BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
komunikasi yang baik, memiliki ketegasan, mempunyai penampilan diri yang baik dan mampu mengendalikan perasaan.
Teori yang berkaitan dengan hasil wawancara diatas yaitu teori Behaviour yang menjelaskan tentang proses menegaskan bahwa manusia adalah hasil dari pengaruh-pengaruh disekelilingnya.
Pembinaan mental dapat meningkatkan atau menumbuhkan rasa percaya diri seseorang karena adanya pembinaan di Lapas Kelas IIA Parepare ini agar para narapidana mendapatkan pembinaan mental, serta dapat membentuk dan meningkatkan rasa percaya diri setelah diberikan pembinaan tentang ajaran agama Islam dan tahapan-tahapan tentang rasa percaya diri dalam jiwa. karena lapas bukan lah tempat pembuangan orang bagi pelaku kejahatan, para narapidana masih mempunyai kesempatan untuk merubah serta memperbaiki diri melalui pembinaan mental yang telah diberikan, ketika suatu saat mereka dikembalikan kepada keluarganya, mereka dapat membuktikan bahwa setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan mereka telah menjadi pribadi yang lebih baik.
Salah satu kegiatan yang berada di Lapas adalah pembinaan keagamaan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menyadarkan warga binaan akan kesalahannya agar tidak mengulangi kesalahannya kembali, dan membangun kepercayaan diri warga binaan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.
2. Rasa Percaya Diri Narapidana Anak di Lapas Kelas IIA Parepare
Kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan
kekurangan diri sendiri. adapun rasa percaya diri narapidana anak meliputi perasaan tenang, kemampuan berkomunikasi, pola berfikir positif, memiliki mental dan fisik yang menunjang penampilannya, mampu mengatasi masalah emosi negatif.
a. Perasaan Tenang
Perasaan tenang dan tentram merupakan keinginan yang ada dalam diri setiap orang. Dalam menjalani kehidupan ini seseorang seringkali merasakan kebahagian dan kesedihan. Setiap tahap perkembangan seseorang akan dihadapkan pada masalah yang berbeda-beda dengan penanganan yang berbeda-beda pula.
Teori yang berkaitan dengan hasil wawancara berikut yaitu teori Behaviour yang menjelaskan tentang proses pembelajaran dengan memberikan stimulus yang dilakukan secara berulang untuk hal-hal yang baru agar mendapatkan respon yang sama seperti hal-hal yang baru agar mendapatkan respon yang sama seperti hal-hal yang telah diketahui sebelumnya. Misalkan diberikan pembinaan secara berulang-ulang oleh pembina lapas dengan melakukan kegiatan mengaji dilapas sehingga membuat perasaan tenang dan pikiran menjadi positif.
b. Kemampuan berkomunikasi
Agar tidak menjadi kurang percaya diri dan sulit untuk berkomunikasi, diharapkan terus berlatih untuk meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga dapat berkomunikasi interpersonal dengan lancar. Kemudian juga tidak lupa untuk mengevaluasi dirinya sendiri agar mampu mengoptimalisasikan kemampuan dirinya dengan maksimal.
c. Pola berfikir positif
Berpikir positif adalah sikap mental yang melibatkan proses memasukkan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran. Berpikir positif melihat sebuah situasi dari sisi yang baik, membuat seseorang lebih konstruktif dan kreatif. Apabila sikap dan pikiran seseorang dibimbing ke arah positif, maka bukan tidak mungkin lagi seorang individu akan menjadi orang yang berani tampil beda.
d. Memiliki mental dan fisik yang menunjang penampilannya
Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang pasti memperhatikan penampilan diri. Untuk dapat tampil menarik membutuhkan gaya hidup yang dapat diterima orang lain dan mencerminkan tampil adanya, sopan dan berbusana dengan model maupun warna yang cocok, sehingga bisa tampil sebagai orang yang penuh percaya diri. Berpenampilan menarik mencerminkan rasa percaya diri yang tinggi
Berdasarkan dengan wawancara teori yang berkaitan yaitu teori self confidence atau percaya diri. Percaya diri muncul dari bagaimana seseorang memandang dirinya. Percaya diri muncul dari konsep dan citra diri yang dimiliki oleh setiap orang. Kepribadian eksistensialis mengungkapkan bahwa seperti apa manusia membayangkan maka seperti itulah ia.
e. Mampu mengatasi masalah emosi negatif
Emosi negatif, berupa perasaan yang tidak menyenangkan dan jika diekspresikan terkadang bisa bersifat destruktif. Salah satu contoh emosi negatif adalah kemarahan. Orang yang memiliki kepercayaan diri tidak hanya
memiliki kepercayaan diri batin saja atau kepercayaan diri tingkah laku saja tetapi harus memiliki kedua-duanya.
Dari ciri-ciri rasa percaya diri diatas dapat peneliti simpulkan bahwa rasa percaya diri anak di lapas dengan format pembinaan mental dapat dikatakan cukup efektif yang diberikan oleh pembina lapas di karenakan pembina atau petugas lapas dapat memberikan pemahaman ataupun pembimbingan dalam hal meningkatkan rasa kepercayaan diri narapidana anak. Dengan adanya pembinaan mental dalam menumbuhkan rasa percaya diri maka secara berlahan-lahan para narapidana anak ini dapat mengendalikan kepercayaan dirinya untuk menjadi lebih baik lagi dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
BAB V PENUTUP A. Simpulan
Pembinaan mental dalam menumbuhkan rasa percaya diri narapidana anak di Lapas Kelas IIA Parepare. Peneliti menyimpulkan jawaban dari rumusan masalah yang peneliti angkat sebagai berikut:
1. Bentuk pembinaan mental dalam menumbuhkan rasa percaya diri narapidana anak di Lapas Kelas IIA Parepare yang diterapkan terbagi atas yaitu:
Pembinaan Kerohanian, Pembinaan Kepribadian, Pembinaan Pendidikan, Pembinaan Keterampilan. Adapun Pembinaan Kerohanian yaitu Belajar Baca Tulis Al-quran, Sholat Dhuha berjamaah setiap hari, Yasinan setiap hari jumat. Pembinaan Kepribadian diantaranya Senam Kubugaran setiap hari Sabtu, Kegiatan Olahraga setiap hari meliputi olahraga futsal, voli, takraw, tenis meja. Pembinaan Pendidikan yaitu program pendidikan kesetaraan paket A B dan C, program belajar bahasa Inggris, program perpustakaan belajar membaca dan diskusi, Pembinaan keterampilan seperti pembuatan kaligrafi dari koran bekas, dan pembuatan bingkai foto dari koran bekas.
2. Rasa percaya diri narapidana anak di Lapas Kelas IIA Parepare adapun diantaranya perasaan tenang, kemampuan berkomunikasi, pola berfikir positif, memiliki mental dan fisik yang menunjang penampilannya, mampu mengatasi masalah emosi negatif. Dari ciri-ciri rasa percaya diri diatas dapat peneliti simpulkan bahwa rasa percaya diri anak di lapas dengan format pembinaan mental dapat dikatakan cukup efektif yang diberikan oleh pembina lapas di karenakan pembina atau petugas lapas dapat memberikan pemahaman ataupun pembimbingan dalam hal meningkatkan rasa kepercayaan diri narapidana anak. Dengan adanya pembinaan mental dalam menumbuhkan rasa percaya diri maka secara berlahan-lahan para narapidana anak ini dapat mengendalikan kepercayaan dirinya untuk menjadi lebih baik lagi dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
B. Saran
Setelah penulis mengemukakan kesimpulan diatas, maka berikut ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai harapan yang ingin dicapai sekaligus sebagai kelengkapan dalam penyusunan skripsi ini sebagai berikut:
1. Kepada pihak Lapas Kelas IIA Parepare untuk lebih meningkatkan pembinaan terutama dalam hal pembinaan mental dan kepercayaan diri narapidana anak.
2. Kepada Pembina atau Petugas Lapas Kelas IIA Parepare agar kiranya membuat program pembinaan khusus pada keterampilan bagi anak.
3. Kepada Saudara-saudaraku yang masih menjalani binaan agar mereka bisa lebih berusaha lagi dalam memperbaiki diri dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu.
4. Kepada Masyarakat agar lebih toleran dalam menerima kehadiran mantan narapidana setelah bebas.
DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Al-Karim
Ahmad,Syahirah. 2018.Pengaruh Intesitas Bimbingan Islam Terhadap Perilaku Keberagaman Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Parepare. Parepare: Skripsi Sarjana. Jurusan Dakwah dan Komunikasi.
Ardial. 2014. Pradigma dan Model Penelitian Komunikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, M. 1982. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta, Golden Trayon Press.
Baharuddin, H dan Wahyuni. 2007. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogyakarta: Ar Ruzz Media.
Burhanuddin, Yusak. 1999. Kesehatan Mental. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Daradjat, Zakiah. 1994. Peranan Agama dalam Kesehatan Mental. Jakarta: CV. Haji Masagung.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Desmita, 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Fahyuni, Eni Fariyatul. 2016. Istikomah, Psikologi Belajar & Mengajar. Sidoarjo:
Nizamia Learning Center.
Gultom, Maidin. 2012. Perlindungan Hukum Terhadap Anak dan Perempuan.
Bandung: Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi.
Hakim, Thursan. 2004. Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jakarta: Puspa Swara.
Kementerian Agama RI. 2013. Al Quran dan terjemahannya. Surabaya: UD Halim.
Krisnawati, Emeliana. 2005. ,Aspek Hukum Perlindungan Anak. Bandung: CV.
Utomo.
Lauster, P. 2002. Tes Kepribadian. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Manguhardjana, A. 1996. Pembinaan, Arti Dan Metodenya. Yogyakarta: Kanisius Moleong, Lexy J. 1997. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. VIII.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurulaen, Yuyun. 2012. Lembaga Pemasyarakatan Masalah & Solusi. Bandung:
Marja.
Oktarina, 1 Yetti dan Yudi Abdullah. 2017. Komunikasi dalam Prespektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: Budi Utama.
Safira, Nada. 2019. Pembinaan Mental Terhadap Narapidana Anak Kasus Pencurian di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Bandar Lampung.
Lampung: Skripsi Sarjana. Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
Sarwono, Sarlito W. 2012. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers
Sasmiati, Warti . 2008. Metode Pembinaan Mental Narapidana Anak Di LembagaPemasyarakatan Anak Wanita Tangerang. Tangerang:Skripsi Sarjana Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Solihah,Siti Masfiatus. 2017. Pembinaan Mental Spiritual Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tulungagung. Tullungaggung: Skripsi Sarjana.
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Suparlan, Y. 1990. Kamus Istilah Kesejahteran Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pengarang.
Tim Penyusun. 2003. Pedoman Penelitian Karya Ilmiah (Makalah dan Skripsi). Edisi Revisi Parepare: STAIN Parepare.
Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2008. Metodologi Penelitian Sosial Edisi Kedua. Jakarta : Sinar Grafika Offset.
Walgito, Bimo. 1992. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.
Widoyoko, Eko Putro. 2016. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Cet. V.
69
LAMPIRAN - LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA NARASUMBER
Bagi Pembina Lapas
1. Pembinaan apa saja yang dilakukan bagi narapidana anak di Lapas Kelas IIA Parepare?
2. Bagaimana langkah- langkah pelaksanaan pembinaan narapidana anak?
Bagi Narapidana Anak
1. Bagaimana program pembinaan mental mampu membuat Anda merasa tenang?
2. Bagaimana anda memandang fisik penampilan anda setelah melakukan pembinaan mental?
3. Bagaimana kemampuan berkomunikasi anda setelah melakukan pembinaan mental?
4. Bagaimana kemampuan anda dalam mengatasi masalah emosi negatif setelah melakukan pembinaan mental?
5. Bagaimana cara anda mengelola cara berfikir positif di dalam berbagai masalah setelah melakukan pembinaan mental?
DOKUMENTASI
WAWANCARA DENGAN INFORMAN