• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

65 dan secara klasikal murid yang memperoleh nilai minimal 65 di atas 85%

dari jumlah murid yang belajar.

terlihat bahwa motivasi murid sudah meningkat. Yang semula hanya menulis apa yang ada di buku, setelah masuk siklus II sudah mampu mengembangkan materi.

Setelah diberikan tes akhir siklus II, skor rata-rata yang dicapai murid berada pada kategori tinggi bila dibandingkan dengan tes akhir pada siklus I.

Slameto (2010 ;21) mengatakan bahwa “Hasil belajar adalah prestasi yang bersifat kualitatif dan berupa nilai-nilai yang diperoleh melalui tes”. Di samping terjadinya peningkatan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial murid selama berlangsung penelitian dari siklus I sampai siklus II, tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada sikap murid. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat guru selama penelitian. Perubahan-perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Persentase kehadiran murid pada siklus I sebesar 92,85 % dan pada siklus II meningkat menjadi 98,81 %.

2. Murid yang menyimak penjelasan guru (murid yang terlihat memperhatikan penjelasan guru) pada siklus I sebesar 76,19 % dan pada siklus II meningkat menjadi 90,47 %.

3. Murid yang mencatat atau menyalin apa yang telah dijelaskan oleh guru pada siklus I sebanyak 42,86 % dan pada siklus II meningkat menjadi 59,52

%.

4. Murid dalam kelompok mencari jawaban LKM (Saat diberi tugas kelompok oleh guru) pada siklus I sebesar 30,95 % dan pada siklus II meningkat menjadi 50 %.

5. Murid yang memberikan pertanyaan dan menanggapi jawaban (saat diskusi berlangsung) pada siklus I sebesar 23,81 % dan pada siklus II meningkat menjadi 42,85 %.

6. Murid yang meminta bimbingan guru dalam menyelaesaikan LKM pada siklus I sebesar 28,57 % dan pada siklus II meningkat menjadi 61,9 %.

7. Murid yang melakukan kegiatan lain baik dalam proses pemberian materi pembelajaran maupun disaat mengerjakan tugas (main-main, keluar masuk kelas, ribut, mengerjakan pekerjaan lain dan sebagainya) pada siklus I sebesar 47,62 % dan pada siklus II menurun menjadi 44,05 %.

Menurut Suryanto,dkk (2009 ;221), “Apabila murid telah mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan. Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran yang dilakukan tersebut telah berhasil”. Peningkatan baik keaktifan, kehadiran maupun hasil belajar murid siklus II, terjadi setelah diadakan perbaikan-perbaikan yang dianggap tidak terlaksana secara maksimal pada siklus sebelumnya yang diperoleh pada hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun perbaikan yang sempat terlaksanakan pada proses pembelajaran siklus II dilakukan pendekatan-pendekatan kepada murid yang tingkat kecerdasan dan keaktifannya dibawah rata-rata untuk mendapatkan bimbingan secara langsung agar mereka lebih aktif dan dapat melibatkan diri dalam proses pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran yang ditetapkan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan pada siklus II pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya berjalan lebih baik lagi dibandingkan dengan siklus sebelumnya, ini menunjukkan bahwa

perubahan sikap murid dari siklus I ke siklus II selalu mengarah pada hal-hal yang telah direncanakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah disiapkan pada prosedur penelitian.

Hasil evaluasi dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan menunjukkan bahwa pada dasarnya kebanyakan murid merasa senang dan terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Melalui evaluasi hasil pada setiap pembelajaran, ditemukan bahwa dari tindakan siklus I, siklus II diperoleh rata-rata nilai tes murid baik secara individu mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil dari kedua siklus penelitian ini, dapat diinterpretasikan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar murid serta menumbuhkan keberanian murid dalam mengemukakan pendapat mereka sendiri.

Endang (2011; 249) menjelaskan, pengertian tutor sebaya (peer group) adalah sebuah prosedur murid mengajar murid lainnya. Tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama dan tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar. Tutor sebaya merupakan strategi pendekatan kooperatif yaitu model pembelajaran dimana murid belajar dalam kelompok kecil yang dikelompokkan dengan tingkat kemampuan yang berbeda, semua anggota kelompok saling menciptakan rasa saling menghargai sesama teman lainnya.

Secara umum kegiatan murid yang belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang dengan pola belajar tutor sebaya dan belajar secara bekerjasama.

Berdasarkan prosedur model pembelajaran tutor sebaya, ketika proses belajar dengan tutor sebaya berlangsung terjadi pendekatan kooperatif karena

tutor sebaya akan menggunakan bahasa sehari-hari dan bisa lebih akrab, sehingga pembelajar atau murid yang dibantu oleh tutor sebaya bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih baik untuk memahami materi. Menurut Endang (2011

;249) bahwa “Manfaat pembelajaran dengan model pembelajaran tutor sebaya dapat menjadikan murid lebih senang belajar, kreatif, dan menyenangkan dalam kegiatannya karena murid lebih mudah bertanya, lebih terbuka dengan teman sebaya daripada dengan gurunya”.

Ketika proses belajar dengan tutor sebaya berlangsung terjadi pendekatan kooperatif karena tutor sebaya akan menggunakan bahasa sehari-hari dan bisa lebih akrab, sehingga pembelajar atau murid yang dibantu oleh tutor sebaya bisa mengembangkan kemampuan dengan lebih baik untuk memahami materi.

Peningkatan hasil belajar murid terhadap pelajaran IPS cukup optimal sebagaimana yang disebutkan pada Bab III, bahwa indikator keberhasilan yang disepakati adalah seluruh murid yang menjadi objek dalam penelitian ini dikatakan memahami materi pembelajaran yang diajarkan jika mendapat skor minimal 70 dan secara klasikal jika terdapat 80 % murid yang tuntas dari keseluruhan murid. Hasil evaluasi pada setiap akhir pembelajaran menunjukkan bahwa pemahaman murid terhadap materi pokok permasalahan sosial pada tindakan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan.

Hal yang juga sempat diamati oleh peneliti pada siklus II ini adalah tingkat kemandirian murid dalam belajar cukup baik, dimana pada semula masih banyak murid yang bersandar pada temannya yang lain yang menyebabkan mereka tidak percaya kepada diri sendiri sehingga mereka lebih memilih meniru pekerjaan

temannya, tetapi pada siklus II ini rata-rata siswa lebih memilih mengerjakan tugasnya sendiri sehingga mereka lebih gampang menguasainya dan tidak mengalami kesulitan pada saat diberikan tes atau ulangan. Jadi, data ini memperkuat data sebelumnya, yakni terjadinya peningkatan jumlah murid yang mampu mengerjakan tugas yang diberikan.

Berdasarkan uraian diatas sudah jelas menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar murid dalam pembelajaran IPS dan mampu menumbuhkan keberanian murid dalam mengungkapkan pendapat sendiri sehingga pengetahuan yang dimiliki murid dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itu model pembelajaran tutor sebaya memungkinkan untuk dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar murid dalam pembelajaran IPS khususnya di SD. Dossuwanda (2008 ;1) mengatakan bahwa “Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu”.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada Bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil belajar IPS pada murid kelas V SD Inpres Lakiyung Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mengalami peningkatan setelah diadakan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Tutor Sebaya, terbukti pada Siklus I diperoleh nilai rata-rata 63,93 dalam kategori sedang (Tidak tuntas) dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 76,96 dalam kategori tinggi (Tuntas).

2. Kemampuan menyelesaikan soal-soal IPS dengan pokok bahasan peninggalan sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia oleh murid meningkat, dimana murid yang tuntas dalam pembelajaran tersebut mencapai 89,29% atau 25 dari 28 murid yang hadir.

3. Dengan penerapan model pembelajaran tutor sebaya ditemukan bahwa terjadi perubahan sikap murid selama proses pembelajaran sesuai dengan hasil observasi yaitu meningkatkan rasa percaya diri murid untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru dan berani bertanya baik kepada guru maupun kepada temannya tentang materi yang belum dimengerti, dapat bekerjasama dengan kelompoknya , serta meningkatkan presentasi kehadiran murid.

Beberapa murid menunjukkan respon yang positif terhadap Model Pembelajaran Tutor Sebaya dan menganggap pembelajaran tersebut menyenangkan dan membuat murid lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran

67

serta memudahkan mereka dalam memahami konsep IPS dan dalam pelaksanaannya mampu menciptakan ruang psikologis yang nyaman bagi setiap anggota yang ada didalamnya.

B. Saran

Telah terbukti Model Pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, maka kami sarankan hal-hal sebagai berikut:

1. Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan model pembelajaran tutor sebaya sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

2. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial maupun pelajaran lain.

3. Bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran tutor sebaya dalam upaya meningkatkan hasil belajar IPS pada tingkat kelas dengan topik atau materi yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Asrori,M.Pd, Prof.Dr.H. Muhammad. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:

Wacana Prima

Darmayanti. 2013. Skripsi: Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Tutor Sebaya Pada Murid Kelas IV SD Negeri Bontote’ne Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Depdiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Sains SD/MI. Jakarta: Depdiknas.

Hadi, Sutrisno.1986. Metodologi Research. Jilid 1,2. UGM

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hasibuan. 2007. Proses Belajar Mengajar IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hisnu P, Tantya. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta:

Pusat Perbukuan Depdiknas.

Kunandar, 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Keguruan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Kusyani, Endang. 2008.Ilmu pengetahuan sosial 5 untuk SD/MI kelas V. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional.

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Mulyasa. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyatiningsih, Endang. 2009. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan.

Bandung. Alfabeta.

Nurkancana. 2000. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Said. 2010. Pengaruh Minat Belajar Dan Cara Belajar Terhadap Hasil Belajar.

Jakarta: Bumi Aksara.

Sardiman. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

69

Seifert, Kelvin. 2012. Pedoman Pembelajaran & Instruksi Pendidikan.

Jogjakarta. IRCiSoD.

Slameto. 2010. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.

Suprijono, Agus. 2011. Kooperatif Learning “Teori dan Aplikasi PAIKEM”.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suryanto, Adi,dkk. 2009. Evaluasi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:

Remaja Rosda Karya.

Tim Bina Karya Guru. 2012. IPS Terpadu Untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta:

Erlangga.

Trianto. 2010. Mendesain Model pembelajaranInovatif-Progresif. Jakarta:

Kencana

Hartuti, Evi, Rine. 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan nasional. Jogjakarta. Laksana

Yamin, Martinis. 2012. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta.

Referensi.

Dokumen terkait