• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

keuangan CV. RJ sangat baik, sehingga PT. Bank BRI Cabang sangat yakin untuk dapat memenuhi kebijakan pemberian kredit sebesar Rp.

150.000.000 selain itu realisasi kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada CV. RJ didasarkan pula jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan selama 2 tahun berturut-turut yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor.

2. CV. MJ mengajukan kebijakan pemberian kredit sebesar Rp.

250.000.000 pihak bank menerima pemberian kebijakan kredit tersebut, disebabkan kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan dalam keadaan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis likuiditas dimanacurrent ratioCV. MJ pada tahun 2014 berada diatas standar yang ditetapkan oleh pihak bank sebesar 253 % yang berarti jumlah hutang jangka pendek pada tahun 2014 sebesar Rp. 149.293.000 dapat dibiayai oleh aktiva lancar pada tahun 2014 yang berjumlah Rp. 377.811.000, bahkan masih memiliki cadangan dana untuk membiayai hutang jangka pendek tahun berikutnya, melalui analisis solvabilitas dapat dilihat pada tahun 2014. Modal sendiri berjumlah Rp. 688.203.000 dan total aktiva yang berjumlah Rp. 837.496.000 oleh perusahaan benar-benar dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban finansialnya guna membiayai hutang perusahaan apabila saat itu perusahaan dilikuiditas. Sedangkan dari hasil analisis profitabilitas dapat terlihat bahwa profit margin perusahaan dalam keadaan baik dengan persentse rasio 6% dan berada diatas standar yang ditetapkan oleh pihak bank yaitu 5 % yang berarti

kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba sangat maksimal bahkan melebihi standar yang ditetapkan oleh pihak bank. Melalui analisis likuiditas, solvabilitas, dan profitbilitas dapat diketahui bahwa kondisi keuangan CV. MJ sangat baik, sehingga PT. Bank BRI Cabang sangat yakin untuk dapat memenuhi kebijakan pemberian kredit sebesar Rp.

250.000.000 selain itu realisasi kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada CV. MJ didasarkan pula jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan selama 2 tahun berturut-turut yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor.

b. Peranan Analisis Laporan Keuangan Perusahaan Dalam Kebijakan Pemberian Kredit

Dalam pengambilan keputusan pemberian kredit, PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) melakukan berbagai analisis untuk menilai apakah suatu permohonan kredik layak diterima atau tidak. Analisis yang dilakukan adalah untuk memenuhi keadaan yang sebenarnya dari persyaratan-persyaratan pendahuluan yang diajukan pada saat permohonan kredit calon dibitur. Analisis mencakup analisis 5 C (character, capacity, capital, collateral, and condition of Economy), serta analisis kredit yang terdiri dari Aspek Legal/Hukum, Aspek Manajamen, Aspek Teknik, Aspek Pemasaran, Aspek Jaminan dan Aspek Keuangan.

Setiap permohonan kredit harus dilengkapi data laporan keuangan dua periode yang terdiri dari laporan neraca, laporan laba rugi, dimana laporan keuangan tersebut akan diperiksa dan diteliti kebenaranya dengan melakukan

beberapa pengecekan, yaitu inspeksi langsung ketempat usaha calon dibitur (on the spot), meminta informasi dari bank lain (bank to bank confirmation) untuk memastikan calon dibitur tidak memiliki kredit di bank lain dan tidak tersangkut kredit macet, juga meminta konfirmasi kepada pihak lain yang memiliki hubungan bisnis dengan calon dibitur (Trade Checking).

Aspek keuangan merupakn aspek yang paling penting dalam menilai kinerja perusahaan calon dibitur dengan mempergunakan analisis laporan keuangan yang sangat membantu pihak BRI untuk mengetahui kondisi keuangan nasabah dari sisi likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktifitasnya. Dengan analisis laporan keuangan ini, BRI dapat berhati-hati dalam memberkan kredit dan dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya kredit macet juga memperoleh keyakina bahwa kreditnya telah diberikan pada dibitur aman yang dapat menjamin pengembalian pinjaman besar bunganya dalam waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain, penerapan analisis laporan keuangan telah dilaksanakan secara memadai oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) dan dapat memberikan kebijakan dalam pemberian kredit. Dengan demikian penerapan analisis laporan keuangan perusahaan yang dilakukan oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) yang sangat berperan dalam kebijakan pemberian kredit.

c. Kebijakan Pemberian kredit ke Calon Nasabah Oleh PT. Bank BRI Cabang

Kebijakan kredit memuat pedoman umum tentang prosedur pemberian kredit dan pengawasan kredit yang wajib dipenuhi, baik oleh bank maupun oleh debitur. Dalam setiap transaksi kredit diperlukan seperangkat strandar dokumen.

Beberapa jenis dokumen tersebut merupakan bahan masukan yang penting peranannya bagi bank untuk memonitor perkembangan mutu kredit yang telah diberikan kepada debitur. Ketika realisasi kredit, syarat-syarat dokumen yang harus dipenuhi nasabah seperti KTP, KK, surat nikah, SKU, dan jaminan harus sudah lengkap. Selain itu dokumen yang harus disiapkan dari pihak BRI seperti formulir data debitur, permohonan nasabah. Untuk menjaga kesehatan bank, berbagai cara dilakukan salah satunya cerminan bank yang sehat.

Tujuan utama analisis permohonan kredit adalah untuk memperoleh keyakinan apakah calon nasabah mempunyai kemapuan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada Bank secara tertib. Baik pembayaran pokok pinjaman maupun bunganya, sesuai dengan kesepakatan dengan bank, sehingga resiko kredit macet dapat diminimalisasi. Satu hal pokok yang perlu mendapat perhatian sebelum analisis dimulai adalah bersedianya data yang lengkap, relevan dan benar yang sangat membantu untuk memperoleh gambaran yang sesungguhnya. Sedangkan kebenaran data sangat berpengaruh terhadap ketepatan pengambilan keputusan.

Jumlah pinjaman yang diberikan kepada Nasabah pada CV. RJ sebesar Rp. 150.000.000 dan pada CV. MJ sebesar Rp. 250.000.000 karena secara keseluruhan hasil analisis menunjukkan hasil yang baik profit margin kedua perusahaan berada diatas standar yang ditetapkan oleh pihak bank dan kedua perusahaan tersebut menghasilkan laba dari penjualannya mengalami stabil. Hal tersebut juga dapat dilihat dari hasil analisis perbandingan pemberian kredit kedua perusahaan melalui analisis Likuiditas, Solvabilitas, dan Profitabilitas dapat

diketahui kondisi keuangan kedua perusahaan sangat baik. Sehingga PT. Bank BRI Cabang sangat yakin untuk memberikan pinjaman. Selain itu realisasi kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada kedua perusahaan tersebut didasarkan pula jumlah hutang yang dimiliki oleh pihak perusahaan selama dua tahun berturut-turut yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor.

Salah satu penyebab dari kegagalan usaha bank adalah penyediaan dana yang tidak didukung dengan kemampuan bank mengelola konsentrasi penyediaan dana secara efektif. Dalam rangka mengurangi potensi kegagalan usaha bank maka bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, antara lain dengan melakukan penyebaran (diversifikasi) portofolio penyediaan dana melalui pembatasan penyediaan dana, baik kepada pihak terkait maupun kepada pihak bukan terkait. Pembatasan penyediaan dana adalah persentase tertentu dari modal bank yang dikenal dengan batas maksimum pemberian kredit (BMPK).

Tujuan ketentuan BMPK adalah untuk melindungi kepentingan dan kepercayaan masyarakat serta memelihara kesehatan dan daya tahan bank, dimana dalam penyaluran dananya, bank diwajibkan mengurangi resiko dengan cara menyebarkan penyediaan dana sesuai dengan ketentuan BMPK yang telah ditetapkan sedemikian rupa sehingga tidak terpusat pada peminjam dan kelompok peminjam tertentu.Untuk penyediaan dana kepada seorang peminjam dengan bank dapat dilakukan paling tinggi 20 % dari modal bank. Sementara, penyediaan dana kepada satu kelompok peminjam dapat dilakukan paling tinggi 25 % dari modal bank. Peminjam digolongkan sebagai anggota suatu kelompok peminjam apabila

peminjam mempunyai hubungan pengendalian dengan peminjam lain baik melalui hubungan kepemilikan, kepengurusan atau keuangan. Kemudian dapat ditambahkan bahwa pengambil alihan (negosiasi) wesel ekspor berjangka dikecualikan dari perhitungan BMPK sepanjang weselekspor berjangka diterbitkan atas dasar letter of credit berjangka yang sesuai dengan Uniform Customs and Practice for Documentary Credits (UCP) yang berlaku dan telah diaksep oleh Prime bank. Bank yang melakukan pelanggaran BMPK atau pelampauan BMPK dikenakan sanksi penilaian tingkat kesehatan bank sebagaimana diatur dalam ketentuan bank Indonesia yang berlaku.

Sistem pengembaliannya yaitu bagi hasil. Sistem bagi hasil merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebut diperjanjikan adanya pembagian hasil atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih. Bagi hasil dalam sistem perbankan merupakan ciri khusus yang ditawarkan kapada masyarakat dan di dalam aturan yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha harus ditentukan terlebih dahulu pada awal terjadinya kontrak akad. Besarnya penentuan porsi bagi hasil antara kedua belah pihak ditentukan sesuai kesepakatan bersama dan harus terjadi dengan adanya kerelaan di masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan.

BAB VI

KESIMPULA DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :

Terdapat analisis rasio keuangan untuk mengetahui likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas. Perusahaan calon debitur, rasio keuangan yang dihitung terdiri dari : current ratio, quick ratio, debt to equity ratio, total debt to asset ratio, net profit margin, return on equity, return on investment dan menggunakan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar penilaian dalam memutuskan pemberian kredit dan untuk memberikan keyakinan pada pihak tentang kemampuan calon debitur dalam mengembalikan pinjaman beserta bunga yang telah ditetapkan sebelumnya.

B. SARAN

Setelah mengadakan penelitian dan pembahasan, maka penulis akan mencoba memberikan saran untuk perbaikan dan peningkatan kualitas terhadap pelaksanaan analisis laporan keuangan dalam pengambilan keputusan pemberian kebijakan kredit pada PT. Bank BRI Cabang yang mungkin dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk lebih menyempurnakan analisis rasio laporan keuangan, sebaiknya pihak bank melakukan perhitungan rasio aktivitas yang berguna untuk mengukur efektivitas suatu perusahaan di dalam menggunakan sumber-sumber dana yang dimilikinya.

84

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan Siamat. 2007.Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Kelima: LPFE-UI.

Hasibuan, Melayu SP. 2007.Dasar-dasar Perbankan.Jakarta: Bumi Aksara.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009.Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Kasmir. 2011.Analisis Laporan Keuangan, Edisi Satu, Cetakan Keempat. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Kasmir. 2012. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Kasmir. 2014.Dasar-dasar Perbankan, PTRaja Grafindo Persada. Jakarta.

Rivai, Veithzal dan Andria Permata Vaithzal, Credit Management Handbook,Teori, Konsep, Prosedur, dan Aplikasi Panduan Praktis Mahasiswa, Bankir, dan Nasabah,( Jakarta,Rajawali Press,2007).

Munawir S. 2007.Analisa Laporan Keuangan. Edisis keempat. Yogjakarta:

Liberty.

Saraswati, Rosita Ayu . 2012 .Peranan Analisis Laporan Keuangan, Penilaian Prinsip 5C Calon Debitur dan Pengawasan Kredit Terhadap Efektivitas Pemberian Kredit. (Penelitian dilakukan pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Temanggung. Skripsi. Sarjana Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.Yogyakarta.

Suyatno, Thomas, 2007, Dasar-dasar Perkreditan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1998 TentangPerbankan

Undang-undang Republik Indonesia No. 10. 1998.Undang-undang Perbankan.

Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 TentangBank Indonesia

Dokumen terkait