• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

C. Pembahasan

aktif. Aktivitas guru juga mengalami peeningkatan, ini terlihat dari siklus I yang hanya mencapai 66,6% dengan kategori baik kini meningkat menjadi 95% dengan kategori sangat baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peneliti tidak perlu untuk melanjutkan ke siklus berikutnya.

4) Mendorong tumbuhnya motivasi instrinsik ( kesadaran individual) 5) Meningkatkan hubungan antar manusia yang heterogen

6) Meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah 7) Meningkatkan sikap anak yang positif terhadap guru 8) Meningkatkan harga diri anak

9) Meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif 10) Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.

Berdasarkan tindakan siklus ke siklus dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, proses belajar di dalam kelas berjalan dengan baik dan hasil penelitian ini telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah direncanakan. Hasil ini dapat dilihat dari siklus ke siklus pada siklus I tingkat keaktifan siswa hanya mencapai 48% dengan kategori kurang aktif, sedangkan pada aktivitas guru juga belum mencapai kategori sangat baik karena hanya mencapai 66,6% dengan kategori baik.

Pada siklus II sudah terlihat peningkatan keaktifan siswa dalam belajar dengan menggunakan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw. Kategori sangat aktif sudah di capai oleh siswa dengan persentase 89% dan peningkatan juga terlihat dari aktivitas guru yang juga meningkat menjadi 95% dengan kategori sangat baik.

Dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang telah peneliti lakukan telah memperoleh kesimpulan pelaksanaan pembelajaran muatan IPS dengan menerapkan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw

membawa dampak positif yang dapat meningkatkan aktifitas guru dan meningkatkan keaktifan belajar muatan IPS kelas IV di MI Al-Ikhlashiyah Perampuan kecamatan Labuapi tahun 2019/2020.

Agar dalam penulisan skripsi ini memenuhi persyaratan ilmiah dicantumkan pula daftar-daftar artikel rujukan yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu sebagai pijakan atau dasar penggunaan teorinya maka dalam penulisan skripsi ini menggunakan beberapa metode antara lain;

1. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan topic pembahasan tersebut penulis menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan data seunder, yakni dengan mengumpulkan jurnal-jurnal yang berhubungan atau yang relevan dengan judul yang diangkat oleh peneliti yaitu model pembelajaran koopratif tipe jigsaw, serta melibatkan teori-teori pendidikan yang akan dikomunikasikan dengan teori-teori model pembelajaran koopratif tipe jigsaw tersebut.

2. Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan perincian terhadap objek yang diteliti, atau cara penanganan terhadap objek ilmiah tertentu dengan jalan memilih

dan memilah antara pengertian satu dengan pengertian-pengertian yang lain, untuk sekedar memperoleh kejelasan mengenai halnya.31

Setelah data-data berhasil penulis kumpulkan, tahap selanjutnya adalah analisis data. Dalam tahap ini penulis menggunakan beberapa metode yang penulis anggap representif untuk menyelesaikan pembahasan penelitian ini, di antaranya:

1) Induktif

Merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum, pendekatan induktif dimulai dengan memberikan beberapa contoh kemudian mengambil keputusan yang bersifat umum.32

2) Deduktif

Pendekatan deduktif adalah salah satu pendekatan berdasarkan aturan-aturan yang disepakati. Deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.33

3) Interpretatif

Menginterpretasikan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa ke dalam makna normatif. Artinya untuk mengetahui model pembelajaran

31Sudarto. Metodologi Penelitian Filsafat (Raja Gralindo Persada: Jakarta. 1996) Hlm.

59.

32 Widodo Winarso. “Membangun Kemampuan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Melalui Pendekatan Induktif, Deduktif dan Induktif-Deduktif dalam Pembelajaran Matematika.”

Eduma Vol 3, No.2. Desember 2014. Hal. 101.

33 Ibid. Hlm. 102.

koopratif tipe jigsaw itu memiliki nilai yang baik atau buruk. Nilai itu didasarkan pada hukum atau norma obyektif dalam masyarakat.

4) Koopratif

Membandingkan beberapa model pembelajaran yang ada guna untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. Karena model pembelajaran koopratif memiliki bentuk yang fariatif, tentunya memerlukan interpretasi model pembelajaran koopratif tipe jigsaw tepat pada sasaran.

Dari pengamatan peneliti terdapat beberapa buah karya penelitian yang relevan yang mempunyai tema hampir sama diantaranya:

1. Jurnal yang ditulis oleh Yeni Masluchah dan H. Husnul Abdullah, jurusan PGSD, Universitas Negeri Surabaya, Volume 01 Nomor 02 Tahun 2013 dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Koopratif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar”. Dari penelitian yang di tulis oleh Yeni Masluch ini memiliki sintaks model pembelajaran koopratif tipe jigsaw yang menggambarkan kegiatan guru dalam proses beljar mengajar di antaranya:

a) Fase 1. Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan motivasi siswa belajar b) Fase 2. Guru menyampaikan kepada siswa dengan jalan

demonstrsi atau lewat bahan acuan.

c) Fase 3. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

d) Fase 4. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

e) Fase 5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang materi yang telah dipelajari masing-masing kelompok mempersentasikan hasil belajarnya.

f) Fase 6. Guru memberi cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompo

Dari fase pertama, guru menyampaikan tujuan pelajaran, hal tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa agar siswa mengetahui hal apa saja yang akan dilakukan dalam proses belajar mengajar.

Fase kedua sampai fase keenam tersebut sudah menunjukan langkah-langkah dari model pembelajaran koopratif tipe jigsaw.

Dalam penelitian ini membahas tentang bagaimana penerapan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw mengalami peningkatan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase aktifitas guru dalam tiga siklus mengalami peningkatan dari 17,25% pada siklus I menjadi 82,5% pada siklus

II, dan meningkat lagi menjadi 91,25% pada siklus keIII. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Pamotan 1 Sorong-Sidowarjo dapat berjalan dengan baik dan sudah mencapai keberhasilan yang di tetapkan yaitu 80%.34

2. Jurnal yang ditulis Suarjo, oleh PGSD FKIP Universitas Bengkulu ISSN 1693 8577, Tahun 2016 dengan judul “Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Teknik Berpikir, Berpasangan, Berbagi pada Mata Pelajaran PKN di Kelas IV SDN 07 Kabawen”. Dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini menjelaskan mengenai teknik berpikir yang digunakan dalam meningkatkan keaktifan siswa. Teknik yang digunakan yaitu berpikir.

berpasangan, dan berbagi, maka dapat ditarik kesimpulan “dalam menerapkan pendekatan siswa terhadap teknik berpikir, berpasangan, berbagi, dapat meningkatkan keaktifan dan partisipasi siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada hasil ketuntasan belajar klasikal yaitu siklus I mencapai 66,66%, dan nilai rata-rata 6,16, selanjutnya meningkat pada siklus II yaitu ketuntasan klasikal mencapai 83,33% dan nilai

34Yeni Masluchah dan H. Husni Abdullah, “Penerapan Model Pembelajaran Koopratif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”, Vol. 01, Nomor 02, Tahun 2013, h 9.

rata-rata 7,12, dan pada siklus III yaitu ketuntasan belajar klasikal mencapai 91,66% dan nilai rata-rata 8,022.35

3. Jurnal yang ditulis oleh Asep Saiful Alfazar dkk, Program Studi PGSD Kelas UPI Kampus Sumedang. Dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menemukan Kalimat Utama Pada Tiap Paragraf”

Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1 (2016). Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan permasalahan yang di tulis oleh peneliti, dalam rangka memperbaiki permasalahan yang terjadi di kelas IV B SDN Pasanggrahan 1 dengan pola pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya, penelitian pada pembelajaran bahasa Indonesia tentang materi menemukan kalimat utama pada tiap paragraf akan menerapkan model pembelajaran yang dapat melibatkan para siswa menjadi lebih aktif, memiliki kemampuan bekerjasama yang kuat, serta memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi pada saat pembelajaran.

Model pembelajaran yang mampu mengatasi permasalahan itu semua dan yang akan diterapkan pada saat pembelajaran di kelas adalah model pembelajaran jigsaw. Dalam penelitian ini terlihat bahwa pelaksanaan kinerja guru setelah diterapkan model

35Suarjo, oleh PGSD FKIP Universitas Bengkulu ISSN 1693 8577, Tahun 2016 dengan judul “Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Teknik Berpikir, Berpasangan, Berbagi pada Mata Pelajaran PKN di Kelas IV SDN 07 Kabawen”. Hal 265.

pembelajaran jigsaw mengalami peningkatan yang baik. Pada Siklus I hasil pelaksanaan kinerja guru mencapai 81%, kemudian pada Siklus II meningkat sebesar 12% sehingga pelaksanaan kinerja guru mencapai 93%. Setelah itu, pada Siklus III meningkat sebesar 7% sehingga pelaksanaan kinerja guru mencapai 100%.

Dengan demikian, pelaksanaan kinerja guru pada Siklus III telah mencapai target yang ditentukan yaitu 100% dan tidak memerlukan lagi perbaikan.

4. Jurnal yang ditulis Hanafi Pontoh dkk. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako, Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No.

11 ISSN 2354-614X. Dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Siswa Kelas V SD Inpres Salabenda Kecamatan Bunta.” Berdasarkan pengamatan penulis dalam kegiatan pelaksanaan proses belajar yang dilaksanakan di SD Inpres Salabenda pada siswa kelas V, khususnya pada mata pelajaran IPS terlihat bahwa guru cenderung menggunakan metode konvensional (berpusat pada guru) pada setiap pembelajaran yang dilakukan tanpa melibatkan siswa secara keseluruhan, guru hanya memberikan menjelaskan pokok materi pembelajaran dan memberi tugas-tugas rumah pada siswa sehingga siswa belum memahami dengan baik kompetensi materi pelajaran IPS. Hal tersebut

menyebabkan kurangnya keaktifan siswa untuk belajar dan akibatnya berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. Hal ini dapat terlihat pula pada nilai perolehan hasil belajar siswa yang masih dibawah standar ketuntasan belajar mengajar 60, sedangkan nilai KKM yang ditetapkan 70. Melihat fenomena tersebut maka peneliti mencoba menerapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, guna meningkatkan prestasi belajar IPS disetiap jenjang pendidikan. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif sangat cocok diterapkan pada pembelajaran IPS karena dalam mempelajari IPS tidak cukup hanya mengetahui dan menghafal konsep-konsep IPS tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan IPS dengan baik dan benar. Melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar pendapat, saling bekerja sama jika ada teman dalam kelompoknya yang mengalami kesulitan. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengkaji dan menguasai materi pelajaran IPS sehingga nantinya akan meningkatkan prestasi belajar mereka Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, memberikan informasi bahwa penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw merupakan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, ini

terlihat dari hasil pelaksanaan tindakan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Inpres Salabenda Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai.

Hasil tersebut dapat dilihat berdasarkan perolehan hasil belajar siswa yang meningkat. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa. Pada pelaksanaan siklus I, didapatkan ketuntasan belajar klasikal sebesar 65,79% dan daya serap klasikal sebesar 67,11% serta persentase nilai ratarata 67%.

Pada siklus II, ketuntasan belajar klasikal sebesar 86,84% serta daya serap kalsikal sebesar 73,8% serta persentase nilai rata-rata sebesar 73,82%.36

5. Jurnal yang ditulis oleh Annisa Fatin Dianah dkk. Universitas Negeri Malang, ISSN 1412-565 X, e-ISSN 2541-4135. Dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa.” Penelitian ini membahas tentang penggunaan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw, siswa dapat memusatkan perhatian kepada pembelajaran, sehingga pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat ditingkatkan, juga dapat membelajarkan keterampilan sosial. Metode penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif

36Hanafi Pontoh dkk. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako, Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 11 ISSN 2354- 614X. “Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Siswa Kelas V SD Inpres Salabenda Kecamatan Bunta.” Hal. 206-208.

dengan Lesson Study. Lesson Study merupakan suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru secara kolaboratif, dengan langkah-langkah pokok merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan, melaksanakan pembelajaran, mengamati pelaksanaan pembelajaran tersebut, serta melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji tersebut dan menyempurnakan dan merencanakan pembelajaran berikutnya.

Hasil dari penerapan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw yaitu dengan penggunaan berbagai teknik dalam strategi pembelajaran koopratif, diantaranya teknik pembelajaran jigsaw, siswa dapat memusatkan pembelajaran, sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik dan dapat menambah keterampilan sosialnya. Hal tersebut tampak dari adanya kerjasama antar siswa dalam teknik pembelajaran jigsaw sebagai upaya untuk memahami konsep dalam materi pelajaran. Dengan adanya kerjasama tersebut, akan melatih keterampilan siswa dalam hal bersosialisasi dengan teman-temannya dan juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya keaktifan belajar siswa. Hasil keberhasilan berdasarkan indikator keaktifan belajar dalam metode pembelajaran jigsaw di kelas XII IPS J 5 SMA Negeri 9 Malang yaitu, siswa dapat dikatakan aktif apabila menunjukkan 9 indikator keaktifan diantaranya: aktif dalam visual, oral (lisan), mendengarkan, melakukan percobaan (menarik), berpikir (mental),

dan emosional. Berdasarkan observasi kelompok peneliti terhadap siswa kelas XII IPS J 5 SMA Negeri 9 Malang dalam materi kesenjangan sosial, siswa menunjukkan setidaknya 7 tanda keaktifan belajar yang disebutkan oleh Paul D. Derich, diantaranya dalam kegiatan visual, dimana sebagian siswa mau memperhatikan dan membaca materi tentang kesenjangan sosial yang telah disampaikan oleh guru, sedangkan siswa yang lain masih ada yang bermain hand phone atau tidur. Dalam kegiatan oral hampir semua siswa aktif dalam berbicara mengenai materi yang disampaikan dalam kelompoknya dan menjelaskan materi yang telah dipelajari oleh kelompok asal ke dalam kelompok ahli, dimana siswa mengemukakan pendapatnya sendiri berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok asalnya masing-masing. Disisi lain indikator mendengarkan terlihat hanya sebagian siswa yang berantusias dalam mendengarkan materi dari kelompok ahli maupun oleh guru model, meskipun sebagian lagi masih ada yang bermain hand phone. Didalam indikator menulis juga demikian hanya sebagian siswa yang aktif menulis laporan tentang yang didapatkan dari diskusi kelompok ahli dan ada juga siswa yang masih bermain hand phone. Dalam kegiatan metrik keaktifan siswa semakin besar, indikator metrik ini terlihat saat siwa dari kelompok asal melakukan percobaan atau memilih gambar untuk dicocokkan dengan kolom-kolom kesenjangan sosial (picture and picture),

walaupun masih banyak jawaban yang salah, namun dalam indikator ini sudah terlihat indikator keaktifan dari siswa meningkat drastis karena hampir semua siswa ikut aktif dalam mencocokkan dan memberi masukan teman satu kelompok dalam memilih gambar-gambar yang cocok. Hal serupa juga terlihat dari kegiatan mental atau berpikir, karena diakhir kegiatan siswa mencocokkan gambar dengan kolom yang sesuai dengan materi kesenjangan sosial, siswa juga dapat menjelaskan dengan baik apa alasan mereka memilih menempel gambar dalam satu kolom, terlihat siswa juga antusias dalam melakukan analisis dan pemecahan masalah mengenai materi yang tengah disampaikan.

Dilihat dari kegiatan emosional siswa juga terlihat sangat senang dengan mata pelajaran sosiologi dengan menggunakan kolaboratif lesson study dan metode jigsaw karena selain menyenangkan juga membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan sustu persoalan yang disampaikan oleh guru model.37

37Annisa Fatin Dianah dkk. Universitas Negeri Malang, ISSN 1412-565 X, e-ISSN 2541- 4135. Dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa.” Hal. 201.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Keaktifan belajar siswa merupakan hal yang sangat penting karena dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana pemahaman seorang siswa tentang materi yang telah dipelajari.

Sebelum guru menerapkan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw, siswa di MI Al-Ikhlashiyah Perampuan khususnya kelas IV masih tergolong kurang aktif hal tersebut dikarenakan siswa hanya melihat dan mendengarkan guru tanpa ikut berpartisifasi untuk memperaktikkan materi pembelajaran. Kemudian setelah guru dan peneliti menerapkan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw maka keaktifan siswa mulai meningkat.

Hal tersebut dikarenakan siswa ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai data yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Mulai dari data yang diperoleh dari lembar observasi siswa dan guru maupun data yang didapatkan dari hasil evaluasi pada akhir pembelajaran.

Dari lembar observasi keaktifan siswa pada siklus pertama, peneliti mendapatkan skor sebanyak 35 skor dari 72 skor keseluruhan dengan presentase 48,6% pada kategori kurang terlaksna, kemudian mengalami peningkatan pada siklus ke II dengan skor 55 dari 72 skor keseluruhan dengan presentase sebesar 76% dengan kaagori terlaksana dengan sangat baik. Adaun lembar observasi aktifitas guru pada siklus pertama, peneliti

mendapatkan skor sebanyak 16 dari 24 skor keseluruhan dengan presentase sebesar 66,6% katagori terlaksana dengan baik, kemudian mengalami peningkatan pada siklus kedua menjadi 3 dari 24 skor keseluruhan dengan presentase 95% kategori terlaksana dengan sangat baik.

Dari data yang peneliti sajikan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi pekerjaan yang menghasilkan barang pada mata pelajaran IPS kelas IV di MI Al-Ikhlashiyah Perampuan sekarbela tahun pelajaran 2019/2020.

B. Saran

Adapun saran-saran yang dapat disampaikan sehubungan dengan hasil penelitian ini diantaraya yaitu:

1. Diharapkan kepada guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran koopratif tipe jigsaw dan metode permainan pada muatan IPS yang membutuhkan keaktifan dengan melibatkan siswa secara penuh dalam pembelajaran.

2. Diharapkan kepada guru agar memberikan kesempatan terhadap siswa agar dapat menjadi lebih aktif di dalam kelas.

3. Memberikan perhatian lebih kepada siswa yang kurang akif/fasip dalam proses pembelajaran.

4. Kepada pembaca yang ingin meneliti lebih lanjut diharapkan dapat mencoba sehingga akan menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

Ahmad Syarifuddin, Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Dalam Pembelajamn, Vol. XVI, Nomor 2, November 2011.

Asep Saiful, dkk. Penerapan Model Pcmbelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Menemukan Kalimat Utama pada Tiap Paragraf, Vol. 1, Nomor 1, 2016.

Bakhtiar, Strategi Belajar Mengajar Sains (IPA), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, 2015.

Daryanto, lnovasi Pembelajaran Efektif. Bandunng: Yiram Widya, 2013.

Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Dian Mutiah, Psikologi Bermain Anak Usia Dini, Jakarta: Prenada Media Grup, 2010.

Dony Borneo, Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Hasil Belajar Mata Diklat Sistem Injeksi Bahan Bakar Bensin pada Siswa Kelas XII TKR SMK Muhammadiyah Cengkareng Sleman Yogyakarta, Vol. 3, Nomor 1, Juni 2016.

Imami Nut Rachmawati, “Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif:

Wawancara”, Vol, 11, Nomor 1, Maret 2007.

Imas Kumiasih, Berlin Sani. Teknik dan Cara Mudah Membuat Penelitian Tindakan Kelas untuk Pengembangan Profesi Guru. Kata Pena, 2014.

Jumair, Penerapan Metode Jigsaw Guna Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Teknologi Dasar Otomotif, Vol 6, Nomor 1, Juni 2018.

Jumanta, Hamdayama, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter.

Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.

Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Makhbubi, dkk, FKIP UNS Surakarta. “Penggunaan Metode Permainan dalam Meningkatkan Pembelajaran PKN Siswa Kelas IV SDN 2 Jatimulyo, Kecamatan Petanahan, Tahun Aajaran 2011/2012, h. 2.

Medi Yanto, Jadi Guru Yang Jago Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta: ANDI, 2013.

Nugroho Wibowo, Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Pembelajaran Berdasarkan Gaya Belajar Di Smk Negeri 1 Saptosari, V01. 1, Nomor 2, Mei 2016.

Purwanto, Ngalim, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Raudatul Jannah, “Pengembangan Buku Ajar Tematik Bernunsa Islami untuk Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar”, Vol. 2, No. 1, Oktober 2016.

Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran, Lombok: Holistika Lombok, 2013.

Sualjo, Upaya menungkatkan keaktifan belajar dan prestasi belajar siswa malalui pendekatan teknik berpikir, berpasangan, berbagi pada mata palajaran PKN di kelas IV SDN 07 Kabawetan, Artikel PGSD FKIP Universitas Bengkulu, 2016.

Suarni, Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa pada Kompetensi Dasat Organisasi Pelajaran PKN Melalui Pendekatan Pembelajaran PAKEM Untuk Kelas IV SD Negeri 064988 Medan Johar T.A. 2014/2015, Jurnal Desember 2017.

Suharsimi, Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara:

2009.

Umar Tirtarahalja, Pengantar Pendidikan, PT Rineka Cipta: Jakarta,2017.

Ummi Rosyidah, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Viii Smp Negeri 6 Metro, Vol. 1, Nomor 2, Desember 2016. h. l 18.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I

Satuan Pendidikan : MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kelas / Semester : IV / 2

Muatan : IPS

Alokasi Waktu : 2x35 Menit A. KOMPETENSI INTI (KI)

KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.

KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.

KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca dan menanya) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.

KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak beriman dan berakhlak mulia.

B. KOMPETENSI DASAR (KD) IPS

3.3 Mengidentifikasi kegiatan ekonomi dan hubungannya dengan berbagai bidang pekerjaan serta kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekitar sampai provinsi.

4.3 Menyajikan hasil identifikasi kegiatan ekonomi dan hubungannya dengan berbagai bidang pekerjaan, serta kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekitar sampai provinsi.

Indikator :

Dalam dokumen penerapan model pembelajaran koopratif tipe (Halaman 71-118)

Dokumen terkait