• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi udah cover lengkap

N/A
N/A
hildada hudain

Academic year: 2025

Membagikan "skripsi udah cover lengkap"

Copied!
272
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP SISWA SMP

SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Matematika

Oleh

MUHAMMAD HABIL DWI NUGRAHA NPM 195050014

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

2024

i

(2)

ii

(3)

“Orang Lain Tidak Akan Bisa Paham Struggle Dan Masa Sulit Kita, Yang Mereka Ingin Tau Hanya Bagian Success Stories. Maka Berjuanglah Untuk Diri Sendiri Walaupun Tidak Ada Yang Tepuk Tangan. Kelak Diri Kita Akan Sangat Merasa Bangga Dengan Apa Yang Telah Kita Perjuangkan Hingga Bisa Dititik

Ini.”

(Habil Nugraha)

“Bukan Kesulitan Yang Mebuat Kita Takut, Tapi Ketakutanlah Yang Mebuat Kita Jadi Sulit.

Jadi Jangan Menyerah”

(Ir. Joko Widodo)

“Selalu Ada Harga Dalam Sebuah Proses. Nikmati Saja Lelah Lelah Itu, Lebarkan Lagi Rasa Sabar Itu. Semua Yang Kita Investasikan Untuk Menjadikan Dirimu Serupa Yang Kau Impikan, Mungkin Tidak Akan Selalu Berjalan Lancar. Tapi

Gelombang Gelombang Itulah Yang Nanti Bisa Kau Ceritakan”

(Boy Candra)

“Terlambat Bukan Berarti Gagal, Cepat Bukan Berarti Hebat. Terlambat Bukan Menajdi Alasan Untuk Kita Menyerah, Setiap Orang Memiliki Proses Yang

Berbeda “Percaya Proses” Itu Yang Paling Penting Karena Allah Sudah Mempersiapkan Hal Baik Dibalik Kata Proses Yang Kau Anggap Itu Sulit Dan

Rumit”

(Edwar Satria)

PERSEMBAHAN

Karya ini penulis persembahkan untuk

kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan dukungan dan do’a kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta teman-teman yang selalu menghibur

penulis saat pengerjaan skripsi ini.

iii

(4)

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Habil Dwi Nugaraha

NPM : 195050014

Judul Skripsi : Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self- Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul di atas beserta seluruh isi adalah benar- benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Juli 2024

Yang Membuat Pernyataan

Muhamad Habil Dwi Nugraha NPM 195050014

iv

(5)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. karena dengan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP.” ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Sang Proklamator alam yang mengangkat kita dari zaman kegelapan Nabi Muhammad saw., keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat ujian siding demi mencapai gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan motivasi selama pembuatan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

Semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandung, Juli 2024

Yang membuat pernyataan,

Muhammad Habil Dwi Nugraha NPM 195050014

v

(6)

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesehatan dan kemudahan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Penulis menyedari bahwa dengan menyelesaikan penulisan skripsi yang “Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP.” tidak hanya hasil kerja penulis semata, melainkan banyak melibatkan pihak yang memberikan dukungan serta ilmu. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada:

1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kelancaran dan kemudahan.

2. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan dan do’a kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Dahlia Fisher,S.T., S. Pd., M. Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika sekaigus selaku dosen wali dan pembimbing penulisan skripsi selama di Universitas Pasundan.

4. Prof. Dr. Hj. Poppy Yaniawati, M. Pd., selaku Dosen Pembimbing I, yang selalu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Vevi Hermawan, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing II, yang dengan tulus dan penuh kesabaran mencurahkan waktu serta pengetahuannya untuk membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan memberikan koreksi yang membangun kepada penulis hingga skripsi ini selesai.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unpas yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang luar biasa berharga bagi penulis selama mengikuti studi di Universitas Pasundan.

7. Bapak Iwan Setiawan, S.Pd. selaku kepala sekolah SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di sekolah.

vi

(7)

penelitian, memberi semangat, bimbingan, pengarahan, dan dukungan kepada penulis selama melaksanakan penelitian.

9. Seluruh siswa kelas VIII B dan VIII D SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung yang telah bersedia berkerjasama dan menyempatkan waktunya selama proses pelaksanaan penelitian.

10. Hilda Fachryza sebagai Support system dan sekaligus calon istri penulis yang telah membantu memberikan dukungan, masukan dan saran selama menyelesaikan skripsi dari awal hingga selesai.

11. Teman-teman luar biasa, Rafly Alamsyah dan Muhamad Rigar Ghani yang sudah menjadi rekan terbaik selama saya merantau di tanah pasundan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.

12. keluarga bapak budiman atas doa dan dukungannya Sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.

13. Keluarga bapak Nana atas doa dan dukungannya Sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi

14. bang luthfi dan teh nca sudah menjadi motivator selama pengerjaan skripsi ini hingga bisa beres.

15. team Suzuki NJS teh susi,diva,rainald,Zidane yang telah mensupport saya bisa sampai tahap ini.

16. Terima kasih Serta semua pihak yang telah membantu baik secara moril maupun materil yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.

17. Terakhir, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri karena telah berhasil melalui proses panjang selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini. Terimakasih sudah sabar, tetap bertahan, dan telah berjuang sejauh ini dengan melawan ego dan mood yang tidak tentu dalam setiap studi dan proses penulisan skripsi ini.

Dengan do’a yang tulus dan ikhlas dari penulis, semoga Tuhan Yang Maha

vii

(8)

Bandung, Juli 2024

Penulis

viii

(9)

MUHAMMAD HABIL DWI NUGRAHA. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP

Kemampuan komunikasi matematis siswa sangat perlu untuk ditingkatkan, karena melalui komunikasi matematis siswa dapat melakukan organisasi berpikir matematisnya baik secara lisan ataupun tulisan. Model Problem Based Learning , dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa.

Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem based learning dan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, 2) untuk mengetahui self-confidence siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem based learning dan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, dan 3) untuk mengetahui korelasi positif anatara komunikasi matematis siswa, Self- Confidence siswa dan model pembelajaran Problem based learning. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain penelitian yaitu nonequivalent control group design. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung dengan sampel penelitian siswa kelas VIII-B digunakan sebagai kelas eksperimen yang menerima perlakuan model problem based learning dan siswa kelas VIII-D digunakan sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan model pembelajaran ekspositori. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes kemampuan komunikasi matematis dan angket self-confidence. Hasil penelitian diperoleh bahwa: 1) Peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh model problem based learning lebih tinggi daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, 2) Self-Confidence siswa yang memperoleh model problem based learning lebih baik daripada siswa yang memperoleh model pembelajaran ekspositori, dan 3) terdapat korelasi yang terjadi antara kemampuan komunikasi matematis dan self-confidence siswa yang memperoleh model problem based learning.

Kata Kunci : Komunikasi Matematis, Self-Confidence, Model Problem Based Learning

ix

(10)

MUHAMMAD HABIL DWI NUGRAHA. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP

Students' mathematical communication skills really need to be improved, because through mathematical communication students can organize their mathematical thinking both orally and in writing. The Problem Based Learning model can improve students' mathematical communication skills and self-confidence. The objectives of this research are: 1) to determine the increase in mathematical communication skills of students who receive the problem based learning model and students who receive conventional learning, 2) to determine the self-confidence of students who receive the problem based learning model and students who receive conventional learning, And 3) to determine the positive correlation between students' mathematical communication, student self-confidence and the problem based learning model. The research method used in this research is a quasi experiment with a research design, namely nonequivalent control group design.

The subjects in this research were class VIII students at Karya Pembangunan 10 Middle School, Bandung City, with the research sample being class VIII-B students used as the experimental class who received the problem based learning model treatment and class VIII-D students used as the control class who were treated with the expository learning model. The research instruments used were mathematical communication ability tests and self-confidence questionnaires. The research results showed that: 1) The increase in mathematical communication skills of students who received the problem based learning model was higher than students who received the expository learning model, 2) Self-Confidence of students who received the problem based learning model was better than students who received the expository learning model, and 3) there is a correlation between mathematical communication skills and the self-confidence of students who receive the problem based learning model.

Keyword: Mathematical Communication, Self Confidence, Problem Based Learning Model

x

(11)

MUHAMMAD HABIL DWI NUGRAHA. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Self Confidence Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Siswa SMP

Kamampuh komunikasi matematis siswa bener-bener kudu dironjatkeun, sabab ngaliwatan komunikasi matematis siswa bisa ngaorganisasikeun pamikiran matematisna boh sacara lisan boh tulisan. Modél Pangajaran Berbasis Masalah bisa ngaronjatkeun kamampuh komunikasi matematik jeung kapercayaan diri siswa. Tujuan tina ieu panalungtikan nya éta: 1) pikeun mikanyaho ngaronjatna kamampuh komunikasi matematis siswa anu narima modél pangajaran problem based learning jeung siswa anu narima pangajaran konvensional, 2) mikanyaho kapercayaan diri siswa anu narima modél problem based learning. jeung siswa anu narima learning konvensional, Jeung 3) Nangtukeun korélasi positif antara komunikasi matematis siswa, kapercayaan diri siswa jeung modél pangajaran problem based learning. Métode panalungtikan anu digunakeun dina ieu panalungtikan nyaéta kuasi ékspérimén kalawan desain panalungtikan, nya éta nonequivalent control group design. Subjek dina ieu panalungtikan nya éta siswa kelas VIII SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung, anu sampel panalungtikan nya éta siswa kelas VIII-B anu dijadikeun kelas ékspérimén anu narima treatment model pembelajaran berbasis masalah jeung siswa kelas VIII-D dipaké salaku kelas kontrol anu dibéré modél pangajaran ékspositori. Instrumén panalungtikan anu digunakeun nya éta tés kamampuh komunikasi matematis jeung angkét kapercayaan diri. Hasil panalungtikan némbongkeun yén: 1) ngaronjatna kamampuh komunikasi matematis siswa anu narima modél pangajaran problem based learning leuwih luhur batan siswa anu narima modél pangajaran ékspositori, 2) kapercayaan diri siswa anu narima modél pangajaran problem based learning leuwih hadé. batan siswa anu narima modél pangajaran ékspositori, jeung 3) aya korélasi antara kamampuh komunikasi matematis jeung kapercayaan diri siswa anu narima modél pangajaran problem based learning.

Sanggem Konci: Komunikasi Matematika, Percaya Diri, Modél Problem Based Learning

xi

(12)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHA N

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI...Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR... v

UCAPAN TERIMAKASIH...vi

ABSTRAK...ix

ABSTRACT...x

ABSTRAK...xi

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR TABEL...xv

DAFTAR GAMBAR... xvi

LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Identifikasi Masalah...11

C. Rumusan Masalah...11

D. Tujuan Penelitian...12

E. Manfaat Penelitian...12

1. Manfaat Teoritis... 12

2. Manfaat Praktis...12

a. Bagi Mahasiswa... 12

b. Bagi Pendidik...13

c. Bagi Siswa... 13

F. Definisi Operasional...13

1. Kemampuan Komunikasi Matematis...13

xii

(13)

4. Pembelajaran Konvensional...14

G. Sistematika Skripsi...14

1. BAB I Pendahuluan...14

2. BAB II Kajian Teori dan Kerangka Pemikiran...14

3. BAB III Metode Penelitian... 14

4. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan...14

5. BAB V Simpulan dan Saran...15

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN...16

A. Kajian Teori...16

1. Kemampuan Komunikasi Matematis...16

2. Self-Confidence...20

3. Model Problem-Based Learning...21

4. Pembelajaran Konvensional...24

B. Penelitian Terdahulu... 25

C. Kerangka Pemikiran...27

D. Asumsi Dan Hipotesis Penelitian...28

a. Asumsi Penelitian... 28

b. Hipotesis Penelitian... 28

BAB III METODE PENELITIAN...29

A. Desain Penelitian... 29

B. Subjek dan Objek Penelitian...30

C. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian...30

1. Teknik Pengumpulan Data...30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...50

A. Hasil Penelitian dan Temuan...50

1. Analisis Data Kemampuan Komunikasi Matematis...50

xiii

(14)

Confidence...60

1. Kemampuan Komunikasi Matematis...61

2. Self-Confidence...73

3. Korelasi antara Kemampuan Komunikasi Matematis dan Self- Confidence ...74

4. Kendala Penelitian...74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...76

A. Simpulan... 76

B. Saran...77

DAFTAR PUSTAKA...Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN – LAMPIRAN...85

xiv

(15)

Tabel 3.1 Klasifikasi Koefisien Validitas...32

Tabel 3.2 Validitas Uji Coba...32

Tabel 3.3 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas...33

Tabel 3.4 Hasil Uji Coba Reliabilitas...33

Tabel 3.5 Klasifikasi Interpretasi Indeks Kesukaran...34

Tabel 3 6 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Tiap Butir Soal...34

Tabel 3.7 Klasifikasi Daya Pembeda...35

Tabel 3.8 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal...36

Tabel 3.9 Rekapitulasi Hasil Uji Instrumen Kemampuan Komunikasi Matematis ...36

Tabel 3.10 Kisi Kisi Angket Self Confidence...38

Tabel 3.11 Kriteria Peniliaian Sikap...38

Tabel 3.12 Hasil Uji Coba Angket Self Confidence...39

Tabel 3.13 Hasil Uji Coba Reliabilitas Angket Self-Confidence...40

Tabel 3.14 Rekapitulasi Hasil Uji Angket Self-Confidence...40

Tabel 3.15 Interpretasi Indeks N-gain...43

Tabel 3.16 Kriteria Koefisien Korelasi...47

Tabel 4 1 Hasil Statistik Deskriptif Data N-Gain...51

Tabel 4.2 Uji Normalitas Data N-Gain Kemampuan Komunikasi Matematis...52

xv

(16)

Gambar 1.1 Skor PISA Tahun 2018...Error! Bookmark not defined.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran...28

Gambar 4.1 Normalitas Q-Q Plot N-Gain Kelas Eksperimen...53

Gambar 4.2 Normalitas Q-Q Plot N-Gain Kelas Kontrol...53

Gambar 4.3 Normalitas Q-Q Plot Data Self-Confidence Kelas Eksperimen...57

Gambar 4.4 Normalitas Q-Q Plot Data Self-Confidence Kelas Kontrol...58

Gambar 4.5 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 1...62

Gambar 4.6 Jawaban Posttest Kelas Eksperimen Soal Nomor 1...63

Gambar 4.7 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 2...64

Gambar 4.8 Jawaban Posttest Kelas Eksperimen Soal Nomor 2...65

Gambar 4.9 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 3...67

Gambar 4.10 Jawaban Posttest Kelas Eksperimen Soal Nomor 3...67

Gambar 4.11 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 4...68

Gambar 4.12 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 4...69

Gambar 4.13 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 5...71

Gambar 4.14 Jawaban Posttest Kelas Kontrol Soal Nomor 5...71

Gambar 4.15 Perbandingan Hasil Data Angket Self-Confidence...73

xvi

(17)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pentingnya pendidikan dimiliki seseorang tidak dapat diragukan. Salah satu manfaatnya adalah untuk memiliki kualitas sumber daya manusia atau SDM yang unggul harus dimiliki oleh individu. Konsep ini berkaitan erat dengan “Tujuan Pendidikan Nasional” yang tercantum dalam “Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003” yang bertujuan untuk mengembangkan karakter dan budaya yang beradab dalam upaya meningkatkan kecerdasan bangsa, dengan harapan agar potensi siswa dapat berkembang menjadi individu yang memiliki keyakinan dan ketaqwaan kepada Tuhan, berperilaku baik, sehat, berpengetahuan, terampil, tinggi kreatifitas, tidak merepotkan, serta menjadi anggota masyarakat yang kritis dan berkomitmen.

Dalam agama islam, pendidikan mempunyai berbagai keistimewaan salah satunya yaitu terdapat pada hadist riwayat Muslim apabila seseorang meninggalkan warisan pengetahuan yang bermanfaat, seperti penemuan, buku, atau tulisan yang berguna bagi banyak orang, pengetahuan tersebut akan terus diberikan pahala setelah mereka meninggal. Adapun dalam istilah sunda mengatakan Pinter Nongton, pinter nontonan, pinter anu ningali hasilna makna dari kalimat tersebut adalah menimba ilmu dan berbagi pengetahuan dengan orang lain merupakan tindakan yang dianjurkan dalam hidup dan akan memberikan manfaat yang berkelanjutan, termasuk pahala di akhirat. Pendidikan biasanya sangat identik dengan proses pengajaran dan pembelajaran.

Proses pengajaran dan pembelajaran adalah kegiatan pendidikan yang umumnya dilakukan di sekolah yang melibatkan pelajaran matematika sebagai salah satu komponennya. Menurut (Hermawan 2017, hlm.69) mengatakan bahwa penting untuk memasukkan matematika pada lingkungan pendidikan di sekolah- sekolah dari SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas). Karena matematika adalah disiplin ilmu yang harus dipahami oleh manusia, peranannya sangat signifikan dalam kehidupan kita.

(18)

Menurut (Hermawan 2008, hlm.03) menjelaskan bahwa pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah menjadikan mata pelajaran ini wajib untuk dipelajari oleh peserta didik Maka dari itu, matematika dapat kita temui di berbagai tingkat pendidikan.

Dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang disebutkan sebelumnya, kemampuan yang menjadi sorotan utama penulis adalah kemampuan komunikasi matematis. Salah satu elemen penting pada proses pendidikan matematika di sekolah adalah komunikasi.

Komunikasi adalah bagian yang esensial dari matematika dan pendidikan matematika, komunikasi juga merupakan cara untuk sharing gagasan dan mengklarifikasikan pemahaman, komunikasi merupakan bagian yang penting untuk membangun pemahaman matematis (Turmudi, 2009, hlm. 45). Komunikasi matematis menurut National Council of Teachers of Mathematics atau NCTM (2000) menjelaskan bahwa pembelajaran matematika memiliki lima kemampuan matematis, yaitu kemampuan penalaran, kemampuan komunikasi, kemampuan representasi, kemampuan koneksi, dan kemampuan pemecahan masalah. Satu dari lima kemampuan matematis yang perlu dimiliki oleh siswa adalah kemampuan komunikasi matematis.

Kemampuan komunikasi matematis merupakan salah satu aspek dalam standar proses pembelajaran matematika menurut NCTM (2000) indikator standar proses komunikasi meliputi:

1. Mengatur dan menggabungkan ide matematis siswa melalui komunikasi 2. Mengkomunikasikan ide matematis siswa secara koheren dan jelas kepada

siswa lain, guru, maupun dengan yang lainnya

3. Menganalisis dan mengevaluasi ide dan strategi matematis orang lain 4. Menggunakan bahasa matematika untuk menyatakan ide matematis dengan

tepat.

Komunikasi antara satu dengan yang lainnya dapat membangun interaksi yang lebih baik, dan tanpa adanya komunikasi tidak akan memungkinkan untuk

(19)

terjadinya pertukaran pola pikir dari tiap individu. Kemampuan komunikasi matematis ini sangat penting untuk ditingkatkan karena dalam proses pembelajaran perlu adanya komunikasi matematis. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu berkomunikasi dan melakukan komunikasi matematis dengan optimal, sehingga dapat menciptakan interaksi yang lebih baik.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Programme for Internasional student Assesment atau PISA tahun 2018 yang menunjukan bahwa kemampuan matematis di Indonesia memiliki kedudukan yang rendah.

Berdasarkan Gambar 1.1. Indonesia berada pada peringkat ke-73 dari 79 negara. Sedangkan rata rata skor matematika Indonesia 379. Padahal rata-rata skor keseluruhan 373. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan matematis belum optimal. Salah satu yang termasuk kedalam kemampuan matematis adalah kemampuan komunikasi matematis, ada 3 indikator yang dapat menunjukan kemampuan komunikasi matematis yaitu drawing, texting dan mathematical expression. Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan matematis yang belum optimal kemungkinan besar dapat dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan komunikasi matematis. Siswa belum mahir dalam menggambar matematika, menulis matematika dan mengekspresikan matematika.

Hal ini sejalanan dengan yang dinyatakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan atau BSNP (2016) yaitu salah satu tujuan pembelajaran matematika

(20)

adalah “agar siswa memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan gagasan matematika dengan jelas dan efektif”.

Menurut (Izzati, 2010, hlm 721) Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan menggunakan bahasa matematika untuk mengeksperesikan gagasan dan argumen dengan tepat, singkat dan logis. sedangkan menurut penelitian (Nuraeni, 2021, hlm 145) rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa mengakibatkan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam belajar seperti; (1) siswa yang kurang berani dalam mengajukan pertnyaan, (2) Siswa kurang berani dalam mengemukakan ide, (3) Siswa kurang mampu menyimpulkan/merangkum materi yang telah dipelajari, (4) Siswa kurang berani dalam mempresentasikan pekerjaannya.

Kemampuan komunikasi matematis siswa sangat perlu untuk ditingkatkan, karena melalui komunikasi matematis siswa dapat melakukan organisasi berpikir matematisnya baik secara lisan ataupun tulisan. Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, cenderung dapat membuat berbagai representasi yang beragam sehingga lebih memudahkan siswa dalam mendapatkan alternatif penyelesaian berbagai permasalahan matematis.

Pengembangan komunikasi matematis terkait matematika dilaksanakan oleh lembaga pendidikan melalui pendidikan yang beragam. Terdapat tiga tingkatan pendidikan yang dibedakan, yaitu pendidikan pada tingkat dasar, pendidikan pada tingkat menengah, serta pendidikan tinggi. SMP termasuk dalam tingkatan pendidikan dasar. SMP sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan menciptakan peserta didik yang berkualitas.

Hasil belajar peserta didik SMP di kota Bandung masih menunjukkan tingkat yang rendah. Itu dapat diketahui melalui nilai rata-rata matematika Ujian Nasional pada tahun 2019 di kota Bandung yang mencapai 50,17. Menurut Ruseffendi (2010, hlm. 43) kesetaraan dalam pemilihan subjek penelitian penting dilakukan untuk memastikan bahwa hasil penelitian tidak dipengaruhi oleh perbedaan intelegensi individu-individu yang ada di dalam suatu kelompok. Tujuan dari kesetaraan ini yakni guna memastikan bahwa perbedaan hasil penelitian bukan disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap kelompok, tetapi karena perlakuan yang berbeda dari masing-masing kelompok Oleh karena itu, SMP Karya

(21)

Pembangunan 10 Kota Bandung dipilih oleh peneliti karena mendapatkan nilai rata - rata 40,24 pada Ujian Nasional Matematika. Nilai sekolah ini homogen dengan nilai mean semua SMP di seluruh Kota Bandung pada Ujian Nasional Matematika.

SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung memiliki tiga Rombel (Rombongan Belajar) untuk kelas VIII. Kemampuan komunikasi matematis siswa yang rendah dapat menyebabkan hasil belajar yang rendah pula. Hal ini dapat dilihat pada Nilai rata-rata Pekan Akhir Semester (PAS) SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung, dibawah ini:

Kelas Jumlah siswa

Nilai Rata-rata

PAS

Nilai KKM Matematika

Jumlah Siswa Lulus KKM

Jumlah Siswa Tidak Lulus

KKM

VIII-A 34 73 75 14 10

VIII-B 30 74 75 23 7

VIII-C 30 71 75 20 10

Pada Tabel 1.1 di atas skor pencapaian rata-rata nilai PAS kelas VIII pada mata pelajaran matematika di SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung yaitu sebesar 72,6. Pencapaian nilai rata-rata PAS pelajaran matematika setiap kelas berbeda, Kelas C mempunyai nilai rata-rata paling rendah dibandingkan dengan kelas lainnya yaitu sebesar 71, dan peserta didik yang dapat mendapatkan skor di atas KKM yaitu 20 peserta didik dari 30, sisanya siswa belum dapat mencapai nilai KKM. Menurut guru matematika di SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung kelas VIII-C mendapatkan hasil belajar yang rendah karena kurangnya kemampuan komunikasi matematis pada mata pelajaran matematika.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika yang bersangkutan di sekolah SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung didapatkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa relatif rendah. Beliau menjelaskan bahwa banyak diantaranya siswa yan masih kesulitan dalam memodelkan bentuk maematika secara tepat, kemudian banyak juga siswa dalam menyajikan gambar, tabel maupun diagram masih tidak sesuai dengan model matematika yang berkaitan. Selain itu, tingkat kepercayaan diri siswa dalam mengkomunikasikan maematika selama pembelajaran masih rendah, selama proses pembelajaran banyak siswa yang maasih takut untuk maju ke dean kelas untuk mengkomunikasikan matematika. Sejalan dengan itu menurut hasil penelitian menunjukan bawah

(22)

komunikasi matematis siswa SMP di kota Bandung masih terbilang rendah (Chotimah, 2016).

Selain kemampuan komunikasi matematis, ada aspek lain yang juga patut diperhatikan dalam pembelajaran yaitu afektif siswa, salah satunya Self- Confidence. Self-Confidence menurut Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) diartikan sebagai kepercayaan yang dimiliki individu dalam meraih kesuksesan dan kompetensi, mempercayai kemampuan mengenai diri sendiri dan dapat menghadapi situasi di sekelilingnya.

Kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, dapat merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekuranannya. Siswa yang memiliki Self-Confidence yang tinggi akan mempercayainya dirinya mampu menyelesaikan masalah yang ada dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.

Melalui kerja kelompok atau diskusi, Self-Confidence dapat dikembangkan, disini siswa dituntut untuk mampu mengeksplorasi dan menemukan sendiri konsep- konsep matematika yang sedang dipelajarinya.

Masih kurangnya siswa dalam menyampaikan, menginformasikan, berpendapat, bertanya mengenai permasalahan matematis yang ada menimbulkan kurangnya komunikasi matematis. Selain pentingnya kemampuan kognitif, kemampuan afektif juga dirasa penting, salah satunya self-confidence. Self- confidence menurut Rahman dan Fauzia (2020, hlm.

150) menyatakan bahwa Self- confidence adalah kepercayaan diri individu yang menunjukkan keyakinan bahwa mereka memiliki kualitas atau kemampuan untuk menghasilkan pemikiran positif pada diri sendiri. Siswa yang memiliki self-confidence tinggi percaya bahwa dengan kemampuan yang dimilikinya, siswa mampu untuk menyelesaikan masalah yang ada, sehingga prestasi belajar akan meningkat. Kurangnya siswa dalam kemampuan

(23)

komunikasi matematis ini juga bisa dilihat dari kepercayaan diri siswa terkait kemampuan yang mereka miliki. Self-confidence merupakan salah satu aspek psikologis yang menjadi modal untuk meyakini kemampuan serta meningkatkan kualitas belajar seorang siswa kemampuan ini termasuk dalam ranah afektif. Sependapat dengan itu, Yaniawati, dkk (2020, hlm. 64) menyatakan bahwa:

“Salah satu aspek kepribadian seseorang yang dapat berdampak pada proses b elajar adalah kepercayaan diri. Siswa yang memiliki keyakinan diri terhadap kemampuan mereka cenderung mempertahankan sikap positif bahkan ketika menghadapi tantangan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Menurut Kiverstein, Rietveld, Slagter, dan Denys, kepercayaan diri dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan pribadi dan lingkungan sekitar. Mereka dapat bersikap terbuka terhadap berbagai pilihan tindakan yang relevan bagi mereka karena memiliki kepercayaan diri. Kepercayaan diri merupakan suatu konsep yang bersifat individual dan dapat bervariasi antara individu satu dengan yang lainnya. Pada kenyataannya, seseorang mungkin sangat berbeda dari yang terlihat”.

Berdasarkan pengamatan penulis tentang pandangan siswa di SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung terhadap pembelajarann matematika yang belum sepenuhnya siswa mampu membereskan persoalann kemampuan komunikasi matematis.

Hal tersebut tentunya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah kepercayaan diri atau self-confidence yang masih kurang. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang tidak percaya diri dengan kemampuannya, yang dibuktikan dengan nilai ulangan harian yang menunjukkan bahwa sebanyak 60% siswa mendapat nilai di bawah KKM.

Siswa-siswa ini juga cenderung memberikan jawaban yang sama dengan teman-temannya. Siswa tidak terlihat mempelajari materi yang telah ditugaskan ketika guru menyuruh mereka. Dilihat bahwa siswa tidak memiliki ketertarikan yang nyata terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari.

Akibatnya, siswa kehilangan minat untuk belajar, menjadi kurang fokus, dan cepat bosan. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa kurang memiliki kepercyaan diri.

Siswa mungkin kurang berani untuk mengemukakan ide-ide yang diperlukan untuk menjelaskan dan membujuk orang lain secara lisan atau

(24)

tertulis karena kurangnya rasa percaya diri. Hal ini didukung oleh fakta bahwa banyak siswa yang kurang percaya diri, seperti yang dinyatakan oleh Rohayati (2011, hlm. 369) jika siswa kurang percaya diri dalam proses pembelajaran maka kemampuan matematika-nya akan menurun. Ketidakmampuan siswa untuk mengekspresikan pikiran dan ide mereka kepada orang lain juga dipengaruhi oleh kurangnya kepercayaan diri mereka.

Namun berdasarkan hasil Trends in International Mathematics and Science Study atau TIMSS menunjukkan bahwa tingkat Self-Confidence siswa Indonesia rendah. Menurut TIMSS (2008, hlm.68) menunjukkan bahwa Self- Confidence siswa Indonesia masih rendah yaitu dibawah 30%.

Self-Confidence menurut TIMMS yaitu memiliki matematika yang baik, mampu belajar matematika dengan cepat dan pantang menyerah, menunjukan rasa yakin dengan kemampuan matematika yang dimilikinya, dan mampu Berpikir secara realistik. Self-Confidence mampu mendukung motivasi dan kesuksesan siswa dalam belajar matematika. Siswa akan cenderung memahami, menemukan, dan memperjuangkan masalah matematika yang dihadapinya untuk solusi yang diharapkan.

Mengingat betapa pentingnya kemampuan komunikasi matematis dan Self- Confidence, sudah sewajarnya jika kemampuan tersebut dimiliki oleh siswa.

Namun pada kenyataannya, siswa umumnya memiliki kemampuan komunikasi matematis, dan self-confidence yang rendah. Berdasarkan penelitian (Nurhayati, 2014, hlm. 51) terdapat lebih dari separuh siswa memeroleh skor kemampuan komunikasi matematis kurang dari 60% dari skor ideal, sehingga kualitas kemampuan komunikasi matematis belum dalam kategori baik. Hal ini dikarenakan kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru menyebabkan rendahnya respon siswa terhadap pelajaran matematika.

Salah satu hal untuk mengetahui penyebab rendahnya kemampuan komunikasi dan Self-Confidence siswa adalah proses pembelajaran. (Hapsari, 2011, hlm 978) menyatakan bahwa selama pembelajaran siswa hanya pasif mendengarkan karena tidak ada instruksi untuk melakukan suatu kegiatan selain mencatat materi dan contoh soal yang dituliskan guru. Rendahnya indeks self-

(25)

confidence siswa ini jika dikaitkan dengan faktor guru disebabkan

kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih didominasi oleh guru dengan metode ceramah, dan menuliskan latihan soal untuk siswa di papan tulis yang merupakan warisan turun temurun dan dianggap paling baik.

Sekolah di Indonesia pada umumnya masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran langsung yang berpusat pada guru ( teacher centered). Aktivitas pembelajaran seperti ini mengakibatkan sedikitnya kesempatan siswa mengekspresikan ide matematika secara mandiri, sehingga aktivitas komunikasi siswa rendah karena tidak distimulus oleh guru. Pembelajaran yang berpusat pada guru dianggap tidak efektif, sebab siswa tidak kreatif dalam mengekspresikan ide-ide mereka, dan hanya diberi informasi yang berkenaan dengan materi. Siswa hendaknya dapat membangun sendiri konsep berpikirnya yang berkaitan dengan ide-ide dan konsep matematika.

Selama proses pembelajaran, guru perlu mengembangkan kemampuan komunikasi matematis dikarenakan dengan kemampuan ini siswa mampu menginterpretasikan ide-ide matematikanya secara verbal maupun non-verbal (Umar, 2012 hlm 30). Kemampuan ini dapat berkembang dengan optimal apabila siswa saling berinteraksi dan belajar di dalam kelompoknya, setiap siswa di kelompok tersebut memiliki keleluasan untuk beranggapan atau memberikan gagasan matematisnya di dalam kelompoknya, sehingga langkah-langkah dalam menyelesaikan masalahnya dapat terkomunikasikan dengan baik. Hal ini terlihat saat seorang siswa mendapat informasi berbentuk konsep matematika, maka tidak semua informasi yang diperoleh dapat diterima oleh siswa seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, siswa diberi keleluasan untuk mengomunikasikan informasi yang diperoleh tersebut kepada temannya sesuai dengan penafsirannya sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan self- confidence siswa adalah model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL). Menurut (Cahyanti, 2015, hlm, 83) mengatakan “Problem-Based Learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga dapat mengembangkan pengetahuan siswa dan keterampilan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari”. Pada model Problem- Based Learning siswa dihadapkan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

(26)

Kemampuan pemecahan masalah pun memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Imandala, Li &

Supriyadi 2019, hlm. 8) mengungkapkan bahwa model Problem-Based Learning diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah serta mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mandiri. Dengan demikian, model Problem-Based Learning adalah model yang dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehari-hari dan meningkatkan keterlibatan serta kemandirian siswa dalam proses pembelajaran, untuk mengikuti tantangan pembelajaran berbasis digital seiring dengan berkembangnya Teknologi dan Informasi, sehingga mendorong terciptanya pemanfaatan media pembelajaran yang inovatif, efektif, dan efisien. Untuk itu dibutuhkan sebuah media pembelajaran berbasis digital agar dapat dimanfaatkan.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (R.P.Yaniawati, 2018, hlm. 07) bahwa model pemmbelajaran Problem-Based Learning lebih baik dilaksanakan daripada model pembelajaran konvensional dikarenakan Mereka dengan cepat memecahkan pertanyaan pemecahan masalah. Namun demikian, masih terdapat siswa yang belum mandiri dalam belajar. Ketika diberikan tugas matematika, mereka tidak inisiatif dalam mengerjakan soal, sehingga pekerjaan tidak selesai.

Dalam upaya meningkatkan hasil belajar (Irwan, Luthfi & Waldi, 2019, hlm. 96). Hal senada juga diungkapkan oleh (Pusparini 2020, hlm. 270) bahwa media pembelajaran dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan informasi terhadap siswa dengan tujuan untuk membangkitkan minat belajar siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

Maka dari itu media pembelajaran digital sangat dibutuhkan oleh guru sebagai pelengkap bahan ajar, juga dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Salah satu media pembelajaran yang menarik, memiliki sifat interaktif yang mengutamakan kerjasama, komunikasi, dan bisa menimbulkan interaksi antar siswa adalah melalui permainan, yang mempunyai karakteristik untuk menciptakan motivasi dalam belajar, yaitu khayalan (fantasy), tantangan (challenges) dan keingintahuan (curiosity) (Irwan, dkk., 2019, hlm. 96).

(27)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

1. Rendahnya tingkat capaian kemampuan matematis dalam skor survei PISA Indonesia (2018). Bahwa kemampuan matemaatis belum optimal. Indonesia berada pada peringkat ke-73 dari 79 negara.

2. Rendahnya tingkat komunikasi matematis siswa SMP di kota Bandung berdasarkan penelitian Chotimah (2016) menunjukan bahwa siswa yang mendapatkan pendekatan dengan model pembelajaran konvensional lebih rendah dengan siswa yang mendapatkan pendekatan RME.

3. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika yang bersangkutan di sekolah SMP Karya Pembangunan 10 Kota Bandung didapatkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa relatif rendah. Beliau menjelaskan bahwa banyak diantaranya siswa yan masih kesulitan dalam memodelkan bentuk maematika secara tepat, kemudian banyak juga siswa dalam menyajikan gambar, tabel maupun diagram masih tidak sesuai dengan model matematika yang berkaitan. Selain itu, tingkat kepercayaan diri siswa dalam mengkomunikasikan maematika selama pembelajaran masih rendah, selama proses pembelajaran banyak siswa yang maasih takut untuk maju ke depan kelas untuk mengkomunikasikan matematika.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional?

2. Apakah self-confidence siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional?

3. Apakah terdapat korelasi positif anatara komunikasi matematis siswa, Self- Confidence siswa dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

(28)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang tertera sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk menganilisis peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional?

2. Untuk menganalsis self-confidence siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.

3. Untuk menganilisis korelasi positif anatara komunikasi matematis siswa, Self- Confidence siswa dan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

E. Manfaat Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan diharapkan manfaat yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara umum penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kegiatan belajar mengajar di kelas terutama setelah diterapkannya model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Secara khusus penelitian ini dapat digunakan untuk menguji sejauh mana efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan Self-Confidence

2. Manfaat Praktis a. Bagi Mahasiswa

1. Untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan Self- Confidence

2. Mahasiswa dapat mempunyai gambaran dalam menghadapi upaya meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan Self-Confidence dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

(29)

b. Bagi Pendidik

1. Melalui penelitian ini, pendidik dapat menperoleh pengetahuan serta informasi dari penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan kemampuan matematis dan Self-Confidence 2. Penelitian ini dapat diperoleh dan dijadikan pengetahuan serta penerapan

model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan Self-Confidence

c. Bagi Siswa

1. Melalui penelitian ini diharapkan siswa dapat terbantu meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan Self-Confidence.

2. Dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan Self- Confidence sehingga memberikan hasil belajar yang lebih positif.

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran dalam penelitian ini mengenai istilah-istilah yang terdapat pada rumusan masalah, dikemukakan definisi operasional sebagai berikut:

1. Kemampuan Komunikasi Matematis

Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan peserta didik dalam menyampaikan ide matematika baik secara lisan maupun tulisan.

2. Self-Confidence

Rasa percaya diri atau Self-confidence merupakan suatu sikap mental positif dari seorang individu yang memposisikan atau mengkondisikan dirinya dapat mengevaluasi tentang diri sendiri dan lingkungannya sehingga merasa nyaman untuk melakukan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan yang direncanakan 3. Problem-Based Learning (PBL)

Model Problem-Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan cara menghadapkan para siswa dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari

(30)

4. Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan metode atau model tradisional, dengan fokus pada peran sentral guru sebagai pengajar utama. Model pembelajaran konvensional yang digunakan dalam penelitian ini ialah model ekspositori.

G. Sistematika Skripsi

Menurut Buku Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) FKIP Uiversitas Pasundan

1. BAB I Pendahuluan

Dalam buku panduan penulisan KTI FKIP Unpas (2022, hlm. 37) yaitu:

Pendahuluan bermaksud mengantarkan pembaca ke dalam pembahasan suatu masalah. Esensi dari bagian pendahuluan adalah pernyataan tentang masalah penelitian. Dengan membaca bagian pendahuluan, pembaca mendapat gambaran arah permasalahan dan pembahasan.

2. BAB II Kajian Teori dan Kerangka Pemikiran

Dalam buku panduan KTI FKIP Unpas (2022, hlm. 39) dijelaskan mengenai kajian teori dan kerangka pemikiran yaitu: Kajian teori berisi deskripsi teoritis yang terfokuskan kepada hail kajian atas teori, konsep, kebijakan dan peraturan yang ditunjang oleh hasil penelitian terdahulu yang sesuai demgan

masalah penelitian. Kajian teori dilanjutkan dengan perumusan kerangka pemikiran yang menjelaskan keterkaitan dan variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian.

3. BAB III Metode Penelitian

Dalam buku panduan KTI FKIP Unpas (2022, hlm. 41) dijelaskan mengenai metode penelitian yaitu: Bab ini menjelaskan secara sistematis dan terperinci langkah-langkah dan cara yang digunakan dalam menjawab permasalahan dan memperoleh kesimpulan. Bab ini berisi hal-hal seperti pendekatan penelitian, desain penelitian, subjek dan objek penelitian, pengumpulan data dan instrument penelitian, teknis analisis data dan prosedur penelitian.

4. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam buku panduan KTI FKIP Unpas (2022, hlm. 45) dijelaskan mengenai hasil penelitian dan pembahasan yaitu: Bab ini menyampaikan dua hal utama, yakni

(31)

(1) temuan penelitian berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data dengan berbagai kemungkinan bentuknya sesuai dengan urutan rumusan permasalahan penelitian, dan (2) pembahasan temuan penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

5. BAB V Simpulan dan Saran

Dalam buku panduan KTI FKIP Unpas (2022, hlm. 47) dijelaskan bahwa simpulan merupakan uraian yang menyajikan penafsiran dan pemaknaan penelitian terhadap analisis temuan hasil penelitian. Sedangkan saran merupakan rekomendasi yang ditujukan kepada para pembuat kebijakan, pengguna atau kepada peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya dan kepada pemecah masalah di lapangan atau follow up dari hasil penelitian.

(32)

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Kajian Teori

1. Kemampuan Komunikasi Matematis

a. Pengertian Kemampuan Komunikasi Matematis

Kemampuan komunikasi matematis merupakan salah satu hal penting dalam proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika sehinga perlu adanya pengembangan dalam aktivitas dalam pembelajaran maematika. Kemampuan komunikasi matematika adalah salah satu kemampuan yang perlu ditingkatkan dalam setiap jenjang Pendidikan sebagaimana kemampuan dasar matematis yang lain.

Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik yang dikembangkan dalam proses pembelajaran, untuk menyampaikan ide matematis dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Menurut (Romberg & Chair Hodiyanto, 2017 hlm. 1) bahwa kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan dalam menjelaskan ide, situasi dan hubungan matematis secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan gambar benda nyata, grafik juga aljabar, kemampuan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam simbol matematika, kemampuan berdiskusi,

mendengarkan juga menulis tentang matematika, kemampuan membaca dengan memahami suatu presentasi matematis tertulis, menyusun hipotesis, merumuskan definisi juga generalisasi, menjelaskan pemahaman dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.

Sedangkan menurut (Maryuni, 2017, hlm. 113) bahwa kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pengetahuan yang diketahuinya, dalam bentuk peristiwa dialog ataupun yang saling berhubungan dan terjadi dilingkungan kelas, dimana terjadi pengalihan pesan atau pengetahuan.

Berdasarkan (Baroody, 2018, hlm. 96-107) menyebutkan bahwa dalam kemampuan komunikasi matematis terdapat beberapa aspek:

(33)

1. Kemampuan Mempresentasikan

Merepresentasi berarti membuat bentuk lain dari ide atau permasalahan, misalkan suatu bentuk tabel direpresentasikan ke dalam bentuk diagram atau sebaliknya. Representasi dapat membantu siswa menjelaskan konsep atau ide dan memudahkan siswa mendapatkan strategi penyelesaian masalah selain itu dapat meningkatkan fleksibilitas dalam menjawab soal matematika.

2. Kemampuan mendengarkan

Aspek mendengar merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam diskusi. Kemampuan dalam mendengarkan topik-topik yang sedang didiskusikan akan berpengaruh pada kemampuan siswa dalam memberikan pendapat atau komentar. (Baroody, 2018, hlm. 96-107) mengemukakan bahwa mendengar secara hati-hati terhadap pernyataan teman dalam suatu grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika lebih lengkap

3. Kemampuan membaca atau memahami

Proses membaca merupakan kegiatan yang kompleks, karena di dalamnya terkait aspek mengingat, memahami, membandingkan, menganalisis, serta mengorganisasikan apa yang terkandung dalam bacaan.

Menurut teori konstruktivisme, pengetahuan dibangun atau dikonstruksi secara aktif oleh siswa sendiri. Pengetahuan atau konsepkonsep yang terdapat dalam buku teks atau modul tidak dapat dipindahkan kepada siswa, melainkan mereka membangun sendiri melewati membaca.

4. Kemampuan mendiskusikan

Diskusi merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksi pikiran siswa. Siswa mampu dalam suatu diskusi apabila mempunyai kemampuan membaca, mendengarkan, dan keberanian memadai. (Baroody, 2018, hlm. 96-107) menguraikan beberapa kelebihan dari diskusi kelas, yaitu dapat mempercepat pemahaman materi pembelajaran dan kemahiran menggunakan strategi, membantu siswa mengkonstruk pemahaman

(34)

matematika, dan membantu siswa menganalisis dan memecahkan masalah secara bijaksana

5. Kemampuan menuliskan ide matematika kedalam Bahasa atau simbol matematika

Menulis adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran. Menurut (Baroody, 2018, hlm.

96-107), ada beberapa kegunaan dan keuntungan dari menulis: (1) Summaries, yaitu siswa diminta merangkum pelajaran dalam bahasa mereka sendiri. Kegiatan ini berguna, karena dapat membantu siswa memfokuskan pada konsepkonsep kunsi dalam suatu pelajaran, menilai pemahaman dan memudahkan retensi. (2) Question, yaitu siswa diminta membuat pertanyaan sendiri dalam tulisan. Kegiatan ini berguna membantu siswa merefleksikan pada fokus yang mereka tidak pahami. (3) Explanation, yaitu siswa diminta menjelaskan prosedur penyelesaian, dan bagaimana menghindari suatu kesalahan. Kegiatan ini berguna karena dapat mempercepat refleksi, pemahaman, dan penggunaan kata-kata yang tepat.

(4) Definition, yaitu siswa diminta menjelaskan istilah-istilah yang muncul dalam bahasa mereka sendiri. Kegiatan ini berguna, karena dapat membantu siswa berpikir tentang makna dan menjelaskan pemahaman mereka terhadap istilah. (5) Reports, yaitu siswa diminta menulis laporan. Kegiatan ini berguna, karena membantu pemahaman siswa, bahkan menulis adalah satu aspek penting dalam matematika untuk menyelediki topik-topik dalam matematika.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila kelima aspek ini dapat dikuasai maka kemampuan komunikasi matematis pun bisa dicapai.

Sebagai seorang guru hendaknya harus memilih model ataupun pendekatan pembelajaran yang dalam penerapannya mengandung aspek-aspek komunikasi matematis, agar membantu siswa menguasai kemampuan komunikasi matematis.

Dalam upaya pencapaian kemampuan komunikasi matematis yang baik, hendaknya guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik yang tentunya membuat peserta didik aktif dalam prosesnya

(35)

juga aktif dalam mengontruksi, menemukan juga mengembangkan pengetahuannya

b. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis

Dalam upaya mengukur kemampuan komunikasi matematis, diperlukan indikator sebagai alat ukur kemampuan komunikasi matematis. Menurut NCTM (2014) bahwa indikator kemampuan komunikasi matematis meliputi:

1. Membuat model mengenai permasalahan matematika dengan grafik, gambar, atau bentuk notasi aljabar,

2. Menjelaskan definisi juga matematis.

3. Membaca, mendengarkan, membuat interpretasi juga melakukan evaluasi ide- ide matematis,

4. Menghargai nilai, notasi matematika, serta pentingnya dalam masalah keseharian serta disiplin ilmu lainnya,

5. Melakukan diskusi dan membuat dugaan serta alasan yang meyakinkan.

Menurut (Kadir 2008 hlm. 339–350) untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis peserta didik dapat dilakukan dengan cara melakukan pemberian skor dengan tiga kriteria, yaitu menulis matematika, menggambar secara matematis, ekspresi matematika. Pernyataan tersebut, terangkum dalam suatu indikator kemampuan komunikasi matematis berikut:

1. Menulis matematika, kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas dan tersusun logis 2. Menggambar secara matematika, kemampuan untuk dapat menuliskan

gambar, diagram, tabel secara lengkap dan benar,

3. Ekspresi matematika, kemampuan untuk dapat memodelkan permasalahan secara benar, kemudian melakukan perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar.

Menurut (Sumarmo dan Febriyanti, 2021, hlm.15) menyebutkan bahwa indikator kemampuan komunikasi matematis adalah sebagai berikut:

1. Memberikan penjelasan mengenai gagasan dari bentuk model matematika yang berupa gambar, tabel, diagram, grafikatau ekspresi aljabar ke dalam bahasa sederhana

(36)

2. Memaparkan persitiwa sehari-hari ke dalam bentuk model matematika dapat berupa gambar, tabel, diagram, grafik atau ekspresi aljabar,

3. Mendengarkan, berdiskusi serta menulis mengenai matematika, 4. Membuat pertanyaan matematika yang dipelajari,

5. Merumuskan rumus dan menyusun argumen secara logis, 6. Memahami bahan bacaan secara tertulis.

Penelitian ini menggunakan indikator komunikasi matematis yang telah dikembangkan, yaitu komunikasi model Cai, Lane, & Jacobsin (dalam Marisca, Refianti, & Adha) meliputi:

1. Menulis matematika (Written Text), kemampuan menuliskan penjelasan dari jawaban permasalahannya secara matematika, masuk akal, jelas serta tersusun secara logis

2. Menggambar matematika (Drawing), kemampuan untuk dapat menuliskan gambar, diagram, tabel secara lengkap dan benar

3. Ekspresi matematika (Mathematical Expression), kemampuan untuk dapat memodelkan permasalahan secara benar, kemudian melakukan perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar

2. Self-Confidence

a. Pengertian Self-Confidence

Self-confidence terdiri dari kata Self yaitu diri dan Confidence yang berarti kepercayaan sehingga dapat diartikan sebagai kepercayaan diri yang dalam hal ini berkaitan dengan pembelajaran (Setiawati, 2019, hlm. 28).

Menurut (Hendriana, 2014, hlm. 55) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dengan tindakan-tindakannya, dapat merasa bebas untuk melakukan hal yang disukainya, dan bertanggung jawab atas tindakannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan untuk berprestasi serta mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Nurdiyanti, 2021, hlm.

1355) menyatakan bahwa pada pembelajaran matematika jika peserta didik memiliki kepercayaan diri yang baik maka akan sukses dalam belajar. Oleh

(37)

karena itu, motivasi dalam belajar dapat dipengaruhi karena peserta didik memiliki Self-confidence. Didukung dengan pernyataan (Khairiah, 2015, hlm. 200), bahwa menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan kepercayaan diri akan memperkuat peserta didik dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga kepercayaan diri memiliki pengaruh yang hebat pada hasil prestasi belajar.

Self-confidence dalam proses pembelajaran matematika sendiri yaitu kemampuan dan kesanggupan yang peserta didik miliki ketika mempelajari pelajaran matematika yang baik, tanggap, pantang menyerah, dan mempunyai keyakinan terhadap kemampuan matematika yang ia miliki sehingga mampu secara realistis dalam berpikir (Fitriani, 2016, hlm, 16), sehingga Self- confidence memiliki pengaruh dan menjadi peranan penting dalam pembelajaran matematika terhadap hasil belajar peserta didik kedepannya b. Indikator Self-confidence

Menurut (Yuliyahya, 2016, hlm,03) bahwa indikator Self-confidence meliputi:

1. Percaya terhadap kemampuan diri sendiri 2. Memiliki kecerdasan yan cukup

3. Memiliki rasa optimis, bersikap tenang dan pantang menyerah 4. Memiliki konsep diri yang positif dalam menyelesaikan masalah 5. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi dalam berbagai situasi 6. Memiliki kemampuan untuk berpikir objekif, rasional dan realistis.

Penelitian ini menggunakan indikator menurut Hendriana (2014).

Dimana disebutkan bahwa indikator Self-confidence siswa dapat diukur dari 4 hal yaitu:

1. Percaya kemampuan sendiri

2. Mandiri dalam pengambilan keputusan 3. Memiliki konsep diri yang positif 4. Berani menyampaikan pendapat 3. Model Problem-Based Learning

Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang dapat mengembangkan pengetahuan siswa dan keterampilan memecahkan masalah

(38)

kehidupan sehari-hari. Menurut (Subaryo 2022, hlm. 129) menjelaskan bahwa model Problem-based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang mengintegrasikan kehidupan nyata ke dalam proses pembelajarannya. Dengan kata lain, masalah-masalah yang umumnya dihadapi oleh siswa dapat berbeda sat sama lain, sehingga dapat digunakan sebagai topik diskusi dalam pembelajaran guna mencari solusinya. Oleh karena itu, model Problem-Based Learning dapat membantu mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari.

Menurut Sumarmo (dalam Sariningsih & Purwasih, 2017, hlm. 169) terdapat lima langkah dalam menerapkan model Problem Based Learning, yaitu sebagai berikut:

a. Orientasi siswa pada masalah

Dibagian awal guru akan memulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan melakukan persiapan yang diperlukan. Selanjutnya, guru akan menampilkan sebuah pristiwa atau situasi yang menarik untuk mengangkat masalah yang relevan. Guru akan mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses pemecahn masalah. Sementara itu, siswa akan ikut serta dalam berbagai aktivitas yang mendorong mereka untuk memperhatikan dan memahami masalah yang disajikan oleh guru atau ditemukan melalui bahan bacaan yang direkomendasikan. Mereka akan belajar untuk mengumpulkan informasi, mengidentifikasi faktor- faktor yang terlibat, menganalisis konteks masalah, dan merumuskan pertanyaan- pertanyaan yang relevan.

b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar.

Selanjutnya, guru akan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil dan memberikan bantuan mereka dalam mendefinisikan serta mengatur tugas- tugas pembelajaran yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi. Pada bagian ini, siswa akan bertukar pendapat dan berbagi peran untuk mencari serta menemukan data atau materi yang diperlukan. Dalam kelompok-kelompok tersebut, siswa akan saling berkolaborasi dan berdiskusi untuk merumuskan strategi pemecahan masalah yang efektif.

c. Membimbing penyelidikan siswa baik secara individual atau kelompok Kemudian, guru akan mendorong siswa untuk melakukan pencarian dan

(39)

mengumplkan informasi yang diperlukan untuk mendapatkan penjelasan dan prosedur pemecahan masalah. Sementara itu, kegiatan siswa akan mengumpulkan data atau referensi dari berbagai sumber untuk digunakan pada diskusi kelompok.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil penyelesaian masalah

Selanjutnya, guru akan memberikan asistensi untuk siswa dalam menyusun dan merencanakan informasi, dokumentasi, atau model yang menjadi hasil dari pemecahan yang dilakukan serta membagi peran satu sama lain.

e. Menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah

Pada tahap akhir, guru akan membantu siswa dalam mengevaluasi proses dan hasil penyelidikan yang telah dilakukan. Kegiatan siswa pada tahap ini termasuk presentasi kelompok, dimana kelompok lain memberikan tanggapan terhadap presentasi tersebut jika terdapat perbedaan dalam jawaban atau memberikan pujian dan apresiasi atas presentasi yang telah dilakukan. Setelah presentasi, kegiatan tersebut diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

Adapun menurut (Monica, dkk., 2019, hlm. 15) terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang diharapkan setelah penggunaan model Problem-Based Learning yaitu:

1. Keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah

Kemandirian belajar Problem-Based Learning berfokus pada siswa sebagai pusat pembelajaranya. Jadi siswa harus memutuskan apa yang akan dipelajari dan dimana mendapatkan informasi di bawah bimbingan guru.

2. Pemodelan peran orang dewasa yakni Problem-Based Learning menjadi penghubung antara pembelajaran di sekolah formal dan aktivitas mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan antara lain:

a) Problem-Based Learning mendorong kerja sama untuk menyelesaikan tugas.

b) Problem-Based Learning memiliki unsur-unsur magang yang mendorong observasi dan dialog dengan siswa lain, sehingga siswa secara bertahap dapat mengambil peran yang dapat diamati tersebut.

c) Problem-Based Learning melibatkan siswa dalam penyelidikan yang dipilih sendiri yang memungkinkan siswa untuk menginterpretasikan dan

(40)

menjelaskan fenomena dunia nyata.

Dalam pelaksanaannya, Pembelajaran Problem-Based Learning tentunya mempunyai kelebihan seperti halnya dengan model pembelajaran yang lainnya (Yulianti & Gunawan, 2019, hlm. 402). Berikut ini adalah kelebihan dari model Problem-Based Learning meliputi:

1. Kemampuan pemecahan masalah dalam Problem-Based Learning sangat baik dalam memahami isi pelajaran.

2. Model Problem-Based Learning dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran.

3. Membantu siswa untuk memahami masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

4. Membantu siswa untuk meningkatkan pengetahuannya dan tanggung jawab belajar

5. Memahami hakekat belajar

6. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

7. Aplikasi pengetahuan dikehidupan nyata.

Selain mempunyai kelebihan, disisi lain model ini juga mempunyai beberapa kelemahan yang meliputi:

1. Jika siswa tidak berminat, pernah mengalami kegagalan atau kurang percaya diri, maka akan membuat siswa tidak mau mencoba lagi.

2. Model Problem-Based Learning ini memerlukan waktu yang lama

3. Siswa kurang termotivasi belajar jika tidak mengetahui relevansi materi yang dipelajarinya dengan kehidupannya.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa model Problem- Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan cara menghadapkan para siswa dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Pembelajaran Konvensional

Pada penelitian ini model pembelajaran konvensional yaitu menggunakan model ekspositori. Model ekspositori adalah pendekatan pembelajaran di mana guru berpartisipasi secara aktif dalam memberikan informasi kepada murid-murid secara lisan, tujuan utama pendekatan ini adalah untuk memastikan bahwa murid- murid memperoleh pemahaman yang optimal dari materi (Rizal dkk. 2006,

(41)

hlm.177). Pada pembelajaran model ekpositori terdapat tahap-tahap pembelajaran.

Menurut “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41 Tahun 2007”

implementasi kegiatan inti dalam model ekspositori melibatkan tiga tahap yaitu ekspolasi, elaborasi, serta konfirmasi.

a. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran konvensional

Kelebihan pembelajaran konvensional menurut (Dede Delisda & Deddy Sofyan, 2014, hlm. 79) di antaranya:

1. Dapat menerima murid banyak, tiap murid mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan informasi yang dijelaskan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi relatif murah.

2. Konsep yang disajikan secara hirarki akan memeberikan fasilitas belajar kepada siswa.

3. Guru dapat memberikan tekanan hal-hal yang penting sehingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.

4. Materi ajar dapat di selesaikan dengan lebih muda, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar karena pembelajaran dapat dilaksanakan dengan metode ceramah.

Kelemahan pembelajaran konvensional menurut (Dede Delisda & Deddy Sofyan, 2014, hlm. 80) di antaranya:

1. Proses pembelajaran berjalan membosankan para murid menjadi pasif, dan tidak berkesempatan untuk menempuh sendiri konsep yang diajarkan.

2. Murid hanya aktif dalam membuat catatan.

3. Pada konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat murid tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.

Pengetahuan yang diperoleh melalui metode cerama lebih cepat terlupakan.

Kesimpulannya adalah bahwa model pembelajaran ekspositori adalah model pembelajaran yang menggunakan metode atau model tradisional, dengan fokus pada peran sentral guru sebagai pengajar utama.

B. Penelitian Terdahulu

Secara umum, banyak penelitian terdahulu yang serupa sudah ada. Berbagai macam penelitian terkait Problem Based Learning (PBL), komunikasi matematis

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran D. Asumsi Dan Hipotesis Penelitian
Tabel 3.2 Validitas Uji Coba No
Tabel 3 6 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Tiap Butir Soal
Tabel 3.8 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal No. Nilai Daya Pembeda Interpretasi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu terutama pada peningkatan kreativitas dan hasil belajar melalui model pembelajaran Problem

Manfaat teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi yang positif sebagai bahan bacaan yang positif bagi pembaca terutama tentang Penerapan

Secara Teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama pada pembelajaran e-learning yang dilakukan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan sekaligus manfaat praktis. Manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dalam

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1.4.1 Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk referensi dalam bentuk

Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan akan sebagai bahan referensi materi atau informasi dalam memberikan manfaat untuk kemajuan di bidang keperawatan anak terutama tentang

Manfaat Teoritis Secara umum, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi dalam menjawab permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran terutama

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritik Systematic literature review diharapkan dapat memberikan dasar teoritis pemanfaatan buah delima Punica granatum terhadap kadar Tumor