60
61
dan superioritas yang pada akihrnya akan melahirkan fanatisme yang dapat memicu praktek eskstrim dalam bergama sehingga akan menimbulkan tindakan yang bertenatangan deangan nilai-nilai agama yang dianutnya, seperti tidak adanya kemauan untuk hidup rukun dengan orang lain yang kebetulan berbeda keyakinan.54
Pada situasi yang dihadapkan pada masyarakat yang memilki keragaman agama di Kabupaten Lombok Barat TGH Muhammad Subki Sasaki tidak jarang dihadapkan pada sebuah konflik Agama yang di latar belakangi oleh bermacam sebab. Pada dasarnya konsep Agama secara general memiliki persamaan baik dari sudut pandang nilai dan anti nilai maupun dari segi penekanan pada unsur-unsur etika dan moral. Hal ini seharusnya dijadikan sebagai unsur pemersatu antar umat beragama dalam merekayasa dan mendisain visi dan misi yang lebih terarah dan objektif demi terwujudnya masyarakat yang lebih harmonis dan toleransi.55
Pemahaman Agama mejadi instrument pertama dalam moderasi beragama perspektif TGH Muhammad Subki Sasaki, pemahaman tentang agama yang mendalam sangatlah penting untuk menyesuikan diri dengan pemeluk agama lian. TGH Muhammad Subki Sasaki selalu menanamkan rasa toleransi dalam kesehariannya sehingga para santri dituntut untuk menerapkan rasa toleransi pada orang yang berbeda agama agar bisa
54 Abdul Muis, Kerukunan Umat Beragama Dalam Bingkai NKRI, (Jember: UIJ Kyai Mojo, 2020), Hlm. 3-4.
55 Gunawan, Sosiologi Agama: Memahami Teori dan Pendekatan, (Banda Aceh, Ar- raniry Press, 2019), Hlm. 60-61
62
menciptakan suasana hrmonis dalam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain.
Tindakan TGH Muhammad Subki Sasaki untuk menanamkan rasa toleransi pada santrinya meruapakan wujud dari sikap moderat dalam parktik beragama beliau yang ada di lingkungan pondok pesanstren Nurul Madinah Desa Kuripan, peran belaiu sebagi pimpinan pondok pesantren sekaligus beliau juga meruapkan ketua FKUB (forum kerukuan umat beragama) Lombok Barat yang memiliki tanggug jawab untuk merawat kerukuan antar umat bergama.
Peran yang di lakukan oleh TGH Muhammad Subki Sasaki sesuai dengan teori peran yang dikemukakan oleh Serjono Soekanto merupakan peran aktif dimna pada penjelasan tentang peran aktif menurut Soerjono Soekanto merupakan peran yang diberikan anggota kelompok karena kedudukanya di dalam kelompok sebagi aktivitas kelompok, seperti pengurus, pejabat, dan lain sebaginya.56 Karena TGH Muhammad Subki Sasaki Sebagi Sorang pengurus pondok sehingga memliliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman bagiamana Islam tetap menjalin hubungan baik dengan orang yang non muslim dengan cara menanamkan pada santri untuk toleransi dan mejaga hubungan baik dengan orang yang berbeda agama, sikap toleran dalam beragama merupakan cara untuk menghindari gesekan didalam interaksi antar umat bergama agar tidak terjadi konflik antar pemeluk agama.
56 Soekanto, Teori Peranan, (Jakarta: Bumi Aksara 2002), Hlm.242
63
Dalam ayat AL-Qur’an Surah Al-Baqarah 195 juga telah di jelaskan dalam firman Allah:
ۛ اْوُن ِس ْح َ
اَو ۛ ِة َكُلْهَّتلا ىَلِا ْمُكْيِدْيَاِب اْوُقْلُت َلََو ِ هللّٰا ِلْيِب َس ْيِف اْوُقِفْنَاَو نْيِن ِس ْحُ ْلْا ُّب ِحُي َ هللّٰا َّنِا
Artinya:“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang- orang yang berbuat baik.”(QS Al-Baqarah: 195)57
Pada penjelasan ayat di atas, pada kata Ahsin dalam tafsir Al- Misbah diambil dari kata Ahsan yang artinya baik. Patron dalam kata ini berbentuk perintah dan mencakup segala sesuatu yang dapat disentuh oleh kebaikan, berawal dari lingkungan, harta benda, tumbu-tumbuhan, binatang, manusia, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri bahkan terhadap musuh sekalipun tetapi masih dalam batas-batas yang dibenarkan. Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah berakta: sesunguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.58
Pada ayat di atas menujukan bahwa berbuat baik tidak mesti melihat dari latar belakng orang dan asal-usul orang lain. Sehingga TGH Muhammad Subki Sasaki ketika melakukan kebaikan maka harus didasari oleh niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT. TGH Muhammad Subki Sasaki dalam melakukan aktivitas sosialnya selalu mudah untuk berabur dengan berbagai macam latar belakang seperti perbedaan suku, budaya, maupun Agama.
57 QS Al-Baqarah [2]: 195.
58 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan dan Kesan Keseahrian Al-Qur’an, (Tangerang: Lentera Hati, 2005), Hlm. 407
64 2. Pemhaman Kebangsaan
Pemahaman kebangsaan menjadi instrument kedua dalam konsep moderasi ideal TGH Muhammad Subki Sasaki, pemahaman kebangsaan sangat penting karena dengan kita faham tentang konsep kebangsaan maka dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mewujudkan semboyan Bhineka Tunggal Ika tanpa ada sekat yang membatsi diantara yang lainya untuk mewujudkan Negara Kestuan Republik Indonesia sebgai manifestasi secara meyeluruh bagi bangsa Indonesia yang merupakan satu kewajiban bagi setiap anak bangsa untuk bergerak bersama tanpa melihat perbedaan budaya, etnis, suku mapun agama demi untuk melindungi segenap wilayah Indonesia tercinta dari ganguan, ancaman dari dalam maupun luar.
Dalam pemikiran TGH Muhammad Subki Sasaki sangat kental akan nilai-nilai kebangsaan yang sumbernya dari Agama, karena secara umum agama mengajarkan untuk mencintai tanah air bangsa serta isinya deangan segenap jiwa raga untuk menjaga keutuhan bangsa.
3. Pemahaman Kebudayaan
Pemahaman kebudayaan menjadi instrument terakhir dalam konsep moderasi ideal dalam perspektif TGH Muhammad Subki Sasaki. TGH Muhammad Subki Sasaki dalam melihat budaya sebagai dua sisi mata uang yang berbeda namun tidak dapat di pisahkan yang sangat erta kaitanya, khususnya di Indonesia yang msayarakatnya tidak akan pernah ada tanpa di dasari oleh kebudayaan dalam setiap perjalanan hidupnya
65
yang selalu berekembang dalam lingkungan masayarakat. Kebudayaan yang ada di Indonesia berkembang pesat dan beragam corak yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang menunjukan ciri bentuk yang berbeda- beda dari dareh yang satu dengan daerah yang lainya di seluruh pejuru tanah air. Menurut TGH Muhammad Subki Ssasaki budaya meruapakan sebuah kearifan lokal seperti juga dengan tradisi seperti menghormati yang lebih tua dari kita dan menyangi yang lebih kecil.
Dalam pandanganya TGH Muhammad Subki Sasaki melihat keragaman budaya, suku, etnis, dan agama merupakan sebuah realita yang telah dikehndaki Tuhan (Sunnatullah) sehingga dalam menyikapi realitas keragaman tersebut TGH Muhammad Subki Sasaki menjadikan konsep tiga rukun moderasi yakni pemahamn agama, pemahaman kebangsaan dan pemahaman kebudayaan sebgai modal pemahaman untuk beradaptasi dengan kergaman tersebut. Dalam Al-Qur’an sendiri perbedaan pandangan, keyakinan, sikap dan perilkau manusia meruapakan sebuah keniscayaan seperti yang di jelasakan dalam firman Allah:
َنْي ِفِلَت ْخُم َنْوُلاَزَي َلََّو ًة َد ِحاَّو ًةَّمُا َساَّنلا َلَعَجَل َكُّبَر َءۤا َش ْوَلَو
Artinya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat)”. (Q.S.
Hud :118).59
Pada dasarnya perselisihan dan perbedaan manusia tersebut diungkapkan dengan kata kerja (al-fi’l) yang menunjukan makna kebrlangsunganya pada masa kini dan masa yang akan datang, yakni “wala
59 QS Hud [12]: 118.
66
yazaaluuna mukhtalifna”, artinya Tuhan tidak berkehnadak menciptakan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka akan senantiasa dan terus selalu dalam perbedaan, dan memang untuk itu mereka diciptakan seperti dinyatakan pada ayat berikutnya, yakni pada (ayat), yang artinya “dan untuk itulah Allah menciptaakan mereka”. Pakar dalam ilmu tafsir Ar-Razi memahami perbedaan dimaksud pada ayat di atas bersifat umum, meliputi perbedaan agama, perilaku, perbuatan, warna, kulit, bahasa, rezeki dan lainya.60
Berdasrakan pada penjelasan ayat di atas dan melihat pada realitas keragaman yang tercermin pada kondisi masyarakat yang ada di Kabupaten Lombok Barat maka TGH Muhammad Subki Sasaki dengan konsep moderasi ideal yang beliau rangkum dalam tiga rukun moderasi yang ideal yaitu pemahamn agama, pemahaman kebangsaan, dan pemahama kebudayaan yang mampu membuat TGH Muhammad Subki Sasaki untuk menerima segala bentuk perbedaan dan terus ingin untuk menjalin hubungan baik dengaan sesama warga masyarakat yang memilki banyak keragaman dengan menjujung tinggi rasa toleransi antar sesama.
60 Anis Afidah, “Etika Dialog Dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Term Al-Hiwar, Al-Jidal, dan Al-Hijaj), (Skripsi, Universitas Islam Negri Walisongo Semarang, Semarang, 2016), Hlm. 1
67
B. Analisis Kontribusi TGH Muhammad Subki Sasaki Dalam Moderasi Beragama Sebagai Relevansi Keragaman Agama Di Kabupaten Lombok Barat
1. Memperbanyak Dialog Antar Agama
Dalam upaya dialog antar agama TGH Muhammad Subki Sasaki sering melakukan kunjugan ke para tokoh agama yang lain sebagi upaya untuk berdiskusi tentang bagimana cara agar parak pemeluk agama bisa hidup rukun di tengah keragaman agama yang ada di masyarakat Kabupaten Lombok Barta. Dialog antar agama yang di lakukan oleh TGH Muhammad Subki Sasaki biasanya berupaya untuk menyelesikan permasalahan terakit penyelesian konflik-konflik agama, bagaimana bisa tercipta kehidupan yang rukun antar pemeluk agama yang berbeda di tengah masyarakat. Disadari atupun tidak, konflik-konflik yang terjadi akibat sentiemen kegamaan telah mengakibatakan hilangnya rasa aman dikalangan warga masyarakat bahkan terkadang hanya disebabkan oleh persoalan yang tidak jelas dan bahkan sepele. Pendek kata persoalan kecil akan mudah menjadi besar di sebabakan oleh faktor agama.61
Adapun pada ayat Al-Qur’an juga telah di jelaskan untuk melakukan dialog sesuai yang dijelaskan pada Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 10:
َنْو ُم َحْرُت ْم ُكَّلَع ل َ هللّٰا او ُقَّتاَو ْم ُكْي َو َخ َ َ
ا َنْيَب اْو ُح ِل ْص ا َ َ
ف ٌة َو ْخ ِا َنْوُنِمْؤُْلْا اَمَّنِا
61 Solehuddin, Damai Beragama Damai Berenegara, (Jakarta: CV. Mutiara Barokah Multigrafika, 2018), Hlm. 57.
68
Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S.
Al-Hujurat :10)
Para ahli tafsir memberi penjelasan Ikhwa artinya saudara atau satu keturunan atau saudara kandung. Al-Qur’an menggunakan lafadz ikhwa sebagai penegasan bahwa orang-orang beriman dan satu keturunan. Pada ayat diatas juga dijelaskan bahwa apabila ada perselisihan antara kaum mukmin maka dianjurkan agar mendamaikan di antara kedua belah pihak yang sedang berselisih (Konflik).62 Pada penyelesaian konflik bisanya perlu adanya dialog atau mediasi yang diupayakan untuk meyelesaikan suatu permasalahan di dalam masyarakat.
TGH Muhammad Subki Sasaki dalam upaya dialog selalu mengedepankan kebebasan berfikir rekannya untuk menyampaikan setiap permasalahan yang di hadapi di lapangan agar bisa di cariakn jalan keluar bersama-sama. Dalam dialog juga, memang prinsip kebebasan berfikir sebgaimana diajnurkan Ahmad Wahib, harus menjadi sebuah landasan ketika proses dialog dilakukan. Tanapa kebebasan berfikir, maka dialog yang berlangsung hanyalah ajang untuk menujukan bentuk-bentuk emosional yang dikandung agama, dan bukan untuk menghadirkan kemungkinan-kemungkinan kebenaran.63
62 Dapartemen Aagama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, (Bandung, Al-Mizan, 2010), Hlm.517.
63 Adul Wahid, Pluralisme Agama Paradigma Dialog Untuk Mediasi Konflik dan Dakwah, (Mataram: LEPPM IAIN Mataram 2016), Hlm.109.
69
Dalam sebuah upaya dialog diperlukan sebuah sikap demokratis.
Diantara sikap demokratis yang perlu dimiliki adalah tidak melakukan teror mental terhadap orang yang bersikap lain, memberikan orang lain menentukan sikap dengan persaan bebas, tanpa adanya rasa ketakutan sesuai denga nisi hatinya sendiri. Target dikedepankanya sebuah sikap demokratis ini bukanlah “supaya orang lain menentukan sikap seperti kita punya”, melainkan supaya dia menginsafi dengan sadar akan kelemaahan sikapnya.64
Dalam dialog juga perlu pencarian kebenaran, harus dikemukakan apa yang masih terpendam di hati tanpa ragu-ragu, terus terang apa adanya, tidak berputar-putar berdiplomasi menghindari pertentangan.
Sebab dari pertetentangan-pertentangn keras akan bisa digali kebenaran- kebenaran baru yang lebih tinggi, dan akan meninggalkan pendapat- pendapat semula dan memeluk kebenaran baru yang lebih tinggi itu, baik yang lebih banyak bersumber dari pendapat-pendapat sendiri maupun yang lebih banyak bersumber dari pendapat oarang lain. Dalam sebuah dialog, justru tidak berbicara tentaang persamaan-persamaan, tetapi pertentangan- pertentangan. Persamaan tidak akan mengubah apa-apa untuk pengembagan. Tetapi pertentangan justru mempunyai daya rangsang yang tinggi untuk kematangan emosional.
Dalam berdialog juga diperlukan pembuktian yang kongkrit dan bukan retorika. Yang digunakan adalah kebenaran dalam realita dan bukan
64 Ibid, Hlm. 110-111
70
kebenaran semu yang menggeleyut dalam pikiran dan kata-kata untuk membuktikan diri baik (dan benar), tapi dengan kata dan kerja yang baik dan benar.
Dialog merupakan upaya untuk menuju perubahan dan transformasi, baik individu maupun sosial, kearah idealitas bagi semua.
Hal ini terkait dengan pandangan yang mencerminkan bawa agama bukanlah tujuan, melainkan sumber inspirasi bagi suatu proses sosial yang terus menerus berkemabng meyertai kehidupaan manusia, menuju kepada suatu tujuan, yaitu realitas ideal dan tunggal.
Tujuan dialog ialah kepada perubahan, pembaharuan, dan transformasi, baik pada diri subjek maupun pada objek (ontologis).
Dengan semangat mencari kebenaran melalui kejujuran intelektual, dengan hati dan otak yang terbuka lebar-lebar, orang yang berdialog harus berangakat dari kesedihan untuk memperoleh pengaruh, yaitu pengaruh terhadap sikap, kematangan intelektual, dan kedewasaan emosional, meskipun tentunya melalui proses yang cermat.65
2. Mananamkan Rasa Toleransi Dalam Beragama Kepada Santri dan Guru di Pondok Pesantren Nurul Madinah
Toleransi antar umat beragama meruapakan jalan untuk mencapai sebuah keharomonisan dalam mejalin hubungan di tengah kergaman agama di masyarakat Kabupaten Lombok Barat. Nilai-nilai toleransi antar umat beragama selalu TGH Muhammad Subki Ssasaki tanamkan pada
65 Ibid, Hlm.111-113
71
santri maupun guru di pondok pesnatren Nurul Madinah Desa Kuripan uatara, nilai toleransi ini terlihat pada saat perayaan hari raya nyepi di permukiman umat beragama Hindu yang berdekatan dengan pondok pesantren Nurul Madinah, ketika itu TGH Muhammad Subki Sasaki memerintahkan untuk para santri dan ustaz agar menggunakn speker dalam ketika malakukan kegiatan pengajian, baca Al-Qur’an dan kegitan pondok lainya selama perayaan hari nyepi untuk masyarakat yang beragama Hindu di pemukiman dekat pondok. Kegitan pengguanaan speker dalam selama pelakasanaan hari raya nyepi bagi umat yang beragama Hindu merupakan cara TGH Muhammad Subki untuk mengajarakan pada santrinya untuk menghargai pemeluk agama lian dalam hal ini umat Agama Hindu di pemukiman dekat pondok pesantren yang sedang menjalankan ibdah berupa perayaan hari nyepi.
Di dalam Agama Islam sendiri memang telah diajarkan untuk saling menghargai satu sama lain, seperti yang di jelaskan pada ayat QS Al-Hujurat 49/13:
ُساَّنلا ا َه ُّي َ ا ٰٓ ي َلِٕى ۤ
اَب َ
ق َّو اًب ْوُع ُش ْم ُك ن ْ
لَع َجَو ى ثْن ُ
اَّو ٍر َكَذ ْنِ م ْمُك نْقَلَخ اَّنِا نِا ۚ اْو ُ
فَراَعَتِل ِ هللّٰا َدْنِع ْم ُكَمَرْكَا
ٌرْيِب َخ ٌمْيِلَع َ هللّٰا َّنِاۗ ْمُكى قْتَا
Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.(Q.S. Al-Hujurat :10)
72
Ayat tersebut mengandung makna perdamaian diantara satu sama lain, baik dalam sekala kecil hingga pada tingkat skala yang jauh lebih besar. Jadi perlu disadari, sebagai umat yang beragama haruslah menjaga sikap antara sesama, karena itu sudah menjadi bagian dari falsafah Pancasila yang saling mengutamakan kebebasan dalam beragama, menjaga sikap dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama sebagai salah satu alat untuk menjaga stabilitas bangsa.66 Dalam upaya menjaga satabilitas kerukunan antar umat beragama TGH Muhammad Subki Sasaki menjadikan ayat di atas sebagai landasan dalam merawat kerukuan dengan cara menjaga hubungan baik dengan saudara-saudara yang non muslim dengan wujud sebuah toleransi yang beliau lakukan dan di ajarakan juga pada santri-sanrinya di pondok pesantren Nurul Madinah.
Adapun dalam upaya untuk menganalisis kontribusi TGH Muhammad Subki Sasaki, peneliti disini menggunakan teori sosiologi yang di kemukakan oleh Talcott parson yang mendefinisikan bahwa teori struktural fungsional sebagai bagian keseimbangan dalam institusi sosial yang diakuinya akan eksis atau dikenal masyarakat apabila telah berhasil menajalankan tugas serta fungsinya dengan baik, tampa memberikan perbedaan sedikitpun.67
Dapat dilihat dari penejelasan Talcott Parson mengenai struktural fungsional bawah warga masyarakat yang memiliki fungsi penting,
66 Sairin Weinata, Kerukunan antar uamat beragama, (Jakarta: Eralangga, 2002), Hlm.15
67 Wirawan, Teori-Teori Sosial dalam Paradigma Fakata Sosial, Defnisi Sosial dan Perilkau Sosial (Jakarta: Pernada Media Grup 2012), Hlm. 41
73
didalam lingkunganya harus berjalan sesuai dengan fungsi yang menjadi tugasnya seperti dalam penelitian ini yang mengkaji tentang Moderasi Beragama Perspektif TGH Muhammad Subki Sasaki yang dimana TGH Muhammad Subki Memiliki sebgai pengurus pondok pesantren Nurul Madinah berperan penting untuk menumbuhkan rsa toleransi antar umat beragama yang beliau terapkan sebagai refleksi dari sikap moderat dalam beragama yang beralndasakan pada konsep moderasi ideal yang di topang pemhaman keagamaan, pemahaman kebangsaan dan pemhaman kebudayaan. Rukun Moderasi ideal ini juga beliau terapkan kepada para santrinya agar mampu membuat santri memiliki rasa toleransi yang tinggi di tengah perbedaan agama, budaya, suku, dan etnis di masyarakat.68
Dalam masyarakat menurut Talcott Parson memiliki sistem-sistem yang saling berkaitan, dimana ketika salah satu bagian sistem tidak menjalankan tugasnya maka sistem yang lian tidak akan berjalan dengan baik, semua masyarakat mempunyai mekanisme supaya bisa mengintegrasikan hal yang dimilki.69
Talcott Parson juga mnegenalkan teori AGIL untuk menjelsakan hierarki pengendalian sibernetika, hierarki sibernetika dapat dicermati melalui energi dan sebuah integritas, yang meliputi sistem budaya, sistem sosial, sistem keperibadian dan sistem organisasi subsistansi dalam
68 Ibbid. Hlm. 43
69 Ibbid. Hlm.44
74
kesatuan holistik. Tindakan individu dan tindakan sosial yang mampu diamatai menekankan pada sistem dan kondisi energi.70
Jika kita melihat masyarakat sebagai sebuah sistem sosial dari kacamata struktural fungsional itu dapat di konstruksikan yang terdiri dari beberapa subsistem yang menjalankan fungsi-fungsi utama didalam kehidupan bermasyarakat, yang sering disingkat dengan AGIL, yakni:71
a. Adaptasi merupakan keharusan bagi sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkungan dengan baik.72
Fungsi adaptasi ini berakitan dengan sebuah tindakan. Dalam menjalankan fungsi ini TGH Muhammad Subki Sasaki berupaya agar bisa beradaptasi dengan situasi perbedaan keyakinan dalam interaksi sosialnya bersama teman-temnaya yang non muslim baik di lingkungan pondok maupun dalam aktivitas sosialnya.
TGH Muhammad Subki Sasaki melakukan interaksi sosial dengan banyak orang yang berbeda agama denganya, dengan proses adaptasi untuk mengenal lebih jauh tentang perihal keyakinan yang dimiliki oleh sahabat maupun rekan kerja beliau di Forum Kerukunan Umat Beragama Lombok Barat, beliau sering berdiskusi dan bertukar fikiran untuk menemukan solusi bagaimana agar bisa hidup rukun di tengah keragaman agama di tengah masayarakat Kabupaten Lombok Barat.
70 Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Paradigma Fakta Sosial, Definisi Sosial dan Perilaku Sosial, (Jakarta: Prnada Media Group 2012), Hlm. 52-53
71 George Ritzer Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik Samapai Perekembangan Muktahir Teori Sosail Postmoderen, (New York 2004), Hlm. 251
72 Ibid. Hlm. 52-53
75
b. Goal attainment, merupakan sebuah persyaratan fungsional yang muncul dari pandangan bahwa sebuah tindakan diarahakan pada tujuan-tujuanya.
Dalam rangka mewujudkan sikap toleransi sebagai wujud moderasi dalam beragama TGH Muhammad Subki Sasaki sebagai pimpinan pondok telah melakukan berbagai kegiatan dengan para santri maupun guru di pondok pesantren Nurul Madinah melalui kegiatan untuk mengajak para santri menjenguk orang yang beragama Hindu yang sedang sakit, mengunjungi tempat-tempat ibadah masyarakat yang non muslim dan masih banyak lagi kegitan yang melibatkan santri dan guru di pondok untuk bisa memupuk rasa toleransi pada warga masyarakat yang non muslim.
Pada praktik kegiatan TGH Muhammad Subki Saski untuk tidak membedakan latar belakang seseorang dalam menjalin hubungan dalam ranah sosial, menunjukan prinsip TGH Muhammad Subki untuk memperthankan rasa kebersamaan dalam upaya mewujudkan keadaan beragama yang rukun atas dasar rasa kemanusiaan dan persamaan sebagai warga negara Indonesia. Adapaun sikap toelransi yang TGH Muhammad Subki Sasaki ajarkan pada sanrtinya meruapakan sebuah tanggung jawab beliau sebagai seorang pimpinan pondok untuk memberikan edukasi tentang Islam sebagai agama yang rahmatan lilalamin.
76 c. Fungsi integrasi
Integrasi dalam pandangan teori AGIL dimana dijelaskan bahwa sistem harus mengatur hubungan antar bagian-bagian yang menjadi komponen. Sistem juga harus mengelola antar hubungan ketiga fingsi, diantaranya (A,G,I,L).
Integrasi sendiri pada teori AGIL adalah sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian-bagian yang menjadi komponenya. Pada kaitanya dengan fungsi integerasi sistem sosial merupakan sebuah representasi dari fungsi integrasi tersebut.
Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lainya setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan budaya, kebiasaan ataupun norma yang berlaku di masyarakat.
TGH Muhammad Subki Sasaki sebagai seorang tokoh Agama sekaligus seorang pimpian pondok pesantren Nurul Madinah memilki peran dan fungsi untuk memberikan pemahaman yang baik tentang agama islam, terutama tentang Islam sebagai Agama yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi persudaraan antar sesama manusia.
Jadi sangat bersesuaian deanga teori AGIL pada bagian integrasi. Pola hubungan antara TGH Muhammad Subki Sasaki dengan masyarakat yang non muslim didasarkan atas rasa toleransi dan kemanusiaan sebagai salah satu alat pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.