• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Setelah penulis melakukan penelitian dan mengumpulkan data dari hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara, maka selanjutnya penulis akan melakukan analisis untuk melakukan lebih lanjut dari penelitian. Sesuai dengan analisis dan yang dipilih oleh penulis menggunakan analisis dekskriptif kualitatif (pemaparan) dengan mengalasis data yang telah peneliti kumpulkan dari wawancara, selama penulis mengadakan penelitian di desa Dusun Baru.

Data yang diperoleh dan dipaparkan oleh penulis akan di analisis oleh penulis sesuai dengan hasil penelitian yang mengacu pada rumusan masalah dibawah ini adalah analisis hasil penelitian:

1. Bagaimana Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama Dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif Di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma

Berdasarkan hasil penelitian dari kepala Desa, guru pendidikan agama Islam dan Imam masjid bahwa sinergitas atau kerjasama yang mereka lakukan yaitu guru pendidikan agama Islam memberikan wawasan Islami dan pengetahuan-pengetahuan tentang kedisiplinan dan akhlak dalam agama Islam atau disebut konseling Islami yang dilakukan secara kelompok oleh

guru pendidikan agama Islam. Anak-anak yang membuat masalah disekolah tidak langsung dengan guru bimbingan konseling langsung, akan tetapi diberi pengetahuan atau wawasan Islami dulu dengan guru pendidikan agama Islam.

Jika anak sudah membuat masalah berulang kali baru dipanggil atau diserahkan dengan orang tua untuk mendapatkan layanan bimbingan dan konseling secara tatap muka langsung atau bimbingan pribadi. Jadi bentuk sinergitas atau kerjasama atara guru pendidikan agama dengan tokoh masyarakat ada emapat yaitu:

1. Bentuk Sinergitas dalam kegitan konseling Islami

Dalam bentuk sinergitas atau kerjasama dalam kegiatan konseling Islami ini merupakan program yang dilakukan antara guru pendidikan agama Islam dan tokoh masyarakat. Dalam kegiatan konseling Islami yang dilakukan didalam kelas yaitu guru pendidikan agama Islam bersama-sama masuk kedalam kelas untuk memberikan nasehat dan pengetahuan Islam kepada siswa. Sedangkan kegiatan konseling Islami yang dilakukan di luar kelas yaitu guru pendidikan agama Islam memberikan nasehat atau pengetahuan Islam dengan memanggil siswa. Selanjutnya siswa yang sudah sering melanggar tata tertip sekolah akan dipanggil guru bimbingan konseling untuk diberi pengetahuan atau nasehat dan memabantu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa.

Hal ini Sejalan dengan teori yang menyatakn bahwa Kinerja adalah hasil kerja yang telah dicapai oleh seseorang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan berdasarkan atas standardisasi atau ukuran dan waktu

yang disesuaikan dengan jenis pekerjaannya dan sesuai dengan norma dan etika yang telah ditentukan. Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didiknya. Kinerja guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di Madrasah dan bertanggung jawab atas peserta didik di bawah bimbingannya dengan meningkatkan prestasi belajar peserta didik.85

2. Bentuk Sinergitas dalam alih tangan kasus

Dalam bentuk sinergitas atau kerjasama seperti alih tangan kasus, antara guru pendidikan agama Islam dengan guru bimbingan konseling itu saling membantu seperti siswa yang kurang memahami pengetahuan- pengetahuan Islam, misalnya tidak bisa membaca Al-Quran, sholat, sering bermasalah sama teman dan sering melanggar tata tertib sekolah. Maka siswa yang seperti ini dilimpahkan kepada guru pendidikan agma Islam.

Selanjutnya konsfemsi kasus yaitu dewan guru bersama-sama menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dengan mengadakan pertemuan seluruh dewan guru yang lainnya dapat memberikan masukan dan pendapat dalam meyelesaikan masalah yang dihadapi siswa.

3. Bentuk Sinergitas dalam kegiatan penyuluhan

Dalam kegiatan penyuluhan adalah bentuk sinergitas atau kerjasama semua dewan guru dan terkhususnya guru pendidikan agama Islam dengan Guru bimbingan konseling. Kegitan penyuluhan ini adalah

85 Supardi, Kinerja Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h..47-54.

salah satu cara dalam mengatasi kenakalan siswa yang menjadikan siswa memahami agama Islam dan bermoral dan jauh dari pergaulan bebas, dan lain-lain. Karena dalam kegiatan ini sangat membantu siswa yang kurang memahami pengetahuan tentang Islam. Dalam kegiatan penyuluhan ini siswa diberi pengetahuan tentang sampak. Pandangan Islam tentang narkoba. Kenakalan dan kedisiplinan dalam Islam.

4. Bentuk Sinergitas dalam kegiatan imtaq

Selanjutnya yaitu kegitan imtaq yang diadakan setiap hari jum’at adalah salah satu kegiatan yang dapat mengatasi kenakalan siswa, karena dalam kegitan ini siswa-siswa diberikan wawasan tentang Islami. Siswa- siswa yang bersama-sama mendengarkan ceramah tang diadakan setiap hari jumat. Dan kegitan ini tidak terlepas dari kerjasama antara guru pendidikan agama Islam dengan guru bimbingan konseling. Karena tujuan dari kegitan ini adalah untuk mengatasi kenakalan siswa. Kegiatan imtaq ini merupakan kegiatan pembelajaran yang diadakan setiap hari jum’at untuk menanbah pengetahuan, keimanan, dan ketakwaan siswa. Makan akan menciptakan siswa yang bermoral dan berakhlak baik.

2. Apa saja Faktor-faktor yang pendukung dan penghambat upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif Di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma.

Kenakalan remaja bukan hanya di sebabkan oleh latar belakang keluarga yang tidak utuh saja, Tetapi kenakalan remaja juga bisa muncul

karena adanya keinginan pribadi di dalam diri individu. Sama halnya dengan subjek, ada yang melakukan kenakalan karena keinginan pribadi di dalam diri sendiri demi mendapatkan sesuatu atau kepuasan yang di inginkan. Kenakalan-kenakalan yang dilakukan siswa itu kebanyakan disebabkan faktor keluarga, ekonomi dan kurang perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.

Dalam sekolah ini mayoritas pekerjaan orang tua siswa adalah petani, yang setiap harinya pergi kesawah dan ke kebun. Kadang kalah orang tua itu yang mempunyai kebun yang jauh dari rumah. Adapun yang dapat saya tangkap bahwa orang tua itu sangat berpengaruh terhadap tingkah laku anaknya. Dengan kurangnya mendapat perhatian dari orang tua maka siswa tersebut akan merasa bebas untuk melakukan sesuatu hal apapun. Dengan keadaan seperti inilah maka kenakalan-kenakalan siswa itu akan mudah terjadi dilingkungan sekolah.

Adapun upaya-upaya yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dan tokoh masyarakat untuk mengatasi kenakalan siswa tersebuat: pertama guru pendidikan agama Islam memberi nasehat dengan tutur kata dan suri teladan yang baik, saling bermaaf-maafan dan menghilangkan rasa dendan diantara mereka, hal ini akan membeuat mereka jera atau kapok terhadap kenakalan yang mereka lakukan. Kedua menanamkan nilai-nilai keagaman pada siswa, memberikan sangsi dan teguran atau peringatan.

Dalam sejumlah keadaan, sesorang pendidik harus memberi peringatan kepada anak didiknya dengan bahasa mereka. Sedangkan

upaya-upaya yang dilakukan guru bimbingan konseling yaitu: pertama melakukan pendekatan terhadap siswa yang melakukan kenakalan . Kedua memberikan reword pada moment-moment tertentu, misalnya kepada siswa yang tidak membolos lagi.

Hal ini Sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa Kinerja guru tidak terwujud dengan begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Baik faktor internal maupun eksternal yang sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru. Faktor internal kinerja guru adalah faktor yang datang dari dalam diri guru yang dapat mempengaruhi kinerjanya, contohnya adalah kemampuan, keterampilan, kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan dan latar belakang keluarga, sedangkan faktor eksternal kinerja guru adalah faktor yang datang dari luar guru yang dapat memengaruhi kinerjanya, diantaranya adalah: a.gaji, b.sarana dan prasarana, c.lingkungan kerja fisik, d.kepemimpinan 86

86 Arifin Mohammad Barnawi, Instrumen Pembinaan, Peningkatan & Penilaian Kinerja Guru, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2014), h.43

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Adapun upaya yang di lakukan oleh Guru pendidikan agama Islam dan tokoh agama dalam menangani remaja berperilaku agresif negatif di Desa Dusun Baru adalah: mendidik para remaja untuk mengaji dan belajar agama, melibatkan remaja agar ikut serta dalam kegiatan sosial maupun keagamaan,memberi nasihat-nasihat yang baik.

2. Faktor pendukung dapat di simpulkan Bahwa upaya guru pendidikan agama Islam dan tokoh agama dalam menangani remaja berperilaku agresif negatif desa Dusun Baru adalah Pola Mendidik Bertipe Komunikatif/Demokratis Pola mendidik jeni ini mengedepankan adanya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua membiasakan dirinya dan anaknya untuk saling berdiskusi, bertukar pendapat, atau saling berkomunikasi terhadap setiap permasalahan yang ada, Kesadaran Sosial dan Eksistensi Pendidikan Formal, dan Eksistensi Pendidikan Formal Yaitu sebagai bekal sekaligus sebagai sandaran masa depan yang lebih baik Yaitu peranan pendidik ditengah-tengah anak delinquency sebagai motivator dan dinamisator bagi perkembangan mental.

Faktor penghambat upaya tokoh agama dan guru pendidikan agama islam dalam menangani remaja berperilaku agresif negatif di Desa Dusun Baru adalah, Pola Mendidik Bertipe Permisif Tipe orang tua yang bersifat seperti ini yaitu orang tua yang tega membiarkan anaknya tanpa mendidik mereka sedikitpun. Keluarga merupakan merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan, mendewasakan, dan dan didalam nya anak mendapatkan pendidikan pertama kali paling kuat dalam membesarkan anak terutama bagi anak yang belum sekolah. oleh karena itu keluarga memiliki peran penting dalam perkembangan anak dan Kenakalan yang melawan status seperti membolos sekolah.

Kenakalan remaja pada subjek memiliki dampak yang tidak bisa subjek hindari. Dampak-dampak tersebut seperti Hukum dikucilkan dari masyarakat dan dikeluarkan dari sekolah dan mendapatkan hukuman pidana selama waktu yang ditentukan berdasarkan pasal yang subjek langgar.

B. Saran-saran

Setelah melakukan penelitian dan pembahasan yang bersifat teori maupun dari hasil penelitian, maka penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Kepala Desa

a. Sinergitas atau Kerjasama antara sesama guru dan tokoh agama dalam mengatasi kenakalan siswa untuk lebih ditingkatkan lagi.

b. Masalah kenakaln siswa ini hendaknya ditanggani secara serius dan mendalam supaya kenakalan itu tidak meningkat lagi.

c. Lebih memperhatikan kedisiplinan lingkungan sekolah baik siswa, staf, dan guru.

2. Kepada Guru Pendidikan Agama Islam

a. Dalam menjalani sinergi atau kerjasama dengan guru bimbingan konseling dalam mengatasi kenakalan siswa agar bisa dipertahankan dan kalu bisa ditingkatkan lagi.

b. Selalu meningkatkan keprofesionalan dalam mengatasi kenaklan siswa serta metode pembelajaran yang efektif pada semua materi pendidikan agama sislam guna mencegah terjadinya kenakalan yang akan ditimbulkan oleh sisiwa

3. Kepada Remaja

a. Berhenti melakukan kenakalan-kenaklan yang dapat merigikan diri sendiri maupun orang lain.

b. Untuk lebih mematuhi aturan dan tata tertib yang telah disepakati dan disetujui bersama, baik didalam kelas, luar kelas maupun ruang lingkup lingkungan sekolah.

c. Lebih bersikap terbuka kepada guru dan orang tua baik itu guru BK maupun guru mata pelajaran, sehingga dapat membantu menyelesaikan permasalahannya.

DAFTAR PUSTAKA

Agustin Yoga Satya Dyah,Peran Keluarga sangat penting dalam pendidikan mental, Karakter Anak Serta Budi Pekerti Anak, jurnal sosial humaniora.vol.8.No.1.juni 2015.

Alfandi Safuan., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia , Solo:Sendang Ilmu

Amin Alfauzan, Sinergisitas Pendidikan Keluarga,Sekolah, Dan Masyarakat:Analisis Tripusat Pendidikan,Jurnal:Ata’lim Vol.16 No.01 Januari 2017.

Apriastuti Anita Dwi,Analisis Tingkat Pendidikan Dan Pola Aduh Orang Tua Dengan Perkembangan Anak Usia 48-60 Bulan,Jurnal Ilmiah Kebidanan.vol.4 No.1 juni 2013.

Comaria Nurul,25 perilaku anak dan solusinya, (Jakarta,PT.Alex media koputindo,2013).

Departemen AgamaRI,Al-Aliyy Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jawa Barat:CV.Penerbit Di Ponegoro 2006).

Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri Bengkulu (FTT IAIN Bengkulu, 2015), Pedoman Penulisan Skripsi.

Hakiki Titian, komitmen beragama pada muallaf (studi kasus pada muallaf usia dewasa),Jurnal psikologi klinis dan kesehatan mental.vol.4 No.1.April 2015.

Hasin Atabik, “Masuk Islam Karena Alasan perkawinan (Studi Kasus Perkawinan Pasangan Yang Semula Beda Agama di Desa Borangan Kecamatan Manisrenggo Kabupaten Klaten)”.Skripsi S1 Jurusan akhwal Al- syaksyhiyah UIN Wali Songo Semarang ,2015.

Hermawansyah. Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman Pada Anak-Anak Para Muallaf (Study Kasus Pondok Pesantren Umar Bin Abdul Azis di Dusun Tolonggeru Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima Tahun 2016.Jurnal Internalization, Islamic values, muallaf children.Vol.5.No.1.Mei 2017.

Jailani Syahran M, Teori Pendidikan Keluarga Dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini,Jurnal pendidikan Islam.vol 8. No..2 Oktober 2014.

Kurniawan Tedy Singgih, Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Non Muslim Masuk Islam ( Studi Pada Muallaf Di Desa Mataram, Kec. Gadingrejo Kab.

Pringsewu,Skripsi S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan 2018.

Muftihah Wirda Arfias,peran orang tua mualaf dalam meningkatkan pendidikan islam pada anak, Desa Barukan kecamatan tengaran kabupaten semarang,skripsi S1 jurusan PAI fakultas tarbiyah ilmu keguruan IAIN Salatiga,2017.

Rahmawati Ida, The Experience of being converted (Mualaf) an interperative phenomenological analysis,jurnal empati,Vol.7.No.1.januari 2018.

Roesli Mohammad ,Kajian Islam Tentang Partisipasi Orang Tua Dalam Pendidikan Anak,Jurnal pendidikan komunikasi dan pemikiran hukum Islam,Vol.IX.No.2.April 2018.

Safitri Yuhanda, Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Dengan Tingkat Depresi Remaja Di SMK 10 November Semarang , Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 01.No 01.Mei 2013.

Santori Djama’an, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:Alfabeta, 2014).

Setiawan R Conny, Metode penelitian kualitatif Jenis karakteristik, dan keungulannya, (Jakarta:Grasindo,2010).

Sugiyono, Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung:Alfabeta,2016).

Sugiyono, Metode Penelitian pendidikan Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D, (Bandung:Alfabeta, 2012).

Umar Munirwan, peranan orang tua dalam peningkatan prestasi belajar anak,jurnal ilmiah edukasi.Vol.1.no.1 juni 2015.

L A M

P

I

R

A

N

Gambar 1 wawancara dengan Kepala Desa

Gambar 2 Wawancara Dengan Guru PAI

Gambar 3 Wawancara Dengan Guru PAI

Gambar 4 Wawancara Dengan Tokoh Agama

Gambar 5 Wawancara dengan Tokoh Masyarakat

Gambar 6 Wawancara Dengan Remaja

Gambar 7 Wawancara dengan Remaja

Gambar 8 Wawancara Dengan Remaja

Dalam dokumen upaya guru pendidikan agama islam dan tokoh (Halaman 86-93)

Dokumen terkait