BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Senam fantasi merupakan kegiatan berfantasi yang menenkankan pada metode yang kreatif dan fleksibel yang menempatkan proses gerakan dan ekspresi diri terhadap fantasi lebih penting dari pada pola gerak yang di hasilkan. Aktivitas ini dapat dilakukan di luar ruangan, maupun di lapangan terbuka. Dengan menggunakan iringan musik, akan membuat anak lebih semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan. Senam fantasi bentuk meniru tanpa alat contohnya bagaimana mencangkul tanah, senam fantasi bentuk seolah-olah anak sebagai perilaku sebuah cerita atau mengalami suatu peristiwa.
Pada pelaksanaan senam fantasi terdiri atas tiga tahap yaitu: (a) kegiatan awal (b) kegiatan inti, dan (c) kegiatan penutup. Kegiatan awal dilakukan dengan membuka pembelajarn dengan ucapan salam dan menanyakan keadaan anak-anak pada hari itu, selanjutnya menyampaikan pada anak-anak pada hari ini menyampaikan kepada anak bahwa hari ini berupa bermain di luar kelas dengan senam fantasi. Pada kegiatan ini, anak- anak di ajak untuk berbaris,bernyanyi, berdoa dan selanjutnya memberi tahukan pada anak-anak tentang judul senam fantasi yang akan di lakukan pada hari ini. Pada kegiatan inti berupa pelaksanaan cerita dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat senam fantasi, seperti tentang guru bercerita tentang kebun binatang, guru mengajak nak-anak untuk berjalan maka anak-anak juga melakukan kegiatan sesuai dengan isi cerita. Berjalan itu adalah bagian senam fantasi. Selanjutnya pada kegiatan penutup guru mengajak anak-anak untuk
berkumpul kembali setelah menyelesaikan kegiatan inti, guru mengevaluasi dengan kegiatan yang di lakukan sambil anak-anak beristirahat dan melakukan kegiatan pendinginan.
Dari pertemuan pertama sampai terakhir sesuai pengamatan peneliti kemampuan fisik motorik anak semakin meningkat, dimana pada waktu pertemuan pertama, masih banyak anak-anak belum mampu melakukan kegiatan senam fantasi dengan baik, hal ini terlihat ketika kemampuan pertama masih ada anak yang terjatuh, masih ada anak yang terlambat mengikuti teman yang didepannya, tetapi pertemuan selanjutnya sampai pertemuan terakhir, anak-anak semakin lincah dan berani melakukan kegiatan tersebut sehingga anak-anak terlihat bersamaan dan kompak melakukan senam fantasi.
1. Gambaran kemampuan fisik motorik anak sebelum ( pretest) dan sesudah (pretest).
Pembahasan hasil penelitian dilakukan berdasarkan deskripsi data kemampuan fisik motorik anak usia dini sebelum (pretest) di berikan pembelajaran bermain senam fantasi dan sesudah (posttest) diberikan pembelajaran bermain senam fantasi serta hasil uji hipotesis yang telah dipaparkan sebelumnya.
Dalam penelitian ini di temukan bahwa terdapat terdapat perbedaan kemampuan fisik motorik anak sebelum (pretest) dibelajarkan bermain senam fantasi dan sesudah (posttest) dibelajarkan dengan bermain senam fantasi. Hal ini di buktikan rata-rata kemampuan fisik motorik anak
sebelum (pretest) di belajarkan bermain senam fantasi di TK Bina Anaprasa Al-Mujahidin kabupaten takalar khususnya di kelompok A hal ini terlihat dari adanya anak yang masih terjatuh ketika brjalan, masih adanya anak yang tidak mau melakukan kegiatan berlari karena takut jatuh.
Sedangkan setelah (posttest) di berikan pembelajaran bermain senam fantasi, terlihat kemampuan fisik motorik anak yang di lakukan pada saat senam fantasi terjadi peningkatan, hal ini terlihat dari pengamatan peneliti kepada anak, terlihat anak sudah mampuh melakukan kegiatan berlari dengan berani dan seimbang, bahkan terlihat anak-anak sudah melakukan kegiatan dengan baik, terkordinasi, berani lincah dan seimbang. Dalam hal ini terlihat kemampuan fisik motorik anak usia dini sesudah (posttest) yang diajarkan dengan pembalajaran bermain senam fantasi lebih tinggi daripada kemampuan fisik motorik anak usia dini sebelum (pretest) yang diajarkan dengan pembelajaran bermain diluar kelas senam fantasi lebih tinggi dari pada kemampuan fisik motorik anak usia dini (pretest) dibelajarkan dengan pembelajaran senam. Adapun kemampuan motorik kasar membutuhkan kordinasi anggota tubuh khususnya dalam gerak dasar motorik kasar. Gerak dasar motorik kasar membutuhkan kordinasi tangan, kaki yang melibatkan otot-otot besar.
Hasil tersebut senada dengan teori yang dikemukakan dalam perkembangan individu secara keseluruhan anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan Rohendi & Lauens, (2017). Pembelajaran
senam sebagai sarana yang efektif untuk meningkatkan memampuan motorik kasar anak karena dengan senam anak akan bergerak aktif.
Menurut Muliani (2016: 39) senam fantasi menjadi media yang efektif untuk menampung dan mengontrol gerakan-gerakan anak.
Berdasarkan hasil penelitian melalui pembelajaran senam fantasi menunjukkan bahwa delapan subjek penelitian memperoleh skor posttest lebih baik dibandingkan dengam hasil pretest, sedangkan dua subjek penelitian memperoleh skor pretest lebih tinggi di bandingkan dengan skor hasil posttest. Dari tabel data skor pretest peserta didik yang mendapat nilai terendah yaitu dengan skor satu dapat dilihat bahwa kemampuan motorik kasar anak tersebut masih kurang diantara teman-temannya skor pretest tertinggi dua dapat dilihat bahwa kemampuan motorik kasarnya yang paling bagus diantara teman-temannya.
Pemberian pembelajaran senam melibatkan kemampuan gerak dasar motorik kasar anak yaitu gerak lokomotor dan non lokomotor.
Kategori gerakan lokomotor merujuk pada gerakan-gerakan yang melibatkan suatu perubahan dalam lokasi tubuh dari suatu tempat mampu berdiri diatas satu kaki dengan seimbang dalam senam fantasi ((Rohendi &
Lauens, 2017). Gerakan non lokomotor yaitu dengan gerakan dilakukan ditempat yang artinya tidak perlu terjadinya perpindahan tempat.
Pembelajaran senam fantasi diberikan sebagai perlakuan (treatment) pada perlakuan pertama peserta didik dikenalkan dengan 3 gerakan senam yang melibatkan gerakan dasar lokomotor dan
nonlokomotor. Pada gerakan lokomotor peserta didik cukup kesulitan untuk melakukan gerakan memutar dengan mengayun tangan, ada beberapa peserta didik hanya melakukan gerakan memutar namun pada saat mengayun tangan peserta didik akan berhenti. Gerakan senam yang melibatkan nonlokomotor peserta didik mampu melakukan cukup baik dan mampu mengikuti gerakan senam yang dicontohkan oleh peneliti. Pada perlakuan pertama peneliti cukup kesulitan karena ada beberapa peserta didik yang kurang aktif bergerak dalam mengikuti gerakan senam yang diberikan.
Perlakuan pada tahap kedua meliti mengajak peserta didik untuk mangulangi gerakan senam yang diajarkan sebelumnya tujuannya agar peserta didik terlatih dalam gerakan senam fantasi dan fisik motorik kasar.
Pada treatment kali ini peneliti memberikan gerakan senam berjalan dengan berjinjit peserta didik menunjukkan peningkatan dalam gerak seperti peserta didik dapat melakukan gerakan memutar megayun lengan meskipun gerakan mengayun belum sesuai dengan mengayun yang dicontohkan oleh peneliti.
Pada perlakuan treatment terakhir peneliti mengajak peserta didik untuk mengulangi semua gerakan senam yang telah diberikan. Peneliti meminta peserta didik untuk mendengarkan lagu untuk melakukan senam, peserta didik tersebut adalah yang paling hafal setiap gerakan senam yang diajarkan selama peserta didik melakukan senam peneliti melihat peserta didik untuk mengetahui sejauh mana kemampuan gerak senam peserta
didik termasuk kemampuan gerak motorik kasar. Pada pemberian treatment peserta didik sudah mampu menunjukkan kemampuan gerak lokomotor dan nonlokomotor dengan baik dan sesuai apa yang telah dicontohkan oleh peneliti, meskipun selama pemberian treatment berlangsung masih terdapat beberapa peserta didik yang masih kurang aktif bergerak dan hanya diam ditempat, ada beberapa peserta didik yang hanya bermain-main dan tidak serius saat diberikannya treatment senam.
Data tabel postest menunjukkan ada 8 subjek penelitian yang mengalami peningkatan skor postest dan menunjukkan hasil peningkatan yang cukup signifikan terlihat dari skor post test terdapat 5 anak yang memperoleh skor 4 peserta didik yang mendapatkan skor tertinggi pada saat posttest menunjukkan kemampuan motorik kasar sudah berkembang sangat baik untuk setiap aspek penilaian kemapuan motorik kasar.
Terdapat 5 peserta didik yang tetap berada pada skor yang sama karena pada saat treatment peserta didik kurang aktif bergerak dan kurang serius mengikuti gerarakan senam yang diajarkan oleh peneliti pada saat kegiatan senam berlangsung.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran senam fantasi dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar pada anak. Pembelajaran senam fantasi dapat membuat anak aktif bergerak, hal ini juga dapat melatih otot-otot besar. Maka dari itu dengan pembelajaran senam fantasi dapat meningkatkan kemampuan motorik
kasar khususnya gerak dasar yang terdiri dari gerak lokomotor nonlokomotor.
Hal yang mendasari anak yang mendapatkan skor tertinggi dan skor terendah pada proses kegiatan pembelajaran senam fantasi di lakukan yaitu dimana anak saat kegiatan pembelajaran senam berlangsung anak fokus dalam melakukan kegiatan senam yang telah di berikan oleh peneliti dan perhatianya lebih fokus oleh teman yang menggangu atau orang yang ada di sekelilingnya. Dan ada sebagian anak yang kurang antusias dalam melakukan kegiatan senam fantasi karna kurang fokus dalam memperhatikan proses kegiatan senam fantasi yang diberikan oleh peneliti atau guru.
Hasil observasi menunjukkan kesepuluh subjek peneliti dengan melakukan gerakan senam yang terdiri dari gerakan berputar, berjinjit sambil berjalan dan malakukan gerakan melompat kedepan dan kebelakang dalam gerakan senam fantasi terdiri dari berlari, berjinjit, melompat, mengayun dan memutar. Gerakan dasar lokomotor dan nonlokomotor terdapat gerakan senam yang diajarkan oleh peneliti yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar peserta didik.
Hasil yang diperoleh dari data penelitian secara pervariabel dimana adanya peningkatan kemampuan motorik kasar pada peserta didik setelah diberikan pembelajaran senam. Hasil nilai rata-rata pervariabel yaitu Pre- Post Tes meningkat dari 1,20 menjadi 2,20 dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0,002) kurang dari 0.05 yang berarti
adanya perkembangan motorik kasar anak (anak mampu berlari ditempat mengikuti alunan musik) sebelum dan setelah diberikannya senam fantasi.
Pre-Post Test meningkat dari 2,00 menjadi 2,70. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0.008) kurang dari 0.05 yang berarti adanya perkembangan motorik kasar anak (anak mampu berdiri diatas satu kaki dengan seimbang) sebelum dan setelah diberikan senam fantasi. Pre- Post Test meningkat dari 2,00 menjadi 2,70.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0.005) kurang dari 0.05 yang berarti adanya perkembangan motorik kasar anak (anak mampu berjalan dengan berjinjit) sebelum dan setelah diberikan senam fantasi. Pre-Post Test meningkat dari 1,70 menjadi 3,00.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0.004) kurang dari 0.05 yang berarti adanya perkembangan motorik kasar anak (anak mampu melompat kebelakang satu kali) sebelum dan setelah diberikan senam fantasi. Pre-Post Test meningkat dari 2,00 menjadi 3,30.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0.004) kurang dari 0.05 yang berarti adanya perkembangan motorik kasar anak (anak mampu memutar dengan mengayun lengan) sebelum dan setelah diberikan senam fantasi. Pre-Post Test meningkat dari 2,00 menjadi 3,30.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai signifikasi (0.003) kurang dari 0.05 yang berarti adanya perkembangan motorik kasar anak (anak dapat melompat kedepan satu kali) sebelum dan setelah diberikan senam fantasi.
Kemudian didukun pula dengan hasil perhitungan dengan menggunakan Wilcoxon Signet Rank Test pada program SPSS kemudian dilihat hasilnya yaitu p-value apabila p-value kurang dari 0.05 berarti ada perubahan sebelum dan sesudah intervensi jika diatas 0.05 maka sebaliknya tidak ada perubahan (Asymp.sig) > 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, dan jika probabilitas (Asymp.sig) > 0.05 maka Ho doterima dan Ha ditolak maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh peningkatan motorik kasar setelah diberikannya pembelajaran senam fantasi.
58
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat dua kesimpulan, adapun kesimpulan pertama sebagai berikut:
1. Bermain senam fantasi terhadap kemampuan fisik motorik kasar anak sebelum pembelajaran permainan senam fantasi pada umumnya berada pada kategori rendah dan setelah dilakukan pembelajaran senam berupa permainan diluar kelas maka kemampuan fisik motorik kasar anak berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi.
2. Terdapat pengaruh yang positif permainan senam fantasi terhadap kemampuan fisik motorik kasar anak di TK Bina Anaprasa AL- Mujahidin Kab Takalar.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian pembahasan dan kesimpulan maka penulis mengemukakan saran sebagai berikut:
1. Bagi anak didik
Bagi anak usia dini dengan mealakukan aktivitas bermain senam fantasi diharapkan mampu membantu meningkatkan kemampuan pada aspek perkembangan fisik motorik kasar anak.
2. Bagi pendidik
Diharapkan dapat memunculkan aktivitas bermain dalam proses hpeningkatan perkembangan fisik motorik kasar sehingga potensi anak dapat berkembang secara optimal, serta tidak ada kejenuhan dan kebosanan anak dalam melakukan aktivitas pembelajaran.
3. Bagi kepala sekolah
Diharapkan untuk lebih mengoptimalkan sarana dan prasarana dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih baik sehingga anak lebih aktif dan kreatif serta termotifasi dalam kegiatan belajar melalui bermain 4. Bagi peneliti
Manfaat bagi peneliti yakni dapat menjadi referensi dan pengembangan selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran sambil bermain melalui kegiatan bermain senam fantasi.
60
Anak Usia Dini. Modul Pendidikan Anak Usia Dini yang disajikan dalamAnak Usia Taman Kanak-Kanak. Kencana : Jakarta
Depdiknas. 2004. Standar Kompotens Kanak-Kanak dan rahadtul Di SD Inklusi.
Jurnal Pendidikan Khusus. Tersedia di e=100793) di akses pada 26 Mei 2018
Elsa, Desmira Saeful. 2015. Hubungan Permainan Halang Rantang Dengan Kemampuan Motorik Kasar Anak di TK Ar-Rahman Bandar Lampung.
Elsa, Desmira Saiful. 2015. Hubungan Permainan Haling Rintang Dengan Frida, Citra Cuachiha. 2015. Pengaruh Bermain Tangkap Bola Terhadap
Gafur , Abdul. 2012. Desain Pembelajaran.Ombak: Yogyakrata Grafika:
Bandung.Grup: Jakarta
Hartati, Sofia. 2005. Perkembangan Belajar Pada anak Usia Dini. Departemen Hartati, Sofia. 2005. perkembanganBelajar Pada anak Usia Dini. Departemen
Houghton Miffin Company.
Http://id.portalgaruda.org./?ref=browse&mod=viewarticle&article=100804.
Indeks. Jakrata
Jakarta Mahendra, Agus, dan Amung Mamun.1998. Teori belajar dan Kecerdasan Jamak. PT Indeks : Jakarta
Kemampuan Motorik Kasar Anak di TK Ar-Rahman Bandar Lampung .
Latif , Mukhtar. Dkk. 2013. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Kencana:
Marrison, George. 2012. Dasar-dasar pendidikan anak usia dini (PAUD).
Martini . 2012. Peningkatan kemampuan motrik Kasar anak melalui senam Meningkatkan Keterampilan Motorik Anak TK. Depdiknas: Jakarta Montolalu. 2005. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka
Motorik Kasar Anak Kelompok B di TK Pertiwi Sumberrejo Kota Gajah
Nasional Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kerja Kependidikan dan No 1 Tersedi di
Nugroho, I.H.2012. Bahan Ajar PLGP Metode Pengembangan Fisik Motorik Nurani, Yuliani & Sujiono. 2010. Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak.
Nurani, Yuliani. 2007. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Pusat Online Di akses pada 26 Mei 2018
Papalia, Diane. 2019. Human Developmen. Salemba Humanika : Jakarta.
Pembelajaran Motorik. Bandung CV Andira.
Rachmawati, Yeni dan Kurniawati, Euis. 2011. Strategi pengembangan
Rini, Endang. 2007. Diktat Pengembangan Motorik. Fakultas Ilmu Keolahragaan, Samsuddin. 2008. Pembelajaran Motorik di Taman Kanak-Kanak. Prenada Media Saputra, M., Yudha dan Rudyanto.2005. Pembelajaran Kooperatif untuk Sari. F. M. 2016. Senam fantasi terhadap Kemampuan Motorik Kasar Anak Autis Satya, Wira. 2006. Membangun Kebugaran Jasmani dan Kecerdasan
MelaluiSkripsi. Universitas Lampung: LampungSkripsi. Universitas Lampung: Lampung
Sugiyanto dan Sujarwo. 2010. Perkembangan dan Belajar Gerak. Jakarta;
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kulaitatif dan R&D. Alfabeta:
Sujiono, Bambang dan Nurani, Yuliani. 2010. Bermain Kreatif Berbasis
Sujiono, Bambang. 2010. Metode Pengembamngan Keterampilan Motorik Anak Unesa.ac.id%2Farticle%2F219102Farticle.pdf&usg=AOvVaw36wkO l Universitas PGRI KediriUNY: Yogyakarta.Usia Dini. Depsiknas JakartaYiB2lDBv5A7NzEJ) Online Diakses pada 29 April 2018 Yuliana dan Bambang. 2010. Bermain Kereatif Berbasis Kecerdasan Jamak.
Yusmarni. 2012. Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar anak melalui senma
PERTEMUAN I
Hari/Tanggal :
Kompetensi Dasar : 3.3 mengenal anggota tubuh fungsi dan gerakannya untuk perkmbangan motorik kasar.
4.3 Menggunakan anggota tubuh pengembangan motorik kasar
Indikator pencapaian : 1. Melakukan berbagai gerakan terkordinasi secara terkontrol, seimbang dan lincah
2. Melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu melakukan gerakan tangan, kaki, kepala,secara terkotdinasi dalam menirukan berbagai gerakan senam.
Kegiatan : Senam Fantasi
Pukul 07:30 pendidik membunyikan bel dan menyuruh anak berbaris didepan kelas. Pendidik mengarahkan anak, sebagai tahap pertama dari gerakan senam dengan membentuk dua baris. Kemudian pendidik mengajarkan gerakan pertama yaitu gerakan senam yang melalui lagu maupun cerita. Setelah pendidik merasa anak mulai menguasai gerakan senam yang telah di ajarkan, pendidik kemudian memutarkan musik dan menyesuaikan gerakan senam sesuai irama musik dan imajinasinya.
PERTEMUAN I1
Hari/Tanggal :
Kompetensi Dasar : 3.3 Mengenal anggota tubuh fungsi dan gerakannya untuk perkmbangan motorik kasar.
4.3 Menggunakan anggota tubuh pengembangan motorik kasar
Indikator pencapaian : 1. Melakukan berbagai gerakan terkordinasi secara terkontrol, seimbang dan lincah
2. Melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu melakukan gerakan tangan, kaki, kepala,secara terkotdinasi dalam menirukan berbagai gerakan senam.
Kegiatan : Senam Fantasi
Pukul 07:30 pendidik membunyikan bel dan menyuruh anak berbaris didepan kelas. Pendidik mengarahkan anak, sebagai tahap pertama dari gerakan senam dengan membentuk dua baris. Kemudian pendidik mengajarkan gerakan pertama yaitu gerakan senam yang melalui lagu maupun cerita. Setelah pendidik merasa anak mulai menguasai gerakan senam yang telah di ajarkan, pendidik kemudian memutarkan musik dan menyesuaikan gerakan senam sesuai irama musik dan imajinasinya.
PERTEMUAN 111
Hari/Tanggal :
Kompetensi Dasar : 3.3 Mengenal anggota tubuh fungsi dan gerakannya untuk perkmbangan motorik kasar.
4.3 Menggunakan anggota tubuh pengembangan motorik kasar
Indikator pencapaian : 1. Melakukan berbagai gerakan terkordinasi secara terkontrol, seimbang dan lincah
2. melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu melakukan gerakan tangan, kaki, kepala,secara terkotdinasi dalam menirukan berbagai gerakan senam.
Kegiatan : Senam Fantasi
Pukul 07:30 pendidik membunyikan bel dan menyuruh anak berbaris didepan kelas. Pendidik mengarahkan anak masuk diruangan kemudian duduk dikursi masing-masing pendidik meminta salah satu anak memimpin doa melalui kegiatan pemebalajaran, setelah melakukan doa-doa dan bernyanyi bersama anak di minta untuk melakukan kegiatan-kegiatan motorik pada kegiatan awal.
Anak diminta untuk melakukan non lokomotor pertama-tama anak melakukan gerakan berlari di tempat mengikuti alunan musik, kemudian melakukan gerakan berdiri diatas satu kaki dengan seimbang. Selanjutnya pendidik meminta anak untuk berjalan dengan berjinjit, kemudian masuk ke kelas belajar sesuai apa yang ada didalam RPPH.
PERTEMUAN 1V
Hari/Tanggal :
Kompetensi Dasar : 3.3 Mengenal anggota tubuh fungsi dan gerakannya untuk perkmbangan motorik kasar.
4.3 Menggunakan anggota tubuh pengembangan motorik kasar
Indikator pencapaian : 1. Melakukan berbagai gerakan terkordinasi secara terkontrol, seimbang dan lincah
2. Melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu melakukan gerakan tangan, kaki, kepala,secara terkotdinasi dalam menirukan berbagai gerakan senam.
Kegiatan : Senam Fantasi
Pukul 07:30 pendidik membunyikan bel dan menyuruh anak berbaris didepan kelas. Pendidik mengarahkan anak masuk diruangan kemudian duduk dikursi masing-masing pendidik meminta salah satu anak memimpin doa melalui kegiatan pemebalajaran, setelah melakukan doa-doa dan bernyanyi bersama anak di minta untuk melakukan kegiatan-kegiatan motorik pada kegiatan awal.
Anak diminta untuk melakukan non lokomotor pertama-tama anak melakukan gerakan berlari di tempat mengikuti alunan musik, kemudian melakukan gerakan berdiri diatas satu kaki dengan seimbang. Selanjutnya pendidik meminta anak untuk berjalan dengan berjinjit, kemudian masuk ke kelas belajar sesuai apa yang ada didalam RPPH.
Semester = 1/XIV
Hari/tanggal = Sabtu 02 November 2019 Kelompok A (4-5 Tahun)
Tema/Sub tema/Sub-sub tema : binatang/binatang udara/ kemang koksi Kompetensi dasar 3.3-4.3 ,3.11-4.11, 2.2, 2.10, 1.15-4.15,3.3-4.3
Indikator
Melakukn bebagai kegiatan kasar dan halus yang seimbang dan terkontol
Menggunakan kalimat pendek untuk berinteraksi dengan anak orang dewasa apa yg dilihat dan dirasakan
Mengamati benda dan gejala rasa tingka laku
Menunjukkan antusiesme dalam melakukan permainan kompetatif secara koperatif
Menampilkan karya seni sederhana di depan anak atau orang lain
Mampu menggunakan anggota badan untuk melakukan erakan motorik halus yang terkontrol.
Media pembelajaran
Kertas berwarna
Gambar kumbang
pewarna
air
Manik dan benang
Langkah kegiatan
1. Kegiatan pembuka (30 menit)
Berbaris
Senam fantasi
Salam, membaca do’a sebelum dan sesudah belajar Kegiatan inti
Mencap gambar kumbang
Pencampuran warna
Meronce manic-manik 2. Pengamant
Menciplak gambar kumbanng Penutup
Bercakap-cakap tentang kumbang
Berdo’a
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru kelompok
A
(Muliana , S.Pd ) (Sunarti)
Semester = 1/XIV
Hari/tanggal = Jumat 01 November 2019 Kelompok A (4-5 Tahun)
Tema/Sub tema/Sub-sub tema : binatang/binatang udara/ lalat, lebah Kompetensi dasar 3.3-4.3, 3.11-4.11, 3.15-4.15, 2.8, 3.12-4.12
Indikator
Melakukn bebagai kegiatan kasar dan halus yang seimbang dan terkontol
Menggunakan kalimat pendek untuk berinteraksi dengan anak orang dewasa apa yg dilihat dan dirasakan
Ukuran yang terpendek dan yang terpanjang
Menampilkan karya seni sederhana di depan anak atau orang lain
Menunjukkan sikap mandiri dalam memilih kegiatan
Menulis huruf yang di contohkan dengan cara meniru
Menghormati toleransiagama orang lain
Media pembelajaran
Gambar lalat
Lem
Gunting
pensil
Langkah kegiatan
3. Kegiatan pembuka (30 menit)
Senam
Salam, membaca do’a sebelum dan sesudah belajar
Bercakap-cakap tentang lalat dan lebah
Menirukan gerakan lebah Kegiatan inti
Mengurutkan gambar lalat berdasarkan angka
Mozaik gmbar lebah
Menggunting gambar lalat 4. Pengamant
Menebalkan kata lalat Penutup
Berdiskusi tentang hari ini
Menyebutkan sholat fardhu 5 waktu.
Berdo’a
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru kelompok
A
(Muliana , S.Pd ) (Sunarti)