BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Penelitian Terdahulu
6. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat desa.
7. Meningkatakan pedapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
dilaksanakan dengan baik oleh perangkat desa.
2 Muh. Nur Sucipto Rahman, Fadliah Nassaruddin, Darwis Lannai (2021)
Pengawasan
Anggaran Ditinjau Dari Budaya Lokal Makassar Dalam Konsep Good Governance
Kualitatif, Etnografi
Analisis Kualitatif
Hasil penelitian ini menunjukkan pengawasan pengelolaan ADD di Desa Pacellekang terbilang sudah bagus, sesuai dengan prinsip good governance. Dimulai pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pertanggungjawaban telah
menerapkan proses
pengelolaan administrasi dan keuangan yang sudah sesuai dengan prinsip good governance meskipun masih ada sedikit kekurangan.
3. Fahrul Ridha (2019)
Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Di Kecamatan Langsa Kota Kota Langsa
Deskriptif Kualitatif
Analisis Kualitatif
Hasil penelitian menemukan bahwa PengelolaanDana desa selamaini telah berjalan dengan efektif, walaupun pengalokasiannya belum 100%efektif.Upaya pemerintah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yaitu dengan melakukan pemberdayaan antara lain di bidang
infrastruktur, pemberdayaan di bidang umum dan keagamaan 4 Nurhasanah
(2018)
Nilai-Nilai Lokal Dalam
Kepemimpinan Kepala Desa Di Desa Tanarigella Kecamatan Bua Kabupaten Luwu
Deskriptif Kualitatif
Analisis Kualitatif
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kepala Desa memahami nilai-nilai lokal yaitu adele, lempu dan getteng tersebut dengan baik.
Kemudian penerapan ketiga nilai lokal dalam kepemimpinan Kepala Desa tersebut dilaksanakan dalam tiga bentuk pelayanan yaitu pelayanan publik berupa penyediaan barang-barang publik dan layanan publik,
kedua pelayanan
pembangunan berupa pembangunan fisik dan non- fisik dan ketiga pelayanan perlindungan sebagai upaya pemerintah desa memberikan rasa aman dan tentram kepada masyarakat.
5 Ni Kadek Dwi Santi Prayatni,
Luh Made
Wahyu Satya
Analisis Pengelolaan Dana Desa Di Desa Bebetin Melalui Konsep Good
Kualitatif Analisis Kualitatif
Dari hasil penelitian Desa Bebetin Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng Provinsi Bali yang dilakukan di Kantor
Putri , Kadek Yulis Diana Dewi, Luh Putu Pradevi
Octaviani Salain, Noni Zulaeha, Gusti Agung Bagus Alit Virgiawan (2019)
Village Governance (Gvg)
Perbekel Desa Bebetin pada 15 Desember 2016, dapat kami peroleh data bahwa Kantor Perbekel Desa Bebetin tersebut telah melaksanakan prinsip Good Village Governance (GVG) yang meliputi transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kesetaraan, serta kemandirian (indepedensi).
6 Roslianah, Tjahya Supriatna, Hyronimus Rowa, Rossy Lambelanova (2018)
Kompetensi Kepala Daerah Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah Di
Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Rentang Waktu 2013-2018
Kualitatif Analisis Kualitatif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan
kepala Bone periode 2013- 2018 telah memenuhi persyaratan. Hasil ini didapat dari
Analisis teori kompetensi Shermon yaitu pengetahuan, keterampilan, sifat, peran sosial,
citra diri, dan motif dalam mewujudkan kearifan lokal sudah mumpuni.
Model baru yang berkembang dari pemerintahan daerah di Kabupaten Bone adalah
kepala daerah
model kompetensi manajerial
7 Rizcha Ega
Permata Dan Aprina
Nugrahesthy Sulistya Hapsari (2020)
Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Dana Desa
Deskriptif Kualitatif
Analisis Kualitatif
Hasil dan pembahasan dalam penelitan ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan potensi korupsi dalam siklus pengelolaan dana desa dikarenakan nilai-nilai tradisi yang merupakan bentuk kearifan lokal di Desa Lerep, yang mana nilai-nilai positif tersebut dapat mengurangi adanya risiko korupsi. Nilai- nilai kearifan lokal yang ada di Desa Lerep berasal dari tradisi-tradisi yang rutin di lakukan di Desa Lerep yaitu tradisi iriban, merti bumi/kadeso desa, dan sadranan.
8 Fanny Afri Dewi, Fatmariza (2020)
Reaktualisasi Nilai- Nilai Kearifan Lokal dalam
Pembangunan Nagari: (Studi Kasus Di Nagari Canduang
Deskriptif Kualitatif
Analisis Kualitatif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat cukup banyak nilainilai kearifan lokal di Nagari Canduang Koto Laweh yang dapat menunjang pembangunan nagari. Nilai-
Koto Laweh) nilai kearifan lokal tersebut terimplementasikan dalam bentuk nilai kepemimpinan, nilai partisipasi masyarakat, nilai kesetaraan gender, nilai pendidikan dan nilai ekonomi.
Implementasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat dilihat dalam pelaksanaan pemerintahan nagari, seperti organisasai kemasyarakatan dan lembaga adat.
9 Mursak1 ,
Muhammad Takdir2 1, 2 STISIP
Muhammadiyah Sinjai (2019)
Penguatan Nilai- Nilai Kearifan Lokal Dalam
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Di Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai
Deskriptif Kualitatif
Analisis Kualitatif
Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa
Penguatan nilai-nilai kearifan lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa di Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai dimana sub indikator yang diteliti berupa pelayanan tertulis, pelayanan lisan dan pelayanan perbuatan dikatakan sudah cukup baik.
Setiap aparat Desa yang merupakan lebih mendominasi memberikan layanan lisan.
Warga masyarakat juga
memberikan penilaian atas pelayanan yang diberikan oleh aparat Desa di Kecamatan Sinjai Tengah sudah cukup baik, dimana mereka melayani masyarakat penuh dengan rasa kekeluargaan, santun, memiliki tata kramah yang baik, bahasa yang mudah dimengerti serta cepat menanggapi apa yang diingini masyarakat
10 Trisna Sary Lewaru1 , Linda Grace
Loupatty2 , Dewi Nidia Soepriadi3 (2020)
Analisis Pengaruh Persepsi Dan Kualitas Aparatur Pemerintah Desa Terhadap
Pengelolaan Dana Desa Di Kecamatan Moa Kabupaten Maluku Barat Daya
Kuantitatif Analisis Kuantitatif
Hasil penelitian menunjukan bahwa secara simultan, persepsi dan kualitas aparatur pemerintah desa berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan dana desa (DD) dengan kontribusi yang diberikan sebesar 72,7%. Dan secara parsial persepsi aparatur pemerintah desa tidak berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan dana desa dengan kontribusi yang diberikan sebesar 26,2%.
Secara parsial kualitas
aparatur pemerintah desa berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan dana desa (DD) dengan kontribusi yang diberikan sebesar 46,5%.
C. Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan teori yang di gunakan penulis dapat di gambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur
Pemerintahan Desa 1. Kepala Desa 2. Sekertaris desa 3. Bendahara Desa 4. Ketua BPD 5. Masyarakat Desa
4
Nilai Budaya Lokal desa ledu-
ledu 1. Adele (adil) 2. Lempu (Jujur) 3. Getting (Teguh)
1. Adele (adil) 2. Lempu (Jujur) 3. Getting (Teguh)
Pengelolaan Dana Desa 1. Transparansi 2. Akuntabel 3. partisipatif
32 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif yaitu jenis penelitian yang menghasilkan data dari kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang yang berkaitan dalam penelitian ini (Sugiono, 2019:18)
(Sugiono, 2013) mengemukakan bahwa penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi.
Pengumpulan data dengan menggunakan metode in-depth interview dengan berbagai informan dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul disekitar penelitian dan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung dengan masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini untuk membuat deskripsi, atau gambaran secara sistematis serta berhubungan antara fenomena yang di teliti.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini berangkat dari latar belakang masalah kemudian di rumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan tinjauan pustaka. Penelitian ini berfokus pada bagaimana aktualisasi nilai budaya lokal dalam kepemimpinan pemerintahn desa: pengelolaan dana desa di desa ledu-ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.
33 C. Situs Penelitian
Waktu dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 4 April s/d 13 April 2022 dan lokasi penelitian bertempat di Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur tentang “Aktualisasi Nilai Budaya Lokal dalam Kepemimpinan Pemerintahan Desa : Pengelolaan Dana Desa”.
D. Jenis dan Sumber Data
Sumber Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder : 1. Data Primer
Data primer, data yang diperoleh langsung dari lapangan berupa hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan beberapa pihak atau informan pada instansi terkait yaitu Kepala desa, Sekertaris Desa, Bendahara Desa, Ketua BPD dan Masyarakat.
2. Data Sekunder,
Data sekunder, data yang diperoleh peneliti dari internet, dokumen dan laporan yang bersumber dari instansi terkait dengan kebutuhan data dalam penelitian seperti data terkait Desa Ledu-ledu.
E. Informan Penelitian
Informan merupakan sumber data yang penting dalam penelitian harus menggunakan teknik yang tepat. Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah probability sampling adalah suatu teknik penarikan informan yang digunakan apabila unsur-unsur yang ada dalam lokasi penelitian tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk
ditarik/ dipilih menjadi informan dalam penelitian ini. Adapun informan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No Nama Jabatan Umur
1 Andi Ahmad Kepala Desa 43 Tahun
2 Apriani Abbas Sekertaris Desa 37 Tahun
3 Rusniawati Bendahara Desa 35 Tahun
4 Monica Ketua BPD 42 Tahun
5 Hamzah Paturusi Masyarakat 52 Tahun
6 Sakkar Masyarakat 54 Tahun
F. Metode Pengumpulan Data 1. Observasi,
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan data yang diperoleh secara langsung tentang Nilai Budaya Lokal Dalam Kepemimpinan Pemerintahan Desa dan Pengelolaan Dana Desa melalui pengamatan langsung. Observasi langsung dilakukan dengan menyatakan secara langsung kepada sumber yakni Kepala desa bahwa peneliti sedang melakukan penelitian di Desa Ledu-ledu.
2. Wawancara,
Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari informan. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi dari informan untuk memperkuat
hasil penelitian. Pada penelitian ini wawancara dilakukan secara mendalam dan relevan dengan informan untuk memperoleh data sesuai dengan Nilai Budaya Lokal Dalam Kepeimpinan Pemerintahan Desa:
Pengelolaan Dana Desa bersama kepala desa, sekertaris desa, bendahara desa, ketua BPD dan masyarakat desa.
3. Dokumentasi,
Dokumentasi yaitu mengumpulkan data dengan cara foto, merekam dan melalui dokumen-dokumen yang ada kaitannya dengan objek yang di teliti.
G. Metode Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Pengumpulan data dengan menggunakan metode in- depth interview dengan berbagai informan dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul disekitar penelitian dan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung dengan masa sekarang.
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Ledu-ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.
1. Sejarah Desa
Desa Ledu-ledu merupakan salah satu Desa dari 6 ( Enam ) Desa yang ada di Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur. Desa Ledu-ledu terdiri atas 5 ( Lima ) Dusun yaitu Dusun Kondara, Dusun Rendehaka, Dusun Kasidula, Dusun Pae-pae dan Dusun Tanggoloe . Desa Ledu-ledu adalah ibu kota kecamatan yang terhampar dengan di hiasi persawahan, Perkebunan dan Perbukitan yang indah .
Tabel 4.1 Sejarah Desa
TAHUN PERISTIWA
1965
Desa Ledu-ledu merupakan Desa Induk yang di resmikan pada tanggal 27 Juli 1965, pada saat itu yang menjabat sebagai Kepala Desa adalah Bapak Porengga mbaro yang meliputi wilayah seluruh kecamatan Towuti yang sekarang dan pada tahun 1976 lalu di mekarkan menjadi desa Wawondula begitu pula dengan desa Tabarano yang di lepas pada Tahun 1985, Dan pada tahun 1991 Desa Wasuponda dan Desa Balambano lepas dari desa Ledu- ledu.
1969-1980 Desa Ledu-ledu di Pimpin Oleh Bapak Tanonggi 1981-1998 Desa Ledu-ledu di Pimpin Oleh bapak Andi Acang
1998-2007
Pada Tahun 1998 maka mulailah pemilihan proses pemilihan
secara langsung dan yang menjadi kepala desa pada saat itu di Pimpin oleh Bapak Samuel sampai tahun 2007
2007- 2013
Pada tahun 2007 yang terpilih menjadi kepala desa adalah Bapak Andi Ahmad dan pelantikan periode pertama pada bulan November 2007.
2013 – 2019
Kemudian Pada Tahun 2013 Bapak Andi Ahmad terpilih lagi untuk periode ke dua memimpin Desa Ledu-ledu sampai sekarang.
2019- 2025
Pada tahun 2019 secara demokratis Andi Ahmad S,AN kembali terpilih menjadi Kepala Desa Ledu-ledu yang ketiga kalinya Periofde 2019 – 2025.
Sumber Data : Data Potensi Sosial Ekonomi Desa/Kelurahan 2019
Visi dan Misi Desa Ledu-ledu a) Visi
Visi Desa Ledu-ledu merupakan gambaran kesuksesan yang ingin dicapai dalam jangka waktu 6 (enam) tahun kedepan yang disusun dengan memperhatikan Visi RPJPD Kabupaten Luwu Timur, substansi RPJMD Kabupaten Luwu Timur, dinamika lingkungan strategis, aspirasi masyarakat dengan visi yaitu “ Keberlanjutan Masyarakat, Pelayanan, dan Pembangunan Desa Ledu-ledu 3 Kali Lebih Baik Untuk Kesejahteraan Masyarakat”
b) Misi
1) Menyelanggarakan pemerintahan yang bersih dan terbuka berorientasi pada optimalisasi pelayanan Prima kepada masyarakat
2) Mengoptimalkan Realisasi Program Pembangunan Desa melalui Pemekaran Desa
3) Kelanjutan pembangunan infrastruktur mendukung perekonomian petani, masyarakat desa pada umumnya
4) Mendukung sarana dan prasarana dalam bidang kesehatan 5) Mendukung kegiatan-kegiatan pembinaan
6) Penguatan ekonomi desa
7) Bersinergi dengan pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat dalam rangka mensejahterahkan masyarakat.
2. Geografis
Kecamatan Wasuponda merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan Wasuponda berada pada posisi 2 18’
00” - 2 49’ 30”Lintang Selatan dan 12052’30” - 121 24’ 00” Bujur Timur dengan luas wilayah 1.244 km2. Kecamatan yang terletak di sebelah Barat ibukota Kabupaten Luwu Timur ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara, Kecamatan Nuha dam Towuti di sebelah timur, Kecamatan Malili di sebelah selatan, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Mangkutana dan Angkona. Kecamatan Wasuponda terdiri dari 6 desa yaitu: Desa Balambano, Tabarano, Ledu - Ledu, Wasuponda, Kawata dan Parumpanai. Desa yang memiliki wilayah terluas di kecamatan ini adalah Desa Ledu – Ledu dengan luas 346 km2 atau 27,81 persen dari luas kecamatan, sedangkan desa dengan wilayah terkecil adalah Desa Wasuponda dengan luas wilayah 91 km2 atau 7,32 persen dari
luas kecamatan. Desa Ledu-Ledu adalah salah satu desa/kelurahan di Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, provinsi Sulawesi Selatan.
L e d u - L e d u
m e m
punyai kode wilayah menurut kemendagri 73.24.11.2001.
Tabel 4.2 Luas Wilayah Kabupaten Luwu Timur Di Rinci Menurut Kecamatan Kecamatan
Luas Wilayah Kabupaten Luwu Timur Menurut Kecamatan
Luas (km2) Persentase (%)
2019 2020 2019 2020
Burau 256.23 256.23 3.69 3.69
Wotu 130.52 130.52 1.88 1.88
Tomoni 230.09 230.09 3.31 3.31
Tomoni Timur 43.91 43.91 0.63 0.63
Angkona 147.24 147.24 2.12 2.12
Malili 921.20 921.20 13.26 13.26
D e
s a
L e
du-ledu merupakan salah satu dari 6 desa di wilayah Kecamatan Wasuponda ,Adapun batas-batas wilayah desa Ledu-ledu :
a) Batas Wilayah
Sebelah Utara berbatas dengan Kecamatan Nuha
Sebelah Timur berbatas dengan Desa Tabarano
Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Wasuponda
Sebelah Barat berbatas dengan Desa Kawata
b) Luas Wilayah
Towuti 1820.48 1820.48 26.21 26.21
Nuha 808.27 808.27 11.64 11.64
Wasuponda 1244.00 1244.00 17.91 17.91
Mangkutana 1300.96 1300.96 18.73 18.73
Kalaena 41.98 41.98 0.60 0.60
Luwu Timur 6944.88 6944.88 100.00 100.00
Sumber : Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Luwu Timur
DESA KETERANGAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH JUMLAH KK
JUMLAH DUSUN
LEDU-LEDU
PENDUDUK AWAL
BULAN 3359 2978 6337
1327 5
LAHIR 4 6 10
MATI 1 1 2
PENDATANG 4 7 11
PINDAH 14 11 25
PENDUDUK AKHIR 3352 2979 6331
Luas Wilayah Desa Ledu-ledu sekitar 346 Km2, yang terdiri dari areal persawahan, perkebunan, dan sisanya adalah wilayah pemukiman penduduk.
Tabel. 4.3 Data Penduduk
Sumber : Data penduduk bulan maret 2022 dari kantor Desa ledu-ledu c) Keadaan topografi
Secara umum keadaan topografi Desa Ledu-ledu adalah daerah Lembah yang di kelilingi perbukitan.
3. Kondisi Pemerintahan Desa 3.1 Pembagian Wilayah Desa
Luas wilayah Desa Ledu-ledu dengan luas wilayah 346 Km2.Desa Ledu-ledu terdiri dari Lima Dusun, yaitu:
Tabel. 4.4 Nama-nama Kepala Dusun
No Kepala Dusun Dusun
1 Yenicithel Bela Dusun Kondara
2 Ansar DM Dusun Rendehaka
3 Yansen B.P Dusun Kasidula
4 Edi Sinnong Dusun Pae-pae
5 Hasriati Dusun Tanggoloe
Sumber Data : Data Potensi Sosial Ekonomi Desa/Kelurahan Tahun 2019 Dan Perangkat Desa menurut jenis jabatannya di Desa Ledu-ledu terdiri dari 1 Kepala Desa, 1 Sekretaris Desa, 1 Kaur umum dan Tata usaha, 1Kaur Keuangan dan Staf, 1 Kasi Kesra, Kasi Pelayanan dan , dan 5 Kepala dusun. Desa Ledu-ledu terdiri dari 26 Rukun Tangga (RT).
3.2 Sturuktur Organisasi Pemerintahan Desa BULAN
Sebagaimana dipaparkan dalam UU No. 06 tahun 2014 bahwa di dalam Desa terdapat tiga kategori kelembagaan desa yang memiliki peranan dalam tata kelola desa, yaitu: Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan. Dalam undang- undang tersebut disebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan di tingkat Desa (pemerintahan Desa) dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Pemerintahan Desa ini dijalankan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan di negeri ini.
Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah kepala Desa dan perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Desa. Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.
Badan Permusyawaratan Desa adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Desa. Badan Permusyawaratan Desa berfungsi menetapkan peraturan Desa bersama kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Desa.
Anggota BPD adalah wakil dari penduduk Desa bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Anggota BPD terdiri dari Ketua Rukun Warga,
pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya. BPD berfungsi menetapkan peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
Gambar 4.1 Bagan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa Ledu-ledu
3.3 Kelembagaan Desa
3.3.1 Badan Permusyawaratan Desa
Secara struktural pengurus BPD Desa Ledu-ledu terdiri dari 9 orang. Mereka merupakan perwakilan dari unsur masyarakat, tokoh
masyarakat, tokoh agama dan dari unsur pemuda. Olehnya itu penilaian dari masyarakat tentang kinerja BPD dianggap belum cukup bagus kinerjanya masih perlu ditingkatkan dan diberikan pelatihan peningkatan kapasitas terkait tugas-tugas pokok dan fungsinya sebagai anggota BPD.
3.3.2 Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
Pengurus kelompok PKK di Desa Ledu-ledu terdiri dari 1 ketua, satu sekretaris dan satu bendahara serta empat ketua pokja. Kelompok ini memiliki sepuluh tugas dan fungsi yang semuanya bertujuan mendorong dan meningkatkan keberdayaan dan kesejahteraan keluarga dan Masyarakat. Sehubungan dengan tugas dan fungsinya tersebut pengurus kelompok ini harusnya lebih intensif melakukan kegiatan di Desa berupa penyuluhan kesehatan, penanaman tanaman obat di pekarangan dan tidak hanya aktif pada pelaksanaan arisan agar kelompok ini dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas.
Selama ini kelompok PKK di Desa Ledu-ledu masih perlu meningkatkan kinerjanya agar kegiatannya tidak hanya terlihat pada saat ada perlombaan Desa atau pada saat 17 Agustus tapi harus kelihatan minimal setiap minggu agar ketua dan anggotanya yang terdiri dari ibu- ibu dan remaja putri dengan karakter dan pendidikan yang berbeda-beda lebih bersemangat dalam memberdayakan keluarganya menuju keluarga sejahterah
3.3.3 Guru Mengaji
Pembinaan TK-TPA di Desa Ledu-ledu telah lama berjalan sebagai bentuk peningkatan masyarakat religius yang diharapkan membawa dampak positif dalam kehidupan masyarakat. Antusias masyarakat dalam lembaga ini sangat tinggi seiring dengan perencanaan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dan siswa baru yang mau masuk sekolah harus bisa baca Al-Qur’an. Namun demikian pihak pengelola masih kekurangan buku Iqra. Selain itu, masih ada guru ngaji yang patut dicatat kegiatan ini merupakan kerja suka rela masyarakat.
Olehnya itu, para Guru Ngaji sudah selayaknya mendapat tambahan perhatian khusus dari banyak pihak demi keberlanjutan lembaga ini yang telah banyak membantu kegiatan keagamaan di tingkat Desa.
3.3.4 Kegiatan / Arisan PKK
Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap bulan dimana anggotanya adalah para ibu-ibu PKK. Kegiatan ini dinilai cukup bagus sebab dapat mempererat hubungan silaturahmi antara ibu satu dengan yang lain. Disamping itu mereka juga dapat bertukar pikiran dan pengalaman dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga. Hasil dari arisan PKK ini juga dapat membantu para ibu mengatasi problema ibu dalam rumah tangga khususnya bila ada pesta.
3.3.5 Kelompok Tani
Saat ini di Desa Ledu-ledu kelompok tani tidak berjalan Epektik, ada juga kelompok tani sebatas proposal untuk mendapatkan bantuan,
kurangnya pengetahuan petani tentang tujuan berkelompok, pada dasarnya Keberadaan kelompok tani banyak membantu masyarakat dalam pengadaan saprodi meskipun diakui bahwa manajemennya masih perlu pembenahan agar kesejahteraan petani dapat terealisasi
Gambar 4.2 HUBUNGAN KELEMBAGAAN DESA LEDU-LEDU
B. Hasil Penelitian
MASYARAKAT MASYARAKAT PEMDES
PEMDES
MAJELIS TA’LIM
KELOMP OK TANI
BPD
BPD KARANG
TARUNA
REMAJA
MASJID KLP.SPP
PKK
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui aktualisasi nilai budaya lokal dalam kepemimpinan pemerintahan desa, pengelolaan dana desa di Desa ledu-ledu, Kabupaten Luwu Timur.
Penelitian ini di awali dengan pengamatan dan observasi daerah Desa ledu-ledu dan bersilaturahmi dengan beberapa informan yang nantinya akan mendukung penelitian ini. Hasil dari wawancara dan pengumpulan dokumen diperoleh dari Desa ledu-ledu dengan wawancara kepada Kepala desa, Sekertaris desa, Bendahara desa, Ketua BPD dan masyarakat.
1. Pemahaman Nilai Budaya Lokal Dalam Kepemimpinan Pemerintahan Desa Ledu-ledu
Pemahaman diartikan sebagai suatu cara atau proses memahami sebuah konsep yang di awali dengan pengetahuan, penerjemaham atau penafsiran dan memaknai secara eksplorasi. Kemudian dari proses pemahaman itu lalu diwujudkan dalam bentuk tindakan atau pelaksanaan daripada konsep tersebut.
Nilai budaya lokal merupakan suatu nilai yang terkandung didalam sebuah daerah yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat sekitar. Dapat mencangkup nilai sosial, nilai agama, nilai moral,ataupun nilai budaya (kebia saan/habit). Kepala Desa sebagai pemimpin tertinggi di Desa Ledu-ledu mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga nilai budaya lokal di desanya.