BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
B. Pembahasan
kecenderungan semakin rendah interaksi sosial yang dilakukan oleh siswa SMA N 1 Airpura.
memiliki keyakinan atau aqidah yang mereka tetapkan sendiri belum terlalu baik. Menurut Glock dan Stark (dalam Ancok & Suroso 2008) keyakinan atau aqidah yaitu merujuk pada seberapa tingkat keyakinan Muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik.
Aspek kedua yaitu peribadatan (praktek agama) terdapat 87 orang yang secara umum skor subjek berada pada kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura belum terlalu baik dalam hal melaksanakan peribadatan (praktek agama) pada dirinya sendiri. Menurut Glock dan Stark (dalam Ancok & Suroso 2008) peribadatan (praktek agama) yaitu merujuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya.
Pada aspek ketiga yaitu Pengamalan terdapat 78 orang yang secara umum skor subjek berada pada kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura dapat mengamalkan dengan baik. Menurut Glock dan Stark (dalam Ancok & Suroso 2008) pengamalan yaitu merujuk pada seberapa tingkat Muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran- ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya,terutama dengan manusia lain.
Menurut Charlesworth dan Hartup (dalam Dagun, 2002) yang menyatakan bahwa remaja dalam melakukan interaksi teman sebayanya akan mempunyai unsur positif yaitu saling memberikan perhatian dan
saling mufakat membagi perasaan, saling menerima diri, dan saling memberikan sesuatu kepada orang lain. Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa interaksi sosial teman sebaya adalah hubungan antara individu yang memiliki persamaan usia, kapasitas kognitif, atau pengalaman sosial serta didalamnya terdapat ketertarikan, perhatian dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Pada aspek pertama yaitu keterbukaan individu dalam kelompok, terdapat 114 orang yang secara umum skor subjek berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura memiliki keterbukaan individu dalam kelompok yang baik. Menurut Partowisastro (Ahmad, 2009) keterbukaan individu terhadap kelompok dan penerimaan kehadiran individu dalam kelompoknya serta menganggap bahwa teman sebaya lebih dapat memahami keinginannya dan belajar mengambil keputusan sendiri.
Pada aspek kedua yaitu Kerjasama individu dalam kelompok, terdapat 97 orang yang secara umum skor subjek berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura memiliki Kerjasama individu dalam kelompok yang belum cukup baik. Menurut Partowisastro (Ahmad, 2009) Kerjasama individu dalam kelompok, yaitu keterlibatan individu dalam kegiatan kelompoknya dan mau memberikan ide bagi kemajuan kelompoknya serta saling berbicara dalam hubungan yang erat.
Pada aspek ketiga yaitu Frekuensi hubungan individu dalam kelompok, terdapat 81 orang yang secara umum skor subjek berada pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura memiliki Frekuensi hubungan individu dalam kelompok yang tinggi.
Menurut Partowisastro (Ahmad, 2009) Frekuensi hubungan individu dalam kelompok yaitu intensitas individu dalam bertemu anggota kelompoknya dan saling berbicara dalam hubungan yang dekat serta mempunyai lebih kesempatan untuk berbicara dengan bahasa dan dengan persoalan mereka sendiri kepada teman sebayanya.
47 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis mengenai hubungan tingkat religiusitas dan interaksi sosial, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat religiusitas siswa SMA N 1 Airpura berada pada kategori sedang. Dengan ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura cukup baik tingkat religiusitasnya.
2. Interaksi sosial siswa SMA N 1 Airpura berada pada kategori sedang.
Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMA N 1 Airpura sudah baik interaksi sosialnya dalam keseharian dan juga pada saat waktu di sekolah.
3. Terdapat hubungan positif signfikan antara signifikan tingkat religiusitas dan interaksi sosial di SMA N 1 Airpura. Artinya semakin tinggi tingkat religiusitas maka ada kecenderungan semakin tinggi interaksi sosial yang dilakukan oleh siswa SMA N 1 Airpura. Sebaliknya, semakin rendah tingkat religiusitas maka ada kecenderungan semakin rendah interaksi sosial yang dilakukan oleh siswa SMA N 1 Airpura.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, maka dikemukakan saran-saran sebagai berikut :
1. Dari kesimpulan hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat religiusitas di SMA N 1 Airpura masih berada pada kategori sedang. Maka dari itu perlu ditingkatkan lagi pada aspek keyakinan atau aqidah yaitu pada
indikator berpegang teguh pada pandangan terhadap teologis tertentu contoh itemnya Kebenaran dan keadilan harus selalu dijunjung tinggi pada kondisi bagaimanapun, pada aspek peribadatan (praktek agama) yaitu pada indikator komitmen terhadap agama yang dianutnya contoh itemnya saya terbiasa berdoa sebelum dan sesudah makan.
2. Dari kesimpulan hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi sosial di SMA N 1 Airpura masih berada pada kategori sedang. Maka dari itu perlu ditingkatkan pada frekuensi hubungan individu dalam kelompok yaitu pada indikator intensitas bertemu anggota kelompok contoh itemnya saya selalu pergi shalat berjamaah bersama dengan anggota kelompok.
3. Bagi peneliti selanjutnya, agar hasil penelitian ini menjadi bahan rujukan untuk meneliti tingkat religiusitas dan interaksi sosial di SMA N 1 Airpura, sehingga dapat lebih memperdalam dan memperluas batasan masalah yang akan diteliti sehingga diperoleh analisa dan hasil yang lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Agus M.2014. Hubungan Antara Harga Diri dan Interaksi Teman Sebaya dengan Stres Belajar. Surakarta.Naskah Publikasi.
Ahmadi Abu. (2004). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmad, Abu. (2009).Pelajaran Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Ancok, D & Nashori F. 2008. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikuntoro, S. 2006. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Arif M.A.2014. Hubungan antara interaksi Teman Sebayadengan Kecerdasan Emosional Siswa Kelas V SD Negeri 1 Bedagas Kecamatan Pengadegan
kabupaten Purbalingga. Jurnal.
Azwar, S. 2005. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Cheung, C., Yeung, J.W. 2010. Meta-analysis of relationships between religiosity and constructive and destructive behaviors among adolescents.
Children and Youth Services Review.
Dagun S. 2002. Psikologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.
Erni, P. 2014. Pengaruh Religiusitas terhadap Pelanggaran Etika pada Siswa Kelas XI MIA 4 dan XI IIS 2 SMA Negeri 14 Kota Bandung. Jurnal.
Gerungan W. A. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Hurlock, E. B. 2002. Psikologi Perkembangan. Surabaya: Erlangga.
Hurlock, B. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Ira, D. 2012. Hubungan antara Tingkat Religiusitas dengan Kemampuan dalam Mengatasi Stres (Coping Stress). Jurnal.
Nashori F & Rachmy D. (2002). Mengembangkan Kreativitas Dalam Perspektif Psikologi Islam. Yogyakarta: Menara Kudus.
Nisfiannoor, M., & Kartika, Y. 2004. Hubungan antara regulasi emosi dan penerimaan kelompok teman sebaya pada remaja. Jurnal Psikologi.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: pedoman skripsi, tesis, dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nazir. 2005. Metode Penelitian. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. (2004). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara.
Palupi, A. O. 2013. Pengaruh Religiusitas terhadap Remaja pada Siswa KelasVIII SMP Negeri 02 Slawi Kabupaten Tegal (skripsi tidak dipublikasikan).
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Prayitno. 1997. Pelayanan Bimbingan dan Konseling: Sekolah Menengah Kejuruan (SMU). Padang: Bina Sumber Daya MIPA.
Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.
Jakarta: Rineka Cipta.
Purwanto N. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Santrock J. W.. 2007. Remaja Edisi Kesebelas Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Rosleny, M. 2013. Hubungan antara Religiusitas dengan Orientasi Masa Depan Bidang Pekerjaan pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Jurnal.
Rubin, Kenneth. H. & Coplan, Robert J. (2009). Handbook of Peer Interactions, Relationships, and Groups. New York: Guilford Press.
Safaria T. 2011. Peran Religious Coping Sebagai Moderator Dari Job Insecurity Terhadap Stres Kerja Pada Staf Akademik.Yogyakarta: Humanitas Jurnal Psikologi Indonesia Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.
Syamsu Yusuf. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Slamet Santosa. 2009. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara.
Soekanto S. 2000. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Sururin. 2004. Ilmu jiwa agama. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Tohirin. 2009. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Rajawali Press.
Umi, M. & Andi, T. 2017. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Teman Sebaya terhadap Perilaku Keberagamaan Siswa di SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang. Jurnal.
Vika Y.S.2018. Pengaruh Interaksi Teman Sebaya terhadap Perilaku Sosial Siswa Kelas XII IIS di SMAN 2 Pontianak. Jurnal.
Walgito B. (2003). Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi.
Yamin, M. 2013. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta:
Referensi (GP Press Group).
Yulianti Yayuk. (2003). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.
Yusuf, A. M. 2005. Metodologi Penelitian (Dasar-Dasar Penyelidikan Ilmiah).
Padang: UNP Press.
Yusuf, A. M. 2010. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.
Lampiran 1. Instrumen Uji Coba Penelitian
INSTRUMENT SEBELUM UJI FAILED
Dosen Pembimbing Prof. Dr. Mudjiran, M.S., Kons.
Oleh
AFSETUBEST AFROE 15006001/2015
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
ASPEK TINGKAT RELIGIUSITAS
Glock dan Stark (dalam Ancok & Suroso 2011) membagi dimensi atau aspek religiusitas menjadi lima, kelima aspek atau dimensi tersebut yaitu : a. Aspek keyakinan
Yaitu aspek menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan Muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik. Di dalam keberislaman, isi aspek ini mengangkut keyakinan tentang Allah, para Malaikat, Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha dan qadhar.
b. Aspek peribadatan (praktek agama)
Aspek ini menunjuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Dalam keberislaman, aspek peribadatan menyakut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur‟an, doa, zikir, ibadah kurban, iktikaf, di masjid dibulan puasa, dan sebagainya.
c. Aspek pengamalan (akhlak)
Aspek ini menunjukan pada seberapa tingkat Muslim berperilaaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya,terutama dengan manusia lain. Dalam keberislaman, aspek ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berdema, menyejahterakan dan menumbuhkembangkan orang lain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berperilaku jujur, maafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak meminum minuman
yang memabukkan, mematuhi norma-norma islam dalam perilaku seksual,berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran islam, dan sebagainya
KISI-KISI ANGKET RELIGIUSITAS
No Aspek Indikator Nomor Item
Jumlah Favorable Unfavorable
1 Aspek keyakinan
Ajaran-ajaran yang bersifat
fundamental dan dogmatik
Kebenaran ajaran- ajaran agama
2
Aspek peribadatan (praktek agama)
komitmen terhadap agama yang
dianutnya Melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan 3
Aspek pengamalan atau
konsekuensi
Individu berelasi dengan dunianya Berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agama
ANGKET RELIGIUSITAS A. Pengantar
Assalamu‟alaikum Wr. Wb
Salam sejahtera bagi kita semua. Terlebih dahulu saya doakan semoga Saudara berada dalam keadaan sehat wal‟afiat dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selanjutnya saya meminta kesediaan Saudara untuk mengisi angket ini. Angket ini merupakan angket untuk mengukur tingkat religiusitas siswa.
Data dan informasi yang diperoleh dari Saudara semata-mata untuk kepentingan penelitian dan tidak ada maksud lain yang dapat merugikan Saudara. Oleh karena itu diharapkan Saudara memberikan informasi yang sesungguhnya dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya,.
Atas kesediaan Saudara dalam mengisi angket ini saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu‟alaikum Wr. Wb
Peneliti,
Afsetubest Afroe
B. Petunjuk Pengisian Angket
Selanjutnya bacalah setiap pernyataan pada angket dengan cermat dan teliti. Pada setiap pernyataan, Saudara diminta memberi tanda centang (√) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang telah disediakan. Diharapkan Saudara mengisi setiap pernyataan sesuai dengan kenyataan yang ada pada diri Saudara. Pilihan jawaban yang disediakan SS, S, KS, TS, dan STS.sebagai berikut:
Sangat Setuju (SS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 81%-100%
Setuju (S) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengan diri saudara berkisar antara 61%-80%
Kurang Setuju (KS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengan diri saudara berkisar antara 41%-60%
Tidak Setuju (TS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 21%-40%
Sangat Tidak Setuju (STS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 1%-20%
Contoh cara menjawab:
NO PERNYATAAN PILIHAN JAWABAN
SS S KS TS STS
1. Saya menjalankan shalat lima waktu setiap hari
√
Dari pernyataan tersebut, Ananda memberikan tanda centang (√) pada kolom SS, maka hal tersebut bermakna bahwa Saudara Sangat Setuju menjalankan shalat lima waktu setiap hari.
C. Identitas
Nama (Inisial) :
Jenis kelamin :
Kelas :
Tanggal mengisi :
D. Pernyataan
NO Item
(+/-) PERNYATAAN PILIHAN JAWABAN
SS S KS TS STS Aspek Keyakinan
Ajaran-ajaran yang bersifat realitas (fundamental) 1 + Kebenaran dan keadilan harus selalu
dijunjung tinggi pada kondisi bagaimanapun 2 + Saya yakin Tuhan itu ada
3 +
Segala yang terjadi dalam kehidupan seseorang merupakan ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan
4 + Al-Qur‟an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
5 - Ketika mendengar asmaul husna, saya merasa biasa saja
6 - Asalkan tidak merugikan orang lain, seseorang boleh melanggar aturan agama Kebenaran ajaran-ajaran agama
7 + Saya percaya bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada
8 + Saya percaya bahwa Nabi adalah orang pilihan yang mendapatkan wahyu dari Allah 9 + Saya percaya bahwa setiap perbuatan manusia
akan mendapatkan balasan dari Allah 10 + Malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya 11 - Kitab suci tidak seutuhnya benar karena
menurut saya buatan manusia
12 - Saya tidak percaya bahwa kematian merupakan takdir Allah
13 - Menurut saya malaikat tidak akan mencatat setiap perbuatan yang kita lakukan
Aspek Praktik Agama
komitmen terhadap agama yang dianutnya 14 + Saya tidak berani melakukan suatu hal yang
dilarang oleh Tuhan
15 + Saya terbiasa berdoa sebelum dan sesudah makan
16 + Saya menyisihkan uang jajan untuk berinfaq di masjid
17 + Sebelum mengerjakan sesuatu saya berdoa terlebih dahulu
18 - Shalat hanya akan membuang waktu saja 19 - Saya ragu bahwa setiap perbuatan akan di
pertanggungjawabkan di hari kemudian
20 - Saya lebih memilih ikut teman ke kantin dari pada shalat di mushalla
21 - Saat mengerjakan sesuatu saya tidak pernah berdoa
Melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan
22 +
Saya selalu menjalankan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah (seperti shalat, puasa, zakat, dll)
23 + Saya selalu mengikuti setiap pelaksanaan ritual agama yang saya anut
24 + Saya rajin mengikuti pengajian yang ada di lingkungan masyarakat
25 + Saya selalu membaca Al-Qur‟an setiap hari 26 - Ada rasa malas dalam diri saya untuk
membaca Al-Quran 27 -
Saya tidak suka mengikuti kegiatan keagamaan seperti wirid, mengaji, dan kegiatan lainnya, karena hanya membuang- buang waktu saja
28 -
Saya tidak pernah menjalankan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah (seperti shalat, puasa, zakat, dll)
Aspek Pengamalan
Individu berhubungan (berelasi) dengan dunianya 29 + Berprasangka buruk kepada orang lain adalah
hal yang seharusnya tidak dilakukan
30 + Saya menghormati/patuh kepada orang yang lebih tua
31 +
Saya secara spontan menolong orang lain yang sedang membutuhkan bantuan tanpa berpikir terlebih dahulu
32 + Saya selalu berteman baik walaupun dia serba kekurangan
33 - Berprasangaka buruk kepada orang lain adalah hal yang wajar
34 - Saya tidak pernah merasakan anugerah dari Tuhan
35 - Dalam beramal, seorang muslim cukup hanya memikirkan manfaat bagi dirinya sendiri Berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agama 36 + Ketika ada orang yang berbuat salah pada
saya, saya lebih memaafkan
37 + Ketika melihat tetangga sedang membutuhkan bantuan, saya segera membantuan
38 + Saya menjenguk teman yang sedang sakit 39 + Saya suka bersedekah karena itu baik dalam
agama
40 + Saya berkata sopan kepada orang yang lebih tua dari saya
41 + Saya memakai pakaian yang menutup aurat 42 - Saya sulit memaafkan orang lain
43 - Menolong orang lain hanya akan membuatnya tidak mandiri
44 - Jika yang sakit bukan teman dekat sayamaka saya enggan untuk menjenguknya
45 - Saya tidak pernah bersedekah
46 - Saya berkata kotor kepada teman atau orang yang lebih tua dari saya
47 - Saya setiap hari berpakaian yang membuka aurat supaya diperhatikan orang lain
ASPEK INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA
Menurut Partowisastro (Ahmad, 2009) merumuskan aspek-aspek interaksi teman sebaya sebagai berikut:
a. Keterbukaan individu dalam kelompok, yaitu keterbukaan individu terhadap kelompok dan penerimaan kehadiran individu dalam kelompoknya serta menganggap bahwa teman sebaya lebih dapat memahami keinginannya dan belajar mengambil keputusan sendiri.
b. Kerjasama individu dalam kelompok, yaitu keterlibatan individu dalam kegiatan kelompoknya dan mau memberikan ide bagi kemajuan kelompoknya serta saling berbicara dalam hubungan yang erat.
c. Frekuensi hubungan individu dalam kelompok, yaitu intensitas individu dalam bertemu anggota kelompoknya dan saling berbicara dalam hubungan yang dekat serta mempunyai lebih kesempatan untuk berbicara dengan bahasa dan dengan persoalan mereka sendiri kepada teman sebayanya.
KISI-KISI ANGKET KUALITAS INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA
No Aspek Indikator Nomor Item
Jumlah Favorable Unfavorable
1
Keterbukaan individu dalam kelompok
Keterbukaan individu dalam kelompok Penerimaan individu dalam kelompok
Menganggap teman sebaya dapat memahami keinginannya Belajar mengambil keputusan sendiri
2
Aspek kerjasama individu dalam kelompok
Keterlibatan individu dalam kelompok Memberikan ide untuk kemajuan kelompok Saling berbicara dalam hubungan yang erat
3
Frekuensi hubungan individu dalam kelompok
Intensitas bertemu anggota kelompok Mempunyai kesempatan berbicara tentang persoalan yang dialami
ANGKET KUALITAS INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA
A. Pengantar
Assalamu‟alaikum Wr. Wb Salam sejahtera bagi kita semua. Terlebih dahulu saya doakan semoga Saudara berada dalam keadaan sehat wal‟afiat dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selanjutnya saya meminta kesediaan Saudara untuk mengisi angket ini. Angket ini merupakan angket untuk mengukur kualitas interaksi sosial teman sebaya siswa.
Data dan informasi yang diperoleh dari Saudara semata-mata untuk kepentingan penelitian dan tidak ada maksud lain yang dapat merugikan Saudara. Oleh karena itu diharapkan Saudara memberikan informasi yang sesungguhnya dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
Atas kesediaan Saudara dalam mengisi angket ini saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu‟alaikum Wr. Wb
Peneliti,
Afsetubest Afroe
B. Petunjuk Pengisian Angket
Selanjutnya bacalah setiap pernyataan pada angket dengan cermat dan teliti. Pada setiap pernyataan, Saudara diminta memberi tanda centang (√) pada salah satu kolom pilihan jawaban yang telah disediakan. Diharapkan Saudara mengisi setiap pernyataan sesuai dengan kenyataan yang ada pada diri Saudara. Pilihan jawaban yang disediakan SS, S, KS, TS, dan STS.sebagai berikut:
Sangat Setuju (SS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 81%-100%
Setuju (S) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengan diri saudara berkisar antara 61%-80%
Kurang Setuju (KS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengan diri saudara berkisar antara 41%-60%
Tidak Setuju (TS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 21%-40%
Sangat Tidak Setuju (STS) : Bila tingkat kesesuaian pernyataan dengandiri saudara berkisar antara 1%-20%
Contoh cara menjawab:
NO PERNYATAAN
PILIHAN JAWABAN
SS S KS TS STS
1. Pada saat berdiskusi saya memberikan tanggapan yang baik
√
Dari pernyataan tersebut, Ananda memberikan tanda centang (√) pada kolom SS, maka hal tersebut bermakna bahwa Saudara Sangat Setuju menjalankan shalat lima waktu setiap hari.
C. Identitas
Nama (Inisial) : Jenis kelamin :
Kelas :
Tanggal mengisi : D. Pernyataan
NO Item
(+/-) PERNYATAAN PILIHAN JAWABAN
SS S KS TS STS Aspek Keterbukaan Individu dalam Kelompok
Keterbukaan Individu dalam Kelompok
1 + Pada saat berdiskusi saya memberikan tanggapan yang baik
2 + Saya menggunakan bahasa yang baik pada saat berdiskusi
4 - Saya tidak suka ketika berdiskusi dengan orang yang tidak saya kenal
5 - Saat berdiskusi saya cendrung berbicara kata-kata yang kurang baik
Penerimaan Individu dalam Kelompok 6 + Saya mempunyai banyak teman
7 + Saya suka mendengarkan pengalaman orang lain
8 + Saya bersedia untuk menjadi teman curhat bagi teman-teman saya
9 - Menurut saya membantu orang lain tidak ada gunanya
10 - Saya tidak suka menjadi teman untuk berbagi pengalaman
Menganggap Teman Sebaya dapat Memahami Keinginannya
11 + Teman saya ikut pada saat saya mengajak pergi shalat berjamaah
12 + Teman saya juga ikut pada saat saya mengajak pergi mendengarkan ceramah 13 - Teman saya tidak pergi ketika saya
mengajak shalat berjamaah
14 - Teman memaksa saya meminum-minuman keras
Belajar Mengambil Keputusan Sendiri 15 + Saat diberikan pilihan saya bisa memilih
tanpa bertanya kepada orang lain
16 +
Ketika ada teman mengaajak bolos sekolah, saya berani tidak mengikuti ajakannya
17 + Saya mempertimbangkan resiko pada saat akan memutuskan berteman dengan siapa 18 - Saya hanya ikut-ikutan teman pada saat
teman mengajak bolos sekolah
19 - Saya akan mengikuti setiap keinginan dari teman saya
Aspek Kerja Sama Individu dalam Kelompok Keterlibatan Individu dalam Kelompok
20 + Saya memberikan pendapat pada saat berdiskusi
21 + Soal yang diberikan pada saat diskusi dapat saya jawab dengan baik
22 +
Saya dapat memberikan jawaban saat teman saya bertanya tentang pembahasan saat diskusi
23 - Saya hanya menjadi pendengar pada saat diskusi berlangsung
24 - Saat diberikan pertanyaan, saya tidak dapat menjawab pertanyaannya
Memberikan Ide untuk Kemajuan Kelompok 25 + Saya memberikan ide-ide terbaru supaya
kelompok lebih maju
26 + Saya menghormati usulan anggota untuk kemajuan kelompok
27 + Saya memberikan tata cara agar kerja kelompok semakin baik dan cepat
28 - Saya tidak pernah memberikan ide untuk kemajuan kelompok
29 - Saya tidak ingin menerima usulan dari anggota kelompok
30 - Saya lebih mementingkan kemajuan diri saya ketimbang kemajuan kelompok
Saling Berbicara dalam Hubungan yang Erat
31 +
Saya berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan ketika berbincang-bincang dengan teman
32 + Saya akan memberikan masukan yang baik bagi anggota kelompok
33 + Saya menceritakan kehidupan saya keteman yang lain
34 - Saya tidak pernah memberikan masukan yang baik bagi anggota kelompok
35 - Saya tidak bisa menjadi pribadi yang menyenangkan pada saat berkumpul Aspek Frekuensi Hubungan Individu dalam
Kelompok
Intensitas Bertemu Anggota Kelompok 36 + Saya datang pada saat berdiskusi
37 + Saya pergi shalat berjamaah bersama dengan anggota kelompok
38 + Pada saat pulang sekolah, saya selalu pulang bersama dengan anggota kelompok 39 - Saya tidak datang pada saat ada diskusi 40 - Saya tidak pernah pergi shalat berjamaah
bersama anggota kelompok
41 - Saya tidak pernah pulang sekolah bersama dengan anggota kelompok
Mempunyai Kesempatan Berbicara Tentang Persoalan yang Dialami
42 +
Saya dihargai pada saat teman-teman saya memberikan kesempatan kepada saya untuk menceritakan pengalaman hidup saya
43 +
Ketika istirahat, saya sering bertukar cerita tentang pengalaman atau masalah yang saya alami dengan teman
44 + Saya nyaman ketika permasalahan saya diketahui oleh teman saya
45 - Saya tidak dihargai pada saat memberikan tanggapan pada saat diskusi
46 - Saat menutup diri pada saat bercerita dengan teman saya