TINJAUAN KASUS
A. Pembahasan Proses Asuhan Kebidanan
157
BAB V
PEMBAHASAN
Berdasarkan jadwal kunjungan ANC dan pemeriksaan ANC dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu minimal 1 kali pada trimester I (sebelum usia 14 minggu), 1 kali pada trimester II (usia kehamilan antara 14 – 28 minggu) dan 2 kali pada trimester III (usia kehamilan antara 28 – 36 minggu dan sesudah usia kehamilan 36 minggu). Standar pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin terhadap perlindungan ibu hamil dan janin, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan (Kemenkes RI, 2016).
Berdasarkan jadwal kunjungan, pemeriksaan ANC dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu minimal 1 kali pada trimester I (sebelum usia 14 minggu), 1 kali pada trimester II (usia kehamilan antara 14 – 28 minggu) dan 2 kali pada trimester III (usia kehamilan antara 28 – 36 minggu dan sesudah usia kehamilan 36 minggu). Standar pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin terhadap perlindungan ibu hamil dan janin, berupa deteksi dini factor risiko, pencegahan, dan penanganan dni komplikasi kehamilan (Kemenkes RI, 2017). Penulis berpendapat tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan praktik.
Pada kunjungan pertama 7 November 2019 usia kehamilan 27 minggu dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan ibu hamil anak pertama dan tidak penah keguguran usia kehamilan 27 minggu serta mengeluh pusing ketika bangun tidur dan mengatakan susah tidur pada malam hari, dan didapatkan pola aktivitas dan istirahat, ibu mengatakan bekerja pada pagi hari pukul 08.00-16.00 WITA, ibu mengatakan tidak pernah tidur siang dan tidur malam ± 4-5 jam. Dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan
umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada kelainan tetapi ditemukan masalah konjungtiva tampak anemis serta dari pemeriksaan penunjang Hb 9 gr/dl.
Sesuai dengan pernyataan menurut DINKES (2015) klasifikasi Hb 9 - 10,9 gr/dl masuk dalam kategori anemia ringan dan menurut Nirwana (2011) menyatakan bahwa anemia merupakan penyakit yang sering dialami oleh ibu hamil disebabkan karena zat besi yang kurang atau karena asupan makanan yang tidak memenuhi standard.
Kurang tidur menyebabkan sel darah merah dalam tubuh berkurang, sehingga dapat memicu terserang anemia. Apabila durasi tidur kita kurang dari waktu yang ideal, hal ini akan menyebabkan proses pembaharuan sel-sel tersebut akan berjalan secara tidak maksimal dan akan mengganggu proses pembuatan hemoglobin sehingga jumlah hemoglobin yang diproduksi tidak akan mencukupi kebutuhan tubuh kita (Astuti, 2015)
Aktivitas berat, aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah adalah aktivitas fisik yang termasuk pada kategori berat. Aktivitas fisik yang dilakukan dapat menimbulkan berbagai dampak negative bagi tubuh, seperti hematuria, hemolisis dan perdarahan pada gastroinstestinal sehingga berakibat pada rendahnya kadar zat besi dalam darah (Martini, 2015).
Asuhan yang diberikan pada Ny. D agar dapat mencegah resiko yang dapat terjadi adalah dengan memberikan konseling pada ibu mengenai kebutuhan nutrisi dengan makanan mengandung zat besi, tinggi protein, sayur, dan buah serta rutin konsumsi tablet Fe minimal 90 tablet pada masa
kehamilan. Sesuai teori menurut Nirwana (2011) Nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup dapat memberikan dampak yang baik bagi wanita hamil dengan anemia.
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dengan tidur siang minimal 1-2 jam dan tidur malam minimal 7-8 jam, minum susu hangat sebelum tidur, serta menjaga pola makan yang terartur agar ibu dapat tidur.
Sesuai menurut Prawihardjo (2012) Wanita hamil dianjurkan untuk tidur siang 1 sampai 2 jam setiap hari, 7-8 jam setiap tidur malam.
Menganjurkan untuk ibu mengurangi aktivitas diluar rumah. Sesuai menurut Martini (2015) aktivitas berat, merupakan aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah adalah aktivitas fisik yang termasuk pada kategori berat. Aktivitas fisik yang dilakukan dapat menimbulkan berbagai dampak negative bagi tubuh, seperti hematuria, hemolisis dan perdarahan pada gastroinstestinal sehingga berakibat pada rendahnya kadar zat besi dalam darah.
Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena asuhan yang diberikan untuk meengatasi anemia pada ibu hamil sudah sesuai.
Pada kunjungan kedua 8 Januari 2020 usia kehamilan 35 minggu 6 hari dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan gerak janin aktif ≥ 10 kali/hari serta tidak ada keluhan saat ini, dan didapatkan hasil ibu mengatakan sudah mengurangi aktivitas di luar rumah serta istirahat cukup pada siang dan malam hari. dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada
kelainan serta dari pemeriksaan penunjang Hb ibu 11,3 gr/dl. Sesuai dengan pernyataan menurut Dinkes (2015) Klasifikasi Hb normal pada ibu hamil yaitu 11 gr/dl. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena Hb ibu termasuk dalam batas normal yaitu 11,3 gr/dl.
Pada kunjungan ketiga pada tanggal 16 Januari 2020 usia kehamilan 37 minggu. Dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan ibu mengeluh nyeri pada pinggang. dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada kelainan.
Asuhan yang diberikan adalah menjelaskan kepada ibu tentang keluhan yang dirasakan meliputi nyeri pinggang terjadi karena punggung badan menopang perut yang semakin membesar dan berkaitan dengan perubahan tubuh dan naik turunnya hormon selama 9 bulan mengandung, penyebab sakit pinggang pada ibu hamil, baik saat hamil muda maupun hamil tua yaituberat badan bertambah, perubahan hormone, perubahan postur tubuh, dan stres.
Sesuai teori menurut Bratayatnya, B. (2008) nyeri pinggang terjadi karena punggung badan menopang perut yang makin membesar, hal-hal yang memicunya pun beragam dan dapat berbeda pada setiap calon ibu. Meski demikian, kebanyakan kasus nyeri pinggang selama kehamilan berkaitan dengan perubahan tubuh dan naik turunnya hormon selama 9 bulan mengandung dan penyebab sakit pinggang pada ibu hamil, baik saat hamil muda maupun hamil tua yaitu berat badan bertambah, perubahan hormone, perubahan postur tubuh, dan stres
Menganjurkan ibu mengatasi nyeri pinggang dengan massase daerah pinggang dan punggung serta melakukan senam hamil, mengompres dengan menggunakan handuk hangat. Letakkan kompres pada area pinggang maupun punggung selama 20 menit
Menurut Nurasih (2016) untuk mengatasi nyeri pinggang dengan memberikan kompres hangat untuk mengurangi rasa nyeri dan memberikan rasa nyaman karena rasa panas akan meningkatkan sirkulasi ke area nyeri.
Serta menurut Kamariyah (2015) senam hamil berguna untuk mempersiapkan otot kaki untuk menyesuaikan pertambahan berat badan ketika hamil serta dapat mengurangi nyeri pinggang.
Sesuai teori menurut Varney (2011) tentang ketidaknyamanan kehamilan trimester III, yaitu nyeri pinggang yang dialami oleh ibu merupakan hal yang normal pada ibu hamil, karena ukuran rahim yang semakin membesar.
Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena nyeri pinggang yang dialami Ny. D merupakan hal normal yang timbul pada kehamilan trimester III.
2. Asuhan Persalinan
Hasil pengkjian data subjektif Ibu mengatakan saat memasuki proses persalinan, usia kehamilan Ny. D yaitu 38 minggu 3 hari. Sesuai pernyataan menurut Kemenkes RI (2016) persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa disertai adanya penyulit.
Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.
a. Kala I
Berdasarkan data subjektif yang penulis dapatkan, kala I persalinan pada tanggal 25 Januari 2020 pukul 07.56 WITA, Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah kemudian ibu pergi ke Rumah Sakit Medika Utama Permata Balikpapan pada tanggal 25 Januari 2020 ibu mengatakan belum keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, tetapi hanya kencang-kencang hilang timbul yang ibu rasakan. Lalu, Ny. D kembali pulang kerumah karena bidan mengatakan masih belum ada pembukaan. Pada tanggal 26 Januari 2020, pukul 00.00 WITA ibu mengatakan kencang-kencang yang dirasakannya semakin sering dan semakin sakit serta keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, sehingga Ny.D memutuskan untuk segera pergi ke Rumah Sakit Medika Utama Permata Balikpapan. Setelah tiba di Rumah Sakit pukul 00.30 Ny.D langsung dilakukan pemeriksaan dalam oleh bidan dan didapatkan pembukaan 5 cm, Ibu mengatakan tidak dipasang infuse.
Sesuai teori menurut Manuaba (2010) kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam.Berdasarkan kurva Friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam.
Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.
b. Kala II
Berdasarkan data subjektif yang penulis dapatkan, kala II persalinan pada tanggal 26 Januari 2020 pukul 02.50 WITA kencang kencang yang dirasakan semakin sering dan ada dorongan ingin mengejan kemudian dilakukan pemeriksaan dalam oleh Bidan serta Bidan memberi tahu kepada ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap, kemudian bidan melakukan amniotomi dan bidan mengatakan ketuban jernih. Ibu melahirkan bayinya pada pukul 03.05 Wita secara normal bayi lahir segera menangis, ibu mengatakan dari pembukaan lengkap sampai dengan bayi lahir sekitar 15 menit.
Sesuai teori menurut Manuaba (2010) lama persalinan pada primigravida 1 - 1,5 jam sedangkan pada multigravida 0,5 - 1 jam ada. Tanda dan gejala persalinan pada seorang wanita, yaitu kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek, dapat terjadi pengeluaran lendir bercampur darah, dapat disertai ketuban pecah, pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks (perlunakan serviks, pendataran serviks, terjadi pembukaan serviks). Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik
c. Kala III
Berdasarkan data subjektif yang penulis dapatkan, kala III persalinan pada tanggal 26 Januari 2020 Pada pukul 03.06 WITA yaitu 1 menit setelah bayi lahir ibu mengatakan di suntik bagian paha kanan, plasenta lahir 5 menit setelah bayi lahir dan setelah itu ibu mengatakan tangan bidan masuk ke dalam jalan lahir untuk membersihkan sisa plasenta. Sesuai teori menurut Manuaba (2010) kala III adalah persalinan yang terjadi setelah kelahiran bayi
dan melibatkan uterus yang berkontraksi dan mengecil dengan durasi waktu pada primigravida 15 menit dan multigravida 10 menit, namun semakin cepat plasenta lahir semakin baik. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena proses kala III berlangsung 5 menit.
3. Bayi Baru Lahir
Hasil pengkjian data subjektif Ibu mengatakan bayi lahir tanggal 26 Januari 2010 pukul 03.05 Wita lahir normal segera menangis jenis kelamin laki-laki Berdasarkan data sekunder asuhan BBL dilakukan 1 jam pasca IMD.
Pemeriksaan antopometri yang dilakukan bidan didapatkan BB 3100 gram PB 47 cm LK : 34 cm LD :33 cm LP : 33 cm, LL :10 cm. Serta asuhan yang diberikan oleh bidan pada Bayi Ny.D diberikan injeksi vitamin K , imunisasi hepatitis B dan antibiotik berupa salep mata.
Sesuai pernyataan menurut Kemenkes RI (2016) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir antara 2500- 4000 gram. Dan menurut Saifuddin (2013) denyut jantung bayi (110-180 kali per menit), Suhu tubuh (36,5 ºC – 37,5 ºC), Pernafasan (40-60 kali per menit). Pemeriksaan antropometri menurut Saifuddin (2013) Berat badan (2500-4000 gram), Panjang badan (44-53 cm), Lingkar kepala (31-36 cm), Lingkar dada (30-33 cm), Lingkar lengan (>9,5 cm). Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik, Karena dari hasil pemeriksaan umum dan fisik bayi normal dan tidak terdapat kelainan. Serta hasil pemeriksaan antopometri pada bayi dalam batas normal.
Sesuai pernyataan menurut Kemenkes RI (2010). Bayi baru lahir diberikan vitamin K injeksi 1mg intramuskuler untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL, pemberian imunisasi hepatitis B 0 hari untuk memberikan kekebalah terhadap penyakit hepatitis dan pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi. Penulis berpendapat, karena kondisi bayi yang telah stabil penulis dan bidan segera memberikan asuhan BBL sebagai upaya untuk mencegah defisiensi vitamin K, memberikan kekebalan tubuh pada bayi terhadap penyakit hepatitis, dan mencegah terjadinya infeksi pada mata bayi. Menurut pendpat penulis tidak ditemukan kesenjangn antara teori dengan praktik karena asuhan yang diberikan sudah sesuai.
4. Asuhan Masa Nifas
Kunjungan selama masa nifas pada Ny.D sebanyak 3 kali yaitu pada kunjungan pertama yaitu nifas hari ke 2, kunjungan kedua 14 hari, kunjungan ketiga 28 hari.
Sesuai teori menurut Suharni (2012), pada kunjungan nifas sebanyak 4 kali, pada kunjungan nifas sebanyak 4 kali, kunjungan pertama 6-8 jam, kunjungan kedua 6 hari, kunjungan ketiga 2 minggu, dan kunjungan keempat 6 minggu post partum. Penulis berpendapat kunjungan nifas tersebut sangat penting dilakukan, karena dengan adanya kunjungan nifas tersebut dapat mendeteksi adanya penyulit saat masa nifas.
Sejalan dengan kebijakan Program Nasional Masa Nifas dalam Walyani (2014), yaitu paling sedikt 4 kali melakukan kunjungan masa nifas dengan tujuan untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi, pencegahan terhadap
kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya, mendeteksi adanya komplikasi yang terjadi di masa nifas, serta menangani komplikasi atau masalah yang timbul.
Pada kunjungan pertama 28 Januari 2020 post partum hari ke 2. Dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan ibu dapat beristirahat setelah proses persalinannya, sudah dapat makan dan minum seperti biasa serta mengeluh ASI keluar sedikit. Dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada kelainan hasil pemeriksaan kontraksi uterus baik, TFU sepusat, lochea rubra, tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka jahitan.
Asuhan yang diberikan pada Ny. D untuk mengatasi masalah ASI keluar sedikit yaitu dengan mengajarkan melakukan pijat oksitosin pada ibu untuk membantu merangsang pengeluaran ASI serta menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayur-sayuran hijau, buah-buahan, dan susu.
Sesuai teori menurut Rahayu (2016) bahwa pijat stimulasi oksitosin untuk ibu menyusui berfungsi untuk merangsang hormon oksitosin agar dapat memperlancar ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu. Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima-keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan.
Dan menurut Monika, F.B. (2014) Pijat ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau refleks pengeluaran ASI. Ibu yang menerima pijat oksitosin akan merasa lebih rileks.
Sesuai dengan teori menurut Wulandari (2011) Kebutuhan nutrisi ibu nifas dan menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, buah-buahan, dan susu yang penting sebagai pemenuhan kebutuhan dalam pemberian ASI yaitu mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena asuhan yang diberikan sudah sesuai.
Pada kunjungan kedua 11 Februari 2020 post partum hari ke 14. Dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan ASI ibu keluar deras dan ibu mengatakan dapat menyusui bayinya dengan baik, ibu dapat beristirahat dan tidur saat bayi tidur, ibu makan 3 kali/hari dengan porsi 1 ½ porsi nasi, 2 potong lauk-pauk, 1 mangkuk sayur, air putih ± 8 gelas/hari. Dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada kelainan hasil pemeriksaan TFU sudah tidak teraba lochea alba, payudara menonjol, terdapat pengeluaran ASI.
Asuhan yang diberikan pada Ny. D yaitu melakukan pemeriksaan pada ibu dan memastikan tidak terdapat tanda bahaya pada masa nifas serta memastikan ibu dapat menyusui bayinya dengan baik.
Sesuai dengan teori menurut Suharni (2012), kunjungan kedua memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, evaluasi adanya tanda- tanda bahaya nifas, memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda-tanda penyulit, memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat,
memberi ibu konseling dalam pengasuhan bayi. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik.
Pada kunjungan ketiga 25 Februari 2020 post partum hari ke 28. Dari hasil pengkajian data subjektif didapatkan sudah tidak ada darah yang keluar dari jalan lahir. Dan pada pengkajian data objektif didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisik tidak ada kelainan hasil pemeriksaan TFU sudah tidak teraba, tidak ada darah nifas keluar dari jalan lahir serta luka jahitan perineum sudah kering dan tidak tampak tanda-tanda infeksi.
Sesuai teori menurut Ambarwati (2016) bahwa pada minggu ketiga masa nifas TFU tidak teraba dan normal. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktik karena proses involusi pada Ny.D sudah berjalan dengan baik.
5. Asuhan Neonatus
Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus dilakukan 3 kali kunjungan, yaitu pada 2 hari, 14 hari, dan 28 hari. Sesuai pernyataan menurut Kemenkes RI (2016) yaitu kunjungan neonatus dilakukan sebanyak 3 kali yaitu KN 1 dilakukan 6- 48 jam, KN 2 dilakukan 3-7 hari, KN 3 dilakukan 8-28 hari setelah bayi lahir. Penulis berpendapat bahwa pentingnya dilakukan kunjungan neonatus sebagai deteksi bila terdapat penyulit pada neonatus.
Pada kunjungan pertama 10 Februari 2020 Neonatus cukup bulan usia 2 hari setelah bayi lahir. Hasil pengkajian data subjektif ibu mengatakan bayi dapat mencari dan menghisap putting dengan baik serta bayi telah BAB dan BAK. Dan hasil pengkajian objektif keadaan umum baik, pemeriksaan tanda
vital yaitu: suhu tubuh 36,8 ºC, nadi 138 x/menit, pernafasan 44x/menit. Dan berat badan 3200 kg. Asuhan yang diberikan pada kunjungan pertama ini adalah menganjurkan dan mengajarkan ibu untuk menjaga kehangatan bayi dan cara perawatan tali pusat yang benar, serta memberikan KIE kepada ibu mengenai ASI Eksklusif selama 6 bulan.
Sesuai teori menurut Walyani (2014), Kunjungan Neonatal ke-1 (KN1) dilakukan pada kurun waktu 6-48 jam setelah lahir. Hal yang dilaksanakan adalah jaga kehangatan tubuh bayi, berikan ASI eksklusif dan rawat tali pusat. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena asuhan yang diberikan sudah sesuai.
Pada kunjungan kedua 11 Februari 2020 neonatus cukup bulan usia 14 hari. Bayi dalam keadaan sehat, tali pusat sudah puput serta tidak terdapat tanda infeksi maupun tanda bahaya pada bayi. Hasil pengukuran tanda vital, yaitu suhu tubuh 36,8 ºC, nadi 128x/menit, pernafasan 36 x/menit. Berat badan 3400 kg terjadi kenaikan 0,2 kg. Asuhan yang diberikan melakukan penimbangan berat badan, memberikan KIE tentang tanda bahaya neonatus, memastikan tali pusat sudah puput serta memastikan tidak terdapat tanda infeksi pada tali pusat.
Sesuai pernyataan menurut Kemenkes (2010) pada neonatus kunjungan kedua yaitu asuhan yang diberikan melakukan penimbangan BB bayi, melakukan pengecekan pada tali pusat sudah puput atau belum dan apakah adanya tanda gejala infeksi, dan memberikan KIE tentang tanda bahaya pada bayi. Menurut pendapat penulis tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik karena asuhan yang diberikan sudah sesuai.