• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan

Dalam penelitian ini akan dibahas 3 hal yaitu sebagai berikut.

1. Karakteristik pembelajaran Colaboratif learning berbantuan Short Card Berbasis IT.

Perbedaan kooperatif dan kolaboratif adalah kolaborasi lebih menekankan pada inisiatif sebagai bentukan sendiri bukan suatu hasil rekayasa orang lain untuk kerja sama. Pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang kerjanya didukung oleh kemandirian yang dimiliki oleh setiap individu anggota kelompok yang akan mampu membentuk suasana belajar kerjasama yang diikuti oleh rasa kesalingtergantungan dengan penuh tanggung jawab diantara anggota-anggota kelompoknya (Zamroni, 2000).

Dalam Penerapan Colaboratif learning siswa SDN Karangroto 01 Semarang lebih dikondisikan pada suatu suasana yang dapat memacu kerjasama dan insisiatif

42

siswa sehingga mereka lebih mandiri. Pembelajaran kolaboratif yang diterapkan ini disertai dengan media yang menarik yang dapat membuat pembelajaran matematika lebih bersifat konkret yakni media Short card. Adapun media short card yang digunakan dikolaborasikan dengan pemanfaatan IT sehingga lebih memotivasi siswa dan memacu minat belajar siswa.

Pada penelitian ini menerapkan pembelajaran kolaboratif yang memperhatikan beberapa hal. Diantaranya sebagaimana Kurikulum 2013 (K13) yang berbasis pada proyek. Maka pembelajaran kolaboratif yang diterapkan berorientasi proyek artinya dalam beberapa session siswa diberikan tugas dan lembar kerja untuk didiskusikan dan diselesaikan secara kelompok atau bersama- sama bukan individual. Hal ini sesuai dengan prinsip Collaborative learning yang mana untuk kelas rendah bisa diterapkan dengan berpasangan dan untuk kelas tinggi diterapkan secara kelompok. Karena penelitian ini di kelas IV maka pembelajaran secara kelompok sebagai bagian dari Collaborative Learning.

Adapun kelompok kecil yang dibuat bersifat heterogen artinya dari campuran jenis kelamin, agama bahkan suku yang berbeda. Yang mana pembentukan ini secara tidak sengaja dalam hal ini peneliti menggunakan undian secara random dalam menentukan tiap kelompoknya. Pembelajaran kelompok kecil ini mempunyai dua fungsi yaitu untuk mengkolaborasi kerja individu dan mengkolaborasi untuk melompat dalam arti kolaborasi antara siswa-siswa, siswa- guru, siswa-materi pembelajaran.

Konsep pembelajaran haruslah “melampaui batas dan melompat” melalui kolaborasi sebagaimana yang diungkapkan oleh Sato (2007) bahwa untuk mencapai target pembelajaran yang lebih tinggi dan juga untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar lebih mendalam terdapat satu kunci yang penting: siswa mengajukan pertanyaan pada teman “Bagaimana saya bisa memecahkan masalah ini?”. Untuk dapat menciptakan keadaan yang membuat seorang siswa perlu bertanya kepada siswa lainnya, menurut Sato, tingkat materi pelajaran (masalah) yang diberikan haruslah lebih tinggi dari biasanya. Makin mudah masalahnya menjadikan makin jarang siswa yang bertanya kepada temannya. Untuk mereka yang berada pada kelompok bawah (kemampuan di bawah rata-rata kelas), jika mereka tidak dapat menyelesaikan soal/masalah yang

43

dianggap mudah untuk kelompok atau siswa lain, mereka akan lebih cenderung untuk berusaha memecahkan masalah dan menghadapi kesulitannya tanpa bantuan orang lain. Kalau mereka gagal, maka mereka akan selalu tersisih dari yang lain, dan semakin tertinggal di belakang. pentingnya interaksi sosial untuk membantu siswa memperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Belajar “melampaui batas dan melompat” dengan bantuan teman dan guru.

Adapun langkah-langkah pembelajaran kolaboratif dalam penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan atau perencanaan pembelajaran kolaboratif, tahap proses pembelajaran kolaboratif, dan tahap penilaian pembelajaran kolaboratif. Dari ketiga tahap pembelajaran kolaboratif tersebut, pada penelitian ini, hampir semua komponen pembalajaran kolaboratif digunakan pada pembelajaran.

Pada tahap persiapan guru membuat kelengkapan perangkat pembelajaran.

faktor persiapan memiliki peranan yang penting dalam penyelenggaraan pembelajaran yang baik. Oleh karena itu, guru membuat perangkat pembelajaran kolaboratif yaitu RPP terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai.

Pembelajaran kolaboratif menekankan bagaimana siswa dapat bekerjasama, berinteraksi dan bertukar informasi melalui pembelajaran kelompok. Pada penelitian ini, guru sudah terlihat cukup baik dalam melakukan persiapan pembelajaran kolaboratif.

Pada tahap selanjutnya adalah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pembelajaran kolaboratif yang berdasar perencanaan atau RPP yang sudah dibuat.

Adapun pada pelaksanaan Collaborative Learning guru menggunakan media short card yang berbasis IT. Hal ini bertujuan agar dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak dapat tersampaikan dengan baik menggunakan benda konkret dalam hal ini pemanfaatan media. Sedangkan media short card dibuat berdasarkan IT agar siswa lebih tertarik pada pembelajaran mengingat perkembangan IT saat ini yang sudah sangat berkembang. Adapun langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan model Collaborative Learning berbantuan short card yang berbasis IT meliputi 1) guru melakukan presensi, 2) guru melakukan flashback atau mereview pelajaran sebelumnya, 3) guru melakukan apersepsi, 4) guru menyampaikan pentingnya pembelajaran materi yang akan disampaikan

44

(motivasi), 5) siswa dibentuk kelompok 4-5 siswa secara heterogen, 6) siswa diberikan materi yang akan dipejari sebagai bahan diskusi, 7) guru menfasilitasi siswa membentuk suasana kolaboratif dalam pemahaman materi dengan berpedoman dengan unsur-unsur pembelajaran kolaboratif yaitu saling ketergantungan positif, interaksi langsung antar siswa, pertanggungjawaban individu, ketrampilan kolaborasi dan keefektifan proses kelompok. 8) guru menggunakan media dalam pembelajaran dalam hal ini media Short Card berbasis IT, 9) tiap kelompok mempresentasikan hasil disukusi, 10) guru menfasilitasi dalam melakukan konfirmasi pembelajaran, 11) guru mefasilitasi siswa dalam membuat kesimpulan materi pembelajaran, 12) guru melakukan penilaian atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan, dan 13) guru melakukan umpan balik dari hasil yang sudah dibahas.

Inti dalam pembalajaran kolaboratif ini adalah para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dan antar kolompok belajar dan saling membelajarkan untuk tujuan bersama. Proses penilaian pada Collaboratif Learning didasarkan pada hasil kerja kelompok dan dinamika kelompok tersebut. Secara umum penilaian pembelajaran kolaboratif tidak hanya dilakukan di akhir proses pembelajaran namun juga pada saat terjadinya interaksi antar siswa di dalam kegiatan belajar mengajar.

Pelaksanaan Collaboratif Learning akan tejadi dengan baik dan maksimal jika didukung dari pihak guru, siswa, fasilitas kelas, dan dukungan dari pihak sekolah. Adapun pelaksanaan pembelajaran Collaboratif Learning di SDN Karangroto 01 kurang maksimal dikarenakan fasilitas yang kurang memadai.

Media yang digunakan membutuhkan sarana IT yang mendukung seperti LCD Proyektor dan audio class. Namun, sarana tersebut tidak tersedia akhirnya peneliti menggunakan netbook sehingga media yang digunakan kurang optimal.

Pemahaman konsep sebagai kemampuan matematika yang masih dasar tentunya mempunyai peran penting dalam mencapai prestasi belajar matematika yang baik. Kurikulum 2013 yang berbasis Literasi tentunya menuntut sis;’pwa agar mempunyai daya literasi yang tinggi. Literasi dalam pembelajaran matematika akhirnya menjadi suatu kemampuan tersendiri yang harus di tingkatkan pada penerapan Kurikulum 2013. Sesuai permasalahan pada siswa

45

kelas IV SDN Karangroto 01 yakni rendahnya kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan literasi matematika maka diperlukan inovasi pembelajaran dan media yang menarik bagi siswa. Dengan karakteristik pembelajaran Colaboratif learning berbantuan Short Card Berbasis IT yang demikian akan efektif untuk meningkatkan kemampuan Pemahaman konsep dan Literasi matematika siswa kelas IV SDN Karangroto 01.

2. Pemahaman Konsep matematika dengan colaboratif learning berbantuan Short Card Berbasis IT.

Berdasarkan uji hipotesis I dihasilkan thitung= 13,20, = 5% dengan dk = (𝑛1+ 𝑛2− 2) = (48 + 48 − 2) = 96, ttabel = 1,99. Karena thitung>

ttabel(13,20 > 1,99) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematika dengan Collaborative Learning berbantuan Media Short Card berbasis IT rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematika pada pembelajaran konvensional.

Dengan demikian pemahaman konsep matematika siswa kelas IV SDN Karangroto 01 pada pembelajaran Collaboratif Learning berbantuan Short Card berbasis IT lebih baik daripada pemahaman konsep matematika pada pembelajaran konvensional.

Pemahaman konsep matematika memiliki peranan yang sangat penting sebagai kemampuan dasar matematika agar presatasi belajar matematika maksimal. Adapun indicator pemahaman konsep pada penelitian ini adalah 1) Menghubungkan pengetahuan konseptual dan prosedural dengan mendefinisikan konsep secara verbal dan tertulis, 2) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh, 3) Menggunakan model, fakta yang diketahui dan hubungan untuk menjelaskan pemikiran mereka, 4) Mengenal berbagai makna dan hubungan antara topik yang berbeda dalam matematika, 5) Mengubah suatu bentuk presentasi ke dalam bentuk lain , 6) Membandingkan dan membedakan konsep- konsep, dan 7) Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari mereka.

46

Berdasarkan analisis tiap indikator pemahaman konsep antara kelas dengan pembelajaran collaborative learning dan pemahaman konsep pada pembelajaran konvesional diperoleh perbedaan yang sangat signifikan. Berikut grafik pemahaman konsep.

Gambar 4.1. Grafik pemahaman konsep

Berdasarkan grafik diatas terlihat jelas bahwa rata-rata prosentase pemahaman konsep siswa pada kelas dengan pembelajaran Coolaborative learning lebih baik daripada pemahaman konsep siswa pada kelas dengan pembelajaran konvensional. Hal ini terjadi mungkin suasana pembelajaran Coolaborative learning dapat membuat siswa lebih semangat dalam pembelajaran mereka lebih difasilitasi dalam berdiskusi dan pembelajaran kelompok. Diskusi juga dilakukan pada pembelajaran konvensional namun tidak hidup artinya siswa yang aktif saja yang mendominasi pemblajaran. Pada pembelajaran Coolaborative learning suasana kolaboratif sudah sangat terbentuk seperti diskusi yang dilakukan merata semua siswa. Dan siswa yang kurang aktif bekerja sama dengan siswa yang aktif akhirnya mereka semua aktif. Artinya suasana kolaboratif terfasilitasi dengan baik. Guru sangat berperan penting sebagai fasilitator. Sebagai contoh, ketika siswa diberi tugas kelompok dalam menyelesaikan soal pemahaman konsep siswa saling belajar dan membelajarkan dengan siswa lainnya baik dalam satu kelompok ataupun dengan kelompok yang lain. Siswa juga dapat berkolaborasi dengan guru missal siswa menemukan beberapa kesulitan materi. Umpan dari guru sangat

84 85

80 82 82 79 80

65 60 62 60 62 60 62

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Ind 1 Ind 2 Ind 3 Ind 4 Ind 5 Ind 6 Ind 7 Indikator Pemahaman Konsep

Kemampuan Pemahaman Konsep

Kls Eks Kls Kntrl

47

berpengaruh. Guru yang inovatif dan komunikatif dapat membuat dan mengantarkan pada suasana kelas yang lebih hidup.

Suasana belajar yang mendukung sangat diperlukan hal ini sesuai dengan teori Vygotsky yang menyatakan bahwa ZPD sebagai zona antara tingkat perkembangan actual dan tingkat perkembangan potensial dapat ditingkatkan melalui suasana pembelajaran dan interaksi social guru dan siswa.

Media pembelajaran juga mempunyai peranan yang sangat penting. Media short card berbasis IT yang digunakan mampu menarik minat dan motivasi belajar pada pembelajaran matematika. Siswa sangat antusias menyelesaikan soal-soal pendek tentang pemahaman konsep melui media tersebut. Berikut gambar tentang antusias siswa pada media Short card.

Gambar 4.2. siswa berlatih pemahaman konsep dengan Short Card berbasis IT

Pemilihan media sangat mempengaruhi dalam proses belajar mengajar.

media berbasis IT dipilih karena pada era digital ini hamper semua anak tidak asing dengan media computer, laptop, smartphone, dll. Oleh karena itu, jka media tersebut digunakan dalam pembelajaran tentunya siswa semakin tertarik dan belajar seakan-akan seperti bermain. Hal inilah sebagai pendukung dalam pembelajaran. apalagi didukung juga dengan pembelajaran yang kolaboratif yang mana guru membuat suasana belajar menjadi kolaborasi antara siswa dengan guru antara sisa aktif dengan pasif antara siswa cerdas dengan yang kurang dan seterusnya sehingga kerjasama terbentuk dengan apik dan dapat mamacu kemampuanpemahaman konsep menjadi lebih baik.

48

3. Literasi Matematika dengan Colaboratif learning berbantuan Short Card Berbasis IT

Literasi matematika sebagai kemampuan kognitif yang dapat diperoleh dan dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam membaca. Literasi atau melek matematika didefinisikan sebagai kemampuan seseorang individu merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks Literasi sangat digencarkan oleh pemerintah melalui gerakan literasi sekolah. Dimana dilakukan kegiatan membaca sebelum pembelajaran. Kurikulum 2013 (K 13) sangat relevan dengan kegiatan literasi karena dalam pendidikan dasar yang mangacu pada tematik integrative menuntut siswa untuk memahami sebuah bacaan. Dengan demikian kemampuan literasi yang dikaitkan dengan matematika disebut literasi matematika. Siswa disajikan beberapa bacaan yang contentnya memuat tentang unsur dan materi matematika. Pada kenyataannya siswa masih sulit dalam memahami bacaan apalagi jika daikaitkan dengan matematika.

Matematika terkadang hanya disajikan dalam bentuk soal yang sederhana langsung ke materi tanpa dihadapkan dengan bacaan, gambar, atau diagram tentang materi matematika. Hal ini membuat siswa lebih tertantang dalam memahami bacaan sehingga membaca tidak hanya sekedar membaca namun memahami isi dan content bacaan.

Berdasarkan hasil uji hipotesis II Dihasilkan thitung= 10,08, = 5%

dengan dk = (𝑛1+ 𝑛2− 2) = (48 + 48 − 2) = 96, ttabel = 1,99. Karena thitung > ttabel(10,08 > 1,99) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan literasi matematika dengan Collaborative Learning berbantuan Media Short Card berbasis IT rata-rata kemampuan literasi matematika pada pembelajaran konvensional.

Pembelajaran Collaborative Learning berbantuan Media Short Card berbasis IT dapat membentuk suasana pembelajaran yang interaktif. Sehingga ketika siswa diukur kemampuan literasinya mereka saling kerjasama dan berdiskusi dalam memahami bacaan untuk menyelesaikan soal literasinya. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan literasi matematika dengan Collaborative Learning berbantuan Media Short Card berbasis IT lebih baik daripada kemampuan literasi matematika pada pembelajaran konensional.

49

Indikator literasi matematika pada penelitian ini meliputi 1) Konten (Content), 2) Konteks (Context), dan 3) Kompetensi. Berdasarkan hasil analisis literasi matematika yang diukur pada kelas control dan kelas eksperimen per indikator disajikan pada grafik berikut.

Gambar 4.3. Grafik literasi matematika

Berdasarkan gambar di atas terlihat jelas perbedaan kemampuan literasi matematika pada kelas dengan Coolaborative Learning berbantuan Short Card berbasis IT lebih baik dari pada pembelajaran konvensional. Baik pada tiap indikator yaitu secara konten, konteks dan kompetensi. Secara konten siswa dalam memahami bacaan, secara konteks siswa dalam menyelesaikan masalah bacaan dengan menemukan apa yang tersirat. Sedangkan kompetensi kemampuan siswa dalam memadukan konteks dan konten bacaan pada permasalahan lain. Untuk mengukur kemampuan ini siswa diberikan bacaan yang agak panjang kemudian siswa diberi beberapa pertanyaan dan permasalahan yang terkait dengan bacaan.

Kemudian siswa berdiskusi dengan temannya dan peneliti mengukur dan menganalisis kemampuan literasi tersebut. Berikut gambar kegiatan siswa dalam menyelesaikan soal kemampuan literasi matematika.

0 20 40 60 80 100

Konten Konteks Kompetensi

Indikator

Kemampuan Literasi Matematika

Kls Eks Kls Kntrl

50

Gambar 4.4. Siswa mengerjakan soal literasi matematika

Berdasrkan gambar diatas, terlihat siswa sangat antusisa dan penub konsentrasi dalam membaca, memahami bacaan, dan menyelesaikan soal.

Kemampua literasi khususnya literasi matematika perlu ditingkatkan terus agar siswa lebih terlatih dalam membaca, menjadikan siswa senang membaca, dapat meningkatkan dan melatih konsentrasi dan melatih penalaran siswa dalam menyelesaikan permasalahan. Dengan demikian dalam pembelajaran guru hendaknya selalu mengukur kemampuan literasi selain untuk mensukseskan gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah juga sebagai perwujudan dalam menyelenggarakan kurikulum 2013 (K13) dengan lebih maksimal.

51 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Pembelajaran Coolaborative Learning berbantuan Short Card berbasis IT merupakan pembelajaran yang menerapkan unsur-unsur kolaboratif pada pembejalarannya yang mempunyai tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Penggunaan media Short Card berbasis IT dalam pembelajaran kolaboratif dapat mendukung pembelajaran sehingga lebih menarik siswa dan mendukung interaksi siswa dalam pembelajaran.

2. Kemampuan pemahaman konsep pada Pembelajaran Coolaborative Learning berbantuan Short Card berbasis IT lebih baik dari pada kemampuan pemahaman konsep pada pembelajaran konvensional.

3. Kemampuan literasi matematika pada Pembelajaran Coolaborative Learning berbantuan Short Card berbasis IT lebih baik daripada kemampuan literasi matematika pada pembelajaran konvensional.

B. Saran

1. Pembelajaran Coolaborative Learning berbantuan Short Card berbasis IT dapat dijadikan pembelajaran inovatif bagi guru pendidikan dasar untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik di ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.

2. Kemampuan pemahaman konsep matematika siswa Sekolah Dasar berperan sangat penting selain untuk menghindari terjadinya miskonsepsi juga sebagai dasar untuk memahami materi selanjutnya. Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan kemampuan pemahaman konsep siswa jika terlihat masih rendah, hendaknya guru berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya.

3. Kemampuan literasi mempunyai peranan sangat penting pada kurikulum 2013 (K 13). Pemberalakuan K 13 yang bersifat tematik integrative saat ini akan melatih dan menuntut kemampuan literasi siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru memperhatikan kemampuan literasi matematika siswa dan menggunakan

52

inovasi dan media pembelajaran untuk menciptakan kemampuan literasi siswa yang lebih baik.

53

DAFTAR PUSTAKA

Afrilianto, M. 2012. Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Kompetensi Strategis Matematika Siswa SMP Dengan Pendekatan Metaphorical Thinking: Jurnal Ilmiah Program Studi MatematikaSiliwangi Bandung [Online], Vol. 1, No. 2,

September 2012, h. 193. Tersedia:

https://ejurnal.stkipsiliwangi.ac.id/.pdfdiunduh [ 12 November 2016]

Arend, R.I. 2001. Learning to Teach, 5th Ed. Boston: McGraw-Hill Company, Inc.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Bafadal,I. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara

BSNP. 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD/MI. Jakarta: Depdiknas

Hamdani. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia

Herlanti,Y. 2011.Pembelajaran Kolaboratif. Tersedia online di yherlanti.wordpress.com Diakses pada tanggal 20 Maret 2017

Heruman. 2012. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Kesumawati,N. 2008 . Pemahaman Konsep Matematik Dalam Pembelajaran

Matematika.[Online]. Tersedia:http://eprints.uny.ac.id/6928/. [diunduh 15 November 2016].

OECD. 2009a. Learning Mathematics for Life: a View Perspective from PISA.

Diakses tanggal 20 September 2012 dari www.oecd.org

OECD . 2009b. PISA 2009 Assesment Framework. Diakses tanggal 20 September 2012 dari www.oecd.org

OECD . 2010. PISA 2012. Mathematics Framework: Draft Subject to Possible revision after the Field Trial.

Rohani,A. 1997.Media Intruksional Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta,

Sato, M. 2007. Tantangan yang harus dihadapi Sekolah, makalah dalam Bacaan Rujukan untuk Lesson Study- Berdasarkan pengalaman Jepang dan IMSTEP.

Jakarta: Sisttems

Dokumen terkait