• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan hasil Penelitian

Dalam dokumen INTERNALISASI MAKNA PESAN MORAL BATTI (Halaman 62-73)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan hasil Penelitian

51

“Berpaling kepada yang lain”

52

ingatan penting bagi sebuah kelompok masyarakat secara kolektif, termasuk nilai-nilai bagi sebuah kelompok masyarakat. Lagu menjadi bentuk pewarisan paling bertahan dari sebuah kearifan hidup kelompok masyarakat. Kleden (2006:29) juga mengatakan bahwa banyak orang yang sungguh-sungguh tergerak hatinya untuk mengamalkan sebuah pesan moral bukan dari ceramah atau khotbah, namun justru menemukannya setelah menikmati karya seni seperti syair dalam pantun yang berbentuk nyanyian.

Pernyataan Kleden di atas memperkuat keyakinan peneliti bahwa budaya dalam sastra lisan berbalas pantun batti’-batti’ diatas merupakan media yang tepat untuk pewarisan nilai-nilai karakter yang ada yang pada masyarakat Kepulauan Selayar. Penuturan pesan moral nilai-nilai karakter melalui karya sastra dianggap lebih mengena dalam ingatan masyarakat, khususnya bagi peserta didik pada berbagai tingkatan pendidikan formal.

Dengan menelaah lebih dalam syair dalam dari batti’-batti’ telah mengandung pesan yang penting bagi kehidupan masyarakat Kepulauan Selayar ada beberapa nilai-nilai hidup yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Kepulauan Selayar yang perlu dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai tersebut membentuk karakter khas masyarakat Selayar diantaranya:

1. Nilai Sosial Budaya.

Budaya batti’-batti’ dalam masyarakat Kepulauan Selayar di Desa Padang, dapat terbentuk karena adanya rasa kepedulian masyarakat terhadap suatu kebiasaan dan adat istiadat. Kebiasaan atau budaya ini

53

masih terus dijaga sampai sekarang, pelestarian kebudayaan ini dapat dilihat dari penggunaan dan fungsinya dalam sistem nilai budaya yang berkembang di masyarakat. Dilihat dari penggunaannya batti’-batti’ ini dipentaskan saat adanya penyambutan-penyambutan tamu terhomat, upacara pernikahan, dan acara-acara adat lainnya, dari segi pementasannya masih menggunakan alat musik gambus dan rebana yang dibuat langsung oleh masyarakat kepulauan Selayar, salah satu keunikan yang terdapat pada alat musik gambus pengiring kelong batti’-batti’ ialah pada ujung pegangan gambus sengaja diberi cermin kecil kegunaanya agar pemain gambus ini dapat meihat wajah penyanyi meskipun saling berhadapan.

Inilah salah satu cara untuk melihat penyanyi perempuan.

Nilai-nilai budaya adalah pengetahuan dari sistem nilai dan sikap atau tingkah laku, yang mana kedua corak ini menyebabkan timbulnya cara berpikir tertentu, dan sebaliknya corak pemikiran ini yang memberi kesan tindakan dan tingkah laku dari segi membuat keputusan penting dalam kehidupan (Sayogyo dan Pudjiwati: 1992). Budaya merupakan suatu amalan atau gaya hidup serta corak yang turut membibitkan kepercayaan suatu masyarakat pada sesuatu ketika. Peredaran masa boleh mengakibatkan berlakunya perubahan gaya atau corak pemikiran.

Kebudayaan merupakan sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai

“superoganik” (Gershenhorn, 2004). Budaya sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh untuk mentafsirkan pengalaman dan menjaga tingkah laku

54

sosial, budaya juga merupakan gabungan kompleks daripada andaiaan, tingkah laku, cerita, mitos, metafora, dan berbagai ide-ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa artinya menjadi ahli komuniti tertentu.

Budaya juga merupakan sumber etika sememangnya selalu dikaitkan dengan masa, yang bermaksud bahwa banyak daripada budaya sebenar adalah budaya daripada masyarakat.

Syair yang terdapat dalam salah satu kelong yang berjudul

“Rambang Pulo” berikut, sebenarnya merupakan pesan kepada seorang lelaki dari wanita pujaan hatinya untuk selalu menjaga adab, nama baik kampung halaman, serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dengan menjaga adat kebiasaan yang menggambarkan nilai sosial budaya dalam masyarakat Selayar. Selain memiliki makna dan menunjuk pada diri personal seorang saudara, makna syair dalam batti’-batti’ juga dapat mempengaruhi kehidupan berkeluarga dikarenakan pada syair dari kelong batti’-batti’ terdapat implementasi meminta pendapat dan meminta persetujuan dari keluarga besar.

“Rambang Pulo”

L: “Ampa mami kupau aringk”

“Maingmu kusuro kana”

“Kupattunraa-tundraang aringku 2x”

“Ammaling simata jarung”

Terjemahan: “Apa yang sudah kukatakan”

“Tidak akan kuulangi lagi”

55

“Ku bersumpah”

“Pantang berpaling kepada yang lain”

P: “Teteng jarreppi japputta daengku”

“Ampa maingmu rip au”

“Rikatutui. Rikatutui daengku”

“Atorang kabakkakangta”

Terjemahan: “Pegang teguh kakakku”

“Apa yang sudah kau katakana”

“Jagalah”

“Adat kebiasaanta”

2. Nilai Komunikasi

Komunikasi tidak hanya sebatas pada konseptualisasi satu arah, melainkan juga dapat sebagai suatu proses interaksi (dua arah), atau transaksi. Komunikasi yang efektif dapat ditandai dengan makna yang diterima oleh komunikan sama dengan makna pesan yang disampaikan komunikator. Salah satu prinsik komunikasi adalah semakin mirip latar belakang sosial-budaya maka semakin efektiflah komunikasi, dikutip dalam jurnal (Mulyana, D., & Rakhmat, J: 1990).

Pada pelaksanaannya pantun yang diucapkan oleh pemain batti’- batti’ diucapkan saling bergantian antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Dengan saling berbalas pantun bisa tersampaikan perasaan hati laki-laki ke seorang perempuan yang di incarnya untuk bisa menjaga hatinya dan meyakinkannya akan kesetiaan laki-laki begitupun sebaliknya

56

oleh penyanyi perempuan juga membalas sesuai dengan isi hatinya yang awalnya tidak begitu yakin akan hal yang diungkapkan oleh penyanyi laki- laki. Cara berkomunikasi ini seperti halnya berbalas pantun dalam bentuk nyanyian dengan diiringi alat musik gambus. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi dan atau mengubah informasi yang dimiliki serta tigkah laku orang yang menerima pesan tersebut. Hal ini seiring dengan pelaksanaan batti’batti’, syair yang dinyanyikan saling bergantian antara penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan. Berikut syair kelong yang menggambarkan tentang nilai komunikasi yang terjalin dengan saling berbalas lagu antara penyanyi laki-laki dan perempuan, berikut liriknya:

“Mando-Mando”

L: Era tabe’kang riolo ari’

Ria’rakang la’biritta

Ngera tabe’kang riolo ria’rakang la’biritta Kalamange tongkang

Tappadongko’ Kamaseba Latakellaimu kelong ari’

Bulaeng ria’rakangmba Barang narie’

Kelong natakarannuang

Terjemahan: Izinkan kami terlebih dahulu Di depan anda semua

Izinka kami terlebih Dahulu di depan anda semua

57

Mempersembahkan Persembahan sederhana Kami mempersembahkan lagu Dihadapan hadirin

Jikalau ada

Lagu yang menyenangkan P: Ngura gele latabali daeng

Naporo kelongta jua Namanna kelong

Ngura gele latabali daeng Naporo kelongta jua Namanna kelong Passitulung ngase’jua.

Terjemahan: Kenapa kami tidak akan membalasnya

Padahal hanya sebuah lagu

Kenapa kami tidak akan membalasanya Padahal hanya sebuah lagu

Walaupun hanya lagu jika itu dapat membantu L: Rannukang na surang rannu ari’

Kalabalimu kelongta Bisanna bali

Rannukang na surang rannu Kalabalimu kelongba

58

Bisanna bali nalabali pa’risi’ku

Terjemahan: Kami senang dan bahagia adikku

Karena lagu kami sudah dibalas Mudah-mudahan

Kami senang dan bahagia Karena lagu kami sudah dibalas

Mudah-mudahan bisa terobati kesedihanku 3. Nilai Saling Menghargai

Nilai saling menghargai adalah sikap yang diperlihatkan oleh pemain batti-’batti’ yakni, sikap yang menjunjung tinggi tali persaudaan dan saling menghargai, hal ini terlihat dari cara duduknya yang saling berhadapan, dapat juga dilihat dalam kebiasaan pemain gambus yang memasang cermin di ujung pegangan senar gambusnya gunanya untuk melirik penyanyi wanita tanpa menatapnya langsung meskipun mereka saling berhadapan. Itu merupakan salah satu sikap menghargai pada perempuan denagn tidak melihatnya secara langsung. Karena pada saat itu bertatap muka secara langsung merupakan sebuah hal yang tabuh, sikap saling menghargai ini biasa juga kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Contohnya, pada saat acara pernikahan para petinggi di Desa tersebut senantiasa menyambut para tamu yang datang dengan suka rela dan tidak membedakan tamu yang datang.

Niali saling menghargai menurut pemaparan (Widyaningsih, 2014) juga merupakan nilai karakter dalam hubungan dengan sesama yang

59

ditanamkan pada semua masyarakat. Nilai saling menghargai juga merupakan nilai sangat pennting dalam membangun interaksi, Karena dalam interaksi diperlukan sikap saing menghargai sehingga interaksi dapat berjalan harmonis dalam suasana yang kondusif. Saling menghargai ini sangat diperlukan dalam pergaulan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan berbagai ragam latar belakang pendidikan. Berikut lirik yang menggambarkan tentang nilai saling menghargai:

L: Maeki bulo sipappa’ andile Maeki munte sibatu

Maeki munte sibatu siana’

Assamaturu’ 2x

Ya sijauh malam, anggeokang kabajikang Terjemahan: Marilah kita bersatu adik

Marilah kita bersama

Marilah kita bersama saudara Bersatu padu

Ya sijauh mala, menuju kebahagiaan P: Passituru’-turu’ inni daelle’

Singai sila’biri Singai sila’biri siana’

Sukku’ baji’na2x

Ya sijai mala, laripassamaturuki

60

Terjemahan: Rukun dalam kebersamaan

Saling menghargai

Saling menghargai saudara Alangkah indahnya

Si jauh malam, jika kita jaga 4. Nilai Harmonisasi

Niali harmonisasi, dimana penyanyi wanita secara bergantian menyampaikan syair kelong yang mereka bawakan dengan tidak saling mengejek dalam syair, dan dibalas oleh penyanyi laki-laki secara baik pula tanpa membanding-bandingkan para penyanyi wanita. Kekompakan ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari diantaranya saling bekerja sama dan hidup selalu rukun, membangun Desa, contohnya pada saat panen, upacara pa’dinging-dinging, acara adat, serta acara pernikahan dan penyambutan tamu.

Dalam jurnal (Nurcahyono: 2018) Terciptanya sebuah harmonisasi dalam masyarakat Kepulauan Selayar dapat memberikan daya tarik tersendiri untuk dilihat dan dikaji lebih mendalam dikarenakan banyaknya ragam budaya yang ada dengan luas wilayah tidak begitu besar akan tetapi memiliki kebudayaan berbeda di setiap daerah. Dalam jurnal (Herni Sari BN: 2020) menemukakan bahwa, harmonisasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata “harmonia” yang artinya terikat secara serasi dan sesuai, istilah harmonisasi secara etimologis berasal dari kata dasar harmoni, menunjuk pada proses yang bermula dari suatu upaya, untuk menuju atau merealisasi

61

sistem harmoni. Istilah harmoni juga diartikan keselarsan, kecocokan, keseharian, keseimbangan yang menyenangkan. Berikut adalah lirik kelong batti’-batti’ yang mengandung makna nilai harmonisasi dalam suatu hubungan kisah asmara antara pasangan laki-laki dan perempuan, dalam kehidupan masyarakat Selayar berikut:

“Rambang Pulo”

L: So’dina sungke-sungkeang aringku Kusungkeangko nyahaku

Lamujanjangi2x aringku Pamallang pagaliaku

Terjemahan: Seandainya bisa dibuka adikku

Kubukakanlah nyawaku Akan kamu lihat adikku Mau tidaknya aku P: Kappakonjomi pauta daengku

A’ ra’na jo’jo atingta Pauki se’re 2x daengku 2x Laripassama turuki

Terjemahan: Karena itu yang engkau katakan

Yang ada dihatimu Tetapkan satu kata Agar kita bersatu

62 BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang sosiologi sastra dalam penelitian maka akan disimpulkan bahwa kelong batti’-batti’ adalah kesenian tradisional yang berupa lantunan-lantunan khas kabupaten Kepulauan Selayar yang dinyanyikan oleh laki-laki dan perempuan secara bersahut-sahutan atau seperti berbalas pantun dalam bentuk nyanyian yang secara spontanitas dan diiringi alat musik gambus dan rebana khas Kepulauan Selayar. Pesan moral dalam batti’-batti’ sangat mementingkan adat istiadat dan kebiasaan meskipun banyak hal yang harus dipertaruhkan sekalipun itu tentang cinta dan kasih sayang menjadi imbasnya. Penelitian karya ilmiah ini ditemukan tiga data yang termaksud dalam jenis pesan moral yang terdapat pada lirik kelong batti’-batti’, yaitu mementingkan adat adat kebiasaan, bersikap ramah, lemah lembut, saling menghargai, dan saling menyayangi.

Meskipun terkesan banyak mengandung unsur humor dan kisah asmara, kalimat atau lirik didalamnya banyak mengandung peribahasa dan kalimat bijak yang mengandung unsur nilai karakter pada masyaarakat. (1) nilai sosial budaya, pada pelaksanan acara-acara adat ataupun pementasan adat batti’-batti’ sering dipentaskan, (2) nilai komunikasi, saat pakelong perempuan dan laki-laki saling berbalas syair lagu yang mereka bawakan, (3) nilai saling menghargai, meskipun saling berhadapan pemain gambus tidak

63

langsung menatap kearah pakelong wanita untuk menjauhkan pikiran-pikiran buruk dari penonton tapi cara meliriknya dengan menggunakan cermin yang di tempelkan pada ujung pegangan gambus si pemain, dan (4) nilai harmonisasi, dilihat pada raut wajah dan harmonisasi yang ditampilkan penyanyi perempuan dan laki-laki serta si pemain alat musiknya sangat baik, dan juga dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari para pemain batti’-batti’

saling tetap menjaga silaturahmi.

Pengaplikasian nilai-nilai karakter pada masyarakat Kepulauan Selayar dapat ditinjau dan dilihat dari berbagai aspek diantaranya yaitu startifikasi sosial, sistem keberagaman alam religi dan mitologi, dan bahasa serta kesenian. Stratifikasi sosial secara umum, adalah bagian dari sistem pelapisan sosial pada masyarakat bugis Makassar. Secara historis masyarakat Selayar sudah lama mengenal stratifikasi sosial berdasarkan keturunan seperti Opu atau karaeng (keluarga karaeng), panrita (cendikiawan tradisional), ata atau pasompo-sompo poke (keturunan pengawal opu atau karaeng yang bersenjatakan tombak). Sistem kekerabatan yang berlaku di Selayar adlah sistem bilateral (parental). Oleh karena itu, hubungan kekeluargaan seseorang dapat ditelusuri melalui dua jalur, yakni melalui garis keturunan ayah maupun ibu. Pengaplikasian nilai komunikasi dapat dilihat segi bahasa suku Selayar, bahasa Selayar diketahui memiliki hubungan dengan bahasa Konjo pesisir yang dipakai di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Batti’-batti’

merupakan kesenian berbahasa Selayar yang disampaikan oleh dua orang secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan, dengan cara berbalas

64

pantun akan tetapi dalam bentuk nyanyian, selain komunikasi dalam bentuk lagu, komunikasi yang paling sering dilakukan dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Kepulauan Selayar yang menjalin komunikasi serta silaturahmi dalam setiap aktifitassnya bahkan akan terus terjalin sampai dilaksanakannya acara-acara adat ataupun upacara-upacara adat seperti manca’ pa’dang, a’tojeng, a’dinging-dinging kampong dan lainnya. Dalam tradisi manca’ pa’dang kita dapat melihat nilai saling menghargai, seperti hallnya dalam pementasan pagelaran manca’ pa’dang akan diiringi oleh berbagai jenis alat music seperti seruling, gong, rencong-rencong dan sebagainya, alat music ini biasanya dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar sampai menengah pertama dan yang memainkan manca’ pa’dang dimainkan oleh orang tua ataupun sepuh dari daerah tersebut, dapat tergambar antara pemain musik dan pemian manca’ pa’dang sikap saling menghargai dan sikap harmonisasi mereka jalin sangat baik, sehingga berlangsung lah pagelaran adat manca’ pa’dang.

B. Saran

1. Bagi mahasiswa diharapkan dapat menelaah dan meneliti pesan moral serta nilai-nilai karalter dalam karya sastra lama batti’-batti’ dengan objek penelitian formal menggunakan metode kajian yang berbeda sebagai wujud pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia.

2. Bagi peneliti selanjutnya, agar dapat bahan referensi bagi peneliti yang ingin meneliti topic penelitian yang revelan dengan penelitian ini.

65

3. Bagi pembaca diharapkan dapat memahami dan mengambil pelajaran dari hasil penelitian untuk mengetahui nilai-nilai karakter dan pesan moral dalam masyarakat yang terdapat dalam batti’batti.

66

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadin, A. 2016. “Warisan Budaya Orang Selayar” (Menggugat Esistensi Atas Nama Identitas). “Jurnal Jaffray, 4(1), 7-15.

Amir, R 2017. Jurnal “Membangun Karakter Dalam Perayaan Budaya Lokal di Kabupaten Takalar”. Publikasi Pendidikan.

Arifuddin dan Seabani 2009. “Metode Penelitian Kualitatif”. Bandung: Pustaka Setia.

Danadjaja dan James 2002. “Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, dan Dongeng”.

Jakarta: Grafitiperss.

Dopo, F, dan Bakti, S.C. 2019. Jurnal “Pesan Moral Dalam Folk Song Seu Uzi Pada Budaya Masyarakat Ngada, Flores, NTT”.

Elita Sartika 2014 “Analisis Kualitatif Pesan Moral Dalam Film Berjudul KitaVersusu Korupsi”. Universitas Mulawarman.

Endraswara, S. 2018. “Antropologi Sasta Lisan: Prspektif, Teori, dan Praktik Pengkajian” Indonesia: Yayasan Pustaka Obor.

Faruk, H.T 2010 “Pengantar Sosiologi Sastra: Dari Satrukturalisme Genetik Sampai Postmodernisme” Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Finnegan, 1992. “Oral Poetry Is Nature Significance and Social Contekts”.

Cambridgey University.

Gershenhorn, Jerry. 2004. “Melville J. Herskovits and the Raical Politics of Knowledge. Nabraska, USA: Universitas of Nabraska pers.

Hutomo dalam Didipu, 2011. “Sastra Daerah Kontenporer Penelitian dan Pengkajian”. Gorontalo: UNG

Ilham, M. 2019. Jurnal: “Budaya Sigorai Dalam Masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, Kecamatan Bontomatene, Desa Tanete”: Doctoral Dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Jabrohim 2017 “Teori Penelitian Sastra” Celeban Timur Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 2016. https://id.m.wikipedia.org.

67

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Kab.Kep. Selayar 2018 “Penetapan Kelong Batti’-Batti: Warisan dan Diplomasi Budaya”.

[email protected].

Ki Hajar Dewantara, 2012. “Studi Budaya di Indonesia”. Dalam Nuraeni, H. G.

Pustaka Setia Bandung.

Kleden, P.B. 2006. “Membongkar Derita”: Ledalero: Maumere.

Koentjaraningrat 1990 “Pengantar Ilmu Antropologi”. Rineka Cipta: Jakarta Saputri, M. E. (2020). Wawancara.

Lafamane, F. 2020. “Karya Sastra Puisi, Prosa, dan Drama).

Lethans, Fred. 2006. “Perilaku Organisasi”. Yogyakarta: Penerbit Andi, edisi kesepuluh, Terjemahan.

Liza, Z. N. & Harun, M. 2018. Jurnal “Analisis Pesan Moral Berdasarkan Stratifikasi Sosial Tokoh Dalam Novel-Novel Karya Arafah Nur” Master Bahasa.

Nurcahyono, O.H., & Astutik, D. 2018. “Harmonisasi Adat Suku Tengger (Analisis Keberadaan Modal Sosial Proses Harmonisasi Pada Masyarakat Adat Suku Tengger, Desa Tosari, Pasuruan Jawa Timur). Dialektika Mayarakat: Jurnal Sosiologi.

Marwiah, M. dan Akhir, M. 2020. “Defelopmen Of Model Teaching Materials For Bugis Makassar Regional Languages Based On Angngaru Local Wisdom”. e- prasidhing hiski.

Mattualada 1975. “Suatu Lukisan Analisis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis”. Universitas Indonesia.

Mahsun 2012. “Metode Penelitian Bahasa”. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.

Mulyana, D., & Rakhmat, J. 1990. “Jurnal, Komunikasi Antar Budaya”. Remaja Rosdakarya.

Nisya, R.K. dan Nurazizah, I. 2019. “Struktur dan Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Novel In to The Magic Shop” karya James, R. Doty “Jurnal Pendidikan Kebahasaan, dan Kesastraan Indonesia”.

Nugiyantoro, B. 2009. “Teori Pengkajian Fiksi”. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Nuraeni. H. G. 2013. “Studi Budaya Di Indonesia”. Pustaka Setia Bandung.

68

Ratna N. K. 2017. “Statistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budasay”.

Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Rahayu. I. 2014. “Analisis Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta ToerDengan Pendekatan Mimetik". Deiki” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Rahman dan Siti. 2003. “Sastra Lisan, Aktualisasi, Eksistens, dan Transformasi Hasil Budaya Masa Lampau”. Solo: UTM Perss.

Rahman, M.N, 2014. “Dakwah Retoris Dalam Karya Sastra Novel Habibi dan Ainun”. Deiki, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sari H, 2020. “Jurnal Dinamika Sosial Budaya, “Pengharmonisasian Rancanga Peraturan Daerah Insiantif Eksekutif Hukum dan Hak Asasi Manusia”.

Semarang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Semarang.

Sayogyo dan Pudjiwati. 1992. “Sosiologi Pedesaan: Kumpulan Bacaan”.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumardjo, dkk, K.M. 1994. “Apresiasi Kesusastraan”. Jakarta: PT. Gramedia Utama.

Susanto, Herry.E. 2009. “Komunikas Politik dan Otonomi Daerah”. Jakarta:

Grafindo Persada.

Sutarto, 2004. “Studi Pemetaan Kebudayaan”. Jawa Timur: Universitas Jember.

Sudaryanto1993 “Metode Penelitian Bahasa”. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada.

Syahruna, A.R., Yusoff, R.M., dan Amin, M. 2014. Jurnal: “Peranan Budaya Tudang Sipulung/ Appalili dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bergesernya Nilai Budaya Pertanian di Sulawesi Selatan”:

SOSIOHUMANIKA, 7(2).

Teeuw A. 2017. “Sastra dan Ilmu Sastra”. Bandung, Dunia Pustaka Jaya.

Vansina. 1985. “Tradisi Lisan Sbagai Sejarah Terjemah” Oleh Astrid, Reza, dkk.

2014. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Wahyudi. T. 2013. Sosiologi Sastra Alan Swingeward Sebuah Teori”. Jurnal Peotika.

69

Widyaningsih, T.S., Zamroni, Z. & Zuchdi, D. 2014. “Intrnalisasi dan Aktualisasi Nilai-nilai Karakter Pada Siswa SMP Dalam Perspektif Fenomenologis”

Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi.

70

LAMPIRAN

71

KORPUS DATA

72

73

74

Dalam dokumen INTERNALISASI MAKNA PESAN MORAL BATTI (Halaman 62-73)

Dokumen terkait