BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Tinjauan Konseptual
a. Pengertian Pembinaan Mental
Kata pembinaan berasal dari bahasa arab “bina” artinya bangunan. Setelah dibakukan kedalam bahasa indonesia, jika diberi awalan “pe-“ dan akhiran “an”
menjadi pembinaan yang mempunyai arti pembaruan penyempurnaan usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.18
Pembinaan adalah suatu usaha untuk menjadikan yang dibina hidup sehat jasmaniah dan ruhiniah, sehingga dapat menyesuaikan dan meningkatkan kembali keterampilannya, pengetahuannya serta kepandaiannya dalam lingkungan hidup.19
Berdasarkan beberapa pengertian tentang pembinaan yang telah dikemukakan, disimpulkan bahwa pembinaan adalah suatu proses belajar dalam upaya
18Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), Cet. Ke-2, h.117.
19 Yuyun Nurulaen, Lembaga Pemasyarakatan Masalah & Solusi (Bandung:
Marja,2012),h.44.
mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bertujuan untuk lebih meningkatkan kemampuan seseorang atau kelompok dalam menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan secara teratur dan terencana sehingga penyelesaian tugas atau pekerjaan tersebut dapat dilakukan secara efisien dan efektif.
Apabila ditinjau dari etimologi, kata mental berasal dari kata latin, yaitu means atau mentis artinya roh, sukma, jiwa atau nyawa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala jiwa (neurose) dan gejala penyakit jiwa (psychose).20
Dengan demikian pembinaan mental adalah usaha untuk memperbaiki dan memperbaharui suatu tindakan atau tingkah laku seseorang melalui bimbingan mental/jiwanya sehingga memiliki kepribadian yang sehat, akhlak yang terpuji dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupannya.
Pembinaan anak dalam arti luas meliputi pemberian perlindungan, kesempatan, bimbingan, bantuan agar janin Indonesia berkembang menjadi orang dewasa Indonesia yang mau dan mampu berkarya yang tinggi mutu dan volumenya besar demi tercapainya tujuan bangsa Indonesia.21
b. Tujuan dan Manfaat Pembinaan Mental
Tujuan pembinaan adalah untuk menciptakan pribadi atau kelompok maupun masyarakat yang terampil dan bersikap mental positif. Hal tersebut memungkinkan terlaksananya rencana kegiatan yang telah diprogramkan, sehingga terwujud masyarakat dinamis.
20Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), h.10.
21Emeliana Krisnawati,Aspek Hukum Perlindungan Anak, (Bandung: CV. Utomo. 2005), h.12
Tujuan pembinaan pada dasarnya untuk menghasilkan masyarakat yang kreatif dalam arti bertambah dalam pengetahuan, keterampilan, sikap dan motivasinya dan mengaplikasikannya kedalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.22
Bagi yang mengikuti proses pembinaan, diharapkan mampu memperoleh manfaat dari pembinaan yang sebagai berikut:
1) Melihat diri dan melaksanakan hidup dan kerjanya.
2) Menganalisa situasi hidup dan kerjanya dari segala aspek segi positif dan negatifnya.
3) Mengemukakan masalah hidup dan masalah dalam kerjanya.
4) Menemukan hal atau bidang hidup dan kerja yang sebaiknya diubah dan diperbaiki.
5) Merencanakan sasaran program hidup dan kerjanya.23
c. Metode Pembinaan Mental
Ada beberapa metode yang lazim digunakan dalam pembinaan spiritual bagi narapidana, karena mereka dalam kesulitan mental-spiritual yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan seperti: tekanan batin (depresi mental), gangguan perasaan (emotional distrubance), dan kenakalan perilaku.
Dalam dunia bimbingan, metode-metode yang digunakan dalam membimbing sebagai berikut:
22Y. Suparlan, Kamus Istilah Kesejahteran Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pengarang, 1990) h.116.
23A. Manguhardjana, Pembinaan, Arti Dan Metodenya (Yogyakarta: Kanisius, 1996), h.14.
1) Wawancara, yaitu cara atau teknik yang digunakan untuk mengetahui mengenai fakta-fakta mental atau kejiwaan (psikis) yang ada pada diri yang dibimbing dengan cara Tanya jawab secara face to face.
2) Observasi, yaitu cara atau teknik yang digunakan untuk mengamati secara langsung sikap dan perilaku yang tampak pada saat-saat tertentu, yang muncul sebagai pengaruh dari kondisi mental atau kejiwaanya.
3) Tes (kuesioner), yaitu merupakan serangkaian pertanyaan yang disiapkan beberapa alternatif jawaban pilihan, metode ini untuk mengetahui dan fenomena kejiwaan yang tidak bisa diperoleh melalui wawancara dan observasi.
4) Bimbingan Kelompok (group Guidance), yaitu: teknik bimbingan melalui kegiatan bersama (kelompok), seperti kegiatan diskusi, ceramah, seminar dan sebagainya.
5) Psikoanalisa (analisa kejiwaan), yaitu teknik yang digunakan untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa dan pengalaman kejiwaan yang pernah dialami anak bimbingan. Misalnya perasaan takut dan tertekan.
6) Non direktif (teknik tidak mengarahkan), dalam teknik ini mengatifkan klien dalam mengungkapkan dan memecahkan masalah dirinya.
7) Direktif (bersifat mengarahkan), teknik ini dapat digunakan bagi klien bimbingan dalam proses belajar.
8) Rasional-emotif, dalam bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi pikiran-pikiran yang tidak logis yang disebabkan dorongan emosi yang tidak stabil.
9) Bimbingan klinikal, yaitu dengan berorientasi pada kemampuan personal secara keseluruhan baik jasmani maupun rohani.24
d. Pembinaan Mental Agama
Pembinaan mental agama adalah suatu usaha atau kegiatan berupa nasehat- nasehat tentang ajaran agama kepada seseorang atau kelompok orang untuk membentuk, memelihara dan meningkatkan kondisi mental spiritual yang dengan kesadarannya sendiri bersedia dan mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ketentuan dan prinsip-prinsip islam.25
Diantara ayat al-Quran yang dapat dijadikan dasar dalam melaksanakan pembinaan mental agama islam terhadap seseorang atau orang lain, diantaranya dalam QS. Ali Imran/3 :104
ِفو ُرْعَمْلٱِب َنو ُرُمَْأَي َو ِرْيَخْلٱ ىَلِإ َنوُعْدَي ٌة مَُأ ْمُكنِ مَ نُكَتْل َو َنوُحِلْفُمْلٱ ُمُه َكِئََٰٰٓل ۟وُأَو ۚ ِرَكنُمْلٱ ِنَع َنْوَهْنَيَو
Terjemahnya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkarmerekalah orang-orang yang beruntung.26
Dalam ayat tersebut, kewajiban seorang muslim yang juga dituntut dalam islam adalah menentang perilaku kebatilan dan menolak kemunkaran sesuai kemampuan dan kekuatannya. Ayat ini dapat memberikan pembinaan, bimbingan
24Warti Sasmiati, Metode Pembinaan Mental Narapidana Anak Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Wanita Tangerang (Skripsi Sarjana;Fakultas Dakwah dan Komunikasi: Tangerang, 2008), h. 20- 21.
25Siti Masfiatus Solihah, Pembinaan Mental Spiritual Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tulungagung, (Skripsi Sarjana;Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan:
Tulungagung,2017), h. 24.
26Kementerian Agama RI, Al Quran dan terjemahannya, (Surabaya: UD Halim, 2013), h.63.
tentang ajaran islam kepada semua umat dalam hal ini termasuk kepada narapidana salah satu contoh upaya menjalankan kewajiban sesama muslim dengan memberikan nasehat-nasehat.
2. Percaya Diri (Self Confidence) a. Pengertian Percaya Diri
Percaya diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimiliki seseorang dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai tujuan dalam hidupnya.27
Kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri.28
b. Ciri-ciri orang yang percaya diri
Berikut ini beberapa ciri atau karakteristik individu yang memiliki rasa percaya diri yang proposional diantaranya:
1) Selalu merasa tenang disaat mengerjakan sesuatu 2) Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai
3) Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi 4) Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi diberbagai situasi
5) Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya
27Thursan Hakim, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri (Jakarta: Puspa Swara, 2004), h.6.
28P. Lauster, Tes Kepribadian (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h.4.
6) Memiliki kecerdasan yang cukup
7) Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup
8) Memiliki keahlian dan keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya keterampilan berbahasa asing
9) Memiliki kemampuan bersosialisasi
10) Memiliki latar belakang pendidikan yang baik
11) Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup
12) Selalu beraksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup yang berat justru semakin memperkuat rasa percaya diri seseorang.29
c. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Menumbuhkan rasa percaya diri dan proposional harus dimulai dari dalam individu. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa percaya diri yang sedang dialaminya. Sikap-sikap hidup positif yang mutlak harus dimiliki dan dikembangkan oleh mereka yang ingin membangun rasa percaya diri yang kuat, yaitu:
1) Bangkitkan kemauan yang keras
Kemauan dapat dikatakan merupakan pondasi yang pertama dan utama untuk membangun kepribadian yang kuat, termasuk rasa
29Thursan Hakim, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri (Jakarta: Puspa Swara, 2004), h.5-6.
percaya diri.
2) Biasakan untuk memberanikan diri.
Manfaat situasi sebagai salah satu sarana untuk berlatih dan membangun rasa percaya diri, dengan cara membangkitkan keberanian danberusaha menetralisir ketegangan dengan bernapas panjang dan rileks.
3) Biasakan untuk berfiikir yang logis dan realistis
Menghilangkan pikiran yang negatif dan membiasakan diri untuk berpikir yang logis dan realistis, dapat membangun rasa percaya diri yang kuat dalam individu.
4) Membiasakan untuk selalu berinisiatif
Salah satu cara efektif untuk membangkitkan rasa percaya diri adalah dengan membiasakan diri berinisiatif dalam setiap kesempatan, tanpa menungguh perintah orang lain.
5) Selalu bersikap mandiri.
Melakukan segala sesuatu terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya dengan tidak terlalu bergantung pada orang lain.
6) Mau belajar dari kegagalan
Sikap positif yang harus dilaksanakan dalam menghadapi kegagalan adalah sikap mental untuk menerimanya, untuk kemudian mengambil hikmah dan pelajaran dan mengetahui faktor penyebab dari kegagalan tersebut.
7) Tidak mudah menyerah
Menguatkan kemauan untuk melangkah, bersikap sabar dalam menghadapi rintangan dan mau berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah merupakan sikap yang harus dilakukan oleh seorang individu untuk membentuk rasa percaya diri yang kuat dalam dirinya.
8) Membangun pendirian yang kuat
Pendirian yang kuat teruji jika kita dihadapkan dalam berbagai masalah dan pengaruh negatif sebagai imbas dari proses interaksi sosial.
Individu yang percaya diri selalu yakin dengan dirinya dengan tidak berubah pendiriannya meskipun banyak pengaruh negatif disekitarnya.
9) Bersikap kritis dan objektif
Untuk membangun rasa percaya diri yang kuat, setiap orang hendaknya selalu mengembangkan sikap kritis dan objektif. Untuk membangun rasa percaya diri yang kuat, setiap orang hendaknya selalu mengembangkan sikap kritis dan objektif. Dengan demikian ia bisa menilai diri secara keseluruhan dengan tepat yang meliputi kelemahan dan kelebihannya.
10) Pandai membaca situasi
Situasi yang perlu dibaca dan dipahami misalnya nilai-nilai etika yang berlaku, agama dan adat istiadat suatu masyarakat tertentu.
11) Pandai menempatkan diri
Seseorang individu bisa menempatkan dirinya pada posisi yang tepat, yang bisa membuat individu tersebut dihargai sehingga harga dirinya akan meningkat.
12) Pandai melakukan penyesuaian diri dan pendekatan pada orang lain Seseorang yang mampu melakukan penyesuaian diri tanpa kehilangan jati dirinya dan melakukan pendekatan yang wajar untuk jati dirinya dan melakukan pendekatan yang wajar untuk bekerja sama, akan memudahkan individu untuk mencapai kesuksesan dan menimbulkan pengaruh positif bagi peningkatan rasa percaya diri.30
Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, seseorang harus terlebih dahulu memahami dirinya sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Sehingga individu tersebut akan selalu akan berpikiran positif akan dirinya dan orang lain., yang bisa menimbulkan perasaan saling menghargai antar keduanya.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Percaya Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Hakim muncul pada dirinya sebagai berikut:
1) Lingkungan keluarga
Keadaan keluarga merupakan lingkungan hidup yang pertama dan utama dalam kehidupan setiap manusia, lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang.
Rasa percaya diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala
30Thursan Hakim, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri (Jakarta: Puspa Swara, 2004), h.171- 179.
aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.
Berdasarkan pengertian di atas, rasa percaya diri baru bisa tumbuh dan berkembang baik sejak kecil, jika seseorang berada di dalam lingkungan keluarga yang baik, namun sebaliknya jika lingkungan tidak memadai menjadikan individu tersebut untuk percaya diri maka individu tersebut akan kehilangan proses pembelajaran untuk percaya pada dirinya sendiri. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang sangat menentukan baik buruknya kepribadian seseorang.
Hakim menjelaskan bahwa pola pendidikan keluarga yang bisa diterapkan dalam membangun rasa percaya diri anak adalah sebagai berikut:
a) Menerapkan pola pendidikan yangdemokratis.
b) Melatih anak untuk berani berbicara tentang banyak hal c) Menumbuhkan sikap mandiri pada anak
d) Memperluas lingkungan pergaulan anak
e) Jangan terlalu sering memberikan kemudahan pada anak f) Tumbuhkan sikap bertanggung jawab pada anak
g) Setiap permintaan anak jangan terlalu dituruti h) Berikan anak penghargaan jika berbuat baik i) Berikan hukuman jika berbuat salah
j) Kembangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak
k) Anjurkan anak agar mengikuti kegiatan kelompok di lingkungan rumah
l) Kembangkan hoby yang positif m) Berikan pendidikan agama sejak dini 2) Pendidikan formal
Sekolah bisa dikatan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga di rumah. Memberikan ruang pada anak untuk mengekpresikan rasa percaya dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Hakim menjelaskan bahwa rasa percaya diri bisa dibangun melalui berbagai macam bentuk kegiatan sebagai berikut :
a) Memupuk keberanian untuk bertanya b) Peran guru/pendidik yang aktif bertanya c) Melatih berdiskusi dan berdebat
d) Bersaing dalam mencapai prestasi belajar e) Aktif dalam kegiatan pertandingan olah raga f) Belajar berpidato
g) Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler h) Penerapan disiplin yang konsisten
i) Memperluas pergaulan yang sehat dan lain-lain 3) Pendidikan non formal
Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan
kepribadian yang penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal misalnya : mengikuti kursus bahasa asing, jurnalistik, bermain alat musik, seni vokal, keterampilan memasuki dunia kerja (BLK), pendidikan keagamaan dan lain sebagainya. Sebagai penunjang timbulanya rasa percaya diri pada diri individu yang bersangkutan.31
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu kemampuan yang dimiliki individu dalam mengerjakan sesuatu yang mampu dilakukannya, keberhasilan individu untuk mendapatkan sesuatu yang mampu dilakukan dan dicita- citakan, keinginan dan tekat yang kuat untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan hingga terwujud.
Faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga di mana lingkungan keluarga akan memberikan pembentukan awal terhadap pola kepribadian seseorang. Yang kedua adalah lingkungan formal atau sekolah, dimana sekolah adalah tempat kedua untuk senantiasa mempraktikkan rasa
31Thursan Hakim, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri (Jakarta: Puspa Swara, 2004), h.121- 122.
percaya diri individu yang telah didapat dari lingkungan keluarga kepada teman-temannya dan kelompok bermainnya. Yang ketiga adalah lingkungan pendidikan non formal tempat individu menimba ilmu secara tidak langsung belajar keterampilan- keterampilan sehingga tercapailah keterampilan sebagai salah satu faktor pendukung guna mencapai rasa percaya diri pada individu yang bersangkutan.
e. Percaya Diri dalam Perspektif Islam
Percaya diri merupakan aspek kepribadian manusia yang berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Tanpa adanya kepercayaan diri maka banyak masalah akan timbul pada diri manusia. Dengan adanya rasa percaya diri maka seseorang akan mudah bergaul. Menghadapi orang yang lebih tua, lebih pandai maupun lebih kaya, mereka tidak malu. Mereka akan berani menampakkan dirinya secara apa adanya, tanpa memperlihatkan kelebihan serta menutup-nutupi kekurangan. Ini disebabkan orang- orang yang percaya diri telah benar-benar memahami dan mempercayai kondisi dirinya, sehingga telah bisa menerima keadaan dirinya apa adanya.
Al-Qur'an, sebagai kalamullah atau mukjizatul Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk seluruh manusia. Ajaran Islam, merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lilalamin. Pada hakikatnya, al- Qur'an telah berbicara tentang seluruh persoalan manusia yang berupa prinsip- prinsip dasar.
Al-Qur'an berbicara kepada akal dan perasaaan manusia; mengajar mereka tentang aqidah tauhid; membersihkan jiwa mereka dengan berbagai praktek ibadah;
memberi mereka petunjuk untuk kebaikan dan kepentingannya, baik dalam kehidupan individu maupun sosial; menunjukkan kepada mereka jalan terbaik, guna mewujudkan jati dirinya, mengembangkan kepribadiannya dan meningkatkan dirinya menuju kesempurnaan insani, sehingga mampu mewujudkan kebahagiaan bagi dirinya, di dunia dan akhirat. Al-Qur'an sebagai rujukan pertama juga menegaskan tentang percaya diri dengan jelas dalam beberapa ayat-ayat yang mengindikasikan percaya diri seperti dalam QS. Ali Imran/3 : 139.
نيِن ِمْؤُّم مُتنُك نِإ َن ْوَلْعَ ْلْٱ ُمُتنَأ َو ۟اوُنَزْحَت َلَ َو ۟اوُنِهَت َلَ َو
Terjemahnya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.32
Ayat di atas dapat dikategorikan dengan ayat yang berbicara tentang persoal an percaya diri karena berkaitan dengan sifat dan sikap seorang mukmin yang memiliki nilai positif terhadap dirinya dan memiliki keyakinan yang kuat.
3. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
Lembaga Pemasyarakatan atau lapas adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia.
Lembaga Pemasyarakatan (disingkat Lapas) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia.
32Kementerian Agama RI, Al Quran dan terjemahannya, (Surabaya: UD Halim, 2013), h.67.
Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia, tempat tersebut disebut dengan istilah penjara.
Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman). Penghuni Lembaga Pemasyarakatan bisa narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bisa juga yang statusnya masih tahanan, maksudnya orang tersebut masih berada dalam proses peradilan dan belum ditentukan bersalah atau tidak oleh hakim. Pegawai negeri sipil yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di lembaga pemasyarakatan disebut Petugas Pemasyarakatan, atau dahulu lebih dikenal dengan istilah sipir penjara.
4. Pembina atau Petugas Lapas
Pembina adalah petugas yang mempunyai kompetensi dibidang yang dibutuhkan oleh anak sesuai dengan asesmen pembimbing kemasyarakatan. Petugas Pemasyarakatan atau yang lebih dikenal dengan POLSUSPAS (Kepolisian Khusus Pemasyarakatan) / adalah ASN (Aparatur Sipil Negara) dibawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan bukan merupakan bagian dari POLRI, yang bertugas dengan tanggung jawab pengawasan, pembinaan, keamanan, dan keselamatan narapidana dan tahanan. Anggota POLSUSPAS tersebar di berbagai Instansi Pemerintah seperti RUTAN (Rumah Tahanan Negara), LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan), dan RUPBASAN (Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara).
Sebelum menjadi Anggota POLSUSPAS, seseorang harus melalui mengikuti seleksi yang ketat mulai dari Tes Seleksi Kemampuan Dasar (SKD) berbasis CAT (Computer Assisted Test), Tes SKB (Seleksi Kompetensi Bidang) yang didalamnya ada Tes Kemampuan Jasmani dan sebagainya. Kemudian setelah dinyatakan lulus seleksi, Anggota POLSUSPAS dididik dengan kemampuan semi - militer seperti kemampuan fisik, kemampuan menembak / menggunakan senjata api, bela diri dan lain - lain. Dalam melaksanakan tugasnya Anggota POLSUSPAS dipersenjatai dengan pentungan, senjata gas air mata, dan juga senjata api, Anggota POLSUSPAS juga memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Kepolisian Khusus dan lisensi kemampuan menggunakan senjata api dari Mabes Polri. Dahulu POLSUSPAS dikenal dengan nama SIPIR karena masih menggunakan sistem Pemenjaraan dalam memberikan hukuman bagi orang yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Kemudian semenjak tahun 1965 sistem Penjara di Indonesia diubah oleh pemerintah menjadi sistem Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) yang mengedepankan HAM (Hak Asasi Manusia) dalam melakukan pembinaan pada narapidana maupun tahanan. Sebagian besar Petugas Pemasyarakatan bekerja pada pemerintahan negara tempat mereka mengabdi, meskipun ada pada negara- negara tertentu, Petugas Pemasyarakatan bekerja pada perusahaan swasta.
5. Narapidana Anak / Anak didik pemasyarakatan
Narapidana adalah orang yang menjalani pidana dalam lembaga pemasyarakatan. Yang dimaksud narapidana adalah narapidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga pemasyarakatan. Dalam hal ini, narapidana
termasuk juga di dalamnya anak pemasyarakatan. Anak didik pemasyarakatan adalah seorang yang dinyatakan sebagai anak berdasarkan putusan pengadilan sehingga dirampas kebebasannya dan ditempatkan dilembaga pemasyarakatan anak. Menurut pasal 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Anak Didik Pemasyarakatan adalah :
a. Anak pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lapas anak paling lama sampai berumur 18 tahun.
b. Anak negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan pada negara untuk didik dan ditempatkan di Lapas Anak paling lama berumur 18 tahun.
c. Anak sipil yaitu anak yang atas permintaan orang tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk didikan di Lapas Anak paling lama sampai berumur 18 tahun.