BAB I PENDAHULUAN
B. Pembahasan
kontrol yang memperoleh model pembelajaran ekspositori. Tabel 4.8 berikut ini menunjukkan hasil Independent Sample T-Test.
3. Analisis Korelasi Kemampuan Komunikasi Matematis dan Self- Confidence Analisis korelasi digunakan untuk menguji keterkaitan antara komunikasi matematis dan self-confidence siswa kelas eksperimen. Pengujian korelasi menggunakan Pearson Product Moment dengan taraf signifikansi 0,05 serta menggunakan program Software IBM SPSS 24.0 for Windows.
Hasil output korelasi dihasilkan setelah dilakukannya analisis data posttest kemampuan komunikasi matematis dan angket self-confidence, hasil output korelasi ditunjukkan pada tabel 4.9. Adapun perolehan skor koefisien korelasi sebesar 0,396 dengan kriteria sedang. Hasil output korelasi ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut ini:
Tabel 4.9
Uji Korelasi Komunikasi Matematis dan Self-Condfence Correlations
Komunikasi Matematis
Self- Confidence
Komunikasi Matematis Pearson Correlation 1 .370
Sig. (2-tailed) .044
N 30 30
Self-Confidence Pearson Correlation .370 1
Sig. (2-tailed) .044
N 30 30
Berdasarkan Tabel 4.9 hasil korelasi antara kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa pada kelas eksperimen yang memperoleh model Problem Based Learning (PBL) diperoleh nilai signifikansinya adalah 0,044
< 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha: diterima dan H0 ditolak, sehingga terdapat korelasi antara kemampuan komunikasi matematis dengan self-confidence siswa yang memperoleh model Problem Based Learning (PBL)
sebagai berikut:
1. Kemampuan Komunikasi Matematis
Berdasarkan hasil pengujian kemampuan komunikasi matematis awal siswa didapatkan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan antara kemampuan komunikasi matematis siswa di kelas yang memperoleh model pembelajaran Problem Based Learning dan kelas yang memperoleh model pembelajaran konvensional pada tes awal. Hal ini dapat mempermudah untuk melihat bagaimana pencapaian kemampuan komunikasi matematis siswa setelah diberikan perlakuan pembelajaran.
Setelah dilakukan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan model pembelajaran konvensional, selanjutnya dilakukan tes akhir terhadap kedua kelas, ternyata terdapat perbedaan antara kemampuan komunikasi matematis siswa di kelas yang memperoleh model pembelajaran Problem Based Learning dan kelas yang memperoleh model pembelajaran konvensional, didapatkan hasil bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang Mengikuti pembelajaran dengan model Problem Based Learning lebih unggul daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Gambar 4.5 dan 4.6 memperlihatkan bahwa siswa yang memperoleh model pembelajaran Problem Based Learning memiliki kemampuan komunikasi matematis yang lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran konvensional.
Gambar 4.5
Jawaban model pembelajaran konvensional Soal Nomor 1
Gambar 4.6
Jawaban model pembelajaran Problem Based Learning Soal Nomor 1 Gambar diatas merupakan jawaban siswa dengan poin tertinggi dari soal dengan indeks kesukaran mudah dari siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional maupun siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning Gambar 4.1 menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih banyak menguasai indikator kemampuan komunikasi matematis serta menuliskan langkah- langkah penyelesaiannya dengan baik dan rinci. Pada indikator ini diharapkan yang dalam pengerjaan soalnya siswa dapat menginterpretasikan ide-ide, simbol, istilah serta informasi matematika dan menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan. Pada indikator tersebut siswa sudah dapat merumuskan masalah yang terdapat dalam soal tersebut, yakni menginterpretasikan grafik di berbagai kuadran, yang selanjutnya menggunakan rumus perbandingan trigonometri yang menggunakan segitiga siku- siku dan arah grafik untuk menarik kesimpulan dengan benar dan tepat. Sedangkan, pada jawaban siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional siswa tidak merumuskan permasalahan matematis dengan baik, tetapi mereka sudah paham dengan konsep matematis mana yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Dapat dilihat pada gambar 4.6 siswa dapat menarik kesimpulan tetapi tidak benar-benar selesai sehingga tidak bisa menarik suatu kesimpulan seperti pada jawaban siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning
.
Gambar 4.7
Jawaban Kelas model pembelajaran konvensional Soal Nomor 2
Gambar 4.8
Jawaban kelas Problem Based Learning Soal Nomor 2
Berdasarkan gambar 4.7, siswa dengan menggunkan model pembelajaran konvensional mampu menyeesaikan soal tanpa mengidentifikasi permasalahan yang ada dan langsung mencamtumkan jumlah kursi pada barisan ke-6 dan ke-7.
Sedangkan pada menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berdasarkan gambar 4.8 siswa mampu menyelesaikan soal dengan mengidentifikasi
permasalahan dari soal yang disajikan kemudian siswa pada kelas eksperimen mampu mengidentifikasi dan menentukan jumlah kursi pada barisan selanjutnya dengan memperhatikan pola bilangan yang tersusun dari barisan sebelumnya sehingga pada kelas eksperimen siswa mampu menyelesaikan sesuai dengan indikator kemampun komunikasi matematis.
Selanjutnya pada soal nomor 3 dengan indikator yaitu Menulis matematika (Written Text), kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas serta tersusun secara logis. Adapun jawaban pada soal nomor 3 seperti gambar 4.9 dan gambar 4.10 di bawah ini.
Gambar 4.9
Jawaban kelas model konvensional Soal Nomor 3
Gambar 4.10
Jawaban kelas model Problem Based Learning Soal Nomor 3
Berdasarkan gambar 4.9, dimana siswa kelas eksperimen tidak mampu mengidentifiksi permasalhan kemudian menuliskan jawaban dengan tepat. Pada metode konvensional siswa tidak mampu menjelaskan jawaban dengan baik sehingga indikator kemampuan komunikasi matematis tidak dapat tercapai.
Kemudian pada kelas eksperimen dapat dilihat dari gambar 4.10 menunjukan siswa mampu menyelesaikan soal dengan tepat, siswa mampu mengidentifkasi dan menentukan jumlah buku yang harus disusun pada urutan rak yang ditentukan dengan tepat
kemudian menuliskan penjelasan dari permasalahan yang ada sesuai dengan indikator komunikasi matematis pada permasalahan ini yaitu menulis matematika ( Written Text), kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas serta tersusun secara logis.
Selanjutnya jawaban posttest pada soal nomor 4 dengan indikator ekspresi matematika (Mathematical Expression), kemampuan untuk dapat memodelkan permasalahan secara benar, kemudian melakukan perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar. Adapun jawaban pada soal nomor 3 seperti gambar 4.11 dan gambar 4.12 di bawah ini.
Gambar 4.11
Jawaban kelas model konvensional Soal Nomor 4
Gambar 4.12
Jawaban kelas model model Problem Based Learning Soal Nomor 4
Pada soal nomor 4 siswa pada kelas kontrol dan siswa pada kelas ekperimen mampu mengidentifikasi jawaban dengan baik. Namun berdasarkan gambar 4.11, siswa pada model pembelajaran konvensional tidak dapat melakukan perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar. Sedangkan pada kelas eksperimen, siswa mampu untuk dapat memodelkan permasalahan secara benar, kemudian melakukan perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar. Berdasarkan gambar 4.12 siswa mengilustrasikan kemudian memodelkan permasahan dengan baik dan mampu melakukan perhitungan dengan lengkap dan benar.
Selanjutnya jawaban model Problem Based Learning pada soal nomor 5 dengan indikator yaitu Menulis matematika (Written Text), kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas serta tersusun secara logis. Adapun jawaban model pembelajaran konvensional pada soal nomor 5 seperti gambar 4.13 dan gambar 4.14 di bawah ini.
Gambar 4.13
Jawaban model Konvensional Soal Nomor 5
Gambar 4.14
Jawaban model Problem Based Learning Soal Nomor 5
Berdasarkan gambar 4.13, dimana siswa kelas model Problem Based Learning tidak mampu mengidentifiksi permasalhan kemudian menuliskan jawaban dengan tepat. Pada kelas model Konvensional siswa tidak mampu menjelaskan jawaban dengan baik sehingga indikator kemampuan komunikasi matematis tidak dapat tercapai. Kemudian pada kelas model Problem Based Learning dapat dilihat dari gambar 4.14 menunjukan siswa mampu menyelesaikan soal dengan tepat, siswa mampu mengidentifikasi dan menentukan banyaknya kursi pada bioskop tersebut serta menjelaskan kapasitas penonton yang dapat ditampung oleh bioskop tersebut. yang ditentukan dengan tepat kemudian menuliskan
penjelasan dari permasalahan yang ada sesuai dengan indikator komunikasi matematis pada permasalahan ini yaitu menulis matematika (Written Text), kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas serta tersusun secara logis.
Gambar 4.14
Perbandingan Hasil Data N-Gain
Berdasarkan diagram diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol terliihat berbeda. Nilai maksimum, nilai minimun dan rata-rata yang dicapai oleh kelas model Problem Based Learning lebih tinggi daripada nilai maksimum, nilai minimun dan rata rata yang dicapai kelas model pembelajaran konvensional.
Hasil statistik kelas eksperimen menunjukkan nilai rata-rata 0,7636, sedangkan statistik kelas kontrol menunjukkan nilai rata-rata 0,7009. Hal ini enunjukkan bahwa siswa yang menerima model Problem Based Learning (PBL) mengalami peningkatan yang lebih besar pada kemampuan komunikasi matematisnya dibandingkan siswa yang menerima model pembelajaran biasa yaitu model pembelajaran konvensional
2. Self-Confidence
Selain penelitian kemampuan komunikasi matematis, penelitian ini juga dilakukan mengenai Problem Based Learning (PBL) siswa. Adapun instrumen yang digunakan yaitu berupa angket, dimana angket tersebut diberikan kepada siswa setelah diberikannya perlakuan pada kedua kelas tersebut. Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa data berdistribusi normal dan bervarian homogen. Selain itu, analisis data angket mengungkapkan perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam Problem Based Learning (PBL) siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut:
Gambar 4.15
Perbandingan Hasil Data Angket Self-Confidence
Berdasarkan Gambar 4.15 di atas, kelas eksperimen memperoleh rata-rata 84,64 sedangkan kelas kontrol memperoleh rata-rata 82,49. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Maka dapat disimpulkan bahwa self-confidence siswa kelas eksperimen menunjukan hasil yang lebih baik daripada kelas kontrol, karena pemberian perlakuan model Problem Based Learning (PBL) membuat siswa mampu percaya pada kemampuan sendiri, berani mengambil keputusan, memiliki konsep diri
positif, dan berani menyampaikan pendapat. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan cenderung lebih efektif dan efisien dengan bimbingan dari pendidik.
3. Korelasi antara Kemampuan Komunikasi Matematis dan Self- Confidence Dari hasil penelitian, diperoleh korelasi antara kemampuan komunikasi matematis dan Problem Based Learning (PBL) siswa adalah 0,396 dimana hal tersebut memiliki arti bahwa koefisiennya sedang. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa yang memperoleh model Problem Based Learning (PBL).
Dapat dijelaskan bahwa aspek kognitif siswa adalah kemampuan komunikasi matematis dan aspek afektif siswa adalah self-confidence. Siswa yang
memiliki self-confidence yang baik memiliki kemampuan komunikasi matematis yang tinggi, dan siswa yang memiliki kemampuan komunikasi
matematis yang tinggi dapat disebabkan dengan adanya self-confidence yang baik.
4. Kendala Penelitian
Berdasarkan yang saya temui pada lapangan terdapat beberapa kendala yang saya hadapi selama kegiatan penelitian ini berlangsung, Pada pertemuan pertama ke aktifan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran sedikit terhambat, nah materi yang dipejari dan juga idberikan adalah materi pertama yang telah berlalu yang materi di semester awal, sehingga memerlukan lebih banyak waktu untuk menyusuaikan kebiasaan siswa yang sudah lama tidak belajar dikarenkan libur semester yang Panjang. Sehingga memrlukan lebih banyak waktu untuk memberika mereka atau oeserta didik kembali biasa untuk mulai berpikir kembali.
Kemudian pada pertemuan pertama juga peserta didik sedikit kebingungan ketika mengerjakan LKPD saat pemblelajaran hal ini menjaid penyebab beberapap peserta didik kurang berperan aktif dalam diskusi kelompok.
Berdasarkan temuan saya selama penelitian ini memnunjukkan bahwa model Problem Based Learning (PBL). Dapat digunakan sebagai alternative ketika peserta didik kembalii dari liburnya dan juga dapat meningkatkan komunikasi matematisn peserta didik. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL). Diharaplkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menumbuhkan pemahaman peserta didik yang lebih mendalam terhadap materi yang diberikan ataupun materi yang dipelajari. Selain itu. untuk model Problem
Based Learning (PBL). ini dapat memberi siswa kesempatan untuk menumbuh kembangkan pola prilaku cerdas yang dimana ini secara tidak langsung akan berdampak positive pada self-confidence mereka.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagai bagian akhir dari penelitian maka pada BAB V, peneliti atau saya senidir akan memnyampaikan kesimpulan dan saran mengenai penelitian ini.
Peneliti juga akan memberikan saran yang didasari selama penelitian ini berlangsung. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat diberikan oleh peneliti sebagai berikut: