BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
efektif pada peserta didik.66 Pembelajaran yang tidak melibatkan peserta didik secara langsung, pembelajaran yang tidak menuntun peserta didik untuk memecahkan permasalahan, dan inti dari permasalahan rendahnya keterampilan proses sains peserta didik diakibatkan oleh daya tarik belajar peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran kurang baik di masa pandemi.67
Kemampuan KPS awal peserta didik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen pada setiap indikator berada pada kategori rendah. Pertama pada indikator mengamati pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 40,00% dan 53,70%.
Kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini dikarenakan peserta didik hanya perlu mengoptimalkan alat indra untuk mengukur benda yang diamati, sehingga sebagian besar peserta didik kedua kelompok tersebut mampu melakukan pengamatan terkait gambar atau video yang disajikan.
Kedua pada indikator klasifikasi pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 46,67% dan 48,15%. Kelas eksperimen lebih besar sedikit daripada kelas kontrol. Hampir setengah dari perkelas sudah mengetahui beberapa karakteristik mengenai kalor dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pada soal perubahan wujud zat peserta didik diminta untuk menentukan perubahan wujud zat mencair dan mengembun. Peristiwa yang disajikan juga berdasarkan aktifitas yang ada dikehidupan sehari-hari. Sehingga setengah peserta didik mampu menjawab soal indikator klasifikasi.
Ketiga pada indikator interpretasi pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 43,33% dan 27,78%. Terdapat perbedaan nilai rata-rata yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Faktor yang memengaruhi
66 Ely Rusliati, Rita Retnowati, Inkuiri Terbimbing Pada Laboratorium Virtual Dan Rill Untuk Membangun Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Proses Sains, Journal of Science Education and Practice, Vol. 3, No. 2, 2019, h. 49.
67 Akmal, Peningkatan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Model Problem-Based Learning pada Konsep Mutasi Kelas IPA 3 SMA Negeri 2 Sidrap, Jurnal Biology Teaching and Learning, Vol. 2, No 1, Juni 2019, h. 3.
rendahnya tingkat interpretasi yaitu peserta didik kurang cermat dalam menghubungkan hasil pengamatan.
Keempat pada indikator prediksi/meramalkan pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 46,67% dan 24,07%. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada aspek prediksi. Hal ini terjadi karena untuk melakukan prediksi, peserta didik dituntut untuk memahami data yang ada agar prediksi yang dilakukan akurat. Peserta didik kelas eksperimen kurang memahami data yang ada sehingga tidak mampu membuat prediksi yang akurat.
Kelima pada indikator mengajukan pertanyaan pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 40,00% dan 44,44%. Kelas kontrol dan kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata yang hampir sama. Pertanyaan yang diajukan untuk meminta penjelasan, seperti pada soal perpindahan kalor peserta didik hanya menjelaskan perpindahan kalor yang lebih cepat antara spatula berbahan kayu dengan spatula berbahan alumunium.
Keenam pada indikator berhipotesis pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 30,00% dan 25,93%. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rendahnya indikator hipotesis dikarenakan belum banyak peserta didik yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai materi kalor dan perpindahan kalor ini sehingga hanya sedikir peserta didik yang mampu menjawab atau membuat dugaan sementara.
Ketujuh pada indikator merencanakan percobaan pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 26,67% dan 24,07%. Rendahnya indikator merencanakan percobaan karena peserta didik belum mengetahui mengenai percobaan yang akan dilakukan sehingga nilai pretest indikator merencanakan percobaan tergolong rendah.
Kedelapan pada indikator menerapkan konsep pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 30,00% dan 14,81%. Rendahnya indikator menerapkan konsep pada nilai pretest dikarenakan peserta didik belum diajarkan mengenai prinsip-prinsip fisika
untuk kehidupan sehari-hari pada materi kalor dan perpindahan kalor. Sehingga peserta didik belum bisa menjawab soal yang tidak diberikan.
Kesembilan pada indikator berkomunikasi pada kelas kontrol dan eksperimen mendapatkan nilai 36,67% dan 20,37%. Rendahnya indikator komunikasi dikarenakan masih banyak peserta didik yang belum mampu membaca grafik atau interpretasikan grafik menjadi kalimat. Sehingga peserta didik belum mampu menjawab soal dari indikator berkomunikasi dengan tepat.
Pada saat pembelajaran berlangsung kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran konvensional berupa pendekatan saintifik, sedangkan pada kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran menggunakan e-modul berbasis pendekatan saintifik. Kondisi keterampilan proses sains peserta didik setelah diberikan perlakuan cenderung mengalami peningkatan. Berikut indikator keterampilan proses sains mengalami peningkatan pada setiap indikatornya.
Pertama, pada indikator mengamati nilai rata-rata pretest pada kelas kontrol sebesar 40,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 53,7%. Hasil rata-rata posttest pada kelas kontrol sebesar 70,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 87,04. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, sebelum diberikan perlakuan kelas eksperimen cenderung memiliki nilai yang relatif besar daripada kelas kontrol dan setelah diberikan perlakuan E-modul berbasis keterampilan proses sains, kelas eksperimen memperoleh yang relatif meningkat. Pada indikator mengamati, mengalami peningkatan pada peserta didik ketika diberikan perlakuan mengamati video pemuaian rel kereta api, mengamati proses terjadinya perubahan wujud zat, dan mengamati proses terjadinya perpindahan kalor secara konduksi. Peserta didik mampu mengetahui faktor yang memengaruhi perpindahan kalor pada video proses perpindahan kalor secara konduksi. Hal ini sesusai dengan pernyataan Conny
Semiawan bahwa mengembangkan indikator mengamati yaitu dengan menggunakan panca indra sebanyak mungkin.68
Kedua, aspek mengelompokkan nilai rata-rata pretest pada kelas kontrol sebesar 46,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 48,15%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 80,00% sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 75,93%.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, sebelum diberikan perlakuan kelas eksperimen cenderung memiliki nilai yang relatif kecil daripada kelas kontrol, akan tetapi pada nilai rata-rata posttest kelas kontrol lebih besar daripada kelas eksperimen.
Hal tersebut dikarenakan pada kelas kontrol mendapatkan perlakuan yaitu masing- masing peserta didik diberikan tugas mengklasifikasikan pemuaian, perubahan wujud zat, dan perpindahan kalor dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan pernyataan Rustaman pengelompokkan mencakup mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.69
Ketiga, indikator interpretasi nilai rata-rata pretest pada kelas kontrol sebesar 43,33%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 27,78%. Hasil rata-rata posttest pada kelas kontrol sebesar 61,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 66,67%.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, kedua kelas mengalami peningkatan, tetepi pada hasil rata-rata posettest kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih besar. Hal tersebut sesuai dengan perlakuan pada kelas eksperimen yang mana di dalam e-modul berbasis pendekatan saintifik terdapat scane mengenai simulasi percobaan. Peserta didik dilatih untuk menginterpretasikan data yang didapatkan dari hasil simulasi percobaan.
Keempat, indikator prediksi nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 46,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 24,07%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 66,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 64,82%. Berdasarkan data
68 Conny Semiawan, Pendekatan Keterampilan Proses, (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), h. 19.
69 Nuryani Y. Rustaman, dkk., Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: UM Press, 2005), h. 80.
tersebut dapat diketahui bahwa, kedua kelas mengalami peningkatan. Hasil rata-rata posttest kelas kontrol lebih besar sedikit daripada kelas eksperimen. Hal tersebut dikarenakan kedua kelas sama-sama dilatih untuk memprediksi, contohnya disajikan benda yang berukuran sama tetapi dengan bahan yang berbeda yaitu alumunium dan besi, peserta didik diperintahkan untuk memprediksi benda manakah yang akan mengalami pemuaian yang lebih besar. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rustaman bahwa meningkatkan indikator prediksi mampi mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan kecenderungan yang sering terjadi.70
Kelima, indikator mengajukan pertanyaan nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 40,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 44,44%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 68,33%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 75,93%. Kedua kelas mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan, nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol karena dalam e-modul android seluruh peserta didik dilatih untuk mengajukan pertanyaan setelah mengamati video yang telah disajikan. Contoh pertanyaan yang diajukan peserta didik seperti “Apakah pertambahan panjang setiap rel kereta api sama besar?”.
Keenam, aspek berhipotesis nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 30,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 25,93%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 60,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 70,37% Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, kelas eksperimen mengalami peningkatan nilai yang signifikan pada aspek berhipotesis. Hal tersebut sesuai dengan perlakuan yang ada di e-modul berbasis pendekatan saintifik, peserta didik dilatih untuk membuat hipotesis atau dugaan sementara. Contohnya disajikan kasus “Ibu ingin mengetahui besarnya perubahan suhu pada air dan minyak goreng, jika dipanaskan pada waktu yang bersamaan dan massa keduanya sama besar. Kalor jenis air dan minyak goreng yaitu 4200 J/kgoC dan 2200 J/kgoC.
70 Loc. cit.
Ketujuh, aspek merencanakan percobaan nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 26,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 24,07%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 53,33%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 64,82%.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, kelas eksperimen mengalami peningkatan nilai yang lebih besar pada indikator merencanakan percobaan.
Peningkatan kelas eksperimen disebabkan karena di dalam e-modul berbasis pendekatan saintifik menyajikan gambar alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan simulasi percobaan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Junaedi Habibilah, keterampilan merencanakan perconaan dari peserta didik dapat meningkat karena terdapat fitur memilih gambar alat dan bahan untuk merencanakan percobaan.71
Kedelapan, aspek merenapkan konsep nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 30,00%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 14,81%. Hasil posttest pada kelas kontrol sebesar 56,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 62,96%.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, sebelum diberikan perlakuan kelas eksperimen cenderung memiliki nilai yang relatif kecil daripada kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan nilai yang signifikan pada aspek menerapkan konsep. Di dalam e-modul kalor dan perpindahan kalor terdapat beberapa penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Seperti faktor yang memengaruhi pemuaian pada rel kereta api. Kemudian penerapan konsep perpindahan kalor dari bahan yang berbeda.
Hal ini sesusai dengan pernyataan Conny Semiawan bahwa mengembangkan indikator menerapkan konsep yaitu dengan menjelaskan peristiwa baru dari konsep yang telah dimiliki atau telah dipelajari.72
Kesembilan, indikator berkomunikasi nilai pretest pada kelas kontrol sebesar 36,67%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 20,37%. Hasil posttest pada kelas
71 Junaedi Habibilah, Pengaruh Hypermedia terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa pada Konsep Teori Kinetik Gas, Skripsi pada Sarjana Strata satu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2017. h.79
72 Conny Semiawan, op. cit. h. 32
kontrol sebesar 58,33%, sedangkan pada kelas eksperimen sebesar 66,67%.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa, kelas eksperimen mengalami peningkatan nilai yang signifikan pada indikator berkomunikasi. Peningkatan yang signifikan pada kelas eksperimen disebabkan karena di dalam e-modul berbasis pendekatan saintifik disajikan form laporan hasil simulasi percoban. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Conny Semuawan untuk melatih indikator berkomunikasi bisa dengan menyajikan hasil laporan percobaan.73
Peserta didik pada kelas kontrol dan kelas eksperimen mendapatkan perlakuan yang berbeda, sehingga akan mempengaruhi peningkatan pada keterampilan proses sains. Peserta didik pada kelas kontrol memiliki peningkatan pada keterampilan proses sainsnya, namun tidak sebesar kelas eksperimen. Peningkatan keterampilan proses sains kelas kontrol dan kelas eksperimen terdapat pada kategori yang sama, yakni kategori sedang. Peningkatan keterampilan proses sains peserta didik pada kelas kontrol dilihat pada N-gainnya, yaitu sebesar 0.42, sedangkan peningkatan keterampilan proses sains pada kelas eksperimen cenderung lebih besar daripada kelas kontrol, yakni sebesar 0.58. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran, kelas kontrol mendapatkan perlakuan pembelajaran konvensional, yang mana pembelajaran jarak jauh hanya menerapkan sistem asynchronous saja, tanpa bertatap muka dan berdiskusi secara langsung. Sedangkan perlakuan pembelajaran pada kelas eksperimen, cenderung melatih siswa untuk mengembangkan keterampilan proses sainsnya. Penerapan pembelajaran dengan sistem synchronous, peserta didik mampu mendapatkan informasi secara langsung melalui e-modul berbasis pendekatan saintifik melalui mengamati, klasifikasi, interpretasi, prediksi, mengajukan pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi.
Peserta didik pada kelas eksperimen tidak merasa jenuh ketika belajar, karena penerapan pembelajaran e-modul berbasis pendekatan saintifik memberikan pembelajaran menjadi interaktif, membantu selama pembelajaran daring, merangsang
73 Loc. cit.
peserta didik serta memberi motivasi belajar kepada siswa, dan tercapainya tujuan pembelajaran.74
Peserta didik di kelas eksperimen sangat antusias dan tertarik untuk mempelajari materi kalor dan perpindahan kalor menggunakan e-modul berbasis pendekatan saintifik. Hal ini terlihat pada hasil angket respon terhadap implementasi pembelajaran fisika dengan e-modul berbasis pendekatan saintifik pada konsep kalor dan perpindahan kalor berada dalam kategori hampir seluruhnya yaitu 81,4%. Hasil angket ini menunjukkan bahwa penggunaan e-modul berbasis pendekatan saintifik mampu menarik perhatian peserta didik dan fokus terhadap pembelajaran, memudahkan peserta didik dalam memahami materi kalor dan perpindahan kalor terutama dalam menerapkan konsep, berkomunikasi, dan berhipotesis terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas untuk meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik. Indah dalam penelitiannya menyatakan keterampilan proses sains berbasis saintifik yang dimiliki peserta didik berdampak baik bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan kepada peserta didik secara langsung, membuat hubungan pengetahuan peserta didik, mendorong pengetahuan peserta didik dalam penerapannya, dan meningkatkan kemampuan proses peserta didik dalam memahami pembelajaran selanjutnya.75
Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan dari hipotesis statistik menyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata keterampilan proses sains peserta didik pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Peningkatan keterampilan proses sains peserta didik pada setiap aspeknya meningkat terutama pada kelas eksperimen, hal ini diakibatkan pembelajaran pada kelas eksperimen melibatkan peserta didik dalam pembelajaran secara langsung, membutuhkan daya kreativitas
74 Indri Dwiyanti, dkk, Studi Fenomenologi Penggunaan E-Modul Dalam Pembelajaran Daring Muatan IPA Di SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. 6, No. 1, Juni 2021, h. 85.
75 Indah Mawar Rani, dkk, Analisis Keterampilan Proses Sains Peserta Didik SMA Kelas X Di Kecamatan Seberang Ulu I Dan Kertapati Palembang, Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, Vol. 6, No. 1, April 2019, h. 29.
dalam pembelajaran, serta melatih sembilan keterampilan proses sains yang meliputi:
mengamati, klasifikasi, interpretasi, prediksi, mengajukan pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi. Artinya terdapat pengaruh e-modul berbasis pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses sains peserta didik pada konsep kalor dan perpindahan kalor. Respon peserta didik terhadap e-modul berbasis pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses sains peserta didik pada konsep kalor dan perpindahan kalor diperoleh persentase 81,4% maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata respon peserta didik terhadap e-modul berbasis pendekatan saintifik ini menunjukkan kategori hampir seluruhnya.