• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI BANGUN DATAR

Dalam dokumen PENULISAN DAN PUBLIKASI ILMIAH (Halaman 137-157)

Penerapa deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan

dalam penelitian ini

9

dalam pembelajaran etnomatematika. Salah satu aplikasi etnomatematika

kebiasaan,

penelitian ini adalah

17

18

Etnomatematika adalah aktivitas matematika yang dilakukan oleh budaya yang menyatu dalam kehidupan masyarakat yang disebut dengan istilah indera manusia dalam aktivitas kehidupan nyata.

Secara historis, perkembangan matematika memiliki catatan sejarah panjang. Banyak konsep matematika dikontribusi oleh budaya dalam kehidupan manusia. Budaya merupakan sesuatu yang kompleks, mengacu pada unsur keyakinan, pengetahuan, kesenian, moral, hukum, adat, kemampuan, dan kebiasaan lain yang dimiliki manusia sebagai bagian dari masyarakat (Tylor, 2016). Matematika lahir, tumbuh, dan berkembang dari budaya, dimana budaya tersebut menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak terlepas dari satu zaman ke zaman berikutnya. Sehingga muncullah pengertian bahwa matematika merupakan produk

sekelompok budaya masyarakat tertentu, seperti kelompok buruh, tani, nelayan, anak-anak dari masyarakat kelas tertentu, kelas professional, dan lain-lain (D’Ambrosio, 1985; Gerdes, 1994).

Oleh karena itu matematika merupakan suatu bentuk budaya yang terintegrasi dalam kehidupan masyarakat, kapanpun dan dimanapun mereka berada (Muhtadi, Sukirwan, Warsito, &

Prahmana, 2017; Hermanto, Wahyudin, & Nurlaelah, 2019).

telah banyak ditemukan di berbagai suku dan etnis, di seluruh penjuru tanah Tetapi masih Indonesia adalah negeri yang kaya akan ragam budayanya dan produk

banyak etnomatematika yang belum terkupas dan masih perlu digali, salah satunya adalah etnomatematika Candi Borobudur. Candi Borobudur adalah candi yang diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 Masehi pada zaman wangsa Syailendra dan menjadi salah satu warisan dunia milik Indonesia (Soekmono, 1976, p.9; United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization [UNESCO], 2014). Perkiraan pembangunan Candi Borobudur ini berlangsung selama 75 - 100 tahun, dan selesai pada masa Raja Samaratungga, dimana tulisan pada relief candi borobudur ini secara paleografis sangat mirip dengan tulisan pada Prasasti Kayumwungan, bertanggalkan tahun 746 Saka atau 824 Masehi.

Dilihat dari struktur bangunan Candi Borobudur yang megah, dengan bentuk dan bangunan yang unik, memberikan makna tersendiri tentang bagaimana masyarakat pada zaman dahulu menghasilkan sebuah karya besar berupa candi yang sangat megah dan sarat dengan konsep matematika. Padahal diketahui bahwa pada masa itu belum ada teknologi yang berkembang seperti saat ini. Konsep matematika tanpa disadari telah diaplikasikan dan menjadi aktivitas dalam kehidupan masyarakat zaman dahulu.

.

dalam akal dan diolah oleh pikiran manusia sebagai anugerah Tuhan dan dipraktekkan dengan

etnomatematika

19

20

Struktur bangunan Candi Borobudur terdiri dari tiga bagian, yaitu: kepala, dari tiga tingkatan secara vertikal, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan

metode penelitian penelitia

sentral Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah bahan suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan

yang

metode penelitian penelitian

HASIL PENELITIAN

Candi adalah bangunan kuno terbuat dari batu sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja dan pendeta Hindu-Buddha pada zaman dahulu. Pada masa modern, pengertian candi merujuk kepada tempat beribadah peninggalan peradaban Hindu-Buddha dan biasa difungsikan sebagai tempat memuliakan Buddha (Dumarcay,

Candi Borobudur disusun menggunakan batu andesit yang berbentuk

bentuk struktur seperti pundan berundak yang semakin keatas semakin mengecil dengan empat buah tangga yang terdapat di setiap sisi mata angin (Timur, Selatan, Barat, dan Utara). Strukturnya terdiri atas sembilan teras berundak yang terdiri dari enam teras berdenah persegi dan tiga teras berdenah lingkaran, di antara bentuk teras tersebut terdapat lantai yang disebut plateua, candi Borobudur merupakan tiruan alam semesta yang terdiri METOD

E Jenis ini menggunakan metode deksriptif kualitatif. Dalam buku karya Raco, Creswell (2008) menyatakan bahwa

adalah kejelasan

matematika di SD 16 Penelitian

II semester Ganjil, berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).

2022 bertempat di Rumah penulis. Subjek dan sampel penelitian ini adalah beberapa siswa/i kelas II SDN Karanganyar 02 yang berjumlah 6 orang.

berupa dokumentasi tes tertulis.

a. Candi Borobudur

2007).

Metode pengambilan Data yang digunakan dalam penelitian da

kehidupan Sang Buddha

ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 12 Desember kelas

kualitatif

21

dan kaki. Bagian-bagian Candi Borobudur ini memiliki makna berbeda dan berhubungan secara tersirat berdasarkan konsep Buddhisme, yaitu fase perkembangan jiwa dan episode

.

.

22

masyarakat atau kelompok budaya dalam aktivitas matematika. Secara singkat, Etnomatematika

matematika dalam perspektif budaya (Kencanawati, 2017

adalah cara-cara tertentu yang dipergunakan oleh

manusia menurut konsep Buddhisme yang disebut Kamadhatu atau alam hawa nafsu,

perjalanan hidup manusia di dunia, dimana manusia masih dikuasai oleh hawa nafsu dan persiapan mental yang harus diraih sebelum mencapai tujuan akhir, yaitu terbebas dari ikatan duniawi (UNESCO, 2005)

Badan candi disebut Rupadhatu, berisi 1.300 panel yang menyiratkan “alam antara”, yaitu tahap dimana manusia dapat mengalahkan keinginannya dan muncul kecenderungan mulia, namun mereka masih terpengaruh oleh karakteristik manusia yang khas (Larisa, 2011, p.19).

Kepala candi disebut Arupadhatu (alam atas), merupakan alam para dewa

spiritual tanpa hawa nafsu dan keinginan (Larisa, 2011, p.20). Tingkatan ini menggambarkan seseorang dalam perjalanan hidupnya jika melakukan kebajikan selangkah demi selangkah akan mencapai puncak, yaitu tingkat tertinggi.

Ajaran agama Buddha yang terdapat dalam Candi Borobudur tidak hanya ditemukan pada tingkatan bangunannya saja, tetapi juga tersimpan dalam simbol-simbol yang terdapat pada relief, arca, dan stupa

arakter

mengisahkan

b. Etnomatematika

Matematika dan budaya memang dianggap sebagai dua hal yang tidak

tingkatan tertinggi yang melambangkan kekosongan, kedamaian dan ketentraman, alam Bagian ini menggambarkan alam pertama dari ketiga lapis tingkat kesadaran spiritual

Karmavibhangga, menggambarkan p.18). Pada bagian ini terdapat relief yang

binatang mendominasi kepribadian yang dimiliki manusia (Larisa, 2011, dimana

23

yang tidak mungkin bisa disatukan.Namun tanpa disadari Etnomatematika menyatukan kedua hal tersebut, Etnomatematika merupakan sebagai suatu pendekatan yang mengaitkan antara matematika dengan budaya, pengaitan ini diharapkan mampu mampu meningkatkan kecintaan siswa terhadap budaya sehingga membuat siswa dapat mengetahui manfaat

dari etnomatematika adalah matematika dalam budaya.Etnomatematika terdiri atas dua kata, etno (etnis/budaya) dan matematika.Itu berarti bahwa etnomatematika merupakan matematika dalam budaya.Istilah etnomatematika diperkenalkan oleh D’Ambrosio seorang

Astutiningtyas, 2017).

hubungan.Tidak banyak masyarakat yang menganggap dua hal tersebut sebagai sesuatu

24

sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku, mitos dan simbol.Kata dasar “mathema” cenderung berarti menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklarifikasi, menyimpulkan, dan pemodelan. Akhiran “tics” berasal dari

katatechne dan bermakna sama seperti teknik.

c. Proses Pembelajaran

Pada tahapan pertama terdiri dari pendahuluan, dimana pada tahap ini, peneliti memberi pertanyaan terlebih dahulu kepada peserta didik. Peneliti memberikan pertanyaan bermaksud untuk menarik perhatian dari peserta didik supaya terfokus pada topik yang dibahas. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan candi yang dimulai dari pengertian candi, contoh-contoh candi seperti “Candi Borobudur” dan dilanjutkan dengan pembahasan bagian-bagian dari candi.

Pada tahapan kedua yaitu, tahap mengamati. Dimana dalam perangkat LKPD yang disajikan oleh peneliti dengan memberi stimulus berupa gambar bagian-bagian candi borobur. Tujuannya adalah supaya peserta didik dapat mendapatkan informasi-informasi yang terkandung didalam candi borobudur.

Pada tahapan ketiga yaitu tahap menalar. Dimana setelah melakukan kegiatan mengamati bagian-bagian candi borobudur, diharapkan peserta didik dapat menghubungkan dengan konsep matematika yang ada didalam candi.

Tabel 1. 3

Objek Matematika yang terdapat

pada candi Unsur Matematika Keterangan

Gambar 1. Konsep persegi panjang

Bangun datar persegi panjang pada candi Borobudur.

Persegi panjang memiliki unsur sisi, rusuk, dan titik sudut (4-4-4).

matematikawan Brazil pada tahun 1977.Secara bahasa, awalan “ethno” diartikan sebagai

Objek Matematika Pada Candi Muaro Jambi dan Hubungannya dengan Konsep Bangun Datar

25 salah satunya Candi

lalu masih megah dan utuh seperti sekarang ini. Leluhur kita hanya menerapkan pata tata Gambar 2. Konsep persegi

Bangun datar persegi pada Candi Borobudur. Persegi memiliki unsur sisi, rusuk dan titik sudut (4-4-4).

Gambar 3. Konsep Segitiga

Bangun datar segitiga pada Candi Borobudur. Segitiga memiliki unsur sisi, rusuk dan titik sudut (3-3-3).

Gambar 4. Konsep kubus

Bangun ruang kubus pada Candi Borobudur. Kubus mempunya unsur sisi, rusuk dan titik sudut (6-12-8)

Gambar 5. Konsep Balok

Bangun ruang Balok pada Candi Borobudur. Balok memiliki unsur sisi, rusuk, dan titik sudut (6-12-8).

Tahapan keempat

borobudur

Borobudur.

Tengah

, peneliti

ruang yang berhubungan Borobudur.

Jawa Borobudur,

pada zaman dahulu para leluhur belum mengenal materi konstruksi bangunan seperti sekarang ini. Candi

Borobudur yang mereka bangun ribuan tahun yang datar di depan kelas. Peserta didik yang lain memperhatikan apa yang disampaikan oleh dengan budaya Candi menegaskan kembali dan menjelaskan secara rinci tentang konsep bangun datar dan

temannya. Setelah selesai presentasi

Candi

Konsep matematika bangun datar yang ada pada Peserta didik mendapatkan pengetahuan tentang cagar budaya yang ada

dan hubungannya dengan konsep bangun tentang objek matematika pada candi

peserta didik diminta untuk mempresentasikan hasil penyelidikan

26

3 7

disimpulkan bahwa penerapan kepada peserta didik dengan tujuan untuk berpartisipasi melestraikan nilai-nilai

penelitian yakini.

Tahapan terakhir guru meminta peserta didik untuk mengerjakan soal yang ada pada

seperti ini membuat pembelajaran matematika lebih bermakna, peserta didik semangat belajar matematika karena ada unsur budaya yang dekat dengan lingkungan mereka terdapat pada materi pelajaran. Dengan sendirinya mereka akan mencintai budaya Indonesia, mudah memahami materi matematika, melatih mereka untuk berpikir kritis karena materi yang dipelajari ada di sekitar lingkungan mereka. Pengenalan budaya Candi

etnomatematika sebagai sarana untuk memotivasi, menstimulasi siswa, dapat mengatasi kejenuhan dan memberikan nuansa baru pada pembelajaran matematika

(2) Candi borobudur sebagai produk etnomatematika menyajikan berbagai konsep budaya, matematika berbasis etnomatematika efektif meningkatkan kemampuan berpikir peserta

realita kehidupan, telah membawa matematika sebagai produk budaya yang tertanam sejak

contoh monumen dari orkesta matematika dalam bentuk etnomatematika LKPD

Borobudur

yang terkandung dalam budaya lokal. Dari hasil tersebut

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil diatas, implementasi etnomatematika pada pembelajaran dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) implementasi penerapan LKPD

matematika, (3)

keterkaitan diantara satu sama lain, (4)

(5)

cara, tata letak dan tata bangunan sesuai landasan filosofis, etis dan ritual yang mereka

Candi borobudur merupakan zaman dahulu meskipun mereka tidak menyadarinya, dan

dan membuat kesimpulan dari tugas yang telah mereka kerjakan. Pembelajaran

Konsep-konsep yang disepakati dan diterapkan dalam Secara keseluruhan, konsep-konsep tersebut memiliki hubungan dan

27 DAFTAR PUSTAKA

D’Ambrosio, U. (1985). Ethnomathematics and its Place in the History and Pedagogy of Mathematics. For the learning of Mathematics, 5(1), 44-48. Retrieved from https://www.jstor.org/stable/40247876.

28

Dumarçay, J. (2007) Candi Sewu and Buddhist Architecture of Central Java. (W. Arifin&

H. Chambert-Loir ,Trans.). Jakarta Selatan, Indonesia: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

29

Astutiningtyas, Erika Laras dkk. 2017. Etnomatematika dan Pemecahan Masalah Kombinatorik. Jurnal Math Educator Nusantara (JMEN). 3(2). 59-134.

Larisa. (2011). The Magnificence of Borobudur. Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama. Licker, M.D. (2003). McGraw-Hill Dictionary of Scientific and Technical Terms, (6th Ed.). New York, NY: McGraw-Hill Education.

Muhtadi, D., Sukirwan, Warsito, & Prahmana, R.C.I. (2017). Sundanese Ethnomathematics: Mathematical Activities in Estimating, Measuring, and Making Patterns.

Journal on Mathematics Education, 8(2), 185-198. doi: 10.22342/jme.8.2.4055.185-198.

Tylor, E. B. (2016). Primitive Culture Volume I (Dover Thrift Editions). New York, NY: Dover Publications.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2005) The Restoration of Borobudur. Paris, France: Author.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2014). Final Report of Revitalization of Community Livelihoods Through Creative Industries and Heritage Tourism. Jakarta, Indonesia: UNESCO Office, Jakarta.

30

Similarity Report

80% Overall Similarity

Top sources found in the following databases:

80% Internet database 17% Publications database

Crossref database Crossref Posted Content database 29%

Submitted Works database

TOP SOURCES

The sources with the highest number of matches within the submission. Overlapping sources will not be displayed.

jurnal.unsil.ac.id

Internet 29%

123dok.com Internet

16%

primary.ejournal.unri.ac.id Internet

13%

repository.usd.ac.id

5%

Internet

jurnal.univpgri-palembang.ac.id

4%

Internet

jurnal.ustjogja.ac.id

4%

Internet

31 Academic Library Consortium on 2022-07-14

1%

Submitted works

32 jurnalriset.com

1%

Internet

Sources overview

33 docobook.com

1%

Internet

Atma Jaya Catholic University of Indonesia on 2014-12-05 Submitted works

<1%

digilib.uin-suka.ac.id Internet

<1%

media.neliti.com Internet

<1%

repository.upnvj.ac.id Internet

<1%

text-id.123dok.com Internet

<1%

uinsaizu.ac.id Internet

<1%

lemlit.uhamka.ac.id Internet

<1%

digilib.uinkhas.ac.id Internet

<1%

1

Sources overview

Similarity Report

62 BAB 4

PERBEDAAN ISI DAN PERANAN BAB DAN SUBBAB

Dalam dokumen PENULISAN DAN PUBLIKASI ILMIAH (Halaman 137-157)