BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan penyajian hasil penelitian analisis data yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya ada banyak hal yang dapat dikaji dalam roman tersebut salah satunya yaitu nilai karakter, berikut dibahas hasil penelitian tentang Representasi Nilai Karakter pada Roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli dengan menitikberatkan unsur-unsur semiotik yang terkandung dan berpegang teguh pada konsep semiotik Ferdiand De Saussure. Pada roman tersebut kita dapat menemukan beberapa aspek kajian semiotik yang terkandung di dalamya yang berupa tanda-tanda.beberapa aspek semiotik yang terkandung yang telah diulas sebelumnya, nilai karakter yang dimaksud meliputi: (1) religius, (2) jujur, (3) kerja keras, (4) rasa ingin tahu, (5) semangat kebangsaan, (6) cinta tanah air, (7) menghargai prestasi, (8) bersahabat/komunikatif, (9) cinta damai, (10) peduli sosial, dan (11) tanggung jawab. Berikut pembahasan masing-masing.
Religius adalah suatu cara pandang seseorang mengenai agamanya serta bagaimana orang tersebut menggunakan keyakinan atau agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Religius juga berarti sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius terdapat pada kutipan sub bab 8 Surat Nurbaya kepada Samsulbahri halaman 149 paragraf 2 karakter religius yang dapat dilihat yaitu, sikap yang menunjukkan penyerahan diri kepada Allah dan bertawakkal atas apa yang terjadi paad dirinya. Kutipan ini mengajarkan kita untuk terus melibatkan Allah dalam hidup kita. Dalam kutipan sub bab 9 Samsulbahri Pulang ke Padang halaman 165
paragraf 4 juga terdapat karakter religius. Yakni sikap seseorang yang percaya akan musibah yang menimpahnya merupakan takdir dari Tuhan. Kutipan ini mengajarkan kita untuk terus percaya atas kekuasaan Allah.
Jujur adalah sebuah perilaku manusia yang mempunyai definisi transparan, tidak ada yang ditutupi sebagai penghilang sebuah tingkah laku atas alasan kita kepada orang lain. Kejujuran akan tercermin dalam perilaku yang diikuti dengan hati yang lurus (ikhlas), berbicara dengan kenyataan, berbuat sesuai bukti dan kebenaran. Dengan demikian kejujuran merupakan salah satu unsur kekuatan spiritual, akhlak mulia, serta keprbadian. Nilai karakter jujur terdapat pada kutipan sub bab 1 Pulang dari Sekolah halaman 4 paragraf 4.
Karakter jujur yang dapat dilihat yaitu, dari sikap seorang kusir yang mengakui kesalahan dan alasan keterlambatannya kepada tuan mudanya. Kutipan ini mengajarkan kita untuk senantiasa berkata jujur dalam hal apapun.
Kerja keras secara bahasa artinya pantang menyerah. Kerja keras adalah kegiatan yang dikekrjakan dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan. Nilai karakter kerja keras tercermin pada kutipan sub bab 5 Samsulbahri Berangkat ke Jakarta halaman 77 paragraf 6 nilai kerja keras yang dapat dilihat yaitu, sikap bujang yang bekerja dengan sungguh-sungguh menurut perintah tuannya. Kutipan ini mengajarkan kita untuk tetap sabar dalam melakukan tugas-tugas kita. Nilai karakter kerja keras juga ditemukan pada kutipan sub bab 14 Sepuluh Tahun Kemudian halaman 316 paragraf 2. Nilai kerja keras yang dapat dilihat yaitu,
tidak mudah putus asa dalam melakukan sesuatu dan tetap berusaha mencari jalan keluar terhadap persoalah yang dihadapi.
Rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, atau didengar. Dalam kutipan sub bab 1 Pulang dari Sekolah halaman 6 paragraf 2 terdapat nilai karakter rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang dapat dilihat yaitu, sikap Nurbaya yang bertanya kepada Samsulbahri mengenai pelajaran yang baru saja dipelajarinya. Dengan sikpanya yang demikian mencerminkan rasa ingin tahu tentang rahasia perhitungan. Nilai karakter rasa ingin tahu juga ditemukan pada kutipan sub bab 3 Berjalan-jalan ke Gunung Padang halaman 55 paragraf 2, nilai karalter rasa ingin tahu yang dapat dilihat yaitu, sikap Samsu yang mempertegas pertanyaannya kepada Nurbaya dan sikap Nurbaya yang mendesak Samsulbahri untuk segera memberitahu akan hal yang elu ia ketahuinya tersebut. Kutipa ini mengajarkan kita untuk selalu mencari tahu hal-hal yang belum kita ketahui. Selanjutnya pada kutipan pada sub bab 15 rusuh Perkara Belasting di Padang halaman 321 paragraf 3 mengandung nilai karakter rasa ingin tahu, dalam kutipan ini menggambarkan seorang tua yaitu Datuk Malelo yang belum mengatahui perkara uang belasting. Kutipan ini mengajarkan kita untk tetap belajar dan mecari tahu hal-hal baru sampai kapanpun.
Semangat kebangsaan dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesadaran untuk menyerahkan kesetiaan tertinggi dari setiap pribadi kepada Negara dan bangsa. Semangat kebangsaan adalah salah satu bentuk rasa cinta yaang melahirkan jiwa kebangsaan. Nilai-nilai semangat
kebangsaan seperti gotong-royong, saling menghormati perbedaan, kesediaan unntuk saling meghargai, serta kerelaan berkorban demi kepentingan bangsa.
Nilai karakter semangat kebangsan ditemukan pada kutipan sub bab 15 Rusuh Perkara Belasting di Padang halaman 338 paragraf 2, nilai semangat kebangsaan yang dapat kita lihat yaitu, semangat anak bangsa untuk melawan dalam mempertahankan haknya. Dalam kutipan sub bab 15 Rusuh Perkara Belasting di Padang halaman 331 paragraf 3 nilai karakter semangat kebangsaan yang dapat dilihat adalah, semangat seseorang untuk mengajak orang lain untuk tetap mempertahankan hak mereka. Dalam kutipan ini mengajarkan kita rasa solidaritas dan kekompakan dalam memecahkan suatu masalah. Selanjutnya nilai karakter semangat kebangsaan juga terdapat ada kutipan sub bab 14 Sepuluh Tahun Kemudian halaman 316 paragraf 1 dalam kutipan ini mengajarkan kita tentang nilai semangat kebangsaan, sebab menunjukkan sikap pantang menyerah dalam menghadaoi suatu persoalan.
Rasa cinta tanah air atau Nasionalisme adalah asa kebanggan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati dan loyalitas yang dimiliki oleh setiap individu pada negara tempat ia tinggal yang tercermin dari perilaku membela tanah airnya, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negaranya, mencintai adat atau budaya yang ada di negaranya dengan melestarikan alam dan lingkungan. Oleh karena itu, rasa cita tanah air perlu ditumbuhkembangkan dalam jiwa setiap individu yang menjadi warga dari sebuah negara atau bangsa agar tujuan hidup bersama dapat tercapai. Dalam kutipan pada sub bab 14 Sepuluh Tahun Kemudian halaman 318 paragraf 7 terdapat nilai cinta tanah air yang dapat
dilihat yaitu, sikap ketidakrelaan Samsulbahri saat mendapat tugas untuk memerangi saudara-saudaranya kampung halamannya dalam menyelesaikan perkara uang belasting. Kejadian ini mencerminkan wujud kecintaannya terhadap tanah kelahirannya.
Menghargai adalah menghormati keberadaan, harkat, dan martabat orang lain. Menghargai hasil karya orang lain artinya menghormati usaha, ciptaan, dan pemikiran orang lain. Nilai karakter menghargai prestasi terdapat pada kutipan sub bab 1 Pulang dari sekolah halaman 7 paragraf 4, nilai karakter mengharga prestasi yang dapat dilihat adalah sikap sesorang menghargai keberhasilan orang lain dalam memecahkan suatu masalah melalui ucapan terima kasih. Dalam kutipan ini mengajarkan kita pentingnya saling menghormati satu sama lain. Nilai karakter ini juga terdapat pada kutipan sub bab 2 Sutan Mahmud dengan Saudaranya yang Perempuan halaman 15 paragraf 5 nilai karakter menghargai prestasi yang dapat dilihat yaitu, sikap seorang ayah (Mamanda) terhadap Kemanakan perempuannya yang memuji hasil karya kemanakannya. Dalam kutipan ini mengajarkan kita pentingnya saling menghargai satu sama lain.
Nilai karakter bersahabat/komunikatif adalah perilaku yang menggambarkan kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial, tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara bergaul dan bekerja sama dengan orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Dalam kutipan sub bab 9 Samsulbahri Pulang ke Padang halaman 167 paragraf 2, nilai karakter bersahabat yang dapat dilihat yaitu, dilihat dari sikap dua insan yang menimbulkan kesan
bahagia, senang atas pertemuan mereka yang telah lama berpisah. Ditemukan juga pada kutipan sub bab 10 Kenangan-kenangan kepada Samsu halaman 221 paragraf 3, nilai karakter bersahabat yang dapat kita lihat adalah sikap dua perempuan yang saling melempar pujian yang membuat hati orng lain merasa senang berada di dekatnya.
Nilai karakter cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Sikpa damai membuat hidup menjadi tentram. Jika terjadi perselisihan kita dianjurkan untk segera mencari solusi, agar tercipta suasana yang damai. Ditemukan nilai karakter cinta damai pada kutipan sub bab 15 Rusuh Perkara Belasting di Padang halaman 334 paragraf 3, yaitu sikap seseorang yang berusaha mencari solusi lain dalam permasalahan yang sedang dihadapinya tanpa harus berperang.
Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita. Orang-orang peduli adalah mereka orang-orang yang terpanggil melakukan sesuatu dalam memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Dalam kutipan sub bab 2 Sutan Mahmud dengan Saudaranya yang Perempuan halaman 18 paragraf 2, nilai karakter peduli yang bisa dilihat adalah sikap Sutan Mahmud yang menginginkan Rukiah disekolahkan merupakan bentuk kepedulian terhadap anak bangsa untuk memperoleh kahnya yaitu bersekolah. Selanjutnya pada kutipan pada sub bab 3 Berjalan-jalan ke Gunung Padang halaman 40 paragraf 2 nilai karakter peduli yang bisa kita lihat
adalah sikap seseorang yang ketika mendengar tanda bahaya sesegera mungkin mengambil tindakan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Dalam kutipan sub bab 3 Berjalan-jalan ke Gunung Padang halaman 52 paragraf 2 juga terdapat nilai peduli yang dapat kita lihat yaitu, terlihat Samsulbahri yang begitu sayang dan peduli terhadap sahabt-sahabatnya ketika mendengar sahabatnya minta tolong ia segera lari menolong temannya. Dalam kutipan ini mengajarkan kita untuk tetap saling menyayangi. Pada kutipan sub bab 8 Surat Nurbaya Kepada Samsul Bahri halaman 150-151 paragraf 7 juga terdapat nilai karakter peduli yang dapat kita petik yaitu, sikpa seorang anak yang rela berkorban untuk ayahnya. Selanjutnya pada kutipan sub bab 5 Samsulbahri berangkat ke jakarta halaman 97 paragraf 4 juga terdapat nilai karakter peduli sosial yaitu, sikap seorang sahabat laki-laki yang tetap ingin menjaga sahabat perempuannya dari kejauhan.
Nilai karakter tanggung jawab dalam Kamud Umum Bahasa Besar Indonesia adalah keadaan dimana wajib menanggung segala sesuatu, sehingga berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunyaatau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Adapun tanggung jawab secara definisi merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Dalam kutipan sub bab 2 Sutan Mahmud dengan saudaranya yang Perempuan pada halaman 25 paragraf 1, pesan nilai karakter yang bisa kita lihat yaitu sikap seorang kepala Negara yang telah memiliki sikpa tanggung jawab terhadap keselamatan warganya. Selanjutnya
dalam kutipan sub bab 11 Nurbaya Lari ke Jakarta halaman 226 paragraf 8, pesan karakter yang dapat kita lihat yaitu sikap tanggung jawab seorang laki-laki atau ayah atau orang yang lebih tua dalam melindungi anak perempuannya. Ada pula pada kutipan sub bab 2 Sutan Mahmud dengan Saudaranya yang perempuan halaman 21 paragraf 9, pesan yang dapat kita petik yaitu sikap seseorang yang patuh akan adat istiadat yang mengikatnya dan bertanggung jawab atas tanggungannya. Dalam kutipan sub bab 8 Surat Nurbaya kepada Samsulbahri halaman 149 paragraf 1 menunjukkan nilai karakter tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuan satu-satunya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak kita perhatikan bahwa orang-otang dengan karakter buruk cenderung mempermasalahkan keadaan mereka. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita. Namun karakter anda tidaklah demikian. Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya masing- masing.
Dalam roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli ini sangat mengedepankan nilai-nilai terutama nilai pendidikan karakter. Nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam roman ini seperti nilai karakter religius, jujur, kerja keras, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Rasa tanggung jawab juga sangat perlu diajarkan kepada siapapun terutama anak-anak. Banyak orang yang selalu sembunyi dalam masalah, namun dalam roman ini diajarkan rasa bertanggung jawab atas masalah- masalah yag dihadapi. Dalam roman tersebut nilai karakter positif menjadi dominan daripada nilai karakter negatif, sehingga roman tersebut cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama kalangan kaum remaja.
61
B. Saran
Roman merupakan bagian dari karya sastra dengan bentuk prosa yang berisi pengalaman kehidupan tokoh, mulai dan lahir sampai dewasa hingga meninggal dunia. Roman disajikan biasanya disajikan dalam jumlah halaman yang banyak sehingga membuat pembaca merasa cepat bosan untuk membacanya. Namun, siapa sangka jika dalam roman tersebut banyak pengalaman-pengalaman baru yang dapat kita pelajari.
Seperti halnya nilai-nilai kehidupan. Dalam roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli terdapat banyak nilai-nilai salah satunya nilai pendidikan karakter. Ada banyak nilai pendidikan karakter yang dapat kita ambil dari roman ini. Penulis sangat mengapresiasi roman ini.
Marilah senantiasa membaca dan menelaah apa yang ada di sekitar untuk memperkaya dan mempertajam pikiran dan kehalusan budi. Salah satu caranya adalah dengan menelaah karya sastra yang sarat akan nilai kemanusiaan dan kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Ambar. 2018. Teori Representasi dalam Komunikasi Visual.
www.pakarkomunikasi.com. Diakses Januari 2019.
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindi.
... 2008. Pengantar Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo; Cetakan Ke Enam.
Anggraini. 2018. Representasi sebagai Perangkat Konsep yang Menghubungkan Bahasa dan Makna. www.kompasiana.com. Diakses Desesmber 2018.
Barus, Robi Agape. 2016. 23 Pengertian Nilai Menurut Para Ahli.
www.edukasinesia.com. Diakses Desember 2018.
Budianta, Melani, dkk. 2002. Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi). Magelang: Indonesia Tera.
Danesi, Marcell.2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Jalasutra: Yogyakarta.
Djajasudarman, Fatimah. T. 1993. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan kajian. Bandung: PT. Eresco.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistimologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Eriyanto. 2005. Analisis wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta:
LKIS Pelangi Aksara.
Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung:
Angkasa
Fiske, John. 2012. Pengantar Ilmu KomunikasiI. Rajawali Pers: Jakarta.
Hall, Struat. 1997. Representation: Cultur Representation and Signifing Practices.
California: Sage Publication Ltd.
Keraf, Gorys. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Kosasih. 2011. Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung: Yrama Widya.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Manneke Budiman, Sastra dan Representasi, (Jakarta: Junal Kalam, 1998)
Marah Rusli, 2013. Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai.Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero).
Matzkowski, Bernd.1998.Grundlagen der Analyse und Interpretation einzelnerTextsorten und Gattung mit Analyseraster.Hollfeld:Bange.
Miharja, Ratih. 2012. Buku Pintar sastra Indonesia. Majas, Sajak, Puisi, Pantun, dan Peribahasa. Jakarta: Laskar aksara.
Muchlas, dan hariyanto. 2013. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya.
Muchlis, Mansur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta; PT. Bumi Aksara.
Nazaruddin, Kahfie. 2015. Pengantar Semiotika. Yogyakarta:Graha Ilmi.
Nurgyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Padeta, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Pranachitra, bima. 2010. Representasi Byronic Hero dalam Novel Mary Shelley frankenstein Karya Mary Shelley. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Pradopo. 2003. Prinsip-prinsip Kritik Sastra.Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Rahma, Fadila. 2017. Representasi Perjuangan Perempuan dalam Film “Mona Lisa Smile” (Studi Analisis Semiotika). Skripsi Universitas Islam Negeri, Makassar.
Rimang, Siti Swadah. 2011. Kajian Sastra Teori dan Praktik. Yogyakarta: Aura Pustaka.
Ruttkwoski, at. al. 1974. Das Studium der Deutschen literatur. Philadephia:
National Carls Schruz Association.
Sadikin, Mustofa.2010. kumpulan Sastra Indonesia. Jakarta: Gudang Ilmu.
Sayuti, Suminto. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: gama Media.
Setiawan, Agus, A. Dalam Uli 2012. Pemahaman Teori Sastra. Teori Sastra.
bandung.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suyudi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex, 2013. Semiotika Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Teeuw, A. dalam Ma‟ruf, Al. 2006. Dimensi Sosial Keagamaan Dalam Fiksi Indonesia. Publikasih Ilmiah. Solo
Vera, Nawiroh, 2015. Semiotika dalam Riset Komunikasi, cet 2. Ghalia Indonesia:
Bogor.
Wahda, 2015. Representasi perempuan Muslim Dalam Sinetron catatan Hati Seorang istri. Skripsi Universitas Negeri Sunan kalijaga,Yogyakarta.
Waluyo, Herman, J. 2000. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
... 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wibowo, Indawan Seto wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi Aplikasi Prakis bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media
Wicaksono, Andri. 2014. Menulis Kreatif Sastra: dan Beberapa Model Pembelajaran. Yogyakarta: Garudhawaca.
Widyanitya, Dhika. 2011, Representasi Perjuangan Hidup dalam Novel “Surat Kecil Untuk Tuhan, Skripsi Universitas Pembangunan Nasional. Jawa Timur.
Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.
Zoes, Aart Van dan Panuti Sudjiman. 2002. Serba-serbi Semiotika. Dramedia Pustaka Utama: Jakarta.
L A M
P
I
R
A
N
SINOPSIS
Samsulbahri dan Sitti Nurbaya berteman sudah sejak kecil dan selalu bersama-sama seperti saudara. Samsulbahri adalah anak Sutan Mahmud Syah, penghulu di Padang, sedangkan Sitti Nurbaya anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang. Hingga suatu hari, Samsulbahri harus berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Sebelum berangkat Samsulbahri menyatakan cintanya pada Sitti Nurbaya. Ternyata perasaan itu terbalas. Betapa bahagianya hati mereka berdua. Sungguh berat rasanya bagi mereka karena harus berpisah. Besoknya Samsulbahri dan teman-temannya, Arifin dan Bakhtiar berangkat untuk melanjutkan sekolah ke sekolah Dokter Jawa dan Sekolah Opester di Jakarta.
Sudah tiga bulan sejak kepergian Samsulbahri. Nurbaya termenung ketika seorang pak pos memberikan surat dari Samsulbahri. Setelah selasai membaca surat, dia tertidur kira-kira pukul dua malam dia terbangun karena mendengar tiga buah tokonya terbakar dan lima perahu yang mengangkut kapal miliknya tenggelam. Sutan Mahmud curiga bahwa toko itu sengaja dibakar tapi dia tidak tahu siapa pelakunya karena sepertinya Baginda Sulaiman tidak punya musuh.
Baginda meminjam uang kepada Datuk Meringgih. Saat jatuh tempo membayar hutang Baginda tidak mempunyai uang karena dia telah bangkrut. Bila dia tidak bisa melunasinya maka dia akan dipenjara dan disita harta bendanya. Karena tak tega pada ayahnya, Nurbaya pun akhirnya menyerahkan diri untuk dinikahi oleh datuk Meringgih.
Saat bulan Ramadhan, Samsu pulang dan menemani Nurbaya. Mereka berdua pun bercakap-cakap dan tanpa sengaja terbawa perasaan karena lama tak bertemu. Mereka berpelukan dan berciuman karen saking kangennya tanpa disengaja kejadian itu dilihat oleh Datuk Meringgih mara karena mereka bertemu diam-diam. Terjadilah keributan. Baginda Sulaiman buru-buru keluar dari biliknya dan ketika dia menuruni tangga, jatuhlah ia terguling-guling dan akhirnya meninggal. Nurbaya marah dan mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya.
Ayahnya pun di kuburkan di Gunung Padang. Sementara itu ayah samsu mengusir Samsu dari rumahnya. Ibunya menangis dan akhirnya jatuh sakit. Pada saat itu juga Nurbaya dan Datuk Meringgih bercerai. Nurbaya pun tinggal di rumah sepupunya, Sitti Alimah. Nurbaya hanya termenung memikirkan kepergian Samsulbahri, Alimah yang melihatnya termenung berusaha menghiburnya.
Alimah menyarankan untuk menyusul Samsu ke Jakarta.
Sitti menyetujuinya dan akan berangkat sabtu depan. Sitti merasa lega dan terlelap tidur bersama Alimah. Kemudian sabtu depan Nurbaya dan pak ali menaiki kapal dan akakn segera berangkat ke Jakarta. Mereka tidak menyadari dua orang laki-laki mengikuti mereka. Mereka adalah panglima tiga dan panglima Lima. Panglima Tiga kembali ke Padang untuk memberitahukan Datuk Meringgih. Sedangkan Panglima Lima masih mengikuti Sitti Nurbaya. Dikapal tiba-tiba ada badai, Sitti pun duduk di kursi. Tiba-tiba Panglima Lima muncul dan hendak melempar Sitti kelaut. Tapi Sitti duluan minta tolong dan Pak Ali pun segera menolongnya. Mendengar banyak orang yang datang Sitti Nurbaya pun disuruh beristirahat di kamar sakit. Saat kapal tiba, Samsu segera menuju kamar
sakit dan menjenguk Sitti. Tiba-tiba Schout memeriksa dan menyerahkan surat pada samsu yang ternyata berasal dari Datuk Meringgih yang isinya menuduh Sitti mengambil barang-barang milik Datuk Meringgih. Ketika tidak ditemukan apa-apa mereka pun keluar dari kamar itu. Pada suatu ketika, tampak Sitti Nurbaya dan Sitti Alimah sedang bercakap-cakap. Ketika mereka sedang bercakap-cakap didengarlah suara tukang jualan kue Sitti membeli empat buah lemang. Ketika dia memakannya dia pun tertidur. Setelah diperiksa, ternyata dia sudah tidak bernapas lagi. Ternyata yang menjual kue itu adalah Pendekar Empat, anak buah Datuk Meringgih. Ibu Samsu yang sakit keras dikampugn sebelah pun tiba-tiba berpulang. Makam kedua jenazah ini di kuburkan dekat makam Baginda Sulaiman. Samsu yang mendengar kabar ini merasa sedih dan terpukul. Dia pun menembakkan pistol ke kepalanya hingga berlumuran darah. Sepuluh tahun kemudian, tampak dua orang opsir berjalan. Salah satunya adalah Letnan Mas yang gagah berani di medan perang sehingga tanda bintang pun menghiasinya.
Suatu hari dia ditungaskan ke Padang untuk memungut uang belasting. Karena masyarakat disana tak setuju dengan peraturan itu, terjadilah kerusuhan. Tampak Datuk Meringgih ikut menyerang. Letnan Mas pun segera menyerangnya.
Setelah diamati, ternyata Letnan Mas adalah samsulbahri. Betapa terkejutnya dia, tetapi peperangan tetap berlangsung hingga pistol Samsu mengenai Datuk Meringgih dan parang Datuk Meringgih mengenai Samsu.
Terkaparlah mereka berdua. LetnanMas segera di bawa ke dokter. Disana dia meminta untuk bertemu dengan Sutan Mahmud. Setelah itu, dia pun meninggal.
Beberap tahun kemudian Sutan Mahmud pun meninggal. Di Gunung Padang