BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN
2.2.10 Penatalaksanaan
Menurut Nurarif (2015) Penanganan Gout Arthritis biasanya dibagi menjadipenanganan serangan Akut dan penanganan serangan Kronis. Ada 3 tahapan dalam terapi penyakit ini :
1) Mengatasi serangan Gout Arthtitis Akut.
2) Mengurangi kadar Asam Urat untuk mencegah penimbunan Kristal Urat 3) pada jaringan, terutama persendian.
4) Terapi mencegah menggunakan terapi Hipourisemik.
2.2.10.1 Terapi Non Farmakologi
Terapi non-farmakologi merupakan strategi esensial dalam penanganan GoutArthritis, seperti istirahat yang cukup, menggunakan kompres hangat, modifikasi diet, mengurangi asupan alkohol dan menurunkan berat badan.
2.2.10.2 Terapi Farmakologi
Penanganan Gout Arthritis dibagi menjadi penanganan serangan akut dan penanganan serangan kronis.
1) Serangan Akut
Istirahat dan terapi cepat dengan pemberian NSAID, misalnya Indometasin 200 mg/hari atau Diklofenak 150 mg/hari, merupakan terapi lini pertama dalammenangani serangan Gout Arthritis Akut, asalkan tidak ada kontra indikasi terhadap NSAID. Aspirin harus dihindari karena eksresi Aspirin berkompetisi
dengan Asam Urat dan dapat memperparah serangan Gout Arthritis Akut. Obat yang menurunkan kadar Asam Urat serum (Allopurinol
dan obat Urikosurikseperti Probenesid dan Sulfinpirazon) tidak boleh digunakan pada serangan Akut (Nurarif, 2015).
2) Serangan Kronis
Kontrol jangka panjang Hiperurisemia merupakan faktor penting untuk mencegah terjadinya serangan Gout Arthritis Akut, Gout Tophaceous Kronis, keterlibatan ginjal dan pembentukan batu Asam Urat. Kapan mulai diberikan obat penurun kadar Asam Urat masih kontroversi. Penggunaan Allopurinol, Urikourik dan Feboxostat (sedang dalam pengembangan) untuk terapi Gout Arthritis Kronisakan dijelaskan berikut ini:
(1) Allopurinol; Obat Hipourisemik, pilihan untuk Gout Arthritis Kronis adalah Allopurinol. Selain mengontrol gejala, obat ini juga melindungi fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan produksi Asam Urat dengan cara menghambat Enzim Xantin Oksidase.
Dosis pada klien dengan fungsi ginjal normal dosis awal Allopurinol tidak boleh melebihi 300 mg/24 jam. Respon terhadap Allopurinol dapat terlihat sebagai penurunan kadar Asam Urat dalam serum pada 2 hari setelah terapi dimulai dan maksimum setelah 7-10 hari. Kadar Asam Urat dalam serum harus dicek setelah 2-3 minggu penggunaan Allopurinol untuk meyakinkan turunnya kadar Asam Urat.
(2) Obat Urikosurik; kebanyakan klien dengan Hiperurisemia yang sedikit mengekskresikan Asam Urat dapat diterapi dengan obat Urikosurik. Urikosurik seperti Probenesid (500mg-1 g 2x/hari)
dan Sulfinpirazon (100mg 3-4 kali/hari) merupakan alternative Allopurinol. Urikosurik harus dihindari pada klien Nefropati Urat yang memproduksi Asam Urat berlebihan. Obat ini tidak efektif pada klien dengan fungsi ginjal yang buruk (Klirens Kreatinin
<20-30 ml/menit). Sekitar 5% klien yang menggunakan Probenesid jangka lama mengalami mual, nyeri ulu hati, kembung atau konstipasi (Nurarif, 2015
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan 2.3.1 Pengkajian
Setiadi (2008), Menyatakan bahwa Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana seorang perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang dibinanya. Tahap pengkajian ini merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan keluarga.
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan, kemudian dalam mengkaji harus memperhatikan data dasar dari klien, untuk informasi yang diharapakan dari klien (Iqbal dkk, 2011). Dasar pemikiran dari pengkajian adalah suatu perbandingan, ukuran atau penilaian mengenahi keadaan keluarga dengan menggunakan norma, nilai, prinsip, aturan, harapan, teori, dan konsep yang berkaitan dengan permasalahan.
2.3.1.1 Pengumpulan Data 1) Identitas
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan dan pekerjaan.
Pada umumnya serangan Gout yang terjadi pada laki-laki mulai dari
usia pubertas hingga usia 40-69 tahun, sedangkan pada wanita serangan Goutterjadi pada usia lebih tua dari laki-laki, biasanya terjadi pada saat Monopause.
2) Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga
(1) Kebiasaan perilaku yang mempengaruhi kesehatan
Seringkali para penderita Asam Urat mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi Purin seperti : udang, cumi , kerang , kepiting, ikan teri, dan juga mengkonsumsi alcohol. Akibat langsung dari pembentukan asam urat yang berlebih atau akibat penurunan ekskresi asam urat. Resiko terjadinya asam urat dapat di cegah dengan memperhatikan jenis makanan serta frekuensi makanan yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang rendah purin dan tidak terlalu sering mengkonsumsi makanan tinggi purin agar kadar asam urat di dalam darah tidak meningkat.
(2) Pemanfaatan fasilitas Kesehatan
Keluarga sebagai tempat pendidikan utama dan tempat membina hubungan interpersonal dengan lingkungan, keluarga merupakan titik sentral pelayanan kesehatan. Agar pelayanan kesehatan yang di berikan dapat di terima oleh keluarga, maka perawat harus mengerti dan memahami tipe dan srtuktur keluarga serta mengetahui tingkat pencapaian keluarga dalam melaksanakan fungsinya (Muhlisin, 2012).
(3) Pengobatan Tradisional
Penderita Asam urat seringkali mengalami nyeri dan pembengkakan pada bagian tubuhnya, keluarga bisa memanfaatkan Jahe yang merupakan tanaman herbal dapat meredakan nyeri akibat peradangan
pada penderita Asam Urat. Caranya, parut jahe segar lalu campurkan dengan air panas. Kemudian rendam handuk, kompres ke area tubuh yang terasa nyeri.
3) Status Sosial Ekonomi (1) Pendidikan
Pendidikan tentang kesehatan merupakan proses perubahan perilaku individu secara dinamis, peran keluarga sangat penting untuk pemberian pendidikan kesehatan asam urat terhadap pengetahuan dan sikap penderita Asam Urat.
(2) Pekerjaan dan Penghasilan
Menurut Kartono (2008) social ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluarga di masyarakat berdasarkan pendapatan per bulan. Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang di sesuaikan dengan harga barang pokok.
(3) Tingkat Perkembangan dan riwayat keluarga
Kerangka perkembangan keluarga menurut Evelyn Duvall memberikan pedoman untuk memeriksa serta menganalisis perubahan dan perkembangan tugas-tugas dasar yang ada dalam keluarga selama siklus kehidupan mereka. Tingkat perkembangan keluarga di tandai oleh usia anak yang tertua.
(4) Aktifitas
Salah satu factor yang dapat mempengaruhi kadar asam urat adalah aktivitas fisik. Aktivitas yang dilakukan oleh manusia berkaitan dengan kadar asam urat yang terdapat dalam darah. Aktivitas fisik seperti olah raga atau gerakan fisik dapat menurunkan ekskresi asam urat dan
meningkatkan produksi asam laktat dalam tubuh. (Andry, Saryono dan Upoyo, 2009).
(5) Data Lingkungan (1))Karakteristik Rumah
Ukuran rumah (luas rumah), kondisi dalam dan luar rumah, kebersihan rumah, ventilasi rumah, saluran pembuangan air limbah, air bersih, pengelolaan sampah, kepemilikan rumah, kamar mandi/WC, denah rumah.
(2)) Karakteristik Lingkungan
Lingkungan merupakan semua obyek baik berupa benda hidup tidak hidup yang ada disekitar dimana orang berada. Dalam hal ini lingkungan sangat berperan dalam kepatuhan klien menjalani diet, jika lingkungan mendukung penderita asam urat akan patuh terhadap dietnya. Salah satu bentuk lingkungan adalah lingkungan biofisis dan lingkungan psikososial (Slamet, 2004).
(6) Struktur Keluarga (1)) Pola Komunikasi
Pola komunikasi merupakan suatu system penyampaian pesan melalui lambing tertentu, mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku indivdu lain.
Komunikasi dalam suatu keluarga mencerminkan peran dan hubungan antara anggota keluarga. (Friedman,2010).
(2)) Struktur Kekuasaan
Kekuasaan keluarga sebagai karakteristik system keluarga adalah kemampuan atau potensial, actual dari individu anggota keluarga yang lain
(3)) Struktur Peran
Peran adalah perilaku yang dikaitkan dengan seseorang yang memegang sebuah posisi tertentu, posisi mengidentifikasi status atau tempat seseorang dalam suatu system social.
(7) Fungsi Keluarga (1)) Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun untuk berkelanjutan unit keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting. Peran utama orang dewasa dalam keluarga adalah fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan persepsi keluarga dan kepedulian terhadap kebutuhan sosioemosional semua anggot keluarganya.
(2)) Fungsi Sosialisasi
Fungsi Sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan yang di lalui individu yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga (Friedman, 1998).
(3)) Fungsi Kesehatan
Adalah untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.
Sedangkan tugas-tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan (Friedman, 1998) adalah :
(1))) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya,
(2))) Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat,
(3))) Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit,
(4))) Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggoga keluarganya,
(5))) Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dengan fasilitas kesehatan.
(8) Pola Istirahat dan Tidur
Pada penderita Asam Urat ia tidak merasakan gejala apapun saat tidur, tetapi saat bangun tidur akan merasakan nyeri yang hebat akibat asam urat. Karena itu lebih baik istirahat, jika seseorang yang sedang sakit memerlukan lebih banyak
istirahat dan tidur dibandingkan pada umumnya. Ketika seseorang kurang istirahat, mereka mudah marah, tertekn, dan lelah, serta mereka kesusahan untuk mengendalikan emosi mereka (Kozier, 2004).
(9) Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga
Pemeriksaan Fisik Keluarga, menjelaskan tentang pemeriksaan fisik oleh seluruh angota keluarga meliputi (ayah, ibu, anak 1, anak 2, dan anggota keluarga yang lain), pemeriksaan fisik keluarga bersifat head to toe:
(1) Keadaan Umum, biasanya klien dengan asam urat cenderung lemah
(2) Kesadaran, composmentis (3) TTV :
(1)) Tekanan darah 120/80 mmHg (2)) Nadi 60-100 x/menit
(3)) Pernafasan 12-20 x/menit (4)) Suhu 36,5-37,5 C (4) Kepala
(1)) Rambut : persebaran rambut merata, tidak ada kebotakan, warna rambut hitam
(2)) Mata : pupil isokor, tidak memakai alat bantu, tidak anemis
(3)) Hidung : simetris, tidak keluar cairan, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan
(4)) Mulut : tidak sumbing, bibir simetris, tidak ada susah menelan, gigi tidak caries, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
(5) Dada/Thorax
(1)) Inspeksi : dada simetris, tidak ada reraksi otot bantu nafas, tidak terjadi sesak nafas, pola nafas teratur tidak menggunkan alat bantu afas
(2)) Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus sama (3)) Perkusi : sonor
(4)) Auskultasi : suara nafas reguler, tidak ada suara nafas tambahan seperti wheezing dan ronchi
(6) Perut/Abdomen
(1)) Inspeksi : tidak distensi abdomen
(2)) Palpasi : tidk ada nyeri tekan, tidak kembung (3)) Perkusi : normalnya timpany
(4)) Auskultasi : normal bising usus 5-35 x/menit (7) Genetalia/Anus
(1)) Inspeksi : tidak ada keluar cairan, tidak ada benjolan (2)) Palpasi : tidak ada nyeri tekan
(8) Ekstermitas
(1)) Inspeksi : biasanya terdapat edema di daerah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan pada penderita asam urat
(2)) Palpasi : akral hangat, pada penderita asam urat biasanya mengeluh nyeri pada daerah yang terkena asam urat.
(10) Koping Keluarga
Perawat mempunyai peran dalam membantu mengarahan strategi koping keluarga kearah yang postif, memberikan dukungan kepada keluarga dengan cara memotivasi, mengedukasi, dan mengevaluasi cara perawatan keluarga di rumah pada saat home visite.
2.3.2 Diagnosa keperawatan keluarga dengan penderita Asam Urat, yaitu:
2.3.2.1 Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang informasi tentang proses penyakit dan pengobatan 2.3.2.2 Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
2.3.2.3 Ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menggunakan sumber daya di masyarakat guna memelihara kesehatan 2.3.2.4 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, strategi koping tidak efektif
2.3.3 Rencana Tindakan Keperawatan Keluarga
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatanyang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. (Iqbal dkk,2011).
2.3.3.1 Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang informasi tentang proses penyakit dan pengobatan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan rumah, diharapkan keluarga mampu meningkatkan koping terkait dengan penyakit anggota keluarganya.
Kriteria Hasil :
(1) Menyatakan penerimaan terhadap situasi.
(2) Mau ikutserta dalam pembuatan keputusan terhadap tindakan perawatan.
(3) Mau ikutserta dalam proses manajemen pengobatan.
(4) Menyatakan butuh bantuan untuk pengelolaan perawatan.
(5) Menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan semua anggota keluarga.
(6) Berbagi tanggung jawab untuk tugas-tugas keluarga.
Intervensi :
(1) Bina hubungan saling percaya.
Rasional: Untuk menjalin keterikatan antara perawat dengan keluarga.
(2) Identifikasi kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan.
Rasional: Untuk mengetahui kemampuan keluarga dalam penyelesaian masalah kesehatan pada anggota keluarganya.
(3) Identifikasi harapan anggota keluarga terhadap kondisi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Rasional: Untuk mengetahui outcome yang diinginkan oleh keluarga terkait dengan kondisi kesehatan anggota keluarganya yang mengalami masalah kesehatan.
(4) Dorong anggota keluarga dan penderita asam urat untuk membantu dalam mengembangkan rencana perawatan, termasuk hasil yang diharapkan dan pelaksanaan rencana perawatan Rasional: Lebih mengarahkan keluarga untuk memaksimalkan pemberdayaan keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan anggota keluarganya.
(5) Monitor keterlibatan keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Rasional: Guna mengetahui tingkat keterlibatan keluarga dalam proses perawatan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
(6) Bantu anggota keluarga berkomunikasi dengan lebih efektif.
Rasional: Dengan komunikasi yang efektif, proses perawatan akan jauh lebih baik dalam pencapaian hasilnya.
(7) Bantu anggota keluarga mengklarifikasi apa yang mereka butuhkan dan harapan satu sama lainnya.
Rasional: Dengan mengetahui kebutuhan dan harapan setiap anggota keluarga diharapkan adanya sikap mendukung dalam proses pengobatan yang harus dijalani.
(8) Berikan informasi/ penyuluhan kesehatan terkait dengan kondisi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan serta proses
pengobatannya sesuai dengan keinginan penderita asam urat dan keluarganya.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan terkait proses penyakit dan pengobatannya.
(9) Fasilitasi pemahaman aspek medis penderita asam urat pada anggota keluarga yang lainnya.
Rasional: Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk/ komplikasi terkait dengan kondisi penderita asam urat saat ini.
(10) Fasilitasi manajemen aspek medis penyakit dengan anggota keluarga.
Rasional: Untuk membantu keluarga dan penderita asam urat dalam mengendalikan perkembangan penyakitnya.
2.3.3.2 Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan rumah, diharapkan keluarga dan anggota keluarga yang menderita asam urat mengetahui tentang proses penyakitnya dan pengobatan yang harus dijalani.
Kriteria Hasil :
(1) Mampu mengidentifikasi dan mengontrol kondisinya.
(2) Adanya peningkatan kepatuhan dalam pelaksanaan proses perawatan.
(3) Rutin melakukan pemantauan kesehatannya.
(4) Melakukan aktivitas yang disarankan untuk meningkatkan kesehatannya
Intervensi :
(1) Berikan informasi terkait dengan kondisi anggota keluarga yang menderita asam urat tentang pengertian, penyebab, tanda gejala, komplikasi, serta penanganannya
Rasional : Meningkatkan pengetahuan terkait proses penyakit dan penanganannya
(2) Identifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan
Rasional : Meningkatkan kesiapan perawatan anggota keluarga yang mengalami asam urat.
(3) Dorong sikap emosi yang sehat dalam mengatasi masalah keluarga Rasional : Untuk mengontrol sikap keluarga dalam menghadapi masalah yang di derita anggota keluarga yang sakit
(4) Beri penjelasan tentang keuntungan mengenal masalah-masalah kesehatan
Rasional : Informasi yang factual dan sesuai kebutuhan akan membantu keluarga dan penderita asam urat untuk memahami kondisi dan proses pengobatan yang harus dijalani.
2.3.3.3 Ketidakpatuhan berhubungan dengan hambatan finansial, kurangnya keterampilan untuk melakukan pengobatan, kurangnya keterlibatan anggota keluarga dalam rencana kesehatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan rumah, diharapkan keluarga akan mengalami peningkatan dalam kepatuhan terhadap proses pengobatan.
Kriteria hasil :
(1) Keluarga/ penderita asam urat mampu memahami rejimen pengobatan seperti yang disarankan oleh tenaga kesehatan.
(2) Keluarga/ penderita asam urat melakukan aktivitas keseharian yang telah ditetapkan bersama dengan tenaga kesehatan.
Intervensi :
(1) Bina hubungan saling percaya.
Rasional: Untuk menjalin keterikatan antara perawat dengan keluarga.
(2) Sediakan informasi factual yang tepat dan sesuai kebutuhan.
Rasional: Informasi yang factual dan sesuai kebutuhan akan membantu keluarga dan penderita asam urat untuk memahami kondisi dan proses pengobatan yang harus dijalani.
(3) Bantu penderita asam urat dan keluarga untuk mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan kondisi kesehatan anggota keluarganya (penderita asam urat).
Rasional: Dengan mengetahui masalah yang ada diharapkan keluarga dan penderita asam urat lebih memperhatikan masalah yang ada.
2.3.3.4 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, strategi koping tidak efektif
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dua kali kunjungan rumah diharapkan adanya proses pemeriharaan kesehatan lebih efektif dalam merawat anggota keluarga yang sakit.
Kriteria hasil :
(1) Keluarga mengetahui tentang diit apa saja yang harus dijalani (2) Meningkatkan kepatuhan dalam pemeliharaan kesehatan.
(3) Rutin melakukan pemantauan kesehatannya.
(4) Melakukan aktivitas yang disarankan untuk meningkatkan kesehatannya
Intervensi :
(1) Sediakan informasi factual yang tepat dan sesuai kebutuhan Rasional: Informasi yang factual dan sesuai kebutuhan akan membantu keluarga dan penderita asam urat untuk memahami kondisi dan proses pengobatan yang harus dijalani.
(2) Fasilitasi pemahaman aspek medis penderita asam urat pada anggota keluarga yang lainnya.
Rasional: Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk/ komplikasi terkait dengan kondisi penderita asam urat saat ini.
(3) Fasilitasi manajemen aspek medis penyakit dengan anggota keluarga.
Rasional: Untuk membantu keluarga dan penderita asam urat dalam mengendalikan perkembangan penyakitnya.
2.3.4 Implementasi Keperawatan
2.3.4.1 Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang informasi tentang proses penyakit dan pengobatan Implementasi :
(1) Membina hubungan saling percaya.
(2) Mengidentifikasi kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan.
(3) Mengidentifikasi harapan anggota keluarga terhadap kondisi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
(4) Mendorong anggota keluarga dan penderita asam urat untuk membantu dalam mengembangkan rencana perawatan, termasuk hasil yang diharapkan dan pelaksanaan rencana perawatan.
(5) Memonitor keterlibatan keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
(6) Membantu anggota keluarga berkomunikasi dengan lebih efektif.
(7) Membantu anggota keluarga mengklarifikasi apa yang mereka butuhkan dan harapan satu sama lainnya.
(8) Memberikan informasi/ penyuluhan kesehatan terkait dengan kondisi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan serta proses pengobatannya sesuai dengan keinginan penderita asam urat dan keluarganya.
(9) Memfasilitasi pemahaman aspek medis penderita asam urat pada anggota keluarga yang lainnya. Memfasilitasi manajemen aspek medis penyakit dengan anggota keluarga
2.3.4.2 Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Implementasi :
(1) Memberikan informasi teekait dengan kondisi anggota keluarga yang menderita asam urat tentang pengertian, penyebab, tanda gejala, komplikasi, serta penanganannya
(2) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan (3) Mendorong sikap emosi yang sehat dalam mengatasi masalah
keluarga
2.3.4.3 Ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menggunakan sumber daya di masyarakat guna memelihara kesehatan Implementasi :
(1) Membina hubungan saling percaya.
(2) Menyediakan informasi factual yang tepat dan sesuai kebutuhan.
(3) Membantu penderita asam urat dan keluarga untuk mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan kondisi kesehatan anggota keluarganya (penderitaasam urat).
2.3.4.4 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, strategi koping tidak efektif, memodifikasi lingkungan.
Implementasi :
(1) Membina hubungan saling percaya
(2) Menyediakan informasi factual yang tepat dan sesuai kebutuhan (3) Memfasilitasi pemahaman aspek medis penderita asam urat pada
anggota keluarga yang lainnya.
(4) Memfasilitasi manajemen aspek medis penyakit dengan anggota keluarga.
2.3.5 Evaluasi Keperawatan
2.3.5.1 Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang informasi tentang proses penyakit dan pengobatan Evaluasi :
(1) Keluarga menyatakan penerimaan terhadap situasi.
(2) Keluarga menunjukkan kemauannya dalam pembuatan keputusan terhadap tindakan perawatan.
(3) Keluarga mau ikutserta dalam proses manajemen pengobatan.
(4) Keluarga menyatakan butuh bantuan untuk pengelolaan perawatan.
(5) Keluarga menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan semua anggota keluarga.
(6) Keluarga mau berbagi tanggung jawab untuk tugas-tugas keluarga.
2.3.5.2 Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Evaluasi :
1) Keluarga dapat mengatakan penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan penyakit asam urat
2) Keluarga dapat mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan
3) Keluarga mau mendorong sikap emosi yang sehat dalam mengatasi masalah keluarga
4) Keluarga mau menjelaskan tentang keuntungan mengenal masalah kesehatan
2.3.5.3 Ketidakpatuhan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menggunakan sumber daya di masyarakat guna memelihara kesehatan Evaluasi :
(1) Keluarga/ penderita asam urat mampu untuk melakukan rejimen pengobatan seperti yang disarankan oleh tenaga kesehatan.
(2) Keluarga/ penderita asam urat melakukan aktivitas keseharian yang telah ditetapkan bersama dengan tenaga kesehatan.
2.3.5.4 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, strategi koping tidak efektif
Evaluasi :
(1) Keluarga kooperatif
(2) Meningkatkan kepatuhan dalam pemeliharaan kesehatan.
(3) Rutin melakukan pemantauan kesehatannya.
(4) Melakukan aktivitas yang disarankan untuk meningkatkan kesehatannya.
Adanya rasa penerimaan
kurang Ketidakmam
puan koping keluarga Keluarga sering mengingatkan untuk
minum obat dan pantangan Belum pernah mendapatkan
informasi tentang masalah kesehatan anggota keluarga Sudah mendapatkan
informasi tentang masalah kesehatan
anggota keluarga
Ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan
Klien yang sakit tidak mau mematuhi/
mengikuti pantangan/ pengobatan yang harus diikuti
Makanan tidak dipisahkan
Kurangnya pengetahuan tentang penyakit Faktor Genentik, Lingkungan (diet tinggi purin, alkohol, obesitas), penyakit ginjal
Gangguan metabolisme
Kemampuan eksresi asam urat terganggu/menurun Asam urat dalam serum meningkat (hiperuresemia)
Terapi : obat, pengaturan diet, latian fisik
Memelihara, modifikasi lingkungan rumah yang
sehat
Kurang informasi
Menggunakan fasilitas/
pelayanan kesehatan dimasyarakat Merawat
anggota keluarga yang sakit Mengambil
keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat Mengetahui
masalah kesehatanan
anggota keluarganya
Tugas keluarga pada kesehatan
Ketidakpatuhan Melakukan Pengobatan 2.2.6 Kerangka Masalah
(NURARIF & KUSUMA,2015)
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
Data diambil pada tanggal 05 Maret 2021 pukul 16.00 WIB dirumah Tn.F di desa kalitengah tanggulangin Sidoarjo
3.1.1 Data Umum Keluarga
1. Nama Kepala Keluarga : Tn.F 2. Usia : 53 Tahun
3. Agama : Islam 4. Pendidikan : SMA
5. Pekerjaan : Pegawai PT Pos Indonesia 6. Suku/ Bangsa : Indonesia
7. Alamat : Perumahan Tanggulangin Asri Blok YY.14 Sidoarjo 8. Komposisi Keluarga :
Tabel 3.1 Komposisi Keluarga No Nama Usia Jenis
Kelamin
Tanggal Lahir
Pendidik an
Pekerjaan Keterangan 1. Tn.F 53
th
LK 11 Okober 1967
SMA Pegawai Ayah
Ny.Z 52 th
PR 26 Juni 1968
SMA Ibu Rumah Tangga
Ibu
3. An.F 26 th
PR 08
Oktober 1994
S1 Admin Anak 1
4. An.J 23 th
LK 13 Maret 1997
S1 Freelance Anak 2