BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Potret Pendidikan Masyarakat Masyarakat Miskin Kota Yang Ada Di Kampung Savana Kec. Manggala Kel. Bangkala Kota Makassar
Menurut peneliti, pendidikan yang ada di Indonesia saat ini belum merata.
Masih banyak masyarakat yang mengeluh tentang mahalnya biaya pendidikan meskipun dari pihak pemerintah telah mencanangkan program gratis pendidikan tapi menurut masyarakat biaya pendidikan masih banyak seperti uang jajan anak, membeli seragam dan ongkos transportasi. Sehingga masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan ataupun tidak memiliki pekerjaan yang layak kurang
mampu untuk menyekolahkan anak-anak mereka meskipun keinginannya untuk bersekolah sangat besar.
Jika dikaitkan dengan hasil penelitian terdahulu yang telah didapatkan, terdapat persamaan hasil temuan yaitu dimana para orang tua pemulung telah menganggap bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan anak mereka.
Kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor yang berpengaruh. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah pola pikir yang pendek dan sederhana akibat rendahnya pendidikan. Dalam budaya Indonesia, kepala rumah tangga terutama seorang ayah, mempunyai peranan yang sangat besar dalam rumah tangga termasuk dalam mengambil keputusan boleh atau tidaknya seorang anak untuk mendapat pendidikan.
Untuk mengambil keputusan tersebut tentunya akan sangat tergantung kepada persepsi atau pandangan orang tua terhadap pendidikan. Disini dapat disimpulkan bahwa dengan pekerjaan sebagai pemulung tidak menurunkan semangat mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Zaman yang semakin berkembang membawa perubahan bagi sejumlah sector kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Pemerintah harus terus malkukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indoensia guna penyesuaian dengan kebutuhan para pelajar sebagai generasi penerus bangsa.
Meskipun sudah ada anggaran khusus untuk pendidikan, namun ketimpangan masih saja terjadi di negeri ini. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia belum merata secara keseluruhan. Masalah pendidikan masih sering kita jumpai di berbgaia daerah. Baik secara langsung maupun melalui media elektronik, seperti televise, HP dan lain sebagainya.
Seharusnya seluruh anak Indonesia mendapatkan hak pendidikan seperti dala
63
UUD 1945 pada alinea ke 4 salah satunya berbunyi “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, dengan demikian pendidikan merupakan factor utama dalam kehidupan.
Setelah ditelusuri lebih dalam Melalui Hasil Observasi dan Wawancara yang dilakukan Oleh penulis terhadap Narasumber/Responden penelitian erdapat beberapa perspektif orang tua dalam menyekolahkan anaknya di Kampung Savana sehingga anaknya tetap lanjut sekolah da nada pula yang terkendala masalah sekolah. Beberapa perspektif dan factor tersebut yaitu:
a. Penyebab Ekonomi adalah faktor penunjang/pendukung dilaksanakanya pendidikan. Sebab Ekonomi merupakan persoalan yang utama bagi seseorang maupun kelompok orang yang diukur secara ekonomi sangat terbatas dalam biaya pendidikan, terlebih lagi sekarang biaya pendidikan sudah semakin tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh masyarakat pedesaan yang masih tergolong masyarakat kurang mampu (miskin), dan sesungguhnya inilah yang menyebabkan banyak anak yang berhenti untuk bersekolah dan memilih untuk melaut.
Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anakputus sekolah diakibatkan oleh faktor ekonomi.
Khususnya di Kampung Savana yang masyarakatnya notabene berprofesi sebagaipemulung yang memiliki pendapatan rendah untuk dapat menyekolahkan anak-anak mereka.
b. Penyebab Lingkungan. Lingkungan adalah meliputi kondisi kondisi dalam dunia ini yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, perilaku anak, pertumbuhan anak, meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab penuh
terhadap kedewasaan anak namun lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan dan pengaruhnya sangat besar terhadap anak, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam suatu lingkungan yang disadari atau tidak disadari pasti akan mempengaruhi anak.
Seperti yang didapatkan peneliti pada hasil wawancara bahwa apabila anak tersebut berada di lingkungan banyak anak yang sekolah maka anak itu akan terpengaruh dengan sikap anak yang sekolah, namun jika dilingkungan anak itu banyak anak yang tidak sekolah atau putus sekolah maka anak tersebut akan terpengaruh dengan tindakan-tindakan atau perbuatan anak yang putus sekolah.
c. Kesadaran Orang Tua Tentang Arti Pendidikan Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian kecil masyarakat di Indonesia khususnya pada masyarakat perkotaan beranggapan kalau pendidikan merupakan tempat untuk memperoleh pekerjaan dan adapula masyarakat beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting karena walaupun anak sekolah sampai tinggi- tinggi tapi pada akhirnya juga menjadi pengangguran atau buruh kasar.
Pendapat seperti ini sangat keliru sebab pendidikan itu sebenarnya merupakan tempat untuk membentuk pribadi, sumber daya dan pengetahuan pendidikan manusia.
Seperti yang peneliti temukan bahwa sebagian besar orang tua telah menganggap bahwa pendidikan itu sangat penting untuk dapat menunjang kehidupan anak mereka dan dengan pendidikan ia dapat merubah nasibnya menjadi lebih baik.
65
d. Faktor pergaulan
Pergaulan padaanak sangat berpengaruh pada keinginannya untukbersekolah. Karena pada masa kanak-kanaklah proses pemebelajaran banyak terjadi.pemebelajaran tersebut dapat bersumber dari berbagai hal misalnya saja pergaulan.
Seperti hasil penelitian yang didapatkan peneliti bahwa beberapa orangtua mengawasi pergaulan anak mereka agar tidak terjerumus kepergaulan yang salah dan dapat mengakibatkan putus sekolah.
d. Implikasi Pendidikan Terhadap kehidupan Masyarakat Pengemis di Kampung Savana
Penignkatan kualitas pendidikan untuk anak-anak yang berada di kampung Savana sudah sangat meningkat. Dilihat dari kemauan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka meskipun kdengan keterbatasan biaya. Selain itu, sudah banyak golongan masyarakat yang peduli akan nasib anak-anak yang ada di kampung Savana untuk tetap mendapatkan pelajaran. Salah satu lemabag masyarakat mendidirikan sebuah tempat belajar yang dinamakan sekolah impian dimana tempat ini di peruntukkan bagi anak-anak sekitar untuk mendapatkan pelajaran baik itu pelajran umum maupun pelajaran agama.
Harapan peneliti terhadap permasalahan pemerataan pendidikan di atas adalah pendidikan di Indonesia dapat dilaksanakan secara merata, lebih maksimal, optimal, dan tidak hanya untuk perekonomian kalangan menengah ke atas saja, tetapi juga untuk kalangan perekonomian menengah ke bawah. Pendidikan juga merupakan hak untuk semua warga negara karena mereka juga berhak
memperoleh pendidikan yang layak. Oleh karena itu seiring dengan berkembangnya suatu bangsa, pendidikan sudah pasti akan mempengaruhi sumber daya manusia sehingga dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.. Maka dari itu pendidikan adalah salah satu tombak negara untuk mencapai cita-cita bangsa.
Maka dari itu implikasi bagi anak di kampung savana yang tidak melanjutkan pendidikan terbagi menjadi dua yaitu :
1. Positif
a. Membantu perekonomian keluarga
Menurut hasil penelitian yang didapatkan beberapa anak yang tidakberseklah atau tidak melanjutkan pendidikan dapat membantu perekonomian keluarga mereka. Setelah berhenti atau putus sekolah anak-anak tersebut ikut ke kedua orang tuanya untuk bekerja sebagai pemulung.
Dalam beberapa kesempatan yang didapatkan peneliti terlihat anak-anak yang sedang mengais sampah untukdi jual kembali dan hasilnya diberikan kepada orang tuanya untuk di jual dan mengahasilkan uang.
2. Negatif
a. Tidak memiliki tujuan hidup
Bagi anak yang putus sekolah ditengah jalan, dapat berdampak pada tujuan hidupdi masa yang akan datang. Ia akan menerima apa saja yang ia akan dapatkan pada saat itu, jika anak
67
sudah tidak memiliki tujuan hidup hal ini sangat berpengaruh kelak kepada pola pikirnya.
Seperti yang didapatkan penelitia pada saat wawancara bahwa ada beberapa anak yang putus sekolah menjadi seorang pengangguran dan ada pula yang pergi merantau tetapi belummemiliki pekerjaan dan tujuan hidup yang jelas.
b. Anak menjadi malas
Kebiasaan anak putus sekolah adalah anak akan menjadi malas, karena terbiasa hidup bebas semaunya. Anak sulit untuk diatur dan ia tidak tahu bagaimana untuk bersikap baik dan hormat kepada orang lain. Sehingga orang tua akan sulit untuk memberikan nasihat karena kebiasaan malas yang terus dilakukan.
Seperti hasil observasi yang didapatkan peneliti bahwa anak yang berhenti sekolah akan menjadi anakyang malas dan cenderung nakal. Hal tersebut disebabkan karena ia tidak mendapatkan pendidikan yang cukup untuk dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik.
c. Kurang pengetahuan
Dampak negatif bagi anak putus sekolah yang paling penting adalah anakmenjadi bodoh, akibat ilmu dan pengetahuan yang tidak di terima dengan sempurna. Hal apapun yang ia terima
hanya secara lingkungan saja sehingga anak menjadi mudah di pengaruhi oleh kebiasaan buruk orang lain dan menjadi buta ilmu.
Dalam beberapa kesempatan yang didapatkan peneliti bahwa ada anak yang putus sekolah yang membacapun tidak ia ketahui. Hal tersebut sangat berdampak buruk pada masa depananak tersebut jika dibiarkan tidak bersekolah
d. Anak menjadi nakal
Selain itu anak yang tidak sekolah maka kenakalanmenjadi sangat tinggi, rutinitas bermain semaunya dan bergaul kepeda siapa saja yang ia pikir asyik untuk diajak bermain. Hal ini jika tidak segera dikontrol maka anak akan menjadi nakal dan berbahaya pada saat ia dewasa.
Dari pengamatan yang dilakukan peneliti bahwa anak yang putus sekolah akan mendapatkan pergaulan bebas dan bergaul dengan siapa saja. Bahkan anak usia dibawah umur pun telah menghisap rokok dan bahan-bahan berbahaya lainnya.
69 BAB VI