Pendaftaran tanah berdasarkan PP Nomor 24 tahun 1997 sebagaimana telah diuraikan di atas salah satunya adalah pendaftaran tanah pertama kali, yaitu pendaftaran terhadap atas tanah-tanah yang belum dilekati suatu hak (belum bersertifikat).84 Pendaftaran tanah pertaman kali menurut Pasal 12 PP 24 Tahun 1997 meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut;
1. Pengumpulan data dan pengolahan data fisik
Pengumpulan dan pengolahan data fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang
84Rahmat Ramadhani, Buku Ajar: Hukum Agraria (Suatu Pengantar), Op.Cit., halaman 97 & 104.
Dasar-Dasar
tanah dan satuan rumah susun yang terdaftar, termasuk keterangan mengenai adanya bangunan atau bagian bangunan di atasnya. Dalam rangka pengumpulan dan pengolahaan data fisik, dilakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan. Kegiatan pengukuran dan pemetaan (Pasal 14 PP No. 24 Tahun 1997), meliputi:
a. Pembuatan peta dasar pendaftaran;
b. Penetapan batas-batas bidang tanah;
c. Pengukuran dan pemetaan bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran;
d. Pembuatan daftar tanah;
e. Pembuatan surat ukur;
2. Pembuktian hak dan pembukuannya, meliputi:
a. Pembuktian hak baru;
b. Pembuktian hak lama; dan c. Pembuktian hak.
3. Penerbitan sertifikat tanah
Sertifikat hak atas tanah merupakan bentuk legalitas bagi subjek hukum terhadap penguasaan, pemilikan dan pemanfaatan suatu bidang tanah.
Sertifikat tanah juga berfungsi sebagai sebuah tanda bukti terhadap adanya jaminan kepastian hukum terkait objek, subjek dan status hak atas tanah termasuk hubungan kausalitas antara manusia dengan tanah, sebab hubungan manusia dengan tanah adalah hubungan yang hakiki dan berdimensi asasi yang tidak dapat dipisahkan.
Dasar-Dasar
Tanda bukti sebagaimana dimaksud di atas, secara subtansi yuridis diartikan sebagai sebuah pembuktian adanya hubungan hukum antara apa yang tertera atau tercantum di dalam sertifikat hak atas tanah dengan kenyataan lapang terkait dengan objek hak atas tanah dan subjek hukum pemegang hak atas tanah. Atau dengan arti kata lain, sertifikat hak atas tanah adalah surat tanda bukti hak dari suatu subjek hukum atas suatu bidang tanah yang data keduanya dipadukan dan direkam dalam buku tanah.85
Sertifikat hak atas tanah merupakan output dari rangkaian proses pendaftaran tanah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Menurut PP No. 24 tahun 1997, sertifikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan Hak Tanggungan yang masing- masing sudah dibukukan dalam buku Tanah yang bersangkutan. Menurut PP No. 10 tahun 1961, yang disebut sertifikat adalah salinan buku tanah dan surat ukur yang dijahit menjadi satu bersama-sama dengan suatu kertas sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria.
Dengan demikian sertifikat tanah terdiri atas:
85Rahmat Ramadhani, Beda Nama dan Jaminan Kepastian Hukum Sertifikat Hak Atas Tanah, Op.Cit., halaman 63.
Dasar-Dasar
a. Salinan buku tanah;
b. Salinan surat ukur;
c. Kertas sampul.
4. Penyajian data fisik dan data yuridis
Penyajian data fisik dan data yuridis merupakan kegiatan tata usaha pendafaran tanah. Penyajian data fisik dan data yuridis oleh kantor Pertanahan terdiri dari:
a. Peta pendaftaran Tanah, yaitu peta yang menggambarkan bidang atau bidang-bidang tanah untuk keperluan pembukuan.
b. Daftar Tanah, yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang tanah dengan suatu system penomoran.
c. Surat Ukur, yaitu dokumen yang memuat data fisik suatu bidang tanah dalam bentuk peta dan uraian.
d. Buku Tanah, yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat data yuridis dan data fisik suatu objek pendaftaran tanah yang sudah ada haknya.
e. Daftar Nama, yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat keterangan mengenai penguasaan tanah dengan suatu hak atas tanah, atau hak pengelolaan dan mengenai pemilikan hak milik atas satuan rumah susun oleh orang perorangan atau badan hukum.
Dasar-Dasar
Sebelum melakukan perbuatan hukum mengenai bidang tanah tertentu, para pihak yang berkepentingan dapat mengetahui data mengenai bidang tanah tersebut.
Sehubungan dengan sifat terbuka, oleh karenanya disebut daftar umum, data fisik dan data yuridis yang tersimpan dalam peta pendaftaran, daftar tanah, buku tanah dan surat ukur, dapat diketahui oleh setiap orang yang berkepentingan untuk mengetahui data yang tersimpan tersebut.
Adapun data yang tersimpan dalam daftar nama hanya terbuka bagi instansi pemerintah tertentu, bagi keperluan pelaksanaan tugasnya (Pasal 34 PP No. 24 Tahun 1997).
5. Penyimpanan daftar umum dan dokumen
Dokumen-dokumen yang merupakan alat pembuktian yang telah digunakan sebagai dasar pendaftaran (warkah), diberi tanda pengenal dan disimpan di Kantor Pertanahan yang bersangkutan atau di tempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/Kepala Badan Pertanahan.
Peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur,buku tanah, daftar nama dan dokumen-dokumen di atas harus tetap berada di Kantor Pertanahan atau ditempat lain yang ditetapkan oleh Menteri/ Kepala Badan Pertanahan Nasional
Lebih lanjut, Menurut Pasal 13 PP No. 24 Tahun 1997 dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara
Dasar-Dasar
sporadis dan sitematis. Pendaftaran tanah pertama kali secara sporadis adalah pendaftaran tanah yang dilaksanakan atas inisiatif perorangan, dilakukan atas permintaan pihak yang berkepentingan dengan biaya- biaya yang ditanggung oleh pemohon hak secara pribadi.
Sedangkan pendaftaran tanah pertama kali secara sistematis adalah Pendaftaran tanah yang didasarkan pada suatu rencana kerja dan dilaksanakan di wilayah- wilayah yang ditetapkan oleh Menteri/Kepada Badan Pertahanan Nasional. Pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah dilaksanakan atas inisiatif pemerintah secara sistemik disertai dengan pembiayaan oleh pemerintah.
Pada perkembangannya pendaftaran tanah secara sisrtematis bermatmorposis menjadi sebuah kegiatan yang bertitelkan ‘reforma agraria’ dan kerap dikenal dengan sebutan program sertifikasi tanah gratis. Meski tidak keseluruhan biaya digratiskan kepada masyarakat dalam kegiatan sertifikasi tanah tersebut.
Program sertifikasi tanah merupakan suatu kegiatan pemerintah Republik Indonesia dalam melaksanakan pendaftaran tanah pertama kali (terhadap tanah-tanah yang belum terdaftar/belum bersertifikat) secara serentak dan massif di berbagai daerah.
Tujuan program sertifikasi tanah yang dilakukan oleh pemerintah adalah dalam rangka menciptakan kepastian dan perlindungan hukum, tersedianya informasi pertanahan dan terselenggaranya tertib administrasi pertanahan sebagaimana dimaksud dalam
Dasar-Dasar
Pasal 3 PP Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Masih banyaknya bidang tanah yang belum terdaftar (belum bersertifikat) mengharuskan Pemerintah Republik Indonesia melakukan berbagai modifikasi program sertifikasi tanah guna menjalankan percepatan pendaftaran tanah di Indonesia. Bentuk kegiatannya juga beragam dan terus mengalami evolusi sejak tahun 1980- an hingga saat ini.
Beberapa kilasan sejarah terkait upaya pemerintah dalam memodifikasi program sertifikasi tanah di Indonesia antara lain; Proyek Operasi Nasional Agraria (PRONA) pada tahun 1981, munculnya Layanan Rakyat Untuk Sertifikasi Tanah (LARASITA) di tahun 2006 disusul dengan program legalisasi asset masyarakat Program Sertifikasi Lintas Sektor; Program Sertifikasi Massal Swadaya Masyarakat; Program Sertifikasi Redistribusi Tanah Objek Landreform, Konsolidasi Tanah maupun Tanah Transmigrasi di era 2010.
Pada awal tahun 2017 pemerintah mengenalkan PTSL sebagai manuver percepatan pendaftaran tanah di Indonesia yang motori oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pelaksanaan PTSL pada mulanya dilandaskan pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Ka.Badan Pertanahan Nasional (Permen ATR/BPN) Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap jo.
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Peraturan Menteri
Dasar-Dasar
Agraria dan Tata Ruang/BPN Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap.
Kemudian Permen ATR/BPN Nomor 1 Tahun 2017 dicabut dan diberlakukan Permen ATR/BPN Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap sedangkan bebeberapa ketentuan Permen ATR/BPN Nomor 35 Tahun 2016 masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Permen ATR/BPN Nomor 12 Tahun 2017.
Dasar hukum terkahir kali yang berlaku dalam pelaksanaan PTSL diatur oleh Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap. Pada Bab IX Ketentuan Penutup Pasal 47 Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018 menuliskan bahwa;
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, maka Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1127), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 1 angka 2 Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018 mendefenisikan bahwa;
Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap yang selanjutnya disingkat PTSL adalah kegiatan
Dasar-Dasar
Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi semua objek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu, yang meliputi pengumpulan data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa objek Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya.
Ada penegasan kalimat ‘Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak’ dalam ketentuan di atas yang menunjukkan bahwa PTSL adalah program sertifikasi tanah yang bersifat sistematis.
Karakter pendaftaran tanah pertama kali secara sistematis salah satunya adalah adanya inisiatif yang datangnya dari pemerintah.
Inisiatif dimaksud meliputi pengaturan teknis pelaksanaan program kegiatan penyediaan anggaran untuk kegiatan tersebut baik yang ditanggung dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) maupun sumber pembiayaan lainya yang sah menurut peraturan perundang-undangan.
Demikian halnya dengan PTSL, sumber pembiayaan kegiatan tersebut menurut Bab VI Pembiayaan Pasal 40 ayat (1) dan (2) Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018 adalah sebagai berikut;
(1) Sumber pembiayaan PTSL dapat berasal dari:
Dasar-Dasar
a. Daftar Isian Program Anggaran (DIPA) Kementerian;
b. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, Kabupaten/Kota;
c. Corporate Social Responsibility (CSR), Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, badan hukum swasta;
d. dana masyarakat melalui Sertifikat Massal Swadaya (SMS) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau
e. penerimaan lain yang sah berupa hibah (Grant), pinjaman (loan) badan hukum swasta atau bentuk lainnya melalui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Pendapatan Negara Bukan Pajak.
(2) Sumber pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembiayaan PTSL dapat juga berasal dari kerjasama dengan pihak lain yang diperoleh dan digunakan serta dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Lebih lanjut, tahapan kegiatan dalam PTSL sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (4) Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018 adalah sebagai berikut;
(4) Pelaksanaan kegiatan PTSL dilakukan dengan tahapan:
a. perencanaan;
b. penetapan lokasi;
c. persiapan;
Dasar-Dasar
d. pembentukan dan penetapan panitia ajudikasi PTSL dan satuan tugas;
e. penyuluhan;
f. pengumpulan data fisik dan pengumpulan data yuridis;
g. penelitian data yuridis untuk pembuktian hak;
h. pengumuman data fisik dan data yuridis serta pengesahannya;
i. penegasan konversi, pengakuan hak dan pemberian hak;
j. pembukuan hak;
k. penerbitan sertifikat hak atas tanah;
l. pendokumentasian dan penyerahan hasil kegiatan; dan
m. pelaporan.