i OLEH : NURMIYATI NIM 160303038
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMINIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
ii Mataram)
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar serjana sosial
OLEH : NURMIYATI NIM 160303038
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMINIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
iii
iv
vi
vii
Tetaplah Jadi Diri Sendiri Di Dunia Ini Yang Tanpa Henti-Hentinya Berusaha Mengubahmu Adalah Pencapaian Yang Hebat
(Ralp Waldo Emerson)
viii
senantiasa tercurahkan pada baginda Rasulullah, yang telah menuntun manusia pada jalan kebenaran bersama akhlaq dan ilmu.
Penulis persembahkan skripsi ini untuk kedua orang tua almarhumah mama rukiyati yang telah menyayangi, mencintai, dan membesarkan, dan untuk bapak sahari yang telah membesarkan, menyayangi, mencitai dan selalu memberikan motivasi, serta keluarga yang senantiasa memberikan dukungan, kepada sahabat kerabat penulis yang senantiasa bersama, almamater penulis, guru, dosen, dan bagi siapapun yang membaca skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi siapapun. Aamiin.
“Thanks for Everything”
ix
iman, nikmat sehat, nikmat islam, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat dan semua pengikutnya.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:
1. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, M.A. sebagai pembimbing I dan Syamsul Hadi, M.Pd. sebagai pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus menerus dan tanpa bosan ditengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini menjadi lebih matang dan cepat selesai;
2. Bapak Rendra Khaldun, M.Ag. sebagai ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Mataram.
3. Bapak Dr. H. Subhan Abdullah, MA. Selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Mataram.
x
5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan terimakasih juga kepada semua karyawan dan karyawati Akademik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi atas pelayanan administrasinya.
6. Kepada Lembaga konseling dan psikologi Al-Tazkiah Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram tempat saya berproses dan mendapat ilmu lebih.
7. Kepada teman-temanku Jurusan BKI kelas B Ta. 2016, teman seperjuangan yang telah sama-sama mengajukan judul dan saling memberikan masukan serta motivasi.
8. Semua pihak yang ikut berpartisipasi.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut menjadi amal shaleh dan mendapatkan ridho dari Allah Subhanahuwata’ala dan mendapat pahala dari- Nya. Penulis juga berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Aamiin.
Mataram, Penulis,
Nurmiyati
xi
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 6
xii
F. Kerangka Teori ... 11
1. Tinjauan Tentang Stres ... 11
a. Pengertian Stres ... 11
b. Reaksi Stres ... 12
c. Dampak Negatif Stres ... 13
d. Macam-Macam Stres ... 14
e. Ciri-ciri stres... 16
2. Tinjauan Tentang Citra Tubuh ... 18
a. Pengertian Citra Tubuh ... 18
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Tubuh ... 20
c. Aspek-Aspek Citra Tubuh... 22
d. Dampak Citra Tubuh ... 23
e. Pandangan Islam Citra Tubuh ... 24
3. Tinjauan Tentang Cognitive Behavior Therapy ... 25
a. Konsep Dasar Cognitive Behavior Therapy ... 25
b. Tujuan Konseling Cognitive Behavior Therapy ... 27
xiii
e. Tahap Pelaksanaan Cognitive Behavior Therapy ... 32
G. Metode Penelitian ... 34
1. Pendekatan Penelitian ... 35
2. Kehadiran Penelitian ... 35
3. Sumber Data ... 36
4. Teknik Pengumpulan Data ... 38
5. Analisis Data ... 40
6. Uji Keabsahan Data... 41
H. Simtematika Pembahasan ... 42
BAB 11 PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 44
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 44
1. Letak Geografis UIN Mataram ... 44
2. Latar Historis FDIK UIN Mataram ... 45
3. Gambaran Umum Laboratorium Konseling dan Psikolog Al- Tazkiyah ... 50
xiv
BAB 111 PEMBAHASAN ... 66
A. Stres Terhadap Citra Tubuh pada Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam di Laboratorium Konseling dan Psikolog Universitas Islam Negeri Mataram ... 66
B. Penanganan stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi UIN Mataram di Lab Konseling dan Psikolog Al-Tazkiyah Melalui Cognitive Behavior Therapy ... 69
BAB IV PENUTUP ... 85
A. Kesimpulan... 85
B. Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 86
LAMPIRAN ... 87
xv
Lampiran 1 : Tabel Daftar Nama Anggota Lab Al-Tazkiyah Lampiran 2 : Daftar Informasi
xvi
Lampiran 1 : Foto Kepala Lab. Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah UIN Matarm
Lampiran 2 : Foto UIN Mataram dan Foto Lab Al-Tazkiyah Lampiran 3 : Foto Informasi saat diwawancarai
xvii ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini didasarkan pada perhatian peneiliti terhadap mahasiswi prodi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Mataram yang mengalami stres terhadap citra tubuh telah melakukan konseling di Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah UIN Mataram. Selain itu penelitian ini juga melatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi mahasiswi untuk stres terhadap citra tubuh serta penanganan. Kriteria mahasiswi stres seperti, kecemasan atau takut akan gemuk, merasa kecewa, makan yang berlebihan, kurang tidur, dan selalu berpikir negatif tentang diri sendiri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai stres terhadap citra tubuh serta penanganannya pada mahasiswi di Lab Konseling dan Psikolog Al- Tazkiyah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus pada mahasiswi prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Responden dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang berasal dari prodi Bimbingan dan Konseling Islam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah yaitu stres terhadap bentuk tubuh gemuk, bentuk tubuh kurus, dan bentuk tubuh pendek serta penanganan yang diberikan oleh Lab Konseling dan Psikolog Al-Tazkiyah dengan melakukan satu sesi konseling yaitu melalui Cognitive Behavior Therapy dengan dua teknik ialah teknik kognitif dan teknik modifikasi perilaku.
Kata Kunci: Stres Citra Tubuh, Cognitive Behavior Therapy
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Universitas Islam Negeri Mataram adalah kampus yang berintelektual yang dimana Universitas Islam Negeri Mataram di dalamnya mempunya berbagai akademik untuk fakultas masing-masing, di dalam fakultas tersebut ada juga berbagai jurusan dari masing-masing fakultas.1
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi merupakan fakultas yang terdapat dalam kampus Universitas Islam Negeri Mataram yang di dalamnya sudah menyelenggarakan berbagai sistem pendidikan islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi terdapat beberapa prodi yaitu, Komunikasi Penyiaran Islam, Pengembangan Masyarakat Islam, Manajemen Dakwah, dan Bimbingan Konseling Islam.2
Prodi terdapat pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi terdapat didalamnya banyak yang mengkaji tentang dakwah dan komunikasi dengan mengetahui atau memahami berbagai sub-sub item yang terdapat pada pemahaman individu tersebut. Prodi Bimbingan dan Konseling Islam pada kampus Universitas Islam Negeri Mataram yaitu prodi yang salah satunya telah resmi mendapatkan izin dari operasional di Dirjen Kelembagaan Agama Islam. Universitas Islam Negeri Mataram
1 Rumainah Tariza, Perilaku Agresif serta Penanganannya Melalui Pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy, (Skripsi, BKI, FDIK UIN Mataram, Mataram 2019). Hlm, 1.
2Ibid. Hlm, 1.
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Prodi Bimbingan dan Konseling Islam adalah salah satu prodi yang telah mengembangkan kompetensi yang ada pada bidang Bimbingan dan Konseling Islam secara profesional.3
Seseorang untuk tampil sempurna didepan banyak orang akan menimbulkan banyak kekhawatiran, kekhawatiran inilah yang akan membuat individu melakukan segala hal untuk membuat penampilan fisik yang menarik seperti keinginannya. Penampilan fisik yang menarik akan menentukan akan menetukan kesan yang yang membentuk dirinya dan menetukan bagaimana hubungan dengan orang lain.
Tubuh adalah bagian utama dari penampilan fisik yang merupakan cermin diri dari seseorang. Tubuh dapat dilihat dan sangat mudah dinilai oleh diri sendiri bahkan orang lain. Menurut Breakey, tubuh adalah representasi diri yang pertama dan paling mudah untuk dilihat. Hal tersebut mendorong seseorang termasuk remaja untuk memiliki tubuh yang ideal.4
Penampilan sangat penting untuk setiap orang remja maupun dewasa, masalah bentuk tubuh yang tidak ideal ini akan lebih berpengaruh pada setiap perempuan, karena yang dinilai dalam dalam pandangan masyarakat penampilan yang bagus.
3Tim Penyusun, Buku Pedoman Praktikum Dan Magang Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi (Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi, 2013). Hlm 1.
4Akhamada Muhsin, “Studi Kasus Ketidakpuasan Remaja Putri Terhadap Keadaan Tubuhnya (Body Image Negative pada Remaja Putri)”. Jurnal skripsi, Program Studi Bimbingan Dan KonselingUniversitas Negeri Yogyakarta,Oktober 2014.
Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kecantikan seolah merupakan tolak ukur dari ”nilai” seorang perempuan dimasyarakat. Masyarakat menilai perempuan cantik lebih pintar, lebih menyenangkan, lebih menarik, lebih tangguh, dan lebih sukses daripada perempuan lainnya. Begitu banyaknya keuntungan menjadi cantik, sehingga tidak mengherankan bahwa sebagian besar perempuan terobsesi pada kecantikan. Standar kecantikan yang ada sekarang yaitu seorang perempuan dapat dikatakan cantik apabila memiliki tubuh langsing, dilengkapi dengan kulit putih-mulus dan wajah yang cantik seperti berhidung mancung, dan berbibir sensual. Perbedaan antara standar kecantikan yang berlaku dengan penampilan fisik mahasiswi memicu timbulnya ketidakpuasan terhadap citra tubuh.
Ketidakpuasan terhadap citra tubuh ini merupakan suatu kontinum, dari sekedar tidak puas terhadap bagian-bagian tubuh atau bentuk tubuh secara keseluruhan, preokupasi terhadap berat badan, hingga obsesi yang berlebihan terhadap penampilan fisik.5
Fenomena ketidakpuasan citra tubuh di Surabaya merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti lebih jauh. Pada tahun 2003, terdapat 40% mahasiswi yang berusia 18-25 tahun, yang sangat tidak puas terhadap citra tubuhnya (kategori tinggi), dan 38% mahasiswi yang tidak puas terhadap citra tubuhnya (kategori cukup). Tahun 2005, peneliti menemukan 40% mahasiswi yang berusia 19-21 tahun sangat tidak puas
5 Maria Helena Suprapto, Efektivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Bibliotherapy dalam meningkatkan Citra Tubuh Mahasiswa. Jurnal Gema Aktualita, 2013.
terhadap citra tubuhnya (kategori tinggi dan sangat tinggi), dan 21%
mahasiswi yang tidak puas terhadap citra tubuhnya (kategori cukup).
Ketidakpuasan terhadap citra tubuh menimbulkan berbagai dampak negatif. Ketidakpuasan terhadap citra tubuh dapat berkembang menjadi gangguan makan yaitu anorexia nervosa dan bulimia nervosa, apabila tidak mendapatkan penanganan yang memadai.6
Kecantikan merupakan tolok ukur yang paling sering digunakan dalam berbagai kebudayaan untuk menilaiperempuan. Di sisi lain, terdapat relatifitas kecantikan dalam masyarakat yang dinilai secara berbeda-beda antarbudaya dan antar waktu. Salah satu ukuran kecantikan yang banyak mendapatkan perhatian adalah citra mengenaibentuk tubuh. Di negara- negara non-Barat, seperti di Afrika, tubuh yang gemuk diinterpretasikan sebagai suatusimbol kematangan seksual, kesuburan, kemakmuran, kekuatan, dan kebijaksanaan Sebaliknya, negara-negara maju dan berkembang (termasuk Indonesia), tubuh yang dianggap cantik bagi kaumperempuan adalah keserasian antara tubuh dan tinggi badan.
Kepercayaan tersebut tentu menjadi racikan yanglezat bagi budaya populer saat ini untuk mempromosikan kebencian dan ketakutan terhadap kegemukan secarabesar-besaran (Bedah Obesitas Bikin Risiko Bunuh Diri Meningkat, 2010). Budaya populer ini memiliki ciri-ciribersifat „instant‟,
6Maria Helena Suprapto, Efektivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Bibliotherapy dalam meningkatkan Citra Tubuh Mahasiswa. Jurnal Gema Aktualita, 2013.
memberikan pemuasan sesaat, cenderung dangkal, dan sangat terkait dengan sistem kapitalismesebagai suatu komoditi.7
Peneliti melakukan observasi awal di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah, peneliti telah mendapatkan berbagai masalah-masalah yang ditangani di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh beberapa mahasiswi di UIN Mataram adalah stres terhadap citra tubuh. Stres terhadap citra tubuh yang ditunjukkan oleh mahasiswi UIN Mataram diantaranya adalah berupa mengeluarkan bahasa-bahasa yang tidak layak di dengar oleh lawan bicaranya, hal tersebut karena individu tidak mengontrol emosinya. Stres terhadap citra tubuh lainnya yaitu mengejek yang di lakukan oleh individu lainnya, faktor yang mempengaruhi adalah faktor lingkungan, individu mengejek temannya dengan bahasa-bahasa yang dapat menyakiti lawan bicaranya, hal lain yang menyebabkan individu itu sendiri stres terhadap citra tubuh.
Pada umumnya, penyebab stres dalam kehidupan sehari-hari adalah gangguan mental yang dihadapi oleh seseorang karena adanya tekanan, tekanan yang muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan ataupun keinginan individu tersebut.
Tidak banyak mahasiswi yang menyadari ketika individu stres terhadap citra tubuh. Begitu pula halnya dengan yang telah dialami oleh beberapa mahasiswi UIN Mataram. Ada juga beberapa mahasiswi yang
7Akhmad Muklis, “Berpikir Positif Pada Ketidakpuasan Terhadap Citra Tubuh(body image dissatisfacation)”. Jurnalpsikoislamika. Vol. 10 No. 1, 2013.
apabila citra tubuhnya merasa ada perubahan seperti bertambah gemuk, dan ada perubahan lainnya di tubuh individu tersebut.
Terkait dari pemaparan diatas penulis tertarik untuk mengetahui dan mengkaji di dalam sebuah skripsi yang berjudul “Stres Terhadap Citra Tubuh Penanganan Melalui Cognitive Behavior Terapy (Study Kasus pada Mahasiswi di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Universitas Islam Negeri Mataram)”.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Stres Terhadap Citra Tubuh pada Mahasiswi Prodi Bimbingan Konseling Islam di Laboratorium Al-Tazkiyah Universitas Islam Negeri Mataram?
2. Bagaimana Penanganan Stres Terhadap Citra Tubuh pada Mahasiswi di Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram Melalui Cognitive Behavior Therapy?
C. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dalam melakukan penelitian ini sebagai berikut:
1. Agar mengetahui dan memahami stres terhadap citra tubuh pada mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling Islam.
2. Agar mengetahui dan memahami penanganan Stres Terhadap Citra Tubuh pada Mahasiswi di Laboratorium Konseling dan Psikologi Al- Tazkiyah Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram Melalui cognitive behavior therapy.
Manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat menambah wawasan dan memperkaya khazanah teori tentang penanganan stres terhadap citra tubuh melalui cognitive behavior therapy pada mahasiswi di Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Universitas Islam Negeri Mataram.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Ilmu BK dan Ilmu Psikologi, memperoleh pengetahuan baru terkait penanganan Stres terhadap Citra Tubuh melalui Cognitive Behavior Therapy dan pada mahasiswi.
b. Bagi pembaca, agar dapat mengetahui dan memahami tentang penanganan Stres terhadap Citra Tubuh melalui Cognitive Behavior Therapy pada mahasiswi.
D. RUANG LINGKUP DAN SETTING PENELITIAN
Dalam penelitian ini terdapat ruang lingkup penelitian adalah hanya fokuskan pada penanganan stres terhadap citra tubuh melalui cognitive behavior therapy, khususnya pada beberapa bagian dari mahasiswi di UIN Mataram yang stres terhadap citra tubuh. Fenomena yang begitu terlihat pada mahasiswi di UIN Mataram tersebut, beberapa mahasiswi yang terdapat stres citra tubuh sehingga dapat membutuhkan penanganannya berupa konseling. Stres terhadap citra tubuh dapat
ditangani langsung oleh ilmuan BK dan psikolog yang terdapat di dalam Lab Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah UIN Mataram.
Penelitian ini akan dilakukan pada salah satu Lab yang berada di prodi Bimbingan Konseling Islam, ialah Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah di Universitas Islam Negeri Mataram. Penelitian ini yang akan dilakukan pada Lab konseling yang berada pada prodi BKI, guna untuk mempermudah proses peneliti dalam memperoleh data yang berhubungan dengan stres terhadap citra tubuh dan penanganannya pada mahasiswi prodi BKI di Universitas Islam Negeri Mataram.
E. TELAAH PUSTAKA
Telaah pustaka atau kajian pustaka adalah yang terhadap hasil- hasil penelitian, baik dalam bentuk jurnal, buku maupun majalah ilmiah.
Penulis mengetahui, ada beberapa skiripsi yang judulnya mirip dengan skiripsi ini. Berikut ini penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan dengan penelitian kali ini yaitu:
1. Judul penelitian yang di tulis oleh Susi Fitri, Aip Badrupjaman, dan Nurul Fazriah pada tahun 2017 dengan judul jurnal “Pengaruh Konselig Kelompok dengan body image cognitive behavior therapy (BI-CBT) terhadap Siswi SMK yang memiliki Citra Tubuh Negatif”, adapun kesamaan dari penelitian terdahulu dan sekarang yaitu sama-sama membahas tentang citra tubuh dan cognitive behavioral therapy. Pada penelitian terdahulu memperoleh gambaran mengenai Pengaruh Konselig Kelompok dengan body image
cognitive behavior therapy (BI-CBT) terhadap Siswi SMK yang memiliki Citra Tubuh Negatif.8
Namun demikian penelitian terdahu berbeda dengan penelitian yang sekarang. Perbedaannya adalah penelitian terdahulu membahas tentang Pengaruh Konselig Kelompok dengan body image cognitive behavior therapy (BI-CBT) terhadap Siswi SMK yang memiliki Citra Tubuh Negatif dan sama sekali tidak membahas tentang stres.
2. Judul penelitian yang ditulis oleh Maria Helena Suprapto pada tahun 2013 dengan judul jurnal “Efektivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT)dan Bibliotherapy dalam meningkatkan Citra Tubuh Mahasiswa”,9pada penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk perilaku diet dan citra tubuh pada mahasiswa di salah satu fakultas dan program vokasi rumpun sosial humaniora universitas indonesia.
Kesamaan dari skiripsi ini adalah sama-sama membahas citra tubuh dan penanganan cognitive behavior therapy. Adapun perbedaannya yaitu pada peneliti terdahulu hanya membahas Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Bibliotherapy dalam meningkatkan Citra Tubuh Mahasiswa saja, sedangkan penelitian kali ini membahas tentang stres terhadap citra tubuh dikalangan prodi bimbingan konseling Islam, tidak hanya itu perbedaan lainnya
8Susi Fitri, Aip Badrupjaman, dan Nurul Fazriah, Pengaruh Konselig Kelompok dengan body image cognitive behavior therapy (BI-CBT) terhadap Siswi SMK yang memiliki Citra Tubuh Negatif. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 2017.
9Maria Helena Suprapto, Efektivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Bibliotherapy dalam meningkatkan Citra Tubuh Mahasiswa. Jurnal Gema Aktualita, 2013.
yaitu penelitian terdahulu tidak membahas stres sebagaimana yang dilakukan oleh peneliti kali ini.
3. Judul penelitian yang disusun oleh Anisah Fatma Desi Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan 2016, yaitu
“Pengaruh Citra Tubuh Terhadap Keyakinan Kemampuan Diri Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 9 Yogyakarta”. Pada penelitian ini membahas tentang faktor-faktor citra tubuh pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 9 Yogyakarta, yang dimana faktor yang mempengaruhi individu dan perbedaan bentuk tubuh siswa kelas XI SMA Negeri 9 Yogyakarta.10
Kesamaan dari skripsi ini dan ksiripsi dengan judul yang diatas yaitu sama-sama membahas tentang citra tubuh. Adapun perbedaan antara skripsi ini dan skripsi dengan judul yang diatas adalah terletak pada obyek penelitiannya, pada skripsi ini meneliti tentang stres terhadap citra tubuh pada mahasiswa, sedangkan pada skripsi dengan judul diatas meneliti tentang citra tubuh terhadap keyakinan pada siswa, perbedaan lainnya yaitu pada skripsi ini membahas tentang stres terhadap citra tubuh penanganan melalui cognitive behavior therapy, sedangkan skripsi dengan judul diatas hanya membahas tentang citra tubuh.
10Anisah Fatma Desi, Pengaruh Citra Tubuh Terhadap Keyakinan Kemampuan Diri, (skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Yogyakarta. 2016).
F. KERANGKA TEORI 1. Tinjauan Tentang Stres
a. Pengertian Stres
Stres adalah situasi atau stimulus yang mengancam kesejahtraan individu. Respons merupakan suatu reaksi yang muncul, sedangkan proses stres ini merupakan mekanisme interaktif yang dimulai dari datangnya stresor sampai munculnya respons stres. Melalui pendekatan respons timbulnya stres di hubungkan dengan adanya peristiwa yang menekan sehingga seseorang dalam keadaan tidak berdaya akan menimbulkan dampak negatif, misalnya pusing, tekanan darah tinggi, mudah marah, sedih, sulit berkonsentrasi, dan lain-lain.11
Definisi stres dihubungkan dari sisi stresor dalam hal ini digambarkan sebagai kekuatan yang menimbulkan tekanan- tekanan dalam diri, stres dalam pendekatan ini ketika muncul tekanan yang dihadapi melebihi batas optimum. Pendekatan intraksionis yang menitikberatkan definisi stres dengan adanya transaksi antara tekanan dari luar dengan karakteristik individu yang menentukan apakah tekanan tersebut menimbulkan stres atau tidak.
Menurut Kendal dan Hamen menyatakan stres dapat terjadi pada individu ketika terdapat ketidakseimbangan antara situasi
11Triantoro Safaria, Manajemen Emosi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm. 27
yang menuntut dengan perasaan individu atas kemampuannya untuk bertemu tuntutan-tuntutan itu. Dengan situasi yang menuntut ketika harus dipandang sebagai beban atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya.
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasaldari situasi dengan sumber daya dalam sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres merupakan keadaan tegang secara biopsikososial karena banyak tugas-tugas perkembangan yang dihadapi orang sehari-hari, baikdalam kelompok sebaya, keluarga, sekolah,maupun pekerjaan.12
b. Reaksi Stres
Menurut Helmi ada empat macam reaksi stres, yaitu reaksi psikologis, fisiologis, proses berpikir, dan tingkah laku. Keempat macam reaksi ini dalam perwujudannya dapat bersifat positif, tetapi dapat juga berwujud negatif. Reaksi yang bersifat negatif antara lain berikut ini.
1) Reaksi psikologis, biasanya lebih dikaitkan pada aspek emosi, seperti mudah marah, sedih, ataupun mudah tersinggung.
12Eunike Rustiana, Widya Hary Cahyati, “Stress Kerja Dengan Pemilihan Strategi Coping”, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 7, No 2, Januari 2012, hlm. 150.
2) Reaksi fisiologis, biasanya muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti pusing, nyeri tengkuk, tekanan darah naik, nyeri lambung, gatal-gatal di kulit, ataupun rambut rontok.
3) Reeaksi proses berpikir kognitif, biasanya tampak dalam gejala sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atupun sulit mengambil keputusan.
4) Reaksi perilaku, pada para remaja tampak dari perilaku-perilaku menyimpang seperti mabuk, meng-pil, frekuensi merokok meningkat atupun menghindar bertemu dengan temannya.
c. Dampak Negatif Stres
Stres dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu.
Dampak ini bisa merupakan gejala fisik maupun psikis dan akan menimbulkan gejala-gejala tertentu. Reaksi dari stres ini bagi individu dapat digolongkan menjadi beberapa gejala yaitu:
1) Gejala fisiologis, berupa keluhan seperti sakit kepala, diare, sakit pinggang, kelelahan, sehingga selera makan berubah dan kehilangan semangat dalam beraktifitas.
2) Gejala emosional, berupa keluhan seperti gelisah, cemas, mudah marah, gugup, takut, mudah tersinggung, sedih, dan depresi.
3) Gejala kognitif, berupa keluhan seperti susah berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, mudah lupa, melamun secara berlebihan, dan pikiran kacau.
4) Gejala interpersonal, berupa sikap acuh tak acuh pada lingkungan, apatis, agresif, minder, kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan mudah mempersalahkan orang lain.
5) Gejala organisasional, berupa meningkatnya keabsenan dalam kerja atau kuliah, menurunnya produktivitas, ketegangan dengan rekan kerja, ketidakpuasan kerja dan menurunnya dorongan untuk berprestasi.13
d. Macam-Macam Stres
Stres dibagi menjadi dua macam, pertama, yaitu stres yang mengganggu biasa disebut juga dengan distress. Kedua, yaitu stres yang tidak mengganggu dan tidak memberikan perasaan bersemangat yang disebut sebagai eustress atau stres baik. Stres semacam ini pada setiap manusia, tanpa ada kecuali. Bahkan pada prinsipnya, setiap manusia membutuhkan stres sejenis ini untuk menjaga keseimbangan jiwanya.14
Menurut Tristiadi A.A,. Iin Tri R dan Yulia Sholichatun ada dua macam stres yang dihadapi oleh individu yaitu:15
1. Stres yang non ego-envolved yaitu stres yang sampai tidak mengancam atau merugikan kebutuhan dasar atau disebut dengan kata lain stres kecil-kecilan atau ringan.
13Triantoro Safaria, Manajemen Emosi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm. 29-30.
14 Nindya Wijayanti, “Strategi Coping menghadapi Stres dalam Penyusunan Tugas Akhir Skripsi pada Mahasiswa”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan UN Yogyakarta, Yogyakarta, 2013), hlm. 16.
15 Desy Kumalasari, Deviana Gunawan, Ruth Panny Septiani, Gambaran Coping Stress pada Pendatang Baru yang Tinggal di Lingkungan Padat dan Bising di Jakarta, Jurnal Psikologi, Vol. 3, No. 2, 2018. Hlm. 127-128.
2. Stres yang ego-envolved yaitu stres yang mengancam kebutuhan dasar serta integritas kepribadian seseorang. Stres ego envolved membutuhkan penanganan yang benar dan tepat dengan melakukan reaksi penyesuaian agar tidak hancur dan merugikan karenanya.16
Menurut Aziz Alimul Hidayat ada enam macam stres ditinjau dari penyebabnya yaitu:
1. Stres fisik
Stres yang disebabkan karena keadaan fisik lingkungan seperti karena suhu atau temperatur yang tinggi atau yang sangat rendah, suara yang bising, sinar matahari yag terlalu menyengat.
2. Stres kimiawi
Stres ini disebabkan karena zat kimia atau pengaruh senyawa kimia seperti pada obat-obatan, zat beracun asam, faktor hormon atau gas.
3. Stres mikrobiologik
Stres ini disebabkan karena kuman seperti adanya virus, bakteri atau parasit.
16 Ibid. Hlm. 127-128.
4. Stres fisiologik
Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh diantaranya gangguan dari struktur tubuh, fungsi jaringan.
5. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan
Stres yang disebabkan karena proses tumbuh kembang seperti pada masa pubertas, pernikahan dan lanjut usia.
6. Stres psikis atau emosional
Stres yang disebabkan karena gangguan situasi psikologis atau ketidakmampuan kondisi psikogis untuk menyesuaika diri seperti hubungan interpersonal, sosial budaya atau faktor keagamaan.17
e. Ciri-ciri stres
Jika diuraikan secara sederhana, maka stres tak lain adalah persoalan kejiwaan yang pada akhirnya bermuara pada jasmani seseorang. Ciri-ciri kognitif dari stres biasanya muncul terlebih dahulu ketimbang gejala fisik. Namun, seringkali kita menyadari hal tersebut sebab unsur kognitif stres terlihat normal. Adapun beberapa ciri-ciri stres dalam lingkup kognitif sebagai berikut:
17Nindya Wijayanti, “Strategi Coping menghadapi Stres dalam Penyusunan Tugas Akhir Skripsi pada Mahasiswa”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan UN Yogyakarta, Yogyakarta, 2013), hlm. 16-18.
1) Mudah merasa ingin marah (sensitif) 2) Merasa putus asa saat harus menunggu 3) Gelisah, gugup dan cemas yang berlebihan
4) Selalu merasa takut pada hal yang tidak jelas dan tanpa alasan 5) Susah untuk memusatkan pikiran
6) Seing merasa linglung dan bingung tanpa alasan
7) Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat) 8) Cenderung berpikir negatif terutama pada diri sendiri
9) Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)
10) Makan terlalu banyak meski tidak merasa lapar.
11) Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu
12) Merasa tidak mampu mengatasi masalah dan cenderung sulit membuat sebuah keputusan.
13) Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebainya)
14) Miskin ekspresi dan kurang memiliki selera humor.18
18 Maliki dan lutfhi, Bimbingan Konseling Berbasis Qur’ani dalam Mengentaskan Problematika Stress, Jurnal Al-Tazkiyah, Vol. 6, No. 2, Desember 2017. Hlm, 115.
2. Tinjauan Tentang Citra Tubuh a. Pengertian Citra Tubuh
Pada tahun 1950, Paul Scihilder mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh kita yang dibentuk dalam pikiran kita sendiri. Lebih jauh, citra tubuh digambarkan sebagai citra tridimensional yang dimiliki oleh setiap individu dalam pikirannya sendiri. Pertama, memvisualisasikan diri melalui penampilan fisik.
Kedua, merasakan tubuh sebagai persepsi lebih terpadu yaitu melalui dimensi sentuhan dan perasaan. Ketiga, disempurnakan oleh sumber utama dari dimensi itu sendiri. Yaitu kesadaran dan pengalaman hidup.19
Rudd dan Lennon melihat 2 komponen yang membangun citra tubuh yaitu komponen persepsi (perseptual component) dan komponen sikap (attitudinal component). Kedua komponen ini saling mempengaruhi dan mendukung pembentukan citra tubuh yang baik. Komponen persepsi melihat tubuh individu melihat ukuran, bentuk, berat badan, dan penampilannya (appearance).
Sementara, komponen sikap merasakan tubuhnya sendiri dan mempengaruhi pola tingkah laku individu tersebut.20
19Yosephin, “Hubungan Citra Tubuh Terhadap Prilaku Diet Mahasiswa Di Salah Satu Fakultas Dan Program Vokasi Rumpun Sosial Humaniora Universitas Idonesia”. (Skripsi, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesi, Indonesia, 2012). Hlm, 8.
20Ibid. Hlm. 9.
Gardner mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran yang dimiliki seseorang dalam pikirannya tentang penampilan (misalnya ukuran dan bentuk) tubuhnya, serta sikap yang dibentuk seseorang terhadap karakteristik-karakteristik dari tubuhnya. Citra tubuh bukanlah suatu konsep yang statis, melainkan berkembang melalui interaksi dengan orang lain dan lingkungan sosial, serta mengalami perubahan sepanjang rentang kehidupan sebagai tanggapan terhadap umpan balik dari lingkungan21
Menurut Schilder citra tubuhadalah gambaran tubuh individu yang terbentukdalam pikiran individu itu sendiri.
Sedangkanmenurut Cash & Pruzinsky citra tubuh merupakan sikap yang dimilikiseseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupapenilaian positif dan negatif.22
Menurut Grogan menyatakan bahwa citra tubuh negatif dapat merugikan kesehatan individu, karena banyak perilaku kesehatan terkait dengan citra tubuh yang dijadikan sebagai topik penting bagi siapapun dengan minat ingin menjalankan gaya hidup sehat. Vohs, Heatherton, dan Herrin mengatakan citra tubuh negatif (ketidakpuasan dengan tubuh yang dimiliki) adalah
21Akhamad Mukhlis, “Berpikir Positif Pada Ketidakpuasan Terhadap Citra Tubuh (Body Image Dissatisfaction)”, jurnal Psikoislamika, Vol. 10, No. 1, 2013. Hlm, 5
22 Ahmada Muhsin, “Studi Kasus Ketidakpuasan Remaja Putri Terhadap Keadaan Tubuhnya (Body Image Negative Pada Remaja Putri)”, (Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015).
prediktor terkuat yang menjadi teratur atau tidaknya perilaku makan dan gangguan makan.23
Dari pemaparan diatas dapat disumpulkan bahwa citra tubuh adalah suatu gambaran keseluruhan dari tubuh individu mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, gambaran bentuk tubuh seseorang terbentuk dalam pikiran diri sendiri, jadi bentuk tubuh individu dapat berubah seiring berjalannya waktu.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh
Citra tubuh dalam diri seseorang muncul karena beberapa faktor yang mempengaruhi citra tubuh adalah sebagai berikut:
1. Self Estem
Citra tubuh seseorang lebih mengacu pada pandangan seseorang tersebut tentang tubuhnya yang dibentuk dalam pikirannya, lebih berpengaruh dengan pikiran orang itu sendiri dibanding dengan pikiran orang lain terhadap dirinya. Selain itu juga dipengaruhi oleh keyakinan dan sikapnya terhadap tubuh sebagaimana gambaran ideal dalam masyarakat.
2. Perbandingan dengan orang lain
Citra tubuh secara global terbentuk dari perbandingan yang dilakukan seseorang terhadap fisiknya sendiri, hal tersebut sesuai dengan standar yang dikenal oleh lingkungan
23 Nur Hasmalawati, “Pengaruh Citra Tubuh Dan Perilaku Makan Terhadap Penerimaan Diri Pada Wanita”, Jurnal Psikoislamedia, Vol. 2, No. 2, 2017. Hlm, 110.
sosial dan budayanya. Salah satu penyebab adanya perbedaan antara citra tubuh ideal dengan kenyataan tubuh yang nyata sering disebabkan oleh media massa yang sering kali menampilkan gambar dengan tubuh yang dinilai sempurna, sehingga terdapat perbedaan dan menciptakan persepsi akan penghayatan tubuhnya yang tidak atau kurang ideal.
Konsekuensi yang didapat yaitu individu menjadi sulit menerima bentuk tubuhnya.
3. Bersifat dinamis
Citra tubuh memiliki sifat yang mampu mengalami perubahan yang terus menerus, bukan yang bersifat statis atau menetap seterusnya. Citra tubuh sangat sensitif terhadap perubahan suasana hati (mood), lingkungan dan pengalaman fisik seseorang dalam merespon suatu peristiwa kehidupan.
4. Proses pembelajaran
Citra tubuh merupakan hal yang dipelajari. Proses pembelajaran citra tubuh ini seringkali dibentuk lebih banyak oleh orang lain diluar individu sendiri, yaitu keluarga dan masyarakat, yang terjadi sejak dini ketika masih kanak-kanak dalam lingkungan keluarga, khususnya cara orang tua mendidik anak dan diantara teman-teman pergaulannya. Tetapi proses dalam pelajaran keluarga dan pergaulan ini
sesungguhnya hanyalah mencerminkan apa yang dipelajari dan diharapkan secara budaya.24
c. Aspek-Aspek Citra Tubuh
Aspek-aspek citra tubuh menurut Cash dan Pruzinsky adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi penampilan, yaitu mengukur evaluasi dari penampilan dan keseluruhan tubuh, apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan dan tidak memuaskan.25
2. Orientasi penampilan, yaitu perhatian individu terhadap penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya.
3. Kepuasan terhadap bagian tubuh, yaitu mengukur kepuasan individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, wajah, tubuh bagian atas (dada, bahu, lengan), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tubuh bagian bawah (pinggul, paha, pantat, kaki) serta bagian tubuh secara keseluruhan.
4. Kecemasan menjadi gemuk, yaitu mengukur kecemasan terhadap kegemukan, kewaspadaan individu terhadap berat badan, kecenderungan melakukan diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan.
24 Etheses.uin-malang.co.id/1651/6/11410075_Bab_2.pdf. hlm, 17-18.
25Ibid. Hlm. 25.
5. Pengkategorian ukuran tubuh, yaitu mengukur bagaimana individu mempersepsi dan menilai berat badan dari sangat kurus sampai sangat gemuk.26
d. Dampak Citra Tubuh
Menurut Huebscher dampak negatif dari remaja memandang citra tubuhnya adalah sebagai berikut:27
1. Percaya diri rendah
Hubungan antara dewasa dengan teman sebaya dan keluarga dapat membantu dewasa memandang dirinya. Lebih lanjut Davidson dan McCabe mengungkapkan dewasa memiliki percaya diri rendah karena melihat dirinya tidak seperti teman sebayanya. Jika seorang dewasa berkembang lebih cepat dari pada temannya, bisa menyebabkan mereka merasa percaya diri rendah karena perubahan tubuhnya sedangkan teman sebayanya belum mengalami.
2. Gangguan makan
Dewasa dengan gangguan makan cenderung menampilkan pola interaksi dengan pasangan mereka, maksudnya mereka akan menirukan perilaku model masing- masing untuk menurunkan berat badannya.
26Ibid. Hlm. 25-26.
27 Ibid. Hlm. 26.
3. BDD (Body Dysmorphic Disorder)
BDD (Body Dysmorphic Disorder) merupakan bentuk gangguan mental yang mempersepsi tubuh dengan ide-ide bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam penampilan sehingga kekurangan itu membuatnya tidak menarik dan menyebabkan distres serta gangguan dalam fungsi kehidupan.28
e. Pandangan Islam Citra Tubuh
Dalam pandangan islam tentang citra tubuh adalah suatu perasaan pandangan serta persepsi seseorang terhadap fisik mereka sendiri baik itu rasa bangga, rasa puas, ataupun rasa kecewa bahkan rasa incruse terhadap dirinya sendiri yang ditimbulkan dari pemikiran mereka sendiri. Tidak dipungkiri seseorang sering sekali merasakan hal tersebut seperti melihat gaya tampilan mereka atau apapun yang terlihat di depan mata mereka yang dianggap dan rasa sangat tidak bagus bahkan mereka merasa itu adalah kekurangan.29
Dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 31 tubuh ideal adalah memiliki postur tubuh bagus dan berpenampilan yang rapih.
Adapun ayat tersebut berbunyi:
Artinya: “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan
28Ibid. Hlm. 26-27.
29 https//mahasiswaindonesia.id/body-image-dalam-pandangan-islam, di akses pada tanggal 25 oktober pukul 17:50.
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Q. S Al-A’raf ayat 31)30
Penjelasan dari ayat diatas adalah kita telah memahami pesan Allah SWT kepada anak-anak Adam As, dimana Allah telah menjelskan berbagai ayatnya sebagai berikut, wahai anak Adam, pakaian yang menutup dan menghiasi tubuh kalian sewaktu kalian melakukan tawaf.
3. Tinjauan Tentang Cognitive Behaviour Therapy a. Konsep Dasar Cognitive Behaviour Therapy
Cognitif Behavior Therapy (CBT) didasarkan pada konsep mengubah pikiran danperilaku negatif. Melalui Cognitif Behavior Therapy (CBT), konseli terlibat aktivitas dan berpartisipasi dalam training untuk diri dengan cara membuat keputusan, penguatan diri dan strategi lain yang mengacu pada self-regulation.31
Menurut Oemarjoedi Teori Cognitive-Behavior pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana
30 https//www.sahijab.com/tips-miliki-tubuh-ideal-dalam-ala-siti-aisyah, di akses pada tanggal 15 November 2020, pukul 18.33.
31Yahya AD dan Megalia, Pengaruh Konseling Cognitif Behavior Therapy (Cbt) dengan Teknik Self Control Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Peserta Didik Kelas Viii Di Smpn 9 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017, Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 03, No. 2 , 2016. Hlm. 189.
proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak”.32
Menurut Aaron T. Beck “Cognitif Behavior Therapy (CBT) sebagai pendekatan konseling yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan konseli pada saat dan perilaku yang menyimpang.
Konseling Cognitif Behavior Therapy (CBT) adalah model teoritis yang menghubungkan pikiran dengan emosi dan perilaku Proses konseling didasarkan pada konseptualisasi atau pemahaman konseli atas keyakinan khusus dan pola perilaku konseli. Harapan dari Cognitif Behavior Therapy (CBT) yaitu munculnya restrukturisasi kognitif yang menyimpang dan sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi dan perilaku ke arah yang lebih baik”.33
Berdasarkan paparan definisi mengenai Cognitif Behavior Therapy (CBT), maka Cognitif Behavior Therapy (CBT) adalah pendekatan konseling yang menitik beratkan pada pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. Konseling ini akan diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan
32 Dewi Khurun Aini, Penerapan Cognitive Behaviour Therapy dalam Mengembangkan Kepribadian Remaja di Panti Asuhan, JurnalIlmu Dakwah, Vol. 39, No. 1, 2019. Hlm, 76-77.
33Yahya AD dan Megalia, Pengaruh Konseling Cognitif Behavior Therapy (Cbt) dengan Teknik Self Control Untuk Mengurangi Perilaku Agresif Peserta Didik Kelas Viii Di Smpn 9 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017, Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 03, No. 2 , 2016. Hlm. 189.
menekankan otak sebagai penganalisa, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Tujuan dari Cognitif Behavior Therapy (CBT) yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah pikiran dan perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan Cognitif Behavior Therapy (CBT) diharapkan dapat membantu konseli dalam menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak.
b. Tujuan Konseling Cognitive-Behavior Therapy (CBT)
Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya”.34
Cognitif Behavior Therapy (CBT) dalam pelaksanaan konseling lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu. Cognitif Behavior Therapy (CBT) tetap menghargai masa lalu sebagai
34Ibid. Hlm, 189.
bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya, untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di waktu yang akan datang.
Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status kognitif irasional menjadi status kognitif rasional.
c. Aspek dalam Cognitive-Behavior Therapy(CBT)
Pada Cognitive Behavior Therapy, ada dua aspek yang akan ditawarkan kepada klien yaitu aspek kognitif dan aspek behavioral. Tentunya kedu hal ini memiliki tujuan yang berbeda, namun intinya yaitu untuk membuat klien menjadi lebih baik dari sebelumnya.
1. Aspek Kognitif
Dalam aspek kognitif ini, akan lebih ditekankan pada bagaimana klien dapat memiliki pola pemikiran yang berbeda.
Tak hanya pada pola pikir saja, namun juga pada sikap, imajinasi, serta asumsi yang berbeda. Klien juga diharapkan untuk mampu memfasilitasi diri dalam hal belajar untuk mengetahui kesalahan-kesalahan dalam aspek kognitif sehingga membuat klien dapat memperbaiki kesalahannya tersebut.
2. Aspek Behavioral
Aspek behavioral dalam terapi perilaku kognitif akan menjadi sebuah jembatan untuk klien yang digunakan untuk mengubah hubungan yang sudah menjadi kebiasaan yang salah dalam memperlihatkan reaksi permasalahan dengan realita yang ada dari kondisi tersebut. Klien juga akan dibimbing untuk belajar mengubah tingkah lakunya sendiri agar menjadi lebih positif dari sebelumnya. Terapi ini dapat menjadikanh klien menjadi tenang dan mampu mengendalikan tubuh serta pemikirannya sendiri. Sehingga lebih mudah untuk menghindari resiko stres karena klien akan mampu berpikir secara realistis.35
d. Teknik Cognitive Behavior Therapy
Adapun teknik yang sering digunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menggunakan cognitive behavior therapy yaitu:
1. Modifikasi Perilaku
Salah seorang tokoh yang banyak mebicarakan mengenai pendekatan kognitif behavior adalah Meichenbaum.
Ia terkenal dengan pengubahan perilaku kognitif (Cognitive Behavior Modification/CBM). Modifikasi perilaku sebagai
35http://dosenpsikologi.com/terapi-perilaku-kognitif, di akses pada tanggal 3 september 2020 pukul 09.00.
usaha untuk mengubah perilaku yang nyata dengan mengubah pikiran, interpretasi, dugaan dan strategi dalam memberikan respon. Karena saarannya lebih mengutamakan pada perubahan yang terjadi secara langsung terhadap perilaku yang nyata.
2. Teknik Terapi Kognitif
Terapis dengan pendekatan kognitif mengajar pasien atau klien agar berfikir lebih relistik dan sesuai sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau mengurangi gejala berkelainan yang ada.Burns mengungkapkan bahwa perasaan individu yang sering dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan individu mengenai dirinya sendiri. Pikiran individu tersebut belum tentu merupakan suatu pemikiran yang objektif mengenai keadaan yang dialami sebenarnya. Penyimpangan proses kognitif juga disebut dengan distorsi kognitif. Reaksi emosional tidak menyenangkan yang dialami individu dapat digunakan sebagai tanda bahwa apa yang dipikirkan mengenai dirinya sendiri mungkin tidak rasional, untuk selanjutnya individu belajar membangun pikiran yang objektif dan rasional terhadap peristiwa yang dialami.36
36https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-terapi-perilaku-kognitif-atau- cognitive-behavioral-therapy/117574/3, di akses pada tanggal 20 November 2020, pukul 08.31.
3. Teknik Relaksasi
Relaksasi merupakan keadaan pada mana seseorang berada dalam keadaan tenang, tidak sebaliknya yakni misalnya tegang atau bergelora. Teknik relaksasi yang dilakukanoleh Wolpe yaitu memodifikasikn teknik yang lebih pendek, lebih sederhana dan lebih mudah dilakukan. Dalam perkembangannya lebih lanjut, teknik latihan relaksasi progresif dipakai sebagai teknik tersendiri. Latihan relaksasi progresif dipakai untuk menghadapi pasien atau klien dengan masalah kecemasan umum dan kronis, pasien atau klien diajarkan untuk bisa melakukan sendiri self help dengan mempergunakan alat “Biofeedback” agar pasien atau klien mengetahui saat-saat relaksasi.
4. Teknik Latihan Assertif/Latihan Perilaku Keterampilan Sosial Menurut Alberti dalam buku Singgih D Gunarsa bahwa latihan keterampilan sosial adalah prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat dan haknya. Prosedurnya yaitu:
a) Latihan keterampilan, perilaku verbal maupun nonverbal diajarkan, dilatih dan diintegrasikan kedalam rangkaian perilakunya. Teknik untuk melakukan ini adalah peniruan
dengan contoh modeling, umpan balik secara sistematik, tugas pekerjaan rumah, latihan-latihan khusu antara lain melalui permainan
b) Mengurangi kecemasan, yang diperoleh secara langsung sebagai hasil tambahan dari latihan keterampilan teknik untuk melakukan hal ini antara lain dengan pendekatan tradisonal untuk pengebalan, baik melalui imajinasi maupun keadaan actual.
c) Menstruktur kembali aspek kognitif, nilai-nilai, kepercayaan, sikap yang membatasi ekspresi diri pada klien, diubah oleh pemahaman dan hal-hal yang dicapai oleh perilakunya. Teknik melakukan hal ini meliputi penyajian didaktif tentang hak-hak manusia, kondisioning sosial, uraian nila-nilai dan pengambilan keputusan.37 e. Tahap Pelaksanaan CBT
Tahapan menurut Meichenbaum, Haaga, dan Davison konselor kognitif behavior biasanya akan menggunakan berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan kesepakatan perilaku sasaran dengan klien, teknik yang biasanya digunakan yaitu:38
1. Menata keyakinan irasoinal.
37 Singgah D. Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: Libri, 2011). Hlm, 216-217.
38 John Mc. Leod, Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus, (Jakarta: Kencana, 2016).
Hlm, 157-158.
2. Membingkai kembali isu, misalnya menerina kondisi emosional internal sebagai sesuatu yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan.
3. Mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam role play dengan konselor.
4. Mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri yang berbeda dalam situasi ril.
5. Mengukur perasaan, misalnya dengan mengukur perasaan cemas yang dialami pada saat ini skala 0-100.
6. Menghentikan pikiran, jetimbang membiarkan pikiran cemas atau obsesional “mengambil alih”, lebih baik klien belajar untuk menghentikan mereka dengan cara seperti menyabetkan karet kepergelangan tangan.
7. Desensitization systematik. Digantinya respons takut dan cemas dengan respon relaksasi yang telah dipelajari. Konselor membawa klien melewati tingkatan hierarki situasi untuk melenyapkan rasa takut.
8. Pelatihan keterampilan sosial atau asertifikasi.
9. Penugasan rumah. Memperaktikan perilaku baru dan strategi kognitif antara sesi terapi.
10. In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah dengan memasuki situasi tersebut.
Strategi utama dalam memberikan cognitive behavior therapi yaitu mengubah pemikiran dan keyakinan irasionalnya dengan pemikiran dan kayakinan rasional yang lebih sehat dan positif. Selanjutnya dihadapkan langsung ada situasi yang membuatnya tidak nyaman (exposure), dan terakhir menambahkan dengan keterampilan-keterampilan sosial.39 G. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian kualitatif yaitu penganut aliran fenomenologis, yang menitik beratkan kegiatan penelitian ilmiahnya dengan jalan penguraian (deskribing) dan pemahaman (understanding) terhadap gejala-gejala sosial yang diamatinya. Pemahaman bukan hanya dari sudut penelitian tetapi yang lebih penting yaitu pemahaman terhadap gejala dan fakta yang diamati berdasarkan sudut pandang subjek yang diteliti.40
Menurut Creswell dalam Conny metode, penelitian kualitatif yaitu sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral. Untuk memahami gejala sentral penelitian melakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan yang umum dan lebih luas. Informasi yang di dapatkan dari hasil wawancara dikumpulkan baik berupa audio ataupun teks dan dianalisis, dari hasil analisis tersebut
39 Adib Ansori, Terapi Kognitif Perilaku untuk Mengatasi Gangguan Kecemasan Sosial, Vol. 3, Nomor. 01, Januari 2015. Hlm, 90.
40 Hardani dkk, Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2020), hlm. 39.
penelitian mengintrepertasikan untuk mendapatkan arti yang mendalam, selanjutnya peneliti melakukan self-reflection dan menguraikan secara rinci degan penelitian sebelumnya.41 Sedangkan dalam metode penelitian yang digunakan peneliti ini adalah metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Jadi adapun pembahasan yang lebih jelas terkait dari metode penelitian, yang telah digunakan oleh peneliti dan lain sebagainya yang akan dipaprkan sebagai berikut:
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu metode penelitian kualitatif. Jadi dalam penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mengumpulkan data tentang stres terhadap citra tubuh penanganan melalui cognitive behavior therapy (studi kasus pada Mahasiswi Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Prodi Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Mataram).
Dalam penelitian ini pendekatan yang peneliti gunakan yaitu pendekatan deskriptif melakukan analisa hanya sampai pada taraf deskripsi, dalah menganalisis dan menyajikan data secara sistematik sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan.42 Penelitian ini langsung mengumpulkan data dengan cara melakukan observasi,
41 Conny R. Semiawan, Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik, dan Keunggulannya, (Jakarta: Grasindo, 2010), h. 7.
42 Saidun Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2014), hlm. 6.
wawancara, dan dokumentasi, data yang yang telah dikumpulkan yaitu bentuk data kualitatif bukan berbentuk dari data kuantitatif.
2. Kehadiran peneliti
Peneliti yang menggunakan metode kualitatif kehadiran peneliti dilapangan peneliti mutlak diperlukan, karena peneliti berfungsi sebagai instrumen kunci. “pengertian instrumen disini, penelitian yang menjadi alat dari keseluruhan proses penelitian, peneliti sebagai perencana, pengumpul data, penafsir data, sekaligus sebagai pelapor dari hasil penelitian”.43
Jadi peneliti ini sebagai sumber instrumen tunggal atau human instrumen dengan cara melakukan akan terjun langsung di lapangan atau observasi partisipatif. Dalam penelitian ini yang akan menjadi sumber peneliti unruk menghasilkan data dan informasi pada konseli yang bersangkutan tersebut.
3. Sumber data
Sumber data atau subyek penelitian dalam penelitian adalah
“subyek dimana data diperoleh, yang dimaksud dengan subyek disini yaitu bisa berupa informasi, situasi atau kejadian dan waktu”.44 Sumber data yang telah di dapatkan dari penelitian ini yaitu anggota
43Ibid, hlm. 67.
44 Arikunto Suharsimi, “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek”, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991), Hlm. 102.
Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiyah Prodi BKI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram.
Jenis-jenis penelitian dibedakan berdasarkan data yang diperlukan secara umum dibagi menjadi dua, yaitu penelitian primer dan penelitian sekunder.45
a. Data primer
Pada penelitian primer sangat membutuhkan data atau informasi dari sumber pertama biasanya disebut dengan responden. Data atau observasi yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Adapun yang akan menjadi subjek penelitian yaitu mahasiswi dari lembaga Lab Konseling dan Psikologi Al- Tazkiyah, nama subjek dan umur subjek yaitu: 1) Asmawati umur 22, 1) Astuti Maysa 22 tahun, 3) Baiq Leni Perimawati umur 22 tahun, 4) Marefa Pua Stori umur 22 tahun, 5) Khuriatun Thoyiban umur 22 tahun, 6) Rizky Dwi Afifah umur 20 tahun, yang akan menjadi data primer pada penelitian ini, kriteria mahasiswi yang memiliki stres terhadap citra tubuh yaitu kecemasan atau takut akan gemuk, merasa kecewa, makan yang berlebihan, kurang tidur, dan selalu berpikir negatif tentang diri sendiri.
45 Onathan Sarwono, “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif”, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006). Hlm. 16.
b. Data sekunder
Penelitian sekunder menggunakan bahan yang bukan dari sumber pertama sebagai sarana untuk memperoleh data atau informasi untuk menjawab masalah yang diteliti. Penelitian ini juga dikenal dengan penelitian yang menggunakan studi kepustakaan dan yang biasanya digunakan oleh para peneliti yang menganut faham pendekatan kualitatif. Adapun yang menjadi data sekunder atau data pendukung adanya dokumentasinya.
Dalam penelitian ini sumber dan jenis data ditentukan secara purposive sampling, adalah salah satu teknik pengambilan sampel yang sering digunakan dalam penelitian. Secara bahasa, kata purposive berarti sengaja, jadi kalau sederhanaya purposive sampling berarti teknik pengambilan sampel yang diambil karena ada pertimbangan tertentu. Jadi, sampel diambil tidak secara acak, tapi ditentukan oleh peneliti, yang dimana dalam purposive sampling ini peneliti akan meneliti mahasiswi BKI UIN Mataram yaitu yang ditentukan secara purposive sampling dengan pertimbangan tercapainya tujuan penelitian.46
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data yang untuk keperluan penelitian, bahkan menjadi sebuah keharusan bagi
46 Joko Subagyo, “Metode Penelitian Kualitatif dalam Teori dan Praktek”, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2011), hlm. 31.
peneliti dalam melakukan penelitian. Adapun metode-metode yang akan dibahas sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Metode obsevasi merupakan pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematik mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.47 Disisi lain katakan bahwa metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan sebagai sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.48 Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan secara sistematis, Poerwandari berpendapat bahwa observasi merupakan metode yang paling dasar dan paling tua, dengan cara-cara tertentu kita selalu teribat dalam proses mengamati.49
b. Metode Interview (Wawancara)
Metode Interview atau Wawancara adalah metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek atau responden. Wawancara yaitu suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan
47 Subagyo, “Metodologi Penelitian Pendidikan”, (Bandung , Rineka Cipta, 1999), hlm.
63.
48 Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya, Pt. Sic, 2001), hlm. 99.
49 Imam Gunawan, Metode Penelelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), hlm. 143.
merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik.50
a. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menelusuri data historis.51 Dokumentasi adalah laporan yang untuk menelusuri peristiwa terdiri dalam penjelasan atau pikiran tersebut.
5. Analisis Data
Dalam analisis data ini penelitian menggunakan analisis data kualitatif Bogdan dan Biklen adalah upaya yang dilakukan peneliti dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistematiskannya, mencari dan menemukan pola, menentukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.52
Jadi pada penelitian ini, data yang akan diperoleh yaitu data tentang stres terhadap citra tubuh dan penanganan melalui Cognitive Behavior Therapy pada mahasiswi prodi Bimbingan dan Konseling
50 Muhammad Kasim, “Tinjauan Ekonomi Islam Tentang Mekanisme Bagi Hasil antara Pemilik Kapal dan Nelayan di Desa Nuca Molas Kecamatan Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai Profinsi Nusa Tenggara Timur”, Skripsi, (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram, Mataram, 2019), hlm 23.
51 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Surya Kencana, 2007), hlm. 121.
52Ibid, hlm. 248.