• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Pemahaman Nilai Budaya Lokal Dalam Kepemimpinan Pemerintahan Desa Ledu-ledu

Nilai budaya lokal di desa ledu-ledu telah dilaksanakan oleh pemerintahan desa sudah sejak dulu, nilai budaya ini telah diwariskan oleh para pemangku adat sehingga pemerintah desa sangat menjunjung tinggi dan menghargai nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di desa ledu- ledu, seperti yang dikatakan oleh Kepala Desa pada saat wawancara, ajaran yang dibawa oleh para pemangku adat terdahulu yaitu adele (adil), lempu ( jujur), dan getting (teguh) yang harus diterapkan oleh pemimpin pemerintahan desa.

Dari hasil wawancara tersebut akan dibahas terkait ajaran konsep adele (adil), lempu (jujur), dan getting (teguh) yaitu :

a). adele (adil) yaitu sebuah tindakan atau perilaku yang tidak membeda- bedakan, tidak memihak, dan menyamaratakan setiap orang. Nilai lokal adele ini adalah ajaran yang sangat penting untuk di pahami oleh setiap pemimpin desa dan dapat menjadi landasan dalam menjalankan amanah. Maka dari itu setiap pemimpin mampu bersikap adil terhadap apa yang telah di amanahkan. Dari hasil wawancara bersama beberapa informan terkait pemahaman konsep nilai Adele yaitu beberapa informan menunjukkan bahwa mereka memahami konsep Adele hanya secara arti atau harfiah, bukan berdasarkan makna nilai konsep adele. Tetapi disamping itu pemimpin desa atau kepala desa cukup memahami makna dan nilai dari konsep Adele ini.

b). lempu (jujur) dapat diartikan sebagai sikap yang apa adanya, tidak berbohong, amanah dalam menjalankan tugas serta terbuka dalam hal apapun . Dimana pemimpin pemerintahan beserta aparat desa harus bersikap jujur dan tidak menyalahgunakan wewenang sehingga terhindar dari korupsi. Dari hasil wawancara dengan beberapa informan pemahaman terkait konsep nilai Lempu ini sama halnya dengan konsep Adele dimana beberapa informan hanya menyatakan arti tetapi tidak memahami makna dari nilai lokal tersebut, tetapi tidak semua pemimpin yang dimasukkan oleh penulis sebagai informan dianggap tidak paham, di sisi lain ternyata masih ada yang paham.

c). getting (teguh) dapat diarikan sebagai sikap yang berpegang pada pendirian, konsisten terhadap aturan yang sudah ditetapkan dan tegas dalam mengambil keputusan. Maka dari itu pemerintah desa harus teguh pada pendirian dan tegas dalam segala hal, sehingga apapun tanggung jawab yang diberikan tetap konsisten. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan mengenai pemahaman terkait konsep getting sama halnya dengan nilai adele dan lempu, pemahaman akan nilai getting oleh beberapa informan yang merupakan pemerintahan di Desa Ledu-ledu dalam penelitian ini hanya sebatas pemahaman awam, dalam artian mereka tidak mampu memaknai secara sesungguhnya berdasarkan konsep yang diajarkan, tetapi beberapa informan juga sudah paham terkait konsep dan makna dari nilai getting ini.

Nilai budaya lokal adele,lempu dan getting ini merupakan suatu konsep nilai yang sangat penting dipahami bahkan dilaksanakan oleh para pemimpin pemerintahan khususnya di Desa Ledu-ledu. Hal ini sebagai bentuk warisan luhur dari para pemangku adat terdahulu yang dapat mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan dan dapat dijadikan landasan umtuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan masih bersandar pada nilai budaya lokal.

Dalam pemahaman budaya yang lebih terperinci, menjelaskan bahwa budaya adalah keseluruhan yang kompleks yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain yang dicapai seseorang sebagai anggota masyarakat. Di Desa ledu-ledu sendiri banyak adat dan kearifan lokal lainnya yang sudah sejak dulu berkembang dalam masyarakat antara lain adanya nikahan adat(padoe,bugis,toraja dll), tarian adat (Dero) yang di naungi oleh lembaga adat desa,

Nikahan adat ini sebagai sebagai tanda kearifan lokal dimana suatu perkawinan berdasar pada aturan-aturan adat yang berlaku dalam masyarakat setempat. Aturan- aturan tersebut merupakan suatu perwujudan yang terdiri dari nilai dan norma-norma. Nikahan adat ini dilaksanakan selain sebagai sarana melestarikan budaya juga mengandung nilai ibadah. Dalam pesta nikahan adat di kenal juga tarian adat (Dero) yang sudah menjadi tradisi dilakukan setiap ada kegiatan acara penting salah satunya pernikahan.

Tari Dero adalah sebuah tarian yang dilakukan lebih dari satu orang atau

dilakukan secara bersama-sama, yang melambangkan suka cita atau kebahagiaan serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

2. Kepemimpinan Pemerintahan Desa dalam Mengaktualisasikan Nilai Budaya Lokal

Secara sederhana aktualisasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Dalam penerapan nilai budaya lokal khususnya di Desa Ledu- ledu pemerintah desa tentunya melestarikan dan mengembangkan nilai budaya lokal yang ada yaitu dengan mengarahkan dan juga menuntun masyarakat agar memahami dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada di Desa Ledu-ledu.

Pemerintah desa ledu-ledu sudah memahami arti dari nilai budaya lokal, oleh karena itu sangat penting di terapkan dalam kepemimpinan pemerintah desa, kemudian peran kelembagaan masyarakat salah satunya BPD yaitu selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan budaya, mengawal aspirasi masyarakat dan juga dalam merancang peraturan desa kami mengundang lembaga dan Pembina adat.

Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah hingga lembaga desa telah menerapkan nilai-nilai budaya lokal serta masih melestarikan budaya yang ada, adapun juga masyarakat yang masih kental dan mengedepankan budaya warisan oleh pemangku adat terdahulu.

3. Nilai Budaya Lokal dalam Pengelolaan Dana Desa

Pengelolaan dana desa merupakan dana yang harus dialokasikan oleh pemerintah untuk desa. Sebagai pemimpin, khususnya Kepala desa

tentunya menggunakan dana desa untuk kebutuhan masyarakatnya serta memiliki tanggung jawab dalam melaporkan penggunaan dana desa. Adapun faktor yang mempengaruhi pemerintah desa dalam mengelolah dana desa adalah nilai-nilai budaya lokal yang sudah diterapkan oleh pemerintah desa terdahulu yaitu adele (adil), lempu (jujur), dan getting (teguh). Pemerintah desa menerapkan nilai budaya lokal tersebut dalam pengelolaan dana desa agar mampu mempengaruhi dan terhindar dari korupsi, kejahatan dan keserakahan.

Terkait penerapan nilai budaya lokal dalam pengelolaan dana desa tentunya pemerintah dan aparat desa paham mengenai nilai budaya yang di terapkan yaitu agar bisa bersikap lebih adil, bersikap jujur dan memiliki pendirian yang teguh serta bertanggung jawab. Hal ini memiliki nilai positif terhadap pemerintah desa.

Dalam Pengelolaan dana desa terdapat tiga poin penting dalam pengelolaan dana desa yaitu transparansi, akuntabel, dan parsitipatif.

Transparansi

Prinsip transparansi yang dilakukan oleh pemerintah desa ledu-ledu tentang pengelolaan dana desa yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penatausahaan. Dalam pengelolaan dana desa harus bersifat terbuka dan melibatkan masyarakat dalam rapat anggaran desa sehingga msyarakat mengetahui informasi tentang kegiatan yang akan dilekolah oleh pemerintah desa. Dari beberapa hasil wawancara upaya yang dilakukan oleh pemerintah desa agar lebih transparan yaitu dengan mengundang

beberapa lembaga desa, kepala dusun, ketua RT, RT dalam pembahasan anggaran desa, hal ini agar bersifat lebih terbuka.

Akuntabilitas

Dalam prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa tentunya ada pelaporan dan pertanggung jawaban. Pemerintah desa ledu-ledu telah menerapkan prinsip akuntabilitas sesuai dengan prosedur dan undang- undang yang berlaku. Prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa yang dilakukan oleh pemerintah desa yaitu adanya rekening koran, membuat LPJ dan melaporkan setiap kegiatan dilengkapi dengan kwitansi yang telah disetujui oleh sekertaris desa. Dana desa serta penggunaannya harus dilaporkan dan dipertanggung jawabkan sesuai dengan prosedur serta kebijakan-kebijakan yang ada, disertai dokumentasi kegiatan dan pelaporan kegiatan.

Partisipatif

Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dana desa di Desa ledu- ledu tentunya sangat penting, sebagai masyarakat desa yang terlibat dapat membantu memberikan usulan dan keputusan terkait anggaran dana desa.

Bentuk partisipasi lainnya yang dilakukan masyarakat desa di Desa ledu- ledu adalah membantu dalam pembangunan desa, pembuatan drainase, gotong royong dan kegiatan sosial dan fisik lainnya.

Tabel 4.6 Indikator pertanyaan hasil wawancara tentang pemahaman nilai budaya lokal dalam kepemimpinan pemerintahan desa

No Indikator Jawaban

Ya Tidak 1

2

3

Pemahaman Pemimpin Pemerintahan Tentang Nilai Budaya Lokal

1. Apakah anda paham tentang nilai budaya lokal yang ada di Desa Ledu-Ledu?

2. Memahami nilai budaya lokal Adele (adil), Lempu (jujur) dan Getting (teguh)?

3. Masih memegang teguh tentang nilai budaya lokal yang ada?

4. Memahami pentingnya penerapan nilai budaya lokal Adele (adil), Lempu (jujur) dan Getting (teguh) dalam pemerintahan Desa Ledu-ledu?

Penerapan Nilai Budaya Lokal Di Desa Ledu-ledu 1. Hal yang dilakukan pemerintahan desa dalam

menerapkan dan melestarikan nilai budaya lokal?

2. Peran pemerintah desa dalam menerapkan nilai budaya lokal Adele (adil), Lempu (jujur) dan Getting (teguh)?

3. Kendala-kendala dalam menerapkan nilai budaya lokal di Desa Ledu-ledu?

Nilai Budaya Lokal Dalam Pengelolaan Dana Desa 1. Pemerintahan desa masih menerapkan nilai

budaya lokal dalam pengelolaan dana desa?

2. Pentingnya menerapkan nilai budaya lokal dalam pengelolaan dana desa?

3. Nilai budaya lokal Adele (adil), Lempu (jujur) dan Getting (teguh) diterapkan dalam

pengelolaan dana desa?

4. Terdapat nilai positif yang terkandung terkait penerapan nilai budaya lokal dalam

pengelolaan dana desa?

5. Dalam pengelolaan dana desa menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas dan partisipatif?

 Transparansi

1. Pemerintahan desa sudah transparan dalam mengelolah dana desa?

2. Apakah transparansi perlu dilakukan dalam pengelolaan dana desa?

3. Adanya upaya yang dilakukan pemerintahan desa dalam melakukan transparansi?

 Akuntabilitas

1. Apakah ada upaya yang dilakukan

pemerintah desa dalam melakukan prinsip akuntanilitas dalam pengelolaan dana desa?

2. Apakah akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa sudah sesuai dengan yang di harapkan?

3. Bentuk akuntabilitas dalam pengelolaan dana desa?

4. Cara pemerintah dalam melaksanakan prinsip akuntabilitas terkait pengelolaan dana desa?

 Partisipatif

1. Masyarakat harus terlibat dan berpartisipasi dslsm mendukung pengelolaan dana desa?

2. Adanya bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelilaan dana desa?

3. Cara pemerintah desa untuk menarik mastarakat agar berpartisipasi dalam pengelolaan dana desa?

4. Adanya kendala terkait partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dana desa?

Adapun relevansi penelitian ini dengan penelitian terdahulu memiliki keterkaitan yaitu penelitian ini mengambil kajian lebih luas karena terkait

dengan nilai budaya lokal dalam pemerintahan desa dan pengelolaan dana desa nya. Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian ini:

1. Relevansi hasil penelitian terdahulu terkait pemahaman pemimpin pemerintahan desa tentang nilai budaya lokal (Nurhasah, 2018) menunjukkan bahwa pemimpin atau kepala desa memahami nilai-nilai budaya lokal dengan baik, kemudian diterapkan dalam kepemimpinan pemerintahan desa. Hal ini sejalan dengan penelitian ini yang menunjukkan bahwa pemimpin pemerintahan yaitu Kepala desa telah memahami nilai budaya lokal secara harfiah dan juga maknanya, tetapi beberapa informan dalam penelitian ini hanya paham secara arti saja.

2. Kemudian relevansi penelitian terdahulu terkait kepemimpinanan pemerintah desa mengaktualisasikan nilai budaya lokal (Fanny Afri Dewi dan Fatmariza, 2020) menunjukkan bahwa terdapat cukup banyak nilai- nilai budaya lokal di Nagari Canduang Koto Laweh yang mengimplementasikan nilai budaya lokal tersebut dalam bentuk nilai kepemimpinan, nilai partisipasi masyarakat, nilai kesetaraan gender, nilai pendidikan dan ekonomi, implementasi tersebut dilihat dalam pelaksanaan desa, seperti organisasi kemasyarakatan dan lembaga adat sedangkan implementasi nilai budaya lokal pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah Desa Ledu-ledu mengimplentasi dan melestarikan nilai budaya lokal dengan melibatkan lembaga desa yang berperan penting yaitu BPD dalam setiap kegiatan budaya, mengawal

aspirasi masyarakat dan juga dalam merancang peraturan desa turut mengundang lembaga dan Pembina adat.

3. Selanjutnya relevansi penelitian terdahulu terkait pengelolaan dana desa (Jumaiyah dan Wahidullah, 2019) menunjukkan bahwa sebagian besar pemerintahan desa di Kabupaten Purbalingga tidak berhasil mewujudkan akuntabilitas, baik akuntabilitas vertikal maupun horizontal. Mekanisme dan sistem pelaporan keuangan yang harus disusun dengan teliti, baik dan rinci oleh pemerintah kabupaten, ternyata tidak dapat dilaksanakan dengan baik oleh perangkat desa. Sedangkan pada hasil penelitian ini juga menunjukkan pemerintah Desa Ledu-ledu belum maksimal dalam mewujudkan prinsip transparansi, berdasarkan hasil observasi di Desa Ledu-ledu dapat dilihat dari belum adanya data keuangan dana desa yang dicantumkan di papan informasi ataupun di website desa, tetapi dalam rapat rancangan pengelolaan dana desa masih mengundang masyarakat dan lembaga desa lainnya. Kemudian untuk prinsip akuntabilitas dan partisipatif sudah cukup maksimal, karena dapat dilihat dari hasil observasi bahwa terkait pelaporan dan pertanggungjawaban kegiatan desa dilaksanakan dengan baik, serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa dapat dilihat dari kegiatan gotong royong , pembuatan drainase dan kegiatan adat yang ada di Desa Ledu-ledu.

76 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis terkait Aktualisasi Nilai Budaya Lokal dalam Kepemimpinan Pemerintahan Desa : Pengelolaan Dana Desa dapat disimpulkan :

1. Pemahaman pemimpin pemerintah desa tentang nilai budaya lokal yang di terapkan yaitu nilai/ajaran yang diwariskan harus dijunjung tinggi diantaranya ajaran yang dibawa oleh para pemangku adat terdahulu yaitu adele (adil), lempu ( jujur), dan getting (teguh) telah dipahami secara harfiah dan juga makna nya, tetapi ada juga yang hanya memahami secara arti saja .Penerapan nilai budaya lokal lainnya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Desa ledu-ledu antara lain adanya nikahan adat(padoe,bugis,toraja dll), tarian adat (Dero) yang di naungi oleh lembaga adat desa.

2. Penerapan nilai budaya lokal khususnya di Desa Ledu-ledu telah menerapkan nilai-nilai budaya lokal serta masih melestarikan budaya yang ada, pemimpin pemerintahan desa melestarikan budaya lokalnya yaitu dengan selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan budaya, mengawal aspirasi masyarakat dan juga dalam merancang peraturan desa kami mengundang lembaga dan Pembina adat.

3. Nilai budaya lokal dalam pengelolaan dana desa di Desa Ledu-ledu terbilang cukup bagus,karena telah menerapkan prinsip transparansi,

akuntabilitas dan partisipatif. Dalam prinsip transparansi pemerintah Desa Ledu-ledu sudah bersifat terbuka dengan menginformasikan dan melibatkan lembaga desa serta masyarakat dalam rapat anggaran yang akan dikelolah oleh pemerintah desa. Dalam prinsip akuntabilitas pemerintah Desa Ledu-ledu telah menerapkan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang ditetapkan. Dan dalam prinsip partisipatif pemerintah Desa Ledu-ledu cukup melibatkan masyarakat untuk membantu pengelolaan dana desa baik kegiatan sosial maupun fisik lainnya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, beberapa keterbatasan penelitian yang telah dilakukan di Desa Ledu-ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur. Peneliti memiliki saran sebagai perbaikan dimasa yang akan datang yaitu :

1. Tetap menjaga dan melestarikan nilai budaya lokal yang sudah diterapkan dan menghimbau masyarakat agar tetap memegang teguh nilai budaya yang sudah ada.

2. Dalam pengelolaan dana desa agar lebih transparan sebaiknya informasi untuk masyarakat di tempel di papan informasi desa atau membuat website agar semua masyarakat bisa melihat informasi mengenai anggaran desa

3. Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat serta menghidupkan lembaga desa dalam meningkatkan pembangunan desa di Desa Ledu-ledu

4. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih rinci lagi dalam membahas komponen-komponen terkait dengan nilai budaya lokal dan

pengelolaan dana desa.

79

DAFTAR PUSTAKA

Anjani, A. K. (2019). Pertanggungjawaban Pengelolaan Dana Desa. Jurist-Diction, 2(3), 747. https://doi.org/10.20473/jd.v2i3.14288

Desa, P. K. (2021). Jurnal proaksi, 8(2), 400–416.

Desa, P., Kecamatan, D. I., Tengah, S., & Sinjai, K. (n.d.). Program Studi Ilmu Administrasi Negara, 138–145.

E.B taylor. (n.d.). Menurut E.

Ega, R., Dan, P., Nugrahesthy, A., Hapsari, S., & No, J. D. (2020). Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Dana Desa, 3(1), 43–58.

Febryani, H. (2016). Analisis Transparansi Dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa Pada Prinsip Hablumminal ’ Alam Dalam Pencapaian Good Governance ( Studi Kasus Di Desa Mamben Daya Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur ). Jurnal Akuntansi Profesi, 6(1), 12–20.

Fitriana, D. A. (2021). OPTIMALISASI APARATUR DESA DALAM MENGELOLA DANA DESA ( Studi Terhadap Pengembangan Peternak Desa Mujirahayu Kecamatan Seputih Agung Kabupten Lampung tengah ) OPTIMALISASI APARATUR DESA DALAM MENGELOLA DANA DESA ( Studi Terhadap Pengembangan Peternak Desa Mujirahayu Kecamatan Seputih Agung Kabupten Lampung tengah ).

Government, B. R., Jaya, F., Ruslan, M., & Saleh, H. (2020). Indonesian Journal of Business and Management TRANSFORMASIONAL PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BONE The Influence of Locals Wisdom Values on the Transformational Leadership Style in, 3(1), 16–22.

Indonesia, R. (2014).

Indriani. (2020). Lingkungan Di Desa Cimanggu Kecamatan Ngamprah Bandung Barat. Meta Communication; Journal Of Communication Studies, 5(1), 1–11.

Lampiran 1. Daftar pertanyaan (kuesioner). (n.d.), 118–191.

Muhammadiyah, U., & Utara, S. (2019). Akuntabilitas pelaksanaan alokasi dana desa dalam mewujudkan.

Nawawi, M. (2019). Pentingnya Kualitas Aparat Pemerintah Desa Dalam Pembangunan Di Desa Bedilan Kecamatan Belitang Kabupaten Oku Timur.

Jurnal AKTUAL, 16(1), 28. https://doi.org/10.47232/aktual.v16i1.4

Nurhasanah. (2018). Nilai-Nilai Lokal dalam Kepemimpinan Kepala Desa di Desa Tanarigella Kecamatan Bua Kabupaten Luwu. Government: Jurnal Ilmu

Pemerintahan, 11(1), 1–7. Retrieved from

https://journal.unhas.ac.id/index.php/government/article/view/8020%0Ahttps://jo urnal.unhas.ac.id/index.php/government/article/view/8020/4263

Nilamsari, N. (2014). Memahami Studi Dokumen Dalam Penelitian Kualitatif.

Wacana, 13(2), 177–181.

Oleh, D. S. (2019). Orientasi Nilai Budaya, (1171030045).

Pendidikan, F., & Suez, U. (2019). Pemahaman 1.

Pengawasan Anggaran Ditinjau Dari Budaya Lokal Makassar Dalam Konsep Good Governance. Invoice : Jurnal Ilmu Akuntansi, 3(1), 68–91.

https://doi.org/10.26618/inv.v3i1.4974 Pengelolaan, W., & Desa, D. (n.d.). 1 , 2 3, 1–14.

Prayatni, N. K. D. S., Putri, L. M. W. S., Dewi, K. Y. D., Salain, L. P. P. O., Zulaeha, N., & Virgiawan, G. A. B. A. (2019). Analisis Pengelolaan Dana Desa Di Desa Bebetin Melalui Konsep Good Village Governance (Gvg). Jurnal Ilmiah

Akuntansi Dan Humanika, 9(1), 47–58.

https://doi.org/10.23887/jinah.v9i1.19936

Putra, P. A. S., Sinarwati, K., & Wahyuni, M. A. (2017). Akuntabilitas dan Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. E-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, 8(2), 1–11. Retrieved from https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/S1ak/article/view/12270

RIDHA, F. (2019). Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Di Kecamatan Langsa Kota Kota Langsa. AT-

TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, 4(2), 252.

https://doi.org/10.30821/ajei.v4i2.5549

Satria Husain Merdeka. (n.d.). Integrasi Sosial Suku Padoe dengan Suku dan Bugis di Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, (4).

Studi, N., Di, K., & Canduang, N. (2020). Reaktualisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal, 3(3), 243–249.

Supriatna, T., Rowa, H., & Lambelanova, R. (2020). Kompetensi Kepala Daerah dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 101 di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Rentang Waktu 2013-2018 Roslianah, Tjahya Supriatna, Hyronimus Rowa, Rossy Lambelanova, XII(23), 101–116.

Uno.B, H. d. (2018;7). Pemahaman Konsep diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan,menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. Anggalarang.

Utami, K. D., Utami, I., & Hapsari, A. N. S. (2019). Whistleblowing pengelolaan dana desa: studi atas nilai kearifan lokal. Religación. Revista de Ciencias Sociales y Humanidades, 4(17), 571–579.

verasvera. (2016)

Yunus, R. (2014). Nilai-Nilai Kearifan Lokal ( Local Genius ) Sebagai Penguat Karakter Bangsa. Deepublish Publisher, 1–141.

L A M P

I

R

A

N

LAMPIRAN 1

TRANSKIP WAWANCARA

No Coding Transkip

1 KD

tentunya terkait nilai budaya lokal merupakan nilai/ajaran yang sudah turun temurun yang di bawa oleh para pemangku adat terdahulu, Ajarannya antara lain yakni adele (adil), lempu (jujur), dan getting (teguh) maka dari itu nilai budaya lokal sangat kami kedepankan dan nilai budaya lokal disini juga masih sangat kental

2 KD

Nilai budaya lokal yang tumbuh dan berkembang sekarang itu adanya nikahan adat (padoe,bugis toraja,dll), tarian adat (Dero) yang di naungi oleh lembaga adat desa kemudian juga ada tanah adat wilayah setempat yang ketika kita ingin memasuki wilayah tersebut harus sepengetahuan dari adat setempat

3 KD Sudah sejak lama, sejak pemerintahan terdahulu nilai budaya lokal sudah diterapkan

4 KD

Untuk melestarikan nilai budaya itu kami dari pemerintah desa memberikan ruang seluas-luasnya dan mengarahkan kepada seluruh masyarakat desa agar menjunjung tinggi nilai budaya yang ada dan kami selaku pemimpin adat tertinggi di desa

5 KD

Masih, contohnya jika ada masyarakat desa yang melakukan pelanggaran norma-norma yang di tetapkan oleh adat setempat biasanya di denda seperti potong sapi.

6 KD

Tentunya segala sesuatu yang kita lakukan itu pasti ada kendala, contohnya ada masyarakat yang kurang setuju atau beda pendapat/pemahaman terkait penerapan nilai budaya lokal karena banyaknya suku yang ada. akan

tetapi kendala tersebut dapat di jadikan acuan agar bisa lebih baik

7 KD

Upaya yang kami lakukan yaitu menginformasikan kepada masyarakat mengenai peraturan desa maupun informasi anggaran desa dengan cara mengundang masyarakat beserta beberapa kelembagaan desa, kepala dusun, ketua RT,RW dalam rapat anggaran desa dan di musyawarahkan dengan BPD . Hal ini agar lebih bersifat terbuka

8 KD

Tentunya segala sesuatu yang kita lakukan itu pasti ada kendala atau hambatan, misalnya dalam kegiatan fisik didesa ledu-ledu ada masyarakat/ pekerja yang menunda-nunda demi kepentingan pribadi, tetapi hal ini dapat kami maklumi, dan juga partisipasi dari lembaga- lembaga masyarakat yang masih minim

No Coding Transkip

1 SD

Dalam pengelolaan dana desa tentunya kami juga menerapkan nilai budaya lokal seperti adele,lempu dan getting dan sudah sejak dulu di terapkan

2 SD Tentunya masih dan sedang di terapkan

3 SD

penerapan nilai budaya lokal dalam mengelolah dana desa itu sangat penting, dan ketika kami musyawarah tentang dana desa kami melibatkan tokoh adat untuk menentukan dan mengusulkan apa-apa yang harus di alokasikan mengenai dana yang ada ini

Dokumen terkait