• Tidak ada hasil yang ditemukan

54 BAB III

55

















Mengenai efektivitas terapi perilaku (behavior) dalam konseling Islam terhadap interaksi sosial remaja di SMAN 1 Kediri, yaitu lumayan efektif karena di dalam kegiatan imtaq ini para siswa melakukan interaksi sesama temannya yang mungkin sebelumnya mereka belum pernah duduk berdekatan dan berinteraksi langsung namun di dalam kegiatan imtaq ini mereka berbaur bersama karna mereka di kumpulkan di satu tempat.

Wawancara yang dilakukan dengan bapak H. Ismail kegiatan Imtaq yang dilakukan di lingkungan sekolah SMAN 1 Kediri sangat efektif karna di dalam kegiatan ini para siswa dikumpulkan di satu tempat dan mereka berbaur sama teman-teman yang lain dan antara kelas satu, dua, dan tiga mereka semua dikumpulkan di satu tempat yang sama dan di sana interaksi yang diinginkan bisa terwujud karena setiap minggu diadakan dan mereka tentunya duduk dengan teman yang berbeda-beda.

Shalat Zuhur berjamaah merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di SMAN 1 Kediri. Hal ini dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam yang menyatakan:

Artinya: “dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”(Q.S al-Baqarah, ayat 43).66

Maksud dari ruku’lah dengan orang-orang yang ruku’ adalah sholat berjamaah dan dapat pula diartikan tunduklah pada perintah- perintah Allah bersama-sama orang yang tunduk.

66 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (bandung: Jam’atul Ali- Art, 2005), hal36

56

Abdul Aziz dan Abdul Wahab mengemukakan, sholat berjamaah termasuk salah satu keistimewaan yang diberikan dan disyariatkan secara khusus bagi umat muslim. Ia mengandung nilai-nilai pembiasaan diri untuk patuh, bersabar, berani, dan tertib aturan, di samping nilai sosial untuk menyatukan hati dan menguatkan ikatan antar sesama.67

Sholat Zuhur berjamaah menurut bahasa adalah shalat yang dikerjakan bersama-sama lebih dari satu orang. Sedangkan menurut syara’

adalah shalat yang dikerjakan bersama-sama dua orang atau lebih, dimana salah seorang darinya sebagai imam shalat yang harus diikuti, sedangkan yang lain sebagai makmum yang harus mengikuti imam.68

Selain untuk menerapkan terapi perilaku (behavior) dalam konseling Islam di SMAN 1 Kediri, kegiatan solat berjamaah yang dilakukan pihak sekolah juga untuk melatih siswa supaya siswa bisa hidup disiplin dan lebih menghargai waktu.

Adapun di dalam kegiatan sholat berjamaah para siswa dapat melakukan interkasi di sana setelah selesai melakukan solat berjamaah entah itu dengan siswa maupun para guru yang ada di sekolah, sebab sholat berjamaah yang diadakan pihak sekolah diikuti oleh seluruh golongan yang ada di dalam sekolah. Jadi di sana para siswa dapat berinteraksi langsung dengan teman-temannya dan para guru-guru yang ada di dalam sekolah.

67 Abdul Aziz dan Abdul Wahab, Fiqih Ibadah (Jakarta: Amzah, 2010), hal. 238

68 Labib Mz. Fiqih islam (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2006), hal. 106

57

Wawancara yang dilakukan dengan bapak H. Ismail selaku kepala sekolah SMAN 1 Kediri mengatakan bahwa di dalam melakukan solat berjamaah di SMAN 1 Kediri para siswa senantiasa melakukan interaksi sosial di dalam Mushola setelah mereka melakukan solat zuhur berjamaah, mereka juga berinteraksi sama para guru yang ada di sekolah.

B. Faktor Penghambat Efektivitas Terapi Perikau Behavior Dalam Konseling Islam Terhadap Interaksi Sosial Remaja

1. Kedisiplinan Siswa

Kedisiplinan merupakan salah satu unsur terpenting dalam rangka meningkatkan prestasi siswa, hal ini juga berkaitan erat dengan faktor pendukung guru dalam pemberian bimbingan konseling terhadap siswa dalam hal terapi perilaku. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ibu Zohrah Rohana selaku guru bimbingan konseling mengatakan bahwa

“Siswa di sini kayaknya kurang disiplin dalam kegiatan pemberian konseling. Karena menurut saya hal ini sangat penting. Tapi rata-rata kami kesulitan dalam memberikan pemahaman yang jelas”.

Lebih lanjut hal di atas diperkuat dengan hasil observasi yang peneliti lakukan yaitu, banyak siswa yang berkeliaran ketika akan sholat berjamaah. Kebanyakan siswa lebih dahulu pergi ke kantin dari pada ke musolla terlebih dahulu untuk sholat berjamaah.

2. Sarana Dan Prasarana

Fasilitas merupakan pendukung yang sangat penting dalam suatu kegiatan, namun dalam hal ini fasilitas yang diharapkan kurang

58

memadai seperti yang dijelaskan oleh ibu Zohrah Rohana selaku guru bimbingan konseling bahwa “memang di sini fasilitas yang ada dalam lingkungan sekolah ini kurang seperti keran air yang digunakan untuk berwudhu tidak sesuai dengan kapasitas siswa yang ada di dalam lingkungan sekolah SMAN 1 kediri.”

Mada Kapia Putra (siswa Kelas X1) dan Latifa Zahra (siswi kelas X1) juga mengatakan bahwa “fasilitas yang ada di sekolah ini dalam kegiatan sholat berjamaah dan imtaq memang kurang seperti keran air yang minim dan micropound yang terbatas, karena hanya cuma satu unit”.

3. Dukungan Dan Kerja Sama

Zohrah Rohana (guru bimbingan konseling) mengatakan bahwa

“dalam pelaksanaan kegiatan ini banyak guru yang tidak mengikuti kegiatan sholat Zuhur berjamaah bersama para siswa dan itu yang membuat para siswa banyak yang tidak mengikuti kegiatan solat zuhur berjamaah”.

Hal tersebut juga dipertegas oleh Mada Kapia Putra dan Latifa Zahra (siswa kelas X1) mengatakan “memang benar ada beberapa guru yang tidak mengikuti kegiatan sholat Zuhur berjamaah dan itu yang membuat sebagian siswa tidak mengikutinya”.

Dari hasil pengamatan peneliti di lapangan, memang benar ada beberapa guru yang pulang duluan ketika kegiatan sholat Zuhur berjamaah berlangsung.

59 BAB IV PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan paparan data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa terapi perilaku (behavior) dalam konseling islam sangat efektif dalam memperkuat interaksi sosial remaja di SMAN 1 Kediri. terapi perilaku dalam konseling Islam merupakan terapi yang selalu dilakukan oleh pihak sekolah dalam bentuk kegiatan imtaq dan solat zuhur berjamaah yang diikuti oleh seluruh siswa dan gurru di SMAN 1 kediri.

Adapun hambatan yang dihadapi dalam pemberian terapi perilaku dalam bentuk kegiatan imtaq dan shalat Zuhur berjamaah yaitu kurang memadainya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam proses berlangsungnya kegiatan imtaq dan shalat Zuhur berjamaah dan kurang partisipasi dan kerja sama dari beberapa pihak guru lainnya dalam membina, mengkordinir siswa dalam pemberian terafi perilaku dalam kegiatan imtaq dan shalat berjamaah.

B. Saran

Untuk meningkatkan interaksi sosial siswa di sekolah SMAN 1 Kediri maka perlu di perhatikan hal-hal berikut:

1. Agar pihak sekolah memperhatikan atau menambahkan sarana dan prasarana dalam menunjang pelaksanaan terapi perilaku dalam konseling Islam terhadap interaksi sosial remaja di sekolah

59

60

2. Agar seluruh elemen yang ada di sekolah ikut mendukung dan berpartisipasi dalam menjalankan kegiatan apapun yang dibuat oleh pihak sekolah.

3. Membuatkan jadwal untuk siswa dalam mempersiapkan dan merapikan perlengkapan yang akan dan sesudah digunakan.

61

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz dan Abdul Wahab, Fiqih Ibadah (Jakarta: Amzah, 2010), hal.

238

C. George Boeree, General Psychology (Psikologi Keperibadian, Kognisi, Emosi, Dan Perilaku), (Yogyakarta; Prismasophie, 2016).

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (bandung: Jam’atul Ali-Art, 2005), hal36

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hal 82

H. Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia) hal.

168-170

Idianto Muin, Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 2006).

Kathryn Geldard, Konseling Remaja (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012).

Kuni Afifa, Efektivitas Terapi Perilaku Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis Di Graha Autis Mataram, (Skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, 2017).

Labib Mz. Fiqih islam (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2006), hal. 106

Mohammad Ali & Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004).

Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 186

Muhamad Azis Ikrumullah, Konseling Melalui Terapi Behavioristik Terhadap Perilaku Bullying Pada Anak Di SD Negeri 2 Kalijaga Aikmel Lombok Timur, (Skripsi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Jurusan Bimbingan Dan Konseling Islam, 2017).

Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penelitian Pendidikan, (Bandung:

Sinar Baru Algensindo, 2004), hal 195.

Nurhasanah, Efektivitas Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan Minat Belajar Pai Pada Anak Berkebutuhan Khusus (Autis) Di Graha Autis Kekalek Mataram, (skrpsi fakultas tarbiyah dan keguruan jurusan pendidikan agama islam, 2017).

Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Sinar Grafiks Offset, 2010).

62

Samuel T. Gladding, Konseling Propesi Yang Menyeluruh, (Jakarta Barat:Indeks Permata Puri Media).

Sudaryono, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Kharisma Putra Utama) hal. 82

Suhirman, peran tradisi ijtima dalam membina perilaku remaja dusun paok tawah desa bunut baoq kecamatan praya kabupaten Lombok tengah,(Skripsi fakultas dakwah dan ilmu komunikasi, jurusan bimbingan dan konseling islam) tahun 2017.

Sukring, Pendidikan Agama Islam (Kendari: Kaukaba Pressindo, 2013), hal 95.

V. Wiranto Sujatwen, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: PT Pustaka Baru, 2014).

63

LAMPIRAN

Dokumen terkait