BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
“Dana zakat sudah terbagi ke 8 asnaf dan sudah adil (dikondisikan) tetapi ketika kondisi fakir dan miskin membutuhkan dana, maka dana beberapa asnaf yang tersimpan akan digunakan sebagian untuk di salurkan ke asnaf yang lebih membutuhkan.”
Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa pembagian dana zakat sudah terbagi ke 8 asnaf dan pendistribusiannya juga sudah adil, sebagaimana kita lihat Lazismu Kota Makassar menjalankan program dan penyalurannya di masyarakat.
Lahirnya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dengan segala peraturan yang menyertainya, merupakan momentum yang harus dimanfaatkan Muhammadiyah lebih mengintensifkan pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan zakat, infaq dan shadaqah serta derma lainnya. Untuk itu PP Muhammadiyah mendirikan lembaga otonom yang didedikasikan khusus untuk mengorganisir dana zakat, infaq, shadaqah dan berbagai derma, untuk didayagunakan pada program-program sosial, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan kaum dhu‟afa dan pengembangan dakwah Islam. Lembaga tersebut bernama “Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (LAZISMU)” yang resmi didirikan pada tanggal 14 Juli 2002 dan dikukuhkan dengan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 457 Tahun 2002.
Di Kota Makassar Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah yang berfungsi mengumpulkan dan mendistribusikan ZIS warga Muhammadiyah di tingkat Kota sudah ada sejak tahun 2003. Ketua pertamanya Drs. HM Yamin Data (Allahu yarham). Namun baru beroperasi di kalangan terbatas khususnya di Cabang Makassar dan Karunrung. Setelah Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang Juli 2005, struktur Pimpinan mengalami perkembangan, diantaranya Majelis Wakaf dikembangkan menjadi Majelis Wakaf dan ZIS, maka lembaga ini diintegrasikan ke dalam Majelis Wakaf dan ZIS dengan nama ”Pengelola Zakat, Infaq dan shadaqah Muhammadiyah” yang dibentuk pada bulan Juli 2008.
Pengurusnya terdiri dari Penanggungjawab KH Jalaluddin Sanusi, Koordinator DR. H Ali Parman, MA, Ketua: M. Nurdin Massi, Sekreatris:
Mustamin Umar, Bendahara: Abd. Rahman Anggota: Munir Abd.
Rahman, Nursyamsir dan H. Sudirman, S.Ag.
Pada bulan Januari tahun 2009 Lazismu Pusat Jakarta mengadakan Rapat koordinasi Nasional dengan Lembaga-lembaga ZIS yang ada di lingkungan Muhammadiyah. Pengelola Zakat PDM Kota Makassar termasuk salah satu pesearta yang diundang hadir pada Rakor tersebut.
Agenda utama Rakor tersebut adalah membicarakan legalitas pengelola zakat di Wilayah, Daerah dan Cabang serta Amal Usaha Muhammadiyah – yang diantaranya ada yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu. Menurut ketentuan Undang-Undang No. 38 tahun 2009 tentang pengelolan ZIS, hanya ada satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam satu oranisasi kemasyarakatan yang diakui pemerintah. Ini berarti lembaga pengelola zakat di Muhammadiyah selain Lazismu Jakarta, tidak dapat beroperasi lagi. Maka untuk menyiasati ketentuan undang-undang tersebut, Rakor menyepakati mengintegrasikan semua lembaga pengelola zakat di lingkungan Muhammadiyah dalam sebuah payung hukum, dibawah Lazismu Pusat Jakarta dengan model
“Jejaring”. Sejak itu Pengelola Zakat Muhammadiyah Kota Makassar menyesuaikan diri menjadi ”LAZISMU MAKASSAR JEJARING LAZISMU PUSAT JAKARTA”. yang ditandai dengan Sertifikat Pendirian Lazismu Makassar dengan Nomor Kode Jejaring 2601. Dengan model jejaring maka Lazismu Makassar tetap dapat beroperasi.
Perkembangan selanjutnya, untuk lebih meningkatkan kinerja Lazismu, pada bulan Mei 2015 lalu diadakan penyempurnaan pengurus untuk menyesuaikan dengan komposisi Pengurus Lazismu Pusat. Pengurus
yang baru ini terdiri dari : Wali Amanah : Prof Ali Parman, KH. Muchtar Waka, MA dan H. Abd Razak Muh. Thahir. Dewan Syari‟ah: KH Jalaluddin Sanusi, DR. Baharuddin Ali dan H. Sudirman, S.Ag. Badan Pengawas: Drs. M. Syukri Pasangki, Drs. H. Mustamin Umar, MM dan Ali Akbar, S.Ag. Badan Pengurus: Ketua Drs. M. Nurdin Massi, M.Pd.I, Wakil Ketua Drs. Aminuddin Langke, M.Hum, Sekretaris Drs.
Kamaruddin Kasim, Wakil Sekretaris Jamaluddin Sanre, S.Ag, MA, Bendahara Erman Nywitadi, S.Pd, dan Wakil Bendahara Abd. Rahman.
Pengurus delengkapi anggota dan Badan Pelaksana. Dengan komposisi pengurus yang baru ini diharapkan kepercayaan umat Islam - terutama warga Muhammadiyah – kepada Lazismu semakin meningkat.
2. Perencanaan dan strategi yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar dalam distribusikan zakat dan mengembangkan pendistribusian zakat.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk merencanakan segala kegiatan yang akan dilakukan, dimana sesuai dengan QS. Al-Hasyr/ 59 : 18 :
Alllah berfirman dalam QS. Al-Hasyr/ 59 : 18
ا إُ َُ يٰ ا َ ٍْ ِٚ ز َّ نا اَ ُّٓ َٚ ا ٰٓ ٚ ٰ َّٰ للّٰا إُ قَّ ح
إُ قَّ حاَ ٔ ِۚ ٍ ذَ غِ ن ْ جَ يَّ ذَ ق اَّ ي شْ فَ َ ْ شُظْ َُ خ ْ نَ ٔ
ٌْ َ ُٕ هَ ًْ عَ ح اَ ًِ ب شْ ِٛبَخ َّٰ للّٰا َّ ٌِ ا ِۗ َّٰ للّٰا
Terjemahnya :
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat di atas dapat kita pahami bahwa untuk melakukan perencanaan itu sangat diperlukan kedepannya. Dimana setiap individu ataupun kelompok apabila tujuannya ingin tercapai maka terlebih dahulu melakukan suatu perencanaan, begitu pula dengan perusahaan dan lembaga-lembaga. Tanpa adanya suatu perencanaan kita tidak mempunyai arahan yang jelas untuk melakukan suatu kegiatan sehingga kegiatan tersebut tidak terlaksana dengan baik dan tujuan dari kegiatan yang dilakukan tidak tercapai.
Perencanaan atau planning merupakan suatu proses di usahakan agar tujuan kedepannya yang ingin dicapai bisa terwujud. Dimana tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan itu perlu adanya pendataan calon mustahiq sampai assessment dan menentukan dana zakat yang akan dikeluarkan.
Lazismu Kota Makassar telah menetukan visi dan misi yang jelas demi Menjadi Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah yang Terpercaya. Hal ini diwujudkan dengan terealisasinya program pendistribusian beasiswa, santunan pengobatan, memberikan santunan terhadap guru mengaji dan pemberian sembako terhadap masyarakat sosial yang membutuhkan atau termasuk ke 8 asnaf tersebut. Namun terdapat sisi kekurangan dalam strategi mengembangkan pendistribusian zakat di Lazismu Kota Makassar, ini di karenakan Lazismu Kota Makassar kurangnya memiliki anggota untuk mendata calon mustahiq yang ada di Makassar sebagaimana dari hasil wawancara itu Lazismu Kota Makassar memerlukan atau harus ada
orang-orang yang membantu untuk menginformasikan data-data calon mustahiq. Dan untuk bisa lebih mengembangkan pendistribusian zakat di Lazismu Kota Makassar tentunya harus mempunyai banyak dana agar pendistribusiannya itu bisa terbagi lebih banyak lagi ke masyarakat, maka dari itu Lazismu Kota Makassar harus berusaha untuk mendapatkan lebih banyak lagi para muzakki untuk dijadikan donatur- donatur tetap di Lazismu Kota Makassar dengan cara sering-sering mensosialisasikan ke masyarakat dan para kader Muhammadiyah.
3. Pelaksanaan Pendistribusian Dana zakat di Lazismu Kota Makassar Terhadap Mustahiq Zakat.
Pelaksanaan pendistribusian dana zakat itu terhubung dari perencanaan pendistribusian dana zakat yang telah dilakukan di awal, itu disebabkan keduanya tersebut adalah kunci kesuksesan agar bisa tersampainya tujuan pendistribusian zakat. Dimana tujuan dari penyaluran zakat adalah memberikan kelayakan hidup terhadap fakir dan miskin dalam menghidupi dirinya maupun keluargannya. Maka dari itu dapat kita lihat table dan diagram penyaluran dana zakat ke 8 asnaf sebagai berikut :
Table 4. 1
Pendistribusian Dana Zakat Penyaluran dana
zakat ke 8 asnaf 2019 2020
Fakir 0 0
Miskin 325.599.555 104.925.350
Riqab 0 0
Gharimin 3.500.000 350.000
Muallaf 50.000 4.400.000
Sabilillah 76.993.200 149.850.000
Ibnu Sabil 1.450.000 1.050.000
Amil 60.238.176 29.128.757
Jumlah Rp. 467.830.931 Rp. 289.704.107 Sumber : Lazismu Kota Makassar
Gambar 4.2
Diagram Pendistribusian Dana Zakat
Sumber : Lazismu Kota Makassar
Berdasarkan hasil wawancara dengan Riska Azizah Mukhtar selaku bidang program di Lazismu Kota Makassar menyatakan sesuai data di atas bahwa :
Adapun asnaf yang tidak tersalurkan seperti fakir dan riqab itu disebabkan karena kondisi di kota Makassar itu tidak terdapat data ke 2 golongan asnaf tersebut sehingga hanya beberapa asnaf yang dapat di distribusikan dana zakat yang sudah terkumpul di lazismu kota Makassar. Sedangkan penyebab naik dan turunnya pendistribusian dana zakat ke 8 asnaf itu bergantung dari pemasukan dana atau dapat dikatakan sedikit atau banyaknya penerima manfaat (asnaf) di atur sesuai dana zakat yang ada.
Hasil wawancara dengan Riska Azizah Mukhtar dapat kita simpulkan bahwa pendistribusian dana zakat ke beberapa asnaf sudah terpenuhi dan penentu banyak atau sedikitnya pendistribusian dana zakat ke 8 asnaf itu dari pemasukan
0 50000000 100000000 150000000 200000000 250000000 300000000 350000000
Pendistribusian Dana Zakat ke 8 Asnaf
2019 2020
dana ke lazismu kota makassar sehingga itulah penyebab naik dan turunnya pendistribusian dana zakat terhadap ke 8 asnaf.
Dalam proses pelaksanaan pendistribusian zakat di Lazismu Kota Makassar sudah melaksanakan dengan baik. Dimana pendistribusian zakatnya ke mustahiq itu telah dilaksanakan dengan baik, dalam artian lembaga sudah melakukan sesuai prosedur salah satunya itu pergi mensurvei atau mendata kelayakan apakah mustahiq tersebut berhak dan termasuk dari golongan ke 8 asnaf yang telah disampaikan dalam Al-Quran atau tidak, apabila mustahiq tersebut masuk dan layak maka Lazismu kota makassar akan segera mendistribusikan dana zakat.
Pelaksanaan pendistribusian zakat merupakan suatu bentuk ibadah yang sudah diatur oleh Al-Quran agar bisa tepat sasaran serta sesuai dengan syariat Islam di QS. At-Taubah/ 9 : 60 :
Allah berfirman dalam QS. At-Taubah/ 9 : 60
ٍِِْٛكٰضًَ ْ ناَ ٔ ِ ءۤ اَ شَ قُ فْ هِ ن ُ جٰ قَ ذَّصنا اَ ًَّ َِ ا ِ تَ ف َّ نَ ؤُ ً ْ ناَ ٔ اَ ْٓ َٛ هَ ع َ ٍْ ِٛ هِ ياَ ع ْ ناَ ٔ اَ قِ شنا ِٗفَٔ ْىُ ُٓ بْ ُٕ هُ ق َ ٍْ ِٛ يِساَغ ْ ناَ ٔ ِب
ً تَ ضْ ِٚشَف ِۗ ِ مْ ِٛبَّضنا ٍِْ باَ ٔ ِّٰ للّٰا ِمِْٛبَص ِْٙفَٔ
ىْ ِٛ كَ ح ىْ ِٛ هَ ع ُّٰ للّٰاَ ٔ ِۗ ِّٰ للّٰا َ ٍ ِ ي
Terjemahnya :
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha mengetahui, Maha Bijaksana.”
Pendistribusian zakat yang dilakukan harus sesuai dengan pendistribusian dalam islam yaitu adanya prinsip keadilan, pemerataan, persaudaraan dan kasih sayang serta solidaritas sosial. Dalam hal ini Lazismu Kota Makassar sudah melaksanakannya sesuai dengan prinsip pendistribusian zakat dalam Islam.
4. Konsep Adil dalam pengelolaan dana yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar dalam pendistribusian zakat terhadap mustahiq.
Dalam pasal 1 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat menjelaskan bahwasanya yang dimaksud dengan pengelolaan zakat ialah kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengoodinsian dalam pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Adapun tujuan dari adanya pengelolaan zakat juga disebutkan dalam pasal 3 yaitu :
a. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat.
b. Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.
Selanjutnya menurut Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa dalam pelaksanaan pendistribusian zakat agar bisa terjadi pemerataan dan keadilan harus menggunakan 3 prinsip yaitu sebagai berikut :
a. Menggunakan distribusi domestik
Dengan melaksanakan distribusi lokal atau lebih mengutamakan penerima zakat yang berada dalam lingkungan terdekat dengan lembaga zakat. Imam Malik pernah mengatakan di dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Qurtubi, “Tidak diperbolehkan mendistribusikan
zakat ke wilayah lain di luar dari wilayahnya di mana zakat dikumpulkan, kecuali apabila dalam wilayah tersebut ditemukan banyak orang yang sangat membutuhkannya. Pendistribusian yang merata dengan beberapa kaidah sebagai berikut :
1) Bila zakat yang dihasilkan banyak, sebaiknya setiap golongan mendapat bagiannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
2) Diperbolehkan memberikan semua bagian zakat kepada beberapa golongan penerima zakat saja apabila di dapati bahwa kebutuhan yang ada pada golongan tersebut memerlukan penanganan secara khusus.
3) Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan yang pertama menerima zakat, karena memenuhi kebutuhan mereka dan membuatnya tidak tergantung kepada golongan orang lain adalah maksud tujuan dari diwajibkan zakat.
b. Membangun kepercayaan antara pemberi dan penerima zakat Zakat baru bisa diberikan setelah ada keyakinan bahwa si penerima adalah orang yang berhak dengan cara mengetahui atau menanyakan hal tersebut kepada orang-orang yang ada lingkungannya.
Dalam pelaksanaan pengelolaan zakat, demi tercapainya tujuan zakat secara maksimal, maka dari itu para ulama telah memberikan beberapa prinsip dalam pendistribusian zakat, di antaranya mengenai batasan kadar penerimaan zakat bagi seorang mustahiq. Hal ini di maksudkan agar saat pelaksanaan suatu pendistribusian zakat tidak melenceng dari nilai keadilan serta pemertaan dalam penyebarannya.
Menurut Hasbi Ash Shiddiqiy menjelaskan bahwa tentang bagaimana pemerataan dalam pembagian zakat terhadap 8 asnaf (mustahiq) dalam konteks keadilan pada saat pendistribusian zakat di antaranya ada beberapa poin yaitu :
a. Dalam membagi zakat ini, tidak terdapat cara tertentu dan tetap di masa Nabi Muhammad SAW. Tidak tetap membagi zakat itu kedelapan atau kepada sebanyak golongan yang ada pada masa pembagian tersebut.
b. Nabi SAW dan khalifah-khalifahnya, membagi zakat ini dengan melihat kepada kemaslahatan, melihat kepada derajat mereka yang berhak menerimanya dan kepada banyak sedikitnya harta yang dibagi itu. Maka dari itu kita dapat pengertian bahwa tidak di mestikan pembagian itu sama besar jumlahnya tiap-tiap golongan.
Dengan kata lain dalam melengkapkan pembagian ke delapan asnaf itu tidak wajib. Sebagai yang difahamkan oleh an-Nakha‟iy, Malik, Ahmad dan lainnya. Dengan singkatnya hendaklah pembagian zakat itu senantiasa memperhatikan keperluan yang menerima zakat itu dan hendaknya di bagi zakat menurut kepentingan saat itu. Perbanyaklah bagi kepada yang berhajat dan sedikitkanlah terhadap orang yang kurang hajatnya.
Ringkasnya, tidak ada dalil yang mewajibkan kita membagi delapan.
Dalam pada itu, apabila lazismu mengumpulkan seluruh zakat dari suatu wilayah dan hadir di tempat itu seluruh golongan yang delapan asnaf, maka hak masing- masing golongan itu meminta bagiannya, maka tidak mesti dibagi sama rata diantara mereka. Lazismu boleh memberi kepada sebagian golongan lebih banyak daripada yang lain. Sebagaimana hasil dari wawancara MR selaku
Sekretaris Badan Pengurus menyatakan bahwa dana sudah terbagi ke 8 asnaf dengan adil atau sesuai kebutuhannya tetapi ketika fakir dan miskin membutuhkan dana maka dana dari beberapa asnaf yang tersimpan akan diambil sebagian untuk disalurkan ke asnaf yang lebih di butuhkan.
Dapat kita simpulkan bahwa konsep Al-Adalah dalam pendistribusian dana zakat terhadap mustahiq di Lazismu Kota Makassar itu sudah terlaksana ke 8 asnaf, yang dimana jumlah yang diberikan kepada 8 asnaf itu tidak sama semua besarnya dikarenakan maksud Adil dalam pendistribusian dana zakat terhadap ke 8 asnaf itu di kondisikan sesuai kebutuhan para mustahiq ke 8 asnaf tersebut. Berdasarkan keputusan dewan syariah itu boleh dikondisikan atau bisa dikatakan tidak harus sama pembagiannya tergantung sesuai kebutuhan dengan kondisi dan dimana daerahnya. Sebagaimana Menurut Hasbi Ash Shiddiqiy menjelaskan tentang bagaimana pemerataan dalam pembagian zakat terhadap 8 asnaf (mustahiq) dalam konteks keadilan pada saat pendistribusian zakat di antaranya ada beberapa poin yaitu :
a. Dalam membagi zakat ini, tidak terdapat cara tertentu dan tetap di masa Nabi Muhammad SAW. Tidak tetap membagi zakat itu kedelapan atau kepada sebanyak golongan yang ada pada masa pembagian tersebut.
b. Nabi SAW dan khalifah-khalifahnya, membagi zakat ini dengan melihat kepada kemaslahatan, melihat kepada derajat mereka yang berhak menerimanya dan kepada banyak sedikitnya harta yang dibagi itu.
Maka dari itu kita dapat pengertian bahwa tidak di mestikan pembagian itu sama besar jumlahnya tiap-tiap golongan. Dengan kata lain dalam melengkapkan pembagian ke delapan asnaf itu tidak wajib. Sebagai
yang difahamkan oleh an-Nakha‟iy, Malik, Ahmad dan lainnya. Dengan singkatnya hendaklah pembagian zakat itu senantiasa memperhatikan keperluan yang menerima zakat itu dan hendaknya di bagi zakat menurut kepentingan saat itu. Perbanyaklah bagi kepada yang berhajat dan sedikitkanlah terhadap orang yang kurang hajatnya.
Ringkasnya, tidak ada dalil yang mewajibkan kita membagi delapan.
Dalam pada itu, apabila lazismu mengumpulkan seluruh zakat dari suatu wilayah dan hadir di tempat itu seluruh golongan yang delapan asnaf, maka hak masing- masing golongan itu meminta bagiannya, maka tidak mesti dibagi sama rata diantara mereka. Lazismu boleh memberi kepada sebagian golongan lebih banyak daripada yang lain dan itu semua tergantung bagaimana kondisinya dan berdasarkan Keputusan Dewan Syariah Lazismu.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagian akhir skripsi ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan mengenai
“Konsep Al-adalah dalam Pendistribusian Dana Zakat Terhadap Mustahiq Zakat di Lazismu Kota Makassar.” Maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
Pelaksanaan pengelolaan zakat, demi tercapainya tujuan zakat secara maksimal, maka dari itu para ulama telah memberikan beberapa prinsip dalam pendistribusian zakat, di antaranya mengenai batasan kadar penerimaan zakat bagi seorang mustahiq. Hal ini di maksudkan agar saat pelaksanaan suatu pendistribusian zakat tidak melenceng dari nilai keadilan serta pemerataan dalam penyebarannya dan tidak ada dalil yang mewajibkan kita membagi rata ke delapan asnaf yang apabila lazismu mengumpulkan seluruh zakat dari suatu wilayah dan hadir di tempat itu seluruh golongan yang delapan asnaf, maka hak masing-masing golongan itu meminta bagiannya, karena tidak mesti dibagi sama rata diantara mereka. Lazismu boleh memberi kepada sebagian golongan lebih banyak daripada yang lain dan itu semua tergantung bagaimana kondisinya dan berdasarkan Keputusan Dewan Syariah Lazismu.
1. Lazismu Kota Makassar perlu meningkatkan lagi sosialisasinya di masyarakat terkhusus kader-kader Muhammadiyah agar pengumpulan dana bisa tertambah lebih banyak lagi sehingga penyaluran atau pendistribusian zakat ke mustahiq itu bisa terjangkau luas dan dapat membuat lebih banyak program untuk pengembangan mustahiq sampai bisa menjadi seorang Muzakki kedepannya.
2. Petugas pengumpul zakat maupun kotak infak yang ada di masyarakat itu di berdayakan agar supaya tidak susah lagi mencari relawan untuk melakukan tugas tersebut.
Al-Qur‟an Al-Hadist As-Sunnah
Amarodin, M. 2019. Optimalisasi Dana Zakat di Indonesia (Model Distribusi Zakat Berbasis Pemberdayaan Ekonomi). Jurnal Eksyar (Jurnal Ekonomi Syariah).
7(1): 1-13.
Ariandini, R. 2019. Pribumisasi Islam dalam Tafsir al-Azhar pada QS. At-Taubah ayat 60 tentang Mustahiq Zakat. MAGHZA: Jurnal Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir.
4(2): 232-248.
Aris, M. 2021. Eksistensi Nilai Al‟ adalah pada Kebijakan Zakat di Indonesia. AL- IQTISHOD: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ekonomi Islam. 9(1): 36-54.
Damanhur, D. dan Nurainiah, N. 2016. Analisis Pengaruh Bantuan Zakat terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Aceh Utara. Jurnal Visioner dan Strategis. 5(2): 71-82.
Fandi Tjiptono, Strategi Pemasaran, (Yogyakarta: ANDI, 2001), h. 185
Haidir, M. S. 2019. Revitalisasi Pendistribusian Zakat Produktif sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan di Era Modern. Jurnal Muqtasid. 10(1): 57-68.
Idri. Hadis Ekonomi : Ekonomi Dalam Perspektif Hadis Nabi, Jakarta : Prenadamedia Grup. 2015.
Muhammad Imarah, Islam dan keamanan sosial. Terjemahan. (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 116.
Rahayu, S. B., Widodo, S. dan Binawati, E. 2019. Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi Lembaga Zakat terhadap Tingkat Kepercayaan Muzakki.
Journal of Busness and Information Systems. 1(2): 103-114.
Riadi, S. 2020. Strategi Distribusi Zakat dan Pemberdayaan Mustahiq: Studi Kasus Baznas Kota Mataram. Schemata: Jurnal Pasca Sarjana IAIN Mataram. 9(1):
125-136.
Rofam, G. N. K. M. dan Abdushshamad, S. 2019. Peran Baznas dalam Distribusi Zakat sebagai Upaya dalam Mengentaskan Kemiskinan. AL-IQTISHADIYAH:
Jurnal Ekonomi Syariah dan Hukum Ekonomi Syariah. 5(1): 1-9.
Ruslan Abdul Ghofur Noor. Konsep Distribusi dalam Ekonomi Islam dan Format Keadilan Ekonomi Islam. Yokyakarta : Pustaka Pelajar 2003.
Syamsuri. 2019. Konsep Adil dan Ihsan dalam Transaksi Ekonomi menurut Imam Al-Ghazali dan Pengaruh Tasawuf Terhadapnya (Studi Analisis Terhadap Kitab Ihya‟ al-„Ulum al-Din). TASFIYAH: Jurnal Pemikiran Islam. 3(1): 67-92.
Syanto, A., Komarudin, P. dan Budi, I. S. 2018. Tafsir Ekonomi Islam atas Konsep Adil dalam Transaksi Bisnis. AL-IQTISHADIYAH: Jurnal Ekonomi Syariah dan Hukum Ekonomi Syariah. 4(1): 20-39.
Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqiy, pedoman Zakat, (Cet. III; Semarang Rizki Putra, 1999), 194-196
Wibisono, Y. 2019. Pemberdayaan Umat Melalui Program Distribusi Zakat Produktif pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lumajang. ASSETS:
Jurnal Ilmiah Ilmu Akuntansi, Keuangan dan Pajak. 3(1): 50-56.
Wibowo, A. 2015. Distribusi Zakat dalam Bentuk Penyertaan Modal Bergulir sebagai Accelerator Kesetaraan Kesejahteraan. Jurnal Ilmu Manajemen. 12(2): 28- 43.
LAMPIRAN
No. Pertanyaan Coding 1 Bagaimana perencanaan yang dilakukan oleh Lazismu
Kota Makassar sebelum mendistribusikan zakat ?
MR
2 Bagaimana strategi Lazismu Kota Makassar dalam mengembangkan tentang pendistribusian zakat ?
MR
3 Bagaimana bentuk rancangan dalam pendistribusian zakat di Lazismu Kota Makassar ?
MR
4 Apakah ada ruang lingkup pendistribusian zakat terhadap ke 8 asnaf ?
MR
5 Apakah ada persyaratan bagi mustahiq untuk bisa menerima pendistribusian zakat ?
MR
6 Bagaimana realisasi pelaksanaan dalam pendistribusian zakat dilapangan ?
MR
7 Apakah ada bagian pengawasan di dalam pendistribusian zakat dan siapa yang bertanggung jawab ?
MR
8 Bila ada penyelewengan dalam pengumpulan serta saat pendistribusian zakat, bagaimana tindakan yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar ?
MR
9 Bagaimana pengelolaan dana zakat yang telah dikumpulkan dan distribusikan oleh Lazismu Kota Makassar, apakah sudah adil ?
MR
10 Apakah pengumpulan dana zakat itu sudah terbagi ke 8 asnaf ?
a. Bila sudah, apakah pembagian terhadap ke 8 asnaf itu sudah adil ?
b. Bila belum, mengapa tidak terlaksana ?
MR
2019 dan 2020 mengapa ada 2 asnaf yang tidak terbagi. Mohon dijelaskan?
RAM
12 Apa penyebab dana zakat yang di distribusikan ke 8
asnaf itu bisa mengalami penurunan dan kenaikan ? RAM
2. TRANSKIP WAWANCARA
NO. CODING TRANSKIP
1 MR
“Ceritanya dana zakat sudah terkumpul, sebelum penyaluran ada sistem pendistribusian yang akan dilakukan mulai dari pendataan calon mustahiq sampai assessment setelah itu menghitung jumlah zakat yang akan dikeluarkan disesuaikan dengan jumlah mustahiq yang sudah di assessment dan hasil assessment menjadi patokan dia layak atau tidak.”
2 MR
“Harus ada orang-orang yang selalu bisa membantu menginformasikan data-data calon mustahiq, maka dari itu dibutuhkan relawan-relawan yang dapat memberikan informasi sehingga bisa di data dan assessment.”
3 MR
“Tergantung dari hasil assessment yang menjadi database dari best operation Lazismu. Ketika sudah ada datanya maka itulah yang akan di rancang seperti program Lazismu itu ada 4 pilar penyaluran yaitu pendidikan, dakwah, kesehatan dan sosial kemanusiaan.”
4 MR
“Ada, tapi pertimbangannya sesuai dengan kondisi lokasi Lazismu karena tidak semua asnaf ada di sekitaran lokasi.”