• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PEMBAHASAN

4.2 Pemeriksaan Fisik

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena riwayat penyakit dahulu yang dialami oleh pasien sama dengan riwayat penyakit dahulu pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu pasien sebelumnya pernah menderita diabetes melitus dan tindakan medis yang pernah didapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan.

otot bantu nafas, tidak menggunakan alat bantu nafas, RR normal, vocal fremitus antara kanan dan kiri sama, susunan ruas tulang belakang normal, tidak ditemukan suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler.

4.2.2 Pada pemeriksaan fisik B2 (Blood) menurut Putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data pada inspeksi penyembuhan luka yang lama.

Pada palpasi ictus cordis tidak teraba, nadi >84x/menit (bisa juga terjadi takikardia), irama irregular, CRT kembali <2detik (bisa terjadi >3 detik dan sianosis), pulsasi kuat lokasi radialis. Pada perkusi suara dullness/redup/pekak, bisa terjadi nyeri dada. Pada auskultasi bunyi jantung normal dan tidak ada suara jantung tambahan seperti gallop rhytme ataupun murmur. Pada tinjauan kasus didapatkan data inspeksi : tidak ada cyanosis, tidak ada clubbing finger. Palpasi : tidak ada nyeri dada, ictus cordis kuat posisi ICS 5 midclavicula sinistra 1cm, nadi 85x/menit. Perkusi : pekak. Auskultasi : irama jantung regular, bunyi jantung S1 S2 tunggal ICS V midclavikula sinistra “LUB”, ICS II sternalis sinistra “DUB”.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem kardiovaskuler yang dialami oleh pasien sama dengan sistem kardiovaskuler pada penderita Diabetes Mellitus Gangren lainnya yaitu penyembuhan luka yang lama, tidak ada cyanosis, tidak ada clubbing finger, tidak ada nyeri dada, ictus cordis kuat posisi ICS 5 midclavicula sinistra 1cm, nadi 85x/menit, perkusi pekak, irama jantung regular, bunyi jantung S1 S2 tunggal.

4.2.3 Pada pemeriksaan fisik B3 (Brain) menurut Putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data kesadaran bisa baik ataupun menurun, pasien bisa pusing, merasa kesemutan, mungkin tidak disorientasi, terkadang ada gangguan memori. Pasien biasanya sering merasa mengantuk, refleks tendon menurun, dan penurunan sensasi. Pada tinjauan kasus didapatkan data kesadaran composmentis, GCS 4-5-6, orientasi baik, tidak kejang, nyeri kepala (-), pusing (-), istirahat siang dirumah 2jam/hari diRS 1jam/hari, istirahat malam dirumah 9jam/hari diRS 8jam/hari, kelainan nervus cranialis (-), pupil isokor, refleks cahaya baik.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem persyarafan yang dialami oleh pasien sama dengan sistem persyarafan pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu kesadaran composmentis, GCS 4-5-6, orientasi baik dan tidak ada kelainan nervus cranialis (-).

4.2.4 Pada pemeriksaan fisik B4 (Bladder) menurut Putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data pada inspeksi didapatkan bentuk kelamin normal, kebersihan alat kelamin bersih, frekuensi berkemih normal atau tidak, bau, warna, jumlah, dan tempat yang digunakan. Pasien terkadang terpasang kateter dikarenakan adanya masalah pada saluran kencing seperti polyuria, anuria, oliguria. Pada tinjauan kasus didapatkan data inspeksi : bentuk kelamin normal, alat kelamin bersih, frekuensi berkemih teratur saat dirumah 4100cc/hari diRS 3000cc/hari, bau khas, warna kuning, tempt yang digunakan kamar mandi, tidak terpasang alat

bantu. Palpasi : tidak ada massa/ benjolan, tidak ada nyeri tekan pada kandung kemih.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem perkemihan yang dialami oleh pasien sama dengan sistem perkemihan pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu bentuk kelamin normal, alat kelamin bersih, frekuensi berkemih teratur saat dirumah 4100cc/hari diRS 3000cc/hari, bau khas, warna kuning, tempat yang digunakan kamar mandi, tidak terpasang alat bantu, tidak ada massa/ benjolan, tidak ada nyeri tekan pada kandung kemih.

4.2.5 Pada pemeriksaan fisik B5 (Bowel) menurut putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data pada inspeksi keadaan mulut mungkin kotor, mukosa bibir kering atau lembab, lidah mungkin kotor, kebiasaan menggosok gigi sebelum dan sesudah MRS, tenggorokan ada atau tidak kesulitan menelan, bisa terjadi mual, muntah, penurunan berat badan, polifagia, polidipsi, anoreksia. Pada palpasi adakah nyeri abdomen. Pada perkusi didapatkan bunyi thympani. Pada auskultasi terdengar peristaltic usus. Kebiasaan BAB dirumah dan saat masuk rmah sakit, bagaimana konsistensinya, warna, bau dan tempat yang digunakan. Pada tinjauan kasus didapatkan data inspeksi : mulut bersih, mukosa bibir lembab, bentuk bibir normal, gigi bersih saat dirumah sikat gigi setiap mandi saat diRS 1x/hari, BAB 1x/hari warna kuning bau khas, tidak terpasang alat bantu. Palpasi : pembesaran tonsil (-), nyeri abdomen (-). Perkusi : tympani. Auskultasi : peristaltic usus 10x/menit.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem pencernaan yang dialami oleh pasien sama dengan sistem pencernaan pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu mulut bersih, mukosa bibir lembab, bentuk bibir normal, gigi bersih (saat dirumah sikat gigi setiap mandi, saat diRS 1x/hari), BAB 1x/hari warna kuning bau khas, perkusi tympani, peristaltic usus 10x/menit.

4.2.6 Pada pemeriksaan fisik B6 (Bone) menurut putra (2019) tinjauan diobservasi keadaan luka, ada pus atau tidak, kedalaman luka, luas luka, kulit atau membrane mukosa mungkin kering, ada oedema, lokasi, ukuran. Pada palpasi kelembapan kulit, akral hangat, turgor kulit hangat, adakah fraktur atau dislokasi. Kekuatan otot dapat menurun, pergerakan sendi dan tungkai bisa mengalami gangguan dan terbatas. Pada tinjauan kasus didapatkan data inspeksi : dislokasi (-), fraktur (-), luka (+) dikedua mata kaki, kebersihan kulit bersih, ADL parsial. Palpasi : ROM bebas, kekuatan otot tangan kanan 5 tangan kiri 5 kaki kanan 5 kaki kiri 5, akral hangat, kelembapan lembab, turgor elastis, CRT <2dt, oedema (-). Pasien melakukan segala aktifitasnya ditempat tidur, kecuali BAK dan BAB kekamar mandi. Saat berjalan kekamar mandi pasien tampak sedikit menyeringai dan dibantu oleh keluarga.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem musculoskeletal dan integumen yang dialami oleh pasien sama dengan sistem musculoskeletal dan integumen pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu

terdapat luka gangrene dikedua mata kaki, akral hangat, kelembapan lembab, turgor elastis, CRT <2dt.

4.2.7 Pada pemeriksaan fisik B7 (Peginderaan) menurut Putra (2019) tinjauan pustaka didapatkan data mata penglihatan mulai kabur, ketajaman penglihatan mulai menurun. Hidung ketajaman penciuman normal, secret (-/+). Telinga bentuk normal, ketajaman pendengaran normal. Pada tinjauan kasus didapatkan data Mata inspeksi : Reflek mata normal, konjungtiva merah muda, sclera putih, palpebra normal, tidak ada strabismus, dan tidak mengguanaan alat bantu. Hidung inspeksi : bentuk hidung simetris, tidak ada epistaksis, mukosa hidung lembab, tidak ada secret. Telinga inspeksi : Bentuk telinga simetris, ketajaman pendengaran baik, dan tidak menggunakan alat bantu. Lidah inspeksi : Indra perasa pada pasien normal. Kulit inspeksi : Tidak ditemukan adanya kelainan dalam indra peraba.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem penginderaan yang dialami oleh pasien sama dengan sistem penginderaan pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu penglihatan normal, ketajaman penciuman normal, ada secret atau tidak, ketajaman pendengaran normal, bentuk telingan normal dan ketajaman pendengaran normal.

4.2.8 Pada pemeriksaan fisik B8 (Endokrin) menurut Putra (2019) tinajuan pustaka didapatkan data mungkin ada ganggren, lokasi ganggren, kedalaman, bentuk, ada pus, bau. Adanya polifagi, polidipsi dan poliuri.

Pada tinjauan kasus didapatkan data inspeksi : terdapat luka dikedua

mata kaki. Karakteristik Luka Gangren : luka dikedua mata kaki. Luka dimata kaki kanan diameter 3cm, kedalaman 2mm, pus (-), nekrosis sel (- ), terdapat granulasi (+), disekitar luka hiperpigmentasi. Luka dimata kaki kiri diameter 4cm, kedalaman 2mm, nekrosis sel (-), pus(-), terdapat granulasi (+), disekitar luka hiperpigmentasi. Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, limfe dan kelenjar parotis.

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan pada sistem endokrin yang dialami oleh pasien sama dengan sistem endokrin pada penderita Diabetes Melitus Gangren lainnya yaitu terdapat luka gangrene dikedua mata kaki.

Dokumen terkait