• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Peranan auditor internal dalam mendeteksi fraud

Dalam SAS No 99 yang berjudul Consideration of Fraud in a Financial Statement menyatakan seorang auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan keyakinan memadai (reasonable) bahwa Laporan Keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan (error) maupun kecurangan (fraud).

Dalam merencanakan audit, auditor harus menilai risiko terjadinya kecurangan. SAS 82 menyatakan bahwa penilaian risiko salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan merupakan proses kumulatif yang terdiri

dari pertimbangan faktor risiko yang berdiri sendiri-sendiri atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Selanjutnya, auditor harus mengembangkan suatu rencana sebagai tanggapan atas risiko yang ada dalam penugasan serta melaksanakan apa yang telah direncanakan dengan menggunakan secara cermat dan seksama kemahiran profesionalnya. Apabila auditor menyimpulkan bahwa ternyata laporan keuangan mengandung unsur salah saji yang material dan bahwa laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku umum, maka auditor harus mendesak agar manajemen melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Apabila manajemen menyetujuinya, auditor dapat menerbitkan suatu laporan audit standar yang menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian. Namun apabila laporan keuangan tersebut ternyata tidak direvisi, auditor harus memodifikasi laporan standar untuk penyimpangan dari standar akuntansi yang berlaku umum serta mengungkapkan semua alasan penting yang menyertainya dalam laporan audit.

Dari hasil analisis data yang telah dilakukan maka peranan auditor internal dalam mendeteksi fraud sangat penting hal ini dilihat dari keaktifan auditor internal dalam mengontrol dan mengawasi apa yang sedang berjalan diperusahaan. Salah satu yang paling riskan yang harus dikontrol adalah bagian penjualan dan gudang. Kemudian disesuaikan dengan rencana strategis target Perusahaan dalam mencegah fraud

Penelitian ini senada dengan penelitian yang dilakukan Singleton (2002) bahwa kebijakan bisnis dan hukum yang berlaku pada perusahaan

membutuhkan manajemen yang menekankan pada keefektifan pengendalian internal dan kekuatan pada lingkungan pengendalian untuk melin-dungi aset perusahaan sehingga dapat mencegah terjadinya fraud

Rosmita Dewi dan R Nelly Nur Apandi (2013) yang menemukan bahwa Auditor internal memiliki peran dalam mendeteksi Fraud akan tetapi esensi yang penting dari keberadaan internal auditor adalah peran pimpinan unit yang terkecil yang memastikan bahwa rekomendasi yang diberikan oleh auditor internal dilaksanaan, namun apabila integritas manajemen dalam upaya perbaikan tidak ada maka hal tersebut menjadi sia-sia.

2. Jenis fraud yang terjadi pada PT Iswanto Makassar

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan senantiasa menghadapi berbagai resiko yang dinamakan resiko bisnis (business risk).

Termasuk diantaranya adalah resiko terjadinya kecurangan (fraud) yang tergolong dalam resiko integritas (Integrity Risk). Tanda-tanda awal (symptoms) biasanya muncul dalam kasus kecurangan, walau demikian munculnya symptoms tersebut belum berarti telah terjadi kecurangan. Symptoms ini dikenal dengan nama Red flag, yang seyogyanya dipahami dan digunakan oleh internal auditor dalam melakukan analisis dan evaluasi lebih lanjut untuk mendeteksi adanya kecurangan yang mungkin timbul sebelum dialakuakan investigasi.

Adapun jenis fraud yang terjadi pada PT Iswanto Grup Makassar dinataranya adalah:

1. Accounting anomaly yang ditandai dengan adanya penundaan pencatatan, belum lagi karena perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga,

terkadang biaya yang tidak berkaitan denga perusahaan diakui sebagai biaya pada perusahaan (terlampir)

2. Adanya pengeluaran barang dari dalam gudang yang tidak sesuai dengan DO barang (Terlampir)

3. Adanya Lapping, dimana adanya penundaan pengakuan uang dari transaksi penjualan tunai / kredit karena penyalahgunaan wewenang (Terlampir)

4. Adanya kecurangan bagian penagihan yang membuat faktur fiktif.

(Terlampir)

BAB VI PENUTUP

A. Simpulan

Maraknya kasus kecurangan yang dilakukan , memungkinkan Perusahaan pada umumnya untuk melakukan deteksi sedini mungkin terhadap Gejala fraud, dan memaksimalkan peranan audior internal guna meminimalisasi tindak kecurangan yang dilakukan fraudster. Berdasarkan uraian atas masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis memberikan simpulan atas masalah tersebut :

3. Peran auditor internal dalam mendeteksi fraud adalah melalui independensi yang dimiliki, perilaku jujur dan bertanggungjawab dalam penyelesaian pekerjaan dalam bidang audit kecurangan sehingga tingkat fraud yang terjadi dalam perusahaan sudah dapat dikendalikan.

4. Dejteksi fraud lebih awal adalah melihat trend dari transaksi yang terjadi, kemudian mengambil sampling buril/pemeriksaan buril (membandingkan nota ) kemudian dilajutkan dengan field work yaitu pengujian yang dilakukan dengan langsung turun kelapangan guna melakukan pencocokan faktur penjualan kredit dengan bagian penjualan kredit dan bukti pendukung piutang dengan bukti yang ada pada pelanngan untuk melakukan verifikasi dan sekaligus meminta klarifikasi dari pelanggan bersangkutan mengenai jumlah yang tertera

78

pada faktur agar bisa dibandingkan dengan hasil pemeriksaan buril yang dilakukan diawal.

3. Tindakan fraud yang umumnya terjadi di PT Iswanto Makassar yang pertama adalah Accounting Anomaly yang ditandai dengan adanya penundaan pencatatan, Sedangkan gejala lainnya yaitu perencanaan anggaran yang belum matang dapat memicu terjadinya transaksi fiktif/

faktur fiktif, adanya lapping yang dilakukan oleh sales, belum lagi karena perusahaan ini merupakan perusahaan keluarga, terkadang biaya yang tidak berkaitan dengan perusahaan diakui sebagai biaya pada perusahaan, ini merupakan salah satu tindakan accounting anomally.

B. Saran

Setelah menyimpulkan hasil analisis maka penulis akan mencoba mengemukakan saran-saran dalam penelitian ini:

1. Auditor internal seharusnya tidak boleh merangkap menjabat accounting sehingga memungkinkan auditor internal menjaga independensi dalam proses audit.

2. Tindakan fraud yang sering terjadi berada di bagian penjualan dan penagihan penjualan, sehingga perlu dilakukan pengendalian internal terkait dengan pemeriksaan kelemahan dan kekurangan yang dilakukan oleh perusahaan.

3. Pihak managemen harusnya tidak mendukung tindakan fraud berupa Accounting Anomaly terkait dengan PT Iswanto ini merupakan

perusahaan keluarga dimana biaya yang tidak berkaitan dengan perusahaan diakui sebagai biaya pada perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Albrecht. W. S. 2003. Fraud Examination. South western: Thomson.

Amrizal. 2004. Pencegahan dan pendeteksian kecurangan oleh Auditor Internal . Diakses di www.bpkp.go.id/unit/investigasi /cegah_deteksi.pdf

Arens. Alvin A et al.2008. Auditing dan Jasa Assurance. Jakarta: Erlangga Bayangkara. IBK. 2011. Audit Manajemen. Edisi keenam. Jakarta: Salemba empat.

Dewi, Rozmita dan R. Nelly Nur Apandi. Gejala Fraud dan Peran Auditor Internal dalam Pendeteksian Fraud dilingkungan Perguruan Tinggi (Studi Kualitatif).Diakses 19 Februari 2015 Pukul 17.45 WIT.

Haryono. Jusuf. 2001. Auditing. Buku Dua. Yogyakarta: STIE YKPN Hery. 2010. Potret Audit Internal. Bandung: Alfabeta

Kosasih. Ruhcyat. 1981. Auditing: Prinsip Dan Prosedur. Ananda Yogyakarta:

Yogyakarta

Kumaat, Valery G. 2011. Internal Audit. Jakarta: Erlangga.

Moleong. Lexi J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya :Bandung

Sawyer. B Lawrence.et al. 2005. Internal Auditing. The IIA: Salemba Empat.

Singleton & Singleton. 2010. Fraud Auditing and Forensic Accounting.Fourth Edition Wiley Corporate F&A

Santoso, Urip dan Pambelum, 2008. Pengaruh Penerapan Akuntansi Sektor Publik Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dalam Mencegah Fraud. Jurnal Administarasi Bisnis, Vol.4. FISIP-UNPAR Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Penerbit

Alfabeta: Bandung

Sukanto. Emam. 2009. Perbandingan Persepsi Auditor Internal, Akuntan Publik dan Peran Auditor Pemerintah terhadap Penugasan Fraud Audit dan Profil Auditor. Fokus Ekonomi Vol.1 No.1 Juni 2009. Hal : 13-26

81

Diakses 19 Februari 2015 Pukul 17.45 WIT. http://stiepena.ac.id/wp- content/upload/2012/11/pena-fokus-vol-4-no-1-13-26.pdf.

Tunggal. Widjaja. 2011. Pengantar kecurangan Korporasi. Harvarindo: Jakarta Tunggal. Widjaja. 2012. Pedoman Pokok Audit Internal. Harvarindo: Jakarta http://bhuono76.wordpres.com diakses 19 februari 2015 Pukul 18.18

Amrizal. 2004. Pencegahan dan pendeteksian kecurangan oleh Auditor Internal . Diakses di www.bpkp.go.id/unit/investigasi /cegah_deteksi.pdf

Arens. Alvin A et al.2008. Auditing dan Jasa Assurance. Jakarta: Erlangga

Bayangkara. IBK. 2011. Audit Manajemen. Edisi keenam. Jakarta: Salemba empat.

Dewi, Rozmita dan R. Nelly Nur Apandi. Gejala Fraud dan Peran Auditor Internal dalam Pendeteksian Fraud dilingkungan Perguruan Tinggi (Studi Kualitatif).Diakses 19 Februari 2015 Pukul 17.45 WIT.

Haryono. Jusuf. 2001. Auditing. Buku Dua. Yogyakarta: STIE YKPN Hery. 2010. Potret Audit Internal. Bandung: Alfabeta

Kosasih. Ruhcyat. 1981. Auditing: Prinsip Dan Prosedur. Ananda Yogyakarta: Yogyakarta Kumaat, Valery G. 2011. Internal Audit. Jakarta: Erlangga.

Moleong. Lexi J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya :Bandung Sawyer. B Lawrence.et al. 2005. Internal Auditing. The IIA: Salemba Empat.

Singleton & Singleton. 2010. Fraud Auditing and Forensic Accounting.Fourth Edition Wiley Corporate F&A

Santoso, Urip dan Pambelum, 2008. Pengaruh Penerapan Akuntansi Sektor Publik Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dalam Mencegah Fraud. Jurnal Administarasi Bisnis, Vol.4. FISIP-UNPAR

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Penerbit Alfabeta:

Bandung

Sukanto. Emam. 2009. Perbandingan Persepsi Auditor Internal, Akuntan Publik dan Peran Auditor Pemerintah terhadap Penugasan Fraud Audit dan Profil Auditor. Fokus Ekonomi Vol.1 No.1 Juni 2009. Hal : 13-26 Diakses 19 Februari 2015 Pukul 17.45 WIT.

http://stiepena.ac.id/wp-content/upload/2012/11/pena-fokus-vol-4-no-1-13-26.pdf.

Tunggal. Widjaja. 2011. Pengantar kecurangan Korporasi. Harvarindo: Jakarta Tunggal. Widjaja. 2012. Pedoman Pokok Audit Internal. Harvarindo: Jakarta

DRAF WAWANCARA

Keterangan Y=Ya T= Tidak

Tr= Tidak relavan

Persediaan Y T TR

1. Apakah persediaan diatur secara rapid an tertib?

2. Apakah persediaan tercegah dari:

- Pencurian?

- Kerusakan?

- Kebakaran, banjir dan resiko lain?

3. Apakah persediaan secara berkala dicocokan dengan kartu gudang?

4. Apakah setiap pengeluaran barang harus sesuai berdasarkan DO barang atau sejenisnya yang diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang?

5. Apakah total jumlah menurut kartu persediaan tersebut secara berkala dicocokan dengan perkiraan control (buku besar ) persediaan?

6. Apakah saldo kartu persediaan dicocokan dengan hasil stock opname paling sedikit setahun sekali?

7. Bila terdapat selisih, apakah diinvestigasi oleh orang yang tidak menguasai persediaan secara phisik atau pemegang kartu perseiaan?

8. Apakah yang mengawasi/ melakukan perhitungan atau menyusun ikhtisar hasil perhitungan terlepas dari:

- Penguasaan secara phisik atas barang (penjaga gudang atau sebagainya)?

- Pencatatan kartu persediaan?

9. Apakah dilakukan cut-off atas penerimaan dan pengeluaran barang selama stock opname ?

10. Apakah barang yang slow moving, using, rusak dipisahkan?

11. Apakah hal-hal sebagai berikut dilaporkan segera kepada manajemen (untuk perbaikan diambil keputusan)?

- Rencana kebutuhan?

- Slow Moving item?

- Barang Usang?

- Kelebihan persediaan?

- Persediaan tersisa?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Kelemahan:

1. Barang-barang yang tidak masuk sebagai persediaan (seperti barang rusak, bocor, using, kadarluasa) harus disingkirkan sebelum tanggal pemeriksaan dari persediaan barang yang siap dijual untuk menghindari adanya kesalahan mengangkutan/perhitungan jumlah phisik persediaan.

2. Semua persediaan harus sudah ditempelkan kartu tanda oleh bagian gudang sebelum perhitungan phisik persediaan dilakukan

Kesimpulan:

Berdasarkan hasil jawaban dari auditor internal setelah dilakukan wawancara maka dapat ditarik kesimpulan penilaian baik, hal ini dikarenakan semua prosedur audit sudah dijalankan dengan benar

DRAF WAWANCARA

Keterangan Y=Ya T= Tidak

Tr= Tidak relavan

Penjualan, Piutang Y T TR

1. Apakah untuk setiap penjualan diminta surat pesanan (purchase order) dari pembeli?

2. Apakah order pembelian dari langganan harus disetujui oleh pejabat perusahaan yang berwenang mengenai harga , syarat kredit dan syarat lainnya?

3. Apakah setiap pengiriman barang didasarkan pada |Delivery Order (DO)

- Apakah DO hanya orang tertentu yang berhak mengotorisasi?

- Apakah bagian akuntansi cukup mengawasi urutan DO dan isinya?

- Apakah DO dikirm langsung ke pembuat faktur?

- Apakah dikaitkan dengan faktur, untuk menjamin DO telah dibuatkan fakturnya?

4. Apakah Fungsi Penjualan terpisah dari - Bagian Keuangan?

- Bagian Akuntansi - Bagian Penyimpanan?

5. Retur Penjualan:

- Apakah harus mendapatkan persetujuan pejabat perusahaan yang berwenang?

- Apakah dibuat berita acara penerimaan kembali barang?

- Apakah barang yang dikembalikan dibukukan dalam:

a. Kartu Gudang?

b. Buku Persediaan?

- Apakah bagian akuntansi mencocokan nota kredit dengan berita acara penerimaan kembali barang?

6. Apakah dibuat kartu piutang?

Bila Ya:

- Apakah secara bulanan atau kuartalan diadakan pencocokan saldo perkiraan control (buku besar piutang) dengan kartu piutang

- Apakah pengamanan phisik kartu piutang cukup?

7. Apakah perkiraan piutang pelangganan secara periodic diteliti mengenai :

- Pelanggan yang sering terlambat?

- Bukti adanya perlunasan sebagian?

- Bukti adanya penghapusan yang tidak dilaporkan?

8. Bila perusahaan memberikan potongan yang lebih besar dari biasanya mendapatakan persetujuan khusus dari pejabat perusahaan yang berwenang?

9. Apakah management sudah melakukan pemisahan fungsi yang menciptakan kondisi saling cek antara unit kerja, dimana tugas kasir terpisah pembukuan piutang?

10. Apakah koreksi faktur dan penghapusan piutang harus disetujui pejabat perusahaan yang berwenang?

Sebutkan siapa? Manager penjualan dan manager akuntansi?

11. Apakah bukti untuk penagihan atas piutang yang telah dihapuskan, diamankan untuk mencegah penyalahgunaan?

12. Apakah secara periodic dibuat analisis umur piutang dan yang sudah lama jatuh tempo?

13. Apakah hasil penagihan langsung diserahkan kepada kasir dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dalam jumlah yang seharusnya diterima?

14. Apakah sudah dilakukan pengawasan terhadap resiko yang terjadi dilapangan?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Kelemahan:

1. Masalah dalam menagih piutang dagang harus dianalisis untuk menentukan apakah terdapat penjualan yang fiktif atau pengalihan dana yang diterima dari penagihan (faktur fiktif terlampir)

2. Mungkin terjadi penyembunyian sementara atas penagihan suatu akun, atau mengembangkan jumlah yang diterima dan kemudian menghapuskan akun sebagai piutang tak tertagih. Dalam kasus tertentu, kekurangan ditutup dengan menggunakan penerimaan kas yang baru dan kemudian kekurangan yang belakangan ditutup dengan penerimaan yang belakangan lagi. Tipe tindakan demikian dikenal sebagai “Lapping” (Terlampir)

Kesimpulan:

DRAF WAWANCARA

Keterangan Y=Ya T= Tidak

Tr= Tidak relavan

Pemeriksaan Kas Y T TR

1. Apakah digunakan kwitansi khusus perusahaan, Bila Ya, apakah:

- Bernomor urut tercetak

- Bentuk Pembayaran dinyatakan dalam kwitansi

2. Bila tidak digunakan kwitansi atau bon (penjualan) tunai, apakah perusahaan menggunakan cash register untuk mengadministrasikan penerimaan? Bila Ya, uraikan internal control mulai dari penerimaan sampai penyetoran hasil penerimaan (pada kertas terpisah)

3. Apakah hasil penerimaan baik dari penjualan tunai maupun penagihan piutang disetorkan secara utuh ke bank ?

4. Apakah penyetoran dilakukan oleh pegawai yang bukan pemegang buku piutang?

5. Apakah bukti setoran dicocokan dengan kwitansi/bon (penjualan) tunai oleh bagian akuntansi?

6. Bila perusahaan membina beberapa dana kas sesuai dengan sumber penggunaannya, apakah dana kas tersebut secara phisik terpisah dan diadministrasikan masing-masing?

7. Apakah pengamanan untuk menjaga uang kas cukup?

Sebutkan bagaimana?

Disimpan dalam brangkas yang kuncinya dipegang oleh dua orang yang berbeda (dual key)

8. Apakah Kantor pusat mengontrol penerimaan cabang?

9. Apakah setiap pembayaran didikung dengan bukti otentik yang telah diperiksa dan disetujui oleh orang lain dari yang menandatangani check dan diparaf?

10. Apakah rekenig Koran langsung dikirim oleh bank kepada orang yang membuat rekonsiliasi(Akuntansi)?

11. Apakah secara berkala dilakukan kas opname secara mendadak?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Keterangan

Tr= Tidak relavan

Pemeriksaan Kas Y T TR

1. Apakah digunakan kwitansi khusus perusahaan, Bila Ya, apakah:

- Bernomor urut tercetak

- Bentuk Pembayaran dinyatakan dalam kwitansi

2. Bila tidak digunakan kwitansi atau bon (penjualan) tunai, apakah perusahaan menggunakan cash register untuk mengadministrasikan penerimaan? Bila Ya, uraikan internal control mulai dari penerimaan sampai penyetoran hasil penerimaan (pada kertas terpisah)

3. Apakah hasil penerimaan baik dari penjualan tunai maupun penagihan piutang disetorkan secara utuh ke bank ?

4. Apakah penyetoran dilakukan oleh pegawai yang bukan pemegang buku piutang?

5. Apakah bukti setoran dicocokan dengan kwitansi/bon (penjualan) tunai oleh bagian akuntansi?

6. Bila perusahaan membina beberapa dana kas sesuai dengan sumber penggunaannya, apakah dana kas tersebut secara phisik terpisah dan diadministrasikan masing-masing?

7. Apakah pengamanan untuk menjaga uang kas cukup? Sebutkan bagaimana?

Disimpan dalam brangkas yang kuncinya dipegang oleh dua orang yang berbeda (dual key)

8. Apakah Kantor pusat mengontrol penerimaan cabang?

9. Apakah setiap pembayaran didikung dengan bukti otentik yang telah diperiksa dan disetujui oleh orang lain dari yang menandatangani check dan diparaf?

10. Apakah rekenig Koran langsung dikirim oleh bank kepada orang yang membuat rekonsiliasi(Akuntansi)?

11. Apakah secara berkala dilakukan kas opname secara mendadak?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Keterangan

Tr= Tidak relavan

Penjualan, Piutang Y T TR

1. Apakah untuk setiap penjualan diminta surat pesanan (purchase order) dari pembeli?

2. Apakah order pembelian dari langganan harus disetujui oleh pejabat perusahaan yang berwenang mengenai harga , syarat kredit dan syarat lainnya?

3. Apakah setiap pengiriman barang didasarkan pada |Delivery Order (DO) - Apakah DO hanya orang tertentu yang berhak mengotorisasi?

- Apakah bagian akuntansi cukup mengawasi urutan DO dan isinya?

- Apakah DO dikirm langsung ke pembuat faktur?

- Bagian Akuntansi - Bagian Penyimpanan?

5. Retur Penjualan:

- Apakah harus mendapatkan persetujuan pejabat perusahaan yang berwenang?

- Apakah dibuat berita acara penerimaan kembali barang?

- Apakah barang yang dikembalikan dibukukan dalam:

a. Kartu Gudang?

b. Buku Persediaan?

- Apakah bagian akuntansi mencocokan nota kredit dengan berita acara penerimaan kembali barang?

6. Apakah dibuat kartu piutang?

Bila Ya:

- Apakah secara bulanan atau kuartalan diadakan pencocokan saldo perkiraan control (buku besar piutang) dengan kartu piutang

- Apakah pengamanan phisik kartu piutang cukup?

7. Apakah perkiraan piutang pelangganan secara periodic diteliti mengenai : - Pelanggan yang sering terlambat?

- Bukti adanya perlunasan sebagian?

- Bukti adanya penghapusan yang tidak dilaporkan?

8. Bila perusahaan memberikan potongan yang lebih besar dari biasanya mendapatakan persetujuan khusus dari pejabat perusahaan yang berwenang?

9. Apakah management sudah melakukan pemisahan fungsi yang menciptakan kondisi saling cek antara unit kerja, dimana tugas kasir terpisah pembukuan piutang?

10. Apakah koreksi faktur dan penghapusan piutang harus disetujui pejabat perusahaan yang berwenang?

Sebutkan siapa? Manager penjualan dan manager akuntansi?

11. Apakah bukti untuk penagihan atas piutang yang telah dihapuskan, diamankan untuk mencegah penyalahgunaan?

12. Apakah secara periodic dibuat analisis umur piutang dan yang sudah lama jatuh tempo?

13. Apakah hasil penagihan langsung diserahkan kepada kasir dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dalam jumlah yang seharusnya diterima?

14. Apakah sudah dilakukan pengawasan terhadap resiko yang terjadi dilapangan?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Keterangan

Tr= Tidak relavan

Persediaan Y T TR

1. Apakah persediaan diatur secara rapid an tertib?

2. Apakah persediaan tercegah dari:

- Pencurian?

- Kerusakan?

- Kebakaran, banjir dan resiko lain?

3. Apakah persediaan secara berkala dicocokan dengan kartu gudang?

4. Apakah setiap pengeluaran barang harus sesuai berdasarkan DO barang atau sejenisnya yang diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang?

5. Apakah total jumlah menurut kartu persediaan tersebut secara berkala dicocokan dengan perkiraan control (buku besar ) persediaan?

6. Apakah saldo kartu persediaan dicocokan dengan hasil stock opname paling sedikit setahun sekali?

7. Bila terdapat selisih, apakah diinvestigasi oleh orang yang tidak menguasai persediaan secara phisik atau pemegang kartu perseiaan?

8. Apakah yang mengawasi/ melakukan perhitungan atau menyusun ikhtisar hasil perhitungan terlepas dari:

- Penguasaan secara phisik atas barang (penjaga gudang atau sebagainya)?

- Pencatatan kartu persediaan?

9. Apakah dilakukan cut-off atas penerimaan dan pengeluaran barang selama stock opname ?

10. Apakah barang yang slow moving, using, rusak dipisahkan?

11. Apakah hal-hal sebagai berikut dilaporkan segera kepada manajemen (untuk perbaikan diambil keputusan)?

- Rencana kebutuhan?

- Slow Moving item?

- Barang Usang?

- Kelebihan persediaan?

- Persediaan tersisa?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pernyataan diatas:

B. Kesimpulan Penilaian (Baik, sedang, buruk)?

C. Kesimpulan penilaian(Lampirkan alasannya)?

Dokumen terkait