BAB IV HASIL PENELITIAN
E. Dampak Perceraian Yang di Lakukan di Luar Pengadilan Agama
Segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia tentu memiliki dampak. Baik itu berupa dampak yang baik ataupun dampak yang buruk, masing-masing dampak tersebut akan diterima oleh si pelaku. Sama halnya dengan perceraian yang dilakukan oleh sebagian orang yang ketika berpisah dengan pasagannya mereka memilih untuk bercerai diluar pengadilan agama tanpa mengetahui apa dampak yang akan terjadi di hari kemudian baik itu kepada keluarga, suami, istri terlebih kepada anak-anak.
1. Akibat Perceraian di Luar Pengadilan Agama terhadap Status Perceraian Sesuai dengan undang-undang perkawinan, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama, setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka sejak berlakunya undang-undang perkawinan secara efektif, yaitu sejak tanggal 1 Oktober 1975 tidak dimungkinkan terjadinya perceraian di luar prosedur Pengadilan. Untuk perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri. Namun nampaknya, dengan ditetapkannya undang- undang perkawinan tersebut tidak begitu berpengaruh bagi sebagian masyarakat desa Paisuluno, yang sudah terbiasa dengan melakukan perceraian di luar prosedur Pengadilan, padahal perceraian tersebut dapat menimbulkan dampak yang negatif terhadap status perceraian, yaitu status perceraian tersebut
tidak memiliki kekuatan hukum, karena putusan cerai tersebut tidak dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama. Hal ini diperkuat dengan perkataan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Banggai Kepulauan Bapak Hasrun Hakim, SH pada waktu wawancara" Suatu Perceraian yang tidak dilakukan di Pengadilan sudah sangat jelas status hukumnya, bahwa perceraian tersebut tidak sah, berdasarkan pasal 115 KHI".60
Agama Islam Pada dasarnya dalam membenarkan seorang suami yang akan menceraikan istrinya hanya cukup dengan mengatakan kata-kata talak didepan wanita tersebut, akan tetapi Indonesia adalah negara yang memiliki hukum yang telah diatur oleh pemerintah, dan sebagai warga negara kita harus taat kepada peraturan pemerintah, selama tidak bertentangan dengan ketentuan hukum Islam itu sendiri, karena taat kepada pemerintah merupakan bagian dari kewajiban sebagai umat Muslim. Pada dasarnya pemerintah membentuk suatu peraturan tentang perceraian bertujuan agar tertibnya administrasi seperti halnya masalah pencatatan perkawinan, kelahiran anak serta mempersulit perceraian. Hal ini pada dasarnya sesuai dengan prinsip hukum Islam mengenai perceraian yaitu mempersulit terjadinya perceraian.
2. Akibat Perceraian di Luar Pengadilan Agama terhadap istri
Perceraian yang dilakukan di luar sidang Pengadilan akan berpengaruh dan mempunyai dampak negatif terhadap istri, yaitu:
60 Wawancara dengan bapak Hasrun Hakim (40 Tahun) pada tanggal 21 November 2021
a Perceraian yang dilakukan diluar pengadilan agama tentunya tidak memiliki surat cerai dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Sehingga, apabila si istri mau menikah lagi maka akan mendapatkan kesulitan dengan pihak Kantor Urusan Agama. Karena setiap janda yang hendak menikah lagi harus memiliki surat cerai dari Pengadilan. Hal ini dialami oleh responden kami yang bernama Salma dan Eni, mereka memperoleh kesusahan ketika ingin untuk menikah lagi lewat Kantor Urusan Agama. Sehingga dia menempuh jalur menikah kedua kali lewat nikah di bawah tangan.
b Setelah terjadinya perceraian (cerai di luar Pengadilan ) si istri tidak mendapatkan haknya setelah bercerai, seperti nafkah selama masa iddah, tempat untuk tinggal, pakaian pangan.
Hampir dari seluruh responden perempuan yang berhasil penulis wawancara, mengatakan semuanya tidak mendapatkan hak yang semestinya di dapat setelah bercerai.
3. Akibat Perceraian di luar pengadilan bagi suami
Akibat perceraian di luar Pengadilan tidak hanya berpengaruh terhadap istri tapi juga berpengaruh terhadap suami. Sama halnya dengan istri, suami yang melakukan perceraian di luar pengadilan akan mengalami kesulitan ketika hendak menikah lagi dengan perempuan lain. Perceraian yang dilakukan di luar Pengadilan tidak akan memiliki surat cerai yang sah dan memiliki kekuatan
hukum tetap, sehingga jika hendak menikah lagi melalui pihak Kantor Urusan Agama tidak akan mengizinkan sampai ada surat yang sah dari Pengadilan.
Hal tersebut dialami oleh responden penulis, yang bernama Sultan Dia mengatakan bahwa: “perceraian yang di lakukan di luar Prosedur Pengadilan menyebabkan dia tidak bisa menikah lagi melalui Kantor Urusan Agama.
Akhirnya dia mengambil jalur menikah di bawah tangan”.61
4. Akibat Perceraian di Luar Pengadilan Agama Terhadap Anak
Ketika terjadi perceraian maka akan menimbulkan dampak yang sangat berpengaruh bagi keluarga dan anak-anak. Terlebih ketika sang anak masih kecil dan membutuhkan cinta dan kasih dari kedua orrang tuanya.
Setiap perceraian yang terjadi pasti akan mengganggu kondisi psikologis anakantadinya si anak berada dalam lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, hidup bersama dengan memiliki figur seorang ayah, dengan figur seorang ibu, tiba-tiba berada dalam lingkungan keluarga yang penuh masalah yang pada akhirnya harus tinggal hanya dengan salah satu figur, ibu ataupun ayah.
Perceraian yang dilakukan di luar sidang Pengadilan tidak akan berpengaruh pada kondisi kejiwaan anak, tetapi terkadang si ayah tidak memberi nafkah secara teratur dan dalam jumlah yang tetap. Perceraian yang dilakukan di luar Pengadilan tidak mempunyai kekuatan hukum, sehingga tidak ada yang
61 Wawancara dengan bapak Sultan (43 Tahun)n pada 30 Desember 2021
dapat memaksa si ayah ataupun ibu untuk memberi nafkahnya secara teratur baik dari waktu memberikan nafkah maupun dari jumlah materi atau nafkah yang diberikan. Jika perceraian dilakukan di Pengadilan Agama hal tersebut akan ditetapkan oleh Pengadilan, sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam pasal 56 poin (f).
Dalam kasus ini, Iyan tempat tanggal lahir Paisuluno 20 Agustus 2006, ayahnya bernama Rahim, dan ibunya bernama Ontuk merupakan pasangan suami-istri yang memilih untuk melakukan perceraian diluar pengadilan. Iyan menjadi korban dari rusaknya rumah tangga karena pisahnya kedua orang. Jika perceraian kedua orang tua mereka dilakukan di Pengadilan maka tentunya kondisi yang dialami oleh iyen mungkin saja berbeda. Kedua orang tua masih memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap hak asuh anak.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Perceraian tanpa melalaui pengadilan pada dasarnya sah menurut agama karena tidak adanya suatu perintah atau larangan yang mengharuskan perceraian di pengadilan, akan tetapi ketika kita kembalikan kepada hukum yang berlaku, khususnya di negara Indonesia, perceraian tanpa melalui pengadilan tidak diterima oleh hukum yang berlaku dan dianggap tidak sah.
2. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sehingga masyarakat melakukan perceraian di luar pengadilan agama antara lain:
a. Kurangnya kesadaran dan perhatian terhadap hukum yang berlaku dimasyarakat terlebih masalah perceraian.
b. Faktor lain yang mempengaruhi sebagian masyarakat adalah masalah ekonomi, banyak kami temukan masyarakat yang melakukan perceraian di luar pengadilan agama karena terkendala masalah ekonomi, biaya yang mahal dan transfortasi yang sangat banyak.
c. Sebagian masyarakat memilih untuk melakukan perceraian diluar pengadilan agama karena terkendala masalah waktu, perceraian di depan pengadilan agama memakan waktu yang sangat lama, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mendapatkan suatu
keputusan.
d. Masyarakat beranggapan bahwa perceraian adalah masalah keluarga yang harus di sembunyikan, sehingga sebagian masyarakat menyembunyikan dan takut di ketahui oelh masyarakat sekitar.
3. Perceraian yang terjadi antara seorang suami dan istri pasti memiliki dampak yang sangat banyak, baik itu kepada keluarga, suami dan istri bahkan sampai kepada anak-anak.
Dampak bagi seorang suami adalah pengadilan agama akan menyulitkan mereka yang ingin menikah lagi, karena tidak memiliki surat cerai yang resmi dari pengadilan. Dampak bagi seorang istri tidak adanya nafkah iddah yang diberikan suami kepada istrinya dan sulit untuk menuntut karena tidak memiliki dasar hukum. Dampak bagi anak tidak mendapatkan nafkah yang jelas dari kedua orangtua dan hak kepengurusan anak tidak mendapat kejelasan karena tidak adanya putusan hukum.
B. Saran-saran
1. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang hukum yang berlaku khususnya Masyarakat yang beragama Islam, permasalahan yang berkaitan dengan masalah perkawinan, perceraian dan warisan sehingga masyarakat kurang memfungsikan pengadilan agama sebagai sarana untuk mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum, khususnya perceraian. Oleh karena itu diharapkan kepada lembaga-
lembaga terkait dan berwenang (Kantor Urusan Agama) untuk selalu mengigatkan dan memberikan bimbingan kepada masyarakat mengenai masalah perkawinan, dengan mengadakan penyuluhan, bimbingan, dan kegiatan-kegiatan yang erat kaitannya dengan pernikahan. Sehingga masyarakat akan sadar dan memahami segala proses hukum yang berlaku di Indonesia.
2. Harus dibuatnya undang-undang perkawinan yang berisi sangsi tegas yang diberikan terhadap pelaku perceraian di luar pengadilan agama, agar masyarakat lebih disiplin dalam menjalankan undang-undang yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Abu bakar Imam Taqiyuddin bin Muhammad Alhusaini, Terjemah Kifayatul Akhyar. Surabaya: Bina Iman, 1993
As’ad Aliy, Terjemah Fathul Mu‟in. Kudus: Menara, 1979
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Akademika Pressindo, 2007 Anshary H.M., Hukum Perkawinan di Indonesia.
Departemen Agama RI, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggara Haji., Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1973 Serta KHI di Indonesia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998
Fitri Yulisa, Jamaluddin dan Faisal, “Analisis Yuridis Perceraian diluar Pengadilan Menurut Undang-Undang Perkawinan dan Menurut Pendapat Ahli Fikih Islam”.
Husein umar, metode peenilitian untuk skripsi dan tesis bisnis, Jakarta: Raja Grapindo persada, 2005
Indonesia, Kompilasi Hukum Islam, Pasal 115
Iskandar, metodologi penelitian kualitatif (Aplikasi untuk penelitian pendidikan, hukum, ekonomi, dan manajemen, sosial, humaniora, politik, agama, filsafat) Jakarta: Gaung Persada Press, 2009
Imam Abu Husein Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi An Naisaburi, Sahih Muslim, diterjemahkan KH.Adib Bisri Musthofa, Tarjamahan Shahih Muslim, jilid 2, Semarang: Asy Syifa, 1993
Jurinal, Fiqih Ibada, Jakarta: Sejahtera, 2008
Mustafa diib Al-Bugha, Fikih islam lengkap,Solo: Media Zikir 2010
Nuruddin Amiur dan Azhari Akmal Tarigan Azhari, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1/
1974 Sampai KHI. https://alamtara 2020/07/25 prinsip-prinsip perkawinan islami-1
Rasyid Roihan, Hukum Acara Peradilan Agama;Undang-Undang No.7 Tahun 1989, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2007
Rusyd Ibnu, Bidayatul Mujtahid, diterjemahkan M.A Abdurrahman, Jakarta, Pustaka Azzam, 2007
Rofiq Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 1998
Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, Fikih Sunnah Sayyid Sabik,(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2009
Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh,Fikih Muyassar Jakarta: Darul Haq 2010 Sabiq Sayyid, Fiqh As Sunah, Alih Bahasa Moh. Tholib, Bairut, Daar Al-Ilya,
1983
Saebani Beni Ahmad, Fiqih Munakahat 2.