• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya guru pendidikan agama islam dan tokoh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "upaya guru pendidikan agama islam dan tokoh"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Tadris Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno (UINFAS) Bengkulu Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Dalam Ilmu Tarbiyah

Oleh

METONI JAYA PUTRA NIM. 1811210060

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI SOEKARNO (UINFAS) BENGKULU

TAHUN 2022

(2)
(3)
(4)
(5)

1. Kedua orang tuaku tercinta, terima kasih atas dukungan dan pengorbanan yang selama ini diberikan kepadaku dalam menempuh studi ini. Kalian alasan terbesarku untuk menyelesaikan studi ini.

2. Suadaraku terima kasih atas dukungan dan segala bantuan yang telah diberikan selama ini.

3. Kepada keluarga besarku, terima kasih atas dukungan, semangat dan berbagai bantuan yang selalu diberikan kepadaku selama aku menyelesaikan studi ini.

4. Kepada teman-teman seperjuangan di Prodi Pendidikan Agama Islam UINFAS Bengkulu terima kasih atas indahnya kebersamaan selama ini.

5. Kepada teman-teman seperjuangan KKN dan teman-teman seperjuangan magang terimakasih telah memberikan banyak pengalaman dan kebersamaan.

6. Kepada sahabatku, terima kasih atas indahnya kebersamaan dan semangat yang telah kalian berikan selama ini.

7. Almamaterku IAIN Bengkulu.

(6)
(7)

Nama : Metoni Jaya Putra

NIM : 1811210060

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas : Tarbiyah dan Tadris

Judul Skripsi : Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dan Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif Di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan Skripsi ini merupakan hasil karya saya sendiri dan benar keasliannya, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya. Apabila di kemudian hari penulisan Skripsi ini merupakan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain, maka saya bersedia mempertanggung-jawabkannya sekaligus bersedia menerima sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di UINFAS Bengkulu.

Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, dan tidak dipaksakan.

Bengkulu, Januari 2022 Saya yang menyatakan,

Metoni Jaya Putra NIM. 1811210060

(8)

Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Tadris, UINFAS Bengkulu.

Pembimbing: 1.Dr. Suhirman, M. Pd, 2. Drs. Suhilman Mastofa, M. Pd.I Kata Kunci : Strategi, Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma dan Untuk mengetahui Faktor-faktor yang pendukung dan penghambat upaya Tokoh Agama dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Jenis penelitian deskriptif kualitatif yakni, penelitian dengan mengumpulkan bahan atau data yang relevan, kemudian dianalisis secara kualitatif berdasarkan teori yang ada sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. teknik analisis data yaitu Analisis data versi Miles dan Huberman, bahwa ada tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Adapun informan dalam penelitian ini adalah guru PAI, Tokoh Agama dan Remaja untuk dimintai keterangan dengan melalui wawancara, guna mencari informasi tentang Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Adapun upaya yang di lakukan oleh Guru pendidikan agama Islam dan Tokoh Agama dalam menangani remaja berperilaku agresif negatif di Desa Dusun Baru adalah: mendidik para remaja untuk mengaji dan belajar agama, melibatkan remaja agar ikut serta dalam kegiatan sosial maupun keagamaan,memberi nasihat-nasihat yang baik. Faktor pendukung Dapat di simpulkan Bahwa upaya guru pendidikan agama Islam dan tokoh agama dalam menangani remaja berperilaku agresif negatif desa Dusun Baru adalah Pola Mendidik Bertipe Komunikatif/Demokratis Pola mendidik jeni ini mengedepankan adanya komunikasi dua arah antara orang tua dan anak.

(9)

penyayang dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dan Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif Di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma”. Shalawat dan salam semoga tetap senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan uswatun hasanah kita, Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak lepas dari adanya bimbingan, motivasi, dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. KH. Zulkarnain Dali, M.Pd Rektor Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu, atas kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan studi S1 di Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu.

2. Bapak Dr. Mus Mulyadi, M.Pd Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Tadris Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu, yang telah mengarahkan, membimbing dan memberikan ilmu yan bermanfaat untuk penulis.

3. Ibu Dr. Nurlaili, M.Pd.I Plt Ketua Jurusan Tarbiyah dan Tadris yang telah memberikan fasilitas dalam menimba ilmu pengetahuan.

4. Bapak Hengki Satrisno, M.Pd.I Selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan.

5. Bapak Dr. Suhirman, M.Pd Selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan dan koreksi sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

6. Bapak Drs. Suhilman Mastofa, M.Pd.I selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan koreksi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

(10)

8. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Tarbiyah dan Tadris UINFAS Bengkulu, yang telah membantu kelancaran adminidtrasi akademik penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Bengkulu, 2022 Hormat Saya,

Metoni Jaya Putra 1811210060

(11)

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR……….viii

DAFTAR ISI………xi

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ...…………...……….... 10

E. Tujuan Penelitian ...…………...……….. 10

F. Manfaat Penelitian ...………... 11

G. Sistematika Punilisan……….. 11

BAB II. LANDASAN TEORI A. Deskripsi konseptual ... 13

1. Konsep Upaya... …………. 13

2. Konsep Guru PAI... …… 14

3. Tokoh Masyarakat ... 21

4. Konsep Menangani ... 38

5. Remaja Berprilaku Agresif Negatif ... 38

(12)

A. Jenis Penelitian ... 47

B. Setting Penelitian ………... 48

C. Subjek dan Informan Penelitian ... 48

D. Teknik Pengumpulan Data ...………….……… 49

E. Teknik Keabsahan Data ... 50

F. Teknik Analisis Data ....………... 52

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Wilayah Penelitian………. 55

B. Hasil Penelitian………. 59

C. Pembahasan………. 73

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan……….. 79

B. Saran……… 80 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

A. Latar Belakang

Remaja dalam masa peralihan, sama halnya seperti pada masa anak, mengalami perubahan-perubahan jasmani, kepribadian, intelek, dan peranan di dalam maupun diluar lingkungan. Proses perkembangan yang jelas pada masa remaja ini adalah perkembangan psikoseksualitas dan emosionalitas yang mempengaruhi tingkah laku para remaja, yang sebelumnya pada masa anak tidak nyata pengaruhnya. Dalam tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif.

pubertas, dan nubilitas. Proses perkembangan yang dialami remaja akan menimbulkan permasalahan bagi mereka sendiri dan bagi mereka yang berada di dekat dengan lingkungan hidupnya.1

Melihat fenomena yang ada sekarang, banyak kita dapati tingkah laku remaja yang bertentangan dengan norma-norma aturan masyarakat maupun ajaran agama Islam, seperti mabuk-mabukan, kebut-kebutan dijalan raya, perkelahian, perkosaan, bahkan sudah ada yang menjurus kearah pembunuhan. Sehingga mengakibatkan keresahan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya, bahkan para orang tua mengalami kebingungan dalam mendidik anak-anaknya. Kartini Kartono menyatakan bahwa ada kenaikan jumlah kejahatan anak remaja dalam kualitas, dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang lebih banyak dilakukan dalam aksi-aksi kelompok daripada tindak kejahatan individual. Fakta kemudian menunjukkan bahwa kenakalan remaja ini semakin meningkat tajam karena semakin meningkatnya teknologi yang mudah di akses oleh remaja.2

1 Gunarsa, Singgih D, Ny. Singgih Gunarsa Psikologi anak dan Remaja. Jakarta Gunung Muliah, 2004. h. 3

2 Jalaluddin, Psikologi Agama.(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 1997, h. 74

(14)

Namun berbeda dengan Sudarsono mengatakan pada hakekatnya kenakalan remaja bukanlah suatu problem sosial yang hadir dengan sendirinya di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi masalah tersebut muncul karena beberapa keadaan yang terkait, bahkan mendukung kenakalan tersebut. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis, perceraian dalam bentuk broken home. Memberi dorongan yang kuat sehingga anak menjadi nakal.

Selain faktor lingkungan keluarga, maka faktor lingkungan masyarakat juga ikut bertanggung jawab untuk dapat mengatasi kenakalan anak-anak remaja usia sekolah ini.Di Indonesia masalah kenakalan remaja telah mencapai tingkat yang cukup meresahkan masyarakat. Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah laku kriminal anak-anak remaja. Perilaku anak-anak ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya korfomitas terhadap norma-norma sosial, mayoritas juvenile delinquency berusia di bawah 21 tahun. Anak tertinggi tindak kejahatan dapat di usia15-19 tahun dan sesudah umur 22 tahun, kasus kejahatan yang dilakukan oleh delinkuen menjadi menurun Kejahatan seksual banyak di lakukan oleh anak-anak usia remaja sampai dengan umur menjelang dewasa, dan kemudian pada usia pertengahan. Tindak merampok, dan membegal, 70% dilakukan oleh orang- orang muda berusia 17-30 tahun. Selanjutnya, mayoritas anak-anak muda yang terpidana dan di hukum di sebabkan oleh nafsu serakah untuk memiliki, sehingga mereka banyak melakukan perbuatan mencopet, menjambret, menipu, merampok, menggarong, dan lain-lain.

Dalam catatan kepolisian pada umumnya jumlah anak laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok geng-geng di perkirakan 50 kali lipat daripada geng anak perempuan, sebab anak perempuan pada umumnya lebih banyak jatuh ke limbah pelacuran, promiskuitas (bergaul bebas dan seks bebas dengan banyak pria) dan menderita gangguan mental, serta perbuatan minggat dari rumah Berdasarkan etimologis, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) dapat dijelaskan juvenile berarti anak sedangkan delinquency adalah kejahatan sehinga jurvenille

(15)

delingquency adalah kejahatan anak namun seiring dengan dampak negatif dari makna tersebut maka arti dari istila delingquency diperbaruhi menjadi kenakalan.3 Kenakalan memiliki makna perbuatan/pelanggaran kejahatan yang di lakukan oleh seorang remaja yang bersifat anti sosial, melawan hukum, anti susila dan melanggar norma-norma agama. Pada pengertian terjadi pergeseran kualitas subjek yang awalnya anak menjadi remaja.

Kenakalan remaja biasanya terjadi pada remaja yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, pendamping orangtua dan kebutuhan fisik maupun fsikis yang belum terpenuhi secara optimal. Perilaku agresif adalah tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan tujuan melukai atau mencelakakan individu lain. Agresif merupakan perilaku fisik maupun verbal yang di sengaja maupun tidak di sengaja yang memiliki maksud untuk menyakiti, atau merugikan orang lain untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresif.

Agresif merupakan tindakan melukai yang di sengaja oleh seseorang atau institusi yang sejatinya di sengaja. Agresif adalah perilaku tanggapan emosi yang tidak terkendali yang mengakibatkan timbulnya perilaku yang merusak, menyerang dan melukai. Tindakan ini di tunjukan pada orang lain, lingkungan maupun diri sendiri yang di sebabkan oleh keinginan yang tidak tercapai berakibat kekecewaan yang terjadi pada diri individu.6 Perilaku agresif ini merupakan gejala sosial yang ada dalam masyarakat, yang di pengaruhi oleh beberapa faktor.4 Terdapat tiga sumber munculnya tingkah laku agresif masyarakat modern.

Pertama, pengaruh keluarga. Kedua pengaruh subkultural. Perilaku agresif jika di kaitkan dengan ajaran islam bahwa agama islam melarang untuk saling menyakiti semua muslim. Dalam firman Allah dalam surah Al- Ahsab: 57-58.

َّدَعَأَو ِةَسِخلآاَو اَيْوُّدلا يِف ُ َّاللَّ ُمُهَىَعَل ُهَلىُسَزَو َ َّاللَّ َنوُذْؤُي َهيِرَّلا َّنِإ ( اًىيِهُم اًباَرَع ْمُهَل

75 )

َنوُذ ْؤُي َهيِرَّلاَو ( اًىيِبُم اًمْثِإَو اًواَتْهُب اىُلَمَتْحا ِدَقَف اىُبَسَتْكا اَم ِسْيَغِب ِتاَىِمْؤُمْلاَو َهيِىِمْؤُمْلا

75 )

3 Kartini, Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja…, h. 7

4 Gunarsa, Singgih D, Ny. Singgih Gunarsa Psikologi anak dan Remaja…, h 220

(16)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan Rasul- nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.

Pengaruh subkultural dalam konteks ini, sumber agresif adalah komunikasi kontak langsung yang berulang kali terjadi antar anggota masyarakat di lingkungan anak tinggal. modeling (vicarious learning), merupakan sumber tingkah laku agresif secara tidak langsung yang di dapat melalui media massa, misalnya televisi, majalah, koran, ataupun video. Mengingat perilaku agresif merupakan hasil proses belajar dalam interaksi sosial maka tingkah laku agresif juga di pengaruhi oleh lingkungan sosial. Perilaku agresif jika di kaitkan dengan ajaran Islam, maka sudah sangat jelas bahwa agama Islam melarang untuk saling menyakiti orang lain, apalagi menyakiti sesama muslim.5

Perkembangan masyarakat dalam dewasa ini membutuhkan peranan dalam berbagai pihak. Partisipasi masyarakat di desa dalam pembangunan di rasakan sangat tergantung kepada ikut sertanya tokoh agama masing-masing. Tanpa partisipasi para tokoh agama jalannya pembangunan tampak tertegun- tegun atau kurang lancar.

Tokoh agama merupakan orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat.

5 Jalaluddin, Psikologi Agama.(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 1997, h. 85

(17)

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan pada hari minggu 7 Agustus 2021, saya mewawancarai salah satu tokoh agama yaitu bapak sarkawi, di desa tempat saya meneliti hasilnya memang masih sangat banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang di lakukan oleh remaja. perilaku menyimpang yang di lakukan oleh remaja tersebut bukan tanpa alasan. Pertama karena kurangnya perhatian dari orang tua.6 anak yang melakukan perilaku menyimpang itu adalah anak anak dari hasil perceraian orang tua, jadi anak tersebut kurang mendaptakan kasih sayang dari orang tuanya, sehingga mereka melakukan sesuatu yang menyimpang. contohnya seperti susah sekali diatur, melawan, temperamental dan melakukan sesuatu yang di larang sekendak- kendak anak itu saja.

Kedua, berpendidikan rendah. seorang anak atau remaja yang berpelilaku menyimpang itu salah satunya berpendidikan rendah. remaja di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma banyak sekali yang putus sekolah, di samping orang tuanya yang tidak bisa membiayai, di dukung dengan kurangnya minat anak tersebut untuk melanjutkan pendidikan, sehingga si anak tersebut menjadi pengangguran dan tidak ada pkerjaan. bukan hanya kurang pendidikan secara akdemis di tambah juga dengan pendidikan moral.

Ketiga, rendahnya pendidikan orang tua. orang tua yang berpendidikan rendah akan berpengaruh dengan perkembangan anak.

Mereka tidak bisa mengajarkan anak dengan baik, menjelaskan sesuatu kebaikan dengan cara yang baik, dengan kata-kata kasar. Anak-anak apalagi sudah beranjak remaja mereka tidak bisa di kekang atau di marah- marah terus, bukannya anak menurut apa yang di katakan orang tuanya malah sebaliknya mereka akan melawan dan mentang. contohnya seperti, keluar malam sampai tengah malam. Geng motor, geng motor adalah

6 Observasi Awaldi Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Agustus 2021

(18)

sekelompok pemuda yang berkendara yang ugal- ugalan, yang mengganggu orang sekitar.7

Adapun dari penjelasan yang sudah di uraikan, dampak utama dari perilaku agresif ini adalah anak tidak mampu berteman dengan anak lain atau berteman dengan teman-temannya. Keadaan ini menciptakan lingkaran setan, semakin anak tidak diterima oleh teman-temannya, maka makin menjadilah perilaku agresif yang di tampilkannya. Jika perilaku agresif ini terjadi di lingkungan sekolah dan tidak segera di tangani maka akan mengganggu proses pembelajaran dan juga akan menyebabkan siswa cenderung untuk beradaptasi pada kebiasaan buruk tersebut.

Salah satu perilaku agresif yang terjadi di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma pada akhir tahun 2020, malam tahun baru januari 2021 remaja Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma yang cekcok remaja desa tetangga, tidak terima kemudian mengumpulkan teman sebayanya untuk membalas perbuatan remaja desatersebut. pukul satu dini hari terjadilah saling lempar antara remaja Desa, tidak berselang lama hal ini diketahui oleh warga setempat, kemudian membawa para remaja yag terjadi perkelahian tersebut ke balai desa di dampingi oleh masing- masing perangkat desa. hasil wawancara dengan sekretaris Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma).8

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan salah satu guru Pendidikan Agama Islam khususnya pada mata pelajaran aqidah akhlak yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Kejuruan di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma Bentuk perilaku agresif negatif yang muncul baik secara verbal maupun non verbal jika tidak

7 Observasi Awal di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Agustus 2021

8 Observasi Awal di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma. Agustus 2021

(19)

mendapatkan penanganan khusus baik oleh orangtua maupun para guru di sekolah maka perilaku agresif tersebut akan semakin sulit dikendalikan, meskipun agresif non verbal dinilai lebih mengkawatirkan dari pada bentuk agresif verbal, karena lebih merugikan orang lain seperti berkelahi, merusak barang, merusak sarana prasarana sekolah serta tindakan yang dapat melukai orang lain atau bahkan diri sendiri, sedangkan verbal lebih pada tindakan tidak langsung seperti mengancam, mengejek, membentak- bentak.

Namun kedua bentuk perilaku agresif negatif tersebut sama-sama berdampak buruk bagi perkembangan perilaku remaja, karena jika bentuk agresif non verbal yang cenderung melukai atau merusak benda, secara fisik, yang pada akhirnya akan berujung pada kriminalitas. Dan bentuk agresif verbal mengancam, mengintimidasi, membentak-bentak, berkata kasar atau berkata jorok, yang tidak jarang akan berakhir dengan perkelahian, seperti contoh kasus tawuran antar sekolah yang awalnya dikarenakan saling mengejek, mengancam sehinga timbul rasa dendam dan berakhir dengan tindak anarkisme.9

Terdapat tiga lingkungan pendidikan yang berpengaruh terhadap pembentukan kualitas dan kepribadian remaja, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Yang ideal adalah terjadi kondisi yang harmonis dan sinergis di antara ketiganya dan merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Apa yang di yakini baik di rumah, baik pula di sekolah dan masyarakat. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas tidaklah mungkin hanya dapat di tangani oleh para orang tua mereka saja, akan tetapi perlu adanya peran serta masyarakat dan lembaga pendidikan non formal, namun peran serta tokoh agama juga sangatlah penting dalam penanggulangan kenakalan remaja. Karena tokoh agama dan Guru pendidikan agama Islam merupakan salah satu cerminan dalam masyarakat.

9 Gunarsa, Singgih D, Ny. Singgih Gunarsa Psikologi anak dan Remaja…, h 220

(20)

Dalam mewujudkan keinginan masyarakat dan para orang tua tersebut, di perlukan adanya pembinaan yang khusus dari tokoh agama yang dapat memberikan sentuhan yang membangkitkan semangat remaja dalam segala bidang. Tanpa adanya pembinaan tesebut maka sulit cita-cita bangsa akan tercapai, khususnya manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur. Tokoh agama di definisikan sebagai seseorang yang berilmu terutamanya kaitan dalam Islam, ia wajar di jadikan sebagai role-model dan tempat rujukan ilmu bagi orang lain. Di samping itu, ia juga mempunyai identity, mentality dan morality yang hebat dalam dirinya di bandingkan orang lain. Kematangan dalam kepimpinan diri dan pemikiran menjadi aset untuk di jadikan contoh. Kebiasaannya figur ataupun tokoh ini di sanjungi dan di jadikan ikutan yang baik kerana mereka kaya dengan nilai-nilai positif. Peran tokoh agama dan guru pendidikan agama islam sebagai seorang pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi/pengetahuan agama kepada warga belajar, tetapi tokoh Agama juga mempunyai tanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan jamaahnya serta mengetahui keadaan jamaahnya dengan kepekaan untuk memperkirakan kebutuhan jamaahnya. 10

Oleh karena itu, tokoh agama sebagai figur yang mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikiran anak remaja. Hal ini dapat diupayakan dengan di sertai wawasan tertulis serta keterampilan bertindak, serta mengkaji berbagai informasi dan keluhan mereka yang mungkin menimbulkan keresahan. Peran tokoh agama Guru pendidikan agama islam sangatlah penting dalam melaksanakan kegiatan penangan kenakalan remaja untuk menciptakan kondisi-kondisi yang menyenangkan (kondusif) yang dapat mendorong para remaja untuk melakukan kegiatan belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, baik itu di lingkungan yang bersifat formal maupun secara luas belajar agama di lingkungan non formal secara mandiri.

10 Hafid huddin, Lingkungan Pendidikan Keperibadian. Kencana, 2012. h. 246

(21)

Kegiatan guru pendidikan agama Islam dan tokoh agama yang berada di Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma dalam hal penanganan kenakalan remaja dengan mengaktifkan kembali peran serta remaja masjid, selain itu melakukan kegiatan yang mengarah kepada apa yang di senangi oleh para remaja saat ini, seperti berolahraga, seni, dan kegiatan hari-hari besar islam.13 Di samping itu, tokoh agama dan guru pendidikan agam Islam juga mempunyai keterampilan dalam memotivasi remaja islam, karena dengan adanya motivasi itu kosentrasi dan antusiasme remaja yang berada di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma dalam memahami Agama islam dapat meningkat.

Berdasarkan dari pemaparan di atas, menemukan perilaku agresif yang terjadi pada remaja tingkah laku pelampiasan perasaan frustasi perlawanan atau menghukum orang lain yang di tujukan untuk melukai pihak lain secara fisik maupun psikologis, dalam praktiknya para remaja ini merupakan sekelompok orang yang membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan tokoh Agama dalam menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri menjadi manusia baik dan berguna dalam pendidikan yang sesuai dengan aqidah Islam. Berpijak

dari uraian tersebut, penulis tertarik untuk lebih lanjut mengkaji tentang “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma “

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang di atas dapat di identifikasi Masalah Sebagai Berikut:

1. Rendahnya perhatian orang tua terhadap anak, sehingga menjadikan anak tersebut kurang mendapatkan kasih sayang.

2. Lingkungan yang kurang baik, sehingga pergaulan anak remaja di Desa Dusun Baru menjadi bebas dan tidak terkendali lagi, karena di pengaruhi berbagai faktor seperti, media sosial dan televisi.

(22)

3. Masih rendahnya peran tokoh agama dalam pembinaan akhlak pada anak usia remaja.

4. Rendahnya pendidikan orang tua menyebabkan minimnya pendidikan agama dirumah.

5. Ada siswa yang masih berperilaku agresif negatif, seperi berkelahi, berbohong, mencuri, menonton film forno dan suka menjelekkan siswa lain di Desa Dusun Baru.

C. Batasan Masalah

Untuk menghindari luasnya permasalahan yang dikaji, maka peneliti membatasi pada: Peneliti membatasi upaya guru pendidikan agama Islam dan tokoh agama menangani remaja berperilaku agresif negatif Pada

remaja.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas dapat di rumuskan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma?

2. Apa Faktor-faktor yang pendukung dan penghambat upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dan Tokoh Agama Dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif Di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma?

E. Tujuan Dan Manfaat Peneitian 1. Adapun tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dan Tokoh Agama dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma.

b. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang pendukung dan penghambat upaya Tokoh Agama Dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menangani Remaja Berperilaku Agresif Negatif di Desa Dusun

(23)

Baru Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma F. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk perkembangan keilmuan pengetahuan bagi peneliti yang lain dapat dijadikan sebagai data awal bagi peneliti.

b. Secara Praktis 1) Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi guru atau calon guru bagaimana menjadi guru yang baik. Sehingga dapat membentuk kepribadian anak yang baik pula.

2) Bagi peneliti

Dengan ada nya penelitian ini, dapat berguna untuk menambah wawasan atau memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh profesional guru dalam mengelola kelas terhadap belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI).

3) Bagi Desa

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan motivasi positif bagi pihak Desa.

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dan memberi gambaran dalam penelitian ini, maka peneliti membuat sistematika penulisan sebagai berikut: Bab pertama, berisi tentang pendahuluan adapun bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, berisi landasan teoritis yang memuat sebagai bagian dari landasan teori berisikan tentang kajian teori, Penelitian yang relevan dan kerangka berfikir. Bab ketiga berisi tentang metode penelitian yang membahas jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan

(24)

informan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik keabsahan data, dan teknik analisis data. Bab keempat berisi tentang hasil penelitian yang meliputi, deskripsi wilayah penelitian, hasil penelitian dan pembahasan. Bab kelima berisi tentang penutup yang meliputi, kesimpulan dan saran.

(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Konseptual 1. Konsep Upaya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia upaya adalah usaha, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, daya upaya).1 Menurut Tim Penyusunan Departemen Pendidikan Nasional

“upaya adalah usaha, akal atau ikhtiar untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya. 11

Poerwadarminta mengatakan bahwa upaya adalah usaha untuk menyampaikan maksud, akal dan ikhtisar. Peter Salim dan Yeni Salim mengatakan upaya adalah “bagian yang dimainkan oleh guru atau bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.12Berdasarkan pengertian di atas dapat diperjelas bahwa upaya adalah bagian dari peranan yang harus dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam penelitian ini di tekankan pada bagaimana usaha guru dalam mencapai tujuannya pada saat proses pembelajaran. Upaya guru merupakan suatu yang berkenaan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. “Upaya menurut bahasa kemandirian (tata tertib) pengertian upaya, siasat menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti bimbingan karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hati”.

11 Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Jombang: Lintas Media, h. 568.

12 eter Salim dan Yeni Salim, (2005) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Modern English Press, h, 1187.

(26)

Upaya yang mengontrol sesuatu yang datang dari dalam diri orang yang bersangkutan akhirnya jadi pengontrol perilakunya sendiri. Tumbuhnya sikap membimbing bukan merupakan peristiwa mendadak yang terjadi setelah seketika, sikap disiplin tumbuh secara bertahap, sedikit demi sedikit berarti adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan-peraturan dan larangan- larangan.13

Dari teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan.

2. Konsep Guru PAI 1. Pengertian Guru PAI

Guru PAI menurut Jalaluddin dijelaskan bahwa: Guru merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terhadap proses pembinaan moral siswa. Kedudukan guru terutama guru agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah kenakalan remaja. Karena pada dasarya tugas guru pendidikan agama Islam adalah membentuk akhlak remaja (siswa) yang berkepribadian muslim. Nasar menambahkan bahwa: Bahwa guru pendidikan agama Islam merupakan pendidik yang bertanggung jawab langsung terhadap pembinaan akhlak dan penanaman norma hukum tentang baik buruk serta tanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan baik di dunia maupun diakhirat. Penanaman pemahaman siswa

13 Sarwono, Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002),h.14

(27)

tentang hal ini dapat sebagai kontrol diri atas segala tingkah lakunya sehingga siswa sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya akan dimintai pertanggungjawaban di kemudian hari. Jelas bahwasanya setiap muslim dididik dalam agama agar menjadi manusia yang teguh dalam akidah, loyal dan taat dalam syariat dan terpuji dalam akhlaknya.14

Berdasarkan pendapat tersebut maka penulis dapat menyimpulkan bahwa menjadi seorang guru itu bukan hanya sebagai pemberi ilmu pengetahuan kepadasiswa-siswanya di depan kelas, akan tetapi dia juga sebagai seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan siswa-siswanya mampu merecanakan, menganalisis dan menyimpulkan masalah yang dihadapi. Sedangkan Menurut Zakiyah Darajat, guru adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Soeryosubroto memberikan definisi pendidik ialah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah Swt. dan mampu sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk individu yang mandiri.15 Menurut Baedowi, peranan guru memang sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan.

Untuk itu, guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya dalam

14D. Deni Koswara dan Halimah, Seluk-Beluk Profesi Guru, (Bandung: PT Pribumi Mekar, 2008), h. 80.

15Budiman N.N, Etika Profesi Guru, (Yogyakarta: Mentari, 2012), h. 3.

(28)

kerangka pembangunan nasional. Guru memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan, bahwa sumber daya pendidikan lain yang memadai sering kurang berarti apabila tidak disertai kualitas guru yang memadai.

Dengan kata lain, guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan. Dalam berbagai kasus, kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan berkaitan dengan kualitas guru.

Untuk itu, peningkatan kualitas pendidikan harus dibarengi dengan upaya peningkatan kualitas guru.16

Guru adalah seorang pendidik professional. Ia bergaul setiap hari dengan puluhan atau ratusan siswa. Interaksi efektif pergaulannya sekitar lima jam sehari. Rata-rata pergaulan guru dengan siswa di SD misalnya.

Berkisar antara 10-20 menit per siswa. Intensitas pergaulan tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Dengan kata- kata yang arif seperti “suaramu membaca sangat merdu” saat siswa kelas satu SD, maka pujian guru tersebut dapat menimbulkan kegemaran membaca.

Guru adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengharuskan dia belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat tersebut sejalan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sekolah yang juga dibangun. Guru tidak sendirian dalam belajar sepanjang hayat. Lingkungan sosial guru, lingkungan budaya guru, dan kehidupan guru perlu diperhatikan oleh guru. Sebagai pendidik, guru dapat memilah dan memilih yang baik.

16Arif Firdaus dan Barnawi, Profil Guru SMK Profesional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 16.

(29)

Partisipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan upaya membelajarkan siswa.17

Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas profesinya.

Ia harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan masyarakat pada umumnya. Dunia ilmu pengetahuan tak pernah berhenti tapi selalu memunculkan hal-hal baru.

Guru harus dapat mengikuti perkembangan tersebut sehingga ia harus lebih dahulu mengetahuinya dari pada siswa dan masyarakat pada umumnya.

Disinilah letaknya perkembangan profesi yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.18 Mengingat peranannya yang begitu penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan secara komprehensif tentang kompotensinya sebagai pendidik.19

2. Syarat-Syarat Menjadi Guru PAI

Karena pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional maka untuk menjadi guru harus pula memenuhi persyaratan yang berat. Beberapa di antaranya ialah:

a) Harus memiliki bakat sebagai guru.

b) Harus memiliki keahlian sebagai guru.

c) Memiliki keperibadian yang baik dan terintegrasi.

d) Memiliki mental yang sehat.

17Dimyati dan Mudjiono, Belajar & Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), h.100.

18Ali Mudlofir, Pendidik Profesional, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 64.

19Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h. 139.

(30)

e) Berbadan sehat.

f) Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.

g) Guru adalah manusia yang berjiwa pancasila.

h) Guru adalah seorang warga negara yang baik.20 3. Sifat-Sifat Guru PAI

Menurut Al-Ghazali seorang yang memiliki akal sempurna dan akhlak yang terpuji baru boleh menjadi guru. Selain itu, guru juga harus didukung dengan sifat-sifat khusus. Sifat-sifat khusus yang harus dimiliki guru menurut Al-Ghazali adalah sebagai berikut:

a) Rasa kasih sayang dan simpatik.

b) Tulus ikhlas.

c) Jujur dan terpercaya.

d) Lemah lembut dalam memberi nasihat.

e) Berlapang dada.

f) Memperlihatkan perbedaan individu.

g) Mengajar tuntas (tidak pelit terhadap ilmu).

h) Memiliki idealisme.21 4. Peran Guru

a) Guru sebagai pengajar

Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah (kelas).

Ia menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain dari itu ia juga

20Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 118.

21Barnawi dan M. Arifin, Strategi Dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 93-97.

(31)

berusaha agar terjadi perubahan sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi, dan sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya.

b) Guru sebagai pembimbing

Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal dirinya sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Murid-murid membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan memilih pekerjaan, kesulitan dalam hubungan sosial, dan interpersonal. Karena itu setiap guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi keperibadian, dan psikologi belajar.

c) Guru sebagai pemimpin

Sekolah dan kelas adalah suatu organisasi, di mana murid adalah sebagai pemimpinnya. Guru berkewajiban mengadakan supervise atas kegiatan belajar murid, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis. Dengan kegiatan manajemen ini guru ingin menciptakan lingkungan belajar yang serasi, menyenangkan, dan merangsang dorongan belajar para anggota kelas.

(32)

d) Guru sebagai ilmuan

Guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Dia bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid, tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya.

e) Guru sebagai pribadi (ketauladanan)

Sebagai pribadi setiap guru harus memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh murid-muridnya, oleh orang tua, dan oleh masyarakat.

Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat melaksanakan pengajaran secara efektif. Karena itu guru wajib berusaha memupuk sifat-sifat pribadinya sendiri (intern) dan mengembangkan sifat-sifat pribadi yang disenangi oleh pihak luar (ekstern).

f) Guru sebagai penghubung

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk menghubungkan sekolah dan masyarakat, antara lain public relation, bulletin, pameran, pertemuan-pertemuan berkala, kunjungan ke masyarakat, dan sebagainya. Karena itu keterampilan guru dalam tugas-tugas ini senantiasa perlu dikembangkan.

g) Guru sebagai pembaharu

Guru memegang peranan sebagai pembaharu, oleh karena melalui kegiatan guru penyampaian ilmu dan teknologi, contoh-contoh yang baik dan lain-lain maka akan menanamkan jiwa pembaharuan di

(33)

kalangan murid. Karena sekolah dalam hal ini bertindak sebagai agent-moderniza-tion maka guru harus senantiasa mengikuti usaha- usaha pembaharuan di segala bidang dan menyampaikan kepada masyarakat dalam batas-batas kemampuan dan aspirasi masyarakat itu. Hubungan dua arah harus diciptakan oleh guru sedemikian rupa, sehingga usaha pembaharuan yang disodorkan kepada masyarakat dapat diterima secara tepat dan dilaksanakan oleh masyarakat secara baik.

h) Guru sebagai pembangunan

Guru baik secara pribadi maupun sebagai guru professional dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membantu berhasilnya rencana pembangunan masyarakat, seperti: kegiatan keluarga berencana, bimas, koperasi, pembangunan jalan-jalan, dan sebagainya. Partisipasinya di dalam masyarakat akan turut mendorong masyarakat lebih bergairah untuk membangun. Dan di pihak lain akan lebih mengembangkan kualifikasinya sebagai guru.22

3. Tokoh Masyarakat

1. Pengertian Tokoh Masyarakat

Menurut UU Nomor 8 Tahun 1987 pasal 1 ayat 6 Tentang Protokol bahwa tokoh masyarakat adalah seseorang yang karena kedudukan sosialnya menerima kehormatan dari masyarakat dan/atau Pemerintah.23 Sedang pengertian tokoh masyarakat menurut UU Nomor 2 Tahun 2002

22Hamalik, Proses Belajar Mengajar, h. 124-127.

23 Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1987 pasal 1 ayat 6 Tentang Protokol, h. 2

(34)

pasal 39 ayat 2 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia) bahwa bahwa tokoh masyarakat ialah pimpinan informal masyarakat yang telah terbukti menaruh perhatian terhadap kepolisian.24

Tokoh masyarakat dilingkungan masih – masing adalah pemimpin bagi kaumnya, seperti di masa nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk memimpin kaumnya. Bedanya, kalau nabi dan rasul dipilih dan diutus oleh Tuhan untuk memimpin kaumnya yang tersesat, akan tetapi, tokoh masyarakat seperti ketua kepala desa, Guru Ngaji, Imam Masjid dan Sesepuh dipilih oleh masyarakat untuk memimpin, membimbing, memandu dan menolong mereka, terutama yang berkaitan dengan persoalan sehari – hari yang dihadapi oleh rakyat.

Di dalam masyarakat biasanya ada orang-orang tertentu yang menjadi tempat bertanya dan tempat meminta nasehat anggota masyarakat lainnya mengenai urusan-urusan tertentu itulah yang biasa disebut dengan istilah tokoh masyarakat. Mereka ini sering kali memiliki kemampuan untuk memepengaruhi orang lain untuk bertindak dalam cara-cara tertentu.

Mungkin tokoh masyarakat itu menduduki jabatan formal, tetapi pengaruh itu berpengaruh secara informal, pengaruh itu tumbuh bukan karena ditunjang oleh kekuatan atau birokrasi formal. Jadi kepemimpinan mereka

24 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 pasal 39 ayat 2 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, h. 22

(35)

itu tidak diperoleh karena jabatan resminya, melainkan karena kemampuan dan hubungan antar pribadi mereka dengan anggota masyarakat.25

Para tokoh masyarakat ini memegang peran penting dalam proses penyebaran inovasi. Tetapi kita perlu ingat bahwa ada tokoh masyarakat yang “hangat” dan ada yang “dingin” terhadap inovasi. Mereka dapat mempercepat proses difusi, tetapi biasa pula mereka yang menghalangi dan menghancurkannya. Karena itu agen pembaru harus menaruh perhatian khusus kepada tokoh masyarakat dalam sistem sosial yang menjadi kliennya.kalau ia mendapat bantuan maka boleh diharapkan tugasnya akan berjalan lancar. Tetapi jika agen pembaru tidak berhati-hati dan terbentur dengan tokoh masyarakat, maka ia harus bersiap menerima kegagalan atau setidak-tidaknya mendapat kesulitan dalam melaksanakan tugas.

2. Mengenali Tokoh Masyarakat Setempat

Untuk mengetahui tokoh yang ada di dalam masyarakat ada beberapa teknik yang bisa dilakukan diantaranya :

a. Teknik Sosiometri

Teknik ini dapat di lakukan dengan menanya kepada anggota masyarakat kepada siapa mereka meminta nasehat atau mencari informasi mengenai masalah-masalah kemasyarakatan yang mereka hadapi. Pemimpin dalam hal ini adalah mereka-mereka yang banyak di sebut oleh responden. Teknik sosiometri ini adalah alat pengukur yang

25 Musni Umar, Tanggung Jawab Pemimpin dan Tokoh Masyarakat terhadap Rakyat dan Pembangunan, musniumar.wordpress.com, dipostkan 12 Juni 2013, diakses pada Oktober 2013.

(36)

paling valid untuk menetukan siapa-siapa pemimpin di dalam suatu masyarakat "tokoh masyarakat" sesuai dengan pandangan para pengikutnya. Akan tetapi teknik ini sulit dilakukan jika sistem sosial yang di maksudkan populasinya cukup besar.

b. Teknik Informan’s Rating

Dalam menggunakan teknik ini, pada prinsipnya sama dengan sosiometri. Tetapi yang ditanyakan bukan anggota masyarakat, melainkan orang yang dianggap narasumber di sana yang dianggap mengenal dengan baik situasi sistem sosial. Kepada narasumber ini ditanya, siapakah menurut pendapatnya yang di anggap pemimpin dan siapa yang oleh pendapat umum di pandang pemimpin masyarakat

"tokoh masyarakat". Dalam menggunakan teknik ini kita harus memilih narasumber yang betul-betul mengenal masyarakat yang kita maksud.26 c. Teknik Self Designating

Dalam teknik ini kepada setiap responden diajukan serangkaian pertanyaan untuk menentukan seberapa jauh ia menganggap dirinya sebagai pemimpin dalam masyarakatnya. Pertanyaan yang khas yang biasa ditanyakan adalah “ menurut pendapat saudara, selain kepada pemuka pendapat, pada siapakah masyarakat meminta informasi atau nasehat? Atau “siapakah pemimpin anda, apakah anda juga memimpin?”. Teknik ini bergantung pada keakuratan responden dalam pengenalan dirinya sendiri dan pengutaraan khayal pribadi mereka.

26A bu Ahmadi. Sosiologi Pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 2007). h. 26

(37)

Pengukuran kepemimpinan pendapat seperti ini tepat sekali jika di lakukan dengan wawancara terhadap suatu random dalam suatu sistem sosial.

3. Ciri-Ciri Tokoh Masyarakat

Tokoh masyarakat memiliki hubungan sosial lebih luas dari pada pengikutnya. Mereka lebih sering bertatap dengan media massa, lebih sering mengadakan perjalanan keluar dan lebih kerap berhubungan dengan agen pembaru. Tokoh masyarakat agaknya perlu memiliki pengetahuan dan keahlian tertentu orang kebanyakan, terutama pengikutnya. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian adalah dengan cara membuka pintu untuk ide-ide baru, dan pintu masuk itu adalah hubungan dengan duni aluar.27Tokoh masyarakat tidak menyimpan pengetahuan dan keahliannya itu untuk dirinya sendiri, melainkan berusaha untuk menyebarkan kepada orang lain; mereka menjadi tumpuan bertanya dan meminta nasihat. Untuk dapat melaksanakan fungsinya itu ia harus dekat warga masyarakat, ia harus diterima oleh pengikutnya. Maka dari itu para pemimpin "tokoh masyarakat" aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dalam pertemuan-pertemuan, diskusi-diskusi dan komunikasi komunikasi tatap muka lainnya. Dalam forum-forum seperti itulah gagasan-gagasan baru itu dikomunikasikan.

Dapat diharapkan bahwa para pengikut mencari pemimpin "tokoh masyarakat" yang agak tinggi status sosialnya daripada dirinya sendiri, dan

27 Ruswanto.,”Sosiologi” (Surakarta: Pusat Perbukuan, 2009)h. 10

(38)

memang rata-rata tokoh masyarakat itu lebih tinggi status sosialnya.

Sehubungan dengan tersebarnya inovasi, Tarde menyatakan : “suatu penemuan bisa saja timbul dari lapisan masyarakat paling bawah, tetapi eksistensinya tergantung pada campur tangan lapisan sosial yang terpanjang”.28

Pemuka pendapat dikenal oleh teman-temannya sebagai ahli yang berkompeten dalam hal inovasi, mungkin karena mereka telah menerima ide-ide baru sebelum orang lain. Mereka lebih inovatif dibanding orang kebanyakan. Akan tetapi penemuan-penemuan riset tidak menunjukkan bahwa pemuka pendapat itu pasti inovator. Ada kalanya mereka itu merupakan orang-orang yang pertama kali mengadopsi inovasi, tetapi seringkali termasuk dalam kelompok “pelopor” dari kategori adopter.

Keinovatifan, Kepemimpinan pendapat dan Norma-norma sistem.

Pemuka pendapat itu memperoleh posisi mereka sebagai pemimpin informal adalah karena mereka sebagai pemimpin informal adalah karena mereka itu menghargai dan menjaga norma-norma sistem mereka. Mereka selalu menyelaraskan diri dengan norma-norma sistem, dan karena itu tokoh masyarakat itu menjadi model norma yang nyata bagi pengikunya.

Pemuka pendapat itu bisa menjadi orang paling selaras dengan norma- norma sistem dan sekaligus pemimpin dalam pengadopsian ide-ide baru yang biasanya bertentangan dengan norma-norma sistem itu sendiri.

Dalam sistem yang normanya tradisional , pemuka pendapat disana

28 Suwarsono dan Alvin Y. So., “Perubahan Sosial dan Pembangunan”, (Jakarta:

LP3ES, 1994), h.23

(39)

biasanya bukan inovator; para inovator dalam sistem yang demikian seringkali dicurigai dan sering tidak dihormati oleh anggota sistem yang tradisional . sedangkan didalam sistem sosial yang normanya modern, pemuka pendapat lebih inovatif dibanding dengan para pengikutnya.Sehubungan dengan hal ini ada yang perlu diperhatikan agen pembaru dalam usaha mereka melancarkan pembaruan di masyarakat.

Memang dianjurkan agar agen pembaru bekerja sama dengan tokoh masyarakat. Tetapi sering terjadi kesalahan, mereka biasanya pemilih pemuka yang terlalu inovatif.29

Jika pemuka masyarakat "tokoh masyarakat" itu terlalu inovatif dari sebagian besar klien, heterofili (yang berakibat komunikasi yang kurang efektif) yang semula hanya ada antara agen pembaru dengan warga masyarakat, kini terjadi pula antara pemuka pendapat dan pengikutnya.

Yang demikian ini sering terjadi di masyarakat yang normanya tradisional, dimana jarang terdapat pemuka pendapat "tokoh masyarakat" yang inovator; pemuka pendapat yang inovator itu terlalu berorientasi pada perubahan sehingga tidak cocok sebagai model ideal bagi para pengikut.

Karena itu dalam bekerja sama dan membina pemuka pendapat, agen pembaru harus berhati-hati jangan sampai mereka itu menjadi terlalu inovatif. Jika demikian yang terjadi, maka pemuka pendapat yang semula diharapkan menjadi jembatan untuk menuju klien menjadi terputus.30

29 Ruswanto.,”Sosiologi” (Surakarta: Pusat Perbukuan, 2009)h. 15

30 Soetomo, “Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008) h. 12

(40)

Contoh mengenai hal ini terjadi di desa yang cepat berubah menjadi modern, seperti yang dihipotesakan oleh Menzel dan Lazarsfeld

“Pemuka pendapat "tokoh masyarakat" yang baru akan tampil begitu masyarakat tradisional itu bergeser menjadi modern. Jika ini terjadi (pergeseran norma), tentu masyarakat tradisional cenderung kehilangan kelebihan-kelebihan mereka dan akan digantikan oleh orang-orang yang dapat bertindak sebagai jalur ke arah dunia baru yang lebih modern”.

Studi kasus tentang menurunnya kepemimpinan pendapat di desa Pablo Viejo-Kolumbia agaknya mendukung hipotesa di atas. Sebelum ada bimbingan secara intensif dari agen pembaru pada tahuN 1959, sistem sosial (desa) ini “dikuasai” oleh sekelompok pemuka tradisional. Ketika para pekerja penyuluh mulai bekerja disana, mereka ditentang oleh para pemimpin ini. Karena itu mereka memusatkan perhatiannya pada kelompok baru yang terdiri dari para pemuda, sehingga muncullah pemimpin baru, Miguel Gomes bertindak sebagai kepala Koperasi Desa, yang diorganisir oleh pekerja penyuluh. Miguel disukai oleh sebagian besar teman-teman petaninya di desa (data yang ada menunjukkan ia menempati presentasi pemilihan tertinggi dalam sosimetrik kepemimpinan) dan ia bertindak sebagai penghubung yang efektif antara agen pembaru dan penduduk. Ladangnya terletak ditengah persimpangan dimana para petani biasanya lewat. Kemampuan mendekati masyarakat secara sosial dan fisik ini memperkuat posisinya dalam mempengaruhi orang lain. Melalui usaha yang dilakukan Miguel dan agen pembaru, di

(41)

desa itu telah dibangun jalan baru, dipasang sistem saluran air, dan dikembang toko koperasi. Masyarakat menerima inovasi-inovasi pertanian dan kesehatan.31

Kekuasaan relative para pemimpin yang lebih tua dan tradisional sedikit demi sedikit memudar menghadapi keberhasilan Miguel, sehingga pada tahun 1963 pemuka tradisional itu hanya punya beberapa pengikut saja. Muncul dan tenggelamnya pemimpin ini menunjukkan bahwa pemuka pendapat "tokoh masyarakat" harus menyelaraskan diri dengan norma-norma sistemnya. Jika norma-norma berubah seperti di Pablo Viejo itu, kepemimpinannya akan berubah. Namun mungkin saja memodernkan pemimpin asal tetap seiring dengan norma-norma sistem, dan ini barang kali terjadi jika pegeseran norma yang terhadir di masyarakat tidak terlalu cepat.

1. Macam – Macam Tokoh Masyarakat a. Kepala Desa

Kepala Desa merupakan pimpinan penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pe-merintahan, antara lain pengaturan kehidupan inasyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti, pembuatan peraturan desa, pem-bentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa, dan kerja

31 Musni Umar, Tanggung Jawab Pemimpin dan Tokoh Masyarakat terhadap Rakyat dan Pembangunan, musniumar.wordpress.com, dipostkan 12 Juni 2013, diakses pada Oktober 2013.

(42)

sama antar desa, urusan pembangunan, antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas umum desa seperti, jalan desa, jembatan desa, irigasi desa, pasar desa, dan urusan kemasyarakatan, yang meliputi pemberdayaan masya-rakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti, bidang kesehatan, pendidikan serta adat istiadat.32

Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk satu kali masa jabatan. Kepala Desa juga memiliki wewenang menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD serta kepala desa juga mempunyai kewajiban untuk mendidik anak serta memfasilitasi apa yang kurang dalam mendidik anak di lingkungan sekitarnya.

Kepala Desa dipilih langsung melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) oleh penduduk desa setempat. Syarat-syarat menjadi calon Kepala Desa sesuai Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 sbb:

1. Bertakwa kepada Tuhan YME

2. Setia kepada Pacasila sebagai dasar negara, UUD 1945 dan kepada NKRI, serta Pemerintah

3. Berpendidikan paling rendah SLTP atau sederajat 4. Berusia paling rendah 25 tahun

32 Daeng Sudirwo,” Pembahasan Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah danPemerintahan Desa” ( Bandung: Penerbit Angkasa, 1985),h.41

(43)

5. Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa 6. Penduduk desa setempat

7. Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan dengan hukuman paling singkat 5 tahun

8. Tidak dicabut hak pilihnya

9. Belum pernah menjabat Kepala Desa paling lama 10 tahun atau 2 kali masa jabatan

10. Memenuhi syarat lain yang diatur Perda Kab/Kota

Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada Bupati/Walikota, memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat.33 Yang dimaksud dengan “Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa” adalah laporan semua kegiatan desa berdasarkan kewenangan desa yang ada, serta tugas- tugas dan kewenangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten / kota.

Kepala Desa berkedudukan sebagai kepala pemerintah di desa, yang berada langsung di bawah Bupati dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Camat. Kepala Desa mempunyai fungsi memimpin penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan

33 Daeng Sudirwo,” Pembahasan Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Pemerintahan Desa” ( Bandung: Penerbit Angkasa, 1985),h.45

(44)

pelayanan kemasyarakatan,Kepala Desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta tugas-tugas lain yang dilimpahkan kepada desa, Dalam melaksanakan tugas, Kepala Desa mempunyai Wewenang:

a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD

b. Mengajukan rancangan Peraturan Desa.

c. Menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD

d. Menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan Desa mengenai APB Desa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD

e. Membina kehidupan masyarakat desa f. Membina perekonomian desa

g. Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif;

h. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapatmenunjuk kuasa hokum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

i. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perudang-undangan

Dalam melaksanakan tugas dan wewenag sebagaimana dimaksud, Kepala Desa mempunyai Kewajiban:

(45)

a. Memegang teguh dan mengasmalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

c. Memelihara ketentraman dan keterlibatan masyarakat d. Melaksanakan kehidupan demokrasi

e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme

f. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa.34

g. Menaati dan menegakan seluruh peraturan perundang-undangan h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik i. Melaksanakan dan mempertanggung jawabkan pengelolaan

keuangan desa

j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa k. Mendamaikan perselisihamn masyarakat di desa l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa

m. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat.

n. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa serta

34 Daeng Sudirwo,” Pembahasan Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Pemerintahan Desa” ( Bandung: Penerbit Angkasa, 1985),h.55

(46)

o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.

Selain kewajiban dimaksud, Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada Bupati, memberikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban kepada BPD, serta menginformasikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada masyarakat. Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa disampaikan kepada Bupati melalui camat (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

b. Guru ngaji

Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri dan guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam menangani berhasil atau tidaknya program pendidikan.35

Seorang Guru mempunyai tiga tugas yaitu tugas profesional,tugas Manusiawi, dan Tugas Kemasyarakatan seperti guru ngaji karena merupakan sosok panutan yang memberikan

35 Muhammat Rahman, “ Kode Etik Profesi Guru”,(Jakarta : Prestasi Pustaka Raya, 2014 ),h.18-19

(47)

bimbigan membaca alquran kepada anak – anak, baik remaja maupun sudah dewasa, tempat yang biasa di gunakan di masjid atau di rumah, peran guru ngaji ini sangat penting dalam mmbimbing anak karena sebagian dari keiginanya untuk mencerdaskan anak – anak kecil dan remaja serta yang sudah dewasa menjadi pandai membaca alquran.

Tugas seorang guru ngaji diantaranya yaitu mengajarkan pengucapan huruf Hijaiyah yang benar atau biasa dikenal dengan makharijul huruf, yaitu tempat keluarnya huruf yang kita ucapkan.

Pengucapan huruf yang terdengar mirip seperti sin, syin, shad atau huruf dzal, zay, zha’ harus ditekankan oleh guru ngaji tersebut sehingga dapat terdengar jelas perbedaan diantara huruf-huruf tadi.

c. Imam Masjid

Imam adalah orang yang memimpin shalat, baik shalat wajib (fardhu) maupun shalat sunnat (mafilah). Imam akan selalu diikuti gerak-geriknya dalam shalat oleh Jama’ah yang lain.

36Untuk menjadi seorang Imam harus mempunyai syarat-syarat diantaranya seperti berikut ini :

1. Sehat akalnya

2. Lebih fasih bacaannya.

3. Sesuai sabda Rasulullah SAW

36 Syafari Harahap,” Menejemen Masjid”, (Yogyakarta: Dhana Bakti Wakaf, 1993), h.5

(48)

Terwujudnya masyarakat yang Islami merupakan dambaan bagi setiap muslim yang sejati. Namun keinginan itu tidak bisa terwujud secara spontan, diperlukan proses yang panjang dan sungguh-sungguh. Untuk itu, imam masjid perlu melakukan pengkondisian melalui bimbingan yang intensif terhadap jamaahnya. Imam masjid harus menjalin kerjasama dengan pengurus masjid dalam upaya menjadikan masjid sebagai markaz atau pusat aktivitas dan pembinaan jamaah.

Nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat ditanamkan oleh imam masjid kepada jamaahnya seperti saling hormat menghormati, menolong orang yang kesulitan, turut berduka atas musibah yang menimpa sesama jamaah, turut gembira dan mengucapkan selamat atas kegembiraan atau keberhasilan yang dicapai seseorang, membantu memberikan jalan keluar atas kesulitan yang dihadapi orang lain dan sebagainya.

Dengan demikian, nampak begitu jelas betapa seorang imam masjid tugasnya tidak hanya memimpin shalat yang lima waktu, tapi juga menjadi imam bagi masyarakat yang membimbing, membina, mengarahkan, membantu hingga memecahkan dan mengatasi kesulitan hidup jamaahnya. Untuk itu, kaderisasi imam masjid yang ideal merupakan sesuatu yang mendesak untuk terus dilakukan. Bila masjid memiliki imam yang ideal, pemakmuran masjid dapat diarahkan sebagaimana mestinya

Gambar

Gambar 1 wawancara dengan Kepala Desa
Gambar 2 Wawancara Dengan Guru PAI
Gambar 3 Wawancara Dengan Guru PAI
Gambar 4 Wawancara Dengan Tokoh Agama
+5

Referensi

Dokumen terkait

Adapun proses analisis data yang penulis lakukan dimulai dengan menelaah seluruh data dari berbagai sumber (wawancara dan observasi) yang dilakukan di SMP Negeri

Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Problem Kenakalan Siswa di SMK Negeri Winongan Pasuruan Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa guru:

Adapun faktor yang menghambat upaya guru dalam meningkatkan kemampuan membaca Alquran siswa yaitu, kurang berjalannya program yang dibuat oleh guru pendidikan agama Islam dikarenakan

Strategi Komunikasi Dakwah Para Tokoh Masyarakat Dan Tokoh Agama Dalam Upaya Pembaharuan Tata Pergaulan Yang Berdampak Negatif Bagi Remaja Dan Pelajar Di Desa Tongko Strategi

Berdasarkan hasil penyajian data yang melalui wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti terlihat bahwa di SMPN 25 Bekasi bahwa upaya guru pendidikan agama islam dalam

Upaya yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Tangerang Selatan dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa, terdiri dari beberapa tindakan,

Selain itu Heriadi mengungkapkan : “dalam upaya memotivasi keagamaan remaja disini saya selaku salah satu tokoh agama selalu mengontrol keadaan remaja dalam hariannya, sebab hal ini

Upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Decisional Control Siswa Berdasarkan wawancara dengan ibu Ayu Rezkiah H,S.Pdselaku guru Pendidikan Agama Islam kelas dua,