KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN
A. PEMBELIAN KONSUMEN
Bab 11 Keputusan Pembelian Konsumen 147
BAB 11
KEPUTUSAN PEMBELIAN
membeli suatu produk sering kali harus dibatalkan karena beberapa alas an.
Pembelian produk dan jasa yang dilakukan oleh konsumen bisa digolongkan kedalam tiga macam menurut engel, blckwell dan miniard dalm ujang sumarwan (2004).
1. Pembelian yang Terencana Sepenuhnya
Jika konsumen telah menentukan pilihan produk dan merek jauh sebelum pembelian dilakuakn, maka ini termasuk pembelian yang direncanakan sepenuhnya. Pembelian yang terencana sepenuhnya biasanya adalah hasil dari proses keputusan yang diperluas atau keterlibat yang tinggi. Konsumen yang membeli mobil baru bisa digolonkan kedalam katagori ini karena mereka biasanya sudah punya keinginanjenis mobil, merek dan model yang dibelinya sebelum masuk ke show room. Produk dengan keterlibatan rendah mungkin juga dibeli dengan terencana. Konsumen serin kali me,buat daftar barang yang akan dibelinya jika pergi ke took swalayan, ia sudah tahu produk dan merek yang di belinya.
2. Pembelian yang Separuh Terencana
Konsumen sering kali sudah mengetahui ingin membeli suatu produk sebelum masuk swalayan, namun mungkin ia tidak tahu merek yang akan dibelinya sampai ia bisa memperoleh informasi yang lengkap dari pramuniaga di swalayan. Ketika ia sudah tahu produk yang ingin dibeli sebelumnya dab memutuskan merek dari produk tersebut ditoko, maka ini termasuk pembelian yang separuh terencana.
3. Pembelian yang Tidak Terencana
Konsumen sering kali membeli suatu produk tanpa direncanakan terlebih dahulu, keinginan untuk membeli sering kali muncul di pasar tradisional manupun di pasar modern. Banyak factor yang menyebabkan hal tersebut.
Misalnya disebuah toko melakukan pemotongan harga 50%, yang terlihat mencolok atau menarik perhatian konsumen. Toko tersebut telah membangkitkan kebutuhan konsuemen yang tertidur, sehingga konsumen
Bab 11 Keputusan Pembelian Konsumen 149 merasakan kebutuhan yang mendesak untuk membeli produk yang dipromosikan tersebut. Keputusan pembelian tersebut seperti ini sering disebut sebagai pembelian impus.
Dalam perilaku konsumen, pengambilan keputusan bila meliputi berbagai jenis. Keputusan yang satu bisa memengaruhi keputusan yang lainnya. Keputusan ini juga bisa berpengaruh pada jenis keputusan lainnya yang berhubungan dengan proses konsumsi produk tersebut pasca pembelian.
Pada dasarnya setiap keputusan yang diambil konsumen adalalah untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal ini terkait dengam pembelian suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya, konsumen akan memutuskan pembelian sebuah jas hujan untuk mengatasi masalah di musim hujan,. Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen membutuhkan informasi dan akan melakukan upaya-upaya tertentu untuk memperoleh informasi tersebut. tiap keputusan pembeli membutuhkan informasi yang berbeda.
Pengambilan keputusan membeli adalah proses pengenalan masalah (problem recognition), pencarian informasi, evaluasi (penilaian) dan seleksi (problem recognition), pencarian informasi, evaluasi (penilaian) dan seleksi terhadap produk yang akan digunakan atau dibeli oleh konsumen (Munandar, 2001)
Keputusan Pembelian Kehidupan manusia tidak lepas dari melakukan jual beli. Sebelum melakukan pembelian, seseorang biasanya akan melakukan keputusan pembelian terlebih dahulu terhadap suatu produk. Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Pengertian keputusan pembelian, menurut Kotler &
Amstrong (2001) adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan. Keputusan pembelian menurut
Schiffman dan Kanuk (2000) adalah pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alternatif atau lebih.
Keputusan membeli dan mengkonsumsi suatu produk dengan produk tertentu diawalain pada langkah-langah sebagai berikut :
1) Pengenalan Masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan internal maupun eksternal. Menurut Engel, et.al dalam Sumarwan (2011), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengaktifan kebutuhan, diantaranya waktu, perubahan situasi, pemilikan produk, konsumsi produk, perbedaan individu, dan pengaruh pemasaran.
2) Pencarian Informasi
Adanya keinginan membeli produk akan mendorong konsumen untuk mencari informasi tentang tempat atau toko yang menjual produk tersebut.
Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk mencari informasi lebih banyak. Konsumen akan mencari informasi yang tersimpan dalam ingatannya (pencarian internal) dan mencari informasi dari luar (pencarian eksternal). Karakteristik konsumen dan faktor situasi juga mempengaruhi pencarian informasi. Konsumen yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang hestanto.web.id banyak mengenai produk mungkin tidak termotivasi untuk mencari informasi. Konsumen yang memiliki kepribadian sebagai senang mencari informasi (information seeker) akan meluangkan waktu untuk mencari informasi yang lebih banyak. Faktor situasi seperti keadaan psikologis, keterbatasan waktu, dan jumlah toko akan mempengaruhi pencarian informasi konsumen terhadap produk. (Sumarwan 2011)
Bab 11 Keputusan Pembelian Konsumen 151 3) Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif adalah proses mengevaluasi pilihan produk dan merek dan memilihnya sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Menurut Setiadi (2003) pada saat proses evaluasi alternatif, konsumen membandingkan berbagai pilihan yang dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Setelah konsumen menentukan kriteria atau atribut dari produk atau merek yang dievaluasi, maka langkah berikutnya konsumen menentukan alternatif pilihan. Setelah menentukan alternatif yang akan dipilih, selanjutnya konsumen akan menentukan produk atau merek yang akan dipilihnya.
4) Tindakan Pembelian
Pada tahap keputusan membeli, konsumen akan melakukan evaluasi membentuk preferensi terhadap merek-merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk tujuan membeli untuk merek yang paling disukai. Meskipun demikian, terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi tujuan membeli dan keputusan membeli. Faktor yang pertama adalah sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan konsumen tergantung pada intensitas sikap orang lain tersebut terhadap alternatif pilihan konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain tersebut.
Menurut Setiadi (2003)Tujuan pembelian juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor keadaan yang tidak terduga. Konsumen membentuk tujuan pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti: pendapatan keluarga yang diharapkan, harga yang diharapkan, dan manfaat produk yang diharapkan.
Pada saat konsumen ingin bertindak, factor faktor keadaan yang tidak terduga mungkin timbul dan merubah tujuan membeli
5) Pasca Konsumsi
Setiadi (2003) menjelaskan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan konsumen pada suatu produk akan mempengaruhi tingkah laku berikutnya.
Jika konsumen merasa puas, maka ia akan memperlihatkan kemungkinan
yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi. Konsumen yang tidak puas hestanto.web.id akan berusaha mengurangi ketidakpuasannya dengan meninggalkan atau mengembalikan produk tersebut, atau mereka mungkin berusaha mengurangi ketidakcocokannya dengan mencari informasi yang mungkin mengkonfirmasikan produk tersebut sebagai bernilai tinggi (atau menghindari informasi yang mengkonfirmasikan produk tersebut bernilai rendah).
Pandangan tradisional terhadap proses pembelian adalah menggambarkan urutan kejadian kognitif (Peter dan Olson, 1996);
sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 12.1 . Model tersebut menggambarkan urutan variabel kognitif; yakni kesadaran, pemahaman, perhatian, evaluasi, keyakinan, pengetahuan, keinginan, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan strategi pemasaran adalah bagimana pamasaran mampu mengubah variabel kognitif tersebut agar konsumen melakukan pembelian dengan memperhatikan setiap tahapan. Sebagai contoh, pemasar harus membuat perencanaan dan strategi pemasaran yang mampu meningkatkan kesadaran, pemahaman dan perhatian terhadap suatu produk.
Gambar 11.1 Urutan kejadian kognitif dalam proses pembelian Sumber: (Peter dan Olson, 1996)
Bab 11 Keputusan Pembelian Konsumen 153 Tahapan proses pembelian dapat juga dianalisis sebagai urutan perilaku sebagaimana yang disajikan pada gambar 11.1. Walaupun urutan tahapan tersebut adalah logis, namun menurut Peter dan Olson ada beberapa hal perlu diperhatikan:
a. Tidak setiap pembelian mengikuti urutan tersebut dan mensyaratkan bahwa semua aspek perilaku harus dilakukan.
b. Model ditunjukan hanya untuk mendeskripsikan satu jenis urutan perilaku pembelian eceran; sehingga model dapat dikembangkan untuk jenis pembe- lian yang lain.
c. Waktu yang diperlukan untuk melakukan setiap tahapan bervariasi tergantung beberapa faktor.
d. Setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran pemasaran menpunyai penekanan yang berbeda dalam rangka mendorong perilaku.