• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatifpeserta didikmelalui model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Penelitian dimaksudkan untuk melihat bagaimana guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran, mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran, serta mengevaluasi hasil belajar peserta didik sebagai upaya untukmeningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif peserta didik.

1. Aktivitas Guru dan Aktivitas Peserta Didik

Hasil observasi kegiatan belajar mengajar guru dan aktivitas peserta didik di dalam kelas diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Aktivitas Guru

Hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I diperoleh skor sebesar 70% dan tergolong cukup. Sedangkan pada siklus II diperoleh skor sebesar 90% dan tergolong baik sekali.

b. Aktivitas Peserta Didik

Hasil deskripsi siklus I di atas dapat dilihat bahwa skor yang diperoleh pada aktivitas peserta didik sebesar 60%

dan tergolong cukup. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 90% dan tergolong baik sekali.

84

Kegiatan belajar mengajar guru dan aktivitas peserta didik di dalam kelas dari siklus I ke siklus II ternyata mengalami peningkatan. Ini dibuktikan dengan hasil yang telah diperoleh dari setiap siklus menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) yang telah diterapkan. Perbandingan hasil antara aktivitas guru dan aktivitas peserta didik dalam 2 siklus dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.5 Perbandingan Observasi Aktivitas Guru dan Peserta Didik

No Observasi Siklus I Siklus II

1 Aktivitas Guru 70 % 90 %

2 Aktivitas Peserta Didk 60 % 90 %

2. Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif Peserta Didik

Hasil analisis data pada pelaksanaan siklus I dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), penguasaan konsep peserta didik secara teoritik dengan menggunakan tes yang berupa soal essay diperoleh skor 67, 64%. Sedangkan untuk tes keterampilan berpikir kreatif dengan menggunakan soal berupa essay diperoleh skor 35, 29%. Hal ini dikarenakan masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Pada pelaksanaan siklus II dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), penguasaan konsep peserta didik secara teoritik dengan menggunakan tes yang berupa soal essay diperoleh skor 88,23%.

85

Untuk tes keterampilan berpikir kreatif dengan menggunakan soal berupa essay diperoleh skor 91,17%. Untuk kedua tes tersebut tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya karena telah mengalami peningkatan yang signifikan.

Perbandingan hasil tes antara penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif aktivitas peserta didik dalam 2 siklus dapat dilihat melalui tabel berikut.

Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Tes Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif

No Aspek Siklus I Siklus II

1 Penguasaan Konsep 67,64 % 88,23 %

2 Keterampilan Berpikir Kreatif 35,29 % 91,17%

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, diperoleh bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dapat memperbaiki penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif peserta didik khususnya pada materi getaran, gelombang dan bunyi. Dengan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) mengutamakan peserta didik dalam belajar dan dalam menyelesaikan permasalahan- permasalahan yang ada, baik dalam materi maupun dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru berkenaan dengan materi yang diberikan. Selain itu, model pembelajaran ini menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kreatif dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan konsep yang esensial dari materi yang dipelajari.

86

Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Ikhwanul Muslim, A. Halim dan Rini Safitri menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan konsep siswadengan model pembelajaran PBL secara signifikan lebih tinggi.70

Dan dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Siska Suci rahayu, A. Halim, danNasrullah Idris, menunjukkan bahwa model problem based learning jugadapat melatih siswa untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapinya secara mandiri. 71 Dengan pembelajaran berbasis masalah peserta didik mampu berpikir secara kreatif dan mengembangkan inisiatif serta dapat memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

70 Ikhwanul Muslim, A. Halim, dan Rini Safitri. Penerapan Model Pembelajaran PBL

untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Pada Konsep Elastisitas dan Hukum Hooke Di SMA Negeri Unggul Harapan Persada, Vol.03, Nomor 02, 2015, hlm. 43

71 Siska Sucirahayu, A. Halim, dan Nasrullah Idris. Penerapan Model Problem Based

Learning (PBL) Pada Konsep Usaha dan Energi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Siswa SMA, Vol. 03, Nomr. 01, 2015, hlm. 213

87 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan terhadap penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif peserta didik dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Peningkatan masing-masing indikator dari penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif peserta didik tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

Untuk penguasaan konsep pada siklus I diperoleh skor 67,64% dan pada siklus II diperoleh 88,23%. Sedangkan untuk keterampilan berpikir kreatif pada siklus I diperoleh skor 35,29% dan pada siklus II diperoleh 91,17%.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan maka beberapa saran yang diusulkan sebagai upaya perbaikan adalah sebagai berikut:

1. Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dapat digunakan dan dikembangkan sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, peserta didik dapat meningkatkan kemampuan terhadap penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatifnya, mengemukakan pendapat, aktif, mengajukan pertanyaan, bekerja sama, serta mandiri dalam belajar.

88

2. Bagi peserta didik, guru, dan semua pihak sekolah di SMAN 1 Pemenang Timur agar terus berusaha mengembangkan dan mencari inovasi maupun kreatifitas pembelajaran fisika terutama yang berhubungan dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning).

3. Bagi peneliti lain yang berkeinginan untuk melakukan penelitian sejenis sebaiknya tidak hanya membatasi peserta didik dalam upaya peningkatan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan, tetapi juga variabel yang ditingkatkan dan bidang lain.

89

DAFTAR PUSTAKA

Anggayni, Febi, 2018. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dalam Meningkatkan Kemampuan Memahami Materi KPK dan FPB pada Siswa kelas IV A di MI Darun Najah Kloposepuluh Sukodono, (Skripsi, FTK UIN Sunan Ampel, Surabay) hlm. 1-90

Awal, Raudhah, dan Irma Sari, 2017. Pembelajaran Berbasis Masalah melalui Keterampilan Proses Sains terhadap Berpikir Kreatif Siswa pada Materi Sistem Gerak Kelas XI IPA 2 T.A 2015/ 2016 SMA Nurul Falah Pekanbaru. Jurnal Pendidikan. 8 (1): 66-74.

Bahtiar, 2015. Strategi Belajar Mengajar SAINS (IPA). Mataram: Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Bukhori, Imam, dan Ibrohim, 2015. Penerapan Model Problem Based Learning Pada Mata kuliah Ekologi Tumbuhan Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Berpikir Kreatif Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang 2014/2015. (Malang: Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana). hlm: 617-723.

Dewi, Lina, dan Ruspeni, 2017. Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir. Biology Study Center. 5 (1): 10-26.

Gusti, 2017. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Mind Map Terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Biologi Pada Siswa SMK. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran. 1(1): 68-77.

90

Hikmawati, 2014. Strategi Pembelajaran Fisika. Mataram: Universitas Negeri Mataram.

Ikhwanul Muslim, A. Halim, dan Rini Safitri, 2015. Penerapan Model Pembelajaran PBL untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Pada Konsep Elastisitas dan Hukum Hooke Di SMA Negeri Unggul Harapan Persada. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia. 3 (2): 38.

Iyam Maryati, 2018. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi Pola Bilangan Di Kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Mosharaf. 7 (1): 63-74.

Khoirussyifa, Ahmad, Muslimin Ibrahim Dan Wahono Widodo, 2017.

Implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Melatihkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dan Penguasaan Konsep Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian. 3 (1): 378-387.

Lidya Arisanti, Wahyu, dan Ari, 2016. Analisis Penguasaan Konsep dan Berpikir Kreatif Siswa SD Melalui Project Based Learning. Jurnal Pendidikan Dasar. 8 (1): 82-95.

Lutfa, Asna,. Sugianto, Sulhadi, 2014. Penerapan Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) Untuk Menumbuhkan Keterampilan Proses Sains Pada Siswa SMA, (Semarang, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). 3 (2): 79-83.

Marhamah Saleh, 2013. Strategi Pembelajaran Fiqh dengan Problem-Based Learning, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Vol. 15, No. 5, hal 203-204

91

Marojahan dan Sri, 2017. Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning Di Kelas X SMA. Jurnal Inspiratif. 3 (2): 1-17.

Rahmi, 2013. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Pada Materi Dunia Tumbuhan. Jurnal EduBio Tropika. Desember. 1 (2): 73.

Shinta, Ahmad, dan Gunawan, 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis MasalahBerbantuan Simulasi Virtual Terhadap Penguasaan Konsep dan Kreativitas Fisika Siswa SMAN 2 Mataram. Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi. II (3): 123-128.

Siska, Halim, A., dan Nasrullah, 2015. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Pada Konsep Usaha dan Energi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia. 3 (1): 207-217.

Sunaryo, Yoni, 2014. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Matematik Siswa SMA Di Kota Tasikmalaya. Jurnal Pendidikan dan Keguruan.

1 (2): 41-51.

Suparman dan Dwi Nastuti, 2015. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Penerapan Model Problem Based Learning.

Jurnal Bioedukasi. 3 (2): 367-372.

92

Susanto, Erik, 2018. Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematika Siswa. Jurnal Pendidikan. 8 (1): 80-87.

Tomi, Irwan, dan Dodi, 2012. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Dengan Pembelajaran Berbasis Masalah. Jurnal Pendidikan Matematika. 1 (1): 22-26.

Ulfah, Mariah, 2017. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas IX C SMPN 7 Kota Bima Pokok Bahasan Potensi Sumber Daya Manusia Tahun Pelajaran 2017/2018. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan. 1(2): 47-53.

Wan Syafi’i, Evi Suryawati dan Ardiyas Robi Saputra, 2011. Kemampuan Berpikir Kreatif dan Penguasaan Konsep Siswa Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Dalam Pembelajaran Biologi Kelas XI IPA SMAN 2 Pekanbaru Tahun Ajaran 2010/2011. Jurnal Biogenesis. 3 (1): 1-7.

Wirda, Abdul Gani, dan Ibnu Khaldun, 2015. Penerapan Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses SAINS dan Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Alat-alat Optik. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia. 3 (2):

131-142.

Zainul Mustofa, Herawati Susilo, Mimien Heni Irawati Al Muhdhar, 2016.

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Melalui Pendekatan Kontekstual Berbasis Lesson Study Untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah dan Hasil Belajar Kognitif Siswa SMA. Jurnal Pendidikan. 1 (5): 886

93

Lampiran 6 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

SIKLUS I

Nama sekolah : SMAN 1 Pemenang Timur Mata Pelajaran : IPA Fisika

Materi Pokok : Getaran, Gelombang dan Bunyi Kelas/Semester : X IPA 2/ Semester I

Waktu/jam Pertemuan : 3 X Pertemuan A. Kompetensi Inti

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, reponsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak, lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.

3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humanoria dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, dan peradaban terkait peyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian spesifik sesuai dengan

94

bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

4. menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dngan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian 1. Kompetensi Dasar

3.3 menjelaskan konsep getaran, gelombang dan bunyi dalam kehidupan sehari – hari.

2. Indicator Pencapaian Kompetensi

3.3.1 Menjelaskan pengertian getaran dan peristiwa getaran bandul

3.3.2 Menjelaskan pengertian gelombang dan peristiwa gelombang

3.3.3 Menjelaskan karakteristik gelombang transversal dan longitudinal

3.3.4 Membedakan gelombang transversal dan longitudinal 3.3.5 Menjelaskan hubungan antara panjang gelombang,

frekuensi, cepat rambat, dan periode gelombang.

3.3. 6 Menjelaskan peristiwa pemantulan gelombang 3.3. 7 Menjelaskan karakteristik bunyi

3.3. 8 Menghitung cepat rambat gelombang bunyi

3.3.9 Membedakan gaung dan gema dan cara pemantulan bunyi 3. Tujuan Pembelajaran

95

1. peserta didik dapat menjelaskan pengertian getaran dan peristiwa getaran bandul

2. perserta didik dapat menjelaskan pengertian gelombang dan peritiwa gelombang

3. peserta didik dapat menjelaskan karakteristik gelombang transversal dan karakteristik gelombang longitudinal. . 4. peserta didik dapat membedakan gelombang transversal

dan gelombang longitudinal..

5. peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara panjang gelombang, frekuensi, cepat rambat, dan periode gelombang

6. perserta didik dapat menjelaskan peristiwa pemantulan gelombang

7. melalui diskusi peserta didik dapat menjelaskan karakteristik bunyi

8. peserta didik dapat membedakan gaung dan gema 9. peserta didik dapat menjelaskan cara pemantulan bunyi 4. Materi Pembelajaran

Pertemuan ke-1 Getaran

Semua benda akan bergetar apabila diberi gangguan.

Benda yang bergetar ada yang dapat terlihat secara kasat mata karena simpangan yang diberikan besar, ada pula yang tidak dapat dilihat karena simpangannya kecil. Benda dapat dikatakan bergetar jika benda bergerak bolak-balik secara teratur melalui titik kesetimbangan. Apakah orang yang berjalan bolak-balik dapat disebut dengan bergetar?

96

Tentu saja tidak. Orang yang berjalan bolak balik belum tentu melalui titik kesetimbangan.

Sebuah bandul sederhana mula-mula diam pada kedudukan O (kedudukan setimbang). Bandul tersebut ditarik ke kedudukan A (diberi simpangan kecil). Pada saat benda dilepas dari kedudukan A, bandul akan bergerak bolak-balik secara teratur melalui titik A-O-B-O-A dan gerak bolak balik ini disebut satu getaran. Salah satu ciri dari getaran adalah adanya amplitudo atau simpangan terbesar.

Gelombang

Energi getaran akan merambat dalam bentuk gelombang.

Pada perambatan gelombang yang merambat adalah energi, sedangkan zat perantaranya tidak ikut merambat (hanya ikut bergetar). Pada saat kita mendengar, getaran akan merambat

97

dalam bentuk gelombang yang membawa sejumlah energi, sehingga sampai ke saraf yang menghubungkan ke otak kita.

Berdasarkan energinya, gelombang dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gelombang mekanis dan gelombang elektromagnetik. Perambatan gelombang mekanis memerlukan medium (perantara), misal gelombang tali, gelombang air, dan gelombang bunyi. Perambatan gelombang elektromagnetik tidak memerlukan medium, misal gelombang cahaya.

Pada saat menggetarkan tali, gelombang akan merambat pada tali ke arah temanmu, tetapi karet gelang yang diikatkan tidak ikut merambat bersama gelombang. Demikian pula dengan tali juga tidak ikut merambat. Jadi hal tersebut membuktikan bahwa gelombang merambat hanya menghantarkan energi, mediumnya tidak ikut merambat.

Berdasarkan arah rambat dan arah getarannya, gelombang dibedakan menjadi gelombang transversal dan gelombang longitudinal.

a. Gelombang Tarnsversal

Ketika tali diberi simpangan, tali akan bergetar dengan arah getaran ke atas dan ke bawah. Pada tali, gelombang merambat tegak lurus dengan arah getarnya.

Bentukan seperti ini disebut gelombang transversal. Contoh lain gelombang transversal ada pada permukaan air.

Panjang gelombang transversal sama dengan jarak satu bukit gelombang dan satu lembah gelombang (a-b-c-d-e pada Gambar). Panjang satu gelombang dilambangkan dengan λ (dibaca lambda) dengan satuan meter. Simpangan

98

terbesar dari gelombang itu disebut amplitudo (bb'atau dd'pada Gambar). Dasar gelombang terletak pada titik terendah gelombang, yaitu d dan h, dan puncak gelombang terletak pada titik tertinggi yaitu b dan f. Lengkungan c-d-e dan g-h-I merupakan lembah gelombang. Lengkungan a-b- c dan e-f-g merupakan bukit gelombang Waktu yang diperlukan untuk menempuh satu gelombang disebut periode gelombang, satuannya sekon (s) dan dilambangkan dengan T. Jumlah gelombang yang terbentuk dalam 1 sekon disebut frekuensi gelombang. Lambang untuk frekuensi adalah f dan satuannya hertz (Hz). Gelombang yang merambat dari ujung satu ke ujung yang lain memiliki kecepatan tertentu, dengan menempuh jarak tertentu dalam waktu tertentu pula.

b. Gelombang Longitudinal

Ketika slinki digerakkan maju-mundur secara terus menerus, akan terjadi gelombang yang merambat

99

pada slinki dan membentuk pola rapatan dan regangan.

Gelombang longitudinal memiliki arah rambat yang sejajar dengan arah getarnya.Contoh gelombang longitudinal adalah gelombang bunyi. Satu gelombang longitudinal terdiri atas satu rapatan dan satu regangan seperti pada Gambar. Besaran-besaran yang digunakan pada gelombang longitudinal sama dengan besaran- besaran pada gelombang transversal.

Pertemuan ke-2

a. Hubungan antara Panjang Gelombang, Frekuensi, Cepat Rambat, dan Periode Gelombang

Cahaya merambat dengan kecepatan 3 × 108 m/s, sedangkan bunyi hanya merambat dengan kecepatan 340 m/s. Cepat rambat gelombang dilambangkan dengan v, dengan satuan m/s. Karena gelombang menempuh jarak satu panjang gelombang (λ) dalam waktu satu periode gelombang (T), maka kecepatan gelombang dapat ditulis

100 v = λ/T Karena

T = 1/f

maka cepat rambat gelombang dapat juga dinyata-kan sebagai berikut.

v= f × λ

Dalam medium yang sama, cepat rambat gelombang adalah tetap. Misalnya cepat rambat gelombang pada tali adalah 12 m/s, dengan frekuensi gelombang 4 Hz, maka panjang gelombangnya adalah 3 m (λ= 3 m). Namun jika frekuensi diperbesar menjadi 6 Hz, maka panjang gelombangnya menjadi 2 (λ= 2 m).

b. Pemantulan Gelombang

Pemantulan gelombang adalah peristiwa membaliknya gelombang setelah mengenai penghalang. Seperti gelombang tali pada Gambar 10.5, gelombang yang mencapai ujung akan memberikan gaya ke atas pada penopang yang ada di ujung, sehingga penopang memberikan gaya yang sama tetapi berlawanan arah ke bawah pada tali. Gaya ke bawah pada tali inilah yang membangkitkan gelombang pantulan yang terbalik.

Pertemuan ke-3

Bunyi merupakan gelombang longitudinal yang merambatkan energi gelombang di udara merupakan gelombang longitudinal yang merambatkan energi gelombang di udara sampai terdengar oleh reseptor pendengar. tong, senar, dan garpu tala mengeluarkan suara pada saat benda-benda tersebut bergetar.

Namun pada saat benda-benda itu diam, ketiga benda itu tidak

101

bersuara. Suara tersebut dikenal dengan bunyi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bunyi ditimbulkan oleh benda-benda yang bergetar. Bunyi garpu tala menuju telinga dihantarkan oleh rapatan dan regangan partikel-partikel udara. Pada waktu bunyi keluar dari garpu tala, langsung akan menumbuk molekul-molekul udara.

Molekul udara ini akan menumbuk udara di sebelahnya yang mengakibatkan terjadinya rapatan dan regangan, demikian seterusnya sampai ke telinga.

Molekul udara tidak berpindah, tetapi hanya merapat dan merenggang. Bunyi sampai di telinga karena merambat dalam bentuk gelombang. Gelombang yang tersusun dari rapatan dan regangan adalah gelombang longitudinal. Tanpa adanya medium atau zat perantara, bunyi tidak dapat merambat. Hal ini mengakibatkan bunyi termasuk jenis gelombang mekanis.

Begitu pula ketika kita mendengar bunyi akan dirambatkan ke telinga kita melalui udara. Jadi dapat disimpulkan bahwa bunyi dapat terdengar bila ada

1) sumber bunyi, 2) medium/zat perantara, dan 3) alat penerima/pendengar.

102

Ahli fisika bernama Miller melakukan percobaan untuk mengukur kecepatan bunyi di udara dengan menembakkan peluru sebagai sumber bunyi dan meletakkan detektor pada jarak tertentu. Pada percobaan tersebut, kecepatan bunyi tergantung pada temperatur. Semakin rendah suhu udara, maka semakin besar kecepatan bunyi. Hal ini yang menjelaskan mengapa pada malam hari bunyi terdengar lebih jelas daripada siang hari. Pada siang hari gelombang bunyi dibiaskan ke arah udara yang lebih panas (ke arah atas) karena suhu udara di permukaan bumi lebih dingin dibandingkan dengan udara pada bagian atasnya.

Berlawanan pada malam hari, gelombang bunyi dipantulkan ke arah yang lebih rendah karena suhu permukaan bumi lebih hangat dibandingkan dengan udara pada bagian atasnya.Selain dipengaruhi oleh suhu, cepat rambat bunyi di udara juga dipengaruhi oleh jenis medium.

a. Frekuensi Bunyi

Ketika guru menggetarkan penggaris di meja dengan getaran kurang dari 20 getaran per sekon, kita tidak dapat mendengar bunyi. Kita baru dapat mendengarkan bunyi

103

ketika penggaris menghasilkan 20 getaran per sekon atau lebih.

Berdasarkan frekuensinya, bunyi dibagi menjadi tiga, yaitu infrasonik, audiosonik, dan ultrasonik. Bunyi infrasonik memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz. Bunyi infrasonik hanya mampu didengar oleh hewan-hewan tertentu seperti jangkrik dan anjing. Bunyi yang memiliki frekuensi 20-20.000 Hz disebut audiosonik. Manusia dapat mendengar bunyi hanya pada kisaran ini. Bunyi dengan frekuensi di atas 20.000 Hz disebut ultrasonik. Kelelawar, lumba-lumba, dan anjing adalah contoh hewan yang dapat mendengar bunyi ultrasonik.

104

Anjing adalah salah satu contoh hewan yang mampu menangkap bunyi infrasonik, audiosonik, dan ultrasonik (kurang dari 20 Hz hingga 40.000 Hz). Anjing akan terbangun jika mendengar langkah kaki manusia walaupun sangat pelan. Hal ini menjadi alasan oleh sebagian orang untuk memanfaatkan anjing sebagai penjaga rumah. Selain anjing, kelelawar juga mampu memanfaatkan bunyi dengan baik. Kelelawar dapat mengeluarkan gelombang ultrasonik saat terbang. Pada malam hari, mata kelelawar mengalami disfungsi (pelemahan fungsi). Kelelawar menggunakan indra pendengarannya untuk “melihat”. Kelelawar mengeluarkan bunyi ultrasonik sebanyak mungkin.

Kemudian, kelelawar mendengarkan bunyi pantul tersebut untuk mengetahui letak suatu benda dengan tepat, sehingga kelelawar mampu terbang dalam keadaan gelap tanpa menabrak benda-benda di sekitarnya. Mekanisme untuk memahami keadaan lingkungan dengan bantuan bunyi pantul ini sering disebut dengan sistem ekolokasi.

b. Karakteristik Bunyi

1. Tinggi rendahnya dan kuat lemah bunyi

Pada orang dewasa, suara perempuan lebih tinggi dibandingkan suara laki-laki. Pita suara laki-laki yang bentuknya lebih panjang dan berat, mengakibatkan laki- laki memiliki nada dasar sebesar 125 Hz, sedangkan perempuan memiliki nada dasar satu oktaf (dua kali lipat) lebih tinggi, yaitu sekitar 250 Hz. Bunyi dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan telinga sakit dan

Dokumen terkait