Dasar-Dasar
Mengingat kemajemukan cara hidup bangsa Indonesia, pengecualian yang demikian itu terasa sebagai “menganakemaskan”. Walaupun secara formal Pegawai Negeri Sipil, mereka dalam kehidupan sehari-hari juga bertani, berdagang, wiraswasta dan sebagainya.
Hampir tidak ada Pegawai Negeri Sipil yang hidup dari sumber satu gaji saja. Oleh karena itu, adalah wajar apabila pengecualian Pegawai Negeri Sipil dalam hal pemilikan tanah pertanian secara absentee sering dipermasalahkan. Karenanya dalam rangka perubahan atau revisi PP No. 224 Tahun 1961, perlu dipertimbangkan untuk tidak memberikan pengecualian tersebut.
Selain itu, karena kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi, produktivitas pertanian bisa tetap dijamin sekalipun pemilikannya secara absentee. Oleh sebab itu, meninjau kembali ketentuan larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee dan kemudian mengaitkannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi amatlah bijaksana105.
Dasar-Dasar
maksimum wajib melaporkan tanah kelebihannya kepada pejabat yang berwenang (Pasal 3).
Tanah-tanah yang merupakan kelebihan dari batas maksimum itu akan diambil oleh pemerintah dengan kerugian, yang selanjutnya akan dibagi-bagikan kepada rakyat yang membutuhkannya (penjelasan Pasal 7 UUPA). Tanah yang akan dibagikan itu meliputi:
1. Tanah-tanah yang merupakan kelebihan dari batas maksimum.
2. Tanah-tanah yang diambil oleh pemerintah karena pemiliknya bertempat tinggal di luar daerah.
3. Tanah-tanah yang swapraja dan bekas swapraja yang telah beralih kepada negara.
4. Tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh negara (Pasal 11 dan Penjelasan umum angka 2 PP No. 224 tahun 1961).
Kepada bekas pemilik dari tanah-tanah yang diambil pemerintah untuk dibagi-bagikan kepada yang berhak atau diperunakan oleh pemerintah sendiri, diberikan gati rugi yang besarnya ditentukan oleh panitia Landreform Daerah tingkat II (kabupaten/kota) yang bersangkutan atas dasar perhitungan yang ditentukan dalam Pasal 6 ayat 1 dan seterusnya, dan dengan cara yang ditentukan dalam Pasal 7 PP No. 224 Tahun 1961 termaksud.
Berdasarkan pasal tersebut diketahui bahwa tanah-tanah yang akan dibagikan dalam rangka
Dasar-Dasar
pelaksanaaan Landreform, harus benar-benar berdasarkan find to the tiller (tanah untuk petani/penggarap).
Oleh panitia Landreform daerah tingkat II yang bersangkutan dibagi-bagikan dengan hak milik kepada petani menurut prioritas dalam Pasal 8 ayat 1, sebagi berikut:
1. Penggarap yang mengerjakan tanah yang bersangkutan.
2. Buruh tani tetap pada bekas pemilik, yang mengerjakan tanah yang bersangkutan.
3. Pekerja tetap pada bekas pemilik tanah yang bersangkutan.
4. Penggarap yang belum sampai 3 tahun mengerjakan tanah yang bersangkutan.
5. Penggarap yang mengerjakan tanah hak milik.
6. Penggarap tanah-tanah yang oleh pemerintah diberi peruntukan lain berdasarkan Pasal 4 ayat 2 dan 3.
7. Penggarap yang tanah garapannya kurang dari 0,5 hektar,
8. Pemilik yang luas tanahnya kurang dari 0,5 hektar.
9. Petani atau buruh tani lainnya.
Pengutamaan di atas petani-petani lain yang berada dalam golongan prioritas yang sama menurut Pasal 8 Ayat (2) diberikan kepada:
1. Petani yang mempunyai ikatan keluarga sejauh tidak lebih dari dua derajat dengan bekas pemilik, dengan ketentuan sebanyak-banyaknya 5 orang.
2. Petani yang terdaftar sebagai veteran.
3. Petani janda pejuang kemerdekaan yang gugur.
Dasar-Dasar
4. Petani yang menjadi korban kekacauan.
Adapun mereka yang dimaksudkan dengan petani, penggarap buruh tani tetap dan pekerja tetap, dalam ayat-ayat seterusnya dari Pasal 8 dirumuskan sebagai berikut:
1. Petani ialah orang, baik yang mempunyai dan tidak mempunyai tanah sendiri, yang mata pencarian pokok nya adalah mengusahakan tanah untuk pertanian.
2. Penggarap ialah petani, yang secara sah mengerjakan atau mengusahakan sendiri secara aktif tanah yang bukan miliknya dengan memikul seluruh atau sebagian dari resiko produksinya.
3. Buruh tani tetap ialah petani, yang mengerjakan atau mengusahakan secara terus-menerus tanah orang lain dengan mendapat upah.
4. Pekerja tetap ialah orang yang bekerja pada bekas pemilik tanah secara terus-menerus.
Dalam lampiran Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria No. 5d XIII/17/ka/1962, dirumuskan syarat-syarat pemberian tanah dengan hak milik dalam rangka redistribusi106. Pelaksanaan redistribusi tanah pertanian objek Landreform dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Persiapan.
2. Penyuluhan kepada calon penerimaan redisribusi tanah.
106Hasan Wargakusumah, Op.Cit., halaman 157-159.
Dasar-Dasar
3. Identifikasi objek (lokasi) dan subjek (peserta penerima redistribusi).
4. Seleksi calon penerima redistribusi.
5. Pengukuran bidang-bidang tanah.
6. Membuat tugu poligon.
7. Pemetakan topografi dan penggunaan tanah, 8. Cheking realokasi.
Dari tahapan-tahapan kegiatan tersebut di atas akan menghasilkan data-data sebagai berikut:
1. Daftar inventarisasi objek dan subjek penguasaan dan penggunaan tanah.
2. Daftar calon penerimaan redistribusi.
3. Peta pengukuran rincian.
4. Peta topografi.
5. Desain tata ruang dan realokasi DTR.
6. Surat Keputusan Pemberian Hak Milik dalam rangka radistribusi tanah.
7. Setelah penerima redistribusi melunasi semua kewajibannya sebagaimana yang tecantum dalam Surat Keputusan Pemberian Hak Milik, selanjutnya dapat didaftarkan pada kantor pertahanan kabupaten/kota untuk memperoleh setifikasi.
Pelaksanaan redistribusi tanah pertanian ini pada dasarnya dilakukan oleh suatu organisasi pelaksanaan tertentu, yaitu:
1. Panitia Petimbangan Landreform.
Penyelenggara Landreform menjadi tugas dan tangggung jawab masyarakat dan pemerintah (semua
Dasar-Dasar
departeman). Dalam rangka pelancaran semua tugasnya, pemerintah pada pemulaan pelaksanaan Landreform membentuk Panitia Landreform di Tingkat Pusat, Daerah Tingkat I, Daerah tingkat II, kecamatan dan Desa. Panitia ini dibentuk dengan berdasarkan Keputusan Presiden No. 131 Tahun 1961 dan kemudian disempurnakan, yaitu:
a. Dalam perkembangannya kepanitiaan ini tidak memenuhi harapan, sehingga dicabut sekaligus diganti dengan organisasi baru yang disebut Organisasi dan tata Kerja Penyelenggara Landreform, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1980. Perubahan penting dalam Keputusan Presiden ini adalah mengenai semua tugas dan wewenang Panitia Landreform beralih dan dilaksanakan masing- masing oleh Menteri Dalam Negeri, Gubernur Kepala Daerah Provinsi, Bupati/Walikota Kepala Daerah Kabupaten/Kota, Camat dan Kepala Desa/Lurah Yang bersangkutan.
b. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, mereka dibantu oleh sebuah Panitia yang disebut Panitia Pertimbangan Landreform. Panitia ini dibentuk ditingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/kota, Tugas Panitia ini adalah memberi sarana dan pertimbangan mengenai segala yang berhubungan dengan penyelenggaraan Landreform. Anggota panitia ini terdiri dari unsur/wakil instansi pemerintah yang ada kaitannya dengan
Dasar-Dasar
pelaksanaan Landreform ditambah wakil dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)107.