• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wujud Kesantunan Berbahasa Indonesia Dialek

Dalam dokumen Wujud Kesantunan Tindak Tutur Bahasa Indonesia (Halaman 126-153)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Wujud Kesantunan Berbahasa Indonesia Dialek

Wujud kesantunan berbahasa Indonesia dialek Bantaeng dapat diwujudkan dengan konstruksi Imperatif, konstruksi interogatif dan konstruksi deklaratif. Penggunan konstruksi deklaratif dan interogatif untuk menyatakan tindak tutur dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng mengandung unsur ketidaklangsungan. Dengan demikian maka dalam tuturan-tuturan yang dipergunakan dalam tindak tutur mengandung aspek kesantunan.

a. Wujud Kesantunan Berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng dengan Konstruksi Imperatif (Perintah)

1) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Suruhan Konstruksi Imperatif Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Bantaeng ditemukan wujud kesantunan tindak tutur suruhan yang dinyatakan melalui konstruksi imperatif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut.

40) “Ki matikan mi lampua do’ terang jie” (BTP, 26 Mei 2014) Imformasi indeksal:

Dituturkan oleh seorang remaja kepada tetangganya yang pada saat mereka ada di rumah yang sama pada suatu siang. Pada saat itu cuaca sangat cerah dan ruangan itu tidak gelap sama sekali, sehingga tidak diperlukan penerangan.

Pada tuturan tersebut adalah tuturan yang berkonstruksi imperatif.

Melalui tuturan ini digunakan wujud kesantunan tindak tutur Suruhan konstruksi Imperatif yang dimaksud adalah agar sang mitra tutur memberikan tanggapan yang berupa tindakan mematikan lampu. Tuturan

ini dituturkan oleh seorang remaja kepada tetangganya yang pada saat mereka ada di rumah yang sama pada suatu siang. Pada saat itu cuaca sangat cerah dan ruangan itu tidak gelap sama sekali, sehingga tidak diperlukan penerangan. Dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur Suruhan secara langsung oleh seorang remaja kepada tetangganya dengan menggunakan tambahan kata ki dan do’ dengan menggunakan tuturan lemah lembut dalam dialek Bantaeng adalah salah satu kategori tuturan yang sopan maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa. Wujud dari kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya suruhan secara langsung dalam tindak tutur tersebut oleh seorang remaja kepada tetangganya dengan menggunakan tambahan kata ki dan do’ dengan tuturan lemah lembut.

2) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Perintah Konstruksi Imperatif Berdasarkan data yang diperoleh, dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng untuk menyatakan sebuah wujud kesantunan tindak tutur Perintah dapat digunakan konstruksi Imperatif. Berikut ini adalah tindak tutur yang menyatakan wujud kesantunan tindak tutur perintah konstruksi Imperatif dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut.

41) “Maaf di nak, bisaki bantuka do’ Bersihkangi juga rumayya!

Pekarangan sama kolonga.” (BTP, 17 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang Ibu kepada anaknya. Pada saat Ibu pulang dari kebun, ia melihat rumahnya dalam keadaan kotor. Ia merasa kesal karena sang anak hanya nonton TV saja.

Jika memperhatikan konstruksinya, tuturan tersebut adalah wujud kesantunan tindak tutur perintah dengan berkonstruksi imperatif. Melalui tuturan ini, penutur menginformasikan kepada mitra tutur bahwa bisa mitra tuturnya membantunya dalam membersihkan rumah. Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur perintah secara langsung oleh seorang ibu kepada anaknya maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa karena Tuturan ini dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya ketika ia melihat rumah yang mereka tinggali dalam keadaan kotor dengan menggunakan kata maaf dan kata tambahan do’ dengan nada merendah dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng merupakan salah satu wujud kesantunan berbahasa. Dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa. Wujud kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya punggunaan kata maaf dan kata tambahan do’ dengan nada merendah dalam tindak tutur tersebut.

3) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Permintaan Konstruksi Imperatif Wujud kesantunan tindak tutur permintaan adalah tuturan yang disampaikan oleh penutur untuk meminta mitra tutur mau melakukan sesuatu. Kadar suruhan dalam tuturan ini sangat halus. Wujud tindak tutur permintaan disertai sikap penutur yang lebih merendah dibandingkan dengan sikap penutur pada waktu menuturkan tuturan imperatif biasa.

Namun jika dibandingkan dengan wujud tindak tutur permohonan, tuturan ini memiliki nilai rasa yang lebih rendah. Berdasarkan data yang diperoleh, dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng untuk menyatakan sebuah wujud kesantunan tindak tutur Permintaan dapat digunakan konstruksi Imperatif. Berikut ini adalah tindak tutur yang menyatakan wujud kesantunan tindak tutur permintaa konstruksi Imperatif dalam berbahasa Indonesia dialek di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut.

42) “Ndik, bisaki nde’ antarka ke terminal Banyorang? Mauka ke kantor pertanian haruska cepat,baru motorku rusaki .” (BTP, 5 Mei 2014) Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang kakak kepada adik sepupunya yang sedang melintas di depannya dengan mengendarai sepeda motor.

Jika memperhatikan konstruksinya, tuturan tersebut adalah wujud kesantunan tindak tutur permintaan dengan berkonstruksi imperatif.

Melalui tuturan ini, penutur menginformasikan kepada mitra tutur bahwa apakah bisa mitra tuturnya mengantarnya ke terminal Banyorang. Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur permintaan secara langsung oleh seorang kakak kepada adik sepupunya maka dapat disimpulkan bahwa

tuturan tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa karena Tuturan ini dituturkan oleh seorang kakak kepada adik sepupunya yang sedang melintas di depannya dengan mengendarai sepeda motor.

Dengan menggunakan kata Ndik (adik) dan tambahan kata ki dan nde’

dengan nada merendah dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng merupakan salah satu wujud kesantunan berbahasa. Maka dengan memperhatikan situasi tutur dapat ditafsirkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa .

Memperhatikan konstruksinya, tuturan tersebut adalah wujud kesantunan tindak tutur permintaan dengan berkonstruksi imperatif.

Melalui tuturan ini, penutur menginformasikan kepada mitra tutur bahwa apakah bisa mitra tuturnya mengantarnya ke terminal Banyorang. Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur permintaan secara langsung oleh seorang kakak kepada adik sepupunya maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa karena Tuturan ini dituturkan oleh seorang kakak kepada adik sepupunya yang sedang melintas di depannya dengan mengendarai sepeda motor.

Dengan menggunakan kata Ndi’ (adik) dan tambahan kata ki dan do’

dengan nada merendah dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng merupakan salah satu wujud kesantunan berbahasa . Maka dengan memperhatikan situasi tutur dapat ditafsirkan bahwa tuturan tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa. Wujud dari kesantunan berbahasa

dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya tindak tutur permintaan dengan Dengan menggunakan kata Ndik (adik) dan tambahan kata ki dan nde’

dengan nada merendah.

4) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Permohonan Konstruksi Imperatif Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di kabupaten Bantaeng ditemukan wujud kesantunan tindak tutur permohonan yang dinyatakan melalui konstruksi imperatif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut

43) Remaja kepada tetangganya: “Bu, janganki laporkan ka nde di orang tua ku. Nanti na marahika.” (BTP, 17 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Seorang remaja kedapatan merokok oleh tetangganya. Ia takut jika tetangganya akan melaporkan kejadian itu kepada orang tuanya.

Dengan memperhatikan situasi tutur tuturan tersebut adalah wujud kesantunan tindak tutur permohonan atau pengharapan. Tindak tutur

“Bu, janganki laporkan ka nde’ di orang tua ku. Nanti na marahika.”

adalah tuturan yang berkonstruksi imperatif. Melalui tuturan ini penutur ingin menyampaikan informasi mengeni permohonan yang diajukan oleh penutur kepada mitra tutur agar mitra tidak melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua si penutur karena ia khawatir orang tuanya akan marah.

Dengan memperhatikan situasi tutur bahwa tuturan ini dituturkan dengan lemah lembut maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur permohonan dan di dalamnya terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

tuturan ini mempunyai nilai kesantunan yang tinggi. Wujud kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya penggunaan kata yang lemah lembut dalam tuturan. Maka dapat ditafsirkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa di dalamnya.

5) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Bujukan Konstruksi Imperatif Imperatif yang bermakna bujukan di dalam berbahasa Indonesia, biasanya diungkapkan dengan penanda kesantunan tolong. Selain itu juga bisa menggunakan tanda kesantunan mohon. Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng ditemukan wujud kesantunan tindak tutur bujukan yang dinyatakan melalui konstruksi imperatif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut

44) Ibu: “Tolong Nak, habiskangi dulu itu nasi ta! Nanti ku temaniki pergi di pantai marina.” (BTP, 20 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Tuturan di atas dismpaikan oleh seorang ibu kepada anaknya yang yang berumur 7 tahun sulit disuruh makan nasi. Tuturan itu dimaksudkan untuk membujuk si anak agar ia mau makan nasi.

Tindak tutur “Tolong Nak, habiskangi dulu nasi ta! Nanti ku temaniki pergi di pantai marina”. adalah tuturan yang berkonstruksi Imperatif. Hal ini dikarenakan makna dari tuturan tersebut berisi bujukan seorang ibu kepada anaknya yang masih kecil dan agak sulit disuruh makan nasi.

Tuturan itu dimaksudkan untuk membujuk si anak agar ia mau makan nasi. Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur bujukan konstruksi imperatif secara langsung oleh seorang ibu kepada anaknya dengan

menggunakan kata tolong dengan berbahasa yang lemah lembut maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa di dalamnya. Wujud kesantuan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya penggunaan kata tolong dengan berbahasa yang lemah lembut dalam tuturan. Maka dapat disimpulkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa di dalamnya.

6) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Ajakan Konstruksi Imperatif

Wujud kesantunan tindak tutur ajakan adalah tuturan yang mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Pada berbahasa Indonesia dialek Bantaeng wujud kesantunan tindak tutur ajakan dapat dinyatakan secara langsung maupun tidak langsung. Langsung mengandung pengertian bahwa tuturan dinyatakan dengan konstruksi imperatif. Wujud tidak langsung berarti tuturan ini dinyatakan dengan konstruksi nonimperatif. Wujud tindak tutur ajakan dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng yang dinyatakan dalam konstruksi imperatif adalah seperti tuturan berikut ini.

45) “Ika, Maaf di teamanisaika nde’ bersihkangi ruanganga. karena untuk kita juga jie.” (BTP, 1 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang staf kantor kepada teman yang seruangan dengannya ketika ia melihat ruangan tempat mereka bekerja kotor.

Pada tuturan tersebut adalah tuturan yang berkonstruksi Imperatif.

Namun dengan memperhatikan situasi tutur melalui tuturan ini penutur ingin mengajak mitra tuturnya untuk menemaninya untuk membersihkan

ruangan tuturan ini dituturkan oleh staf kantor desa kepada rekan kerja yang seruangan dengannya dengan menggunakan kata maaf dengan tambahan kata di dan nde’ maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini memiliki wujud kesantunan berbahasa .

Ajakan untuk membersihkan ruangan dinyatakan penutur secara langsung karena pada tuturan tersebut terdapat kesesuaian antara modus tuturan dan fungsinya dengan menggunakan kata maaf dengan berbahasa halus maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini mempunyai nilai kesantunan berbahasa di dalamnya. Wujud kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya penggunaan kata maaf dan penggunaan tambahan kata di dan nde’

7) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Larangan Konstruksi Imperatif Wujud kesantunan tindak tutur larangan adalah tuturan yang digunakan penutur untuk menyuruh mitra tutur agar jangan melakukan sesuatu. Berdasarkan data yang terkumpul, dalam wujud tindak tutur berbahasa Indonesia dialek Bantaeng maka ditemukan juga tindak tutur larangan berkonstruksi imperatif. Wujud tindak tutur larangan dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng yang dinyatakan dalam konstruksi imperatif adalah seperti tuturan berikut ini.

46) “Janganmaki bawa ki itu taska! Sayamo bawaki!” (BTP, 2 Mei 2014) Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang tante kepada keponankannnya yang baru saja tiba berkunjung ke rumahnya.

47) “Maaf janganki dulu duduk! ku bersihkangi dulu.” (BTP, 21 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang ibu kepada tamu yang berkunjung di rumahnya ketika ia melihat kursi yang ada di ruang tamunya kotor oleh bekas makanan.

Dilihat dari kedua tuturan tersebut maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan merupakan wujud kesantunan tindak tutur tutur melarang konstruksi imperatif. Ini membuktikan bahwa tuturan-tuturan tersebut adalah wujud tindak tutur larangan yang dinyatakan dalam wujud tindak tutur berkonstuksi imperatif. Melalui tuturan (46) ini digunakan wujud kesantunan tindak tutur larangan konstruksi Imperatif yang dimaksud adalah agar sang mitra tutur memberikan tanggapan yang berupa tindakan agar tidak membawa tas tersebut begitupun dengan tututran (47) melarang agar mitra tutur memberikan tanggapan yang berupa tindakan agar tidak menduduki kursi yang dimaksud karena belum dibersihkan.

Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur larangan dengan menggunakan tambahan kata ki dan kata maaf dengan tuturan yang lembut dan sopan maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut terdapat wujud kesantunan tindak tutur larangan konstruksi imperatif.

Tuturan (46) tersebut dituturkan oleh seorang tante kepada keponankannnya yang baru saja tiba berkunjung ke rumahnya sedangkan tuturan (47) dituturkan oleh seorang ibu kepada tamu yang berkunjung di rumahnya ketika ia melihat kursi yang ada di ruang tamunya kotor oleh bekas makanan sehingga kursi tersebut mau dibersihkan terlebih dulu

baru bisa di tempati duduk. Maka dengan memperhatikan situasi tutur dapat disimpulkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki wujud kesantunan berbahasa Indonesia dialek Bantaeng. Wujud kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya penggunaan tambahan kata ki dan kata maaf dengan tuturan yang lembut dan sopan dalam tuturan.

b. Wujud Kesantunan Berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng dengan Konstruksi Deklaratif (Berita)

Dari hasil penelitian, Tindak tutur berbahasa Indonesia dialek Bantaeng untuk mengungkapkan kesantunan tuturan dapat dilakukan dengan penggunaan konstruksi deklaratif. Dengan penggunaan tuturan berkonstruksi deklaratif membuat sebuah tindak tutur menjadi lebih santun. Berikut ini adalah kesantunan tindak tutur dengan konstruksi deklaratif dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng.

1) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Suruhan Konstruksi Deklaratif Wujud kesantunan tindak tutur yang menyatakan suruhan pada berbahasa Indonesia dialek Bantaeng ada yang diwujudkan dengan menggunakan tuturan deklaratif. Berikut ini adalah tindak tutur yang menyatakan tuturan wujud suruhan yang menggunakan konstruksi deklaratif pada berbahasa Indonesia dialek Bantaeng.

48) “Mau mi berakhir waktu pengumpulan pajak tahap ini, Tidak bisa mi lagi ditunda nde’ pergi menagi pajak”. (BTP, 2 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang staf kantor desa kepada rekan kerjanya yang belum juga menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Wujud kesantunan indak tutur tersebut adalah tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Melalui tuturan ini, penutur menginformasikan

kepada mitra tutur bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya tidak dapat ia tunda lagi. Namun dengan memperhatikan situasi tutur bahwa tuturan ini dituturkan oleh staf kantor desa kepada rekannya yang belum juga menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tangung jawabnya maka dapat ditafsirkan bahwa tindak tutur ini adalah tuturan wujud kesantunan tindak tutur suruhan.

Pengunaan konstruksi deklaratif untuk menyatakan makna menandai ketidaklangsungan tuturan tersebut. Penggunan tuturan ini dianggap telah menyelamatkan muka mitra tutur karena maksud tuturan agar mitra tutur segera menyelesaikan tugasnya tidak dinyatakan secara langsung kepada mitra tutur. Tuturan ini seolah-olah dituturkan kepada pihak ketiga yang tidak hadir dalam kegiatan bertutur. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tuturan ini mempunyai nilai kesantunan yang tinggi.

Wujud kesantunan berbahasa dalam tindak tutur tersebut yaitu adanya ketidaklangsungan dalam tuturan tersebut yang dituturkan oleh staf kantor desa kepada rekannya yang belum juga menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tangung jawabnya.

2) Wujud Kesantunan Tindak Tutur perintah Kontruksi Deklaratif Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng ditemukan wujud kesantunan tindak tutur perintah yang dinyatakan melalui konstruksi deklaratif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut

49) ‘Tenangi itu kerja orang de kalau bersih i tempat kerjayya diliat, Seperti kata orang tua (pepatah) Kebersihan adalah bagian dari iman.’

(BTP, 21 Mei 2014) Informasi Tuturan:

Himbauan seorang atasan kepada bawahannya, ketika melihat ruangan tempat mereka bekerja kotor.

Jika memperhatikan konstruksinya, tuturan tersebut adalah wujud kesantunan tindak tutur perintah dengan berkonstruksi deklaratif. Hal ini dikarenakan makna dari tuturan tersebut berisi informasi mengenai manfaat yang didapat jika ruangan tempat bekerja dalam keadaan bersih.

Namun dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur perintah secara tidak langsung oleh atasan kepada bawahannya maka dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa.

Tuturan ini dituturkan oleh seorang atasan kepada bawahannya ketika ia melihat ruangan tempat bawahannya bekerja dalam keadaan kotor.

Dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini adalah wujud kesantunan tindak tutur perintah secara tidak langsung dengan memperhatikan situasi tutur dapat diketahui bahwa tuturan tersebut mengandung nilai kesantunan berbahasa di dalamnya. Wujud kesantunan berbahasa tindak tutur tersebut yaitu adanya ketidaklangsungan tuturan dalam tindak tutur perintah secara tidak langsung oleh atasan kepada bawahannya.

3) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Permohonan atau harapan Konstruksi Deklaratif

Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di Kabupaten Bantaeng ditemukan wujud kesantunan tindak tutur permohonan yang dinyatakan melalui konstruksi deklaratif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut.

50) ”Siapami itu di, bisa antarka ke kantor desa? Ojek

ditunggui tidak ada, motor rusaki baru penting ini.” (BTP, 26 April 2014)

Informasi indeksial:

Dituturkan oleh seorang ketua RT kepada tetangganya yang sedang memarkir kendaraan. Saat itu ia sedang ada keperluan yang sangat mendesak di kantor Desa tapi motor miliknya rusak. Ia berharap agar tetangganya mau mengantarkannya ke kantor desa.

Konstruksi tuturan tersebut adalah konstuksi deklaratif. Melalui tuturan penutur mengajukan pertanyaan kepada mitra tutur tentang siapa yang mau mengantarkan dirinya ke kantor desa. Pada tuturan berikutnya penutur menginformasikan mengenai tidak adanya ojek yang dapat mengantar dan informasi tentang motornya yang rusak, sehingga tidak dapat digunakan dan keperluan yang sangat mendesak. Dengan memperhatikan situasi tuturan dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini adalah wujud tindak tutur harapan. Dari situasi tutur diketahui bahwa mitra tutur sedang memarkir kendaraan. Sementra itu di sisi lain, hal yang sangat dibutuhkan oleh penutur pada saat itu adalah kendaraan yang dapat mengantar dirinya ke kantor desa. Penutur juga mempertegas harapannya dengan menjelaskan keadaan yang sedang ia hadapi pada tuturan

berikutnya. Dengan melihat situasi tutur melalui tuturan ini penutur berharap agar mitra tuturnya mau mengantarkan dirinya ke Kantor desa dengan menggunakan kendaraan yang sedang diparkir oleh mitra tutur.

Hal ini akan berbeda jika tuturan ini disampaikan kepada mitra tutur yang sedang duduk dan tak memiliki kendaraan. Jika situasi tuturnya demikian maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan yang dituturkan oleh mitra tutur hanyalah berupa keluhan biasa tanpa harapan kepada mitra tuturnya untuk mengantarkan dirinya ke kantor desa. Maka Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki nilai kesantunan yang terkandung didalamnya. Wujud kesantunan tindak tutur permohonan tersebut yaitu adanya tuturan secara tidaklangsung dalam tindak tutur permohonan oleh ketua RT kepada tetangganya.

Tindak Tutur lain dari wujud kesantunan tindak tutur permohonan atau harapan konstruksi deklaratif sebagai berikut.

51) Hasni (Kemenakan) : Besok mau sekalika pergi di rumah Ta de tante bermalam”

Isra (Tante) : tidak adaji melarang datang saja (BTP, 22 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan oleh seorang kemenakan yang mewakili keluarganya kepada tantenya mereka yang baru saja menempati rumah baru.Tuturan ini dituturkan dengan lemah lembut.

Tindak tutur “Besok mau sekalika pergi di rumah Ta de tante bermalam”. adalah tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Melalui tuturan ini penutur ingin menyampaikan informasi kepada mitra tutur mengenai keinginannya untuk berkunjung ke rumah mitra tutur. Dengan

memperhatikan situasi tutur bahwa tuturan ini dituturkan dengan lemah lembut serta penggunaan kata sekalika ‘sangat’ maka dapat ditafsirkan bahwa tuturan ini adalah wujud tindak tutur permohonan dan di dalamnya terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tuturan ini mempunyai nilai kesantunan yang tinggi.

Wujud kesantunan berbahasa tindak tutur tersebut yaitu adanya ketidaklangsungan tuturan dalam tindak tutur permohonan/harapan oleh seorang tante kepada kemenakannya. Maka dapat ditafsirkan bahwa tindak tutur tersebut memiliki nilai kesantunan berbahasa di dalamnya.

Maka dapat ditafsirkan bahwa tutur tersebut terdapat tindak tutur kesantunan berbahasa di dalamnya.

4) Wujud Kesantunan Tindak Tutur Larangan Konstruksi Deklaratif Dalam berbahasa Indonesia dialek Bantaeng di kabupaten Bantaeng ditemukan wujud tindak tutur larangan yang dinyatakan melalui konstruksi deklaratif. Tuturan tersebut adalah sebagai berikut.

52) Ibu kepada anak gadisnya: “Tidak baik itu kalau anak perempuan ke luar rumah kalau larutmi malangi.” (BTP, 3 Mei 2014)

Informasi Tuturan:

Dituturkan ibu ketika anak gadisnya pulang pada pukul 22.00.

Melalui tuturan ini penutur menginformasikan kepada mitra tutur bahwa bukan hal yang baik jika seorang anak gadis pergi hingga larut malam. Dengan memperhatikan situasi tutur maka dapat diketahui tuturan tersebut adalah Wujud Kesantunan tindak tutur Melarang berkonstruksi

Dalam dokumen Wujud Kesantunan Tindak Tutur Bahasa Indonesia (Halaman 126-153)

Dokumen terkait