• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Tinjauan Empiris

Bastiana, Analisis (2014) karakteristik sosial Ekonomi dan Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan hasil analisis penelitian:

1. Ditinjau dari karakteristik demografi, umumnya rumah tangga miskin memiliki kepala keluarga yang berjenis kelamin laki-laki dengan usia ≤ 50 tahun, memiliki jumlah anggota rumah tangga sebesar > 4 orang dan merupakan penduduk pribumi.

2. Ditinjau dari karakteristik ekonomi, umumnya rumah tangga miskin memiliki pendapatan ≤ Rp. 600. 000 perbulan sehingga tidak memiliki aset yang mudah dijual, memiliki kesanggupan menyediakan bahan makanan ≤ 2 kali dalam sehari, membeli daging dan susu ˂ 1 kali dalam seminggu, tidak sanggup membayar biaya pengobatan jika ada anggota keluarga yang sakit, dan hanya mampu membeli pakaian baru ≤ 1 kali dalam setahun itupun hanya pada saat menjelang hari raya keagamaan.

Selain itu, masyarakat miskin tersebut juga menggunakan jenis bahan

bakar gas untuk memasak sehari-hari akibat adanya gas bersubsidi dari pemerintah melalui program konversi minyak tanah ke gas.

3. Ditinjau dari karakteristik sosial, umumya rumah tangga miskin memiliki tingkat pendidikan yang rendah yaitu tidak sekolah (TS), tidak tamat SD (TTSD), tamat SD (SD) dan tamat SMP (SMP). Dari segi kesehatan, masyarakat miskin umumnya memiliki fasilitas MCK hanya saja mereka mengkonsumsi air minum yang berasal dari PDAM seperti di wilayah pusat kota meskipun harus membeli.

4. Ditinjau dari karakteristik perumahan, umumnya rumah tangga miskin memiliki bangunan rumah yang semi permanen ataupun darurat hal ini terlihat dari banyaknya rumah yang memiliki luas lantai bangunan ≤ 8 meter persegi perorang dengan jenis lantai bangunan terbuat dari tanah atau kayu kualitas rendah, dan memiliki jenis dinding yang terbuat dari bahan bukan tembok seperti kayu kualitas rendah, seng, tripleks, dan lain sebagainya, serta menggunakan listrik sebagai sumber penerangan rumah tangga.

Arif Takdir (2015), Analisis karakteristik sosial Ekonomi dan Pendapatan Rumah Tangga Miskin di kabupaten Aceh Barat Daya, Berdasarkan hasil analisis penelitian:

1. Garis kemiskinan menurut pendekatan Sajogyo di Kabupaten Aceh Barat Daya untuk jumlah anggota keluarga/ tanggungan 3 orang sebesar Rp 536. 000. -, dan seterusnya untuk AK3, AK4, AK5, AK6 masing-masing sebesar Rp 714. 667; Rp 893. 333; Rp 1,072. 000; dan Rp 1. 250. 667. - 2. Garis kemiskinan di Kabupaten Aceh Barat Daya berdasarkan jumlah

anggota keluarga/tanggungan sebagai subsisten adalah Rp 406. 961,77,

tingkat pendidikan sebagai subsisten adalah sebesar Rp 630. 535,807 dan kelompok umur anak sebesar Rp 452. 149,402.

Rommy Qurniati (2015), Analisis karakteristik sosial Ekonomi dan Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Desa Sidodadi Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran, Berdasarkan hasil analisis penelitian, Kondisi rumah pada penelitian ini dilihat dari beberapa tolak ukur seperti jenis atap, bilik, status rumah, luas dan lantai. Rumah tangga yang berbatasan dengan hutan mangrove di Desa Sidodadi 45% menggunakan genteng untuk atap rumahnya, kondisi bilik 43% menggunakan tembok, status rumah 37% rumah pribadi, luas rumah 73% memiliki luas tanah 90-120 m2 dan lantai rumah 55% menggunakan plester/semen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kondisi rumah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan. Umumnya rumah tangga yang berbatasan dengan hutan mangrove merupakan warga pendatang yang bekerja dalam proyek pembangunan tambak di Desa Sidodadi, sehingga masyarakat membangun rumah untuk dijadikan sebagai tempat tinggal dan menetap di desa tersebut.

Rumah tangga yang tinggal berbatasan dengan hutan mangrove di Desa Sidodadi sebagian (45%) masih tergolong miskin. Kemiskinan yang terjadi tidak dipengaruhi oleh umur, jenis pekerjaan, kesehatan, suku/etnis dan kondisi rumah. Karakteristik rumah tangga yang berpengaruh terhadap kemiskinan di Desa Sidodadi adalah pendidikan, pendapatan, jumlah anggota keluarga yang bekerja dan fasilitas rumah. Rumah tangga tidak banyak memiliki alternatif sumber pendapatan akibat rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dari hutan mangrove.

Elvira Handayani Jacobus (2018), Analis karakteristik sosial Ekonomi dan Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Sulawesi Utara, Berdasarkan hasil analisis penelitian. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga. Artinya apabila pendidikan naik maka kemiskinan rumah tangga akan turun cetiris paribus. Kemiskinan diartikan sebagai kondisi ketidakmampuan pendapatan dalam mencukupi kebutuhan pokok sehingga kurang mampu untuk menjamin kelangsungan hidup (Suryawati, 2004: 122). Secara teoritis, semakin tinggi pengetahuan atau semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi kemampuan orang untuk berpikir, semakin baik kemampuan untuk melakukan sesuatu, semakin tinggi kemampuan untuk memecahkan masalah. Semakin lama seseorang belajar, semakin banyak pengetahuan yang diperoleh sehingga orang akan lebih rasional dalam melihat dan memahami masalah serta mencari solusi atau melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Pendidikan memungkinkan orang untuk mencapai kinerja yang lebih baik dalam berbagai kegiatan termasuk produksi dan, karenanya, mencapai pendapatan yang lebih tinggi (Paulus, Tri dan Sri, 2017). Rendahnya kemampuan pendapatan diartikan pula sebagai rendahnya daya beli atau kemampuan untuk mengkonsumsi Kemampuan pendapatan yang relatif terbatas atau rendah menyebabkan daya beli seseorang atau sekelompok orang terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok menjadi rendah (Nugroho, 1995: 17). Taraf pendidikan yang rendah.

Kondisi ini disebabkan karena keterbatasan pendapatan untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkan atau sesuai dengan standar pendidikan. Pada rumah tangga, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh kepala rumah

tangga merupakan hal sangat vital. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penghasilan (Simanjuntak, 1985) dan kepala rumah tangga merupakan sumber penghasilan utama dalam rumah tangga. Sehingga pendidikan yang telah ditempuh oleh kepala rumah tangga menjadi faktor yang penting dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga.

Muhammad Husaini (2017) Analisis karakteristik sosial Ekonomi dan Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Barito Kuala berdasarkan hasil analisis penelitian:

1. Karakteristik sosial ekonomi dapat dilihat dari usia yang termasuk kedalam usia produktif, tingkat pendidikan relatif rendah, jumlah tanggungan keluarga relatif kecil, kepemilikan lahan relatif sempit, jumlah aset yang dimiliki rumah tangga relatif kecil.

2. Indeks ketahanan pangan rumah tangganya sebagian besar termasuk ke dalam tidak tahan sampai dengan kurang tahan.

3. Karakteristik sosial ekonomi seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, serta total asset yang dimiliki tidak signifikan dan berkontribusi relatif kecil terhadap tingkat ketahanan rumah tangga.

Dokumen terkait