• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru

Berdasarkan hasil analisi data yang telah dilakukan diperoleh data tentang Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru yaitu skor tertinggi yang diperoleh yaitu 72, skor minimum 50, dan rata-rata skor 62,98. Skor-skor tersebut diperoleh berdasarkan hasil penskoran angket yang terdiri dari 18 item pernyataan dengan 4 alternatif jawaban. Jika dilihat dari skor-skor tersebut maka dapat dikatakan bahwa dengan adanya wibawa membawa peserta didik lebih mampu menyadari pentingnya belajar tanpa ada unsur paksaan bahkan dapat mendorong peserta didik lebih giat belajar. Hal ini selaras dengan pendpat Zahara Idris dan H. Lisma Jamal mengartikan bahwa Kewibawaan adalah pancaran kelebihan yang diakui oleh peserta didik dan yang mendorongnya beridentifikasi kepada pendidiknya. Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru yang ada di MTs N 2 Lampung dapat dilihat dari anggapan siswa terhadap guru yang meliputi: Perilaku guru, Tutur kata guru, Tata pakaian guru, Tulisan di papan tulis. Dengan kata lain kewibawaan ini dapat menjadi salah satu motivasi ekternal peserta didik.

2. Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru

Berdasarkan hasil analisis diperoleh skor rata-rata Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru sebesar 62,81. Hasil ini menunjukkan bahwa Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru yang ada di MTs N 2 Lampung Timur dalam kategori baik. Guru-guru MTs N 2 Lampung Timur mampu memberikan contoh kedisiplinan yang dapat ditiru oleh peserta didik, sehingga dapat mendorong mereka untuk belajar.

Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru yang ada di MTs N 2 Lampung Timur dapat dilihat dari Disiplin terhadap waktu, Disiplin terhadap suasana kerja, Disiplin di dalarn melayani masyarakat, Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku. Hal ini Menurut Soemarmo dalam bukunya Pedoman Pelaksanaan Disiplin Nasional dan Tata Tertib Sekolah, mengatakan bahwa: “disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban.

3. Pembahasan Variabel Motivasi Belajar Siswa

Berdasarkan hasil analisis Tentang Motivasi Belajar Siswa di MTs N 2 Lampung Timur diperoleh bahwa rata-rata skor kinerja guru yang diperoleh sebesar 62,78. Skor ini menunjukkan rata-rata guru di Motivasi Belajar Siswa di MTs N 2 Lampung Timur cukup baik. Hasil analisis skor angket menunjukkan bahwa dalam peserta didik memiliki motivasi yang baik, atau dengan kata lain mempunuai dorongan yang sangat baik untuk belajar guna untuk mencapai tujuan belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman yang mendefinisikan motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

4. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa

Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai rhitung = 0,841, hal ini menandakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa. Harga r bernilai positif menunjukkan bahwa Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan Motivasi Belajar Siswa. Selanjutnya, hasil analisis juga di peroleh nilai thitung = 11,222, ttabel = 2,006 dan β = 0,841.

Besarnya pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa dapat dilihat dari nilai β. Nilai β = 0,841 menunjukkan bahwa besarnya kontribusi Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru dalam mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa sebesar 0,841 atau 84,1%.

Selanjutnya uji hipotesis pengaruh variabel bebas X1 terhadap variabel terikat Y adalah dengan membandingkan t hitung dengan t tabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila t hitung> t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.Sebaliknya apabila t

hitung< t tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak. Berdasarkan tabel perhitungan regresi di atas, terlihat bahwa nilai thitung yang diperoleh dalam analisa data Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa adalah 11,222, sedangkan ttabel sebesar 2,006 pada tingkat signifikansi (=5%) dan df (derajat kebebasan) = n-2 = 54 - 2 = 52. Karena t hitung> t tabel (11,222 > 2,006), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat diterima bahwa terdapat pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Syamsu Yusuf bahwasanya faktor- faktor motivasi belajar dapat dipengaruhi dari faktor Ekternal yang salah satunya adalah kewibawaan guru, sehingga siswa dapat memicu dorongan dari luar dirinya sendiri dengan melihat kewibawaan guru baik dari tutur kata, sikap, dll yang dimiliki oleh seorang guru.

5. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa

Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai rhitung= 0,816, Harga r bernilai positif menunjukkan adanya pengaruh yang positif antara Persepsi Siswa Tentang

Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai thitung = 10,183 , ttabel = 2,006 dan β = 0,816. Besarnya kontribusi pengaruh dari Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa dapat dilihat dari nilai β. Nilai β = 0,816, yang berarti bahwa besar pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru adalah 0,816 atau 81,6% dalam mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa, sisanya adalah faktor lain.

Selanjutnya uji hipotesis pengaruh variabel bebas X2 terhadap variabel terikat Y adalah dengan membandingkan thitung dengan ttabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila t hitung> t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.Sebaliknya apabila t hitung< t

tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak. Berdasarkan tabel perhitungan regresi di atas, terlihat bahwa nilai thitung yang diperoleh dalam analisa data Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa adalah 10,183, sedangkan ttabel sebesar 2,006 pada tingkat signifikansi (=5%) dan df (derajat kebebasan) = n-2 = 54 - 2 = 52. Karena t hitung> t tabel (10,183> 2,006), maka H0 ditolak dan H1 diterima.Dengan demikian, dapat dikatakam bahwa terdapat pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa.

Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto bahwasanya faktor- faktor motivasi belajar dapat dipengaruhi dari faktor Ekternal yang ada di sekolah yang salah satunya adalah disiplin seorang guru. Karena dari melihat kedisiplinan seorang guru dapat ditiru oleh siswa sehingga menimbulkan dorongan untuk belajar agar menjadi sosok yang dapat ditiru oleh siswa.

6. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan dan Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa

Selanjutnya uji hipotesis diperoleh koefisien korelasi dari variabel X1 dan X2 terhadap Y yaitu 0,842. Jika dikonsultasikan dengan harga rtabel dengan taraf signifikansi 5% dan N = 54 diperoleh nilai rtabel = 0,297. Hal ini menunjukkan bahwa rhitung> rtabel, yang berarti bahwa Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan dan Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa. Selanjutnya, hasil analisis juga di peroleh nilai t hitung = 2.756, ttabel = 2,006. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan dan Kedisiplinan Guru sangat bermanfaat untuk berpengaruh pada Motivasi Belajar Siswa di MTs N 2 Lampung Timur.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ngalim Purwanto bahwasanya faktor- faktor motivasi belajar dapat dipengaruhi dari faktor Ekternal yakni Upaya guru dalam

pengajaran siswa yang ada di sekolah. Beliau berpendapat bahwasanya Guru adalah seorang sosok yang dikagumi karena sikap dan wibawanya, insan yang mempunyai peranan penting dalam dunia guruan. Seorang guru dituntut untuk professional, disiplin dan memiliki keterampilan. Dalam suatu kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan tidak terlepas adanya fungsi dan kegunaan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan analisa data dan pengujian hipotesis terhadap tiga variabel penelitian, yaitu profesionalitas, kedisiplinan dan kinerja guru, maka dapat disimpukan sebagai berikut:

1. Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan guru berpengaruh signifikan tehadap Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai rhitung = 0,841. Selanjutnya, hasil analisis juga di peroleh nilai thitung = 11,222, ttabel = 2,006 dan β = 0,841. Besarnya pengaruh Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa dapat dilihat dari nilai β. Nilai β = 0,841 menunjukkan bahwa besarnya kontribusi Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan Guru dalam mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa sebesar 0,841 atau 84,1%. Jika Persepsi Mengenai Kewibawaan Guru meningkat sebesar 0,841, maka motivasi belajar siswa juga akan meningkat sebesar 84,1%.

2. Persepsi Siswa Mengenai Kedisiplinan guru berpengaruh signifikan tehadap Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai r hitung= 0,816. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai t hitung = 10,183 , t tabel = 2,006 dan β = 0,816. Besarnya kontribusi pengaruh dari Persepsi Siswa Mengenai Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa dapat dilihat dari nilai β.

Nilai β = 0,816, yang berarti bahwa besar pengaruh Persepsi Siswa Mengenai Kedisiplinan Guru adalah 0,816 atau 81,6%. Jika Persepsi Mengenai Kedisiplinan Guru meningkat sebesar 0,816, maka motivasi belajar siswa juga akan meningkat sebesar 81,6%.

3. Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan dan Kedisiplinan guru berpengaruh signifikan tehadap Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur . Selanjutnya uji hipotesis diperoleh koefisien korelasi dari variabel X1 dan X2 terhadap Y yaitu 0,842. Jika dikonsultasikan dengan harga rtabel dengan taraf signifikansi 5% dan N = 54 diperoleh nilai rtabel = 0,297. Hal ini menunjukkan bahwa r hitung> r tabel, yang berarti bahwa Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan dan Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa.

Selanjutnya, hasil analisis juga di peroleh nilai t hitung = 2.756, t tabel = 2,006. dan β = 0,842. Besarnya kontribusi pengaruh dari Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan dan Kedisiplinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa dapat dilihat dari nilai β. Nilai β = 0,842, yang berarti bahwa besar pengaruh Persepsi Siswa Mengenai Kedisiplinan Guru adalah 0,842 atau 84,2%. Jika Persepsi Mengenai Kewibawaan dan kedisiplinan Guru meningkat sebesar 0,842, maka motivasi belajar siswa juga akan meningkat sebesar 84,2%

dan yang lain dipengaruhi variabel yang lain dalam hal ini diluar Persepsi Mengenai Kewibawaan dan kedisiplinan Guru.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka implikasi penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pada Persepsi Siswa Mengenai Kewibawaan guru untuk meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur . maka lebih memperhatikan kewibawaan seorang

guru terlebih bagaimana cata untuk menggunakan intonasi suara yang tepat dan memperhatikan cara berpakaian yang sesuai dengan lingkungan di sekolah.

2. Pada Persepsi Siswa Mengenai Kedisiplinan guru untuk meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur. Maka kedepannya guru dan instansi terkait agar meningkatkan kedisiplinan guru dalam memperhatikan sikap dan tingkah laku siswa.

3. Pada Persepsi siswa tentang Kewibawaan dan Kedisiplinan guru untuk meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Mts N 2 Lampung Timur maka kedepannya guru dan instansi terkait agar meningkatkan Kewibawaan dan Kedisiplinan guru terutama seorang guru terlebih bagaimana cata untuk menggunakan intonasi suara yang tepat dan memperhatikan cara berpakaian yang sesuai dengan lingkungan disekolah serta meningkatkan kedisiplinan guru dalam memperhatikan sikap dan tingkah laku siswa.

C. Saran

Berdasarkan implikasi penelitian di atas, diajukan beberapa saran yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan dalam meningkatkan kinerja guru sebagai berikut:

1. Agar Motivasi siswa meningkat maka Kewibawaan guru untuk siswa di Mts N 2 Lampung Timur perlu ditingkatkan pada aspek bagaimana cata untuk menggunakan intonasi suara yang tepat dan memperhatikan cara berpakaian yang sesuai dengan lingkungan di sekolah.

2. Agar Motivasi siswa meningkat maka Kedisiplinan guru untuk siswa di Mts N 2 Lampung Timur perlu ditingkatkan pada aspek kedisiplinan guru dalam memperhatikan sikap dan tingkah laku siswa.

3. Agar Motivasi Belajar Siswa di Mts N 2 Lampung Timur juga perlu ditingkatkan terutama pada aspek bagaimana seorang guru mampu memberikan peringkat agar siswa mengetahui sejauh mana kemampuan yang mereka miliki sehingga dapat memicu dorongan bagi siswa agal lebih termotivasi dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdorrahman Gintings, Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, (Bandung:

Humaniora, 2008)

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001 Agus Bowo Nurcahyo, Penerapan Reward dan Punishment dalam Meningkatan Motivasi

Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar Islam Terpadu Cendikia Kabupaten Tulang Bawang, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Metro, 2017.

Barnawi dan Muhammad Arifin, Instrumen Pembinaan, Peningkatan, & Penilaian KinerjaGuru Profesional , Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014

Bedjo Siswanto, Manajemen Tenaga Kerja, Bandung: Sinar Baru, 1989 Bimo Walgito, Psikologi Sosial , Yogyakarta: Andi Offset, 2002

D. Soemarno, Pedoman Pelaksanaan Disiplin Nasional dan Tata Tertib Sekolah 1998, Jakarta: Skala Jamakarya, 1997

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: CV. Jaya Sakti Surabaya, 1997

Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka, 2010

Doni Koesoema A dan A. AriobimoNusantara, Pendidik Karakter di Zaman Keblinger:

Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidikan, Jakarta : Grasindo, 2009

E. Mulyasa, Implementai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan., Bandung: Remaja Rosda Karya, 2013

Edi Kusnadi, Metode Penelitian, Jakarta: Ramayana Press, 2008

Fatih Khoirul Najich, Korelasi Persepsi Siswa Tentang Kewibawaan Guru PAI dengan Motivasi mengikuti Pelajaran PAI Pada Siswa Kelas XI A 1) SMA 1 Negeri Tuntang, Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, 2008 didownloadhttps://digilib.stain- salatiga.ac.id pada tanggal 20 September 2018

Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendididikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Jalaluddin Rakhmat ,Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosda karya, 2005 John Garmo, Pengembangan Karakter untuk Anak: Panduan Pendidik (Developing

Character: Teacher’s Guide), Penerjemah Character Solutions International Jakarta: Penerbit Kesaint Blanc, 2013

M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000 M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991 Margono, Metode Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi Metodologi Penelitian Survey, Cet.II , Jakarta:

LP3ES Indo, 1995

Moh. Sochib, Pola Asuh Orang Tua untuk Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000

Mulyasa, Menjadi Pendidik Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Cet.1, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2003

Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000

Nur Amilatus Sa’adah, Pengaruh Persepsi Siswa Atas Kedisiplinan Guru Mata Pelajaran Akidah Akhlak Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas X Man Bawu Jepara,Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2010 didownloadhttps://digilib.iain-walisongo.ac.id pada tanggal 20 September 2018 Nur Cholis Majid, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina, 2000

Observasi di MTs Negeri 2 Lampung Timur, pada tanggal 20 Februari 2018

Oemar Hamalik, Motivasi Kurikulum dan Pembelajan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008 Pandi Efendi, Concept & Indikator Human Resources Management for

ManagementResearch, Yogyakarta: Depublish, 2016

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet.XVI, Jakarta : PN. Balai Pustaka, 1999),

Purwanto, Instrumen Penelitian Sosial dan Pendidikan Pengembangan dan Pemanfaatan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Rostiyan, NK., Masalah Pengajaran, Cet. 3, Jakarta: Rineka Cipta, 1994 S. Nasution. Metode Research, Jakarta: Bumi Aksara, 2011

Saiful, Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Disiplin Guru, 2011, [online] Available:

http://administrasisaiful.blogspot.com/2011/08/pengaruh-kedisiplinan-guru- dan.html.

Samana, Profesionalisme Keguruan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994

Santoso Sastro Poetro R.A, Partisipasi Komunikasi, Presuasi dan Disiplin dalam Pembangunan, Bandung: Alumni, 1990

Sardiman, A.M, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011

Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, Cet 7, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1996

Slameto, Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Cet 5, Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfbaeta, 2007

Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, Bandung: ALFABETA, 2012

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet. XII, Jakarta:

Rineka Cipta, 2002

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2008 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogyakarta: ANDI, 2002

Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Cet.4, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992

Syafefi, Persepsi Terhadap Visi Pendidikan Islam ke Depan di Kalangan Masyarakat Pekanbaru, Jakarta: Remaja Rosda Karya, 2003

Syafrudin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Cet I, Jakarta: Ciputat Pers, 2002

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2000

Dokumen terkait