• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Tinjauan Empiris

kemudian terwujudnya suatu kesejahteraan rakyat.

3 Yusuf dan Wibisono, 2019.

Pemerdayaan umat melalui program distribusi zakat produktif pada badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kab.

Lumajang.

Kualitatif Dari dana ZIS yang telah dikumpulkan itu kemudian didistribusikan kepada mustahiq baik secara konsumtif maupun produktif. Untuk distribusi zakat produktif yang dilakukan oleh BAZNAS Kabupaten Lumajang sudah berjalan dengan baik, terutama yang dilakukan melalui bantuan modal usaha bergulir untuk Kelompok Usaha.

4 Arie Syantoso, Parman

Komarudin dan Iman Setya Budi, 2018.

Tafsir ekonomi Islam atas Konsep Adil dalam

Transaksi Bisnis.

Kualitatif Adil dalam transaksi bisnis adalah tidak membahayakan bagi yang lain serta tidak pula membahayakan untuk diri sendiri (Laa dharara wa laa

dhiraar) atau tidak melakukan tindakan yang mendzalimi dirinya sendiri ataupun orang lain (laa tadzlimuuna wa laa tudzlamuun).

Konsep adil ialah dilarangnya suatu transaksi Riba, Maysir, Bai' Najazy, Ihtikar, Tadalahis, Taghrir dan Risywah.

5 Syamsuri dan Konsep Adil dan Kualitatif ihsan adalah anjuran dan

Muhammad Ridwan, 2019.

Ihsan dalam Transaksi Ekonomi menurut Imam Al- Ghazali dan Pengaruh Tasawuf Terhadapnya

penyempurna dalam transaksi, ia ibarat

keuntungan dan adil ibarat balik modal dalam jual beli, sehingga orang dianggap mendapatkan laba ketika telah menerapkan ihsan

dalam bisnisnya, dan dia selamat dengan balik modalnya, jika telah menerapkan keadilan.

6 Moh. Amarodin, M.HI, 2019.

Optimalisasi dana zakat di Indonesia (Model Distribusi zakat berbasis pemerdayaan Ekonomi).

Kualitatif konsep pendistribusian dana zakat secara produktif tentu hampir sama dengan konsep distribusi dana zakat secara konsumtif namun yang membedakan adalah memiliki jangka panjang yang terarah.

7 Galuh Nashrulloh Kartika MR dan H. Saifullah Abdushshamad, 2019.

Peran BAZNAS dalam Distribusi zakat sebagai upaya dalam mengentaskan kemiskinan

Kualitatif Tujuan adanya pendistribusian dana zakat dalam kegiatan kesehatan untuk memberikan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu.

8 Rafika Ariandini, 2019.

Pribumisasi Islam dalam Tafsir al- Azhar pada QS. At- Taubah ayat 60

Teori Pribumisasi

Islam.

Pribumisasi Islam adalah bentuk praksis atau hasil dari sikap keterbukaannya tersebut yang terlihat dalam bentuk dialog peradaban Islam

tentang Mustahiq Zakat.

serta peradaban lokal di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Islam Pribumi.

9 M. Samsul Haidir, 2019

Revitalisasi Pendistribusian zakat produktif sebagai upaya pengentasan kemiskinan di Era Modern.

Kualitatif Program penyaluran zakat produktif tersebut juga telah mampu menciptakan lapangan kerja baru kepada masyarakat sekitar, serta telah mampu menciptakan sumber daya manusia yang memiliki hasil kreatifitas tinggi dan daya saing.

10 Selamat Riadi, 2020.

Strategi Distribusi Zakat dan

Pemerdayaan Mustahiq : Studi Kasus BAZNAS Kota Mataram

Kualitatif Dengan segala kemampuan yang dimiliki dalam mewujudkan peranan manajemen strategi pendistribusian dana zakat yang dimiliki dengan cara melakukan berbagai sosialisasi dan kerjasama.

E. Kerangka berpikir

Didalam konsep Al-Adalah pendistribusian zakat terhadap mustahiq zakat itu perlu di perhatikan agar pembagian zakat dalam 8 golongan tersebut terbagi dengan adil dan merata. Dimana ketika konsep adil telah di terapkan maka

muzakki pun akan percaya kepada organisasi yang mengelola dana zakat.

Adapun kerangka berpikir pada penelitian ini adalah

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

kerangka berpikir diatas, dapat dilihat bahwa pembahasan yang ingin diteliti adalah tentang Konsep Al-Adalah dalam Pendistribusi Zakat terhadap Mustahiq Zakat.

Lazismu Kota Makassar

Pendistribusian Dana Zakat Q.S. Al-Maidah/ 5 : 8

Data Mustahiq Konsep Adil

1. Sama rata 2. Propesional

Analisis

Hasil Penelitian

36

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif, dimana pengumpulan data di penelitian ini dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara adalah suatu bentuk tanya-jawab antara peneliti dengan informan untuk bisa memperoleh sebuah fakta atau data yang diperlukan dalam penelitian

B. Focus Penelitian

Focus penelitian berguna untuk membatasi suatu objek penelitian yang teliti dan kegunaan lainnya peneliti tidak terperangkap dari banyaknya data yang dapat diperoleh dari lapangan. Didalam penentuan focus penelitian dapat lebih diarahkan pada informasi terbaru sekaligus dapat membatasi penelitian agar bisa memilih data yang relevan dan data yang tidak relevan.

Untuk mempermudah dalam melakukan penyelesaian dan menganalisa penelitian ini, maka dari itu penelliti menfokuskan penelitiannya terhadap satu titik yang menjadi sumber masukan infomasi terhadap penelitian ini seperti dengan menspesifikan penelitian kepada rumusan masalah yang sudah dibuat, yaitu Bagaimana konsep Al-Adalah dalam pendistribusian dana zakat terhadap mustahiq zakat di LAZISMU makassar. Dengan fokus utama adalah pengetahuan dan konsep Al-Adalah dalam pendistribusian zakat terhadap mustahiq zakat.

C. Situs dan waktu penelitian

Dalam rangka melakukan pengumpulan data yang diinginkan untuk menyelesaikan penelitian ini, maka penulis melakukan objek penelitian bertempat di kantor LAZISMU Kota Makassar dan lokasi ini menjadi tempat penelitian penulis dengan mempertimbangkan bahwa penulis akan lebih mudah mendapatkan informasi yang tepat, pada jangka waktu 2 bulan akan meneliti setelah melaksanakan seminar proposal yaitu pada bulan februari-maret tahun 2022. Hal ini di akibatkan karena dalam penelitian ini membutuhkan waktu yang relevan terhadap objek yang akan diteliti. Adapun alasan peneliti mengambil penelitian ini agar masyarakat mengetahui konsep Al-Adalah dalam pendistribusian zakat terhadap mustahiq zakat.

D. Jenis dan Sumber data

sumber data merupakan salah satu yang paling penting dalam penelitian.

Apabila ada kesalahan dalam menggunakan atau memahami sumber data, maka data yang akan didapatkan juga bisa salah dan tidak sesuai yang di inginkan.

1. Data Primer

Data primer merupakan suatu objek penelitian yang dijadikan sebagai sumber informasi dengan cara pengambilan data secara langsung. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini bisa di dapatkan dari beberapa karyawan swasta LAZISMU Kota Makassar.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diambil dari sumber berbeda oleh peneliti. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini bisa didapatkan dari buku atau jurnal yang membahas Al-Adalah atau keadilan dalam distribusi zakat terhadap mustahiq zakat. Selain itu,

peneliti juga mengambil dari skripsi yang ada hubungannya dengan judul penelitian.

E. Informan

Informan penelitian merupakan subjek yang memahami informasi objek peneletian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.

Peneliti ini menggunakan informan penelitian utama (key Informan). Yang dimaksud informan penelitian utama adalah orang yang mengetahui banyak informasi mengenai objek yang sedang diteliti atau data yang dikumpulkan oleh peneliti langsung dari sumber pertama.

Dalam hal ini yang menjadi informan penelitian utama (key infoman) yaitu karyawan LAZISMU kota makassar. Selain menggunakan informan penelitian utama (key Informan), penelitian ini juga menggunakan sumber data penunjang (sekunder), dimana yang dimaksud dengan data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti dari bahan kepustakaan sebagai penunjang dari data utama (key Informan). Data referensi yang terkait dengan penelitian.

Untuk memperoleh data yang sesuai dan mendukung penelitian ini, maka diperlukan sumber data, diantaranya yaitu sumber data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, dokumen-dokumen dan lain sebagainya.

F. Metode Pengumpulan Data

Didalam teknik pengumpulan data merupakan suatu usaha dalam memperoleh data dengan teknik yang digunakan oleh peneliti. Pada data dalam penelitian ini metode yang dilakukan yaitu :

1. Observasi

Observasi adalah suatu pengamatan yang dilakukan dengan cara sistematis mengenai fenomena sosial untuk mencatat data.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu percakapan dengan maksud tertentu.

Dimana percakapan yang dilakukan oleh 2 pihak, yaitu pihak pewawancara memberikan pertanyaan yang di wawancarai memberikan sebuah jawaban dari pertanyaan yang telah diberikan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu informasi yang bersumber dari dokumen penting dari lembaga maupun organisasi tersebut. Dalam hal ini peneliti akan mencari berbagai data-data tentang pembagian zakat di LAZISMU Kota Makassar.

G. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mencari atau menyusun data secara sistematis yang didapatkan dari hasil wawancara, tinjauan dilapangan dan dokumentasi, dimana data-data yang sudah terkumpul dibagi beberapa bagian agar bisa untuk memilih data yang penting dan yang akan dipelajari lalu untuk dibuatkan suatu kesimpulan sehingga dapat dipahami baik diri sendiri dan untuk orang lain.

40

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Nama dan sejarah singkat perusahaan/lembaga

LAZIS Muhammadiyah (LAZISMU) merupakan lembaga nirlaba yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengumpulan dan penggunaan dana zakat, infak, sedekah, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. LAZISMU dibentuk oleh PP. Muhammadiyah pada tahun 2002, selanjutnya dikukuhkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional melalui SK No. 457/21 November 2002. Telah berlakunya undang-undang zakat No. 23 Tahun 2011, Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2014, dan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 333 Tahun 2015.

LAZISMU sebagai lembaga amil zakat nasional telah dikukuhkan kembali melalui SK Menteri Agama Republik Indonesia No. 730 Tahun 2016.

LAZISMU dengan spirit kreatifitas dan inovasi senantiasa menghasilkan program-program pendayagunaan yang mampu menjawab tantangan perubahan dan masalah social masyarakat yang berkembang saat ini, LAZISMU telah tersebar hampir di seluruh Indonesia yang menjadikan program-program pendayagunaan mampu menjangkau seluruh wilayah secara cepat, focus dan tepat sasaran.

LAZISMU, kota Makassar mulai berdiri tahun 2003 namun baru beroperasi di cabang Makasar dan Karunrung dan sejak tahun 2008 LAZISMU mengembangkan operasinya ke seluruh area Kota Makassar. Pada bulan Oktober 2010 LAZISMU Makassar telah berhasil mendapatkan sertifikat sebagai jejaring Lazizmu dari LAZISMU Pusat Jakarta dengan nomor registrasi 2601. Pada tahun 2011 berdasarkan SK PDM Kota Makassar No. 007/KEP/III.0/D/2011 Ketua LAZISMU Kota Makassar ialah Bapak M. Nurdin Massi yang menjabat dari tahun 2011-2016 dimana dalam kepengurusan tersebut terjadi tiga kali peenyegaran pengurus untuk menjaga dinamisasi gerakan. Pada tahun 2016, pada Musyawarah ke-47 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar terbentuk kepengurusan yang baru. Berdasarkan SK PDM Kota Makassar Nomor.

028/KEP/III.0/D/2016 Bapak Kamaruddin Kasim terpilih menjadi ketua yang menjabat sampai sekarang dengan alamat secretariat di Pusat Dakwah Islamiyah Muhammadiyah (PUSDIM) Jl. Gn. Lompobattang No. 201.

2. Visi dan Misi organisasi

a. Visi Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah Kota Makassar yaitu :

“Menjadi Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah yang Terpercaya.”

b. Misi Lembaga Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah Kota Makassar yaitu :

1) Optimalisasi kualitas pengelolaan ZIS yang amanah, professional dan transparan.

2) Optimalisasi pendayagunaan ZIS yang kreatif, inovatif dan produktif.

3) Optimalisasi pelayanan muzakki dan mustahiq.

3. Struktur organisasi dan job description a. Struktur organisasi

Struktur organisasi perusahaan merupakan suatu tingkatan atau susunan yang berisi pembagian tugas dan peran perorangan berdasarkan jabatannya di perusahaan untuk mencapai tujuan.

Adapun struktur organisasi Lazismu Kota Makassar yaitu :

Gambar 4.1

Struktur Organisasi Lazismu Kota Makassar

b. Job description

Berikut ini akan dijelaskan secara singlkat mengenai tugas setiap bagian pada Lazismu Kota Makassar yaitu :

1) Dewan Syariah

Bertugas memberikan fatwa dan menilai kesesuaian dengan syariat islam atas seluruh ketentuan, program dan kegiatan pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan ZIS oleh badan pengurus dan badan pelaksana.

2) Badan Pengawas Bertugas :

 Mengawasi pelaksanaan program kerja yang telah disahkan.

 Mengawasi pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang diambil pengurus

 Mengawasi operasional kegiatan yang dilaksanakan Badan Pengurus dan Badan Pelaksana mencakup pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan.

 Melakukan pemeriksaan keuangan secara berkala dan melaporkan hasilnya kepada wali amanah dan dewan syariah yang ditembuskan kepada Badan Pengurus dan Badan Pelaksana.

 Menunjuk akuntan publik,bila perlukan.

 Memberikan saran kepada Badan Pengurus dan Badan Pelaksana.

3) Badan Pengurus Bertugas :

 Merencanakan, mengorganisasikan, mengontrol dan mengevaluasi pelaksana program pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan ZIS.

 Membuat kebijakan pengumpulan, pengelolaan dn pendayagunaan ZIS.

 Memperdayakan baan pelaksana dan UPZ.

 Membuat laporan secara berkala.

 Melakukan pengelolaan dan pendistribusian ZIS.

 Menerbitkan NPWZ (Nomor Pokok Wajib Zakat) 4) Eksekutif

 Bertanggung jawab kepada Badan Pengurus Lazismu di masing-masing tingkatan.

 Bertugas membantu pengurus Lazismu dalam pengelolaan dana ZISKA.

5) Kantor Layanan

 Menghimpun dana ZISKA (Zakat, Infaq, Sedekah dan Dana Sosial Keagamaan).

 Kantor layanan Lazismu memiliki wewenang mengusulkan penyaluran dana ziska kepada Lazismu yang membentuk.

B. Hasil Penelitian

1. Perencanaan yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar sebelum mendistribusikan zakat.

Perencanaan sebelum mendistribusikan zakat dilakukan oleh Lazismu kota Makassar itu sudah ada, hal ini sesuai dengan pernyataan dari bapak Muflih Razak selaku Sekretaris badan pengurus Lazismu Kota Makassar yang mengatakan bahwa :

“Ceritanya dana zakat sudah terkumpul, sebelum penyaluran ada sistem pendistribusian yang akan dilakukan mulai dari pendataan calon mustahiq sampai assessment setelah itu menghitung jumlah zakat yang akan dikeluarkan disesuaikan dengan jumlah mustahiq yang sudah di assessment dan hasil assessment menjadi patokan dia layak atau tidak.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa Lazismu Kota Makassar sebelum melakukan pendistribusian itu dia terlebih dahulu melakukan perencanaan seperti pendataan mustahiq dan menghitung dana zakat yang akan dikeluarkan sehingga bisa berjalan lancar atau tersistematis.

2. Strategi Lazismu Kota Makassar dalam mengembangkan tentang pendistribusian zakat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Harus ada orang-orang yang selalu bisa membantu menginformasikan data-data calon mustahiq, maka dari itu dibutuhkan relawan-relawan yang dapat memberikan informasi sehingga bisa di data dan assessment.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa untuk dapat mengembangkan dalam pendistribusian zakat yaitu Lazismu membutuhkan bantuan orang-orang yang dapat memberikan informasi tentang data-data calon mustahiq sehingga nantinya dapat di salurkan ke mustahiq tersebut.

3. Bentuk rancangan dalam pendistribusian zakat di Lazismu Kota Makassar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Tergantung dari hasil assessment yang menjadi database dari best operation Lazismu. Ketika sudah ada datanya maka itulah yang akan di rancang seperti program Lazismu itu ada 4 pilar penyaluran yaitu pendidikan, dakwah, kesehatan dan sosial kemanusiaan.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa rancangan dalam pendistribusian zakat dapat juga disalurkan ke program Lazismu itu yang 4 pilar meliputi pendidikan, dakwah,

kesehatan dan sosial kemanusiaan dimana program itu sangat membantu masyarakat.

4. Ruang lingkup pendistribusian zakat terhadap ke 8 asnaf.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Ada, tapi pertimbangannya sesuai dengan kondisi lokasi Lazismu karena tidak semua asnaf ada di sekitaran lokasi.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa ruang lingkup pendistribusian nya itu dikondisikan karena ke 8 asnaf itu di zaman sekarang bisa dikatakan hanya beberapa yang ada tergantung dari dimana daerahnya.

5. Persyaratan bagi mustahiq untuk bisa menerima pendistribusian zakat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Syaratnya sesuai ke 8 asnaf tersebut dimana mustahiqnya masuk di lingkupnke 8 asnaf yang telah di tentukan.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa syaratnya itu yah sesuai dengan kriteria ke 8 asnaf yang ada sehingga pendistribusian nya bisa tepat sasaran.

6. Realisasi pelaksanaan dalam pendistribusian zakat di lapangan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Pelaksanaannya itu sesuai data baru di datangi, adapun mustahiqnya bisa dating langsung ke kantor lazismu da nada juga ketika mustahiqnya lagi di luar kota maka di tranferkan.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa pelaksanaan dalam pendistribusian zakat dilapangan itu bisa dikatakan efektif sebab banyak cara yang dilakukan oleh lazismu dalam pendistribusian zakat terhadap mustahiq.

7. Bagian pengawasan di dalam pendistribusian zakat dan yang bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Ada yang mengawasi dan untuk bertanggung jawab secara personal tidak ada tetapi kalau secara institusi yang bertanggung jawab adalah badan pengurus.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa yang bertanggung jawab penuh adalah Badan Pengurus atau yang bekerja di kantor Lazismu Kota Makassar .

8. Ketika ada penyelewengan dalam pengumpulan serta saat pendistribusian zakat tindakan yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Belum di pikirkan, sebab orang-orang yang bekerja di lazismu itu sudah dipercaya.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa belum memikirkan dalam menetapkan hukum atau aturan pemberian sanksi yang akan diberikan oleh Lazismu Kota Makassar bila

adanya terjadi penyelewangan atau pelanggaran yang dilakukan saat pendistribusian zakat dilakukan. Kita ketahui tidak ada manusia yang sempurana dan kejahatan bisa terjadi ketika adanya peluang atau kesempatan.

9. Pengelolaan dana zakat yang telah dikumpulkan dan distribusikan oleh Lazismu Kota Makassar, apakah sudah adil.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Sudah adil, tetapi tergantung sesuai kondisi daerah, contohnya : ketika kita memiliki uang 800 ribu lalu orang miskin ada 10 dan muallaf ada 1 orang, maka kebutuhan orang miskin lebih banyak di bandingkan dengan muallaf.

Berdasarkan keputusan Dewan Syariah itu boleh di kondisikan, tidak harus sama sesuai dengan kondisi.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa pendistribusian dana zakat yang dilakukan oleh Lazismu Kota Makassar itu sudah berlaku adil dengan berlandaskan keputusan Dewan Syariah, yang dimana berlaku adil itu tidak selamanya pembagian itu harus merata tapi dikondisikan sesuai kebutuhan ke 8 asnaf tersebut, jadi dapat diputuskan bahwa adil dalam pendistribusian zakat itu disesuaikan dengan kondisi.

10. Pengumpulan dana zakat itu sudah terbagi ke 8 asnaf secara adil atau belum.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak selaku sekretaris badan pengurus di Lazismu Kota Makassar menyatakan bahwa :

“Dana zakat sudah terbagi ke 8 asnaf dan sudah adil (dikondisikan) tetapi ketika kondisi fakir dan miskin membutuhkan dana, maka dana beberapa asnaf yang tersimpan akan digunakan sebagian untuk di salurkan ke asnaf yang lebih membutuhkan.”

Hasil wawancara dengan bapak Muflih Razak dapat kita simpulkan bahwa pembagian dana zakat sudah terbagi ke 8 asnaf dan pendistribusiannya juga sudah adil, sebagaimana kita lihat Lazismu Kota Makassar menjalankan program dan penyalurannya di masyarakat.

C. Pembahasan

1. Mengenal Lazismu Kota Makassar

Berdasarkan data pernyataan yang saya dapat dari bapak Dr. H. M.

Nurdin Massi, M.Pd.I selaku Ketua Dewan Syariah Lazismu Kota Makassar tentang mengenal lazismu kota makassar yaitu sebagai berikut :

Pelembagaan pengelolaan zakat di Indonesia sebetulnya dipelopori oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan pada awal abad XX.

Upaya organisasi “Islam modernis” ini untuk menghimpun, mengelola, mengembangkan, mendistribusikan dan mendayagunakan dana zakat serta derma lainnya secara efektif dan strategis, telah direalisasikan dalam amal nyata, membangun manusia dan investasi sosial. Amal nyata Muhammadiyah telah menghasilkan puluhan ribu sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi, ribuan tempat ibadah, ratusan klinik dan rumah sakit, ratusan panti asuhan dan ribuan sarana dan prasarana dakwah dan pelayanan sosial lainnya.

Lahirnya Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dengan segala peraturan yang menyertainya, merupakan momentum yang harus dimanfaatkan Muhammadiyah lebih mengintensifkan pengumpulan, pengelolaan dan pendayagunaan zakat, infaq dan shadaqah serta derma lainnya. Untuk itu PP Muhammadiyah mendirikan lembaga otonom yang didedikasikan khusus untuk mengorganisir dana zakat, infaq, shadaqah dan berbagai derma, untuk didayagunakan pada program-program sosial, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan kaum dhu‟afa dan pengembangan dakwah Islam. Lembaga tersebut bernama “Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (LAZISMU)” yang resmi didirikan pada tanggal 14 Juli 2002 dan dikukuhkan dengan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 457 Tahun 2002.

Di Kota Makassar Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah yang berfungsi mengumpulkan dan mendistribusikan ZIS warga Muhammadiyah di tingkat Kota sudah ada sejak tahun 2003. Ketua pertamanya Drs. HM Yamin Data (Allahu yarham). Namun baru beroperasi di kalangan terbatas khususnya di Cabang Makassar dan Karunrung. Setelah Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang Juli 2005, struktur Pimpinan mengalami perkembangan, diantaranya Majelis Wakaf dikembangkan menjadi Majelis Wakaf dan ZIS, maka lembaga ini diintegrasikan ke dalam Majelis Wakaf dan ZIS dengan nama ”Pengelola Zakat, Infaq dan shadaqah Muhammadiyah” yang dibentuk pada bulan Juli 2008.

Pengurusnya terdiri dari Penanggungjawab KH Jalaluddin Sanusi, Koordinator DR. H Ali Parman, MA, Ketua: M. Nurdin Massi, Sekreatris:

Mustamin Umar, Bendahara: Abd. Rahman Anggota: Munir Abd.

Rahman, Nursyamsir dan H. Sudirman, S.Ag.

Pada bulan Januari tahun 2009 Lazismu Pusat Jakarta mengadakan Rapat koordinasi Nasional dengan Lembaga-lembaga ZIS yang ada di lingkungan Muhammadiyah. Pengelola Zakat PDM Kota Makassar termasuk salah satu pesearta yang diundang hadir pada Rakor tersebut.

Agenda utama Rakor tersebut adalah membicarakan legalitas pengelola zakat di Wilayah, Daerah dan Cabang serta Amal Usaha Muhammadiyah – yang diantaranya ada yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu. Menurut ketentuan Undang-Undang No. 38 tahun 2009 tentang pengelolan ZIS, hanya ada satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam satu oranisasi kemasyarakatan yang diakui pemerintah. Ini berarti lembaga pengelola zakat di Muhammadiyah selain Lazismu Jakarta, tidak dapat beroperasi lagi. Maka untuk menyiasati ketentuan undang-undang tersebut, Rakor menyepakati mengintegrasikan semua lembaga pengelola zakat di lingkungan Muhammadiyah dalam sebuah payung hukum, dibawah Lazismu Pusat Jakarta dengan model

“Jejaring”. Sejak itu Pengelola Zakat Muhammadiyah Kota Makassar menyesuaikan diri menjadi ”LAZISMU MAKASSAR JEJARING LAZISMU PUSAT JAKARTA”. yang ditandai dengan Sertifikat Pendirian Lazismu Makassar dengan Nomor Kode Jejaring 2601. Dengan model jejaring maka Lazismu Makassar tetap dapat beroperasi.

Perkembangan selanjutnya, untuk lebih meningkatkan kinerja Lazismu, pada bulan Mei 2015 lalu diadakan penyempurnaan pengurus untuk menyesuaikan dengan komposisi Pengurus Lazismu Pusat. Pengurus

Dokumen terkait