• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

i. Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Miskin

Gambaran tingkat pengeluaran rumah tangga miskin di Kabupaten Mamuju Tengah ditampilkan dalam tabel berikut.

Tabel 4.14. Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Mamuju Tengah

No. Tingkat Pengeluaran Frekuensi Persentase (%)

1 Kurang dari Rp 1 juta 5 33,33

2 Rp 1 juta - Rp 1,5 juta 7 46,67

3 Lebih dari Rp 1,5 juta - Rp 2 juta 2 13,33

4 Lebih dari Rp 2 juta 1 6,67

Jumlah 15 100,00

Sumber: Hasil Olah Data, 2020

Berdasarkan tabel 4.14 diketahui bahwa dari 15 kepala rumah tangga miskin yang menjadi responden terdapat 5 orang (33,33%) dengan tingkat pengeluaran kurang dari Rp 1jt, 7 orang (46,67%) dengan tingkat pengeluaran Rp 1 juta - Rp 1,5 juta, 2 orang (13,33%) dengan tingkat pengeluaran Lebih dari Rp1jt - Rp 1,5jt, dan 1 orang (6,67%) dengan tingkat pengeluaran Lebih dari Rp 2jt. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran rumah tangga miskin paling banyak berada pada kategori Rp 1 juta - Rp 1,5 juta.

Pengukuran kemiskinan yang dilakukan BPS dalam penelitian ini menggunakan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Hal ini sejalan dengan Kuncoro (2013) yang mengemukakan bahwa kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum, dimana pengukuran kemiskinan didasarkan pada konsumsi.

Nilai Produk Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Mamuju Tengah menurut ADHB pada tahun 2015 sebesar Rp 2.301,61 miliar, tahun 2016 sebesar Rp 2.486,43 miliar, tahun 2017 sebesar Rp 2.693,68 miliar, tahun 2018 sebesar Rp 2.970,17 miliar, dan tahun 2019 sebesar Rp 3.153,86 miliar. Selanjutnya menurut ADHK 2010 pada tahun 2015 sebesar Rp 1.812,68 miliar, tahun 2016 sebesar Rp 1.902,19 miliar, tahun 2017 sebesar Rp 2.005,78 miliar, tahun 2018 sebesar Rp 2.120,42 miliar, dan tahun 2019 sebesar Rp 2.239,62 miliar.

Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan produksi suatu negara atau kenaikan pendapatan per kapita suatu negara. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi erat kaitannya dengan produk domestik bruto (PDB) atau produk domestik regional bruto (PDRB) jika dalam lingkup daerah. Beberapa hasil kajian dan penelitian telah diperoleh bahwa pertumbuhan ekonomi, IPM, dan kemiskinan memiliki keterkaitan yang erat. Asian Development Bank (2008) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dinamis telah banyak mengurangi kemiskinan.

Masyarakat Kabupaten Mamuju Tengah yang bekerja di bidang Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan Perikanan sebanyak 34.500 orang, di bidang Industri Pengolahan sebanyak 4.630 orang, di bidang Perdagangan

Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel sebanyak 8.557, di bidang Jasa Kemasyarakatan, Sosial, dan Perorangan sebanyak 7.748 orang, dan di bidang Pertambangan dan Penggalian; Listrik, Gas, dan Air; Bangunan; Angkutan, Pergudangan, dan Komunikasi; Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa Perusahaan sebanyak 7.106. Dari data tersebut tergambar pula bahwa masyarakat Kabupaten Mamuju Tengah sebagian besar bekerja di bidang pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan.

Bidang-bidang pekerjaan yang digeluti penduduk yang berdomisili di Kabupaten Mamuju tengah sesuai dengan kondisi demografi di wilayah tersebut.

Kabupaten Mamuju tengah didominasi oleh lahan-lahan perkebunan utamanya perkebunan sawit menjadikan penduduknya lebih banyak bekerja di bidang pertanian. Gaus (2014) mengemukakan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam dimana masyarakat tersebut berdomisili. Kondisi sosial ekonomi memberikan gambaran terhadap tingkat kesejahteraan ataupun pendapatan masyarakat, jenis atau keragaman mata pencaharian yang ditekuni, dan upaya-upaya individu maupun kelompok dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Dari hasil analisis deskriptif diketahui bahwa dari 5 kecamatan di kabupaten Mamuju Tengah jumlah rumah tangga miskin terbanyak berada pada kecamatan Karossa dan yang paling sedikit memiliki rumah tangga miskin yaitu kecamatan Pangale. Kepala rumah tangga miskin di Kabupaten Mamuju Tengah miskin paling banyak berada pada umur 41-50 tahun dengan tingkat pendidikan paling banyak yaitu lulus SMP/Sederajat. Selain itu tingkat pendapatan kepala tumah tangga miskin Kabupaten Mamuju Tengah yang menjadi responden paling banyak berada pada tingkat pendapatan Rp 1.000.000 – Rp 1.500.000 dan

tingkat pengeluarannya paling banyak berada pada Rp 1.000.000 – Rp 1.500.000.

Pendidikan dan pendapatan merupakan karakteristik sosial ekonomi rumah tanggah miski sebagaimana dikemukakan oleh Saragih (2016) bahwa karakteristik sosial ekonomi rumah tangga miskin antara lain: pendidikan yang rendah, pendapatan keluarga rata-rata rendah, keterbatasan sumber daya alam dan terbatasnya lapangan kerja. Efendi (1996) menambahkan bahwa besar kecilnya pendapatan seseorang dapat mempengaruhi kesejahteraan dan kemakmuran rumah tangga, bahkan dengan penghasilan yang memadai dapat mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan.

52 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Karakteristik sosial rumah tangga miskin di Kabupaten Mamuju Tengah ditinjau dari umur dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga miskin. Umur kepala rumah tangga miskin paling banyak berada pada umur 41-50 tahun dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga miskin paling banyak berada pada kategori tingkat pendidikan lulus SMP/Sederajat.

2. Karakteristik ekonomi rumah tangga miskin di Kabupaten Mamuju Tengah dilihat dari tingkat pendapatan dan tingkat pengeluaran rumah tangga miskin.

tingkat pendapatan kepala rumah tangga miskin paling banyak berada pada kategori lebih dari Rp1jt - Rp 1,5jt, dan tingkat pengeluaran rumah tangga miskin paling banyak berada pada kategori Rp 1 juta - Rp 1,5 juta.

B. Saran

Saran-saran yang dapat penulis kemukakan yaitu sebagai berikut:

1. Gambaran karakteristik penduduk miskin di Kabupaten Mamuju tengah hendaknya menjadi bahan acuan bagi pemerinta setempat untuk berupaya meminimalisir angka kemiskinan di Kabupaten Mamuju.

2. Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal-hal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dengan objek penelitian yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Adianti, G. (2012). Analisis faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan di DKI Jakarta (Studi Komparatif di Pemukiman Kumuh dan Tidak Kumuh). Tesis tidak diterbitkan. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Agunggunanto, E. F. (2011). Analisis kemiskinan dan pendapatan keluarga nelayan kasus di Kecamatan Wedung Kabupaten Demak Jawa Tengah Indonesia. Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan. 1 (1) : 50-58.

Aminah, L. N. (2013). Kontribusi Hutan Rakyat Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani di Desa Buana Bakti Lampung Timur. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Arif, S. (2016). Prinsip-prinsip Penanggulangan Kemiskinan di Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah. Buletin Ilmiah MARINA Sosial Ekonomidan Perikanan.

Badan Pusat Statistik. (2017). Makassar dalam Angka 2017. Makassar Universitas Hasanuddin Makassar.

Bahua, Ikbal Mohamad. (2014). Kontribusi Pendapatan Agribisnis Kelapa Pada Pendapatan Keluarga Petani Di Kabupaten Gorontalo. Universitas Negeri Gorontalo.

BPS. Groce, Nora. (2011). Poverty and disability– a critical review of the literature in Low and Middle-Income Countries. UCL Working Paper Series: No. 16.

Christiani S. Timbulus. (2015). Kontribusi Usahatani Salak Terhadap Pendapatan Keluarga Petani Di Wilayah Pangu Kecamatan Ratahan Timur.

Universitas Sam Ratulangi.

Denik,Novita Sari. (2016). Analisis Pendapatan Petani Padi Di Desa Sanankerto Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Jurnal. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis,Universitas Muhammadiyah Malang.

Fatmawati, M. Lumintang. (2013). Analisis Pendapatan Petani Padi Di Desa Teep Kecamatan Langowan Timur. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sam Ratulangi Manado.

Guiga, H., & Rejeb, J. b. (2012). Poverty, Growth and Inequality In Developing Countries. International Journal of Economics and Financial Issues, 2 (4), 470-479.

Harahap, M. R. (2017). Analisis Tingkat Kemiskinan Rumah Tangga Di Kota Padangsidimpuan. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Husinsyah. (20015). Kontribusi Pendapatan Petani Karet Terhadap Pendapatan Petani Di Kampung Mencimai. Jurnal. Universitas Mulawarman, Samarinda.

Jemadi. (2011). Analisis Tentang Tingkat Pendapatan Usahatani Padi Dan Mendong Serta Kontribusinya Terhadap Pendapatan Keluarga, Di Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman Yogyakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta.

Komala, Sri Ratna. (20013). Analisis Usahatani Duku Dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Universitas Sriwijaya.

Nuraini, Nina. (2012). Analisis Kualitas Hidup Petani Pangan Di Desa Dringu Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Universitas Negeri Malang.

Rahmita, dkk. (2010). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pendapatan Keluarga Petani Melalui Sektor Informal Di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Bengkalis. Jurnal.

Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya.

Saragih, Faoeza Hafiz. (2016). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga Tani Padi. Fakultas Pertanian Universitas Medan Area.

Sundari, Mei Tri. (2011). Analisis Biaya Dan Pendapatan Usaha Tani Wortel Di Kabupaten Karanganyar. Agrobisnis Fakultas Pertanian UNS.

Tumiwa, Johan R. (2015). Analisa Pengaruh Pendidikan Terhadap Pendapatan Sebuah Analisa Jalur. Skipsi. Fakultas ekonomi, Universitas Sam.

Weriantoni, dkk. (2017). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan Petani Karet. Jurnal. Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh Budiartinmgsih,

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Data Karakteristik Sosial Ekonomi Responden No. Urut

Responden

Umur

(Tahun) Tingkat Pendidikan Tingkat Pendapatan Tingkat Pengeluaran

1 32 Lulus SMA/Sederajat > Rp1,5jt - Rp 2jt > Rp 1,5 juta - Rp 2 juta

2 43 Lulus SMP/Sederajat < Rp 500rb < Rp 1 juta

3 55 Tidak Lulus SD > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

4 50 Lulus SMP/Sederajat > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

5 63 Tidak Lulus SD > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

6 42 Lulus SD/Sederajat Rp 500rb - Rp 1jt < Rp 1 juta

7 52 Lulus SMP/Sederajat > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

8 40 Lulus SD/Sederajat Rp 500rb - Rp 1jt < Rp 1 juta

9 46 Lulus SMP/Sederajat Lebih dari Rp 2jt > Rp 2 juta

10 29 Lulus SMA/Sederajat > Rp1,5jt - Rp 2jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

11 56 Lulus SD/Sederajat > Rp1,5jt - Rp 2jt > Rp 1,5 juta - Rp 2 juta

12 44 Lulus SMP/Sederajat > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

13 34 Lulus SMP/Sederajat > Rp1jt - Rp 1,5jt Rp 1 juta - Rp 1,5 juta

14 28 Lulus SMA/Sederajat < Rp 500rb < Rp 1 juta

15 35 Lulus SD/Sederajat Rp 500rb - Rp 1jt < Rp 1 juta

Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian

Dokumen terkait