pipinya yang bengkak maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan (11) mengandung makna sebagai sebuah suruhan kepada mitra tutur untuk mencoba membeli dan meminum obat sakit gigi yang dijual di apotik.
c. Wujud Tindak tutur Permohonan atau Harapan
Wujud tindak tutur permohonan atau harapan adalah jika penutur demi kepentingannya meminta mintra tutur untuk berbuat sesuatu. Tindak tutur ini pada bahasa Indonesia dialek Bantaeng ada yang berkonstruksi Imperatif dan ada yang berkonstruksi deklaratif dan interogatif. tindak tutur
permohonan atau harapan yang berkonstruksi imperatif pada bahasa Indonesia di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut.
12) Siswa kepada guru: “ Saya mohon Bu, janganki laporka di orang tuaku. Nanti na maraika.”(BTP, 29 April 2014) Informasi Tuturan:
Seorang siswa mendapat hukuman karena menjaili temannya di sekolah. Ia takut jika gurunya akan melaporkan kejadian itu kepada orang tuanya.
13) “Iye, Mudah-mudahan cepat jie sembuh!” (BTP, 29 April 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya yang sakit. Ibu baru saja memberi anaknya obat dan Suruhannya beristirahat.
Seperti dua jenis tindak tutur sebelumnya, untuk membuktikan tuturan ini adalah wujud tindak tutur permohonan atau harapan maka digunakan teknik parafrasa atau ubah wujud. Setelah diparafrasakan tuturan tersebut menjadi sebagai berikut.
(12) Saya mohon kepada Ibu tidak melaporkanku kepada orang tua saya nanti dia marah.
(13) Saya berharap mudah-mudahan kamu cepat sembuh.
Dari hasil parafrasa kedua tuturan di atas tidak terdapat perubahan makna. Kedua tuturan tersebut mengandung makna yang sama yaitu (12) Mengenai permohonan yang diajukan oleh seorang siswa yang
kepergok menjaili teman sekolahnya agar gurunya tidak melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya karena ia khawatir orang tuannya akan marah.
(13) seorang ibu yang berharap agar anaknya yang sedang sakit dapat segera sembuh setelah meminum obat.
Dengan demikian dapat disimpulkan kedua tuturan ini adalah wujud tindak tutur permohonan atau pengharapan. Selain berkonstruksi imperatif, tindak tutur permohonan atau pengharapan dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng dapat pula dinyatakan dalam konstuksi deklaratif dan interogatif. Konstruksi nonimperatif di sini mengandung arti bahwa tindak tutur dinyatakan bukan dengan konstruksi imperatif melainkan konstruksi interogatif dan deklaratif. tindak tutur permohonan atau pengharapan dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng yang berkonstruksi konstuksi deklaratif dan interogatif dapat dilihat pada tuturan berikut.
14) ”Siapami itu di, bisa antarka ke kantor desa? Ojek ditunggui tidak ada, motor rusaki baru penting ini.” (BTP, 26 April 2014)
Informasi indeksial:
Dituturkan oleh seorang ketua RT kepada tetangganya yang sedang memarkir kendaraan. Saat itu ia sedang ada keperluan yang sangat mendesak di kantor Desa tapi motor miliknya rusak. Ia berharap agar tetangganya mau mengantarkannya ke kantor Desa.
Konstruksi tuturan (14) adalah konstuksi deklaratif dan interogatif.
Melalui tuturan (14) penutur mengajukan pertanyaan kepada mitra tutur tentang siapa yang mau mengantarkan dirinya ke kantor desa. Pada tuturan berikutnya penutur menginformasikan mengenai tidak adanya ojek yang dapat mengantar dan informasi tentang motornya yang rusak, sehingga tidak dapat digunakan dan keperluan yang sangat mendesak.
Dengan memperhatikan situasi tuturan dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini adalah wujud tindak tutur harapan. Dari situasi tutur diketahui bahwa mitra
tutur sedang memarkir kendaraan. Sementra itu di sisi lain, hal yang sangat dibutuhkan oleh penutur pada saat itu adalah kendaraan yang dapat mengantar dirinya ke kantor desa. Penutur juga mempertegas harapannya dengan menjelaskan keadaan yang sedang ia hadapi pada tuturan berikutnya. Dengan demikian dapat ditafsirkan melalui tuturan ini penutur berharap agar mitra tuturnya mau mengantarkan dirinya ke Kantor desa dengan menggunakan kendaraan yang sedang diparkir oleh mitra tutur.
Hal ini akan berbeda jika tuturan ini disampaikan kepada mitra tutur yang sedang duduk dan tak memiliki kendaraan. Jika situasi tuturnya demikian maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur hanyalah berupa keluhan biasa tanpa harapan kepada mitra tuturnya untuk mengantarkan dirinya ke kantor desa.
d. Wujud Tindak Tutur Ajakan
Wujud tindak tutur ajakan adalah tuturan yang mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Pada bahasa Indonesia dialek Bantaeng wujud tindak tutur ajakan dapat dinyatakan secara langsung maupun tidak langsung. Langsung mengandung pengertian bahwa tuturan dinyatakan dengan konstruksi imperatif. Wujud tidak langsung berarti tuturan ini dinyatakan dengan konstruksi nonimperatif. Wujud tindak tutur ajakan dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng yang dinyatakan dalam konstruksi imperatif adalah seperti tuturan berikut ini.
15) “Ika, Maaf nde’ teamanisaika bersihkangi ruanganga. karena untuk kita juga jie.”(BTP, 1 Mei 2014)
Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang staf kantor kepada teman-teman yang seruangan dengannya ketika ia melihat ruangan tempat mereka bekerja kotor.
16) “Daeng, Makan e! Sudah laparma saya nde’ ”( BTP 1 Mei 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang adik yang mengajak kakaknya untuk makan ketika mereka sedang istirahat selepas kerja di kebun.
17) Ayo e di panggilmi itu mobil de!” (Bantaeng 1 Mei 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang siswa kepada temannya ketika mereka melihat salah satu mobil sedang melintas yang mereka sering naiki saat ke sekolah.
Untuk membuktikan tuturan ini bermakna ajakan, maka dilakukan teknik parafrasa atau perubahan wujud. Dalam hal ini perubahan wujud dari konstruksi imperatif menjadi konstruksi deklaratif dengan tanpa merubah makna yang terkandung di dalamnya. Perubahan wujud ini dikarenakan konstruksi imperatif dan deklaratif memiliki kedudukan yang sejajar. Hasil perubahan wujud itu adalah sebagai berikut.
(15) Seorang staf kantor mengajak teman-teman yang seruangan denganya untuk bersama-sama membersihkan ruangan.
(16) Seorang adik mengajak kakaknya segera makan karena ia sudah merasa lapar.
(17) Seorang pelajar mengajak temannya untuk memanggil salah satu mobil yang mereka sering naiki saat pergi ke sekolah.
Dari pemparafrasaan tuturan di atas ternyata tuturan (15), (16) dan (17) tidak mengalami perubahan makna.
Tuturan (15) berisi ajakan seorang staf kantor kepada teman-temannya untuk membersihkan ruangan.
Tuturan (16) berisi ajakan Seorang adik mengajak kakaknya segera makan karena ia sudah merasa lapar
Tuturan (17) berisi ajakan Seorang pelajar mengajak temannya untuk memanggil salah satu mobil yang mereka sering naiki saat pergi ke sekolah.
Hal ini membuktikan bahwa tuturan tersebut adalah wujud tindak tutur ajakan berkonstruksi imperatif. Wujud tindak tutur ajakan dalam bahasa Indonesia dialek Bantaeng tidak hanya selalu diwujudkan dengan konstruksi imperatif tapi juga ada yang berkonstruksi nonimperatif.
Tuturan berikut adalah tuturan yang berkonstruksi nonimperatif.
18) “Daeng mau ki makan baksona mas tapa?”(Banyorang 1 Mei 2014) Informasi Tuturan:
Tuturan ini diucapkan oleh seorang seorang adik kepada kakaknya berkunjung ke bantaeng setelah beberapa bulan meninggalkan Bantaeng. Saat itu mereka sedang berjalan di pasar dan melihat warung langganannya. Ketika menuturkan tuturan ini tangan sang adik tersebut menunjuk ke arah warung bakso.
19) Cucu kepada kakeknya: “Lapar sekalima!” (BTP, 1 Mei 2014) Informasi Tuturan:
Dituturkan oleh seorang cucu kepada kakeknya ketika mereka baru saja selesai tanam jagung di kebun.
Tuturan (18) berkonstruksi interogatif. Tuturan ini perisi pertanyaan yang diajukan oleh seorang adik kepada saudaranya. Saat itu sedang jalan bersama di sekitar pasar sekitar penjual bakso. Dengan melihat pada situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan (18) adalah wujud tindak tutur ajakan. Hal ini dikarenakan melalui situasi tutur diketahui
bahwa mitra tutur dalam tuturan itu adalah seorang kakak yang dia temani ke pasar Tuturan terjadi di depan sebuah warung penjual bakso, Ketika peristiwa tutur terjadi penutur mengarahkan tangannya ke arah warung bakso. Penutur berusaha memahami keadaan mitra tutur. Sebagai orang Bantaeng yang telah meninggalkan kota Bantaeng beberapa bulan tentu mempunyai rasa rindu untuk menikmati bakso langganannya. Dengan memperhatikan situasi tutur maka tuturan ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah ajakan penutur kepada mitra tutur untuk menikmati bakso buatan daeng Tapa.
Tuturan (19) berkonstruksi deklaratif. Melalui tuturan ini penutur menginformasikan kepada mitra tutur tentang perutnya yang terasa lapar.
Jika memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan (19) adalah wujud tindak tutur ajakan. Tuturan ini disampaikan oleh seorang cucu kepada kakeknya ketika ketika mereka baru saja selesai tanam jagung di kebun. Tentu saja selama bekerja mereka tidak dapat makan, sehingga wajar jika ketika mereka istirahat di perut mereka terasa lapar.
Dengan memperhatikan situasi tutur maka tuturan (18) dapat ditafsirkan sebagai wujud tindak tutur ajakan, yaitu ajakan seorang cucu kepada kakeknya untuk makan.