BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2. Pembahasan
25 50% dan persentase terendah ada pada penderita Diabetes Melitus laki-laki yaitu 10%.
Tabel 4.6 Persentase hasil isolasi Jamur Candida albicans pada saliva penderita diabetes melitus berdasarkan jenis riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus.
NO Riwayat Keluarga Jumlah Persentase %
1 Ada 1 10
2 Tidak ada 5 50
Jumlah 6 60
Hasil persentasi pada Tabel 4.6 berdasarkan riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus, persentase tertinggi ada pada penderita Diabetes Melitus yang tidak mempunyai riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus yaitu 50% dan persentase terendah ada pada penderita Diabetes Melitus yang mempunyai riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus yaitu 10.
26 Media kultur yang dipakai untuk biakan jamur Candida albicans adalah Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan penambahan antibiotik pada media bertujuan untuk menekan bakteri yang tumbuh bersama jamur di dalam bahan klinis.
Media SDA berfungsi untuk membedakan jamur Candida albicans dengan spesies jamur lain dan dapat mendeteksi jamur kontaminan untuk produk farmasi.
Pemeriksaan jamur secara langsung dapat dilakukan dengan pewarnaan gram dan tabung kecambah. Pemeriksaan secara pewarnaan gram digunakan untuk melihat jamur Candida albicans berdasarkan morfologinya, tetapi tidak dapat mengidentifikasi spesiesnya. Sedangkan Pemeriksaan tabung kecambah bertujuan untuk membedakan jamur Candida albicans dan non Candida albicans dengan berdasarkan pembentukan kecambah pada media yang mengandung protein.
Hasil pemeriksaan secara makroskopis pada tabel 4.2. terdapat 6 koloni jamur Candid albicans. Jamur Candida albicans dapat tumbuh pada media SDA dengan PH 4,5-6,5. Sampel yang tumbuh bentuknya bulat, benang-benang dan tidak beraturan, dengan warna koloni yang ditemukan yaitu putih susu, putih dan putih kecoklatan. Pada bau koloni yang ditemukan pada media yaitu, bau asam dan asam menyengat. Sampel yang tidak tumbuh disebabkan oleh keadaan pH tinggi pada saliva penderita Diabetes melitus. Keadaan pH yang tinggi menyebabkan koloni tidak tumbuh pada media SDA. Faktor Penyebab Pertumbuhan jamur Candida albicas pada saliva penderita Diabetes Melitus adalah keadaan pH yang rendah pada saliva.
Hasil pengamatan mikroskopis Pewarnaan gram dan Tabung Kecambah terdapat pada Tabel 4.3 yaitu 6 sampel gram positif dan 4 sampel negatif. Pada pewarnaan gram berbentuk bulat atau bulat lonjong. Pada Germ Tube (Tabung kecambah) Sediaan diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x dengan pengamatan ditemukan sel ragi yang berkecambah atau berbentuk lonjong seperti tabung memanjang.
27 Berdasarkan persentase jenis kelamin penderita Diabetes melitus pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa persentase tertinggi ada pada penderita Diabetes melitus berjenis kelamin perempuan yaitu 50% (5 sampel positif jamur Candida albicans). Hal ini sangat berhubungan dengan teori bahwasanya perempuan lebih mudah terserang penyakit dikarenakan siklus hormonal yang dialaminya. Menurut Farizal (2017) yang mengemukakan bahwa didapat estimasi sampel saliva pada wanita yang terindikasi adanya jamur C. albicans dengan penyakit Diabetes melitus di RS dr. Muhammad Yunus kota Bengkulu yaitu dengan persentase 52% dan prevalensi DM pada perempuan setelah diperiksa dokter gejalanya akan meningkat terus meningkat seiring bertambhanya usia yaitu lebih tinggi 1,7% dibandingkan kaum laki-laki.
Dalam penelitian ini persentase Perempuan lebih banyak hal ini disebabkan karena perempuan lebih berisiko terkena diabetes melitus yang menjadi faktor predisposisi kandidiasis oral. Salah satu faktornya adalah obesitas, karena perempuan cenderung rendah aktifitas fisiknya dibandingkan laki-laki dan pola makan yang serba instan, sehingga penyakit akan mudah bersarang di tubuh (Putri, 2013).
Berikutnya adalah hasil dari pertumbuhan jamur Candida albicans berdasarkan riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus, didapat 1 sampel (10%) positif dengan riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus dan 5 sampel (50%) positif dengan tidak ada riwayat keluarga mengidap Diabetes Melitus.
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 10 sampel saliva penderita Diabetes melitus didapatkan disimpulkan bahwa terdapat jamur Candida albicans pada penderita diabetes melitus.
28
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil penelitian Identifikasi Jamur Candida albikans Pada Penderita Diabetes Melitus di RSUD M. Natsir dengan 10 sampel saliva penderita Diabetes melitus yang dilakukan pada bulan Maret-Agustus 2021 dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Karakteristik jamur Candida albicans pada media SDA yaitu bentuknya bulat, benang-benang dan tidak beraturan, dengan warna koloni yang ditemukan yaitu putih susu, putih dan putih kecoklatan. Pada bau koloni yang ditemukan pada media adalah bau asam dan asam menyengat. Pengamatan mikroskopis Pada pewarnaan gram berbentuk bulat atau bulat lonjong.
Pengamatan Germ Tube (Tabung kecambah) ditemukan sel ragi yang berkecambah atau berbentuk lonjong seperti tabung memanjang.
2. Dari hasil pemeriksaan berdasarkan identifikasi Tabung kecambah ditemukannya sel ragi yang berkecambah atau berbentuk lonjong seperti tabung memanjang. Hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa pada saliva penderita Diabetes melitus terdapat jamur Candida albicans.
5.2 Saran
Diharapkan penderita Diabetes Melitus selalu menjaga kebersihan dan kesehatan serta rutin melakukan kontrol gula darah setiap satu bulan sekali sesuai dengan petunjuk dokter yang menangani.
29
DAFTAR PUSTAKA
ADA. (2017). Standarts of Medical Care in Diabetes. www.diabetes.org/diabetescare.
Diakses 19 Februari 2020
Ermawati, N. (2013). Identifikasi Jamur Candida albicans pada Penderita Stomatitis dengan Menggunakan Metode Swab Mukosa Mulut pada Siswa SMK Analis Bhakti Wiyata Kediri. Skripsi. Kediri: Universitas PGRI.
Getas, I. W., Wiadnya I., B.R., dan Waguriani L., A. (2014). Pengaruh Penambahan Glukosa dan Waktu Inkubasi Pada Media SDA Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans. Media Bina Ilmu, vol 8, no. 1, pp. 51-7.
i gusti A. N. Damayanti, “Pola Hygiene Sanitasi Wanita Penderita DM pada Kasus Kandidiasi di Wilayah Kerja Puskesmas di Kabupaten Lombok Barat,” no.
1978, pp. 38–44, 2014
International Diabetes Federation. (2017). IDF Diabetes Atlas 6th Edition 2017.www.teknolab.jurnal.com. Diakses 19 Februari 2020.
I. W. Getas, I. G. Ayu, N. Danuyanti, I. Ayu, and W. Widiartini, “Hubungan Perilaku Hygiene dan Sanitasi Terhadap Tingkat Kandidiasis dari Hasil Pemeriksaan Urine Wanita Penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Narmada Kecamatan Narmada, Lombok Barat,” Media Bina Ilm., vol. 7, no. 1978, pp. 5– 10, 2013.
Jiwintarum, Y., Urip, Wijaya, A. F., & Diarti, M. W. (2017). Media Alami untuk Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Penyebab Kandidiasis dari Tepung Biji Kluwih (Atyocarpus Communis), 11(2), 158–170
Johnson, P.K. (2016). Evaluasi Profil Saliva antara Tipe Dewasa 2 Diabetes Mellitus Pasien di India Selatan. Jurnal Teknologi Laboratorium, 7(8), 1592.
http://www.teknolabjournal.com/indek.php/Jtl/article/download/44/78.Diakse s 13 Februari 2020
K. Irianto, Parasitologi Medis, 1st ed. Bandung: Alfabeta, 2013.
Notoatmodjo Soekijdo, Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Rineka cipta, 2010 Clinical Samples in Iran, Jundishapurr Journal Microbiol, 8(6), 1-4.
30 M. Dhanya and S. Hegde, “Salivary glucose as a diagnostic tool in Type II diabetes mellitus: A case-control study,” Niger. J. Clin. Pract., vol. 19, no. 4, pp. 486–
490, 2016
Mohammadi, M., Safara, & M. Mortezaaee, V. (2015). Inn Vitro Activiti of Caspofungin Against Fluconazole-Resistant Candida Species Isolated From Mutiawati, V. K. (2016). Mikrobiologi pada C. albicans. Jurnal Kedokteran Syiah
Kualalumpur, 16(1), 53-63. https://www.unsyiah.ac.id. Diakses 15 Februari 2020
Notoatmodjo Soekijdo, Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Rineka cipta, 2010.
PERKENI. (2015). Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia. PERKENI: Jakarta. https://respiratory.unimus.ac.id. Diakses 19 Februari 2020
Priyoto. (2015). Perubahan dalam Perilaku Kesehatan Konsep dan Aplikasi.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Putri, A. U. (2013). Uji Potensi Antifungi Ekstrak Berbagai Jenis Lamun Terhadap Fungi Candida albicans. Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin.
https://www.repository.unhas.ac.id. Diakses 20 Februari 2020
Sakaguchi, H. (2017). Treatment and prevention of oran candidiasis in elderly patiens. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28566666.Diakses 20 Februari 2020.
Sintia. 2016. Pratikum mikrobiologi dasar. Cetakan pertama. CV Trans infi media.
Jakarta timur
Soedarto, (2015). Mikologi Kedokteran. Jakarta: Sugungseto Sujaya, I Nyoman. (2011). Pola Konsumsi Makanan.
31 Lampiran 1 Surat Izin Penelitian
32
Lampiran 2 Surat Keterangan Telah Menyelesaikan Penelitian
33 Lampiran 3
KUESIONER PENELITIAN
Identifikasi Jamur Candida albicans pada Saliva Penderita Diabetes Mellitus Responden yang terhormat,
Saya Adella Aristi, Mahasiswi Universitas Perintis Indonesia yang sedang mengadakan penelitian di RSUD M. Natsir. Saya mohon kesediaan Bapak/Ib untuk bersedia memberikan saliva Bapak/Ibu untuk menjadi sampel penelitian saya yang berjudul Identifikasi Jamur Candida albicans pada Saliva Penderita Diabetes Mellitus, tujuan saya disini untuk melihat apakah pada saliva penderita diabetes tersebut tumbuh jamur candida albicans . Sebelum itu saya juga disini meminta kepada Bapak/Ibu untuk mengisi kuisioner ini secara lengkap dan benar. Semua informasi bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan akademik. Atas bantuannya, saya ucapkan terimakasih.
A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
Jenis Kelamin : a.) Laki - laki b.) Perempuan B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Kapan Bapak/Ibu di diagnosa menderita penyakit Diabetes Mellitus ? 2. Waktu mulai berobat………….
34
3. Hasil pemeriksaan gula darah terakhir, isi salah satu yang diketahiu Gula darah sewaktu……….
Gula sarah puasa………..
Gula darah habis puasa…………
4. Berat badan………..Tinggi badan………
5. Apakah ada keluarga Bapak/Ibu yang terkena penyakit Diabetes Mellitus ?
□ Ada, siapa,,,,, □ Tidak ada □ Tidak Tahu 6. Keluhan yang Bapak/Ibu rasakan saat ini atau yang pernah dirasakan ?
□ Tidak ada
□ Ada yaitu
□ Mudah lapar □ Sering kencing □ Mudah haus
□ Kesemutan □ Lainnya, sebutkan….
7. Kapan keluhan itu muncul ?
□ Sewaktu - waktu □ Waktu Ada Masalah □ Istirahat
□ Sehabis bekerja □ Saat bekerja □ Lainnya
35 Lampiran 4 Hasil Penelitian
NO KODE
SAMPEL
JENIS KELAMIN (L/P)
UMUR (Tahun)
HASIL IDENTIFIKASI
1. RF L 61 Positif Candida albicans
2. NM P 41 Positif Candida albicans
3. EY P 48 Positif Candida albicans
4. ZD P 46 Negatif Candida albicans
5. RW P 61 Positif Candida albicans
6. AN P 56 Negatif Candida albicans
7. HD P 52 Negatif Candida albicans
8. MM P 72 Positif Candida albicans
9. JM P 71 Positif Candida albicans
10 SF L 52 Negatif Candida albicans
36 Lampiran 5 Dokumentasi
Dokumentasi Pengambilan Sampel
Pengambilan Sampel
37
Pewarnaan Gram
Pembacaan Hasil Di Bawah Mikroskop
38
Pembuatan Tabung Kecambah
39 Lampiran 6 Bukti Bimbingan