• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Amtsilati a. Pembelajaran Amtsilati

Dalam dokumen pembelajaran amtsilati sebagai upaya (Halaman 34-49)

B. KAJIAN TEORI

2. Pembelajaran Amtsilati a. Pembelajaran Amtsilati

Pembelajaran merupakan sebuah proses, yakni proses menyusun, mengorganisasi daerah yang berada pada sekeliling siswa akhirnya bisa mengembangkan dan menekan siswa untuk bisa melaksanakan kegiatan belajar. Pembelajaran juga bisa dimaksud sebagai upaya membimbing dan membantu siswa dalam memberikan metode belajar. Peran guru sebagai pendidik ini juga banyak mengalami masalah. Dalam proses belajar pasti juga banyak mengalami perbedaan seperti misalnya anak yang bisa menerima materi dengan cepat, ada juga yang lama ketika menerima pelajaran.

Kedua hal ini yang membuat masalah dalam sebuah pembelajaran dan menyebabkan guru harus pandai membuat strategi dalam pembelajaran yang sesuai dengan setiap siswa.20

Amtsilati merupakan sebuah metode yang ditemukan oleh KH Taufiqul Hakim atau lebih dikenal dengan Gus Taufiq, beliau lahir

19 Imron Fauzi, “Konvergensi Kurikulum dan Pembelajaran di Madrasah Berbasis Pesantren”, Bitread Publishing. 2020. 18

20 Aprida Pane. “Belajar dan Pembelajaran”, Fitrah: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman .Vol.03 No. (2 Desember 2017). 337

pada tanggal 14 Juni 1975 di Desa Sidorejo kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. Alasan ditemukannya metode Amtsilati ini adalah karena keresahan Gus Taufiq merasakan betapa sulitnya belajar membaca kitab kuning selama di pesantren. Perihal ini disebabkan jika santri ingin bisa membaca kitab kuning maka setidaknya dia wajib dapat menghafal 1000 bait nadzam Alfiyah. Selain itu, pada kitab-kitab nahwu yang ada pada pondok pesantren, berdasarkan gus Taufiq penjabarannya kurang fokus pada materi-materi yang semestinya jadi acuan pengutamaan pada jenjang pemula mau anak- anak atau remaja. Akhirnya dari beberapa permasalahan tersebut Gus Taufiq membuat sebuah skala utama, materi apa yang dibutuhkan dan yang tidak pada jenjang pemula agar bisa membaca kitab kuning.

Yang akhirnya menyingkat menjadi sekitar 100 hinga 200 bait nadzom saja, awalnya 1000 bait pada Alfiyah dan diambil sebagai bahan ajar yang tergolong pada skala utama, dan sisanya adalah penyempurnaan untuk mengembangkan lebih luas.

Sedangkan Amtsilati berasal dari kata benda jama’, sedangkan muradnya (tunggal) mitsl yang berarti perumpamaan. Di dalam sebutan Amtsilah ada akhiran “ti” seperti pada metode qiro’ati dan bertemu dengan ya’ mutakallim wahdah. Pemberian nama Amtsilati ini mencontoh pada metode belajar cepat membaca Al-qur’an yaitu qira’ati. Adapun pada metode qira’ati anak dapat dengan cepat membaca Al-Qur’an, maka dalam metode Amtsilati ini diharapkan

anak bisa belajar membaca dan mencerna kitab gundul (kitab tanpa harokat) dengan cepat. Kemudian muncullah nama Amtsilati ini yang artinya “beberapa contoh dari saya” yang sama dengan akhiran “ti

dari qira’ati.21

Kitab amtsilati ini didukung oleh kitab Khulashah al-fiyah Ibn Malik untuk acuan ajaran yang berisi 183 baris nadham kependekan dari nadham alfiyah. Pada kitab ini setiap bait nadham dijelaskan pada susunan nadham yang telah dikasih arti menggunakan tulisan pegon, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tujuannya adalah agar memudahkan memahami untuk santri pemula, khususnya santri yang tidak bisa berbahasa Jawa. Kitab pendamping lain yang dijadikan penunjang Amtsilati diantaranya yaitu Qoidati (rumus dan kaidah) dan Sharfiyah (metode praktis untuk mengerti sharaf dan I’lal).

Tujuan dari kitab ini adalah untuk mempermudah para peserta didik atau santri lebih gampang untuk menghafal semua materi Amtsilati pada jilid 1 hingga jilid 5.

Sedangkan pembelajaran Amtsilati merupakan proses membantu siswa dalam belajar agar bisa membaca dan mengerti kitab kuning (kitab gundul) dengan cepat, metode ini juga menggambarkan sebuah cara cepat untuk belajar Nahwu dan Sharaf karena kitab ini telah di susun secara sistematis dan juga sebagai inovasi baru untuk mempermudah siswa atau santri dalam belajar, karena pada umumnya

21 Wahyu Najib Fikri “Implementasi Metode Amtsilati dalam Membaca Kitab Kuning di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Demak”, Potensia: Jurnal Kependidikan Islam. Vol 4 No. 2 (Juli- Desember 2018). 131

belajar Nahwu dan Sharaf memerlukan waktu yang lama karena pemilihan metode yang kurang tepat. Akhirnya terbitlah metode Amtsilati ini yang diharapkan mampu mempermudah dalam belajar membaca dan memahami kitab kuning.

b. Perencanaan Pembelajaran

Majid mengatakan bahwa perencanaan adalah sebuah proses menyusun materi pelajaran, pemakaian media pembelajaran, pemakaian sebuah metode dan rancangan pengajaran, dan penilaian pada suatu bagian waktu yang akan dilakukan pada waktu tertentu agar mendapat sebuah arah yang direncanakan. Nawawi dan majid mengatakan bahwa perencanaan juga berarti membentuk tindakan penyelesaian sebuah masalah atau pelaksanaan kegiatan yang mengarah pada sebuah misi khusus. Perencanaan merupakan sebuah rancangan agar mencapai suatu tujuan umum dan jurusan khusus sebuah organisasi atau instansi penyelenggara pendidikan.

Dalam ranah pendidikan perencanaan biasanya erat kaitannya dengan pembelajaran. Pembelajaran sendiri adalah suatu sub sistem pendidikan selain kurikulum. Proses pembelajaran ini selalu menjejaki perkembangan kurikulum. Pembelajaran ini biasanya terkait oleh bagaimana mengerjakan yang tepat seperti yang ada pada kurikulum.22

22 Annisa Eka Fitri et al. “Perencanaan Pembelajaran Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini (penelitian Deskriptif Kuantitatif di Paud Auladana Kota Bengkulu”, Jurnal Potensia: PG PAUD FKIB Unib, (Vol.2 No.1). 3

Proses pembelajaran yang pas bisa memberikan efek yang positif untuk peserta didik diantaranya adalah dapat menegmbangkan kreativitas, berpikir kritis, analitik dan tepat dalam mengaplikasikan sekaligus mengidentifikasi materi pembelajaran serta meningkatkan keahlian mengkonstruksi pengetahuan yang baru sebagai usaha untuk meningkatkan pemahaman materi pembelajaran, selain itu juga bisa digunakan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami masalah sekaligus meningkatkan kerjasama tim dan komunikasi.23

Berdasarkan semua pengertian di atas bisa diambil kesimpulan yakni perencanaan yang dilakukan ini termasuk perencanaan terus menerus karena perencanaan ini dibuat satu kali kemudian diterapkan seterusnya dengan sifat fleksibel.

c. Pelaksanaan Pembelajaran Amtsilati

Pelaksanaan Pembelajaran Amtsilati ini menggunakan metode klasikal. Yakni model pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok tujuannya adalah untuk membentuk suasana kelas yang kondusif selama kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran ini dilaksanakan secara berkelompok sesuai dengan jilidnya sendiri- sendiri. Dengan menggunakan pembelajaran seperti ini, kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan kondusif sekaligus efektif, sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Selain itu, berdasarkan jumlah kelompok yang sesuai, pendidik bisa melihat

23 I Putu Widyanto dan Endah Tri Wahyuni.” Implementsi dan Perencanaan Pembelajaran”, Satya Sastraharing, Vol. 04 No. 02. (November 2020). 17

dan mengetahui secara langsung kualitas individu siswa. Meskipun pembelajaran dilakukan dengan klasikal, pembelajaran ini menegaskan dikemampuan masing-masing pada penguasaan materi.

Dalam proses pembelajaran individual ini setiap siswa diberikan waktu agar memahami materi berdasarkan dengan kemampuan maupun kecepatan masing-masing. Akan tetapi siswa harus aktif dalam pembelajaran dan dilarang bergantung kepada santri yang lain.

Untuk mendukung pembelajaran ini tugas guru hanya mengajarkan, membimbig serta meluruskan santri jika ada kesalahan ketika belajar materi.24

Berdasarkan penjabaran di atas bisa didapat kesimpulan yakni pembelajaran Amtsilati dilaksanakan dengan cara guru membacakan materi dan ditirukan oleh siswa, kemudian ditambah dengan menghafal nadzom yang sudah disediakan sebagai pendamping dan materi tambahan kitab Amtsilati.

d. Evaluasi Pembelajaran 1) Pengertian Evaluasi

Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “evaluation”

yang berarti penilaian maupun penaksiran. Sedangkan pada bahasa Arab disebut “al-qiamah atau Al-taqdir” yang memiliki arti penilaian. Sedangkan menurut harfiah, evaluasi pendidikan diartikan Al-taqdir al-tarbiyah yaitu berarti penilaian pada bagian

24 Afifatur Rahma. Implementasi Metode Amtsilati dalam Membaca Kitab Kuning di Pondok Pesantren Nurul Karomah Galis Madura. (Skripsi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2020) 24-25

pendidikan maupun penilaian tentang hal yang berhubungan mengenai pendidikan.25 John. M. Echols dan Hasan Shadily.

Sedangkan menurut Edwind Wandt dan Gerald W. Brown mengatakan bahwa “evaluation refer to the eact or process to determining the value of something”. Yang berarti sebuah aktivitas atau sebuah kegiatan yang menentukan dari nilai sesuatu. Selain itu, berdasarkan Oemar Hamalik evaluasi merupakan sebuah kegiatan kelanjutan mengenai pengumpulan dan analisis informasi untuk memberi nilai (asses) ketentuan yang dirancang pada sebuah proses pengajaran. Berdasarkan beberapa teori di atas bisa diambil kesimpulan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data dan informasi yang bisa dipakai untuk penerimaan kepastian dan untuk mengetahui pencapaian tujuan.26

Dalam mencapai keberhasilan suatu pembelajaran, maka harus dilakukan evaluasi. Dalam evaluasi memerlukan adanya metode, serta tujuan untuk keberhasilan selama proses pembelajaran dan pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi yang bagus itu harus berdasarkan pada tujuan yang sudah ditetapkan pada perencanaan sebelumnya dan selanjutnya diterapkan oleh

25 Ina Magdalena, Hadana Nur Fauzi, Raafiza Putri. “Pentingnya Evaluasi dalam Pmbelajaran dan Akibat Memanipulasinya”, Bintang: Jurnal Pendidikan dan Sains. Vol. 2 No. 2 (Agustus 2020).

246

26 Syafril dan Novrianti. “Pengembangan dan efektivitas Penggunaan Computer Based Testing pada Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran pada Program Studi Teknologi Pendidikan. Jurnal Educative: Journal of Educational Studies , Vol. 2 No. 02. (Juli-Desember 2017). 158

guru kepada siswa. Sebaik apapun evaluasi apabila tidak mengacu pada arah yang sudah diputuskan maka tidak akan tepat sasaran.27 2) Tujuan Evaluasi

Tujuan evaluasi pembelajaran pada umunya yakni agar melihat keefektifan dan efisiensi dari model pembelajaran. Yang dimaksud dari model pembelajaran meliputi: metode, tujuan, media, materi, materi belajar, lingkungan dan proses penilaian.

Selain itu, evaluasi pembelajaran ini tujuannya adalah untuk memperhitungkan keberhasilan dari strategi pembelajaran, menilai dan menaikkan keberhasilan program kurikulum, menilai efektivitas pembelajaran, menunjang belajar siswa, mengenal kelebihan maupun kekurangan anak didik dan untuk memberikan data yang membantu proses pembuatan keputusan. Beberapa tujuan umum dan tujuan khusus dalam evaluasi pendidikan ialah:

(1) Tujuan Umum:

(a) Untuk mengetahui seberapa efektif dan efisien proses pembelajaran, mau yang membahas mengenai materi, metode, tujuan, sumber belajar, media, ranah belajar ataupun sistem dari penilaian itu sendiri.

(b) Untuk mengumpulkan data sebagai bahan bukti tentang kemajuan peserta didik ketika menjalani proses pendidikan dalam rentang waktu tertentu

27 Tatang Hidayat dan Abas Asyafah. “Konsep dasar Evaluasi dan Implikasinya dalam Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah”, Al-Tadzkiyyah”. Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2019). 163

(2) Tujuan Khusus

Chittenden mengemukakan penilaian dan pembelajaran adalah “keeping track, checking-up, finding-out and summing- up”. Pengertian tentang beberapa istilah tersebut yakni:

(a) Keeping track, kegunaannya melacak serta menelusuri kegiatan belajar yang sesuai dengan rencana pembelajaran sesuai dengan yang sudah diputuskan.

(b) Checking-up, adalah untuk melihat skill siswa dalam sebuah kegiatan pembelajaran dan kekurangan siswa ketika proses pembelajaran.

(c) Finding-out, untuk melihat dan mendapatkan kelemahan atau kekurangan siswa ketika kegiatan pembelajaran, sehingga pendidik dapat dengan mudah mencari jalan lain dan solusinya.

(d) Summing-up, untuk menarik kesimpulan pemahaman anak didik pada tujuan yang sudah ditetapkan.28

Berdasarkan beberapa pemaparan diatas fungsi evaluasi adalah untuk menemukan dan mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan siswa yang harus dipertahankan maupun apa saja yang layak diperbaiki dengan cara mengumpulkan data-data sebagai bukti mengenai kemajuan siswa selama proses pembelajaran. Tujuan evaluasi sendiri adalah agar mengetahui atau melacak, melihat, mencari kekurangan, dan

28 Ina Magdalena et al. “Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar di SD Negeri Bencongan 1”, PENSA: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol.2 No. (1 April 2020). 90

menyimpulkan penguasaan peserta didik. Evaluasi yang baik itu harus berdasarkan pada perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar semua yang di evaluasi tepat sasaran dan sesuai dengan yang diharapkan.

3. Kemampuan Membaca Kitab Kuning a. Pengertian Kitab Kuning

Asep Usmani Ismail mengatakan bahwa kitab kuning yakni kitab-kitab terdahulu yang biasanya ditulis dan dicetak menggunakan huruf Arab, biasanya menggunakan bahasa Arab, jawa, melayu, dan lain-lain yang asalnya dari abad XI hingga XVI Masehi. Alasan dinamakan kitab kuning karena kitab ini diterbitkan menggunakan kertas warna kuning. Kitab ini memuat beragam hal yang terkait dengan agama islam. Mulai dari ilmu fiqih, ushul fiqih, hadist, tafsir, aqidah, ilmu tata bahasa Arab, ilmu sastra bahkan ada yang memuat tentang cerita hingga hikayat yang bercampur dengan dongeng. Kitab kuning ini adalah sebuah dokumen ilmu keislaman, berisi substansi islam yang lengkap memuat bermacam-macam pemikiran para kyai, berisi teks al-Qur’an dan tafsir yang dikemukakan mulai zaman sahabat hingga tabi’in, memuat segalam macam penjabaran status hadist mulai hadist yang sahih, hingga hadist lemah bahkan hadist palsu dan masih banyak lagi.29

Singkatnya kitab kuning ini bisa ditafsir telah menyiapkan semuanya untuk umat islam pada zaman ini yang membutuhkan dasar

29 Syarboini,PelaksanaanPembelajaran Kitab Kuning di M’had Jam’iah Institut Agama Islam Negeri Lhoksumawe Provinsi Aceh. 23-24

penggalian hukum. Oleh sebab itu, berpegang teguh dengan kitab kuning pada istinbath al-hukm, selain lebih praktis karena kitab kuning ini telah menyediakan berbagai ilmu yang beragam, hal ini juga tujuannya meminimalisir kesalahan ketika mempelajari Al- Qur’an dan hadist. Hal ini yang menyebabkan kitab kuning masih tetap eksis dikalangan pondok pesantren, perguruan tinggi dan madrasah, meskipun dalam penerapannya sudah banyak yang tidak menggunakan metode tradisional.

Untuk dapat membaca kitab kuning dengan baik, maka diperlukan untuk menentukan syakl (fathah, kasroh, dlommah dan sukun). Untuk mengetahui kedudukan dalam sebuah kalimat maka diperlukan mempelajari ilmu nahwu. Sedangkan agar bisa mengetahui bentuk kata memerlukan mempelajari ilmu sharaf. Untuk memastikan bentuk kata itu dibantu dengan memahami tulisan yang dibaca (fahm almaqru’i) dan hal ini tidak bisa diperoleh tanpa adanya penguasaan mufrodat. Oleh karena itu untuk mendalami kitab kuning ini harus menguasai ilmu nahwu, sharaf dan mufrodat terlebih dahulu.30

b. Metode Pembelajaran Kitab Kuning

Pada pembelajaran kitab kuning biasanya menggunakan beberapa metode, metode pembelajaran kitab kuning diantaranya yaitu:

30 Aliyah. “Pesantren Tradisional Sebagai Basis Pembelajaran Nahwu dan Sharaf dengan Menggunakan Kitab Kuning”, Al-Ta’rib”:Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban Vol. 6 No.1 (2018). 3-4

1) Metode Al-Miftah

Metode Al- Miftah merupakan nama dari suatu metode kilat membca kitab kuning buat santri usia dini yang disusun oleh Batartama (lembaga yang menanggulangi kurikulum pembelajaran di Pondok Pesantren Sidogiri) yang berisi kaidah Nahwu serta Sharaf buat tingkatan bawah. Nyaris seluruh isi dari tata cara Al- Miftah ini diambil dari kitab Jurumiyah serta sebagian dari Alfiyah Ibn Malik serta Nadzam Imrithi. Sebutan yang digunakan dalam modul ini nyaris sama dengan kitab nahwu yang terdapat di pesantren pada biasanya. Metode Al- Minftah ini diatur supaya gampang dimengerti oleh kanak- kanak dengan memakai Bahasa Indonesia, kesimpulan serta lapisan modul yang simpel, dan dilengkapi dengan tabel, skema, serta sebagian tata cara latihan, sampai perpaduan dengan lagu yang sesuai buat umur kanak- kanak. 31

2) Metode Amtsilati

Metode adalah suatu cara kerja yang berhubungan untuk memudahkan suatu pelaksanaan pembelajaran yang berguna untuk mewujudkan suatu tujuan yang diinginkan. Metode lebih bersifat

31Achmad, “Efekivitas Penerapan Metode Al-Miftah dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Bagi Santri Baru di Pondok Pesantren Syaichona Moh Kholil Bangkalan Madura”, Syaikhuna, Vol.8 No.1 (Maret 2017). 40.

procedural dan sistematik karena tujuannya yaitu agar mempermudah pengerjaan suatu pekerjaan.32

Amtsilati secara bahasa berarti “contohku”, maksudnya adalah suatu cara atau ide pemikirannya disampaikan melalui bentuk buku dengan banyak contoh supaya mudah dipahami oleh peserta didik.33 Istilah lain yang menyebutkan, Amtsilati merupakan sebuah kitab yang didalamnya terdapat metode cepat dan mudah dalam mempelajari kitab kuning dan rumus bahasa Arab yang dikarang oleh KH Taufiqul Hakim yaitu pendiri pondok pesantren Darul Falah Sidorejo Bangsri Jepara. Amtsilati yang berarti contohku ini adalah sebuah metode cepat baca tulisan Arab yang tidak ada harokatnya.34

Alasan menggunakan metode Amtsilati karena metode ini adalah metode yang bisa dipelajari dalam kurun waktu yang singkat sehingga memudahkan siswa dalam belajar memahami rumus bahasa Arab dan belajar membaca tulisan Arab tanpa harokat seperti yang ada pada Kitab Kuning.

c. Jenis-jenis Kitab Kuning

Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren dapat dikelompokkan ke dalam 8 kelompok kategori:

32 Iskandarwassid, Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008). 56

33 Ensiklopedi NU, Amtsilati Metode Baru Ngaji Nahwu, 6 Juni 2022.

http://www.nu.or.id/a,public-dinamic-s,pdf.

34 Tufiqul Hakim, Amtsilati: Metode Praktis Mndalami Al-Qur’an dan Membaca Kitab Kuning jilid 1, (Jepara:Al-Falah Offset, 2003)

a) Nahwu (Sintak) dan Sharaf (Morfologi) b) Fiqih.

c) Ushul Fiqih.

d) Tasawwuf.

e) Cabang lain seperti Balaghah dan Tarikh.

f) Tafsir.

g) Hadist.35

Adapun kitab kuning yang digunakan untuk belajar di SMK Nahdlatuth Thalabah ini adalah Fathul Qorib dengan menggunakan metode Amtsilati sebagai pendukung pembelajaran.

Keterkaitan antara Amtsilati dengan kemampuan baca kitab yaitu Amtsilati sebagai metode yang digunakan untuk belajar nahwu shorof yang mana nahwu shorof merupakan rumusan untuk mengetahui harokat pada bahasa Arab, sehingga siswa yang belajar Amtsilati dapat membaca kitab kuning yang tanpa harokat dalam waktu yang singkat menggunakan kitab metode Amtsilati yang terdiri dari Amtsilati jilid 1-5, Tatimmah 1 dan 2, Qoidah Amtsilati dan buku nadzom.

35 Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Direktorat Kelembagaan Agama Islam, 2003) 33-36

36

Untuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai Pembelajaran Amtsilati Sebagai Standarisasi Kemampuan Membaca Kitab Kuning di SMK Nahdlatuth Thalabah Wuluhan Kabupaten Jember, jenis penelitian yang akan dipakai adalah kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang tidak bisa diselesaikan menggunakan prosedur statistic atau menggunakan cara kuantitatif. Menurut Strauss dan Corbin, penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bisa dipakai untuk meneliti kehidupan sejarah, masyarakat, fungsionalisasi organisasi, tingkah laku, gerakan sosial maupun hubungan saudara. Bogdan dan Taylor menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tulisan, ucapan, dan perilaku dari objek yang diteliti. Dengan penelitian kualitatif ini dimungkinkan untuk memperoleh pengertian mengenai kenyataan lewat proses berpikir induktif.36

Penelitian yang dipakai adalah kulitatif deskriptif yaitu memfokuskan pada kegiatan ontologis. Pengumpulan data berbentuk kata, kalimat maupun gambar yang mempunyai arti dan bisa menimbulkan pengertian yang lebih dalam daripada hanya sebuah angka atau frekuensi. Peneliti memfokuskan pada catatan yang teliti, lengkap, mendalam dan memperlihatkan keadaan yang seharusnya guna mendukung penyajian data. Oleh sebab itu seringkali

36 Farida Nugrahani. Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Surakarta.

2014. 4-5

dikatakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Oleh sebab itu, peneliti berusaha untuk meneliti sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya pada tempat penelitian.37

Dalam dokumen pembelajaran amtsilati sebagai upaya (Halaman 34-49)