BAB I PENDAHULUAN
E. Pembiayaan dalam Perbankan Syariah
E. Pembiayaan Dalam Perbankan Syariah
57
Dalam fiqh muamalat dibedakan antara wa’ad dengan akad. Wa’ad merupakan perjanjian yang hanya mengatur satu pihak. Dengan perjanjian ketika pihak yang berjanji tidak menepati janjinya, maka sanksi moral akan dikenakan. Sedangkan akad merupakan kesepakatan yang mengikat dari kedua belah pihak yang telah setuju. Apablia terjadi satu atau kedua belah pihak yang terkait tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka salah satu atau keduanya akan mendapatkan sanksi sepertiyang sudah disepakati di dalam akad.64
b. Dari Segi Bisnis dan Usaha yang Dibiayai
Landasan hukum PBI No. 6/24/PBI/2004 Bab V pasal 36 bank wajib menerapkan prinsip syariah serta prinsip ke hati-hatian dala melakukan segala kegiatan usaha baik dalam penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan maupun investasi seperti giro menggunakan prinsip wadiah, tabungan menggunakan prinsip wadiah dan mudharabah, serta deposito berjangka menggunakan prinsip mudharabah.65 Lembaga keuangan syariah juga tidak akan membiayai bisnis serta usaha jika usaha tersebut bertentangan dengan prinsip syariah. Usaha yang secara umu dibiayai oleh perbankan syariah adalah sebagai berikut:
1) Objek pembiayaan diwajibkan halal serta tidak boleh mengandung unsur keharaman.
64 Sutan Reny Sjahdeini, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1999), 215.
65 Peraturan Bank Indonesia 2004, “PBI No.6/24/PBI/2004 Bab V pasal 36 bank wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian”.
2) Proyek tidak boleh menimbulkan kemudr\haratan kepada masyarakat
3) Proyektidak boleh berkaitan dengan tindakan mesum maupun tindak asusila
4) Tidak diperbolehkan apabila berkaitan dengan perjudian 5) Tidak boleh berkaitan dengan industry senjata yang illegal 6) Tidak boleh pula merugikan syiar islam
Menurut sifat penggunaanya, pembiayaan akan dibagi menjadi dua hal yaitu:66
a. Pembiayaan Produktif
Merupakan pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan produksi, atau untuk peningkatan sebuah usaha. Mulai dari usaha produksi, perdagangan ataupun investasi.
Menurut keperluannya, pembiayaan produktif juga dibagi menjadi dua hal, yaitu:67
1) Pembiayaan Modal Kerja
Dalam pembiayaan modal kerja ini, pembiayaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti peningkatan produksi, baik dari secara kuantitatif yaitu jumlah hasil produksi, ataupun dengan secara kualitatif yaitu peningkatan kualitas ataupun mutu hasil dari
66 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani, 2017, Cet. 28), 160.
67 Ibid., 160-161.
59
produksi. Pembiayaan juga digunakan untuk keperluan perdagangan maupun untuk meningkatkan utility of place dari suatu barang.
Macam-macam pembiayan modal kerja yaitu:68 a) Pembiayaan likuiditas (Cash Financing)
b) Pembiayaan Piutang (Receivable Financing) c) Pembiayaan Persediaan (Inventory Financing) 2) Pembiayaan Investasi
Dalam pembiayaan investasi digunakan untuk memenuhi kebutuhan barang modal (capital goods) beserta dengan fasilitas yang cukup erat kaitannya dengan hal itu. Pembiayaan investasi diberikan kepada nasabah guna keperluan investasi seperti penambahan modal untuk mengadakan rehabilitaso, perluasan usaha maupun pendirian proyek baru. Pembiayaan investasi memiliki ciri- ciri sebagai berikut:69
a) Untuk pengadaan barang modal
b) Mempunyai perencanaan alokasi dana yang matang serta terarah c) Berjangka waktu menengah atau panjang.
b. Pembiayaan Konsmtif
Merupakan pembiayaan yang digunakan guna untuk memenuhi kebutuhan individu atau yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan individu. Kebutuhan konsumtif dapat dibedakan atas
68 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani, 2017, Cet. 28), 162.
69 Ibid., 167.
kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan pokok yang berupa barang, makanan, minuman, pakaian serta tempat tinggal ataupun jasa seperti pendidikan dan pengobatan. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan, yang secara kuantitatif ataupun kualitatif lebih tinggi dari kebutuhan primer. Bank syariah, dapat menyediakan pembiayaan komersil untuk pemenuhan kebutuhan barang komersil dengan menggunakan skema berikut:
1) Al-bai’ bitsamanajil (salah satu bentuk murabahah) atau jual beli dengan angsuran.
2) Al-ijarah al-muntahia bit-tamlik atau sewa beli.
3) Al-musyarakah mutanaqhishah atau descreasing participation, dimana secara bertahap bank akan menurunkan jumlah partisipannya.
4) Ar-Rahn untuk memenuhi kebutuhan jasa.
Pembiayaan tersebut lazim untuk digunakan guna memenuhi kebutuhan sekunder. Akan tetapi, Pembiayaan komersil tidak dapat digunakan untuk kebutuhan primer. Karena, Sesorang yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokok tergolong dalam fakir dan miskin, karenanya golongan tersebut wajib untuk diberi zakat ataupun sedekah.70
70 Ibid., 168.
61
Secara umum, jenis-jenis pembiayaan dapat digambarkan dengan sebagai berikut:
Gambar 1.1 1 Dasar Hukum Pembiayaan
Dalam surat An-Nisa ayat 29 berbunyi:
Artinya: “Wahai orang-oarng yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. Al-Nisa [4]: 29.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 280 berbunyi:
Artinya: “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika
PEMBIAYAAN
PRODUKTIF
INVESTASI MODAL KERJA
KONSUMTIF
kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 289.71
2 Bentuk-bentuk Pembiayaan Bank Syariah
Dalam perbankan syariah ada beberapa bentuk pembiayaan yang diterapkan dalam bank syariah yaitu:72
a. Pembiayaan Murabahah dan Istishna’
Murabahah merupakan akad jual beli barang dengan menyatakan juga ahrga perolehan serta keuntangan atau margin yang telah disepakati oleh penjual (bank) maupun pembeli (nasabah). Akad murabahah termasuk salah satu bentuk natural certainty contracts karena dalam murabahah akan ditentukan berapa required rate of profitnya (keuntungan yang akan diperoleh oleh bank). Akad murabahah dilakukan dengan berdasarkan pesanan maupun tanpa pesanan. Ketika berdasarkan pesanan, bank akan membelika barang setelah adanya pemesanan dari nasabah serta memiliki sifat yang mengikat maupun tidak mengikat nasabah untuk membeli barang yang dipesan. Pembeli tidak dapat membatalkan pesanan jika menggunakan sifat mengikat dalam pembiayaan murabahah. Pembiayaan murabahah secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kelompok apabila dilihat dari sumber dana yang digunakan, diantara sebagai berikut:
71 Al- Qur’an, 2: 289.
72 Muhammad Lathief, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah (Medan, FEBI UIN-SU Press, 2018), 2-4.
63
1) Pembiayaan murabahah yang didanai dengan UnRestricted Investment Account (URIA) atau yang biasa disebut dengan investasi yang tidak terikat.
2) Pembiayaan murabahah yang didanai dengan Restricted Investment Account (RIA) atau investasi yang terikat
3) Pembiayaan murabahah yang didanai dengan menggunakan modal dari bank syariah.
Pembiayaan istihsna’ merupakan transaksi jual beli dalam bentuk cicilan seperti transaksi murabahah muajjal, akan tetapi, berbeda dengan jual-beli murabahah dimana barang akan diserahkan diawal dan uangnya akan dibayar secara cicilan. Dalam istishna’, barang akan diserahkan diakhir dengan transaksi masih sama dibayar dengan cicilan. Karena itu, metode pembayaran dalam murabahah mu’ajjal akan sama dengan metode pembayaran dalam jual-beli istishna’ dengan menggunakan sistem angsuran (installment).
b. Pembiayaan Ijarah dan IMBT
Ijarah merupakan hak dalam memanfaatkan barang atau jasa dengan membayar imbalan. Ijarah menurut Fatwa Dewan Syari’ah Nasional adalah merupakan akad pemindahan hak guna atas suatu barang ataupun jasa dalam waktu tertentu dengan melalui pembayaran sewa dengan tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Karenanya, akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan
barang tersebut, tetapi hanya perpindahan hak guna dari yang menyewakan kepada penyewa.
Ijarah Muntahia Bit-tamlik (IMBT) adalah rangkaian dari dua akad, yaitu akad Al-Bai’ serta akad Ijarah Muntahia Bit-tamlik (IMBT). Al- Bai’ sendiri merupakan akad jual beli, sedangkan IMBT adalah kombinasi antara sewa-menyewa (ijarah) serta jual beli di akhir masa sewa.dalam IMBT pemindahan hak milik barang akan terjadi jika mencakup salah satu dari du acara ini:
1) Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa
2) Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa.
Selanjutnya, pada Al-Bai’ Wal Ijarah Muntahia Bit-tamlik (IMBT) dengan sumber pembiayaan berasal dari Unrestricted Invesment Account (URIA) dan pembayaran dilakukan secara bulanan. Hal ini disebabkan karena pihak bank haruslah mempunyai cash in setiap bulan untuk memberikan bagi hasil kepada nasabah yang dilakukan setiap bulan.73
c. Pembiayaan Mudharabah
Merupakan akad dengan bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (Shahibbul Maal) mempercakan modal
73 Nurul Ma’rifah Engget, “Pengaruh Pembiayaan Warung Mikro Bank Syariah Indonesia (BSI) KCP Muara Bulian Terhadap Perkembangan Usaha Mikro di Kecamatan Muara Bulian,”
Skripsi (Jambi, UIN Sulthan Thaha Saifuddin, 2021), 27.
65
kepada pengelola (Mudharib) dengan perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk dari pembiayaan mudharabah ini adalah kontribusi sepenuhnya dari modal adalah shahibul maal serta menggunakan keahlian dari mudharib.74
74 Imam Mustofa, Fiqih Kontemporer (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), 78.
66