BAB 11 PAPARAN DATA DAN TEMUAN
B. Penanganan stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi UIN
memberikan respon yang negatif tentang invidu, itu pula yang akan muncul dalam pikiran individu, kemudian mengejek sangat berpengaruh untuk pikiran sehingga ada rasa kurang percaya diri.
B. Penanganan stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi UIN
terhadap citra tubuh bentuk tubuh gemuk, kurus, dan memiliki bentuk tubuh pendek. Seseorang akan beranggapan bahwa bentuk tubuh yang dimiliki kurang sempurna, merasa diri rendah dan kurang percaya diri.
Ada beberapa teknik yang terdapat dalam cognitive behavior therapy untuk digunakan dalam menangani stres terhadap citra tubuh di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Mataram, proses konseling yang dilakukan oleh konselor untuk konseli dengan menggunakan teknik yaitu:
1. Teknik Kognitif
Berdasarkan konsep dari Cognitive Behavior Therapy emosi dan perilaku adalah hasil dari proses kogntif. Gangguan pada emosi berasal dari adanya kesalahan-kesalahan dalam berfikir. Jadi kesalahan dalam proses berfikir akan menyebabkan timbulnya pikiran negatif negatif atau pikiran yang irasional dan tidak masuk akal menyalahkan diri sendiri. Teknik kognitif (teknik berpikir) adalah teknik yang dapat mengubah pola pikir seseorang yang negatif atau pikiran yang irasional menjadi pikiran positif atau pikiran yang rasional.
Pendekata kognitif adalah suatu rancangan konseling atau pendekatan yang berfokus pada berfikir dan proses mental dalam
modifikasi atau mengubah tingkah laku dan sering melibatkan pelatihan, pengembangan keterampilan, kontrol pikiran.79
Tahapan dalam melakukan proses konseling cognitive behavior therapy yaitu sebagai berikut:
a) Menata keyakinan irasional
b) Membingkai kembali isu, misalnya menerima kondisi emosional internal sebagai sesuatu yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan
c) Mengulang kembali penggunaan peragam pernyataan diri dalam role play dengan konselor
d) Mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri yang berbeda dalam situasi rill
e) Mengukur perasaan, misalnya dengan mengukur perasaan cemas yang dialami pada saat ini skala 0-100
f) Menghentikan pikiran ketimbang membiarkan pikiran cemas atau obesional “mengambil alih”, lebih baik klien belajar untuk menghentikan mereka dengan cara seperti menyabetkan karet kepergelangan tangan
g) Desensitization systematik. Digantinya respon takut dan cemas dengan respon relaksasi yang telah dipelajari. Konselor membawa klien melewati tingkatan hierarki situasi untuk melenyapkan rasa takut
79 Sri Hartati, Pendekatan Kognitif untuk Menurunkan Kecenderungan Perilaku Deliquense pada Remaja, Jurnal Humanitas, Vol. 1X, No. 2, Agustus 2012. Hlm, 131.
h) Pelatihan keterampilan sosial atau asertifikasi
i) Penugasan rumah. Mempraktikan perilaku baru dan strategi kognitif antara sesi terapi
j) In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah dengan memasuki situasi tersebut.80
Adapun penanganan stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi di Laboratorium Al-Tazkiyah UIN Mataram melalui Cognitive Behavior Therapy (CBT) dengan menggunakan teknik kognitif (teknik berpikir) diantaranya yaitu:
a. Memiliki Tubuh Gemuk
Adapun teknik yang digunakan untuk mengatasi stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi Bimbingan dan Konseling Islam di Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah UIN Mataram yang disebabkan oleh stres pada bentuk tubuh yang gemuk. Terdapat beberapa mahasiswi yang mengalami stres terhadap citra tubuh seperti ini, kerap kali merugikan diri sendiri.
Hal ini dapat ditangani dengan menggunakan teknik kognitif.
Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Universitas Islam Negeri Mataram, teknik kognitif dilakukan dengan cara melakukan self talk mandiri, yaitu mahasiswi- mahasiswi yang mengalami stres terhadap citra tubuh disebakan
80 Adib Ansori, Terapi Kognitif Perilaku untuk Mengatasi Gangguan Kecemasan Sosial, Vol. 3, No. 01, Januari 2015. Hlm, 90.
selalu tertekan dan berpikir negatif tentang bentuk tubuh yang dimiliki mahasiswi, konseli akan diarahkan untuk berbicara atau berkomunikasi dengan diri sendiri dengan dengan duduk sambil menarik nafas dalam-dalam dengan secara perlahan lalu tahan dan hembuskan, selanjutnya mahasisiwi-mahasiswi yang bersangkutan mulai melakukan dialog dengan diri sendiri dan memberikan sugesti positif dan membangun dengan mengatakan “saya tidak boleh khawatir”, “saya harus bisa”, “saya harus menerima bentuk tubuh yang telah Allah berikan kepada saya”, “saya tidak boleh membanding-banding bentuk tubuh saya dengan orang lain”, sugesti yang diucapkan dengan berkali-kali sehingga konseli atau masiswi-mahasiswi yang bersangkutan mendapatkan ketenangan dan pikiran yang lebih positif dan rasional.
b. Memiliki Tubuh Kurus
Dalam kasus yang dialami oleh salah satu mahasiswi BKI UIN Mataram yang mengalami stres terhadap citra tubuh.
Penanganan yang diberikan pada mahasiswi yang memiliki Bentuk tubuh kurus yang memunculkan pikiran negatif tentang bentuk tubuh yang dimiliki mahasiswi teknik yang akan digunakan adalah teknik kognitif sama penanganannya seperti teknik pada kasus yang pertama, tujuan memberikan teknik kognitif yaitu untuk mengembalikan pola pikir yang positif dan rasional agar konseli atau mahasiswi yang bersangkutan dapat memiliki pandangan yang
lebih baik terhadap bentuk tubuh kurus yang dimilikinya sehingga terjadinya pikiran negatif dan perasaan negatif yang dapat memicu adanya stres terhadap bentuk tubuh kurus yang dimilikinya.
Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah dalam memberikan pemulihan teknik kognitif lebih berorientasi pada nilai islam, mislalnya mengarahkan rasa takut yang dimiliki manusia hanya kepada Allah SWT. Bukan takut pada manusia, misalnya takut akan dinilai sama orang lain, maka ketakutan tersebut akan dialihkan pada ketakutan yang lebih rasional ialah takut kepada Allah SWT.
2. Modifikasi perilaku
Modifikasi perilaku lumrah diberikan untuk memunculkan atau memperkuat suatu perilaku lemah, mengurangi perilaku yang berlebihan, memunculkan perilaku baru dan menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki.81 Teknik Modifikasi perilaku adalah teknik untuk melatih klien agar mampu menyesuaikan diri dengan orang lain secara perlahan guna untuk melakukan pembiasaan sosial dan memunculkan kepercayaan diri seseorang dalam berinteraksi baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kampus, dan lingkungan masyarakat.
81 Gerry Olvina Faz, Penerapan Metode Modifikasi Perilaku Pembentukkan (Shaping) untuk Membentuk Perilaku Sosial Anaka dengan Ketidak-mampuan Intelektual Ringan, Jurnal Psikologi Tabularasa, Vol. 10, No. 2, Oktober 2015. Hlm, 238.
Keberhasilan dalam menggunakan teknik kognitif modifikasi perilaku terhadap mahasiswi BKI UIN Mataram yang memiliki perilaku malasuai seperti stres terhadap citra tubuh maka perlu didampingi oleh psikolog untuk mengontrol dan membimbing konseli dalam mengembalikan pola pikir positif individu, sehigga seseorang akan mampu mengubah perilakunya secara bertahap. Jadi konseli mampu melakukan pengubahan pada perilaku individu tersebut secara mandiri.
a. Memiliki bentuk tubuh pendek
Adapun mahasiswi yang pernah mendapatkan bulian sewaktu di kampus yang dilakukan oleh temannya sendiri, seperti pada kasus yang dialami oleh salah satu mahasiswi BKI UIN Mataram yang akan menyebabkan mahasiswi takut untuk bergaul dengan orang lain, karena takut akan dipermalukan, direndahkan, dan di ejek atau di bully oleh orang lain. Jadi hal ini penangan yang dapat diberikan dengan menggunakan teknik modifikasi perilaku.
Menurut meichenbaum dalam melakukan terapi dengan teknik pengubahan perilaku (Modification Behavior), ada tiga tahap yang saling berkaitan antara lain sebagai berikut:
1) Pengamatan terhadap diri sendiri, adalah proses yang dimana seseorang belajar bagaimana melihat perilakunya sendiri. Dialog internal yang terjadi pada individu ditandai oleh penilaian
negatif terhadap keadaannya. Klien yang hanya kesulitan dapat terjadi kalau orang yang bersangkutan tidak mau mendengarkan apa yang ada sebagai kenyataan dan mendengarkan sendiri.
Maka dari itu jika terjadi perubahan konstruktif, individu perlu melepaskan diri dari pikiran-pikiran yang negatif.
2) Dialog internal baru, Klien akan menyadari perilakunya yang malasuia dan akan mulai melihat kemungkina-kemungkinan pada perubahan yang perubahan pada aspek-aspek perilakunya baik yang kognitif maupun yang efektif.
3) Menggunakan keterampilan secara lebih efektif yang diperlukan dalam sehari-hari. Klien akan terjadi proses penstrukturan kembali, dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dengan bantuan yang dibentuk oleh terapis, sedikit demi sedikit mulai menstrukturkan pola pikir (kognitif) baru yang sesuai dengan lingkungan dengan menimbulkan kegoncangan atau persoalan.
Setelah melakukan proses konseling cognitive behavior therapy dilakukan dalam satu sesi konseling yang diberikan oleh tenaga ahli yang profesional (psikolog), peneliti menemukan ada beberapa perubahan yang telah dirasakan oleh mahasiswi BKI UIN Mataram yang mengalami stres terhadap citra tubuh yaitu:
1) Baiq Leni Perimawati
Sebelum melakukan proses konseling klien menunjukan ekspresi cemas, kurang percaya diri, dan gelisah. Dari hasil yang
peneliti amati pada saat terjadinya konseling kepada saudari Baiq Leni Perimawati bahwa klien antusias dalam menceritakan permasalahannya seperti merasa tidak percaya diri terhadap citra tubuh yang ia miliki karena dimana kehidupannya sehari-hari dia selalu dijuluki sigendut, dengan alasan tersebut berhasil membuat klien jadi jarang keluar rumah dan dampaknya terjadilah kurang sosial di kehidupan bermasyarakat.
Hasil observasi dan wawancara yang peneliti temukan Setelah diberikan intervensi oleh psikolog tingkat stres yang dimiliki oleh klien menurun, karena sebelum diberikan intervensi mahasiswi merasa selalu kurang percaya diri, cemas dan kecewa pada bentuk tubuh yang individu miliki, Setelah diberikan intervensi oleh psikolog peneliti melihat ada perubahan dari mahasiswi yang mengalami stres terhadap citra tubuh perubahannya yaitu seperti perasaan yang di rasakan tenang setelah diberikan intervensi, legah, dan merasa beban pikiran ringan.
2) Marefa pua story
Sebelum memberikan terapi konseling pada mahasiswi, ekpresi yang ditunjukkan oleh konseli cemas, kurang percaya diri, dan tidak nyaman. mahasiswi merasa bahwa dirinya memiliki bentuk tubuh kurus jika berada dilingkungan sering sekali teman- temannya mengatai klien kurus hal itu membuat mahasiswi kurang percaya diri, mahasiswi terlihat sangat malu-malu untuk
menceritakan beban yang mahasiswi rasakan karena memiliki citra tubuh yang selalu menjadi bahan ejekan setiap teman-temannya, mahasiswi menangis saat menceritakan permasalahan dirinya pada psikolog. Kemudian mahasiswi diberikan intervensi oleh psikolog dan setelah selesai dalam memberikan intervensi perasaan yang dialami oleh mahasiswi seperti ceria, tenang.
Hasil observasi dan wawancara yang peneliti dapatkan Setelah dilakukannya pemberian intervensi pada klien perasaan yang dialami menjadi sangat nyaman dan tenang karena sudah diberikan intervensi yang memang sangat dibutuhkan untuk saat itu, jadi tingkat stres yang dialami oleh mahasiswi menurun karena sudah diberikan terapi oleh psikolog disitulah mahasiswi lebih tenang dan nyaman.
3) Astuti Maysa
Sebelum mahasiswi mengikuti terapi konseling, mahasiswi menunjukkan ekspresi cemas, gelisah, tapi mahasiswi menyimak ketika psikolog bercerita, setelah itu mahasiswi mulai terbuka dalam menceritakan permasalahan bahwa dirinya kurang percaya diri pada bentuk tubuh yang gemuk sering sekali di bully oleh teman-temannya, hal itu membuat mahasiswi berpengaruh terhadap kehidupannya sehari-hari yang dimana dia merasa sangat tidak percaya diri ketika bersosialisasi dan akibatnya mahasiswi menjadi orang yang jarang keluar rumah dan jarang berinteraksi
dengan sesama sehingga mahasiswi mengalami stres terhadap citra tubuh. Kemudian mahasiswi diberikan intervensi oleh psikolog dan setelah selesai dalam memberikan intervensi perasaan yang dialami oleh mahasiswi seperti ceria, tenang. Jadi tingkat stres terhadap citra tubuh yang dialami oleh mahasiswi menurun.
Hasil observasi yang peneliti dapatkan setelah mahasiswi mengikuti terapi konseling Pada saat awal dalam melakukan proses konseling mahasiswi orang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi setelah psikolog bercerita mahasiswi menyimak dengan cukup baik, Setelah masuk dalam pertengahan mahasiswa mulai terbukaa dan bercerita permasalahannya, mahasiswi mengikuti proses konseling dari awal sampai akhir, perasaan yang dialami oleh mahasiswi tenang dan merasa nyaman
4) Asmawati
Sebelum mahasiswi mengikuti terapi konseling klien malu, cemas, dan kurang percaya diri, setelah itu mahasiswi mulai terbuka dalam menceritakan permasalahan yang merasa tidak puas dengan bentuk tubuh kurus yang mahasiswi miliki sehingga terjadinya stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi tersebut, Kemudian mahasiswi diberikan intervensi oleh psikolog dan setelah selesai dalam memberikan intervensi perasaan yang dialami oleh mahasiswi seperti tenang dan nyaman.
Hasil wawancara dan observasi yang peneliti dapatkan dilapangan bahwa setelah psikolog memberikan intervensi pada mahasiswi yang mengalami stres terhadap citra tubuh telah mengalami perubahan, dari sebelumnya merasa cemas, kecewa, dan kurang percaya diri ketika berada di lingkungan masyarakat, dan tingkat stres yang dialami oleh klien menurun.
5) Khuriatun Thoyiban
Sebelum melakukan proses konseling klien merasa sangat kurang percaya diri terhadap bentuk tubuh yang kurus dan sering dibully oleh teman-temannya dan orang disekitarnya dari itu klien tidak ingin keluar rumah karena malu dikatain terus-menerus oleh masyarakat disekitarnya, saat mahasiswi mencerikatan permasalahannya klien menangis karena tidak tahan dikatain terus- menerus. Kemudian mahasiswi diberikan intervensi oleh psikolog dan setelah selesai dalam memberikan intervensi perasaan yang dialami oleh mahasiswi seperti tenang dan nyaman
Hasil wawancara dan observasi yang peneliti temukan dilapangan, Pada saat awal dalam melakukan proses konseling mahasiswi orang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi setelah psikolog bercerita mahasiswi menyimak dengan cukup baik, Setelah masuk dalam pertengahan mahasiswa mulai terbua dan bercerita permasalahannya, mahasiswi mengikuti proses konseling dari awal sampai akhir, perasaan yang dialami oleh mahasiswi
tenang dan merasa nyaman setelah mahasiswi mengikuti psikolog memberikan intervensi, perubahan yang dialami oleh mahasiswi yaitu wajahnya ceria merasa rileks dan beban pikiran jadi berkurang. Tingkat stres yang dialami oleh klien telah menurun.
6) Rizky Dwi Afifah
Sebelumnya Mahasiswi gelisah, merasa kurang percaya diri karena memiliki bentuk tubuhnya yang kurus dan sering dibanding- bandingkan dengan adiknya, klien tidak suka jika di banding- bandingkan hal itu yang membuat mahasiswi stres terhadap citra tubuh, stres yang dialami seperti sensitif jika ada yang mengatai mahasiswi. Kemudian mahasiswi diberikan intervensi oleh psikolog dan setelah selesai dalam memberikan intervensi perasaan yang dialami oleh mahasiswi seperti tenang dan nyaman
Hasil observasi dan wawancara yang peneliti dapatkan dari lapangan, pada saat awal dalam melakukan proses konseling mahasiswi orang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi setelah psikolog bercerita mahasiswi menyimak dengan cukup baik, Setelah masuk dalam pertengahan mahasiswa mulai terbua dan bercerita permasalahannya, mahasiswi mengikuti proses konseling dari awal sampai akhir, perasaan yang dialami oleh mahasiswi tenang dan merasa nyaman bahwa setelah mahasiswi mengikuti
proses konseling, mahasiswi mengalami perubahan pada ekspresi wajahnya yang ceria dan perasaan klien nyaman, tenang.82
Dapat disimpulkan bahwa 6 orang klien/mahasiswi BKI telah mengalami perubahan yang dimana pada awal konseli kurang percaya pada bentuk tubuh gemuk, kurus, dan pendek, tetapi setelah melakukan proses konseling kemudian diberikan intervensi kepada setiap mahasiswi. Mahasiswi sudah mengalami perubahan seperti tidak lagi gelisah, takut, malu, dan cemas pada bentuk tubuh yang dimiliki oleh setiap mahasiswi. Dalam melakukan proses konseling cuman diadakan dalam satu sesi konseling saja.
Jadi keberhasilan dalam melakukan proses konseling karena klien merasa nyaman dengan psikolog dan ruangan yang kondusif.
a) Nyaman dengan Tenaga ahli
Berdasarkan proses konseling yang dilakukan dinyatakan berhasil karena yang memberikan intervensi berupa konseling merupakan tenaga ahli profesional (psikolog), konseli sangat nyaman ketika melakukan konseling didalam ruangan yang nyaman, konseli sangat nyaman ketika berbicara dengan tenaga ahli atau psikolog, dan konseli aktif dalam menyampaikan permasalahannya kepada tenaga ahli.
82 Hasil observasi, pada tanggal 11 desember 2020.
b) Ruang yang kondusif
Keberhasilan dalam melakukan Proses konseling dilakukan di dalam ruagan yang nyaman dan menarik serta tidak mengganggu klien, ada beberapa hal yang dapat membantu ruangan yang menarik dan nyaman seperti penerangan yang lembut, ruangan yang tidak berantakkan,suhu ruangan yang nyaman, suasana yang nyaman dan tenang serta ketika melakukan konseling diharapkan tidak ada yang boleh masuk didalam ruangan yang digunakan untuk konseling.
Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia adalah ruangan tempat bimbingan yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yan memungkinkan tercapainya proses pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para konseli yang melakukan konseling didalam ruangan tersebut merasa nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Khusus ruangan konseling harus merupakan
ruangan yang memberi rasa aman, nyaman dan menjamin kerahasiaan konseling.83
Kesimpulannya jika konseling dilakukan didalam ruangan yang nyaman dan tatanan ruang Bimbingan dan Konseling rapi tidak berisik saat melakukan proses konseling maka mahasiswi yang mengikuti proses konseling merasa nyaman ketika dikonseling oleh tenaga ahli.
83 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014. Hlm, 32.
BAB IV