• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

Mendengarkan pendapat anak tentang mengapa ia melakukan perbuatan yang dianggap melanggar hukum. Pekerja Sosial harus menciptakan suasana diskusi yang tidak menjadikan anak semakin terpojok, tetapi sebaiknya menciptakan suasana diskusi yang mana anak merasa, bahwa dirinya siap membuka lembaran baru dalam kehidupannya di masa mendatang. Salah satu teknik pekerja sosial yang bisa dipakai adalah ventilation. Maksudnya adalah bagaimana seorang pekerja sosial menempatkan dirinya sebagai pendengar yang baik sekaligus teman bicara yang layak. Tujuan dari ventilation tersebut untuk memberikan kesempatan kepada anak mengungkapkan segala emosi atau perasaan yang ada dalam dirinya. 69Sehingga dengan begitu pekerja sosial akan levbih mudah melakukan penanganan.

Tujuan pekerja sosial melakukan pembelaan adalah untuk memperjuangkan hak-hak anak. Karena dalam usia anak tersebut seyogyanya digunakan untuk bermain dan belajar bukan harus di jeruji besi dengan tekanan sosial yang berat. Namun lain halnya dengan anak yang menjadi korban kekerasan. Pekerja sosial memberikan pembelaan untuk memperjuangkan hak- hak anak. Selain itu juga untuk memberikan perlindungan kepada anak terhadap tindak kekerasan, Sesuai dengan mandat UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Lemabaga perlindungan anak (LPA) NTB merupakan salah satu lemabaga yang berupaya melakukan perlindungan serta pembelaan akan hak-hak anak didepan hukum. Apalagi dengan tingkat kasus kekerasan terhadap anak di NTB

69 Jusman Iskandar, Beberapa Keahlian Penting Dalam Pekerjaan Sosial.(Bandung : An- Naba, 1991),hlm. 31.

terbilang tinggi. Sebagaimana data yang diperoleh untuk kasus yang ditangani LPA NTB dalam kategori kekerasan terhadap anak seperti pelecehan seksual, perdagagangan orang, eksploitasi anak, anak berhadapan dengan hukum,penelantaran anak, pembuangan bayi dan kekerasan fisik lainnya.70 Adapun kasus yang ditangani oleh LPA NTB pada 2019 adalah sebagai berikut.

Dari data statistik diatas bisa dilihat bahwa, angka kriminalitas anak di NTB baik yang menjadi korban maupun pelaku terbilang tinggi. Sehingga dengan alasan tersebut Pekerja sosial di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB melakukan berbagai upaya advokasi. Tujuan Pekerja sosial tersebut bukan semata melaksanakan kewajiban tugas semata, namun juga memberikan pendampingan, perlindungan serta pembelaan (advokasi) kepada anak. Hal tersebut sebagai upaya mempertahankan hak-hak anak serta keberlangsungan hidup anak.

70_Data kasus yang ditangani LPA NTB tahun 2019 Https://Lpantb.Co.Iddiakses tanggal 10 Juli 2020

Sebagai tenaga ahli dalam layanan sosial termasuk anak yang berhadapan dengan hukum, maka pekerja sosial memiliki beberapa peranan yang harus dijalankan. Peran tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Pendampingan

Banyak alasan mengapa anak melakukan konflik dengan hukum.

Kebanyakan kasus, anak yang terlibat dengan kasus tindak pidana disebabkan karena terlibat dengan permasalahan yang sepele. Mereka melakukan hal itu hanya untuk tetap hidup, tanpa melihat apa resikonya karena seorang anak belum dapat membuat keputusan yang benar. Anak yang berkonflik dengan hukum atau melakukan tindak pidana sesungguhnya karena keadaan atau kondisi obyektif yang melingkupi diri anak itu sendiri dan lingkungannya, seperti faktor kemiskina, faktor lingkungan, faktor salah didik, faktor keluarga tidak harmonis dan minimnya pendidikan agama.

Anak sebagai manusia yang masih kecil (labil), sedang tumbuh dan berkembang, baik fisik mental maupun intelektualnya. Pada masa perkembangan tersebut setiap anak sedang berusaha mengenal dan mempelajari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat serta berusaha meyakini sebagai bagian dari dirinya. Sebagian kecil anak tidak dapat memahami secara utuh aturan hidup di dalam masyarakat baik disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua, kurang kasih saying, kurang kehangatan jiwa, adanya kekerasan di dalam keluarga dan masyarakat yang membawa dampak pada terbentuknya sikap dan perilaku

menyimpang anak tersebut akan bersentuhan dengan ketentuan hukum.

Dengan alasan tersebutlah, pekerja sosial mengambil andil untuk mendampingi anak.

Pendampingan yang dilakukan oleh seorang pekerja sosial tersebut untuk menghilangkan trauma anak atau rasa takut anak. Sehingga anak kadangkala akan tertutup Ketika akan berhadapan langsung dengan aparat penegak hukum. Maka dari itulah pekerja sosial sebagai pendamping yang menjelaskan segala bentuk permasalahan yang terjadi. Terutama bagi anak korban kekerasan, pekerja sosial harus dengan cermat mendampingi serta mendengarkan lontaran kata dari anak. Sehingga pekerja sosial akan lebih mudah melakukan pendampingan didepan hukum.

Kasus anak berhadapan dengan hukum yang ditanagani oleh Lembaga Perlindungan Anak NTB terbilang tinggi. Sehingga perlu adanya pendampingan dalam penyelesaian kasus-kasus tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, pekerja sosial membuat perencanaan berupa bimbingan dan pendampingan baik pada saat anak berhadapan dengan hukum ataupun disaat tidak berhadapan dengan hukum. Bagi anak yang berhadapan dengan hukum dan menjadi korban kekerasan, maka anak mendaptkan Pelayanan berupa pemberian motivasi, bimbingan, konseling dan terapi oleh pekerja sosial.

Pada usia anak, pendampingan yang sangat diperlukan adalah pendampingan emosiaonal dan spiritual. Karena kekuatan emosional dan spiritual tersebut akan lebih memberikan control yang baik bagi anak.

Kasus anak berhadapan dengan hukum kategori kekerasan terhadap anak perlu didampingi untuk menghilangkan rasa takut anak dan menjamin tidak terjadinya kasus yang sama Kembali terjadi. Dalam pendampingan tersebut, pekerja sosial menggunakan pendampingan berbasis restorative justice.71 Tujuan dari pendampingan berbasis restorative justice tersebut untuk menghindari anak dari rasa takut dan trauma terhadap kejadian yang menimpanya. Disamping itu juga untuk memperjuangkan hak-hak anak dan demi kebaikan masa depan anak.

2. Perlindungan

Sebagaimana yang diketahui bahwa anak merupakan manusia yang sangat labil serta tidak mampu melakukan pemebelaan diri. Apalagi Ketika anak harus bertentngan atau berhadapan dengan hukum. Sehingga diperlukan pekerja sosial sebagai pembela atau pelindung bagi anak.

Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum dilaksanakan melalui perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak, penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini, penyediaan sarana dan prasarana khusus, penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan terbaik anak, pemantauan dan pencatatan secara continue terhadap perkembangan anak.

Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana dilaksanakan melalui upaya rehabilitasi baik dalam lembaga maupun diluar lembaga, upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi, pemberian jaminan

71 Sri Pranitawati,Penerapan Pendampingan Berbasis Restorative Justice, Pemberdayaan Masyarakat Vol. 01 2017 hlm 2

keselamatan bagi sanksi korban ahli baik fisik mental maupun sosial, pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara. Perhatian pekerja sosial untuk mempertahankan harga diri dan hak-hak anak sangat penting dilakukan.

Anak juga manusia biasa dan manuisa labil yang sangat memerlukan perlindungan. Meski demikian anak juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama didepan hukum. Sebagaimana amanat dalam UUD 1945 pasal 28 D ayat 1 berbunyi “ setiap orang berhak atas pengakuan,jaminan perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama didepan hukum.”72 Dalam UUD 1945 tersebut memberikan pemahaman bahwa, anak sangat berhak mendapatkan keistimewaan didepan hukum, terutama pembelaan dan perlindungan oleh pekerja sosial.

Disamping itu juga, pelindungan terhadap anak dari kekerasan telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28B ayat (2) yang menyatakan bahwa: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.73Artinya tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah terutama pekerja sosial memiliki peranan penting dalam melakukan tugas perlindungan kepada anak. Hal tersebut sebagai upaya pemenuhan hak- hak anak. Hak tersebut seperti hak untuk sekolah, belajar, bermain, kasih sayang dan lain sebagainya. Sehingga dengan begitu anak tidak merasa

72 Dhinoke,Undang-Undang Perlindungana Anak,https://www.kppi.Com, diakses tanggal 8 Juli 2020

73 Novianti, Pendampingan Anak Berhadapan Dengan Hukum Https://Berkas.Dpr.Go.Id , diakses tanggal 15 Juli 2020

takut dan bebeas dalam mengekspresikan dirinya, dengan catatan tidak melanggar aturan.

3. Edukator

Peran pekerja sosial dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum terutama korban tindak kekerasan bukan hanya mendampingi dan memberi perlindungan, namun juga memberikan edukasi. Pemahaman atau edukasi yang diberikan oleh pekerja sosial tersebut bukan hanya untuk anak semata namun juga bagi lingkungan keluarga anak. Upaya pekerja sosial dalam memeberikan edukasi tersebut diharapkan akan membawa perubahan terutama bagi anak. edukasi tersebut juga sebagai bentuk advokasi yang dilakukan pekerja sosial terutama dalam pemenuhan hak-hak anak yang berhadapan hukum.

Edukasi yang diberikan pekerja sosial tidak hanya berlaku hanya untuk anak,namun juga bagi keluarga atau orang tua. Karena anak tidak mungkin akan mendapatkan pemantauan maksimal 24 jam dari pekerja sosial. Sehingga peran oarng tualah yang akan membantu pekerja sosial dalam mengedukasi anak. Namun jika anak yang menjadi korban kekerasan, maka orang tualah yang menjadi motivator sekaligus penasihat yang baik bagi anak. Mengingat orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak.

Untuk meminimalisir kasus kekerasan terhadap anak di NTB pekerja sosial perlu memberikan suatu edukasi kepada anak, keluarga maupun masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat,edukasi yang diberikan pekerja sosial berorientasi pada bagiaman memberikan

perlindungan kepada anak. Tujuan dari edukasi tersebut adalah memberikan pemahaman kepada anak akan pentingnya penjagaan diri.

Bagi anak yang menjadi korban kekerasan, biasanya dilakukan edukasi dalam bentuk permainan dan cerita-cerita yang mengarah pada proses rehabilitasi anak.

4. Fasilitator

Selain menjadi seorang educator, pekerja sosial juga berperan sebagai fasilitator. Maksunya adalah pekerja sosial menmpatkan diri sebagai sahabat maupun keluarga anak yang berhadapan dengan hukum.

Sebagai fasilitator, pekerja sosial akan berupaya melakukan pemenuhan tuntutan kebutuhan anak, terutama yang bersangkutan dengan hal perlindungan dan pembelaan. Peran fasilitator tersebut diemban untuk menghilangkan trauma serta rasa takut anak.

Sebagai advokat, Pekerja sosial dalam menangani anak yang berkonfllik dengan hukum, perlu melakukan kolaborasi dengan profesi seperti pengacara. Pengacara adalah bagian dari pihak yang memberikan perlindungan hukum kepada anak yang berkonflik dengan hukum.

Advokasi kepada aparat penegak hukum harus dilakukan oleh pekerja sosial, terutama menekankan kepada perlunya pemenuhan perlindungan sosial terhadap anak. Sehingga sebagai fasilitator, pekerja sosial akan menjadi tameng bagi anak. Disamping itu juga, pekerja sosial harus mampu mempengaruhi kebijakan public, untuk memastikan anak akan berada dalam situasi dan kondisi yang baik serta terkendali.

Dalam literatur pekerjaan sosial, peranan fasilitator sering disebut sebagai pemungkin (enabler). Keduanya bahkan sering dipertukarkan satu- sama lain. Peran sebagai pemungkin atau fasilitator bertujuan untuk membantu klien agar menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional.74 Pada level usia anak, seharusnya tidak bisa dibebankann permasalahan yang berat. Karena hal tersebut dapat mengganggu keadaan psikologis anak. Karena diusia anak tersebut masih sangat labil dan rentan mengalami perubahan baik kea rah positif atau negatif, tergantung pada pola didikannya. Sehingga pekerja sosial berupaya menjadi fasilitator bagi anak, untuk menghindari anak dari tekanan-tekanan tersebut.

B. Analisis Kendala Pekerja Sosial Dalam Advokasi Terhadap Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum

Dalam melaksanakan tugasnya, pekerja sosial merancang berbagai macam Teknik. Peran sebagai advokat tersebut merupakan peran yang sangat berat dan membutuhkan kemampuan ilmu pengetahuan yang cukup. Disamping itu juga, yang dihadapi tersebut bukan orang yang mengerti akan hukum, tapi orang yang tergolong anak-anak. Sehingga dalam pelaksanaan tuganya terdapat berbagai macam kendala atau rintangan yang dihadapi pekerja sosial. Kendala yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Kurangnya personil

Ketika merujuk pada statistic atau rekapitulasi penanganan kasus anak yang berhadapan dengan hukum di Lembaga Perlindungan Anak

74Baharudin, Peran Pekerja sosial sebagai fasilitator, Https://Bakaruddin-Pea.

Com,diakses tanggal 15 Juli 2020

NTB, seharusnya menjadi pusat perhatian. Pelaksanaan layanan oleh pekerja sosial seakan ditekan oleh keadaan dan situasi dilapangan. Dimana pekerja sosial khsusunya dilembaga perlindungan anak kekeurang anggota atau personil dalam menangani setiap kasus yang ada.Indikasi dari kurangnya personil tersebut membuat kinerja pekerja sosial tidak maksimal. Melihat situasi dan kondisi yang terjadi, pekerja sosial kadangkala kualahan dalm melakukan layanan kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Apalagi untuk satu kasus diselesaikan dengan waktu yang tidak singkat.

Keterbatasan personil tersebut, bukan hanya berdampak pada pelayanan yang kurang efektif. Namun juga berdampak pada kemampuan pekerja sosial. Hal tersebut menjadi sebuah tekanan bagi pekerja sosial, mengingat pelayanan yang dilakukan sangat banyak.Oleh karena itulah diperlukan adanya peningkatan jumlah personil yang memiliki keahlian dalam melakukan pendampingan atau advokasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Harapan pekerja sosial untuk mendapatkan bantuan penambahan personil tersebut untuk memaksimalkan kinerja pekerja sosial dalam melakukan penanganan kasus anak yang berhadapan dengan hukum.

2. Fasilitas Yang Tidak Memadai

Indikator kedua daripada kendala pekerja sosial dalam melakukan advokasi adalah karena minimnya fasilitas yang tersedia. Sehingga ketika pekerja sosial membutuhkan fasilitas, kadangkala tidak terpenuhi.

Kurangnya fasilitas tersebut juga sangat mempengaruhi layanan yang

diberikan pekerja sosial terhadap penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. Dimana fasilitas tersebut adalah sebagai instrument pendukung pekerja sosial dalam melaksanakan tugas advokasi kepad anak.

Jika fasilitas yang dibutuhkan tidak terpenuhi, maka kualitas pelayanan yang diberikan pastinya kurang maksimal.

Untuk mengantisipasi dan menyelsaikan masalah tersebut, pekerja sosial melakukan Kerjasama dengan lembaga lain yang memiliki kapasitas dalam meneyelsaikan kasus anak yang berhadapan dengan hukum.

Biasanya anak dibawa ke balai rehabilitasi sosial utnuk mendaptkan layanan lanjutan. Meskipun demikian anak tetap akan dipantau oleh pekerja sosial sebelumnya dan memberikan evaluasi terhadap perkembangan anak. Di balai rehabilitasi sosial, anak akan mendapatkan edukasi, pendampingans serta perlindungan. Sehingga anak akan lebih mudah dalam menyelesaikan masa pemulihannya.

3. Keadaan Psikologis anak

Anak merupakan pribadi yang labil dan memiliki karakter yang dinamis. Anak memiliki sensitifitas terhadap segala sesuatu, Sehingga anak kerapkali menjadi korban kekerasan, apalagi anak yang memiliki sifat egosentris. Kartini Kartono menjelaskan bahwa anak yang memiliki karakter egosentris yang memandang dunia dengan pandangannya sendiri dan pemahamannya sendiri, sehingga anak kerapkali berperilaku aneh dan berubah-ubah. Perubahan tersebut yang menjadi indikator susahnya perilaku anak untuk ditebak.

Faktor pertama yang menjadi kendala pekerja sosial dalam melaksanakan advokasi terhadap anak adalah karena factor psikologis anak. Kondisi psikologis anak merupakan bagian penting dalam mengoptimalkan perkembangan anak secara emosional.Sigmund Freud menjelaskan setiap anak yang dilahirkan dengan insting emosional yang cendrung egois, namun factor emosi tersebut akan terus berkembang dan beradaptasi dari waktu ke waktu.75 Artinya anak merupakan pribadi yang masih sangat labil dan sulit terkontrol. Sehingga inilah menjadi kenala pekerja sosial dalam mengadvokasi anak.

Dalam melaksanakan tugas advokasi pastinya pekerja sosial memerlukan data empiris dari anak. Namun kendala itu justru muncul saat penggalian data, terutama dengan anak yang memiliki sifat yang dingin,tertutup dan pemalu. Sifat anak tersebut yang membuat anak akan sulit bercerita dan menyulitkan pekerja sosial dalam melaksanakan tugasnya. Namun untuk menyelesaikan kasus tersebut, pekerja sosial harus menggunakan cara lain yang lebih elegan, yang nantinya anak akan lebih leluasa dan menganggap pekerja sosial sebagai sahabat bermainnya.

Dengan begitu seluuruh informasi akan lebih mudah didapatkan.

Anak merupakan pribadi yang sulit ditebak dan sulit dikendalikan.

Rasa ingin tahunya yang tinggi, menjadikan anak rentan melakukan kejahatan bahkan menjadi korban kejahatan. Apalagi bagi anak yang masih kecil atau remaja, sangat sirkan menjadi korban kekerasan, baik bullying, pemukulan, pemerkosaan dan bentuk kejahatan lainnya.

75 Shafa Nurnafisa,Cara Memahami Psikologi Anak,Https://Id.Theasianparent.Com.

diakses tanggal 10 Juli 2020

Indikator penyebab terjadinya kasus kekerasan tersebut tidak lain karena pribadi anak yang masih sangat labil. Sehingga anak memiliki sifat penurut dan mudah dihasut. Moment tersebutlah yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya.

Sebagaimana yang diketahui baik dari media masa elektronik maupun media cetak, banyak ketimpangan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Ketimpangan atau persoalan tersebut Sebagian besar menyangkut masalah anak. Kasus yang banyak saat ini adalah pembuangan bayi, pemukulan, berkelahi, pelecehan seksual sampai pada kasus criminal yang dilakukan oleh anak sendiri. Banyaknya kasus tersebut memberikan evaluasi kepada pemerintah maupun Lembaga perlindungan anak untuk lebih memperhatikan perlindungan dan kewaspadaan Bersama melalui kebijakan yang dikeluarkan. Harapannya agar persoalan anak berhadapan dengan hukum terutama yang menempatkan anak menjadi korban dapat terselesaikan.

4. Kurangnya peran serta Orang tua

Keluarga pada hakikatnya merupakan lingkungan kehidupan yang pertama dikenal oleh anak. Maka dari itu peranan orang tua dalam keluarga sangat menentukan sikap dan perilaku anak kedepannya. Di dalam keluarga, orang tualah yang membimbing, mengasuh dan memberikan teladan kepada anak. Disamping itu juga orang tua yang mengajarkan nilai-nilai moralitas kepada anak. Sehingga anak akan memiliki karakter serta SDM yang bagus. Mengingat banyak kasus yang

terjadi akibat pola asuh yang salah dari orang tua. Terutama bagi orang tua yang lali dan acuh terhadap perkembangan anaknya.

Dilain pihak, clemes (2001) menyatakan bahwa terjadinya penyimpangan perilaku anak disebabkan karena kurangnya ketergantungan antara anak dengan orang tua.76 Dalam kata istilah lain bahwa kurangnya control dan kasih sayang orang tua, membuat anak cendrung memiliki perilaku yang bebas. Sehingga kerap kali anak melakukan hal-hal di luar nalar mereka, seperti pelanggaran hukum. Kasus yang terjadi di NTB kebanyakan kasusnya terjadi karena factor pola asuh yang tidak baik dalam keluarga. Disamping itupula karena krangnya perhatian dan kasih sayang orang tua. Apalagi bagi anak yang menjadi korban broken home, yang tak tau tempat mengadu dan bercerita suka duka.

Setiap orangtua memiliki peranan yang besar bagi anak terutama bagi psikologis anak. Selama ini yang diketahui orangtua pada umumnya adalah peran mereka sebatas membesarkan dan melindungi anak agar kelak menjadi individu yang mandiri dan kompeten. Namun seperti apa proses membesarkan anak terutama perkembangan psikologi anak, kerap menjadi tanda tanya. Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda, sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan yang secara tidak langsung berpengaruh pada psikologi anak.

76Mulia Astuti, Anak Berhadapan Dengan Hukum Ditinjau Dari Pola Asuhnya Dalam Keluarga, Jurnal Informasi,Vol 16, No 1, 2011 hlm 4

Peran serta orang tua sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan setiap kasus anak yang berhadapan dengan hukum. Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak. Merekalah sekolah pertama dan utama anak. Sehingga orang tua lebih tahu seluk beluk anak yang akan di advokasi. Namun kadangkala, anak bisa berhadapan dengan hukum diakibatkan oleh kurangnya perhatian dan kasih saying orang tua.

Sehingga anak tidak memiliki control dalam berprilaku.

Disamping itu juga dalam melakukan studi kasus, pekerja sosial akan melakukan interaksi dengan orang tua anak. Namun kendala yang sering dihadapi adalah orang tua anak terlalu sibuk dengan pekerjaannya, terutama bagi orang tua yang bekerja kantor, PNS dan lain sebagainya.

Sehingga proses penyelesaian advokasi oleh pekerja sosial tersebut seakan tersendat oleh kurangnya peran serta orang tua dalam proses advokasi tersebut.

Jika kasus pelecehan dan kasus kekerasan terjadi pada anak. Maka anak akan direhabilitasi pada Lembaga rehabilitasi sosial. Tujuannya untuk memulihkan suasana anak baik dari rasa takut, trauma dan lain sebagainya. Jika kasus penelantaran oleh keluarga, maka anak akan mendaptkan bimbingan dan edukasi di Lembaga perlindungan anak atau di balai rehabilitasi sosial. Hal tersebut sebagai realisasi dari terwujudnya hak-hak anak serta melindungi anak dari gangguan sosial.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok rentan yang seringkali mengalami berbagai kekerasan,eksploitasi dan pelanggaran hak-hak lainnya akibat pengasuh yang tidak baik. Ketua LPAI seto mulyadi

mengungkapkan orang tua harus memposisikan diri sebagai sekolah pertama dan utama dalam pengasuhan anak dikeluarga dan harus bisa menciptakan suasana belajar yang meneyenangkan, gembira dan penuh senyuman. Tidak boleh ada kekerasan karena akan merusak karakter anak.77 Artinya disini peran orang tua adalah peran yang sangat penting dan utama dalam pembentukan karakter anak. Ketika karakter anak terbentuk baik,maka tindak kekerasan terhadap anak tidak akan terjadi.

Namun sebaliknya, peran pola asuh yang salah terhadap anak malah akan memunculkan banyak kasus pelanggaran.

5. Kondisi Lingkungan

Faktor ketiga yang menjadi kendala pekerja sosial dalam melakukan advokasi adalah kondisi lingkungan. Dimana pekerja sosial akan membuat Riwayat hidup keseharian anak. Sehingga pekerja sosial berkewajiban melakukan observasi langsung kelingkungan anak. Baik lingkungan keluarga maupun lingkungan bermainnya. Kondisi dilingkungan tersebut sangat mempengaruhi proses kerja pekerja sosial.

Apalagi lingkungan bermain anak yang berpariatif.

Perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungannya.

Teori yang berorientasi pada perilaku manusia terhadap lingkungan disebut sebagai teori behavioristik. Dalam teorinya geographical determinant yaitu teori yang memandang perilaku manusia lebih ditentukan oleh factor lingkungan dimana manusia hidup.78Pernyataan

77_Peran pola asuh dalam membentuk karakter anak, Https://www.Kemenpppa.Go.Iddiakses tanggal 10 Juli 2020

78Afin Fadila Helmi, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan, Buletin Psikologi, Vol. 7, No. 2 Desember 1999. Hlm. 7

Dokumen terkait